
"Hai Beib!"
Chate saat masuk ke ruangan Caca menyapa dengan cipika cipiki dan pelukan hangat begitu ia melihat Caca.
"Semangat amat sih Say!" Caca baru saja selesai dengan pasien terakhir baru membaca pesan masuk dari Chate dan nyatanya sang sahabat malah sudah hadir.
"Memang Kamu ga semangat? Martin datang ga kira-kira?" Chate menangkupkan kedua tangannya menopang dagu bersandar di meja Caca.
"Mana Aku tahu." Caca membuka Snelinya menggantung pada tempat biasa dan ia membereskan barang pribadinya seperti ponsel dan laptop ke dalam tasnya.
"Ya ampun, Sayang, Kamu tuh ga peka banget sih! Ya Arsen, Ya Martin itu keduanya naksir Kamu Ca! He Euh!" Chate geleng kepala dibuatnya.
"Sorry, Aku ga tahu ada tamu. Ku pikir hanya ada Kamu."
Kedatangan Chris ke ruangan Caca yang berniat mengajak pulang bersama nyatanya sudah ada Chate menunggu.
Keduanya saling bersitatap sebelum akhir kembali kepada sang pemilik ruangan.
"Chris, kenalkan ini Chate temanku. Chate ini Chris temanku, Dokter disini juga." Caca memperkenalkan keduanya.
"Chris!"
"Chate!"
Keduanya bersalaman saling menatap kemudian melepas jabat tangan.
"Kalian ada janji?" Chris menanyakan karena dilihat Caca sudah bersiap pulang.
"Ya. Aku dan Chate malam ini ada Reuni SD Kami. Ada apa?" Caca balik bertanya.
"Oh begitu. Sayang sekali. Aku baru saja mau mengajak Kamu dinner. Tapi it's Ok. Next time Kita bisa dinner bareng." Sebetulnya Chris kecewa karena beberapa kali gagal mengajak Caca pulang bersama dan makan malam.
"Sorry ya Chris." Caca tak enak hati.
"It's Ok Ca. Kalo gitu Aku duluan ya. Bye Ca, Chate." Chris keluar setelah gagal mengajak makan malam dengan Caca.
Tentu saja semua moment tersebut tak luput dari pengamatan Chate sang sahabat.
Lirikan mata Chate pada Caca kearah pintu keluar yang dilalui oleh Chris seolah menyiratkan tanya siapa gerangan pria barusan.
Caca sengaja pura-pura tak paham akan kode yang dilempar Chate malah asik saja memasukan beberapa barang yang masih berserakan dimeja.
"Hei. Siapa?" Chate tak putus asa mencari tahu.
"Siapa apanya?" Caca mengulur waktu senang menggoda Chate.
"Bener-bener ya nie orang satu! Pokoknya harus cerita! Ampun deh punya temen laris amat! Urusan Arsen dan Martin belum kelar, eh ada pendatang lain, Chris! Salut suhu!" Chate menggoda Caca.
"Hush! Jangan ngawur Kamu Chate. Sudah ayo! Katanya tadi buru-buru! Sekarang malah Kamu yang bikin lama." Caca menggandeng tangan Chate membawa sahabatnya keluar ruangan.
"Ini nih! Ditanya apa, dijawab apa! Emang paling bisa bikin penasaran! Pokoknya ga mau tahu! Harus cerita!" Chate dalam rangkulan Caca sambil berjalan ke luar Rumah Sakit.
Di Kediaman Oma Arsen
"Aduh, Aduh, Cucu Oma mau kemana sih! Kok Gantengnya kebangetan begini! Pasti mau kencan ya! Siapa ceweknya? Oma kenal ga?" Biasalah Sang Oma memang selalu kepo maksimal dengan urusan cucu semata wayangnya Arsen.
"Aamiinin aja dulu deh Oma. Siapa tahu aja bisa nemu! Aku mau ke acara reuni SD. Gimana Oma penampilanku?" Arsen mematut dirinya dicermin berbalik badan memastikan semua tampil sempurna.
"Lewat mana nih Oma?" Arsen balas mencandai Omanya.
Oma membantu merapikan dasi yang sudah terpasang di leher Arsen, merapikan sedikit agar lebih perfecto numeru uno!
"Dah Ok kan Oma? Arsen pergi dulu ya! Doakan semoga nemu Cucu mantu buat Oma!" pamit Arsen seiring mencium tangan sang Oma sebelum pamit.
"Kalau sudah nemu yang pas segera kasih tahu Oma. Biar Oma ajak Papa Mama Kamu yang selalu sibuk itu buat lamarin calon mantu!" Oma selalu saja kesal mengingat anak dan menantunya yang gila kerja padahal kekayaan mereka tak habis 7 turunan.
Arsen hanya bisa tersenyum setiap Omanya mendumal mengenai kedua orang tuanya.
"Aamiin! Aku berangkat ya Oma."
"Hati-hati dijalan."
Sementara di Mansion Daddy Alex, Momny Hania yang lebih ingat bahwa malam ini Martin ada reuni SD lebih semangat menyiapkan pakaian sang putra melebihi Martin sendiri.
"Sudah sana, Mommymu bahkan sudah sibuk sejak tadi menyiapkan pakaian yang akan Kamu pakai." Daddy Alex saat bersama Martin keluar dari ruangan kerja melihat Mommy Hania yang sejak tadi bolak balik menyiapkan pakaian Martin.
"Sayang! Ya ampun Kamu belum Mandi? Ayo mandi! Masa Mom harus mandikan Kamu! Aduh gimana mau dapat mantu kalo masih lelet begini!" Mom Hania malah kesal melihat Martin masih memakai pakaian saat ia pulang dari kantor.
Daddy Alex hanya tersenyum sambil memberikan kode pada Martin agar menuruti perintah Mommynya.
Martinpun ga mau mendengar ocehan Mommy Hania yang panjang kali lebar memilih menuruti titah sang Ibu Suri di Mansion itu.
"Ya ampun Dad! Putramu itu, dari dulu ga berubah-ubah! Gimana Mommy bisa cepet jadikan Caca mantu kalo dia sendiri cuek begitu!"
Begitulah seorang Ibu mesti kesal namun kasih sayangnya tak akan pernah putus mendoakan kebaikan anak mereka.
"Sayang, ga capek sejak tadi menyiapkan ini itu plus ngomel-ngomel? Sini, Peluk aja sama Daddy!" Daddy Alex memeluk istrinya.
Mereka padahal masih di kamar Martin dan lupa bahwa ada Martin di kamar mandi.
"Dasar gombal! Ingat Dad sudah tua malu!" Mommy Hania tersipu mesti mulutnya mengomel.
"Duh, Aduh, Daddy selalu saja suka deh kalo Mom lagi ngomel-ngomel. Bawaannya ngegemesin!" Daddy Alex menoel hidung mancung istrinya.
Nyatanya Martin yang sudah selesai mandi harus melihat pemandangan kisah kasih ala pasutri manula yang masih tetap romantis meski usia tak lagi muda.
"Daddy sama Mommy kalau mau mesra-mesraan pindah ke kamar sendiri." Martin sudah biasa melihat bagaimana mesranya kedua orang tuanya tapi ia sering canggung juga dengan tingkah keduanya.
"Makanya Kamu cepet-cepet ngomong ke Caca dan Om Nick kalo Kamu mau melamar Caca gitu! Ih Mom kesel sendiri sama Kamu Martin! Kelamaan nunggu Kamu gerak, nanti biar Mommy dan Daddy saja yang langsung lamarin!" Mommy Hania masih misuh-misuh.
"Mom, Aku mau ganti pakaian. Mom sama Dad masih mau disini?" pengusiran Martin secara halus keoada Mommy dan Daddynya.
"Ayo Dad Kita keluar dulu. Sudah putramu ga peka!" Mommy Hania menggandeng tangan suaminya keluar dari kamar Martin.
"Ayo Mom kemana? Mau bikin adiknya Martin?" sengaja Dad Alex menggoda istrinya.
"Kita harusnya sudah punya Cucu! Martin saja yang buat Cucu untuk Kita! Kita sudah tua Dad!" Pipi Mommy Hania sudah memerah sambil ia mencubit pinggang suaminya yang senang menggoda dirinya.
"Siapa bilang Mom! Daddy masih mampu kok! Ayo!" bukan malah mereda Daddy Alex sengaja semakin menggoda istrinya.
Sedangkan Martin sambil menutup pintu kamarnya hanya geleng kepala melihat tingkah kedua orang tuanya yang kadang tak mengenal usia.