
Setelah melakukan tugasnya, melakukan konsul dengan pasien VVIP seperti yang sudah dijanjikan, Caca kembali keruangannya.
Caca melihat ponsel, nyatanya sahabatnya Chate sudah menunggu di lobby Rumah Sakit.
Caca mengetik akan segera menemui Chate di tempatnya.
Arsen yang sudah sampai di depan Rumah Sakit, tampak riang karena ingin kembali bertemu Caca.
Banyak alasan yang sudah Arsen siapkan untuk mengajak makan siang teman kecil yang semalam membuat ia tertarik.
Disaat bersamaan Martin juga baru saja turun mobil dan kini berjalan terburu-buru menuju ruangan Caca namun entah dengan alasan apa ia akan menjelaskan sesampainya dihadapan sang wanita pujaan.
Caca membalas sapaan perawat yang berjunpa saat ia melintas menuju lobby untum menemui Chate.
Entah semesta ingin merencanakan apa namun kini Caca terkejut melihat 3 orang yang ia kenal berjalan mendekat dari arah yang berbeda.
Jika Arsen melambaikan tangan dengan sedikit buru-buru ke arah Caca, Chate memanggil sedangkan Martin ia berjalan tergesa hanya diam namun lurus menuju ke arah Caca.
Kini, Keempat orang berada dalam satu waktu bersamaan dan tentu saling terkejut dengan apa tang terjadi saat ini.
Caca masih diam mematung.
Bingung!
Jelas saja, ia hanya memiliki 1 janji dengan Chate namun dihadapannya ada Martin dan Arsen.
"Hai Arsen! Loh Martin? Kalian bisa disini?" Chate tersenyum kearah dua sahabat kecilnya yang datang diwaktu bersamaan.
Martin hanya membalas dengan minim ekspresi sedangkan Arsen yang lebih humble membalas sapaan Chate.
"Wah, apa kabar Chate? Yak sangka bisa bertemu Selebritis disini. Janjian juga dengan Caca?" berondong Arsen dengan pertanyaan.
"Martin, lama tidak bertemu Kamu! Apa kabar? Kemana aja?" Xhate menepuk bahu teman kecil yang baru muncul kepermukaan.
Chate langsung bercipika cipiki dengan Caca dan langsung menggandeng Caca.
"Aku sama Caca janjian mau makan siang, Kalian berdua ikut saja sekalian?" ajak Chate.
Caca menoleh kearah Chate kemudian balik menatap kedua pria yang bak jalangkung, datang tak dijemput pulanh tak diantar.
"Kebetulan sekali, Ayo. Dimana?" Arsen antusias.
"Kamu bisa ikut kan Martin? Ayolah, sudah lama tidak ngobrol!" Chate melihat Martin yang sejak tadi diam saja.
"Ayolah Martin, bukankah Kita kebetulan bertemu disini?" Arsen sendiri sebetulnya bertanya mengapa meeting mereka diundur nyatanya ia melihat keberadaan Martin di sini sudah menjadi jawaban sendiri untuk Arsen.
Namun Arsen bersikap seolah tak tahu malah membuat penasaran baginya.
"Nah, Ayo! Aku kebetulan qda rekomendasi satu tempat yang enak untuk Kita ngobrol. Yuk!" Chate menggandeng Caca dan mengajak keduanyw, Martin dan Arsen.
Kedua pria yang terlihat saling pandang namun sorot mata penuh arti mengekori kedua wanita yang sudah begitu riang dihadapan mereka.
Chate rupanya memesan sebuah tempat yang memang seperti ia katakan, tempat yang nyaman tidak hanya untuk menikmati santap siang namun enak untuk ngobrol-ngobrol.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Xhate pada Arsen dan Martin.
Sejak tadi memang Arsen dan Martin sering terlihat adu pandang namun tatapan keduanya sulit diartikan.
"Ca, masih suka nasi goreng seafood? Kamu bantui Aku ya makan ini, Aku kepingin tapi biasa deh, Aku cuma mau icip, soalnya ada project baru harus diet ketat!" Chate dengan tawanya.
"Boleh. Aku minum kelapa murni saja Chate." jawab Caca sambil memilih minuman yang ingin ia pesan.
"Sama!"
"Kalian ini kompak sekali. Tenang pasti stok kelapa disini banyak!"
Tentu saja kejadian itu membuat Waitress yang melayani mereka tersenyum.
"Air lemon tanpa gula satu ya Mas." Chate sebelum menutup menu book dan menyerahkannya pada Waitress.
"Jadi Xander Corporation itu perusahaanmu Martin? Wah Kamu ini, kenapa tak bilang!" Chate dengan tawa sambil meneguk air lemonnya.
"Maaf tidak mengundangmu semalam." Arsen menyinggung pertemuan mereka semalam membuat Martin jadi sungkan.
"Tak apa Martin. Tapi selamat ya. Aku yakin Xander Corporation akan semakin besar dipimpin olehmu." tanggapan Chate.
Caca hanya menjadi pendengar saja tak nibrung dalam obrolan mereka.
"Kalian ke Rumah Sakit mau kontrol? Atau-?" tanya Chate.
"Aku kebetulan lewat sekitar Rumah Sakit, awalnya Aku ada janji dengan seseorang namun peetemuan itu di undur makanya Aku berniat mengajak Caca makan siang akhirnya Kita bisa sama-sama berkumpul disini." Arsen melirik sekilas ke arah Martin.
Tentu saja Martin tahu betul arah pembicaraan Arsen tertuju padanya.
"Kalau Kamu Martin?" Chate kini menoleh pada Martin.
Namun pertanyaan Chate bukan hanya menjadi perhatian Martin namun baik Arsen dan Caca keduanya menunggu jawaban Martin.
"Aku menyampaikan bahwa orang tuaku akan berkunjung kerumah Caca memenuhi undangan Om Nick semalam."
Tentu saja jawaban Martin menyita perhatian ketiganya.
Caca yang sedang menyeruput Kelapa Mudanya seketika tiba-tiba tersedak.
"Duh, Bu Dokter, hati-hati dong!" Chate membantu Caca menepuk punggung sambil tersenyum.
Arsen seketika menegakkan tubuhnya tak siap mendengar kata-kata Martin dan merasa kalah selangkah.
Namun bukan Arsen namanya jika tak banyak akal.
"Ca, Aku tak menyangka bahwa NBC sekarang dipegang oleh Adikmu dan Kami kini terlibat kerjasama. Ah rasanya senang sekali. Kapan-kapan Aku akan datang memenuhi undangan Adikmu juga." Sebagai rekan bisnis tentu saja Arsen masih memiliki celah dengan masuk melalui sang Adik, Nabil.
"Sudah lanjut lagi makannya. Kalian ini, tuh makanan Kalian masih utuh." Chate mencairkan suasana yang sedikut ada aroma-aroma ketegangan.
Caca bersyukur kehadiran Chate bisa sedikit mencairkan suasana yang sedikit canggung.
Caca sendiri tak yakin dengan alasan kedua pria yang ada dihadapannya itu.
Namun Caca tak mau memikirkan lebih jauh.
Toh keduanya masih memiliki porsi yang sama. Teman.
"Sepertinya Aku harus balik duluan. Ca, Kamu gapapa ya? Lain waktu Kita ketemu lagi ya."
Chate memeluk Caca dan bercipika cipiki sebelum meninggalkan sahabatnya itu.
"Gapapa. Lancar untuk project barumu ya Chate." Caca setelah keduanya selesai bercipika cipiki dan berpelukan.
"Aamiin. Makasi! Martin, Arsen, Aku duluan ya. Next time Kita ketemu di acara reuni ya! Aku duluan ya! Bye!" Xhate melambaikan tangan sebelum akhirnya masuk mobil yang sudah menjemputnya.
Caca melambaikan tangannya membalas Chate yang sudah beranjak dengan mobil meninggalkan pelataran Restoran.
"Ca, Kamu-" Arsen baru akan membuka suara namun melirik tak percaya langkahnya kalah cepat dari Martin.
"Aku lupa, Mommy memintaku mengajakmu ke butik. Ayo!"
Sejujurnya Martin deg degan dengan tindakan spontannya namun dari pada kalah langkah dengan Arsen ia terpaksa menjual nama Mommynya dihadapan Caca dan Arsen.
"Arsen, Aku duluan ya." Caca terkejut dengan apa yang Martin katakan, namun mengingat Mommy Hania begitu baik dengan keluarganya Caca pun percaya saja bahwa kata-kata Martin benar adanya.
"Ga masalah Ca. Aku bisa bertemu denganmu lagi lain waktu. Kita kan bisa janjian. Iya kan?" Arsen tak menyerah begitu saja sambil melirik rivalnya.
"Ayo, Mommy sudah menunggu!" Martin malu sendiri dengan kata-katanya seolah ia anak Mommy dengan menjual nama Ibunya dan itu bukan sikap Martin biasanya.
"Bye Arsen." Caca pamit sebelum ia masuk ke mobil Martin.
"Bye Ca." senyum Arsen memudar manakala mobil yang membawa Caca menjauh.