ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Rival



"Dad, Bun, Kakak berangkat duluan ya. Assalamualaikum." Caca pamit dan mencium tangan kedua orang tuanya hendak berangkat praktek.


"Kak, tungguin! Aku nebeng!" Nadhif pun menyelesaikan sarapannya dan sehera mencium tangan pamit kepada Daddy dan Bundanya.


Daddy Nick cuma bisa geleng kepala melihat tingkah si Bungsu sementara Khalisa sudah maklum dengan Nadhif yang sikap dan sifatnya berbanding terbalik dengan kembarannya Nabil.


"Dek, kenapa ga bareng sama Abang aja. Kan Kalian satu arah." Caca yang duduk di belakang stir sementara sang adik dengan nyaman duduk di sampingnya.


"Bareng Abang tuh kayak ga ada orangnya!" Nadhif sambil memutar lagu di mobil menikmati perjalanan yang pasti akan berjumpa kemacetan.


Caca mendengar kata-kata Adiknya hanya bisa tersenyum.


"Kak, gimana sama Martin?" Nadhif membuka percakapan.


"Gimana apanya?" Caca fokus melihat jalan sementara wajah kepo Nadhif sulit ditutupi.


"Kok Gimana sih? Ya maksudku Ada aroma-aroma Siti Nuraisyah ga?" Nadhif asik saja menikmati alunan musik di mobil sang Kakak tak menyadari kekeliruannya.


"Ehm,, Ngomong aja salah! Siti Nurbaya maksudmu?" Caca malah tertawa mendengar sang Adik.


"Ya itulah maksudKu, Ada ga nih aroma-aroma perjodohan gitu!" Kekepoan Nadhif semakin menjadi.


"Jangan ngarang! Ga ada yang kayak gitu!" Caca menoleh sesaat sedikit gemes dengan wajah meledek sang Adik.


"Ya siapa tahu gitu! Tapi Kak, Kakak ga ada curiga atau gimana gitu sama Martin dan Om Alex?" Nadhif memutar tubuhnya kini menghadap sang Kakak.


"Maksudmu apa sih? Ga usah pake teka teki begitu kalo ngomong." Caca melihat wajah serius kini terlihat di wajah Nadhif.


"Ya, cuma heran aja. Mereka sudah lama tinggal di luar negeri, terus balik lagi kesini. Kerjasama lagi sama perusahaan Daddy, Semalam juga terlihat sekali Kak, Om Alex seperti membersamai Daddy selalu, Nah Martin itu juga merhatiin Kakak terus kan. Apalagi Pas Kakak sedang sama teman Kakak itu, siapa namanya?" panjang lebar Nadhif menceritakan apa yang ia amati semalam.


"Arsen. Masa sih? Kamu aja kali yang overthingking Dek!"


"Kakak tuh ga pernah serius kalo nanggapi omonganKu."


"Ya Kamu juga, tiba-tiba kayak detektif gadungan! Btw, temen Kakak yang semalem itu relasi Abang juga tahu Kak!"


"Namanya juga masih di dunia yang sama wajar mereka saling kenal." jawab Caca.


"Oh ya Kak, Memang Martin itu karakternya gimana sih? Kok Kayaknya orangnya misterius banget ya. Ya sebelas dua belas sama Abang sih! Tapi Martin lebih bikin penasaran!"


"Kamu tuh sepertinya cocok deh jadi pengamat! Semua aja Kamu amati Dek!"


"Tapi Kak, kadang feeling Aku tuh ga meleset! Coba aja buktiin!"


Sepanjang perjalanan plus macet seakan tidak terasa manakala keduanya asik dalam obrolan hingga Caca sudah berada di depan hotel NBC.


"Nah sekarang, lebih baik Adikku yang ganteng tapi sok tahu ini bekerja dengan giat! Jangan banyak godain cewek. Fokus kerja!"


"Aku tuh selalu semangat dan giat bekerja Kakakku Sayang yang cantik dan banyak gebetan!"


"Enak aja!"


"Ya sudah Kak, Adikmu yang paling tampan sedunia fana ini kerja dulu ya. Makasi loh udah dianter. Besok-besok nebeng lagi ya! Ternyata enak juga! Bye Kak!" Nadhif saat hendak keluar mobil.


"Assalamualaikum." Caca membetulkan.


"Eh Iya. Waalaikumsalam."


Caca bergegas meninggalkan pelataran NBC Hotel dan segera menuju Rumah Sakit.


Di Xander Corporation, tampak Martin memulai tugas perdananya sebagai CEO baru dan mulai melakukan kordinasi dengan pihak-pihak terkait mengingat ada beberapa perubahan di sisi manajemen.


Sudah berdiskusi dengan sang Ayah, Martin hari ini sekaligus melakukan beberapa restrukturisasi di beberapa departemen yang sekiranya dianggap bisa lebih berpotensi dengan harapan struktur baru mampu berkerja lebih optimal.


Sebuah ketukan terdengar, rupanya sang asisten yang meminta izin untuk masuk.


"Maaf Pak, ini ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani."


"Letakkan saja disana. Ada lagi?"


"Sekedar mengingatkan Bapak ada meeting dengan perusahaan Pak Arsenio. Beliau rencananya akan hadir pukul 11.00."


"Siapkan segala keperluannya."


"Baik Pak kalau begitu. Saya pamit undur diri."


Anggukan Martin seiring langkah Assisten keluar ruangannya.


"Rival!".Martin mendengus sebal mengingat bagaimana gencarnya sikap Arsen semalam saat mendekati Caca.


Sesaat akan diangkat malah mati dan ada sebuah pesan masuk.


Martin membolakan matanya.


"Kurang ajar! Beraninya mereka menguntit Caca!"


Martin dikirimi gambar oleh nomor tak dikenal gambar Caca sedang berjalan di koridor Rumah Sakit dan dalam pesan itu tertulis.


"Sepertinya akan sangat menarik, bila kali ini wanita dalam gambar menjadi sasaranku selanjutnya!"


Martin segera menghubungi tangan Kanannya.


"Awasi Caca jangan sampai terjadi apa-apa denganya! Jangan lengah sedikitpun!"


Martin memutuskan panggilan telponnya.


Martin memijat kepalanya tak tenang.


"Apa Aku harus menghubunginya ya?"


"Tapi dengan alasan apa?"


"Ah, bikin bingung saja!"


Martin mengetuk-ngetuk jemarinya di meja hingga ia akhirnya memutuskan suatu hal.


Martin meraih telpon di meja kerjanya menghubungi Assistennya.


"Undur pertemuanku dengan pihak perusahaan Arsenio."


Segera setelah memberikan perintah Martin mengambil kunci mobilnya dan ia tahu harus berbut apa.


Di Rumah Sakit, Caca yang disibukkan dengan segudang aktivitasnya mulai dengan rapat manajemen hingga ada tindakan operasi dan tak lupa konsul pasien dilakukan setiap hari dan sudah menjadi makanan sehari-hari yang harus dijalani.


"Ada apa Sus?"


"Maaf Dok, setelah ini Dokter masih ada jadwal praktek."


"Loh bukannya jadwal Saya hanya sampai jam 12.00 untuk konsul rawat jalan hari ini?"


"Tapi ada pasien VVIP yang hari ini dadakan mengadakan janji konsul."


"Ok. Nanti Saya akan keruangan. Terima kasih."


"Sama-sama Dok!"


Caca kembali melanjutkan pekerjaannya membaca laporan yang harus ia koreksi hingga ada telpon dari sang sahabat Chaterine.


"Halo Bu Dokter sibukkah?"


"Hai Chate, ga sih cuma lagi koreksi beberapa dokumen saja. Ada apa nih?"


"Aku lagi ada dekat Rumah Sakit Kamu, mau ngajak makan siang, bisa ga? Kebetulan Aku lagi free nih."


"Sebenarnya setelah makan siang Aku ada jadwal praktek, rapi sepertinya tidak lama. Kalau Kamu mau kesini saja."


"Bener ga ganggu?"


"Tidak. Nanti terserah Kamu mau makan apa dan dimana."


"Ah senangnya. Aku kesana sekarang ya!"


"Iya Aku tunggu."


"Bye Ca, See You Soon!"


Chate menutup telponnya dan Caca kembali melanjutkan apa yang sebelumnya ia kerjakan.


Dimobil Arsenio yang mendapat kabar bahwa meetingnya diundur tak menyoalkan malah ia terpikir satu rencana dan itu membuatnya senang.


"Pucuk dicinta ulampun tiba!" sambil tersenyum Arsen membayangkan sesuatu yang membuatnya senang.


"Ada apa Boss?" tanya driver Arsen.


"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja ke tempat yang Aku katakan."


"Baik Boss!"