
Ke empat pria yang tertawa itu, tiba tiba menghentikan tawanya setelah mendengar perkataan gadis berhijab itu.Menatap punggung gadis itu sampai sampai menghilang di balik tembok.
Detik berikutnya Arya dan arga tertawa mengejek arsa. Sementara Arsa menatap kesal sahabat nya itu dan lanjut memakan kuwci dengan kesal. Sedangkan arwin mengangguk ngangguk sambil memakan kuwaci kembali, yang terhenti. sepertinya ia setuju dengan perkataan Aisy.
"Siapa tuh cewe??"tanya Arsa agak penasaran. Sontak kedua orang yang masih tertawa menggeleng dan menghentikan tawanya.
"Tenyaho"jawab arga dengan bahasa sunda. Arya mengangguk karna ia pun tak tau.
"Lu tadi liat muka nya kaga??"tanya Arsa lagi
"Engga sempat, terlalu cepat"setelah menjawab Arya minum, tenggorokanya kering terlalu banyak tertawa dari tadi.
"Lagian dia jalanya nunduk. Mana bisa liat mukanya"sahut Arga, menunggu Arya selesai minum dia pun ikut haus mengingat tadi dia banyak tertawa dengan Arya. Arya melirik Arga yang mengangkat tanganya hendak mengambil botol dari nya, sontak Arya menjauhkan nya.
"Pelit amat loh. Cepet gue haus" sewot Arga memukul pundak arya, dan kembali mengangkat tanganya supaya Arya memberikan botol minum pada nya.
Tak mendengarkan Arga. Arya malah tersenyum miring seperti nya dia berniat menjahili patner nya itu "tar gue juga masih haus"
Arya sengaja mendesah setelah minum, setelah itu memberikan botol ke arga "nih"
Baru saja Arga hendak mengambil nya, Arya meminumnya kembali, Arga melihat nya kesal. Tapi ia berusaha sabar. "Maaf tiba tiba gue haus lagi. Nih. Eh gue haus lagi"
Arya kembali memberikan botol nya kemudian meminum kembali saat arga hendak mengambil nya, yang membuat Arga langsung emosi dan meremas botol yang masih di mulut Arya
Yang otomatis air nya berhambur keluar mengenai wajah Arya dan masuk ke mulut dan hidungnya tanpa permisi hingga tersedak "uhuk uhuk uhuk. Anjrit lu ga , uhuk uhuk uhuk. Air nya masuk ke hidung oon. uhuk uhuk uhuk" maki Arya terbatuk batuk.
"Bodo amat, emang gue pikirin"sadis arga, kemudian membenarkan botol yang penyok. Lalu meminum sisa air di dalam nya.
Arsa dan Arwin melihanya hanya geleng geleng kepala. Saling menatap dan menghembuskan napas.
"Itu teman lu??" Tanya Arsa pada Arwin. Arwin menggeleng, dan berkata
"Gue gak punya teman kaya mereka"
Arga dan Arya mendengarnya pun langsung emosi ke dua orang di depan mereka itu. Bisa bisa nya kediua orang itu tak mengakui nya sebagai teman. Saling tatap dan tersenyum miring, mungkin keduanya merencanakan sesuatu.
"Maaf nih yeh, bukan nya problem alias te kunanaon. Kalao gak ngarti translate ke google aja. Sumpah kalian jahat banget" ucap arya sok dramatis
Sontak saja Arga memukul kepala si Arya, karna kesal. Dia kira Arya mengerti dengan kode nya tadi, akan membalas kata pedas pada dua manusia di depanya itu.
"Emang ya, otak lu itu kaya ketupat belum di isi beras. Kosong Alias kopong" sadis arga
Sontak saja perkataan Arga membuat Arsa dan Arwin tertawa. Rasanya lebih seru menonton salah satu dari mereka kesal, yang pasti ujung ujung nya saling mengolok olok. Ya walaupun yang kena sasaran selalu Arya, kadang arysa dan Arwin kasian melihat Arya selalu di tindas. Tapi sehari tak menindas Arya rasanya hidup terasa hampa. Dasar teman laknat maki Arya kalau saja ia tau.
Arya mengelus kepalanya yang habis di pukul oleh arga, sambil meringis. Jujur padahal gak kerasa apa apa, tadi Arga memukulnya pelan. Emang si Arya nya aja yang banyak drama.
"Sakit oon"
"Lebay lu, di pukul pelan juga"
"Kenapa gak keras aja sekalian??" Tanya Arya gak jelas
"Tadi nya mau gitu. Tapi mengingat kepala lu kopong, takutnya bermasalah aja" jawab Arga seenak nya
"Sialan lo" maki Arya
...πππππ...
Menjelang siang semua siswa di perbolehkan pulang, setelah di beri pengumuman oleh kepala sekolah. Semua siswa berbondong keluar menuju parkiran.
"Sy antar aku beli buku ya, nanti sore" pinta rara
Aisy tak langsung menjawab, ia berpikir terlebih dahulu. Takut nya ia ada janji dan pekerjaan, sepertinya ada tapi bukan sore, itu pun sekarang.
"Jam berapa??"
"Mmm jam 4 bisa gak"
"Jam 4 ya, gak tau sih, nanti aku usahain" jawab Aisy tersenyum
"Baiklah. Mau bareng gak??" Tanya Rara saat sudah di depan mobil jemputanya. Aisy menggeleng
"Engga, makasih. Aku masih ada urusan"
"Ooh, yaudah aku duluan" Aisy mengangguk menatap rara masuk kedalam mobil, Rara membuka kaca jendela nya. "Nanti aku jemput kamu" lanjut nya
Aisy mengangguk kembali serta berdehem, lalu melambaikan tangan kala mobil Rara mulai melaju. Kemudian Aisy berjalan kembali keluar gerbang sekolah dan menghentikan angkot.
...π·π·π·π·π·π·π·...
"Assalamualaikum yah, isy pulang" ucap aisy memasuki rumah minimalis dengan taman bunga di halaman nya, dan jalan setapak terapat pager terbuat dari kayu di pinggir nya, sebagai penjaga taman.
Di dalam rumah Aisy mencari cari keberadaan ayah nya di semua ruangan. Ia melirik jam dinding di ruang tv menunjukan pukul 2, dan harusnya sang ayah sudah pulang.
Aisy mengganti baju terlebih dahulu. Kemudian kembali mencari ayah nya ke belalang rumah. Aisy menghela napas saat melihat ayah nya ada di sana, sedang memupuk sayuran baru.
Pak rahman- ayah nya aisy, menoleh dan tersenyum ke arah anak kesayangan nya. "Dari mana aja??" Pak rahman menjawab dengan pertanyaan, sambil membereskan pupuk yang tersisa.
"Dari toko kue mba Ami" jawab aisy membantu ayah nya.
"Ayah bilang jangab kerja, ayah masih kuat" pak herman mengangkat pupuk kelemari husus berbahan kayu di sudut tembok.
"Aisy gak kerja yah, cuma bantu bantu. kasian mba Ami kerepotan" jawab aisy mengikuti sang ayah sambil membawa skop dan memberikanya pada pak rahman.
Pak rahman mengangguk "iya ayah percaya. tapi ingat jangan pernah kerja, ayah masih kuat. pokus sama sekolah aja"
Aisy mengangguk patuh, ah iya aisy baru ingat nanti sore akan mengantar Rara ke toko buku. Ia harus meminta izin terlebih dahulu pada ayah nya.
"Yah..."panggil aisy mengikuti kemana pun ayah nya melangkah
"Apa??" Jawab pak rahman tanpa melihat kearah aisy, dia pokus melihat sayuran nya yang siap di panen.
"Mmmm isy minta ijin nganter Rara sorre ini. Boleh??" Tanya aisy berhati hati, takut ayah nya marah. Walau kenyataanya tidak pernah marah. Aisy hanya takut saja.
"Jam berapa??" Aisy tersemyum mendengar jawaban sang ayah. Detik berikut nya senyum yang tampak pada bibir nya hilang, saat mendengar ucapan ayah nya itu.
"Jangan senyum dulu apalagi senang, ayah belum mengijinkan"kali ini pak rahman menatap sang anak, yang berubah menjadi cemberut. Pak rahman menahan senyumnya.
"Iya... kalo gak salah jam 4 tan" terlihat pak rahman berbikir sebentar, kemudian menatap anak nya dan mengangguk, lalu menggeleng. Membuat aisy bingung
Aisy mengerutkan kening "engga boleh ya??" Pak rahman menggeleng "terus boleh??" Pak rahman memgangguk, Aisy tersemyum senang.
"Tapi bantu ayah dulu panen sayur. Gimana??" Tawar pak rahman yang di angguki oleh aisy dengan semangat
Satu jam setengah telah berlalu, dan bermacam sayuran telah di panen. Ya walau kebun nya kecil tapi banyak macam sayuran yang di tanam pak rahman dan aisy. Katanya lebih baik nanam sendiri dari pada beli, lebih sehat karna baru di petik.
"Capek ya??" Asiy mengangguk dengan tersenyum menghapus keringat di kening ayah nya dengan saputangannya, kemudian pak rahman mengambil alih sapu tangan itu dan berganti mengelap keringat di kening aisy.
"Maafin ayah yang gak bisa buat isy senang. Yang suka ngekang isy. Jangan ini jangan itu, harus ini harus itu. Tapi percayalah itu buat kebaikan isy. Anak dan princess ayah"
Aisy menatap ayah nya dengan berkaca, menggigit bibir bawah nya. Aisy menggeleng, ia tak tai harus menjawab apa. Sungguh ucapan ayah nya tak ada jawan selain tiga kata. _Terima kasih banyak_
Aisy memeluk sang ayah dengan erat, menangis di pelukam ayah nya.
"Su-sunggguh isy, sangat- sangat berterima kasih banyak sama ayah. Isy gak ngerasa tertekan dengan larangan ayah. Malah isy merasa jadi seorang putri yang di jaga oleh sang raja. Isy sangat bersyukur punya ayah yang segalanya bagi isy, berkat ayah isy bisa mengenal sosok ibu, yang isy tak pernah tau rupa nya. Isy mohon jangan pernah meminta maaf pada isy dengan alasan tak pernah membahagiakan isy. Jujur isy selalu bahagia bila dekat dengan ayah"
Pak rahman mengeratkan pelukanya, berderai air mata, mendengar setiap kata yang di ucapkan Aisy. Dalam hati ia sangat bangga mempunyai anak seperti Aisy. Yang tak pernah meminta apapun dari nya, yang mengerti keadaan diri nya.
Mencium kepala Aisy berkali kali, menatap lagit dengan berseri, dan berkata di dalam hati.
_sungguh saya sangat berterima kasih pada mu ya rabb. Telah memberikan hamba anak yang solehah seperti aisy. Dan kepada istri ku tercinta, lihat lah anak mu yang kau pertahankan dengan mempertaruhkan nyawamu, menjadi anak yang soleheh dan berbakti, serta berhati baik seperti diri mu, sungguh pengorbanan mu tak sia sia. Aku bangga padamu dan anak mu_
...πΈπΈπΈ...
"Yah, isy berangkat" pamit Aisy sambil menyalimi pak rahman, begitupun dengan Rara, yang sudah datang lima menit yang lalu.
"Hati hati,Jangan pulang malam.bila ke magriban kerumah Rara terlebih dahulu. Tapi bila sudah dekat rumah pulang, jangan di lewat" amanat pak herman dan di angguki kedua gadis itu.
"Kalo gitu Aisy sama Rara berangkat sekarang, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
...β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘...
"Ra kamu mau beli buku apa sih, dari tadi mondar mandir gak jelas. Ini udah ketiga kali kita muterin dan liatin setiap buku di rak ini loh" cerocos aisy agak kesal
Giman gak kesal coba sudah satu jam, dia cuma mondar mandir, baca judul buku beberapa kali, tapi belum ada yang di beli. Sekedar mengambil pun tidak. cuma di pegang dan di baca judul nya terus di taruh. Kesel kan, apalagi Aisy.
Rara menyengir kuda mendengar keluhan Aisy dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gatel" jawab Rara gak nyambung
Aisy menarik satu alis nya. Gak salah deger kan telinga nya, Rara yang notabe nya suka kebersihan tiba tiba menggariuk rambut nya dan bilang gatel. Apakah Rara ada kutu nya. Sumpah sekarang Aisy engga konek.
"Kamu ada kutu nya ra??"
**Bersambung......
assalamualaikum
Giman udah suka belum sama Arsaka dan lainnya..
harus udah dong. biar author senengπ€
jangan lupa like, komen, dan vote ya...
dan tambahkan favorit ya, biar tau kalau saya up
bila ada typo mohon maklumi, kalo gak kasih tau ya**...