
Caca berjalan dengan cepat diikuti oleh Martin yang tampak biasa saja meski apa yang sudah ia utarakan menimbulkan keterkejutan banyak pihak.
Caca menghentikan langkahnya, berbalik menghadap pria yang sukses membuat kejutan diatas kejutan anniversary kedua orang tuanya.
Sambil menyilangkan tangan, Caca melangkah ke hadapan Martin dengan sorot mata tajam.
Bukan senang, Caca malah dibuat naik darah oleh pernyataan Martin.
Sementara wajah datar Martin membalas tatapan menyudutkan Caca tetap datar, tenang dan seolah tidak ada masalah.
"Jelaskan padaku apa maksud Kamu barusan?" Caca menaikkan dagunya menahan amarah gang sudah diubun-ubun pada Martin.
"Sepertinya Kita duduk dulu. Tidak nyaman bukan berbicara sambil berdiri seperti ini."
Martin mengambil langkah menuju sebuah kursi santai.
Tenang, tanpa ekspresi seolah tidak membuat kehebohan.
Caca mengikuti Martin yang sudah duduk tenang dan nyaman.
"Sekarang cepat jelaskan padaku! Jangan bertele-tele!" Caca tak sabar dengan apa maksud dibalik kata-kata Martin dan tindakan diliar nalar yang dilakukan pria dingin dihadapannya.
"Bukankah sudah jelas apa yang Ku katakan. Aku ingin Kita berdua berhubungan serius, jika perlu Aku akan melamarmu secepatnya."
Tak seperti pria yang sedang melamar gadis, ekspresi kaku dan dingin tetap membingkai wajah pria yang baru saja mengajak seorang wanita untuk di lamar.
"Kamu pikir Aku anak kemarin sore heh! Mana ada orang melamar tidak ada angin tidak ada hujan langsung melamar dan Kita tidak ada hubungan apapun sebelumnya. Jangankan punya hubungan, berbicara denganmu saja bisa dihitung dengan jari!" Caca tak lagi bisa menahan kesabaran menghadapi sikap tenang Martin yang tak terprediksi.
"Kamu punya pacar? Atau punya calon suami?"
Kata-kata Martin yang meminta jawaban membuat Caca terdiam karena memang tak ada satupun pacar ataupun calon suami yang saat ini ada.
"Tapi, bukan berarti Kamu dengan seenaknya saja main ngomong asal begitu! Kamu pikir ini lelucon!"
Caca tak habis pikir dengan cara berpikir Martin.
"Simple saja, Kamu sendiri, akupun sendiri. Ya Kita coba saja. Apa salahnya." dengan enteng Martin menjawab segala penjelasan Caca.
"Tidak seenak udelmu Martin! Ingat Aku tidak setuju dengan kata-katamu tadi! Dan Aku tak anggap perkataanmu dihadapan Daddy adalah hal serius."
Caca yang hendak pergi meninggalkan Martin terpaksa menghentikan langkah sesaat Martin buka suara.
"Aku tidak meminta persetujuanmu. Jika Om Nick dan Bundamu setuju, maka cukup bagiku untuk terus melanjutkan apa yang sudah menjadi keputusanku." jawab Martin.
"Terserah Kamu! Yang penting Aku tidak setuju!"
Kali ini Caca meninggalkan Martin yang masih duduk.
Caca berjalan dengan tergesa dan ia melewati kedua adik dan sepupunya tanpa berkata apapun.
Sementara para orang tua mssih berbincang dan membahas bagaimana hubungan kedua anak-anak mereka.
Caca memilih menuju mobil hendak kembali namun langkahnya dicegah oleh Nadhif.
"Kak, mau kemana? Acaranya belum selesai. Nanti Bunda dan Daddy bertanya Kakak kemana." Nadhif dengan penasaran apa yang membuat wajah Kakaknya merah padam menahan kesal.
"Katakan saja Aku balik duluan." Caca pergi meninggalkan lokasi anniversary meninggalkan semua keluarga yang ada di sana.
"Martin, sini Nak." panggil Mommy Hania.
Martin menghampiri Mommynya yang masih bersama Daddy dan Om Nick juga Tante Khalisa.
"Maaf Dad, Om, Tante, Martin mau menyusul Caca. Kami memang sedang ada sedikit salah paham. Tapi ga masalah kok. Hanya ribut kecil saja." Martin memberikan penjelasan.
"Jaga Caca baik-baik ya." Daddy Nick menitipkan putrinya.
"Baik Om. Martin pamit duluan ya. Dad, Mom. Aku duluan." Pamit Martin menyalami semua orang tua.
"Bang, Kak Caca sama Martin kemana?" Adam kepo dengan apa yang terjadi.
"Biasalah, drama percintaan. Jomblo seperti Kamu tidak paham." Nadhif membawa Adam menikmati acara yang masih berlangsung.
Martin membuntuti Caca yang laju mobil miliknya begitu cepat.
Bagaimanapun Martin merasa bertanggung jawab karenanya Caca jadi emosi.
Caca sadar bahwa Martin membuntuti mobilnya, dengan segera ia menambah kecepatan laju kendaraannya.
Martin pun merasa khawatir dengan terus melaju mengimbangi mobil Caca.
Saat yang sama Caca mendapat telpon dari Chris dan Caca mengurangi laju kecepatannya dan menjawab panggilan telpon Chris.
"Ya Chris?"
"Aku sedang dalam perjalanan."
"Dimana?"
"Ok."
"Sepertinya agak lama."
"Baiklah kalau Kamu sabar menunggu."
"Iya."
"Ok. Bye!"
Caca menutup ponselnya.
Kembali ia lihat dari spion rupanya Martin masih mengikuti mobilnya.
"Dasar kurang kerjaan!" umpat Caca dengan kesal.
Caca melihat notifikasi masuk dari Rumah Sakit.
Rupanya ada pasien gawat darurat yang harus ia tangani.
Caca menelpon ke Rumah Sakit.
"Iya, bagaimana kondisinya?"
"Ok, Saya akan sampai segera."
Caca kemudian kembali menghubungi Chris bahwa ia harus ke Rumah Sakit karena ada keadaan darurat.
Setelah beberapa waktu berlalu, Caca sampai juga di Rumah Sakit.
Caca memarkirkan mobilnya segera keluar dan menuju IGD.
Sekilas ia melirik mobil Martin yang masih ada dan Caca tak menggubris martin yang baru saja keluar mobil.
Martin mengikuti Caca yang masuk ke Rumah Sakit namun langkahnya terhenti saat melihat Caca segera masuk ruang UGD.
Caca yang telah siap dengan pakaian medisnya segera melakukan penanganan pada pasien yang ada di IGD.
Chris baru saja sampai di ruang IGD kemudian diperkenankan masuk oleh perawat.
Kurang lebih 1 jam Caca dan Martin keluat bersamaan dari ruang IGD.
Caca dan Martin terlihat lega setelah berhasil menyelamatkan pasien mereka.
Wajah-wajah keduanya yang lelah dan lega saat keluar IGD disambut dengan Marrin yang sudah berdiri disana.
Caca tak menggubris keberadaan Martin karena masih sibuk dengan memberikan penjelasan kepada keluarga pasien.
Martin mengamati, bagaimana keluarga pasien bisa bernafas lega karena Caca berhasil menyelamatkan anak mereka.
Wajah-wajah bersyukur dan ucapan terima kasih yang ditujukan pada Caca membuat Martin menarik senyumannya merasa bangga akan apa yang dilakukan oleh wanita yang ia lamar memerapa saat lalu.
Caca pamit undur diri dulu sebelum meninggalkan keluarga pasien setelah memberikan penjelasan dan informasi bagaimana kondisi pasien terbaru.
Caca menghentikan langkahnya sejenak saat Martin menghampiri dirinya.
"Ca, butuh kopi?" Chris yang bersama dengan Caca tak melihat keberadaan pria lain sedang menunggu Caca.
"Sudah selesai?" Martin sambil menatap Caca.
Tentu saja baik Martin maupun Chris beradu pandang seolah bertanya dan menunggu jawaban apa yang akan Caca berikan.
Disaat semua terdiam tanpa kata antara bimbang dan entah perasaan apa yang harus diutarakan muncul seseorang yang sejak kemarin mencari keberadaan Caca.
"Hai Ca! Akhirnya Aku bisa menemuimu!"
Arsenio yang baru saja sampai setelah tahu dari perawat bahwa Caca sedang melakukan tindakan segera menuju ruangan yang dimaksud.
Nyatanya sudah ada 2 kumbang yang juga sudah menunggu sang bunga.