ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Pameran



Sesuai janji, Caca hari ini akan datang ke pameran lukisan bersama dengan Maxim.


Maxim awalnya berniat menjemput, namun Caca memilih langsung bertemu saja di tempat pameran.


"Sayang, mau kemana?" Bunda Khalisa saat menyambangi kamar putrinya.


Melihat Caca sedang bersiap dan mematut diri di kamar membuat Bunda Khalisa penasaran hendak pergi kemana sang putri.


"Kakak mau ke pameran lukisan Bun." jawab Caca sambil meneruskan mematut diri di meja riasnya.


"Sendiri?" Bunda Khalisa menatap pada anak gadisnya yang sangat cantik nan dewasa itu.


"Dengan teman Bun." jawab Caca melayangkan senyuman pada Bundanya.


Bunda Khalisa tak bertanya lebih jauh siapa teman yang dimaksud dengan Caca.


"Ya sudah, kalau sudah selesai, gabung ke bawah ya." Bunda Khalisa menepuk bahu Caca sebelum ia keluar kamar anak gadisnya.


Anggukan Caca menjawab permintaan sang Bunda.


Ponsel Caca bergetar ada pesan masuk.


Caca mengambil ponselnya membaca pesan dari siapa


"Sudah otw?"


Rupanya Maxim yang mengirim Caca pesan.


"Belum. Masih prepare." jawab Caca kembali melanjutkan mematut diri.


"Jangan lupa alat lukismu dibawa ya." Maxim mengingatkan.


"Iya." Caca kembali membalas pesan Maxim.


"Sampai jumpa di sana ya 😚" Maxim menyematkan emoticon.


"👍" balas Caca singkat jelas dan padat.


Caca segera bergabung dimana Daddy Nick, Bunda Khalisa dan kedua adiknya duduk.


"Wah Kakakku sudah cantik sekali. Mau kemana sih?" tentu saja Nadhif tak melewatkan menggoda sang Kakak yang sudah rapi dan cantik mempesona.


"Kak, sini sebentar." Daddy Nick menepuk kursi di sebelah kirinya agar Caca duduk disisi dirinya.


Caca mengambil posisi sesuai arahan Daddy Nick bergabung bersama yang lain.


"Mau kemana Kak?" kali ini Daddy Nick yang bertanya.


"Mau ke Pameran lukisan Dad." jawab Caca.


"Sama Martin?" tebak Daddy Nick.


"Cie ngadate nih ye!" belum apa-apa Nadhif sudah menggoda Kakaknya.


Caca melotot ke arah Nadhif sebelum ia menjawab pertanyaan Daddy Nick.


"Sama teman Dad." jawab Caca.


"Temen apa gebetan Kak?" Nadhif seolah tak kapok masih saja kepo dengan siapa Kakaknya melihat Pameran.


"Ya sudah. Hati-hati ya. Kalau butuh sesuatu kabari Daddy atau adikmu." Daddy Nick menghormati privasi putrinya bagaimanapun mereka sudah dewasa tak seperti dulu saat masih anak-anak yang bisa ia awasi lekat 24 jam.


"Kalo gitu Kakak pamit ya Dad, Bun." Caca mencium tangan kedua orang tuanya sebelum pamit.


"Iya. Hati-hati." Jawab keduanya bersamaan.


Saat Caca hendak keluar rupanya Nadhif yang masih kepo maksimal membuntuti Kakaknya hingga keparkiran mobil.


"Kamu mau ngapain Dek?" Caca melihat betapa Nadhif terus mengejar sampai Caca mau menjawab rasa penasarannya yang tinggi.


"Kak, pergi sama siapa sih? Bang Martin tahu ga Kakak hari ini ke Pameran?" Nadhif menahan pintu mobil sang Kakak.


"Ih, sana. Ngapain sih kepo banget!" Caca kesal dengan kekepoan Nadhif.


"Jangan gitu lah Kak. Paling ga, kabarin Bang Martin Kakak pergi sama siapa." Nadhif dengan nasehatnya.


"Jangan sok tahu Kamu Dek! Awas aja!" Caca mengancam.


"Ya sudah hati-hati di jalan Kakakku Sayang. Panggil nama Nadhif 3 kali kalau ada apa-apa." senyuman Nadhif melepas pintu mobil sang Kakak.


"Emang Kamu jin!" Caca menutup pintu mobilnya sesaat langsung meluncur.


"Gw harus kasih tahu Bang Martin nih!" begitulah Nadhif malah ia cepu mengirim pesan pada Martin.


Di Mansion Daddy Alex, tampak Martin sedang bersama sang Ayah membahas ini dan itu soal bisnis dan gerakan bawah tanah mereka.


Ponsel Martin bergetar.


Martin meminta izin di tengah obrolan seriusnya bersama Daddy Alex.


Wajah Martin mengkerut setelah membaca pesan dari Nadhif.


"Ada apa Nak?" Daddy Alex melihat perubahan raut wajah putranya seperti ada sesuatu.


"Caca pergi ke Pameran yang di buat Bryan Dad."


Kini Daddy Alex tahu dan ikut cemas.


"Kamu segera susul, rapi ingat main halus Nak. Jangan buat Caca merasa Kamu mengawasinya. Pastikan Caca aman dan nyaman. Daddy akan stand by jika Kamu perlu bantuan."


"Kalau begitu Aku pamit ya Dad." Martin izin pada Daddy Alex.


"Iya. Biar nanti Daddy yang pamitkan pada Mommymu." Daddy Alex mengatakan.


"Baik Dad."


Selepas kepergian Martin, Daddy Alex menghubungi orang kepercayaannya.


Sementara Martin segera meluncur ke tempat Pameran dengan misi mengawal Caca.


"Berani sekali mereka menggunakan Caca. Awas saja Kau Bryan! Jika sesuatu terjadi pada Caca, Kau tak akan selamat!" Martin mengumpat di balik kemudi sambil mengeratkan cengkramannya pada kemudi.


Rupanya tak hanya Martin dan Dad Alex yang memiliki misi, Nadhif segera menghubungi Adam dan mulai melancarkan misinya.


"Dam, Aku akan otw, Kamu siap semuanya ya!"


"Ok, Kita ketemu disana." Nadhif menutup panggilan telponnya pada Adam.


Di ruang berbeda, Tampak Bryan tersenyum akan apa yang sudah ia rencanakan.


"Aku tahu Kalian pasti akan mengintai Kami. Tapi bukan hari ini saat yang tepat. Hari ini Aku hanya akan bermain-main saja. Melihat wajah dan kemarahan Kalian sudah cukup membuatku puas!" wajah Bryan menyeringai puas setelah ia memang topeng penyamarannya.


Caca sampai di acara Pameran tersebut.


Kesan pertama begitu mewah dan klasik.


Caca tersenyum tak menyangka sekian lama ia tak menyambangi acara seperti ini.


Tentu saja antusiasme Caca begitu menggebu tak sabar ingin segera menyaksikan langsung seperti apa Pameran itu akan dilaksanakan.


Ponsel Caca berdering, rupanya Maxim yang menghubungi.


"Aku sudah sampai Max. Kamu dimana?" Caca selesai menscan barcode undangan di lobby segera mencari keberadaan Maxim sesuai arahan pria itu.


Maxim melambaikan tangannya pada Caca agar dilihat keberadaannya.


Rupanya tak terlalu jauh jarak Maxim dengan tempat Caca berada.


"Ga macet kan?" basi basi Maxim menghampiri Caca yang baru hadir.


"Tidak. Lancar kok." jawab Caca.


"Ayo Kita masuk. Sepertinya acara akan segera dimulai." ajak Maxim pada Caca.


Berjalan bersisian dengan Caca Maxim menelisik sekitar sambil memegang telinganya seakan memberikan kode pada seseorang yang sedang mengawasi mereka.


Martin tiba di Pameran tersebut.


Bukan hal sulit bagi Martin untuk masuk ke Pameran tersebut meski hanya undangan saja yang bisa masuk kesana.


Martin menelisik sekitar, mencari dimana keberadaan Caca.


Disaat yang sama rupanya Nadhif dan Adam pun sudah berada di lokasi melakukan pengintaiannya.


"Ca, sorry," Maxim hendak membersihkan sesuatu di bahu kiri Caca.


Dari jarak arah Martin mengamati terlihat Maxim seperti sedang akan mencium Caca.


Bukan main panas hati dan terbakar cemburu di buatnya.


"Kurang ajar!" Martin mengepal tangannya memukul ke meja dihadapannya.


"Maaf Tuan, Anda tidak apa-apa?" sapa seseorang.


"Tidak apa." Martin memilih pergi dari tempatnya, mengintai lebih dekat wanita pujaan hatinya agar tak kecolongan lagi.


Sementara Nadhif yang melihat kejadian itu dari layar monitor terlihat tertawa.


"Seneng banget Bang!" celetuk Adam.


"Seneng dong! Lihat orang cemburu asik tahu! Ah mereka itu, saling suka tapi gengsi!" Nadhif puas melihat Martin kesal sementara sang Kakak tak tahu akan keberadaan Martin disana.