ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Mengawasi



"Tuan Muda." tangan kanan beserta beberapa bodyguard menghadap Martin hendak mengabarkan sesuatu.


Anggukan Martin cukup mengisyaratkan mempersilahkan anak buahnya untuk mengatakan apa yang ingin disampaikan.


"Bryan dan komplotannya terlihat melakukan pergerakan. Namun Tuan Muda bisa lihat ini." sambil menyerahkan sebuah rekaman dan beberapa foto yang diambil dan video CCTV yang berhasil mereka retas.


Martin memperhatikan dengan seksama semua informasi yang ia terima.


Raut wajah Martin menegang, seakan ia menahan marah dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Rupanya masih belum kapok mereka. Ikuti mereka, biarkan dulu, ikuti alurnya. Tunggu waktu yang tepat, kali ini mereka pasti akan tertangkap basah."


"Baik Tuan Muda. Kami permisi." setelah membungkuk sebagai rasa hormat pamit undur diri melaksanakan titah sang Tuan Muda.


Selepas anak buahnya keluar, Martin menyugar rambutnya dengan kasar.


Martin mengetuk-ngetuk jemarinya diatas meja.


Pikirannya berpikir keras bagaimana ia bisa secara langsung melindungi Caca, wanita yang sejak pengakuannya terakhir kali seakan menghindar bahkan nomornya saja sudah diblokir oleh Caca.


Martin masih tidak mau mengatakan yang sebenarnya mengenai hubungan carut marut antara mereka, Daddy Nick dan Max Webber.


Martin tidak mau, Caca dan keluarganya menjadi cemas.


Terlebih pemilihan Daddy Nick semakin dekat, Martin tidak mau salah langkah dan malah membuat situasi semakin bahaya.


Martin juga tahu seberapa nekatnya Bryan Webber.


Jika bukan menyangkut Caca, sudah Martin habisi jauh-jauh hari.


Namun sejak Caca sedikit tahu mengenai dirinya, Martin seolah memiliki kontrol jika ingin melakukan hal-hal sadis seperti yang mereka biasa lakukan.


Martin tidak mau Caca semakin jauh dan sulit tergapai.


Namun Martin sangat khawatir, terlebih setelah melihat bukti yang baru saja ia lihat.


"Berani-beraninya dia mendekati Caca dengan Caca halus begitu!"


Semua rasa campur aduk di pikiran dan hati Martin.


Marah, Kesal, Gemas, dan Cemburu pastinya, disaat sang musuh bebuyutan justru memilih cara licik dan halus dengan mendekati Caca.


Namun bukan Martin namanya, meski Caca telah memblokir nomor ponselnya bukan berarti Martin tak punya akses untuk memantau sang pujaan hati meski ia tahu jika Caca menyadari bahwa selama ini ia mengawasinya pasti akan marah besar.


Kadang cinta memang tak ada logika.


Menghadapi mafia seberbahaya apapun dengan intrik sekotor apapun Martin tak pernah gentar.


Namun keberadaan Caca yang terus menghindar, mampu memporak porandakan seorang Mafia seperti Martin.


Terkadang jatuh cinta membuat tumpul nalar dan logika.


Jatuh cinta membuat Martin seakan bingung dan gamang.


Martin benci perasaan yang tidak pasti namun untuk mengambil langkah tegas Martin masih takut membuat Caca semakin menjauhinya.


Jujur memang cara terbaik tapi belum waktunya untuk saat ini.


Masih banyak yang dipertimbangkan jangan sampai membuat pihak-pihak lain ikut terseret dalam kubangan dan lingkaran setan yang sejak lama belum terurai dan kusut.


Martin masih duduk di kursinya memeriksa retasan CCTV di Rumah Sakit tempat Caca praktek.


Hanya dari sinilah Martin bisa menghibur dirinya, sepuas hati memandangi wanita yang ia cintai tanpa Caca menyadari bahwa setiap hsri ia diawasi oleh Martin.


"Rupanya pameran lukisan yang ia datangi kemarin menjadi awal mula strategi seorang Bryan Webber dilancarkan. Kau salah memilih target Bryan! Aku tak akan biarkan wanita yang kucintai Kau sentuh meski hanya sehelai rambutnya. Jangan salahkan Aku bertindak kejam terhadap orang tuamu!" Martin berjanji dalam hati.


Sementara di Rumah Sakit, Caca seperti biasa disibukkan dengan aktivitas rutinnya melayani praktek dan beberapa tindakan operasi seperti hari-hari sebelumnya.


"Ca!" Chris berlari menyusul langkah Caca yang sedang berjalan bersama perawat pendampingnya.


"Hai Chris!" Caca tersenyum membalas sapaan Chris.


"Kalau begitu Saya akan berikan ini kepada Staf lainnya Dok. Permisi. mari Dokter." pamit perawat sebelum meninggalkan Caca dan Chris.


"Sibuk?" Chris berbasa basi.


Chris menyadari sejak pertemuan terakhir dengan 2 saingannya yang berakhir Caca pergi, hubungan mereka seakan berjarak.


Meski jika dalam urusan pekerjaan dan profesi tak ada sedikitpun Caca mencampuradukkan tapi Chris sadar Caca memberi ruang terbatas akan kehidulan pribadinya kini.


"Ya seperti biasa. Kamu ada praktek Chris?" Caca balik tanya.


"Ya, baru saja Aku ada tindakan operasi? Oh ya bagaimana persiapan akreditasi Rumah Sakit? Ada yang perlu Aku bantu?" Chris sengaja tak menyinggung apapun soal beberapa waktu yang lalu.


Meski dalam hati Chris selalu bergejolak ingin bertanya apa dan bagaimana mereka tapi Chris menahan, ia paham karakter Caca.


"Ya, terima kasih. Kamupun sudah dapat tugas kan? So Far untuk di departemenku ada banyak staf yang membantu." jawab Caca.


"Ca, sudah lama Kita tidak makan bersama. Apakah hari ini Kamu sibuk? Aku hanya ingin makan malam bersama." Chris menatap wajah yang selalu sejuk bila ia pandang.


Caca tahu Chris sadar akan apa yang ia lakukan.


Caca memang membuat batas dan jarak. Ia tak mau memberikan harapan dan dikatakan mengobral asa pada pria-pria yang mendekatinya.


"Bagaimana Ca, bisa?" Chris melihat Caca terdiam kembali mengilang pertanyaannya.


"Bukan Aku menolak, tapi malam ini Daddyku meminta Kami berkumpul dirumah. Lebih baik siang ini Kita makan dikantin Rumah Sakit saja. Kami sudah makan?" Caca memberikan alasan agar Chris tak kecewa.


"Oh baiklah. Kita ke kantin saja kalau begitu." Chris sedikit kecewa karena ajakannya secara halus di tolak Caca.


"Ayo." Caca membalas dengan senyuman ia mengikuti Chris menuju kantin Rumah Sakit.


Di Kantornya Arsen sudah menyelesaikan pekerjaannya dan meminta asisstennya menghandle sisanya.


Dengan semangat 45 Arsen masih saja getol mendekati Caca meski ia tahu Caca tak merespon dan ada 2 rivalnya yang bukan kaleng-kaleng.


"Pokoknya Oma doakan Aku, Aku sedang berusaha sendiri. Awas kalau Oma ikut campur!" Arsen mengancam sang Oma yang sudah geregetan dengan langkah lamban sang Cucu dalam merebut hati Caca.


"Iya Oma. Beres! Serahkan pada Cucu tampanmu ini!" Arsen dengan jumawa berbicara menenangkan hati Omanya.


"Ok, Bye Oma."


Arsen menutup panggilan sang Oma segera menuju Rumah Sakit dimana Caca berada.


"Aku harus mampir dulu ke toko bunga. Bukankah perempuan suka bunga. Ah ya Aku bawa bunga yang paling bagus untuk Caca." Arsen berbicara sendiri saat dalam mobil.


Arsen sudah sampai toko bunga dan ia malah berjumpa dengan Chate.


"Hai Arsen. Long time no see." sapa Chate pada Arsen.


"Hai Chate. Sedang apa?" Arsen melihat Chate memilih bunga.


"Yang pasti Aku sedang membeli bunga. Kamu sendiri mau beli bunga untuk siapa hayo?" Chate mencandai Arsen.


"Kamu pasti tahulah, siapa lagi kalau bukan untuk sahabatmu." Arsen terang terangan.


"Wow, apakah Aku ketinggalan gosip Arsenio?" Chate meledek Arsen.


"Lebih baik Kamu bantu Aku memilih bunga apa yang Caca suka." Arsen meminta bantuan Chate.


"Ok!" jawab Chate.