
Seperti hal nya Caca yang sesang menemani sang Bunda dalam rangka melancarkan surprise Anniversary Daddy Nick dan Bunda Khalisa, Nabil yang kebagian tugas membawa Daddy Nick kebetulan mereka memang ada pertemuan bisnis dengan klien sehingga tugas Nabil terbilang mudah hanya dengan mengalihkan fokus sang Ayah agar sejenak tak ingat dengan istri tercintanya.
Bersama dengan rekan bisnis lainnya Daddy Nick dan Nabil tengah berdiskusi mengenai kerjasama mereka dengan NBC.
Selain itu banyak dari mereka yang turut mendukung dengan pencalonan Daddy Nick sebagai Gubernur.
Meski banyak yang menawarkan bantuan berupa meterial, namun Daddy Nick menolak dengan halus.
Daddy Nick masih percaya bahwa segala suatu yang diawali dengan cara yang tidak benar akan berujung tidak baik dan berdampak negatif.
Setelah mendapat pesan dari Nadhif bahwa Nabil harus terus membersamai Daddy Nick hingga fokus Daddy Nick tidak teralihkan.
Diantara Klien dan rekan bisnis tenti saja ada Alex dan Salman.
Meski mereka sahabat dan keluarga namun dalam berbisnis sikap profesional tetap dijunjung tinggi.
Begitupan dengan hubungan yang dilanjutkan dengan putra-putra mereka semua berjalan sesuai dengan cara profesionalisme.
Daddy Nick tampak mencari ponselnya.
Namun tak dia temukan di saku maupun kantong celana.
"Ada apa Dad?" tanya Nabil.
"Ponsel Daddy sepertinya tertinggal."
"Coba Aku hubungi driver barangkali tertinggal di mobil."
Setelah beberapa saat Nabil memberi tahu bahwa ponsel sang Ayah tak ada di mobil.
"Aku lacak dulu ya Dad. Siapa tahu ponsel Daddy tertinggal dirumah."
Sebetulnya memang anak-anak Daddy Nick sengaja mengalihkan kedua orang tuanya sengaja agar ponsel mereka tertinggal agar mereka berdua tidak bisa saling menghubungi dihari itu.
"Tenang saja Dad, Aku sudah melacaknya dan posisi ponsel Dad ada dirumah."
"Coba Kamu hubungi Bunda, barangkali Bunda sudah sampai dirumah."
"Baik Dad."
Nyatanya Nabil tak menghubungi sang Bunda tapi malah mengirim pesan ke Kakaknya Caca.
Nabil mengatakan bahwa Daddy Nick menanyakan sang Bunda.
Dengan segala trik Caca dan Nabil membuat seolah keduanya tak bisa saling bertukar suara.
"Dad, Bunda masih treatment bersama Kak Caca. Bunda ga bisa terima telpon karena sedang dalam treatment." jelas Nabil pada Daddy Nick.
Anggukan Daddy Nick percaya saja dengan jawaban putranya.
Sementara Nadhif di bantu Adam sedang menyiapkan lokasi surprise dengan segala pernak perniknya meski sudah ada EO yang menangani namun Nadhif tetap turun tangan demi suksesnya acara suprise untuk kedua orang tua mereka.
"Mas Nadhif, bagaimana? Apa yang kurang? Atau ada yang mau ditambahkan?" EO yang mengurus acara tersebut menghampiri Nadhif.
"Sepertinya sudah. Oh ya jangan lupa, nanti saat sesi dansa tolong tampilan video kebersamaan mereka sejak muda hingga kini pokoknya jangan sampai terlewat ya." Nadhif memperhatikan sekitar memastikan semua sudah sempurna.
Nadhif mengirim gambar-gambar view lokasi surprise kepada Kakak dan Abangnya.
Tentu saja keduanya membalas dengan emoticon smile dan acungan jempol.
Selain memastikan tempat Nadhif juga sudah meminta bodyguard mengamankan lokasi.
Nadhif tidak mau, acara bahagia bagi kedua orang tuanya kecolongan bahkan menimbulkan bahaya.
"Bang, Om dan Tante bener ga tahu kan? Kalo sampe bocor kan ga asik." Adam menghampiri Nadhif.
"Tenang saja. Asal Adekmu Naura ga ember! Semua aman!" jawab Nadhif.
"Tenang saja Bang. Naura aman! Umi pasti sudah wanti-wanti. Tahi sendiri Bang Nadhif, Umiku kalau sudah bertitah bisa keluar tanduk!" Adam malah curhat.
"Kamu ini, nanti Abang kasih tahu ke Tante Dira loh!" Nadhif tertawa.
"Dih Abang ga bakat ember kan!"
"Oh ya Bang, soal Marrin, Aku sudah menemukan beberapa fakta lagi. Coba deh Abang lihat ini."
Nadhif menerima ipad yang disodorkan Adam padanya.
Nadhif melihat beberapa video, rekaman CCTV dan beberapa gambar dan data mengenai Matin dan aktivitasnya.
"Bang, rupanya mereka memiliki masalah dengan Bryan Webber. Dan mereka meski masih keluarga, tampak tak akur bahkan saling dendam." Adam memberi tahukan pada Nadhif.
"Kita harus cari tahu, apa bisnis Marrin dan Om Alex dibalik yang terlihat."
"Aku masih yakin ada hal yang merrka sembunyikan."
"Tenang saja Bang. Pasti Kita akan temukan apa yang mereka sembunyikan."
Sementara, Martin sedng mengurus sesuatu yang berkaitan dengan jaringan Bryan.
"Bagus! Kita sukses menggagalkan pengiriman senjata yang dipesan dan pastinya saat ini Bryan sudah tahu bahwa itu adalah ulah Kita. Kita harus siap saat mereka membalas."
"Baik Tuan!" tangan kanan Martin memberi hormat sebelum kembali menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.
Ponsel Martin berdering.
"Ya Mom."
"Baik. Aku akan kesana."
"Iya Mom. Tidak akan lama."
"Iya."
Akhirnya pembicaraan Martin dan Mommy Hania selesai.
Di Rumah Sakit,
Arsen mencari keberadaan Caca dan ia bertanya ke counter suster.
Arsen sudah mencoba menghubungi Caca namun tidak diangkat.
Hingga saat ia akan berbalik, Arsen bertabrakan dengan seorang Dokter.
"Maaf Dok." Arsen membantu sang Dokter mengambil papan jalan dan mengembalikannya pada Dokter tersebut.
Saat Arsen hendak berjalan, Arsen mendengar Dokter tersebut bertanya tentang seseorang yang ia sedang cari.
"Maaf Dok, apakah Dokter Clarisa tidak praktek?" Arsen menyapa sekaligus bertanya.
"Maaf dengan-"
"Saya Arsen. Saya teman Caca. Dengan Dokter?"
"Chris."
Keduanya bersalaman dan saling memandang satu sama lain.
"Sepertinya Dokter Clarisa tidak ada jadwal praktek dan hari ini ia tidak datang karena ada keperluan pribadi." Chris membagikan informasi yang ia dapat kepada Arsen.
"Ok terima kasih Dok."
"Apakah Anda ada keperluan dengan Dokter Clarisa?"
"Tidak. Saya hanya sekedar mampir dan hendak mengajak makan siang." jawab Arsen jujur.
Kepergian Arsen diiringi dengan tatapan mata Chris.
"Siapa dia?"
Sebagai seorang yang menyukai Caca, tentu Chris bertanya-tanya siapa Arsen.
Jika hanya teman atau pasien tidak akan sedekat itu mengunjungi dan hendak mengajak makan siang.
Kalau tidak ada kedekatan, mana mungkin.
Dengan segala pikiran yang terlintas di kepalanya Chris berlalu menuju ruang kerjanya.
Pesannya dan telpon kepada Caca belum dijawab dan tak terangkat.
Seharian tak melihat Caca di Rumah Sakit rasanya seperti ada yang kurang saja.
Sementara yang Caca, wanita yang dicari oleh para pria-pria tampan masih asik bersama Sang Bunda melancarkan aksinya dalam rangka memuluskan rencana surprise yang telah tersusun secara matang.
...Kamu terpopuler di kepalaku....
...Bahkan saat aku tidur...
...Kepalaku tetap sibuk olehmu....
...karena Kamu selalu singgah dalam mimpiku....
...Kamu seperti sel aktif di otakku....
...Yang tak pernah berhenti berputar dalam benakku kesana kemari hilir mudik bagai candu....
...Kamu satu tapi banyak Kumbang mengerubungi indamu....
...Aku cemburu meski belum ku tahu belum menjadi hakku....
...Lalu, harus bagaimana Ku tata hatiku, cemburu sudah tentu tapi lidahku terasa kelu dengan hanya memandangmu?...