ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Menjaga Jarak



"Assalamualaikum."


Caca memasuki Mansion mendapati kedua orang tuanya sedang menonton TV nersama di ruang keluarga.


"Waalaikumsalam." jawab serempak Daddy Nick dan Bunda Khalisa yang tampak asik sedang bercengkrama di depan TV.


Caca mencium tangan kedua orang tuanya dan duduk di hadapan keduanya.


"Sayang, sudah makan?" Bunda Khalisa melihat sesuatu di raut wajah putra sulungnya namun berusaha biasa saja.


"Sudah Bun. Caca langsung ke kamar ya Bun, Dad." Caca memilih pamit setelah bertegur sapa dengan kedua orang tuanya.


Sebagai Ayah, Nick paham sesuatu telah terjadi pada putrinya.


Namun Bunda Khalisa menahan untuk memberikan Caca waktu.


Bagaimanapun kini putra putri mereka telah dewasa.


Mereka butuh waktu untuk berfikir jernih dan memikirkan segala sesuatunya sendiri sebelum memutuskan bercerita kepada orang tua.


Mendapat isyarat sang istri, Daddy Nick paham dan mengikuti arahan istrinya.


Caca masuk ke kamar.


Meletakkan tas dan melepas blazer yang ia kenakan kemudian berbarinh diranjang besarnya.


Mata Caca terpejam namun pikirannya menerawang.


Sekilas bayangan kata-kata Martin yang sempat ia dengar terus berulang dikepala Caca.


"Sebenarnya siapa dia?"


Caca mendengus dengan nafas berat menetralkan rasa penansarannya yang tak kunjung mereda.


Meski enggan, Caca memutuskan membersihkan diri sebelum ia kembali ke pembaringan memanjakan diri dalam buaian mimpi di malam ini.


Pagi terasa begitu cepat, kokok Ayam jago dan suara Adzan telah diperdengarkan di sekitar membangunkan insan dari buaian mimpi.


Meski semalam kantuk lambat menyapa, namun Caca seperti biasa memulai harinya menunaikan 2 rakaat dan berdoa dengan khusyuk dan khidmat.


Hari ini kegiatannya cukup banyak.


Ada beberapa visit pasien, pelayanan rawat jalan di poli serta beberapa rapat dengan manajemen Rumah Sakit.


Setelah sarapan bersama dengan keluarga, Caca bergegas menuju Rumah Sakit.


Sebagai seorang Dokter dan Wakil Direktur Rumah Sakit, Caca dituntut profesional dalam keadaan apapun.


"Dok, maaf ada yang mencari Dokter." seorang perawat mengabari Caca yang baru saja selesai melakukan tindakan.


"Siapa?"


"Tuan Martin."


"Ok. Terima kasih."


Caca memilih untuk tak segera menemui tamu yang kini telah menunggunya.


Namun rasa tak enak hati membiarkan Caca menuju ruangannya menemui sang tamu.


Caca membuka pintu ruangannya.


Martin rupanya sudah duduk di sofa dan langsung menatap kepada si empunya ruangan saat Caca masuk.


"Maaf, Aku datang tanpa mengabari. Kamu sedang sibuk?" Kali ini Martin berbicara cukup panjang.


Caca memilih duduk di hadapan Martin menatap lekat pada pria yang ada di dekatnya.


"Ada apa?" Caca buka suara.


"Kamu salah paham Ca. Aku," belum sempat Martin melanjutkan kata-katanya ucapan Caca membungkam pria itu.


"Martin, Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku. Aku pun tidak berminat mengetahui apa urusanmu. Jadi jangan merasa sungkan. Yang ku katakan semalam untuk kebaikan Kita." Caca memilih kata dengan senatural mungkin.


Martin menatap netra wanita dihadapannya mencari apa yang ada dalam benak wanita pemilik hatinya.


"Aku senang Kamu dan keluargamu kembali bersilahturahmi dengan Keluargaku. Namun, Aku sedang Kamu sebagai sahabatku. Tapi, jangan buat seolah Kita dekat. Aku harap Kamu bisa mengerti." Caca menatap netra Martin yang sejak tadi tak putus memandangnya.


"Kamu salah paham." Martin memenggal kata-katanya menjadi kalimat yang terasa ambigu bila didengar.


Caca tersenyum. Ia bersidekap kemudian menjawab Martin.


"Aku tak pernah memikirkan apa yang bukan urusanku. Apapun yang Aku dengar, Aku tidak peduli. Kamu jangan terlalu memikirkannya."


Tok,Tok,Tok!


"Masuk." Caca memberikan izin.


"Maaf Dok, ada seseorang yang mencari Dokter. Tadi Pak Direktur menghubungi ponsel Dokter namun tidak diangkat." jelas seorang perawat.


Caca baru ingat ponselnya kehabisan baterai, dan telpon diruangannya sedanh dalam perbaikan.


"Baik, Saya akan segera kesana."


"Baik Dok. Maaf mengganggu waktunya. Permisi."


Setelah perawat pamit, Caca dan Martin masih dalam mode saling diam.


"Maaf, Sepertinya Aku harus pergi." Caca secara langsung meminta Martin undur diri.


"Bisakah malam ini Kita bertemu?" Martin menatap netra yang tampak tenang dihadapannya namun mampu membuat jantung Martin berdetak hebat.


"Maaf. Sepertinya malam ini, Aku tidak bisa." jawab Caca.


"Besok?" Martin tahu Caca menolak dengan alasan.


"Lusa?" Martin hanya ingin Caca tahu bahwa ia sungguh-sungguh ingin berbicara.


"Aku tidak bisa berjanji. Sebaiknya Kamu pulang. Aku tidak enak sudah ditunggu. Salam untuk Mommy Hania."


"Aku berharap Kamu bisa menyapanya langsung tidak hanya sekedar menitipkan salam untuknya."


"Ok. Aku pamit. Namun Aku tidak yakin, kalau ini menjadi pertemuan terakhir Kita."


"Hati-hati di jalan."


Martin tak menjawab memilih meninggalkan ruangan Caca dengan perasaan tidak karuan.


Setelah Martin pergi, Caca menyandarkan tubuhnya dikursi, menarik nafas sepenuh dada, rasanya sesak meski tak tahu apakah sebab ia merasakan itu.


"Kecewa?"


Caca tersenyum tipis memejamkan matanua sejenak sebelum ia beranjak menemui orang yang telah menunggunya.


Martin menjatuhkan dirinya dengan kasar di belakang stir mobil.


Sambil memejamkan mata, Martin membenci pada dirinya yang belum siap jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Bagai buah simalakama, begitulah posisi Martin saat ini.


Dering ponsel Martin berbunyi.


"Ia Dad? Baik Aku akan segera pulang."


Begitu menerima kabar dari sang Ayah Martin melajukan mobilnya menuju Mansion.


Sementara Caca dibuat terkejut dengan apa yang ia saksikan.


"Surprise!"


Caca tersenyum sambil menatap, memberi isyarat butuh penjelasan.


"Ya sudah silahkan Kalian ngobrol. Oh ya Dokter Chris, selamat bergabung. Senang bisa bekerja sama dengan Anda. Saya harap Rumah Sakit akan semakin maju dengan bergabungnya Anda disini." Direktur Rumah Sakit menyalami Chris yang nyatanya hadir di hadapan Caca.


Caca dan Chris kini duduk di Cafetaria Rumah Sakit.


"Oh jadi ini kejutan yang Kamu maksud? Terima kasih. Kejutanmu sukses!" Caca sambil menyeruput Vanilla Latte miliknya.


"Tapi apa Kamu senang? Aku senang sekali bisa kembali bekerja sama denganmu. Jangan lupa janjimu ya. Ajak Aku keliling-keliling dan kulineran disini." Chris tertawa, rasanya bahagia sekali bisa kembali memandang wajah wanita yang ia sukai setiap hari.


"Iya Aku tidak akan lupa. Tapi Kamu harus ceritakan sejelas-jelasnya bagaimana bisa Kamu diizinkan untuk pindah kesini. Kamu hutang penjelasan padaku Chris!" Caca memelototkan bola matanya.


"Ampun! Aku takut padamu! Kenapa Kamu semakin galak saja setelah balik kesini? Apa ada yang membuatmu kesal?"


"Ya, Aku kesal! Karena Kamu tidak cerita apa-apa soal kepindahanmu kesini."


"Namanya kejutan, ya tidak boleh diberitahukan. Bukan kejutan namanya kalau diberitahu." Chris mengelak.


"Ok,Ok!"


"Nah karena sekarang Kamu adalah Wakil Direktur, tugasmu adalah memberikan tour singkat mengenai Rumah Sakit ini padaku."


"Ah, Kamu menyusahkan saja Chris!" canda Caca.


Chris tertawa. Inilah hal yang paling ia rindukan saat-saat bersenda gurau dengan Caca.