
Caca mengikuti langkah Martin menuju mobil pria itu.
Padahal Caca mengatakan akan membawa mobil sendiri namun Martin mengatakan biar anak buahnya yang akan mengurus mobil Caca.
Dengan membawa nama sang Mommy, Martin lagi-lagi sukses membuat Caca menuruti keinginannya.
Sejujurnya, Caca yak begitu nyaman, meski ia dan Martin adalah teman kecil namun pembawaan Martin yang masih Kaku layaknya Kulkas 2 Pintu membuat Caca canggung selama diperjalanan bersama Martin.
Seperti sekarang, jalanan yang macet tentu saja membuat kebersamaan keduanya di dalam mobil akan semakin lama.
"Boleh Aku dengarkan musik?" Caca menoleh pada Martin yang sejak tadi fokus dengan jalan.
"Silahkan." singkat, jelas, padat.
Caca jadi teringat kata-kata Nadhif mengenai menumpang mobil Nabil layaknya tak ada orang.
"Sepi kayak kuburan." Caca tersenyum teringat curhatan sang Adik beberapa waktu lalu.
Tentu saja gumaman Caca masih terdengar di telinga Martin sukses membuat pria tampan di samping Caca menoleh.
Martin disuguhkan senyuman manis yang membuat hatinya tentram.
Senyuman itu tak pernah berubah dari dulu hingga kini.
Hanya saja kini semakin memikat hati seiring gadis cilik disebelahnya sudah menjelma menkadi wanita dewasa dengan sejuta pesona.
"Ada apa?" Martin menyadarkan lamunannya, merespon gumaman Caca.
Caca sendiri tersadar ia mengatakan sesuatu namun jadi tak enak hati sendiri.
"Tidak apa-apa. Apa Kamu punya air? Aku haus!" Caca mengalihkan.
"Ah, tidak ada." Martin menelisik sekitar mobilnya dan tak menemukan air kemasan yang biasa disiapkan Assistennya.
"Tak apa. Nanti berhenti ke minimarket saja dulu. Aku mau beli disana." Caca menjawab singkat.
Bagai Suami pemurut dan sayang istri Martin mengangguk menuruti.
Martin menepikan mobil untuk ke minimarket.
Sementara Caca sudah siap-siap keluar dan melihat Martin hendak turun bersamanya.
"Kamu mau ikut ke dalam?" Caca bertanya.
"Ya. Aku juga haus."
Martin keluar lebih dulu diikuti Caca.
Keduanya kini berada di dalam minimarket.
Rupanya Caca tak hanya sekedar membeli minuman namun ada beberapa cemilan.
Martin sudah seperti Suami siaga yang membawa keranjang sedangkan Caca mengitari rak-rak dan memasukkan beberapa cemilan yang ia inginkan.
"Katanya tadi haus? Kamu ga pilih?" Caca melihat keranjang berisi makanan dan minuman pilihannya sedangkan Martin belum memasukkan minuman ataupun makanan yang ia inginkan.
"Ku pikir Kamu sudah mengambilkan untukku." sambil menunjuk dengan dagunya pada isi keranjang yang ia bawa.
"Aku mana tahu apa kesukaanmu." Caca melanjutkan langkahnya.
Martin mengambil minuman kaleng dan mumasukkannya dalam keranjang.
"Kurangi minuman bersoda, Kamu harus banyak minum air putih atau jus." Caca menghentikan langkahnya memberikan masukan kepada Martin.
Nyes!
Ada rasa hangat dan sejuk di hati manakala diperhatikan oleh pujaan hati.
Mesti sang Mommy sering kali mengingatkan ini dan itu namun saat Caca yang mengatakan seolah Marrin bagai dicucuk hidungnya.
Martin meletakkan minuman soda pilihannya berganti dengan jus buah dan air mineral.
Kedua kini sudah berada dikasir.
Martin segera membayarnya meski Caca bersikeras akan membayar namun Martin lebih dulu dan ia tak akan membiarkan Caca membayarnya.
"Mommymy suka apa? Aku ingin mampir ke toko Cake." Caca bertanya saat keduanya sudah kembali dalam mobil.
"Tidak usah. Kita langsung saja. Mom sudah menunggu." jawab Martin sambil mengemudikan mobil.
"Masa begitu. Di depan sana ada toko Cake langganan keluargaku. Berhenti disana ya. Aku mau membawa buah tangan untuk Tante Hania. Pokoknya berhenti dulu." Caca memaksa dan tentu saja melihat wajah serius Caca Martin lagi-lagi menuruti.
"Kamu bisa tunggu di mobil saja." Caca yang melihat Martin turun.
"Ok." Caca melangkah masuk ke dalam Toko Cake yang ia katakan.
Sudah menkadi langganan sejak lama, dan keluarga Daddy Nick adalah pelanggan setia toko itu, tentu saja kedatangan Caca sudah disambut oleh pramuniaga yang ada disana.
"Nona Clarisa, tumben tidak order lebih dulu. Mau kue seperti biasa?" tanya salah seorang pramuniaga yang menghampiri.
"Iya memang dadakan sih. Btw ada stock Cake apa saja hari ini. Aku mau memilih sebagai buah tangan."
Kalau begitu mari Nona ikut Kami. Kebetulan hari ini Kami baru saja membuat Cake dengan berbagai variasi.
Saat bertemu dengan Mommy Hania, Caca yang mendapatkan banyak sekali info mengenai kesehatan Ibu dari Martin ini tentu saja sebagai Dokter, Caca tahu harus membawakan Cake yang seperti apa.
"Adakah yang gluten free?"
"Ini beberapa Cake yang gluten free Nona."
Caca di suguhkan pilihan Cake-Cake indah dengan Gluten Free tentunya.
Martin memperhatikan saja apa yang sejak tadi Caca lakukan.
Sejujurnya ia sendiri tak memahaminya.
Martin kagum, Caca memperhatikan kesehatan sang Mommy bahkan begitu selektif saat akan memberikan buah tangan.
Pilihan Caca jatuh pada Vegan Gluten Free Carror Cake.
"Kami akan menyiakan dulu Cakenya, Nons Clarisa bisa menunggu."
Caca dan Martin duduk di sofa yang disediakan sambil menikmati minuman dan menunggu Cake disiapkan.
"Terima kasih Nona Clarisa. Semoga selalu mempercayakan Kami untuk datang kesini."
"Sama-sama Mbak."
"Senang sekali melihat Nona Clarisa datang kesini dengan pacar Nona. Jika nanti Kami diperkenankan menyiapkan Cake untuk acara spesial Nona dan Tuan, Kami dengan senang hati menerimanya."
Pramuniaga dengan basa basi sambil menyerahkan Cake yang akan dibawa Caca untuk Mommy Hania.
Tentu saja Martin mendengar kata-kata tersebut menjadi salah tingkah sendiri.
Martin menoleh ke arah Caca namun sang pemilik hati tamoak datar-datar saja tanpa respon menanggapi.
Caca tak menggubrisnya namun ia terkejut saja dengan kata-kata pramuniaga.
Keduanya kini sudah berada di mobil dan melanjutkan perjalanan menuju butik Momny Hania.
Sepanjang sisa perjalanan, baik Caca maupun Martin hanya diam saja dengan pikiran mereka masing-masing.
Saat di lampu merah, terlihat seorang anak berusia kisaran 9 tahun mendekati mobil Martin menjajakan dagangannya berupa tissue.
Caca memberikan kode pada Marrin agar membuka kaca mobilnya.
"Permisi Kak, tissuenya 10 ribu saja." sang anak menawarkan Caca.
"Kakak mau 2 saja ya Dek."
"Baik Ka. Ini tissuenya."
Caca memberikan 2 lembar uang 100 ribuan kepada sang Adik penjual.
"Kak, ini terlalu banyak, sebentar Kak Aku ambil kembalinya dulu."
"Dek, ambil ini untuk Kamu ya. Kamu masih sekolah?"
"Masih Kak. Pagi Aku sekolah, sore Aku berjualan."
"Bagus kalau begitu. Ambil saja kembalinya untuk keperluan sekolahmu ya. Semangat terus sekolahnya. Rajin belajar ya." Caca tersenyum.
Betapa Caca salut dengan anak sekecil itu dengan gigih mengais rezeki sementara ia selama ini dengan mudah mendapatkan semua fasilitas dari Daddy dan Bundanya.
"Terima kasih Kak, Kakak dan Om juga selalu berbahagia ya. Semoga kelak memiliki putra putri yang sholeh dan sholeha. Sekali lagi terima kasih Kak. Om, hati-hati ya berkendaranya."
Tentu saja mendengar kata-kata Adik penjual, Martin ada senang ada kagetnya.
Caca jangan ditanya, ia sedikit canggung namun tak bisa menahan tawa mengingat panggilan Om kepada Martin.