ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Healing



Caca merasakan tubuh terasa lelah dan letih.


Jika hanya lelah fisik, mungkin beristirahat, tidur dan sekedar hang out bisa menjadi obat dan selingan.


Namun, pikirannya terkuras habis mengenai beberapa hal salah satunya adalah mengenai ketiga pria yang sedang gencar mendekatinya.


Pertama, Chris. Memang Caca akui ia dekat dan nyaman karena bagaimanapun selama kuliah dan praktek di luar negeri Chris lah yang banyak membantu Caca terutama saat diawal-awal Caca tinggal disana.


Kedua, Martin. Meski mereka pernah satu sekolah, namun Caca merasa banyak misteri dan rahasia yang disimpan pria itu dan banyak hal yang Caca anggap bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Martin.


"Ketiga, Arsenio. Ya Caca tak menganggap Arsen lebih dari sekedar temannya saja. Namun gencarnya Arsen mendekati Caca terkadang membuat Caca pusing sendiri.


Caca dilema di antara ketiganya.


Sementara ia sendiri sejauh ini belum memikirkan untuk menikah.


Bagi Caca, menikah bukan hanya sekedar cinta dan satang, namun banyak hal yang harus diselaraskan dan seiring sejalan.


Caca tidak mau, jika ia salah dalam menentukan pilihan.


Caca tidak siap akan rasa kecewa dan mengecewakan.


Semua terus menjadi beban pikiran bagi Caca.


Kedua orang tua Caca, Bunda Khalisa dan Daddy Nick juga bukan orang tua yang memaksakan kehendak mereka.


Keduanya memberikan kebebasan dan ruang bagi Caca untuk berpikir secara matang, menimbangnya masak-masak agar tak gegabah dalam mengambil kepitusan yang sangat penting dalam hidup.


Caca pun banyak belajar dari pernikahan Daddy dan Bundanya, bahwa memiliki pasangan yang saling melengkapi adalah anugrah sedangkan jika salah pilih bisa membawa petaka.


Caca menghela nafas berat, rasanya beberapa waktu ini Caca sering sulit tidur nyenyak.


Namun Caca tak pernah membaaa urusan pribadinya dalam pekerjaan.


Bagaimanapun sebagai seorang Dokter ia harus seprofesional mungkin karena menyangkut nyawa seseorang.


Hanya saja selera makannya belakangan menjadi menurun dan berat nadannya ikut turun hingga beberapa kali sang Bunda mengingatkannya agar tetap menjaga kesehatan.


Caca juga tak ingin menambah beban pikiran kedua orang tuanya.


Waktu kampanye Daddy Nick akan semakin dekat dengan pemilihan.


Daddy Nick didampingi Bunda Khalisa semakin banyak menghabiskan waktu di lapangan mengunjungi daerah pemilihannya bersama pasangan calon kampanyenya.


Hari ini, Caca memiliki waktu luang dan ia ingin datang kesebuah pameran lukisan.


Hobi lama yang jarang sekali ia lakukan, mengingat kesibukkannya di Rumah Sakit.


Mendatangi pameran lukisan, paling tidak membuat Caca healing sejenak.


Meskipun ia tidak melukis, namun memandang lukisan bagus dan indah memiliki rasa tentram dan damai di hati.


Seakan dengan memandang lukisan-lukisan karya sang pelukis, Caca bisa merasakan soul yang disampaikan sang pelukis melalui karyanya yang terpampang nyata dalam sebuah galeri.


Damai rasanya. Caca memperhatikan satu per satu lukisan yang dipamerkan dalam galeri tersebut.


Caca merasakan setiap guratan kuas sang pelukis memberikan kekuatan dan cerita sendiri dari setiap karya yang lahir.


Caca terpukau pada sebuah lukisan yang menurutnya menarik namun memiliki karakter kuat.


Sekilas wanita dalam lukisan tersebut seakan menatap jauh dengan sorot tatapan menerawang namun jika dilihat dalam perspektif yang berbeda seakan wanita dalam lukisan tersebut seperti sedang menunggu seseorang dengan tatapan menyimpan kerinduan.


"Sepertinya Nona sangat menikmati lukisan ini."


Caca menoleh kesamping dimana seseorang mengajaknya bicara mengenai lukisan yang sedang ia pandang.


"Saya mengagumi ekspresi wanita dalam lukisan tersebut. Bagaimana pelukis menginterpretasikan rasa cinta yang mendalam, lewat kerinduan yang terpendam namun begitu tegar." lanjut sang pria yang berada disebelah Caca.


Caca memperhatikan kata demi kata pria disebelahnya.


Caca tak menyangka ada orang yang bisa begitu menafsirkan lukisan dengan mendalam.


"Sepertinya Tuan sangat cermat dalam menilai lukisan." Caca buka suara.


"Aku hanya senang, dan merasakan damai manakala lukisan-lukisan yang dibuat setulus hati oleh sang pelukisnya." jawab pria tersebut sambil menoleh menatap Caca.


"Ya, memang lukisan bisa menggambarkan bagaimana perasaan yang ingin disampaikan atau dapat dirasakan." timpal Caca.


"Sepertinya akan sangat menarik jika Kita berkeliling galeri ini sambil menikmati lukisan-lukisan yang dipamerkan dan saling memberikan pendapat satu sama lain. Bagaimana?" sang pria dengan senyum hangat.


"Tidak ada yang melarang, semua bisa dengan bebas menikmati lukisan di galeri ini bukan?" jawab Caca.


Memiliki kesamaan hobi membuat Caca dan pria yang ditemuinya di galeri, asik berkelilinh di galeri melihat-lihat lukisan yang sedang dipamerkan.


Saling berargumen dan memberikan pandangan akan perspektif dalam menilai lukisan dari sudut pandang yang berbeda membuat keduanya terlibat obrolan yang asik.


"Seru juga bisa ngobrol banyak denganmu mengenai lukisan dan Aku senang memiliki teman bertukar pikiran mengenai lukisan." puji Caca.


"Btw, sejak tadi Kita asik membajas lukisan, perkenalkan, Aku Maxim." pria yang sejak tadi asik ngobrol bersama Caca akhirnya mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan mengajak berjabatan.


"Aku Clarisa. Panggil saja Caca." Caca menyambut jabat tangan Maxim.


"Wow. Aku senang bisa datang ke galeri ini. Dan bertemu teman yang sefrekuensi denganku." sanjung Maxim.


"Apakah Kamu juga suka melukis?" tanya Caca pada Maxim.


"Ya. Tapi sudah lama sekali Aku tidak melukis. Terkadang menjadi dewasa Kita harus melakukan apa yang menjadi tuntutan hidup tidak lagi apa yang Kita suka." Maxim seakan menerawang.


"Ya Kamu benar Max, Akupun merasakan begitu. Dulu, Aku ingin sekali menjadi pelukis. Namun seiring bertambah besar Kita memiliki pemikiran Kita dan tuntutan kehidupan. Tidak hanya soal hobi." Caca juga terlintas bagaimana waktu kecil ia senang sekali dengan melukis.


"Kapan-kapan Kita bisa melukis bersama. Aku tahu sebuah event kalau tidak salah, salah satu pelukis dari Prancis akan datang kesini. Dan Kita bisa melukis bersama disana karena ia membuka sesi melukis. Bagaimana Kamu tertarik?" tawar Maxim.


"Boleh juga. Aku tertarik." jawab Caca.


"Oh ya, Aku akan mengirimkan link bookingnya. Btw, boleh Aku minta Wa atau emailmu. Aku mau kirim link pendaftarannya. Kamu bisa daftar disana." jelas Maxim.


Caca memberikan nomor Wa nya dan Maxim mengirimkan link yang ia maksudkan.


"Nah itu linknya Kamu bisa daftar. Aku sudah daftar. Kita bisa bertemu lagi disana."


Caca segera membuka link yang diberikan Maxim dan Caca mendaftar dibantu Maxim.


"Akhirnya Aku punya teman untuk menikmati hobiku." senyum Maxim pada Caca.


"Ah, Aku terlalu percaya diri. Apakah boleh kalau Kita berteman?" Maxim menatap wajah Caca.


"Ya, kenapa tidak. Aku juga senang bisa memiliki teman yang memiliki hobi yang sama." jawab Caca tersenyum.