ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
3 Kumbang 1 Bunga



Caca menghentikan langkahnya sejenak saat Martin menghampiri dirinya.


Disaat yang sama Chris menanyakan sesuatu kepada Caca.


"Ca, butuh kopi?" Chris yang bersama dengan Caca tak melihat keberadaan pria lain sedang menunggu Caca.


"Sudah selesai?" Martin sambil menatap Caca.


Tentu saja baik Martin maupun Chris beradu pandang seolah bertanya dan menunggu jawaban apa yang akan Caca berikan.


Disaat semua terdiam tanpa kata antara bimbang dan entah perasaan apa yang harus diutarakan muncul seseorang yang sejak kemarin mencari keberadaan Caca.


"Hai Ca! Akhirnya Aku bisa menemuimu!"


Arsenio yang baru saja sampai setelah tahu dari perawat bahwa Caca sedang melakukan tindakan segera menuju ruangan yang dimaksud.


Nyatanya sudah ada 2 kumbang yang juga sudah menunggu sang bunga.


Ditengah suasana canggung tersebut Caca memilih untuk kembali keruangannya untuk mengganti pakaian dan bersih-bersih terlebih dahulu.


"Aku mau keruanganku dulu." Caca segera berlalu meninggalkan ketiganya yang diam membisu.


Sepeninggal Caca ketiganya berpisah entah mereka kemana disaat masing-masing berkutat dengan pikirannya.


Caca menuju ruangannya, kemudian ia bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaiannya kembali.


Hari ini ia tak ada jadwal praktek hingga memituskan akan pulang saja.


Namun saat keluar ruangan, rupanya Caca dihadapkan lagi dengan ketiga pria yang sudah menunggunya.


"Ca, gimana kalau Kita ngopi dulu?" ajak Chris.


"Ide yang bagus. Aku juga butuh kopi sepertinya." sahut Arsenio.


Caca berjalan melewati ketiganya bukan menyetujui, hanya ingin semuanya segera selesai.


Martin mengikuti semuanya tak mau tertinggal, karena ia pun tak rela melepas Caca dengan dua pria yang nyatanya mengejar Caca juga.


Kini, Caca, Martin, Chris dan Arsen duduk bersama di sebuah coffee shop.


Jangan ditanya lagi, suasana canggung sangat kental dirasakan oleh masing-masing dari mereka.


Waiterss datang menanyakan pesanan mereka.


"Kamu mau minum apa?" kompak sekali ketiga pria itu menanyakan apa kopi pilihan Caca.


"Cappucino 1 ya Mbak." Caca menjawab namun ia tujukan pada pelayan saja.


Kemudian masing-masing pria-pria itu menyebutkan kopi pilihan mereka masing-masing.


Setelah kepergian Waitress mereka yang kini kembali duduk bersama masih dengan mode diam.


Hingga Arsenio membuka obrolan.


"Jadi Dokter Chris praktek di Dumah Sakit juga?"


"Ya, Anda sendiri?" Chris penasaran dengan pria yang bertanya padanya.


"Aku teman SD Caca. Kami juga beberapa waktu lalu reuni bersama. Bukan begitu Ca." Arsenio sengaja tidak menyebut nama Martin karena ia malas.


"Kalau Anda?" Chris bertanya pada Martin.


"Apa Kalian tidak ada kesibukan lain?" Caca menyela pembicaraan.


Disaat bersamaan Waitress datang membawakan pesanan kopi mereka.


"Aku pamit pulang dulu." Caca meraih kopi miliknya dan segera beranjak.


Tentu saja sikap Caca membuat ketiga pria yang sedang duduk serempak berdiri.


"Maaf, Aku butuh istirahat. Terima kasih kopinya." Caca segera meninggalkan ketiganya.


Bersyukur ketiganya tak memaksa mengikuti dan membiarkan Caca pulang.


Sementara Caca segera masuk mobil, kepalanya pusing dan tubuhnya lelah.


Keinginannya hanya 1 segera sampai rumah dan istirahat.


Kini mereka secara jelas melihat rivalnya masing-masing.


Bagi Martin, bukan hal mudah, bahwa tak hanya dirinya yang saat ini mengejar seorang Clarisa Aurora Bryan.


Caca kembali ke Mansion Dady Nick.


"Assalamualaikum." salam Caca saat menemui kedua orang tuanya yang rupanya sudah ada di rumah.


"Waalaikumsalam." jawab Daddy Nick dan Bunda Khalisa.


Bunda Khalisa memberikan kode kepada Daddy Nick untuk tidak bertanya macam-macam dulu kepada Caca.


Meski rasa pensaran keduanya namun Bunda Khalisa ingin memberikan Caca waktu agar bisa berbicara lebih tenang.


"Sayang, sudah makan?" Bunda Khalisa menepuk bahu putri sulungnya dengan lembut.


"Sudah Bun. Maaf kalau Caca tidak ikut acara Daddy dan Bunda sampai habis. Tadi ada yang urgent di Rumah Sakit." jelas Caca pada keduanya.


"Tidak apa-apa Sayang. Ya sudah. Kamu istirahat saja. Sepertinya Kamu lelah sekali Kak." Bunda Khalisa mengusap punggung Caca lembut.


"Ya, Kakak istirahatlah dulu." Daddy Nick pun menyetujui kata-kat Bunda Khalisa.


"Caca ke kamar dulu ya Dad, Bun." Caca pamit kepada keduanya sebelum melangkah menuju kamarnya.


Ada rasa khawatir dari tatapan Daddy Nick saat melihat Caca yang sudah masuk lift.


Sebagai pendamping yang sudah lama menemani Daddy Nick, Bunda Khalisa menggenggam tangan saminya.


"Mas, biarkan Caca berpikir dengan jernih. Kakak sudah dewasa. Ia pasti tahu apa yang kan ia lakukan. Soal Martin, biarkan Kakak sendiri yang mengambil keputusan. Pasti Kakak sedang menimbang baik buruknya. Bagaimanapun Kakak yang kelak menjalani hidupnya. Sebagai orang tua Kita hanya bisa memberikan pandangan dan arahan. Selebihnya mereka yang akan menjalaninya. Daddy jangan terlalu khawatir ya." Bunda Khalisa memberikan penguatan dan pandangannya pada Daddy Nick.


"Iya Sayang, Mas hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak Kita." Daddy Nick mengeratkan genggaman jemarinya dengan jemari Bunda Khalisa.


"Ya sudah. Sekarang istirahat yuk Dad. Sudah malam. Besok Daddy bukankah harus kembali ke dapil?"


"Ah baiklah Sayang. Terima kasih ya. Sudah menemaniku hingga kini. Sudah sabar dan berlapang hati dalam keadaan apapun." Daddy Nick menuntun Bunda Khalisa saat mereka menuju kamar.


"Insha Allah, selama Allah memberikan nafas di hidupku, selama itu pula Aku akan mendampingi Mas." Bunda Khalisa menatap wajah yang kini sudah mulai menua namun selalu tampan baginya.


Di Kamar Caca tidak bisa langsung memejamkan mata.


Ia memilih untuk merilekskan tubuhnya berendam di bathup.


Meneteskan beberapa essential oil guna menenangkan pikirannya yang kusut.


Kilasan kejadian di Resort sudah membuatnya pusing tujuh keliling akibat kenekatan Martin belum reda kini malah datang lagi 2 kumbang yang jelas dan terang-terangan mendekatinya.


Caca malah tidak senang dengan keadaan yang ia hadapi kini.


Sejujurnya, Caca sendiri bingung siapa yang akan ia pilih dan bagaimana ddngan pilihannya kelak.


Apakah tepat atau tidak.


Sejujudnya, Caca menyimpan keraguan dihati akan apa yang hatinya sendiri inginkan.


Terlintas ia sejenak mengingat bahwa sudah lama sekali Caca tak mengunjungi pusara Ibu Kandungnya, Mommy Aurel.


Caca juga ingin sekali curhat dengan Ibu sambungnya Bunda Khalisa.


Namun ia sendiri bingung, apakah kebingungannya kini tepat atau hanya selingan hidup yang sedang ia jalani.


Menjadi seorang putri Nicholas Bryan, terkadang membuat Caca sulit membedakan ketulusan seseorang.


Begitupun dengan menjalin hubungan dengan pria, Caca tidak mau mereka dekat padanya hanya karena nama besar sang Ayah saja.


Mungkin di luar sana banyak yang mengatakan ia pilih-pilih namun bukan itu alasannya.


Caca memang takut salah pilih dan mengecewakan orang tuanya.


Menjadi dewasa rupanya tak seindah bayangan Kita saat masih anak-anak.


Saat kecil, Kita ingin cepat besar karena menganggap menjadi dewasa bisa melakukan apapun yang tak bisa dilakukan saat masih kecil.


Rupa saat sudah dewasa Kita malah rindu masa-masa kecil Kita yang begitu sederhana dalam memaknai sesuatu dan membuat Kita bahagia.


Begitulah kini yang sedang dirasakan oleh seorang Clarisa Aurora Bryan.