
Seperti perjanjian mereka, kini tampak Daddy Nick, Daddy Alex dan Abi Salman sedang menikmati permainan di lapangan hijau bersama anak-anak laki-laki mereka yang turut menyertai.
Nadhif, Nabil, Martin, Ibrahim dan Adam juga turut hadir mendampingi Ayah-Ayah mereka.
Jika dilihat dari kejauhan, 2 generasi dengan ketampanan yang diwariskan para orang tua begitu ketara menyilaukan mata.
Wajah-wajah tampan rupawan, tentu dengan atribut mereka sebagai pengusaha sukses membuat siapapun yang melihatnya terutama kaum hawa akan terpesona.
Dalam kesempatan yang sama Martin mengamati bagaimana putra-putra dari sahabat Daddy Alex saling berinteraksi.
Mereka adik kakak, meski kembar namun sikapnya berbeda satu sama lain.
"Kalo Aku perhatikan Dam, Bang Nabil, Ibrahim dan Kak Martin ini tipe-tipe cowok-cowok tipe cewek yang mengidolakan drakor." Nadhif mulai membuka obrolan santai.
"Kok begitu Bang, emang gimana tipe cowok drakor?" Adam yanh serupa dengan Nadhif senang meladeni sepupunya yanh setipe dengannya.
"Misterius, Dingin dan Susah ditebak!" Nadhif menjabarkan.
"Kalo Kita berdua itu tipe yang apa Bang?" Adam sengaja memancing.
"Ah masa Aku menilai diriku sendiri. Sudahlah!" Nadhif menepis sambil pasang muka malu malu kucing.
Sedangkan di sisi para Ayah, tampak mereka sedang serius bermain namun diselingi obrolan khas bapak-bapak.
"Waktu berlalu sangat cepat rasanya. Dulu Kita masih sama-sama Bapak-Bapak muda. Kini sepertinya Kita sudah cocok gendong cucu." Daddy Alex setelah memukul bola gilirannya.
"Memang sudah ada calonnya Martin?" tanya Abi Salman.
"Anakku itu terlalu Kaku, kadang Aku sering pusing bila Mommynya Martin sudah ngomel Minta Martin segera menikah." jawab Daddy Alex jujur.
Daddy Nick hanya tersenyum saja mendengar jawaban Daddy Alex.
"Nick, bagaimana dengan putrimu, apakah sudah punya calon?" kini Daddy Alex to the point.
Ya setiap hari hanya itu saja yang dibahas Mommy Hania kepada Martin dan dirinya, lama-lama Daddy Alex perlu ikut campur tangan mengingat sang anak terlalu lambat pergerakannya bila urusan perempuan.
"Aku tidak pernah memaksakan Caca maupun Nabil dan Nadhif soal pendamping mereka, baik Aku dan Bundanya anak-anak memberikan kebebasan kepada mereka menentukan sendiri pasangan hidupnha kelak." dengan bijak jawaban yang diberikan Daddy Nick.
"Jika Aku meminta putrimu untuk menjadi menantuku, apakah boleh?" Daddy Alex langsung saja.
"Jika memang mereka berjodoh, Aku hanya bisa memberikan restu. Biarlah anak-anak menetukan pilihannya sendiri Lex. Kita sebagai orang tua hanya mengarahkannya saja kepada yang terbaik menurut Allah." lembali Daddy Nick menjawab.
Daddy Alex manggut-manggut saja mendengar jawaban Daddy Alex.
Daddy Alex harus meyakinkan Martin putranya agar lebih berani untuk bisa mengutarakan perasaannya bukan malah takut-takut seperti saat ini.
Sementara di lokasi seminar, Caca dan Chris telah selesai mengisi materi bagi para mahasiswa kedokteran.
"Kita makan siang dulu ya." ajak Chris pada Caca.
"Boleh. Kamu mau makan dimana?" tanya Caca.
"Dimana saja. Asal sama Kamu." Chris tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih.
"Ok."
Keduanya kini telah duduk berhadapan di sebuah rumah makan tradisional yang bernuansa asri.
Ada sawah, dan gemericik air yang membuat suasana siang itu yang terasa cukup terik menjadi lebih tenang dengan suara air mengalir dan dibuai hamparan padi yang masih hijau.
"Bagus sekali viewnya. Aku tak menyangka di kota masih ada pemandangan seperti ini." Chris mengedarkan pandangannya disekitar.
"Banyak malah." jawab Caca.
Tak lama pramusaji datang membawakan makanan pesanan mereka.
Caca dan Chris mengucapkan terima kasih.
"Ini namanya nasi liwet." jawab Caca pada Kastrol yang berisi nasi liwet.
Chris tampak heran. Ia tahu nasi tapi tampilan dan aroma yang seperti dihadapannya tentu tidak pernah ia rasakan.
Caca mencontohkan cara menyendokkan nasi liwet di hadapan Chris.
Chris pun mengikutinya.
"Ini?" Chris menunjuk pada suguhan yang diletakkan pada cobek.
"Ini sambal. Rasanya pedas. Yakin mau coba?" Caca tersenyum simpul.
"Boleh. Tapi sedikit saja." Meski ragu Chris tetap mengikutin Caca mengambil sambal dari cobek.
"Ini namanya Cah kangkung." Caca kali ini menjelaskan sebelum Chris bertanya.
Chris ber "Ow" kemudian ia mengambil juga dan menaruhnya dipiringnya.
"Nah kalau ini adalah Ikan Asin Jambal. Rasanya asin." Caca mengulangi agar lebih jelas.
"Aku mau mencobanya." jawab Chris.
Sslain makanan yanh tadi disebutkan Caca juga mesankan Ayam dan Ikan yang sudah dikenal oleh Chris.
"Bagaimana? Kamu bisa memakannya?" Caca menanyakan pendapat Chris.
"Aku sungguh terkejut. Makanan disini rasanya unik-unik. Tapi Aku tak menyangka sambal ini pedas sekali." berkali-kali Chris mengusap dahinya dengan tissue karena berkeringat.
"Justru, mayoritas orang disini suka dengan makanan pedas. Malah banyak orang yang tidak selera makan bila tidak pakai sambal." Caca menjelaskan lebih lanjut.
"Aneh tapi nyata." Chris tersenyum.
Setelah selesai makan, Caca memesankan minuman berupa es teler.
"Wah ini segar sekali. Buah-buahan bercampur dengan sirup dan susu. Rasanya manis, segar." komentar Chris yang lebih familiar dengan es teller meski baru pertama kali ia mencoba.
Di butik Mommy Hania,
Bunda Khalisa, Umi Dira dan Naura mereka sedang asik berbincang.
Naura yang sedang berkeliling butik melihat-lihat hasil koleksi terbaru butik Mommy Hania membiarkan para Ibu mengobrol.
"Ca, apa Caca sudah ada calon?" Mommy Hania bertanya langsung.
"Wah sepertinya Mbak Hania mau menjodohkan Martin ya dengan Caca?" Umi Dira malah yang menjawab.
"Aku senang sekali dengan Caca. Kamu kan tahu Dira, Aku tidak ounya anak perempuan. Satu-satunya anakku hanya Martin. Aku ingin sekali punya menantu yang bisa menerimaku apa adanya dan putraku itu." Mommy Hania menumpahkan suara hatinya.
"Tuh Mbak Ica, gimana? Diterima ga tawarannya?" Umi Dira kini menyenggol lengan Adik Iparnya.
"Aku pribadi dan Daddynya tidak pernah memaksa Caca, Nabil dan Nadhif dalam menentukan pasangan hidup mereka kelak. Sebagai orang tua Kami berdua memberikan hak sepenuhnya kepada mereka dalam memilih pasangan hidupnya kelak." jawab bijak Bunda Khalisa.
"Iya Akupun begitu Mbak. Baik Aku maupun Kak Salman hanya mengarahkan selebihnya biarkan anak-anak menentukan sendiri pilihannya masing-masing." Dira pun merasakan hal yang sama.
"Semoga ada jodoh ya Ca dengan putra putri kita." jawab Mommy Hania.
Mommy Hania hanya kesal kepada putranya Martin yang tak ada gerakan terutama soal perempuan.
Padahal sebagai Ibu Mommy Hania tahu, sejak dulu Martin menyukai Caca putri Khalisa dan Nick.
"Martin, memang harus di kasih pelajaran." batin Mommy Hania.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir,” (QS Ar-Rum: 21).