ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Keluarga



"Pagi Kakakku Sayang!" Si Bungsu Nadhif menyapa sang Kakak sulung sengaja menggodanya.


Disaat bersamaan Daddy Nick dan Bunda Khalisa juga baru tiba di meja makan.


Setelahnya Nabil bergabung di kursinya.


Melihat tingkah si Bungsu yang tersenyum-senyum sendiri membuat Daddy Nick tergerak penasaran.


"Kamu senang sekali Dhif? Jangan bilang pacarmu ganti lagi!" Skak sang Ayah pada putra bungsunya yang memang terkenal Casanova.


"Daddy ada-ada saja. Mana ada Aku begitu. Aku tuh putra Bunda yang baik dan ramah." Nadhif selalu saja meminta perlindungan Bundanya bila sudah tersudut.


"Kamu tidak lupa kan hari ini Kita ada janji golf bareng dengan Om Salman dan Om Alex?" Daddy Nick mengantisipasi takut Nadhif menghilang dengan acaranya sendiri.


"Oh tentu Aku tidak lupa Dad! Aku kan sama Abang kompak! Ya Kan Bang?" Kali ini Nadhif berlindung di balik Kakak Laki-lakinya alias kembarannya.


Seperti biasa Nabil tak menanggapi ia melanjutkan santapan paginya saja.


"Kamu tuh Dhif jangan suka kasih harapan palsu, apalagi sampai ngeghosting cewek!" kali ini Caca angkat suara.


"Tuh, tuh, Kakak suka fitnah. Mana ada Aku begitu Kak." Nadhif mengerucutkan bibirnya.


"Ya kali aja!" Caca menjawab.


"Sudah. Ayo makan. Malah ribut saja Kalian ini." Bunda Khalisa menengahi.


Bunda Khalisa seperti biasa selalu melayani suaminya.


"Bun, Aku juga mau dong diambilkan lauk pauknya sama seperti Daddy." bukan Nadhif namanya meski sudah dewasa si paling manja dengan sang Bunda.


"Sudah gede! Ambil sendiri!" bukan Bundanya yang menjawab melainkan Daddy Nick.


"Apalagi Daddy, sudah tua." nada bicara Nadhif makin memelan saat mengucap kata tua pada Daddynya.


"Enak saja! Biar tua tapi Daddy itu lebih tampan dari Kamu!" Begitulah Daddy Nick sering bersahutan dengan Nadhif.


"Iya Dad. Aku percaya kok! Dad itu memang tampan meski sudah tua." bukan Nadhif namanya kalau tidak biat suasana ramai.


"Sudah. Sini Bunda ambilkan. Makanya kalaui sudah mau ada yang melayani, setelah Kakak dan Abang nikah, Kamu menyusul!" Bunda Khalisa menyendokkan lauk ke piring Nadhif.


"Aku sih gampang Bunda! Lagi pula masih lama! Tahu sendiri kalau Abang belum kelihatan hilalnya!" kali ini Nabil kena sasaran Adiknya.


Nabil melirik dengan tatapan dinginnya pada sang Adik yang selalu ceplas ceplos.


"Tuh kan, gimana cewek mau nyantol, tatapannya aja Aku sendiri ngeri! Dingin kayak kulkas 2 pintu!" oceh Nadhif tertuju pada sang Abang.


"Uhukkk, Uhukkkk!" Daddy Nick tersedak mendengar kata-kata yang diucap anak bungsunya.


"Pelan-pelan Dad." Bunda Khalisa sambil tersenyum mengusap pelan punggung suaminya.


Tentu saja itu mengingatkan Bunda Khalisa bagaimana dulu kala pertama ia bertemu dengan Daddy Nick yang memang sikap dan pembawaannya tak ubahnya sikap Nabil saat ini selalu dingin dan kaku.


"Kakak ga ikut golf?" tanya Daddy Nick pada Caca.


"Tidak Dad. Hari ini Kakak ada seminar di salah satu Universitas." jawab Caca.


Daddy Nick tampak manggut-manggut mendengarkan jawaban putri sulungnya.


"Dad, Bunda izin mau pergi sama Dira ya." Bunda Khalisa menginformasikan kepada suaminya.


"Jangan lama-lama ya nanti Dad kangen." begitulah Daddy Nick tak pernah malu selalu mesra kapanpun bersama istrinya meski di depan anak-anak mereka.


"Aduh, aduh jiwa-jiwa jombloku meronta-ronta!" tentu saja tingkah pola kedua orang tuanya selalu membuat Nadhif gatal untuk berkomentar.


"Iri? Bilang Boss!" jawab Daddy Nick menimpali ledekan putra bungsunya.


"Ampun suhu!" Nadhif menanggapi.


Setelah selesai sarapan Caca pamit kepada Daddy dan Bundanya.


Saat sudah keluar pintu, nyatanya Nadhif membuntuti sang Kakak ke mobilnya.


"Kamu ngapain?" Caca heran melihat Nadhif mengikutinya.


"Cie, siapa lagi Ka yang semalem?"


"Maksud Kamu apa?"


"Udah sana! Kakak buru-buru!" Caca menarik pintu mobilnya.


Namun Nadhif menahan, " Ku kira cupu, ternyata Kakakku suhu!" Nadhif melepas pintu mobil sang Kakak dan membantu menutupnya.


"Hati-hati ya Kakakku Sayang yang cantik tapi sedikit galak!" Nadhif melambaikan tangan meski mobil Caca sudah menuju luar.


Sementara di Mansion Daddy Alex.


Daddy Alex masuk ke kamar Martin.


Semalam, Martin baru kembali ke Mansion pada waktu dini hari.


Sebagai Ayah Daddy Alex meminta penjelasan dan Martin menjelaskan apa saja yang ia lakukan.


"Jangan sampai Mommymu melihat bekas luka di bahumu. Kalau Kamu mau istirahat hari ini tidak apa-apa. Biar Daddy saja yang pergi menemui Om Nick."


"Tak apa Dad. Lukaku tidak parah. Aku tetap ikut Daddy."


"Ya sudah Mommymu sebentar lagi akan keluar kamar. Kita akan pergi setelah sarapan."


"Ya Dad." anggukan Martin mengiringi Daddy Alex sambil keluar kamarnya.


Nadhif kembali masuk ke dalam Mansion melihat Nabil sedang duduk sambil memegang ponselnya ia membiarkan saja berlalu menuju kamarnya.


Sampai di dalam kamar Nadhif menghubungi seseorang.


"Dam, Kamu datang hari ini?"


"Bagus. Aku tunggu di sana ya."


Nadhif tersenyum setelah menutup panggilan telponnya.


Di Kediaman Arsen, Arsen yang sejak tadi bersiul tentu tak luput dari perhatian Omanya.


"Pagi Oma. Oma hari ini jadi kontrol ke Rumah Sakit?"


"Tidak. Jadwalnya diundur. Sebetulnya bisa saja dialihkan ke Dokter lain, tapi Oma menolak."


"Loh memang Dokternya kemana Oma?"


"Sedang ada keperluan."


Seketika raut wajah Arsen berubah mendung.


"Loh kenapa tiba-tiba wajahmu suntuk begitu Arsen? Tadi saja siul-siul seperti habis dapat tander besar!"


Tanpa menjawab Arsen memilih memakan sarapannya meski tak berselera.


Di Kediaman Abi Salman.


"Abi, Aku nanti nyusul saja ya. Soalnya ada keperluan dulu di kantor." Adam memberikan infromasi.


"Heran Umi sama Kamu Dam, banyak sekali acaramu. Jangan bilang Kamu mau macam-macam!" Dira tahu anak Bungsunya terkadang suka nyentrik alias out of the box.


"Umi percayalah sama anak tampanmu ini! Aku memang benar ada keperluan Mi." Adam selalu saja memiliki jawaban.


"Bang Adam pasti mau kencan Mi sama pacaranya!" Naura nyeletuk.


"Sembarangan. Abang tuh jomblo Dek!"


"Aku ga percaya!" Naura malah meledek.


"Sudah, tidak baik bicara saat makan." Abi Salman mengingatkan putra dan putrinya.


"Abi, Umi sama Naura izin mau pergi ya sama Khalisa." Dira meminta izin suaminya.


"Iya, asal jangan sampai lupa waktu." Abi Salman tahu jika istri dan anaknya kalau sudah shopping pasti tidak sebentar.


"Ih Abi, Naura sama Umi tuh kan menikmati perjalanan. Lagi pula Naura juga mau mampir ke butiknya Tante Hania. Ya kan Mi?"


"Iya Sayang. Abi izinkan." Abi Salman memang selalu memberikan perhatian lebih untuk sang putri.


"Kesayangannya Abi mulai deh, banyak maunya!" Adam menimpali.


"Ye Abang! Sirik aja!" Naura membalas.