ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Anniversary Daddy dan Bunda



"Selamat ya buat Kalian, Semoga selalu Sakinah, Mawwaddah, Warrahmah dan Amanah." Abi Salman yang turut hadir di temani Umma Dira memberikan ucapan selamat kepada keduanya.


"Mbak, selamat ya, tambah romantis dan mesra saja dengan Pak Boss!" Umma Dira yang sejak dulu memang mengenal Adik Iparnya sekaligus mantan Bossnya dulu.


"Makasi ya Dir, Kak Salman." jawab Bunda Khalisa.


"Kakak Iparku memang terbaik. Terima kasih atas doanya." Daddy Nick memeluk Abi Salman, sang Kakak Ipar.


Turut hadir dalam acara tersebut Daddy Alex dan Mommy Hania yang memang diundang oleh Nadhif dalam rqngka memeriahkan dan menjadi surprise bagi kedua orang tua mereka.


"Khalisa! Tuan Nick, Selamat ya, semiga Kalian berdua bahagia selalu. Wah Tuan Nick romantis sekali! Khalisa Kamu beruntung." Mommy Hania memeluk Bunda Khalisa saat memberikan ucapan selamat.


"Tak kusangka sahabatku seromantis ini. Selamat Nick!" Daddy Alex memeluk Daddy Nick.


Disaat para orang tua sedang berbincang, tak ketinggalan menikmati sajian yang sudah terhidang.


Di sisi lain, para anak-anak muda pun turut larut dalam pesta yang mereka buat.


Nadhif yang melihat Martin bergerak mendekati sang Kakak, dengan cejatan membawa saudaranya serta sepupunya agar tidak mengganggu kebersamaan keduanya.


Caca sedang menikmati alunan lagi dari penyanyi yang turut menghibur pesta kedua orang tuanya sambil menikmati semilir angin pinggir pantai yang membuai menyejukkan.


"Hai!"


Sedang memejamkan mata, seketika tersadar dan menoleh pada sumber suara yang memanggilnya.


Terlihat Martin duduk disebelah Caca mengambil posisi senyaman mungkin sambil menyodorkan gelas minuman ringan.


"Terima kasih." Caca mengambil gelas pemberian Martin namun belum meminumnya.


"Om dan Tante tampak bahagia sekali." Martin membuka percakapan.


"Ya, Aku bersyukur Daddy dan Bunda bisa bersama hingga kini dan nanti." jawab Caca.


"Aku pun ingin seperti itu." tanggapan Martin seakan menyiratkan sesuatu.


Caca menoleh ke arah Martin tepat disaat Martin sedang menatap wajah cantik wanita disebelahnya.


Buru-buru Caca mengalihkan pandangan, memutus rasa canggung yang tiba-tiba hadir diantara mereka.


"Apa Kamu tidak ingin seperti mereka?" Martin masih menatap Caca meski sang gadis terlihat memutuskan kontak mata.


"Tentu, semua wanita berharap suatu saat akan diperlakukan seperti ratu oleh prianya. Begitupun Aku." jawab Caca tanpa memandang pada Martin.


"Bagaimana kalau Aku?" Martin sendiri tak kuasa menahan lidahnya untuk berkata seperti yang baru saja ia utarakan.


Caca menoleh ke arah Martin,


"Tidak lucu!"


Caca hendak bangkit namun tangan Martin menahan.


Caca melihat tangannya ditahan oleh Martin kemudian menatap wajah yang terlihat datar meski telah mengucapkan kata-kata tidak terduga.


Seakan tatapan Caca mengatakan lepaskan tanganku, Martin melepaskan pegangannya dari tangan Caca kemudian ia ikut bangkit.


"Kita perlu bicara. Dan tentu bukan disini." Martin menatap lurus pada netra wanita dihadapannya.


"Bukankah jelas sudah Aku katakan sebelumnya. Aku tidak berminat mengetahui apapun tentangmu dan Aku tidak perlu tahu alasanmu." Caca menantang tatapan Martin.


"Baik. Jika Kamu masih bersikeras menghindar, jangan salahkan Aku saat ini juga, Aku akan mengatakan dihadapan kedua orang tuamu, bahwa Aku serius pada putrinya. Kalau perlu Aku akan melamarmu saat ini juga!" ancam Martin.


"Ok, Aku tidak akan main-main dengan ucapanku." Martin membiarkan Caca pergi sementara ia akan bertindak sendiri.


Nabil terlihat sedang berbincang dengan Ibrahim sedangkan Nadhif seperti biasa ia dengan Adam ibarat setali 3 uang.


"Bang, sepertinya Kak Caca dengan Marrin sedang berbicara serius? Apakah mereka punya hubungan?" Adam memelankan suaranya.


"Mana Aku tahu, Kamu saja yang cari tahu. Bukankah itu keahlianmu!" jawab Nadhif yang sebenarnya memperhatikan pergerakan sang Kakak dengan Martin.


"Abang ini, Justru Abang lebih exspert dari Aku soal yang begitu!" Adam mencebikkan bibirnya pada Nadhif.


Acara puncak pun tiba, rupanya Nadhif menyiapkan atraksi kembang api yang sengaja ia persembahkan kepada kedua orang tuanya.


"Masha Allah. Indah sekali." Bunda Khalisa terkejut, takjub dengan surprise yang tiada henti diberikan kepadanya.


Kembang Api yang menyala, membentuk lambang love bertuliskan nama keduanya membuat semua yang hadir berseru takjub akan pertunjukkan itu.


"Indah sekali!" seru Mom Hania takjib melihatnya.


"Maaf, permisi sebentar. Boleh Aku meminta waktunya sebentar Om, Tante?" Martin kali ini menginterupsi.


Tentu saja tidak hanya Daddy Nick dan Bunda Khalisa yang terkejut, tampak Mommy Hania dan Daddy Alex dibuat sport jantung dengan apa yang akan disampaikan oleh putranya.


"Ada apa Martin?" tanya Daddy Nick.


Sesaat Martin menatap Caca yang memasang wajah panik.


Caca tak menyangka bahwa ucapan Martin yang ia dengar beberapa waktu lalu adalah sebuah kebenaran dan bukan sekedar ancaman belaka.


Caca menyorot tajam pada Martin seakan menegaskan bahwa jangan main-main.


"Om, Tante, Aku meminta izin untuk bisa dekat dan berhubungan serius dengan putri Om dan Tante, Clarisa." jawab lugas Martin di hadapan kedua keluarga.


Caca tentu saja membulatkan matanya tak percaya Martin benar-benar akan mengatakan hal itu dihadapan keluarga mereka.


"Ow!" Nadhif yang berada disana tak bisa menahan rasa terkejutnya.


Respon Nadhif mendapat senggolan dan tatapan tajam dari sang Abang Nabil.


Mendapat teguran berupa isyarat dari Nabil, Nadhif segera mengatup bibirnya mendengarkan saja kelanjutan dari pernyataan Martin yang mengejutkan keluarga kedua belah pihak.


Sebagai kepala keluarga sekaligus seorang Ayah, Daddy Nick melangkah mendekat menuju Martin sambil menatap lekat pria yang sudah berani berterus terang dihadapannya meminta keseriusan terhadap putri tercintanya.


"Maksudmu bagaimana Martin?" Daddy Nick ingin meminta kejelasan dari pernyataan Martin yang mengejutkan.


"Benar Om. Aku menyukai putri Om Clarisa. Sesungguhnya Aku ingin melamar Clarisa menjadi istriku. Namun semua itu Aku kembalikan lagi kepada Clarisa apakah bersedia menerima permintaanku." dengan yakin dan mantap Martin mengutarakan keinginan hatinya secara gentlement.


"Apakah Kalian berhubungan di belakang Kami?" kali ini Daddy Nick menatap keduanya, termasuk pada Caca seolah meminta penjelasan.


Martin hendak menjawab namun bibirnya terkatup saat Caca buka suara lebih dulu.


"Dad, sepertinya Aku dan Martin harus berbicara dulu. Ayo!" Caca memberi isyarat kepada Martin untuk mereka berbicara empat mata sebelum semuanya semakin runyam.


Martin mengikuti kemauan Caca, sebelumnya ia meminta izin dulu kepada kedua orang tuanya dan mereka pun memberikan ruang kepada keduanya.


Kepergian Caca dan Martin meninggalkan kedua keluarga yang sedang dilanda kebingungan membuat Daddy Alex angkat bicara.


Sebagai orang tua, tentu Daddy Alex berkewajiban memberikan penjelasan kepada pihak Daddy Nick bagaimanapun Martin adalah putranya meski ia sendiri tidak menduga disaat moment ini putra akan berterus terang dan ia sendiri tidak mengetahui jalan pikiran putranya saat ini.