
Hari ini para Dokter dan Perawat Rumah Sakit mengikuti kegiatan penyuluhan dalam rangka bhakti sosial.
Kegiatan bhakti sosial dan pemeriksaan kesehatan gratis yang memang diusung oleh para pendukung dan tim sukses pemenangan Daddy Nick melibatkan Rumah Sakit tempat Caca praktek.
Caca sebagai ketua Tim mengatur segala persiapan dan kini bersama para rekan sejawatnya sudah stand by melayani masyarakat yang membutuhkan fasilitas layanan kesehatan.
Antusiasme masyarakat yang semangat mendapatkan pelayanan kesehatan gratis sekaligus bisa berinteraksi secara langsung dengan paslon begitu gegap gempita.
Daddy Nick didampingi Bunda Khalisa tampak ramah dan sangat semangat menyapa para warga masyarakat dan mendengarkan kritik saran serta keluh kesah setiap warga yang mengadukan berbagai permasalahan kota mereka saat ini.
Sementara di bilik-bilik layanan kesehatan Caca juga memberikan edukasi seputar kesehatan dan medis.
Masyarakat begitu senang, mendapatkan layanan kesehatan serta beberapa yang memang membutuhkan penanganan dan obat-obatan serta vitamin diberikan secara cuma-cuma.
Selain itu, para balita dan lansia juga mendaoat treatment khusus.
Para balita mendapatkan pelayanan imunisasi dan vitamin A.
Sedangkan Screening kesehatan juga membantu masyarakat mengetahui bagaimana kondisi tubuh mereka.
Acara bhakti sosial juga diramaikan oleh para pelaku UMKM yang sengaja di hadirkan menjamu para masyarakat dengan berbagai kuliner khas kota tersebut.
Intinya kegiatan hari ini berlangsung dengan lancar dan sukses.
Nyatanya kegiatan tersebut banyak dihadiri para influenser yang turut berkonten dan membuat acara tersebut semakin luas tersebar tidak hanya lewat TV Nasional namun juga di sosial media.
Saat ishoma, Caca bersama rekan sejawatnya tampak menikmati santap siang bersama.
Lelah sudah pasti dirasakan semuanya.
Masyarakat yang hadir begitu antusias bahkan diluar ekspekstasi dan lebih dari yang diperkiraan.
"Dok, silahkan." salah seorang perawat membawakan Caca minuman.
"Terima kasih Sus." Caca menerima dan mengucapkan terima kasih.
"Hai!"
Caca meletakkan sendoknya menatap seseorang yang datang menyapanya.
Martin.
Pria yang beberapa waktu lalu bersikap aneh dan kini sudah ada di hadapan Caca.
"Sudah makan?" Caca menggeser kursinya memberikan Martin duduk.
"Sudah. Kamu baru istirahat ya?" Martin menatap pada Caca.
"Iya."
Caca melanjutkan makannya meski terasa canggung karena sejak tadi Martin hanya memandang saja.
"Selesai jam berapa?"
Melihat Caca menyelesaikan makan siangnya Martin angkat suara.
"Mungkin sekitar jam 4."
"Ok. Aku akan balik lagi nanti ketika Kamu selesai. Semangat ya."
Martin mengepalkan tangannya menyemangati Caca sebelum ia meninggalkan wanita cantik dihadapannya menyisakan senyuman membuat Caca terdiam sambil menafsirkan sikap Martin.
Waktu berjalan dengan cepat hingga tiba waktu Caca selesai memberikan pelayanan kesehatan.
Sementara sang Daddy dan pasangan kampanyenya beserta Bunda Khalisa sudah lebih dulu meninggalkan lokasi.
"Sudah selesai?"
Nyatanya ucapan Martin tidak sekedar isapan jempol belaka.
Martin hadir kembali sesuatu janjinya.
Anggukan Caca cukup menjawab pertanyaan Martin.
Betapa senang Martin bisa menikmati senyuman wanita cantik yang sejak dulu telah mengunci hatinya hingga kini dan nanti.
Keduanya kini sudah berada di dalam mobil Martin.
"Kita mau kemana? Aku harap Kamu jangan berbohong kali ini." Caca sambil tersenyum.
Martin tertangkap basah.
Caca sudah tahu bahwa saat tempo hari ke butik Momny Hania adalah akal-akal Martin.
"Tidak. Kali ini Aku memang ingin mengajak Kamu makan malam." Martin menoleh sesaat sebelum kembali fokus menyetir.
"Dalam rangka apa?" Caca menoleh pada Martin yang kini sudah fokus menatap jalan.
"Ya, makan malam saja. Memang apa yang ada pikiranmu?" Martin memainkan kata-kata ingin melihat respon Caca.
"Tidak. Hanya saja Aku merasa belakang Kamu terlalu sering mengajakku keluar." Caca menggantung kata-katanya.
"Ada masalahkan jika Aku mengajakmu makan malam? Ada seseorang yang marah?" Martin mengajukan pertanyaan yang mengarah akan jawaban tertentu.
"Bagaimana dengan Kamu sendiri?"
Caca balik bertanya pada Martin.
Serangan balik Caca sukses menyita perhatian Martin tepat keduanya sampai di restoran yang keduanya tuju.
"Ok!" Caca pun melakukan hal yang sama.
Caca mengikuti langkah Martin yang masuk ke dalam restoran menuju table yang sudah Martin reserve.
Waiters mendatangani keduanya menanyakan apa yang keduanya pesan.
Sambil menunggu pesanan di siapkan Caca tampak melihat ponsel dan mengabari sang Bunda bahwa ia pulang terlambat dan mengabarkan bahwa sedang makan malam bersama Martin.
"Aku sudah meminta izin kepada Om Nick dan Tante Khalisa sebelum membawamu kesini."
Martin menyadari Caca sedang mengabari orang tuanya.
Caca menegakkan kepalanya menatap ke arah Martin.
"Kamu selalu prepare akan apapun. Sebetulnya apa tujuan Kamu?"
Tatapan Caca seakan menutup menjelasan.
"Permisi Tuan, Nona."
Belum sempat terjawab Waiters datang menghidangkan makanan di atas table keduanya.
"Silahkan dinikmati hidangannya Tuan, Nona."
Selesai menyajikan hidangan, Waiters undur diri dari keduanya.
"Mari Kita makan dulu." Martin mempersilahkan kepada Caca.
Melihat Caca yang belum mulai bergerak, Martin meletakan pisau dan garpunya kemudian menatap Caca.
"Aku tidak menaruh racun di makananmu. Ini aman. Aku berani jamin."
"Ok. Mari Kita makan." Caca akhirnya mulai menikmati hidangan dihadapannya.
Tak ada perbincangan diantara keduanya selama makan.
Hingga keduannya selesai, Martin barulah memberikan kode hendak angkat suara.
"Ekhm!"
"Aku mau ke toilet sebentar"
Caca menyela lebih dulu sebelum Martin memulai perbincangan.
"Ok."
Martin mengikuti langkah Caca dengan ekor matanya hingga Caca tak terlihat lagi dipandangannya.
Sementara di toilet Caca tak langsung keluar.
Caca yang membetulkan sedikit riasannya kini menatap wajahnya di cermin.
Banyak hal yang ia pikirkan mengenai sikap Martin yang membingungkan.
Sikap Martin yang semakin gencar mendekatinya namun tetap terasa dingin membuat Caca bertanya-tanya maksud dan tujuannya.
Caca pun teringat kata-kata sang Adik yang menganggap Martin terlalu misterius.
Caca menepis lamunannya segera keluar toilet kembali ke kursinya.
Saat sedang berjalan menuju kursi, ia melihat Martin tengah menelpon namun Martin tak menyadari Caca telah kembali.
"Bagus! Urus semuanya! Aku akan kesana setelah urusanku selesai! Jangan sampai mereka kabur!"
Bait percakapan Martin yang sempat terdengar oleh Caca.
Martin sudah menyelesaikan telponnya menoleh kebelakang terkejut Caca sudah ada disana.
"Kamu sudah selesai?" wajah datar Martin seperti biasa.
"Aku harus pulang. Besok ada operasi yang harus Aku lakukan."
"Ok. Kita pulang sekarang."
Martin memanggil Waiters dan menyelesaiman pembayaran dan keluar mengikuti langkah Caca.
Tak ada kata-kata selama perjalanan pulang.
"Apa Caca mendengar pembicaraanku di telp?" batin Martin sejak tadi khawatir.
Caca masih terngiang-ngiang dengan kata-kata yang ia dengar meski hanya sepenggal dan tidak utuh.
Hingga tak terasa keduanya sudah sampai di Mansion Daddy Nick.
"Ca," belum sempat Martin melanjutkan kata-katanya Caca sidah menyela lebih dulu.
"Maaf Aku tidak menawari Kamu mampir. Aku langsung mau istirahat. Terima kasih makan malamnya. Oh ya lain kali Kita jangan terlalu sering bertemu."
"Ada apa Ca?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja Aku tidak ingin ada salah paham."
"Salah Paham?"
"Ya. Ok, Aku duluan ya. Malam."
Caca masuk ke dalam Mansion meninggalkan Martin yang masih dengan wajah bingungnya.