ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Reuni



Menjawab segala rasa penasaran Chate, akhirnya Caca sepanjang perjalanan menuju tempat reuni SD menceritakan siapa sebenarnya Chris.


Tentu saja Chate begitu antusias mendengarkan kata demi kata yang disampaikan Caca kepadanya.


"Dia itu suka sama Kamu Ca! Ih Beib Kamu laris manis banget sih! Ada Arsen, Martin sekarang Chris! Uh sok cantik deh yey!" Chate tertawa sambil menggoda Caca menyenggol lengan sang sahabat.


"Terus, Kamu pilih yang mana Ca, Heum?" Chate penasaran apakah Caca sudah memilih diantara ketiga cowok-cowok tampan itu.


"Ga ada!" jawab singkat Caca.


"Ayolah! Masa ga ada yang nyantol dihati sih!" Chate masih tetap semangat mengorek informasi.


"Udah mau sampai tuh!" Caca menunjuk pada tempat lokasi reuni mereka.


"Ok!"


Suasana dalam ballroom hotel yang didekorasi sedemikian rupa sebagai tempat reuni SD bertemakan vintage membuat seakan mereka kembali mengenang masa-masa sekolah dasar yang sudah lama bahkan hampir terlupakan.


Saat berjumpa dengan teman-teman sekolah dasar dimana dulu mereka masih sama anak-anak dan kini sudah menjelma menjadi pribadi dewasa dengan berbagai profesi yang digeluti.


Seperti reuni pada umumnya, semua saling mengingat segala kenangan dan saling bercerita tentang masa-masa saat duduk disekolah dasar.


Tak lupa mereka pun bertukar informasi dan kesibukan apa yang kini mereka geluti.


"Ih ga sangka ya, Chate sekarang sudah jadi selebritis sekaligus model top!" komentar beberapa teman-teman mereka.


"Kamu juga Ca, nyatanya sekarang jadi Dokter! Ku kira Kamu akan meneruskan bakat melukismu." salah seorang teman mereka berkomentar pada Caca.


"Hai semua!"


Kedatangan Arsen mampu mengalihkan perhatian semua teman-temannya yang ada disana.


Arsen dengan senyuman lebar bahagia terasa menyapa satu per satu teman-temannya di masa sekolah dasar.


"Wah! Arsenio! Si biang onar. Tukang jahil! Apa kabar Bro?" tanggapan seorang teman sekelas mereka.


"Kalian masih saja ingat kelakuanku dulu! Ya Ku akui dulu Aku memang semenyebalkan itu sih!" Arsen tertawa mengingat bagaimana dulu perilakunya saat masih sekolah dasar.


"Ca, Chate Kalian sudah sampai?" sapa Arsen pada Caca dan Chate.


"Ku pikir Kau sibuk dan tak datang Arsen!" Chate sambil tersenyum.


"Mana mungkin. Aku kan kangen dengan Kalian semua." meski begitu tatapan mata Arsen mengarah pada Caca.


"Kalian berdua itu dulu seperti tikus dan kucing! Semoga tidak berlanjut hingga sekarang ya!" si mantan ketua kelas berkomentar.


"Ca, maaf ya, dulu Aku sering sekali mengusilimu. Tapi bekal makanan buatanmu enak-enak sih!" Arsen mencoba membuka komunikasi dengan Caca.


"Ya Kamu senang sekali mencomot bekal makananku. Padahal setiap hari Omamu membawakan bekal untuk Kamu." Caca tertawa sendiri bagaimana ia dan Arsen dulu memang tak pernah akur.


"Dulu Aku keterlaluan sekali ya. Gara-gara ulahku Oma Kita berdua jadi dipanggil sekolah. Kalau ingat itu, Aku jadi malu sekali. Kok Aku nakal sekali ya waktu itu." Arsen tertawa mengingat kejadian sekaligus tak enak hati.


Caca tertawa sekilas.


Caca ingat betul bagaimana ia melempar Arsen dengan sepatunya dan berakhir kedua Oma mereka dipanggil ke sekolah.


Saat itu Caca begitu marah dan kesal oleh Arsen.


Arsen pun kesal karena setelahnya ia habis diomeli sang Oma.


"Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa sekarang Kita sudah dewasa." Arsen melihat Caca yang sedang tersenyum mungkin terbayang saat dulu.


"Terkadang, Aku merasa saat kecil Kita bisa kesal, marah dan senang dengan mudah. Berbeda dengan sekarang. Apa yang Kita rasakan tidak bisa secara gamblang Kita langsung utarakan. Banyak pertimbangan." Arsen menatap wajah Caca yang semakin ia lihat semakin menarik.


Martin memasuki Ballroom. Melihat sekelilingnya sudah penuh ramai oleh teman-temannya saat bersekolah dasar.


Meski dulu Martin adalah murid pindahan namun ia masih berkesempatan merasakan bagaimana masa-masa menyenangkan sekolah dasar bersama teman-temannya.


Banyak wajah yang Martin lupa mungkin karena kini mereka semua sudah dewasa.


Banyak perubahan diwajah dan postur tubuh sehingga tak saling mengenali.


Tegur dan saling sapa Martin lakukan sekedar melepas rindu bersenda gurau dengan teman-teman yang hadir.


Hingga ia melihat disatu titik, dimana Caca dan Arsen bersama.


Ada desir aneh yang tak dapat diutarakan, kesal dan marah sendiri seakan ingin segera mengklaim Caca tak boleh bersama yang lain selain dirinya.


"Martin!"


Panggilan Chate membuyarkan fokus Martin.


Lambaian tangan Chate mengajak Martin bergabung dengan Caca dan Arsen.


Netra itu kembali bertemu.


Caca menatap Martin begitupun Martin menatap sambil berjalan mendekat kepada mereka.


"Hai Bro! Ku pikir Kamu tidak datang!" Arsen mengajak tos pada Martin.


Martin membalas tos Arsen kemudian menyapa Chate dan teman lainnya.


"Martin! Kamu bagai hilang di telan Bumi! Tapi begitu muncul tak disangka Xander Corporation yang tersohor kini ada dihadapan Kita." komentar para teman-teman SD Martin.


"Aku tersanjung sekali menjadi salah satu rekanmu sekarang!" Arsen menambahkan.


Caca tak menanggapi apapun, memilih berbincang dengan Chate dan teman lainnya.


Sementara Martin dan para laki-laki asik berbincang seputar bisnis mereka.


Tak lengkap rasanya jika acara reuni tak ada permainan.


Kini pembawa acara memandu permainan yang kalah akan diminta maju dan diberi hukuman.


Serasa kembali kemasa anak-anak, semua begitu antusias mengikuti permainan.


Permainan rebutan kursi pun berlangsung begitu meriah.


Setiap lagi yang diputar berhenti maka masing-masing harus duduk disebuah kursi.


Yang tidak dapat kursi maka akan kena hukuman.


Hingga di saat terakhir nyatanya ada Chate, Arsen, Caca dan Martin yang kalah dalam sesi permainan ini.


"Karena teman-teman Kita Chate, Arsen, Caca dan Martin kurang beruntung dalam permainan ini, maka mereka Kita akan kasih hadiah yang menyenangkan. Kira-kira hukumannya apa ya teman-teman?" MC mengajak peserta lain menentukan hukuman bagi keempatnya.


"Joget!"


"Nyanyi!"


"Pokoknya yang seru!"


"Ok,Ok! Bagaimana kalau mereka berempat Kita minta untuk joget balon berpasangan? Bagaimana? Setuju!"


"Setuju!"


"Kalau begitu siapa berpasangan dengan siapa?" tanya MC.


"Kami yang akan tentukan pasangannya!" sahut peserta lain.


"Ok, siapa?" MC kembali bertanya.


"Chate dengan Arsen!"


"Martin dengan Caca!"


"Wah ide yang bagus! Kapan lagi Kita lihat Selebritis sekaligus model Kita joget balon ya!" MC memeriahkan suasana.


Arsen sesungguhnya mengharapkan ia bisa bersama Caca namun Arsen bersikap biasa saja.


"Ayo Chate Kita pasti menang!" Arsen dengan semangat mengajak temannya Chate.


"Kalian ayo kalahkan Kami!" Chate sengaja menantang Caca dan Martin.


Sementara Caca dan Martin masih diam ditempatnya.


"Ayo Martin! Ayo Caca! Kalian harus menang!" support teman-teman lainnya.


"Ayo peserta silahkan ambil posisi. Ini balon yang akan Kalian gunakan. Pokoknya balon ini tidak boleh jatuh selama musik diputar. Balon harus tetap Kalian pertahankan dengan kedua dahi Kalian. Sudah paham?" tanya MC memberitahukan aturan mainnya.