
Caca tak bisa menahan tawa saat teringat Martin di panggil Om oleh Adil Penjual Tissue terbawa hingga tak menyadari keduanya sudah sampai di Butik milik Mommy Hania.
"Sudah sampai." Martin yang sejak tadi menyadari Caca terus tersenyum kini tampaknya harus menginformasikan keduanya sudah sampai karrna Caca sepertinya tak menyadarinya.
"Oh, Ya. Kita turun sekarang Om?" Caca kini melepas tawanya yang sejak tadi ia tahan meski senyum-senyum.
"Apa Aku setua itu ya, Kamu dipanggil Kakak sedangkan Aku dipanggil Om." keluh Martin yang hendak keluar mobil.
Caca tersenyum lepas melihat ekspresi Martin yang menurut Caca tidak datar seperti biasa.
Memasuki Butik milik Mommy Hania, Martin mendapatkan hormat dari pegawai yang bekerja disana.
Tentu saja mereka kenal dengan putra satu-satunya si pemilik Butik.
Sedangkan mereka sedikit heran siapa wanita cantik yang bersama sang Tuan Muda.
Martin yang sudah hapal dimana ruang sang Ibu, segera menuju dan mempersilahkan Caca untuk berjalan di depannya.
"Martin? Oh Caca! Sini Sayang. Wah Mommy senang sekali Kamu main kesini. Ayo sini-sini!" betapa terkejutnya Mommy Hania saat Martin datang bersama Caca.
Dari belakang Martin seakan berkode kepada sang Mommy.
Ya, Martin Lupa tak janjian dulu dengan sang Ibu saat akan kesini.
Sedangkan alasan Martin membawa Caca karena permintaan Mommynya.
Caca melihat sedikit bingung mengapa Mommy Hania terkejut padahal bukankah ia diminta datang kesini atas permintaan Mommy Hania.
"Apa Kabar Tante? Maaf Caca mengganggu ya."
Caca mencium tangan Mommy Hania dan Mommy Hania memeluk dan bercipika cipiki dengan Caca.
Rasanya senang sekali kedatangan gadis yang memang ia setujui sebagai calon menantunya.
"Tidak. Mommy malah senang Kamu main kesini. Mommy tuh bosan sekali. Dirumah Mommy sepi, dikelilingi pria-pria membosankan." Mata Mommy Hania melirik pada Martin sedangkan yang dilirik seolah tak tahu bahwa dirinyalah yang disindir.
"Tante ini Caca bawa Cake, semoga Tante suka." Caca menyerahkan buah tangan yang ia bawa kepada Mommy Hania.
"Makasi Sayang. Duh senangnya punya anak gadis, ada yang perhatikan."
Kembali Mommy Hania melirik putranya yang kini sibuk dengan ponsel digenggamannya.
"Sayang, tadi baru saja Tante Dira dengan Naura baru dari sini." Mommy Hania mengajak Caca duduk di sifa dalam ruangannya.
"Oh ya, Mau minum apa?" Mommy Hania menawarkan.
"Apa saja Tante." jawab Caca.
Mommy Hania menghubungi Assistennya meminta dibawakan minuman untuk mereka.
"Tadi Tante Dira mengatakan bahwa Naura berniat membuka butik. Dan kesini Naura sharing banyak hal dengan Mommy. Mommy senang Kalian generasi muda banyak sekali berkarya dan aktif dalam sesuatu yang bermanfaat. Seperti Kamu Sayang, oh ya, Apa Mommy bisa konsul di Rumah Sakit Kamu. Mommy malas sekali hafus bolak balik ke Luar Negeri jika hanya untuk Check Up." Mommy Hania memang sejak dulu memiliki pembawaan yang hangat, ramai tapi penyayang.
"Bisa kok Tante. Tante katakan saja mau kapan dan sempat berkunjung nanti Caca akan bantu arahkan." Caca sejak tadi sebetulnya sedikit risih karena ia seakan lebih diperhatikan dibanding Martin yang hanya sibuk dengan ponselnya.
"Hei Kamu mau kemana Martin?" Mommy Hania melihat Martin hendak keluar ruangannya.
"Aku mau terima telpon dulu. Ada urusan dengan kantor Mom."
"Begitulah Sayang, Martin sejak dulu. Selalu minim ekspresi. Rumah Kami sepi sekali rasanya." Curhat Mommy Hania.
"Oh Iya Sayang, Mommy ada koleksi baru. Yuk lihat-lihat. Pilih mana yang cocok buat Kamu." Mommy Hania mengajak Caca melihat koleksi terbaru dibutiknya dan meminta Caca memilih mana yang ia sukai.
Di Luar nyatanya Martin menerima telpon dari tangan kanannya yang mengabarkan bahwa ada beberapa orang yang memang membuntuti Martin dan Caca sejak di Rumah Sakit.
"Untung saja Aku cepat, jika tidak, entah apa yang akan merrka lakukan pada Caca."
Rupanya bukan hanya gertakan semata saat ada seseorang dengan nomor kontak tak dikenal mengirim foto Caca di Rumah Sakit.
Mereka benar-benar menguntit Caca.
Berhasil Martin menggagalkan rencana mereka kali ini.
Meski dengan drama dan alasan hingga berujung membawa Caca kini ke butik Mommynya namun Martin masih belum bisa bernafas lega karena setiap saat bisa saja mereka kembali membahayakan keselamatan Caca dan keluarganya.
Walaupun baik Daddy Alex maupun Martin sudah meletakkan para pengawal bayangan kepada seluruh keluarga Daddy Nick tetap saja Martin tak lega jika harus melepas begitu saja Caca tanpa pengawasannya.
"Huft." Martin tampak menghela nafasnya yang terasa berat.
Martin masuk ke dalam butik dan mendapati sang Mommy dan Caca sedang tertawa lepas.
Ada rasa haru dan hangat menjalar di hati Martin.
Melihat dua wanita yang ia cintai kini tertawa bahagia bersama seakan hatinya merasakan kehangatan.
"Martin, sini Sayang. Coba lihat. Bagus tidak?" Mommy Hania memanggil putranya yang terlihat termenung.
Martin melangkah masuk ke dalam galery dimana Caca sedang mencoba koleksi terbaru sang Mommy.
Sejujurnya Martin terpesona dan terpukau.
Betapa Caca begitu cantik dalam balutan gaun desain sang Mommy.
Caca yang dimata Martin sudah cantik bahkan semakin cantik dalam balutan gaun berwarna sage green yang kini terlihat pas dan sangat cocok dikenakan sang pujaan hati.
Caca tentu saja menjadi kikuk sendiri dipandangi sebegitunya oleh Martin.
Tatapan Martin yang terus memandang dengan ekspresi tak terbaca menyiratkan kebingungan sendiri bagi Caca.
"Nih orang kayak lihat hantu saja!" Caca malah jadi salah sangka dengan tatapan Martin.
"Martin bagus tidak? Cantik kan? Kok Kamu malah bengong!" Mommy Hania kesal sendiri dengan sang putra yang tak bereaksi apapun.
"Bagus!" akhirnya kata itulah yang keluar dari mulut Martin.
"Ck, sudah Sayang, Kamu cantik sekali pakai gaun ini. Bawa ya. Mommy tidak terima penolakan. Mommy senang sekali kalau gaun ini Kamu yang pakai. Cantik dan cocok untuk Kamu." Mommy Hania memang bahagia sekali bisa melihat rancangannya dilakai oleh sang calon mantu.
"Makasi Tante. Duh Caca jadi enak nih. Gaun ini bagus sekali." Caca tak enak hati.
"Sayang, malah Momny tuh sejak dulu ingin sekali desain Mommy dipakai anak gadis Mommy. Tapi Mommy ditakdirkan hanya punya anak laki-laki. Tapi sekarang ada Kamu yang sudah Mommy anggap seperti anak Mommy." Mommy Hania begitu antusias.
Mendengar Kata-kata Mommynya Martin membolakan mata kearah sang Mommy, kini dibalas pura-pura oleh Mommy Hania.
"Makasi ya Tante." Caca kembali mengulangi rasa terima kasihnya.
"Oh ya Sayang, Mommy juga titip gaun yang ini ya untuk Bunda Kamu." Mommy Hania mengajak Caca membawa Caca menuju gaun yang ia maksudkan.
"Oh Iya Tante."
"Panggil Mommy saja Sayang. Mommy tuh dari dulu ingin sekali punya anak perempuan."
Martin hanya mendengarkan saja ocehan Mommynya.
Sementara Caca makin tidak enak hati karena ada wanita seusia Bundanya yang kini menyayanginya juga dengan tulus.