
Setelah selesai mengobrol dengan Mommy Hania, membicarakan banyak hal, tibalah Caca pamit undur diri meninggalkan butik.
Tentu saja Mommy Hania senang dengan kedatangan Caca, merasakan singkatnya pertemuan keduanya dan meminta lain waktu untuk bertemu sang calon mantu.
"Sayang padahal Mommy masih rindu. Next time main-main lagi kesini ya. Sendiri juga gapapa." mata Mommy Hania melirik Martin.
"Iya Tante. Insha Allah. Tante sehat-sehat selalu ya. Kabari Caca saja kalau memang akan kontrol ke Rumah Sakit."
"Iya Sayang. Mom jadi semangat lagi untuk kontrol kalau begini. Salam untuk Bundamu ya." jawab Mommy Hania masih menggandeng Caca mengantar sampai ke pintu butik.
"Kalau begitu Caca pulang dulu ya Tante. Terima kasih banyak untum semuanya. Insha Allah salam dan hadiahnya Caca sampaikan pada Bunda."
"Iya sama-sama Sayang. Martin antar Caca sampah rumah dengan selamat ya." Mommy Hania mewanti-wanti putranya.
Martin hanya mengangguk sebagai jawaban dari permintaan sang Mommy.
"Tante, Caca pamit dulu ya. Assalamualaikum." Caca mencium tangan Mommy Hania.
"Waalaikumsalam." Mommy Hania melerai pelukannya sebelum melepas Caca pulang.
"Aku antar Caca dulu ya Mom." Martin mencium tangan Ibundanya sebelum pamit undur diri.
"Iya. Hati-hati ya."
Caca melambaikan tangan ke arah Mommy Hania sebelum akhirnya mobil yang membawa keduanya berlalu dari butik.
Beberapa waktu berlalu, Martin sudah tiba di Mansion keluarga Caca.
Disaat bersamaan, Nadhif yang baru saja sampai menghampiri keduanya.
"Malam Kak. Eh ada Kak Martin juga." Nadhif tersenyum penuh arti pada sang Kakak seolah menuntut penjelasan setelahnya.
"Malam." jawab Martin.
"Kak, ga disuruh mampir?" begitulah Nadhif yang selalu kepo.
Tanpa mendengar persetujuan sang Kakak, Nadhif megandeng Martin untuk mampir ke Mansion mereka.
"Kakak ga ikut masuk?" Nadhif menoleh sesaat pada Caca yang masih mematung.
Caca sebal sendiri dengan kelakuan sang Adik bungsunya itu.
Caca mengekori keduanya masuk ke dalam Mansion.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rupanya di Ruang Keluarga, Bunda Khalisa dan Daddy Nick sedang santai tengah mengobrol.
"Malam Tante, Om." Martin mencium tangan pada Daddy Nick dan menangkup tangan pada Bunda Khalisa.
"Malam Martin."
"Silahkan duduk." Bunda Khalisa menawari.
"Terima kasih Tante, Om." jawab Martin sambil duduk di sofa yang terletak di seberang arah duduk Daddy Nick dan Bunda Khalisa.
Caca dan Nadhif setelah mencium tangan kedua orang tuanya ikut duduk di samping sang Daddy dan Bundanya.
"Maaf Om, Tante, Caca pulang Malam karena Saya ajak ke Butiknya Mommy." Martin memberikan penjelasan.
Bagaimanapun Martin tahu ia telah membawa anak gadis orang untuk pergi bersamanya meski ke butik milik Mommy Hania, Bundanya.
"Tak apa Martin. Mommy Kamu juga tadi sudah mengabari Tante bahwa Kalian baru saja dari sana." jawab Bunda Khalisa.
Sementara Kedua orang tuanya sedang berbincang dengan Martin, Nadhif tak lepas memperhatikan Martin.
"Oh ya Bunda, ini ada titipan hadiah dari Tante Hania untuk Bunda." Caca menyerahkan titipan hadiah dari Mommy Hania kepada Bunda Khalisa.
"Masha Allah. Sampaikan salam Tante, dan terima kasih ya Martin untuk Mommy Kamu." Bunda Khalisa menerima hadiah pemberian Mommy Hania dan mengucapkan terima kasih.
"Iya Tante nanti Martin sampaikan." jawab Martin.
"Kalian sudah makan malam? Kebetulan Daddy baru mau makan malam. Ayo sekalian ya!" ajak Daddy Nick kepada Martin dan kedua anaknya.
Martin sesungguhnya canggung untuk menerima tawaran keluarga Caca namun Bunda Khalisa menahan agar Martin makan malam bersama dulu dengan mereka.
"Bunda, Aku juga mau dong diambilkan nasi dan lauknya." Nadhif ikut-ikutan ingin di ambilkan juga oleh sang Bunda.
Daddy Nick geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Bungsunya itu.
"Assalamualaikum."
Rupanya Nadif yang bsru saja datang langsung menghampiri kedua orang tuanya mencium tangan keduanya dan segera bergabung di meja makan.
"Baru pulang Bang?" kali ini Nadhif menyapa sang Abang.
"Ekhem." jawab Nadif.
Nadif melirik sekilas ke arah Martin dan memutus tatapannya memilih bergabung santap malam.
Selesai makan malam, Nick mengajak Martin dan kedua putranya berbincang bersama.
Sementara Caca dan Bunda Khalisa menyiapkan kopi dan cemilan bagi para lelaki.
"Kak, bagaimana?" Bunda Khalisa melirik sang putri yang sedang mengaduk kopi di cangkir.
"Bagaimana apanya Bun?" Caca menoleh sekilas melihat ekspresi sang Bunda dengan wajah penuh harap akan jawaban.
"Apa Kakak sama Martin ada sesuatu?" tampak hati-hati sekali Bunda Khalisa menanyakan.
"Maksud Bunda?" Caca memang tak memahami kearah mana maksud Bundanya.
"Begini loh, apa Kakak dan Martin lebih dari sekedar teman?" kali ini Bunda langsung to the point.
Tentu saja Caca seketika meletakkan sendok menghentikan aktivitasnya membuat kopi.
"Bunda kok nanya begitu? Kakak kan hanya baru sekali ini pergi sama-sama. Lagi pula hanya ke butik atas undangan Tante Hania." Caca kembali meyelesaikan membuat kopi.
"Maksud Bunda, apa Martin ada menyampaikan sesuatu kepada Kakak?"
"Tidak ada Bun. Kami hanya pergi ke Butik dan sekarang Martin antar Kakak pulang. Cuma itu." jelas Caca.
"Ya sudah. Tolong diantar kopi dan cemilannya." pinta Bunda Khalisa.
Caca melakukan permintaan sang Bunda sementara Caca beranjak dari dapur, Bunda Khalisa menatap sang putri dengan tatapan panjang.
"Ah Kakakku Sayang. Makasi loh!" Nadhif segera menyambut nampan yang dibawa Caca kehadapan mereka.
"Ini spesial untuk Daddy, No Sugar." Caca meletakkan cangkir kopi tanpa gula di hadapan Daddy Nick.
"Makasi Sayang." Daddy Nick tersenyum menerima kopi suguhan putrinya.
"Buat siapa lagi nih Kak yang spesial?" tentu saja candaan Nadhif mengarah pada Martin sambil melirik sang Kakak.
"Sudah. Kamu senang sekali menggoda Kakakmu!" Daddy Nick sengaja menghentikan candaan Nadhif melihat ekspresi Caca dan Martin jadi canggung.
Setelah menyuguhkan kopi, Caca pamit duluan, beralasan ingin bersih-bersih di kamarnya.
Sementara keempat pria masih duduk di ruang keluarga mengobrol santai.
"Bagaimana kampanye Om?" Martin bertanya kepada Daddy Nick.
"Alhamdulillah selepas kejadian waktu itu, hingga kini semua aman Nak. Oh ya terima kasih ya untuk Daddymu sudah banyak support Om." Daddy Nick sambil tersenyum.
"Sama-sama Om. Insha Allah Martin akan sampaikan kepada Daddy.
"Kak Martin, kapan-kapan Kita hang out bareng lah!" kini Nadhif membuka pembicaraan.
"Boleh." jawab Martin.
"Nah, bagaimana kalau weekend ini, Kita semua golf bareng. Bagaimana Dad? Abang juga harus ikut!"
Nadhif memang sengaja melakukan hal tersebut.
Sesungguhnya Nadhif penasaran akan sosok Martin dan ingin mengenal lebih dalam dengan pria yang sekarang dekat dengan Kakaknya.
Meskipun sang Kakak berkeras tak ada hubungan apapun, namun bukan Nadhif namanya kalau tak Kemal alias Kepo Maksimal.
"Boleh juga. Oh ya ajak Daddymu sekalian Martin." tawar Daddy Nick.
"Iya Om nanti Martin akan sampaikan pada Daddy mengenai ajakan Om." jawab Martin.