
"Sudah selesai?" Chris melihat Caca yang sedang bersiap pulang.
Keduanya sudah tak ada lagi jadwal hingga malam ini memutuskan untuk dinner bersama di sebuah restoran yang mereka sepakati.
Anggukan Caca membuat senyum Chris mengembang.
Keduanya kini duduk di table yang sudah mereka reservasi.
"Lain kali, Kamu harus ajak Aku mencoba street food. Aku penasaran ingin mencobanya." Chris bahagia sekali saat-saat seperti di luar negeri kala bersama Caca kini bisa kembali ia rasakan setelah keputusannya untuk pindah.
"Iya bawel! Tapi Kamu pasti akan mengkritik habis. Kamu kan pemilih soal makanan!" Caca tertawa.
"Ya sesekali tak apa lah!" tawa Caca menular pada Chris.
Makanan yang keduanya kini sudah terhidang dihadapan mereka.
"Ayo dimakan."
Melihat wajah Caca rasanya membuat rasa lapar Chris menghilang.
Sungguh kerinduannya selama ini bisa terbayarkan manakala sekarang ia bisa kembali bertemu wanita yang sempat hilang dari pandangannya.
"Ok!" jawab Chris segera mengambil sendok mulai mencoba makanan dihadapannya.
"Bagaimana?" Caca menanyakan pendapat Chris.
"Unik! Tapi enak!"
"Masih banyak makanan unik dan tentunya enak yang akan Kamu coba kedepannya Chris. Selamat menikmati ya." Caca tersenyum begitupun Chris ia lahap melanjutkan sesi makannya terlebih ada Caca bersamanya.
Disaat Caca dan Chris tengah menikmati makanan sambil bersenda gurau bersama, rupanya ada sepasang mata yang menangkap keakraban keduanya dengan tatapan kesal.
"Tuan Martin, silahkan."
Martin melepas pandangannya sekilas sebelum kembali masuk ke dalam ruangan dimana seseorang telah menunggunya.
Bukan Martin namanya, jika tak memiliki mata dan telinga bayangan untuk mengawasi Caca dan pria yang ia tak ketahui siapa yang sedang bersama wanitanya.
Anggukan sang ajudan sudah paham akan perintah tanpa suara dari sang boss dan segera menjalankannya.
"Ca, Aku ke toilet dulu sebentar." pamit Chris pada Caca.
"Ya. Sana."
Chris bergegas ke toilet hingga tak sadar seseorang menabraknya.
Bruk!
"Maaf. Tuan, ini milik Anda."
Chris membantu orang yang menabraknya mengambilkan pena yang terjatuh dan mengembalikan kepada sang pemilik.
"Terima kasih." jawab pria yang menabrak Martin.
"Sama-sama. Anda tidak apa-apa?" tanya Chris.
"Tidak apa-apa. Maaf dan terima kasih."
Pria itu kemudian pergi meninggalkan Chris yang akhirnya meneruskan ke toilet.
Sementara di ruangan, Martin dengan klien yang ia temui tengah berbicara serius.
Meski hatinya gusar dan rasa penasarannya teringat Caca begitu akrab sambil tertawa lepas dengan pria yang bersamanya mampu membuat Martin geram.
Jika dengan Arsen saja Martin tidak terlalu khawatir karena ia yakin hanya Arsen yang menyukai Caca.
Namun kali ini berbeda, entah mengapa, Caca yang tak pernah ia lihat selepas itu bersenda gurau dengan lawan jenis membuat hati Martin gusar dan entah tidak karuan rasanya.
"Kami akan melakukan pengiriman tersebut besok malam Tuan. Kami pastikan, Bryan tidak akan bisa menjegal Kita kali ini."
"Saya tunggu hasilnya. Yang jelas jangan sampai ada kesalahan."
"Kami jamin akan hal itu. Baik, Kami pamit Tuan. Permisi."
Martin berjabat tangan dengan klien sebelum keduanya berpisah.
Tepat setelah klien pergi sang ajudan masum ke dalam ruangan.
"Tuan Muda, ini."
Sebuah lapiran dalam tab yang disodirkan oleh ajudannya diterima oleh Martin.
Martin membaca dengan singkat dan ia menatap pada ajudannya.
"Baik Tuan Muda."
Kembali ke Caca dan Chris, keduanya sudab menyelesaikan makan malam dan kini masuk ke dalam mobil mssing-masing.
Namun sebelum berpisah Chris dan Caca mengobrol sejenak.
"Boleh Aku aku antar?" tanya Chris kini bersandar di pintu mobil Caca.
"Lain waktu saja. Besok pekerjaanmu sudah menanti. Kamu tidak boleh telat dan harus profesional Chris!" Caca membulatkan mata memberikan ancaman layaknya atasan pada bawahan.
"Siap Bu Direktur! Baiklah Aku menunggu undanganmu untuk datang berkunjung kerumahmu itupun jikau Kamu berkenan." Chris ingin tahu bagaimana respon Caca.
"Aku pikirkan dulu. Di rumah Adikku sangat kepo. Salah-salah ia akan kepo denganmu!" Caca sambil tertawa.
"Sepertinya keluargamu seru sekali. Aku penasaran jadinya." Chris menambahi.
"Sepertinya Kamu akan cocok dengan Adik bungsuku yang Kemal!"
"Kemal?"
"Iya. Kepo Maksimal!"
"Yayaya. Rupanya banyak sekali istilah dalam bahasamu. Aku harus belajar pelan-pelan."
"Ya harus. Agar Kamu semakin paham bagaimana anak muda disini."
"Aku pamit ya Chris. See you tomorrow!"
"Take care Ca."
Keduanya berpamitan dan masuk mobil masing-masing menuju tujuan yang berbeda.
"Ikuti mobil itu!"
"Baik Tuan!"
Di Mansion Daddy Nick tampak Nabil sedang berbincang dengan Daddy Nick di ruang kerja Daddy Nick.
"Dad, ada yang ingin Aku sampaikan." Nabil yang memang tak ubahnya dengan perangai Daddy Nick sebelum bertemu Bunda Khalisa, dingin, Kaku layak kulkas 2 pintu.
"Ada Apa Bil?" kali ini sang Ayah meletakkan kacamata bacanya menatap kepada sang anak keduanya.
"Aku ingin membicarakan soal Xander Corporation."
"Ada apa memang dengan Xander?"
Nabil menyerahkan sebuah dokumen kepada Daddy Nick.
Daddy Nick membuka dokumen pemberian Nabil.
Tampak kerutan di dahi pria baya yang kini maju menjadi Cagub dan berkarir di dunia politik.
"Apakah tidak sebaiknya Kita berpikir ulang tentang kerjasama Kita dengan mereka Dad?"
"Darimana Kamu mendapatkan ini?" Daddy Nick meletakkan dokumen yang diserahkan Nabil kepadanya.
"Aku meminta orang kepercayaanku untuk menyelidiki mereka dan hasilnya seperti yang Daddy lihat. Bahkan mereka terkait dengan orang yang menyerang Daddy beberapa waktu lalu. Meski belum diketahui hubungan seperti apa yang ada diantara mereka sehingga melibatkan Dad sebagai sasaran." jelas Nabil pada sang Ayah.
"Lakukan seperti biasa. Jangan ambil keputusan gegabah. Lanjutkan kerjasama dengan mereka. Kita harus memastikan bahwa itu benar atau tidak. Dad juga akan mencari tahu. Jangan katakan kepada siapapun mengenai hal ini. Terutama pada Kakakmu." pesan Daddy Nick.
"Baik Dad. Tapi Aku tidak akan tinggal diam bila mereka mengusik keluarga Kuta lagi. Dan Aku tak akan segan untuk membuat perhitungan dengan Xander bila mereka nyatanya bermaksud tidak baik pada Kita."
Nick bisa melihat sorot mata sang putra tidak main-main.
"Semoga tidak seperti yang Kamu pikirkan. Kita lihat saja. Tetap waspada. Kabari apapun yang Kamu peroleh pada Dad."
"Baik Dad. Aku keluar dulu."
"Ya."
Setelah kepergian Nabil, Nick meraih ponselnya bergegas menghubungi seseorang.
Belum ada jawaban dari panggilan ponsel nomor yang Daddy Nick hubungi.
Daddy Nick mengirim pesan. Mengatakan besok ia ingin bertemu dan berbicara hal penting.
Daddy Nick meletakkan ponselnya. Menyandarkan tubuhnya di kursi ruang kerja.
Bayangan masa lalu sekilas tergambar jelas.
Meski sudah puluhan tahun berlalu dan selama ini sudah baik-baik saja, nyatanya kini kembali muncul kepermukaan.