ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Hasil Quick Count



Tepuk dan sorak sorai di Basecamp pemenangan Daddy Nick dan pasangan manakala hasil polling melalui Quick Count menyatakan keduanya unggul di urutan pertama.


Tentu saja, kerja keras semua pihak terbayar meski hasil pastinya masih menunggu perhitungan dari KPU.


Ucapan selamat baik yang diterima langsung maupun dalam bentuk ucapan dan pesan mengalir kelada keduanya.


"Nick, selamat ya. Kamu memang layak menang!" Daddy Alex langsung memeluk Daddy Nick saat hasil polling di layar menunjukkan keduanya unggul.


"Alhamdulillah, semoga hasil KPU juga akan menyempurnakan kemenanganmu. Selamat Nick!" Abi Salman memeluk Adik Iparnya dengan bangga.


"Terima kasih semua atas doa dan dukungan semua pihak. Keluargaku, Tim Sukses Kami, dan semua masyarakat yang telah percaya kepada Kami." Daddy Nick dengan penuh rasa syukur tak terasa sudut matanya menganak sungai.


"Mas, semoga semua berjalan dengan lancar. Selamat. Masyarakat telah mempercayakanmu dan wakilmu dalam mengemban amanah besar ini. Semiga Allah selalu menyertai langkahmu." Bunda Khalisa memeluk suaminya seraya berdoa.


"Terima kasih Sayang. Jangan lelah terus mengingatkan Aku bila suatu saat Aku salah melangkah. Mas selalu menunggu saran dan masukan darimu Sayang." Daddy Nick mengusap lembut kepala sang istri sambil mengecup pucuk kepala Bunda Khalisa dengan penuh kasih sayang.


"Dad, Selamat ya. Kakak doakan semoga semua berjalan dengan lancar. Tetap jaga kesehatan ya Pak Gubernur!" Caca memberikan pelukan hangat pada Daddy Nick.


"Dad, Congrats. Semoga Dad bisa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya." Nabil memeluk dengan bangga Sang Daddy.


"Daddyku terbaik! Congrats Pak Gubernur!" Nadhif memeluk erat begitu bangga ia terhadap pencapaian sang Ayah.


"Terima kasih Kakak, Abang dan Adek. Tanpa dukungan Kalian semua ini tidak akan terjadi. Jangan bosan ingatkan Daddy ya. Doakan Daddy agar bisa mengemban amanah ini." Daddy Nick menatap satu per satu putra putrinya.


Martin menghampiri Daddy Nick mengucapkan selamat atas keberhasilan pria yang ia harapkan kelak sebagai Ayah Mertuanya.


"Om selamat atas kemenangan Om." Marrin menjabat tangan Daddy Nick.


"Terima kasih Martin."


Daddy Nick menatap pria yang beberapa waktu lalu sempat menemuinya dan mereka berbicara 4 mata mengenai kelanjutan ungkapan perasaan Martin kepada Caca kala itu.


Tentu saja, malam yang indah ini Daddy Nick tutup dengan makan malam bersama keluarga dan tim suksesnya sebagai rasa syukur atas apa yang mereka capai hingga hari ini.


"Pak, Kita masih akan menunggu hasil perhitungan KPU. Kami akan mengawal agar tidak ada kecuranvan dalam prosesnya." Ketua Tim pemenangan saat berbincang dengan Daddy Nick dan pasangan calon.


"Ya. Kita akan terus kawal hingga akhir pengumuman resmi di terbitkan. Apapun hasilnya Kita tetap harus bisa menerima walau begitu, Kita akan awasi agar tidak ada kecurangan." Daddy Nick memberikan arahan.


"Siap Pak." jawab serentak Tim Pemenangan.


Semua yang ikut merayakan hasil polling Quick Count ikut merasakan euforia kemenangan yang berhasil diraih Tim Daddy Nick.


Meskipun mereka tetap harus menunggu hasil perhitungan manual KPU namun mereka tetap bersyukur, sejauh ini telah sampai dititik ini.


Sejak pagi tenaga, pikiran, mental terkuras habis dengan ketegangan dan penuh tekanan menyertai perjalanan selama ini.


Kini saatnya Daddy Nick dan keluarga kembali ke rumah untuk beristirahat.


Setelah berpamitan dan masing-masing memutuskan kembali.


"Ca!" Martin menghentikan langkah Caca yang sedang berjalan dengan kedua adiknya.


"Kak, Aku sama Abang balik duluan ya. Bang Martin titip Kak Caca ya! Ayo Bang Kita duluan. Aku capek mau mandi nih udah gerah!" Nadhif menggiring Nabil membiarkan keduanya memiliki waktu bersama.


Nabil mengikuti saja sang Adik, menuju mobil dan langsung pulang.


"Ayo." Martin mengajak Caca untuk pulang bersamanya.


Caca yang juga merasakan lelah setelah seharian membersamai kedua orang tuanya, menuruti ajakan Martin.


Martin membukakan pintu mobil saat Caca akan masuk ke dalam mobil miliknya.


"Makasi." Caca tersenyum sebelum ia masuk ke dalam mobil Martin.


Martin membalas dengan senyuman setelahnya langsung masuk dan siap dibalik kemudi.


"Kamu tidur saja, pasti lelah seharian. Nanti kalau sudah sampai rumah, Aku akan bangunkan." Martin menoleh sesaat melihat wajah kelelahan wanita yang ia cintai.


Caca yang memang merasakan tubuhnya letih tak butuh waktu lama ia berhasil terpejam sepanjang perjalanan di dalam mobil Martin.


Sesekali Martin menatap wajah tenang Caca yang tertidur.


Senyuman merekah dari bibir Martin, bisa memandang wajah cantik meski dalam keadaan tertidur tak mengurangi sedikitpun pesona Caca dimata Martin.


Martin kembali fokus dengan kemudinya, menyetir dengan tenang agar tidak mengganggu mimpi bidadari cantiknya.


Hingga tak sadar, Caca yang tertidur tidak berasa dan tanpa sadar menjatuhkan kepalanya dibahu sebelah kiri Martin.


Martin terkesiap, ia memberanikan diri membenarkan posisi kepala Caca agar lebih nyaman bersandar di bahunya.


Senyuman Martin merekah disertai debaran jantungnya kian meningkat.


Martin tak mengangka dengan seperti ini saja ia begitu bahagia.


Martin sang Mafia ternyata bisa tersipu malu juga hanya dengan hal sesederhana ini.


Dilihat dari jarak yang sangat dekat, wajah Caca begitu menyihir Martin.


Seolah tak ada cela dalam pahatan maha sempurna karya Tuhan yang Maha Kuasa.


"Bagaimana Aku bisa melupakanmu jika wajahmu begitu membiusku hingga rasanya sulit berpaling." batin Martin seolah bicara mengagumi wajah tenang wanita pujaannya yang sedang terlelap.


Martin berusaha menenangkan dirinya yang sejak tadi terus berdebar-debar rak karuan.


Rasanya jikalau mampu, ia ingin bisa menghentikan waktu agar kebersamaannya dengan Caca tak lekang oleh waktu.


Bersama dengann gadis yang sejak dulu mengisi relung hatinya adalah anugrah terindah yang tak bisa diungkapkan kata-kata.


Sayangnya waktu terasa cepat berlalu, perjalanan mereka sudah sampai di Mansion Daddy Nick.


Martin menatap wajah Caca yang masih dalam buaian mimpi.


Rasanya enggan membangunkan namun tak mungkin menahannya lebih lama.


Martin memilih menunggu hingga Caca bangun dengan sendirinya.


Perlahan Caca membuka matanya.


"Sudah sampai?"


"Bagaimana bisa, bangun tidur saja ia begitu cantik." batin Martin.


Bukannya menjawab pertanyaan Caca Martin malah asik menikmati wajah bangun tidur Caca tanpa berkedip.


"Hello! Kita sudah sampai." Caca menggoyangkan tangannya di depan wajah Martin.


"Ah ya. Kita sudah sampai." Martin gelagapan nyatanya ia terpesona dan tak sadar.


Keduanya keluar mobil dan berjalan masuk ke dalam Mansion.


Caca menoleh kepada Martin yang mengikutinya.


Martin mengerti arti tatapan Caca.


"Aku mau sekalian pamit dan menyapa Om dan Tante." jelas Martin.


Caca membiarkannya dan masuk seraya diikuti oleh Martin.


Kedatangan keduanya disambut oleh Maid yang membuka pintu dan mempersilahkan masuk.