
"Bodoh!" umpat Bryan pada anak buahnya.
Akibat alarm kebakaran yang berbunyi entah disebabkan oleh siapa, rencananya gagal total kali ini.
"Maaf Tuan, Kami sudah memeriksa CCTV tapi CCTV error dan rusak." ungkap anak buah Bryan menunduk.
"Martin! Sialan Kau!" Bryan meninju dinding kaca diruangannya melepaskan amarah yang terlanjur mengakar.
"Kalian pergi! Cari sampai dapat siapa pelaku yang menggagalkan rencanaku! Cari sampai ketemu jika tidak Kalian akan mati!" usir Bryan pada anak buahnya.
"Baik Tuan. Kami permisi." anak buah Bryan memberikan hormat sebelum mereka meninggalkan Bryan menjalankan perintah boss mereka.
"Aku tidak akan gentar sekalipun meski kali ini gagal!" Bryan menatap dinding kaca yang hancur karena tinjunya.
Di lain tempat, Martin rupanya tidak mengantar Caca sesuai permintaan sang wanita, Martin membawa Caca kesebuah tempat.
"Ayo turun." Martin menghentikan mobilnya dan meminta Caca turun bersamanya.
Caca melihat sekitar, ia tahu betul kemana Martin kini membawanya.
Caca membuka pintu mobil, turun dan melangkahkan kakinya menyusul Martin yang sudah berada di depannya.
"Masih ingat?" Martin menatap wajah Caca yang tersenyum seakan terbayang kenangan puluhan tahun silam.
Keduanya kini berada disebuah taman yang dulu mereka gunakan untuk bermain saat masih Sekolah Dasar.
Caca merasakan kilasan demi kilasan kembali di masa anak-anaknya.
Menatap beberapa permainan yang biasa dimainkan dulu saat mereka masih kecil.
Ayunan menjadi pilihan Caca untuk memulai memori yang penuh kenangan tersebut.
Martin mendekat, membantu Caca mengayunkan hingga Caca menikmati ayunan tersebut.
Caca memejamkan mata, mengenang bagaimana ia dulu bermain bersama saat masih anak-anak yang lepas tanpa beban.
Martin memandang wajah penuh senyuman Caca dengan mata terpesona.
"Kamu dulu senang sekali melukis di bawah pohon itu." Martin menunjuk sebuah pohon besar yang rindang.
Caca mengikuti jemari Martin yang menunjuk pada sebuah pohon.
Caca bangkit dari ayunan, perlahan ia berjalan menuju pohon tersebut.
Kilasan-kilasan kenangan manis tergambar jelas di dalam benak Caca.
Martin memperhatikan gerak gerik Caca.
Martin menangkap ada kenangan yang sedang berputar di kepala sang wanita yang ia cintai.
"Dulu Aku senang melukis di bawah pohon ini jika merindukan Mommy." Caca meraba pohon besar tersebut teringat apa yang ia lakukan dimasa itu.
Martin memang mengetahui, bahwa Bunda Khalisa adalah Ibu Sambung Caca.
Martin dulu tidak tahu hingga pernah ia berucap sesuatu yang menyakiti hati Caca saat mereka kecil.
Setelah Martin mengetahui kebenarannya, Martin merasa bersalah akan hal itu.
"Maaf, dulu Aku terlalu bodoh, membuat hatimu sedih dengan ucapanku tentang Ibumu." jujur Martin katakan akan kebodohannya di kala itu.
"Aku memang tak mengenal Ibuku, beliau meninggal saat Aku masih kecil. Bunda Khalisa datang bagai bidadari dan malaikat penolong bagiku." ungkap Caca.
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Caca kecil dulu begitu bahagia saat kehadiran sosok Bunda Khalisa di hidupnya.
Caca kecil yang butuh kasih sayang seorang Ibu, melihat sosok Bunda Khalisa yang tulus dan penyayang bagai oase di gurun.
"Kamu sendiri mengapa dulu senang sekali menyendiri? Disaat Kami semua bermain Kamu malah membaca buku saja." Caca kini balik bertanya pada Martin.
Sejenak Martin kembali mengingat bagaimana dulu masa kecilnya.
Sebagai seorang anak tunggal, Martin merasakan kesepian.
Ia ingin seperti teman-teman lainnya salah satunya adalah Caca.
Martin ingat betul, saat ia diajak oleh kedua orang tuanya kekediaman Caca untuk menengok adik kembar Caca yang baru lahir.
Martin kecil begitu ingin memiliki adik.
Mansion rasanya sepi, terlebih Daddy Alex dengan kesibukkannya dan Mommy Hania yang juga sibuk di butik membuat Martin merasakan sepi.
Kepulangan keluarga Martin ke Indonesia kala itu membuat Martin harus dihadapkan dengan lingkungan sekolah yang baru.
Namun saat itu, sejujurnya Martin tertarik oleh gadis kecil yang kini sedang bersamanya.
"Kamu ini, senang sekali diam. Tidak asik!" Caca pergi meninggalkan Martin yang larut dalam lamunannya.
Caca berlari mengitari taman, seolah kembali mengenang seperti saat dulu ia masih kecil.
Entah dorongan dari mana, Martin berlari mengejar Caca.
Keduanya asik sekali berlarian selayaknya bocah yang rindu akan masa kanak-kanak.
"Dulu Kamu memilih duduk saja sambil membaca bukumu sedangkan Kami bermain." Caca kembali mengingatkan Martin seperti apa Martin kala itu.
Tanpa sadar Caca mendekat kesebuah kran pancur dan memercikkan airnya ke arah Martin.
"Nah kena Kamu ya! Ayo kejar Aku!" Caca berhasil membuat Martin basah dengan air yang ia percikkan pada Martin.
"Ok!"
Martin tertawa lepas disaat bersamaan melakukan hal yang sama.
Keduanya seolah terjebak dalam nostalgia.
Dua anak manusia dalam tubuh dewasa sedang mengenang masa indah saat anak-anak.
"Awww! Awas ya. Aku balas!" Caca yang terpercik air karena ulah Martin kini bergantian mengejar Martin untuk membalas perbuatan Martin.
"Coba saja kalau bisa! Ayo!" Martin tertawa melihat wajah basah Caca yang kini sedang mengejarnya.
Sungguh pemandangan yang romantis seakan dunia milik berdua.
Yang lain cukup jadi penonton saja ya! Hahaha!
Dalam mobil Adam memberikan apa yang ia temukan kepada Nadhif.
"Bang coba lihat ini." Adam mengarahkan laptop dipangkuannya kepada Nadhif.
Nadhif memperhatikan dengan cermat.
"Rupanya mereka memang menargetkan Kak Caca untuk memancing Martin."
"Terus selanjutnya bagaimana Bang?" tanya Adam.
"Kita akan awasi mereka. Aku yakin Bryan dan Martin ada sesuatu yang masih menjadi misteri." Nadhif dengan pikiran menerawang memikirkan banyak kemungkinan yang ada.
Di Mansion, Daddy Alex melalui orang suruhannya menerima kabar bahwa Martin berhasil menyelamatkan Caca dari Bryan.
"Kalian terus awasi Martin dan Bryan. Laporkan segera jika ada yang urgent."
"Baik Tuan. Kami permisi."
Sepeninggal anak buahnya Daddy Alex menghubungi Martin namun ponsel Martin tak menjawab.
"Dasar anak ini, kalau sudah jatuh cinta lupa segalanya." Daddy Alex tersenyum memilih meninggalkan ponselnya diruang kerja dan keluar dari ruangan itu hendak menemui istrinya Mommy Hania.
"Sayang, Aku kira Kamu sudah lupa sama Aku!" Mommy Hania saat melihat Daddy Alex masuk ke ruang kerjanya.
Meski sudah berusia lanjut, Mommy Hania masih aktif mendesain.
Itulah sebabnya ia masih saja aktif di butik meski Daddy Alex sering mengingatkan agar Mommy Hania banyak istirahat saja.
"Sayang, Kamu belum makan pasti. Ayo Kita makan." Ajak Daddy Alex.
"Sebentar Sayang, tanggung Aku sedang merancang gaun pengantin untuk calon menantuku." Mommy Hania tampak antusias dengan apa yanh sedang ia lakukan.
Daddy Alex mendekat, melihat apa yang dikerjakan sang istri.
"Istriku memang sangat berbakat. Indah sekali rancangan gaun itu. Pasti Caca akan senang memiliki Ibu Mertua sepertimu." Daddy Alex sambil mengecup pucuk kepala sang istri.
"Itu dia, Mom sebal sekali dengan Martin. Kenapa dia seperti keong, lambat sekali urusan perempuan! Mommy gemas sendiri jadinya!" Mommy Hania mengeluarkan unek-uneknya.
"Sudah, jangan cemberut begitu. Nanti cantiknya Mommy hilang. Kita makan dulu yuk! Daddy laper nih!" ajak Daddy Alex.
"Ok suamiku tercinta." Mommy Hania menuruti permintaan Daddy Alex dan keduanya keluar ruangan menuju meja makan.