ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Makan Malam



Suasana di Mansion Daddy Nick malam ini terbilang komplit.


Selain Daddy Nick dan Bunda Khalisa, ketiga putra dan putri mereka sudah berkumpul di meja makan.


Daddy Nick memang hari ini sengaja mengumpulkan anak-anaknya saat makan malam.


Di saat anak-anak beranjak dewasa, kesibukkan masing-masing terkadang membuat waktu kebersamaan mereka sedikit berkurang meski sekedar makan malam bersama.


Setelah menyelesaikan makan malam, Daddy Nick mengajak semua keluarganya berkumpul di ruang keluarga.


"Minggu depan, waktu pemilihan Daddy akan berlangsung, Daddy minta doa dari Kalian semua, semoga langkah Daddy di berika kelancaran dan mendapat ridho dari Allah SWT." Daddy Nick yang duduk berdampingan dengan Bunda Khalisa membuka obrolan sekaligus meminta doa dari anak dan istrinya.


"Daddy juga meminta kepada Kalian untuk terus mengongatkan Daddy, apabila Daddy yerpilih nanti, jangan sungkan dan segan jika kalian melihat ada langkah maupun kebijakkan Daddy yang sekiranya merugikan masyarakat. Kalian keluarga Daddy, karena itu Daddy akan sangat berharap Kalian tak bosan terus mengingatkan Daddy dalam hal apapun. Kalian adalah support sistem Daddy." lanjut Daddy Nick dalam kesempatan ini.


Bunda Khalisa meraih jemari tangan Daddy Nick, memandangnya penuh kasih sayang, menyalurkan dukungan moril.


Daddy Nick membalas perlakuan Bunda Khalisa dengan senyuman hangatnya.


"Dad, Kakak mendoakan agar langkah Daddy sebagai calon gubernur senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat banyak. Kakak selalu mendoakan kesehatan dan keselamatan Daddy agar kelak Daddy bisa mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya." sebagai anak pertama Caca memberikan dukungan dan semangat kepada sang Ayah.


"Abang yakin, niat tulus Daddy dalam membangun lingkungan dan masyarakat akan berhasil dengan baik." Nabil pun memberikan dukungannya pada Daddy Nick.


"Daddyku tersayang, Aku yakin Daddy akan melakukan yang terbaik. Semangat Dad!" Nadhif dengan mengepalkan tangan menyemangati.


"Daddy, Bunda insha Allah selalu berdoa, agar apa yang Daddy cita-citakan dan Daddy upayakan akan membawa kepada keberhasilan. Apapun hasilnya, Bunda harap Daddy bisa menerimanya dengan lapang dada. Jikalau Allah menakdirkan Daddy memberikan amanah sebagai Gubernur, Bunda yakin Allah SWT telah menyiapkan mental dan kemampuan yang akan membimbing Daddy dalam mengemban amanah itu. Daddy harus selalu pasang telinga, peka terhadap aspirasi yang disampaikan masyarakat kepada Daddy. Karena tujuan Daddy untuk memajukan masyarakat dan mengembangkan lingkungan. Bunda yakin, selama niat Kita lurus dan berada dalam jalur ya benar, Insha Allah, Allah akan menuntun Kita dan menunjukkan langkah yang terbaik." Bunda Khalisa memberikan pandangannya serta pandangannya kepada sang suami.


"Terima kasih atas dukungan, saran dan masukkan kalian semua. Kalian adalah orang-orang terdekat Daddy. Kalian keluarga Daddy, Kalian pulalah yang akan selalu jujur dalam memberikan saran dan kritik untuk Daddy. Semoga Allah selalu menuntun dalam setiap langkah Daddy." Daddy Nick lega dan bahagia setelah mendengar pendapat, doa dan saran dari istri dan anak-anaknya.


Sementara di Mansion Daddy Alex, Martin, Daddy Alex dan Bunda Hania sedang santap malam bersama.


"Sayang, pekan depan Tuan Nick akan pemilihan, apakah Kamu akan mendampinginya? Kita support ya!" Bunda Hania dengan semangat menyampaikan apa yang ada dipikirannya.


"Tentu Sayang, sebagai relasi dan sahabat Kita akan memberikan dukungan kepada Nick dalam pemilihan minggu depan." jawab Daddy Alex.


Selepas makan bersama, Daddy Alex memanggil Martin untuk berbicara empat mata dengan putranya di ruang kerja.


Bunda Hania yang telah istirahat lebih dulu di Kamar.


"Dad, bagaimana pengamanan Om Nick. Aku khawatir Bryan akan bergerak disaat itu."


Daddy Alex melihat kekhawatiran sang putra.


"Kita akan kirim pengawalan untuk kampanye Nick dan keluarganya. Kamu cukup pastikan Caca dalamp pengawasan yang aman. Oh ya, bagaimana dengan Caca Nak? Apakah dia masih menghindarimu?" tanya Daddy Alex.


"Ya begitulah Dad." jawaban mengambang Martin menerbitkan senyum Daddy Alex.


"Martin, Martin, Kamu begitu disegani dlam Dunia Kita, namun mengambil hati seorang perempuan saja Kamu kelimpungan begini. Tampaknya putraku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya." Daddy Alex malah menggoda putranya.


"Bukan begitu Dad, tapi-"


"Perempuan itu seperti bayangan, semakin Kamu kejar akan semakin menjauh. Mereka lebih menggunakan perasaannya dibandingkan logikanya. Jangan samakan perempuan seperti Kamu memperlakukan para musuh-musuhmu, sentuh hatinya, berikan mereka rasa rindu dan buat dirimu seakan jauh namun tetap mengawasi." Daddy Alex menepuk bahu putranya.


"Daddy tahu Kamu sangat mencintai Caca, bahkan dari sejak dulu. Semoga Kalian berjodoh Nak!"


Setelah berbincang dengan Daddy Alex Martin kembali ke kamarnya.


Sejenak Martin meresapi kata-kata sang Ayah.


Tapi bagaimana bisa menjauh jika Martin kepalang rindu bila tidak bertemu.


Ah, Martin dibuat pusing sendiri.


Di Sebuah Ruang rahasia, lagi dan lagi Bryan memandangi sang Ayah yang terbaring dalam koma dengan alat-alat medis yang melekat guna menyambung hidupnya.


"Dad, sebentar lagi Aku akan membalas mereka-mereka yang telah membuat Daddy seperti ini. Aku berjanji akan membayar lunas perlakuan mereka hingga membuat Daddy seperti ini." Bryan memegang jemari sang Ayah yang selalu tertidur tak sadarkan diri dan dibantu alat-alat media guna bertahan hidup.


Caca merebahkan tubuhnya di ranjang kamar.


Setelah mandi dan menerapkan skincare harapannya adalah segera tidur, namun mata masih enggan terpejam terbayang wajah seseorang yang sudah beberapa waktu nomornya saja ia blokir.


Caca bangkit dari ranjang, bergerak mendekat lemarinya.


Caca meraih sebuah kotak yang telah lama ia simpan rapat.


Caca membukanya dan ia melihat kotak kecil yang telah lama ia simoan hingga kini belakangan baru ia ingat lagi.


Caca membuka kotak kecil tersebut.


Saat melihat isi dalam kotak tersebut memori Caca membawa pada puluhan tahun silam disaat sang pemberi benda tersebut memberikannya dihari perpisahan sekolah mereka.


Sempat tak terdengar kabar dan menghilang.


Kini, sang pemberi kembali, menjadi pribadi dewasa yang membuat semua terkejut akan pengakuannya.


Caca meraih ponselnya.


Caca ingat ia memblokir nomor pria tersebut.


Entah apa yang terlintas, Caca membuka blokir nomor tersebut.


Caca kembali meletakkan ponselnya.


Kembali menatap pada isi pemberian dari teman kecilnya.


Sebuah liontin berinisial C kini ada di genggaman tangan Caca.


"Apa maksudnya memberikan ini padaku?" Caca memandang liontin yang cantik dan simple itu dengan menerawang.


Caca mencoba memakainya.


Dipegang ujung inisial huruf yang mewakili namanya.


"Apa yang ia katakan itu benar? Tapi Aku merasa banyak rahasia yang ia sembunyikan."


Caca kembali teringat pertemuannya dikala menyelamatkan nyawa Martin yang terlukan parah.


"Sebenarnya apa yang ia lakukan? Pekerjaan apa yang membuat ia terlibat dengan bahaya?"


Pertanyaan demi pertanyaan mengganggu pikiran Caca dan ia tak menemukan jawabannya.


Caca terus di buru rasa penasaran sambil jemarinya memegang liontin pemberian Martin sambil menatap diri di cermin.