ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Khawatir



"Assalamualaikum Kak." Daddy Nick mengucap dalam saat bertemu dengan Abi Salman.


Keduanya memang sengaja bertemu di luar Mansion karena akan membicarakan sesuatu yang penting dan tak ingin istri dan anak mereka mengetahuinya.


"Waalikumsalam Nick. Bagaimana kabarmu?" Abi Salman sang Kakak Ipar memeluk adik iparnya saling berjabat tangan.


"Alhamdulillah baik Kak."


Abi Salman melihat kekhawatiran di wajah Daddy Nick dan mempersilahkan untuk duduk dulu.


"Duduklah dulu. Istirahat dulu saja. Kamu sudah makan?" tanya Abi Salman pada Adik Iparnya.


"Sejujurnya selera makanku berkurang." Daddy Nick memang mencemaskan hal yang akan ia bicarakan pada Kakak Iparnya.


Abi Salman menghela nafasnya, ia memahami. Memang permasalah yang keluarga mereka hadapi tidak mudah.


"Kita makan dulu. Kalau Kita sakit, siapa yang akan menjaga keluarga Kita. Allah tentu akan menjaga mereka, namun sebagai kepala keluarga, Kita tetap berkewajiban melindungi mereka Nick. Ayo makan dulu." nasihat Abi Salman pada Daddy Nick.


Keduanya akhirnya menikmati makan siang bersama sebelum membicarakan hal yang serius.


Setelah makan, keduanya menunaikan shalat dzuhur bersama dan kini setelah perut sudah terisi dan kewajiban telah tertunaikan, keduanya mulai berbicara empat mata.


"Kakak sudah melihat data yang Kamu kirimkan. Dan Kakak juga sudah mencari informasi dari orang kepercayaan Kakak. Dan benar, Mereka memang menargetkan Kita menjadi target balas dendam atas peristiwa dulu." jelas Abi Salman panjang lebar.


"Aku tidak menyangka puluhan tahun telah berlalu, mengapa baru sekarang muncul lagi masalah ini. Ku kira setelah Max di jatuhi hukuman eksekusi masalah sudah selesai. Rupanya anaknya yang tidak diketahui keberadaannya kini muncul dan balas dendam kepada Kita." Daddy Nick mengeluarkan segala apa yang ia khawatirkan.


"Ya, terlebih mereka memang sengaja menunggu moment saat ini Nick. Disaat Kamu sedang disibukkan dengan kegiatan kampanyemu mereka bergerak."


"Bagaimana hubungan Max dengan Alex? Mereka bukankah saudara sambung?" tanya Abi Salman.


"Yang Ku tahu dulu hubungan keduanya tidak akur bahkan Max sengaja berbuat culas mengambil seluruh aset milik orang tua mereka, itulah sebabnya Alex memilih membangun usahanya sendiri dan kini diteruskan kepada putranya Martin." jelas Daddy Nick.


"Bukankah belakangan Alex dan keluarganya kembali menjalin silahturahmi dengan Kalian?" tanya Abi Salman.


"Ya. Beberapa kali Kami bertemu, Alex pun mensupportku dalam kegiatan Kampanye. Putranya kini bekerjasama dengan Nabil di NBC. Ada apa Kak?" Daddy Nick memajukan tubuhnya.


"Tidak. Aku tidak Suudzon dengan hal itu, namun tetap waspada perlu. Kita harus cari tahu betul keterlibatan mereka dengan Bryan Webber." Abi Salman memberikan pandangannya.


"Ya. Kakak benar. Bagaimanapun Kita tetap harus waspada dan berjaga-jaga." Daddy Nick menarik nafas panjang.


"Insha Allah Aku akan membantumu Nick. Bagaimanapun juga kejadian ini berhubungan denganku."


Abi Salman teringat memori puluhan tahun silam dimana Ayah Mertuanya Papa Baskoro pernah sempat menjodohkan Dira dengan Max Webber.


Dan Sesaat setelah itu Max Webber tertangkap interpol dan diganjar hukuman eksekusi.


Saat itu Daddy Nick membantu Abi Salman mencari bukti-bukti kejahatan Max Webber sehingga memberatkan Max dan menguatkan hukuman yang diganjarkan kepada penjahat internasional itu.


Tiada yanf menyangka, rupanya tanpa sepengetahuan khalayak ramai, Max Webber memiliki anak yang kini membalaskan dendam orang tuanya.


Bryan Webber. Anak dari Max Webber yang kini secara masif menyerang dan menggoncang stabilitas keamanan Keluarga Nick.


"Penyeranganmu saat Kampanye juga salah satu ulah mereka?" tanya Abi Salman.


"Ya." Daddy Nick mengangguk.


"Apakah Khalisa sudah tahu? Aku belum bercerita apapun pada Dira." terang Abi Salman.


"Jangan Ka. Khalisa jangan sampai tahu. Biarkan Khalisa dan Dira tidak mengetahui hal ini. Mereka akan sangat khawatir. Terlebih sekarang anak-anak Kita akan terkena dampaknya. Aku tidak mau mereka khawatir dan cemas." Daddy Nick tak mau Bunda Khalisa istrinya menjadi cemas.


"Ya memang sebaiknya begitu. Tapi Kita bisa mengajak putra-putra Kita untuk membantu memberikan solusi akan persoalan ini. Terlebih Nab, Nadhif, kini mereka berinteraksi dengan keturunan Alex."


"Ya, Nabil yang memberikanku informasi itu. Bagaimana dengan Ibrahim dan Adam. Mereka juga bisa Kita ajak membicarakan soal ini Kak." saran Nick.


"Aku akan coba berdiskusi dengan Keduanya. Siapa tahu mereka bisa mencarikan dan memberikan solusi untuk persoalan ini." Abi Salman menyetujui saran Daddy Nick.


"Begini saja, Sabtu ini, Aku akan mengajak Alex dan putranya bermain golf, Kakak ajak Ibrahim dan Adam. Akupun mengajak Nabil dan Nadhif juga."


"Boleh. Kita bisa lebih mengenal mereka dan dengan berinteraksi santai barangkali Kita bisa menilai bagaimana tanggapan Alex mengenai penyerangan yang Kamu alami."


"Baiklah kalau begitu, Aku akan mengabari Alex segera. Jika mereka Ok, Aku akan mengabari Kakak."


"Baiklah kalau begitu Nick. Semoga saja, Allah selalu melindungi Kita dan menjaga setiap langkah Kita dalam perlindungannya."


"Aamiin. Semoga saja Kak."


Sementara di kantor Xander Corporation, Daddy Alex yang datang menemui Martin kini keduanya sedang mengobrol serius.


"Mereka sudah jelas dan terang-terangan menyerang Kita Nak. Mereka pun tak segan menyerang Nick dan keluarganya. Bagaimana? Apa Kamu sudah lebih dekat dengan Caca?"


Mendapat pertanyaan dari sang Ayah Martin sulit menjawab.


Daddy Alex melihat wajah putranya yang tampak tidak baik-baik saja.


Sejenak Daddy Alex tersenyum. Sebagai orang tua, Daddy Alex paham betul karakter putranya.


Terlebih bagaimana Martin dengan lawan jenis, Daddy Alex tahu, Martin mengalami kendala dalam hal mendekati Caca.


"Rilex Nak. Jangan terlalu Kaku. Bagaimana Caca mau melihat ketulusanmu Jika Kamu tidak mengatakannya?"


"Aku ragu Dad."


Tentu Daddy Alex pun memahami keraguan Martin.


Pekerjaan mereka diluar yang terlihat memang sulit dijelaskan.


Belum lagi, keterlibatan dengan Bryan Webber yang suka tidak suka masih ada hubungan kekuarga meski keduanya tak akur bahkan tak segan Bryan menyerangnya kini tak menafikan bahwa ada andil Daddy Alex.


Dendam dan Masalah keluarga yang telah berakar kini semakin meluas dimana Bryan sebagai putra sekaligus pewaris Max Webber bersikukuh membalas dendam masih tak dapat menerima kenyataan bahwa anggapan Bryan kematian Ayahnya disebabkan oleh campur tangan Alex tang dibantu Nick dan Salman.


Padahal sejatinya, Apa yang terjadi pada Max, hukuman yang dijatuhkan kepadanya adalah buah dari apa yang Max lakukan dimasa lalu.


Namun jika benci sudah merajai hati maka kebaikan sebesar apapun akan tertutupi karena iblis selalu mampu meniupkan amarah dan dendam dalam hati setiap manusia yang tidak menerima dengan ikhlas dan lapang dada.


"Nak, Dad yakin, Kamu bisa lebih berusaha dalam mengambil hati Caca. Ketulusan dan Kebaikan pasti akan membawa Kalian dalam perahu yang sama. Meski kelak bila Caca mengetahui kenyataannya, dan ia tidak bisa menerima, maka ikhlaskan saja. Yang terpenting Kamu berniat baik dan tulus."


Martin mencerna kata-kata Daddy Alex meresapinya dalam Hati.