ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Reuni part 2



"Ayo kedua pasang peserta silahkan ambil posisi. Ambil balon yang akan Kalian gunakan. Pokoknya balon ini tidak boleh jatuh selama musik diputar. Balon harus tetap Kalian pertahankan dengan kedua dahi Kalian. Sudah paham?" tanya MC memberitahukan aturan mainnya.


Pasangan Chate dan Arsen sudah mengambil balon dan memposisikannya diantara kedua dahi mereka.


Berbeda dengan Caca dan Martin keduanya tampak ragu hingga suara MC kembali mengingatkan keduanya bahwa waktu terus berjalan.


Martin mengambil langkah, balon sudah dipegang tinggal menunggu persetujuan Caca agar keduanya bisa saling menempelkan dengan kedua dahi mereka.


"Ca, ayo." Martin sedikit ragu namun ia dalam hati senang.


Caca hendak memegang balon dan memposisikannya di dahi begitupun juga Martin, tangannya masih memegang balon.


Hingga secara tak sengaja kedua tangan mereka bersentuhan.


Balon sudah menempel diantara dahi keduanya.


Sejurus bersamaan tatapan keduanya begitu dekat hingga bisa saling melihat secara dekat.


Deg, Deg, Deg!


Martin yang biasa berhadapan drngan musuh kini tak bisa mengelak pesona Caca hingga jantungnya berdebar kencang.


Begitupun Caca, entah ada desir lain di relung hatinya manakala netra biru itu menatap begitu dekat kurang dari sejengkal dihadapannya.


"Ayo! Caca, Martin, Kalian jangan diam saja! Sambil joget!" MC kembali mengingatkan keduanya.


Suara sorak sorai teman-teman menyemangati begitu senang menyaksikan kedua pasang teman mereka yang kini sedang diberi hukuman joget balon.


Arsen melirik sekilas pada Caca dan Martin.


Sungguh kesal sendiri dalam hati meski ia sadar belum layak akan perasaan itu.


Hingga tanpa sadar, Balon dipihak Arsen dan Chate terjatuh.


"Ok! Pemenangnya adalah Caca dan Martin!" seru MC manakala melihat Balon pada pasangan Arsen dan Chate terlepas.


Mendengar permainan berakhir, buru-buru Caca menjauh dan menjaga jaraknya dari Martin.


"Wah selamat ya! Ternyata Chemistry kalian kuat juga! Selamat untuk Caca dan Arsen!" MC memberi aba-aba tepuk tangan yang diikuti seluruh peserta reuni.


Acara reuni masih berlangsung, sambil mendengar band yang sedang memainkan lagu, mereka menikmati jamuan yang telah disediakan.


Arsen melihat Martin sedikit menepi sedang menyesap kopi dan ia menghampiri.


"Aku suka dengan Caca!" tanpa basa basi Arsen mengemukakan itu dihadapan Martin.


Martin tak kaget ia tak bergeming sedikitpun drngan pengakuan Arsen.


"Aku tak akan menyerah untuk mendapatkan Caca." kata-kata Arsen mengkonfrontasi agar Martin tersulut.


Martin meletakkan cangkir kopinya sesaat ia menoleh pada Arsen.


"Selama janur kuning belum melengkung, siapapun berhak mendapatkan hatinya!"


Setelah menjawab kata-kata Arsen, Martin berlalu menghampiri teman-teman lainnya.


"Sudah kuduga, Kau menyukai Caca." Arsen dengan senyum sinis kemudian melanjutkan menyesap kopi di tangannya sambil menatap kepergian Martin.


Caca, Chate dan teman-teman lain masih sibuk bernostalgia.


Hingga saat Arsen menghampiri dan dengan terbuka mengajak Caca pulang bersama.


"Ca, Kamu pulang bersamaku ya." ajak Arsen saat ia melihat Martin hendak mendekat.


"Aku sudah minta dijemput. Terima kasih Arsen." Caca menolak halus ajakan Arsen.


"It's Ok. Btw, besok Aku akan memgantar Omaku Check Up. Sampai bertemu besok ya." Arsen sengaja membagikan informasi yang sekiranya Martin dengar.


"Ya," hanya itu tanggapan Caca.


"Hai teman-teman, Aku balik duluan ya. Aku sudah ditelp oleh managerku." Chate berpamitan kepada seluruh kawan-kawan yang ada termasuk Caca.


"Hati-hati Chate." Caca membalas cipika cipiki Chate.


Sambil cipika cipiki Chate berbisik ditelinga Caca.


"Duh princess, dikerubutin mereka berdua gimana rasanya." Chate berbisik meledek Caca dan memberikan kedipan mata pada Caca.


Caca tak menjawab, hanya bola matanya membukat sempurna pada Chate.


"Oke. Bye semua." Chate saat terakhir berpisah.


Caca dan teman-teman lain melambaikan tangan kepada Chate.


Martin melihat, rupanya Caca dijemput oleh driver keluarganya.


Namun Martin sedikit terkejut manakala Caca mampir kesebuah coffee shop.


Martin menepikan mobilnya. Mengambil posisi agar tetap bisa melihat dengan jelas apa yang Caca lakikan disana. Mengawasi dengan rasa penasaran meski penuh rasa ingin tahu.


Martin melebarkan pupil matanya saat ia melihat seorang pria menyambut kedatangan Caca dengan senyum lebar.


Dan yang membuat Martin terbakar cemburu, Caca pun membalasa dengan senyuman yang tak kalah manis.


Martin penasaran.


Kemudian Martin membuka informasi yang pernah dikirimkan anak buahnya.


"Iya. Itu Chris." sorot mata Martin menajam seolah tak ingin berkedip menyaksikan apa yang sedang dilakukan keduanya.


Jemari Martin mengetuk-ngetuk stir , gelisah rasanya ingin masuk dan membawa Caca keluar dari sana.


Tapi Martin masih punya gengsi, egonya menahan meski rasanya penasarannya menggunung.


"Ada apa Kamu menghubungiku minta bertemu?" Caca menyesap cappucino dihadapannya.


"Besok Aku ingin berangkat bersamamu tempat seminar bersamamu. Aku belum paham jalan disini. Bolehkan?"


"Ku kira ada apa." Caca tertawa sekilas.


"Ya, dari pada Aku tersesat akan lebih memalukan bukan?"


"Ok. Besok Kita berangkat sama-sama."


"Boleh Aku menjemputmu?"


"Kau ini tidak bakat berbohong? Kita berangkat dari Rumah Sakit saja. Nanti Kamu malah nyasar kalau harus menjemputku."


Caca malah menskak Chris.


"Ah Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu Ca." Chris tertawa lepas.


Sedang asik menikmati pemandangan yang membuat hati panas membara, panggilan ponsel Martin memecah fokusnya.


"Baik, Aku akan kesana."


Meski berat, Martin terpaksa meninggalkan wanita masa depannya karena ada hal mendesak.


"Bagaimana acara reunimu?" tanya Chris.


"Menyenangkan."


"Wah pasti senang bisa bertemu teman-teman masa sekolah ya. Apakah ada yang menarik?" pertanyaan Chris menyiratkan sesuatu.


Mendengar kata-kata Chris bayangan Caca malah terbawa saat ia dan Martin joget Balon.


Masih jelas dalam benak Caca tatapan Martin padanya.


"Hei! Kenapa melamun!" Chris menggoyangkan tangannya di depan wajah Caca.


Tentu saja Caca tak menyadari ia malah terbawa angan-angannya.


"Ayo! Melamunkan apa!"


"Tidak, hanya saja seru tadi acaranya."


Sementara di tempat lain seorang pria sedang berdiri dibalik kaca sambil menatap penuh kebencian.


"Tuan,"


Seketika pria itu mencengkram bawahannya dan memegang rahang bawahannya dengan kasar sebelum kemudian ia hempaskan hingga bawahannya tersungkur di lantai.


"Maaf Tuan. Kami gagal."


"Hanya itu yang bisa Kau lakukan, huh!"


"Kami-"


"Lakukan rencana berikutnya! Jangan sampai gagal lagi atau keluarga Kalian akan mati!"


"Ba, Baik Tuan. Permisi!"


Tatapan penuh kemarahan namun terlihat berkaca-kaca sambil memandang tubuh yang semakin kurus dengan alat-alat medis diseluruh tubuh.


"Aku bersumpah, Akan membalaskan dendammu Dad! Tak akan kubiarkan mereka yang membuatmu begini hidup tenang! Siapapun akan merasakan penderitaan yang selama ini Daddy rasakan. Aku berjanji!"


Jika tak ingat ayahnya sedang terbaring di atas brangkar tak sadarkan diri sejak puluhan tahun, tentu sudah hancur kaca dihadapannya.