ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Alarm Kebakaran



Caca begitu menikmati jalannya pameran.


Tak hanya menampilkan lukisan-lukisan untuk di pamerkan namun pengunjung bisa ikut berpartisipasi melukis bersama disana.


Caca sangat menikmati moment tersebut terlebih sudah lama sekali ia tak memiliki waktu luang dalam menyalurkan hobinya.


"Kamu memang sangat berbakat Ca." Puji Maxim saat melihat goresan kuas Caca menari indah diatas kanvas menciptakan keindahan.


"Kamu juga sepertinya sangat menyukai melukis." Caca pun melihat guratan kuas yang Maxim torehkan diatas kanvas.


"Bila suatu saat Kamu buat pameran, Aku akan menjadi orang pertama yang akan datang." Maxim menoleh pada Caca yang begitu asik bermain kuas diatas kanvas miliknya.


"Ya, namun sepertinya Aku tak akan memiliki kesempatan itu Max." Caca menoleh menatap hasil guratan kuas Maxim.


Disaat Caca dan Maxim asik berdiskusi dengan lukisan mereka, ada sepasang mata yang melihat dengan tatapan terbakar cemburu.


Rasanya ingin sekali segera melerai keakraban keduanya namun Martin bertahan demi menjaga Caca dari kejauhan.


"Bang, jangan senyum-senyum terus, nanti Abang kayak orang Stres!" Adam yang sejak tadi sedang melakukan tugasnya sambil melihat Nadhif yang senang sekali tertawa menatap monitor.


Seperti tengah menikmati suguhan drama korea Nadhif begitu gemas melihat bagaimana ekspresi wajah cemburu Martin.


"Dam, sini Aku mau Kamu lakukan sesuatu."


Nadhif dengan seringai jahilnya membisikkan sesuatu pada Adam.


"Serius Bang? Ga masalah?" Adam tak percaya dengan apa yang dibisikkan Nadhif di telinganya.


"Sudah lakukan saja. Aku juga ingin lihat wajah asli mereka saat kehebohan itu terjadi." Nadhif dengan wajah menyiratkan maksud.


"Wah lukisanmu sangat luar biasa. Aku yakin pengunjung akan menyukainya." Maxim tersenyum kagum akan hasil lukisan Caca.


"Lukisanmu juga sangat unik Max, penuh misteri namun sangat kuat auranya." Caca melihat hasil lukisan Maxim yang seakan menyimpan sesuatu yang tersembunyi.


"Aku hanya menuangkan apa yang ada dalam pikiranku saja. Tak ada maksud apapun." jelas Maxim.


Disaat bersamaan terdengar bunyi alarm kebakaran yang berbunyi.


Tentu saja seluruh undangan dalam pameran tersebut menjadi panik dan berhamburan menuju pintu keluar.


"Ca sini ikut denganku!" Maxim segera meraih tangan Caca.


Orang-orang panik segera mencari pintu keluar karena ingin mengamankan diri masing-masing.


Para petugas pun mengevakuasi semua orang agar bisa keluar dengan aman dan selamat.


Namun disaat Maxim sedikit lengah akan hal tersebut, tiba-tiba saja tangan Caca ditarik oleh seseorang dan segera dibawa keluar dari kerumunan orang-orang.


Caca tak sempat melihat siapa yang menariknya karena orang tersebut menutup kepala Caca dengan sebuah jaket hitam.


"Sial!" umpat seseorang merasa gagal karena misinya di acak-acak oleh pihak yang tak terprediksi.


"Ayo Dam! Kita pergi dari sini." Nadhif setelah melakukan misinya segera mengajak Adam meninggalkan lokasi pameran.


Kini Caca berada dalam mobil yang baru saja ia naiki dengan kepala masih tertutup jaket.


Dengan cepat Caca meraih jaket yang menutupi kepalanya untuk ia buka.


"Kamu!"


Betapa terkejutnya Caca saat Martin yang rupanya membawanya ke mobil.


"Mobilmu biarkan nanti di antar oleh asistenku." Martin segera menyalakan mobil dan membawa mereka dari lokasi pameran.


"Kenapa Kamu bisa ada di sana?" Caca menatap nyalang pada Martin yang terlihat fokus mengemudi.


Sejujurnya Martin ingin sekali mengatakan bahwa sesaat sebelum alarm kebakaran berbunyi, Martin mengamati ada yang mencurigakan.


Martin tentu bisa menduga pihak Bryan akan merencanakan sesuatu.


Martin tak menyiakan kesempatan itu untuk melindungi Caca dan segera membawanya keluar dari lokasi pameran.


"Aku bicara padamu Martin!" Caca tak mendapat jawaban dari Martin mengulangi pertanyaannya.


Kali ini dengan wajah menuntut penuh penjelasan Caca menatap wajah tenang Martin yang fokus berkendara.


"Siapa pria yang bersamamu?" Martin bukan tak tahu, ia hanya ingin Caca terbuka.


"Siapa maksudmu?" Caca menyilangkan tangan di dadanya bersidekap menahan kesal karena Martin mengubah topik pembicaraan.


"Apa begini kebiasaanmu, Chris, Arsen dan kini siapa lagi?" kali ini Martin menoleh sesaat namun tatapan itu terasa menyudutkan bagi Caca sebelum Martin kembali fokus menatap jalan.


"Bukan urusanmu." Caca memalingkan wajah menatap le arah jendela.


Seketika Martin menghentikan mobilnya.


Caca terkejut dengan cara Martin mendadak berhenti sedang mereka masih di dalam perjalanan.


"Apa?" Caca menatap wajah Martin yang terlihat tidak bersahabat.


Sejujurnya, gemas rasanya melihat wajah Caca yang menantang berani kepadanya.


Sambil mengatur nafas, Martin buka suara.


"Kamu seharusnya lebih bisa menjaga diri, Om Nick sekarang adalah pejabat publik. Apapun yang berkaitan dengannya apalagi Kamu adalah putri beliau, akan menjadi bahan bagi media untuk menggiring opini publik." Martin masih menatap Caca sambil memberikan penjelasan.


"Aku lebih tahu dan Aku punya hak untuk berteman dengan siapapun. Bukan hakmu melarangku apalagi membatasi Aku bergaul dengan siapapun." Caca balik menantang sambil menatap wajah serius Martin.


"Kalau begitu, Aku akan membuat diriku punya hak untuk melarangmu untuk tidak bergaul dengan sembarang orang." Martin kembali menyalakan mesin mobilnya meneruskan kembali perjalanan mereka yang masih panjang.


"Apa-apaan dia? Siapa dan Apa haknya melarang-larangku." batin Caca berucap meski tak terucap dari lisannya yang memilih diam tak menanggapi ucapan Martin.


Sepanjang sisa perjalanan Martin dan Caca memlih diam.


Keduanya sibuk dengan ego dan perasaannya masing-masing.


Keduanya tak menyadari ada ikatan yang terikat meski tak terlihat.


Keduanya tak menyadari ada hati yang terpaut meski sekeras hati memungkiri.


Gila! Ya begitulah perasaan antara hati dengan pikiran Martin yang kini pria matang dan tampan namun penuh misterius itu rasakan.


Sedangkan hati dan logika Caca seolah saling bertabrakan memikirkan apakah yang sebenarnya naluri dan egonya kini rasakan.


Hati tak sesederhana seperti hitam dengan putih.


Naluri terkadang tak sejalan dengan logika yang hanya memiliki benar dan salah.


Terkadang ego mendominasi meski batin meronta ingin dimengerti.


"Aku akan ke Rumah Sakit. Jadi turunkan Aku di Rumah Sakit." Caca buka suara.


"Aku tahu hari ini Kamu sudah cuti karena pameran itu. Jadi ikut saja." Martin memang tahu apapun yang berkaitan dengan Caca meski wanita disampingnya tak sadar selama ini diawasi.


"Jangan sok tahu. Aku mau ke Rumah Sakit." Caca masih keras kepala.


Caca ingin segera keluar dari mobil Martin, malas sekali berdekatan dengan Martin yang menyebalkan menurutnya.


Marrin tak menghiraukan permintaan Caca, malah terus melajukan mobilnya membawa kemana yang ia mau tanpa perduli Caca setuju atau tidak.


Caca sadar kata-katanya tak digubris oleh Martin.


Malas berdebat, Caca memilih diam saja terserah Martin hendak kemana.


"Dasar mau menang sendiri!" Caca mendumal meski Martin mendengar apa umpatan Caca padanya.