ALWAYS LOVING YOU

ALWAYS LOVING YOU
Nasehat Bunda Khalisa



"Jadi kali ini, Kamu punya rencana apa Dhif?" Caca yang sudah sampai menemui Adiknya Nadhif di sebuah restoran.


Semalam Nadhif mengajak kedua Kakaknya untuk bertemu diluar dalam rangka merencanakan surprise anniversary Daddy Nick dan Bunda Khalisa.


Ketiganya memang sengaja bertemu di luar agar tidak bocor dan sukses dalam menyusun rencana untuk kedua orang tua mereka.


"Kita tunggi Abang datang Kak!" Nadhif masih santai menunggi Nabil yang belum tiba.


"Kak, Dhif." sapa Nabil saat sudah sampai ditempat janjian mereka.


"Nah sekarang sudah kumpul semua, Kamu jangan buat Kakak penasaran. Jadi apa rencana Kamu." Caca penasaran dengan ide sang Adik yang sudah heboh.


"Jadi begini Kak, Bang," Nadhif menjabarkan rencana apa saja yang akan mereka lakukan agar surprise anniversary kedua orang tua mereka berhasil dan lancar.


"Nanti, kalau Daddy marah bagaimana?" Caca sedikit khawatir.


"Ya pasti akan marah, tapi kan itu bagian dari rencananya. Tapi tenang saja Kak, setelah Daddy tahu ini bagian dari surprise yang Kita siapkan, pasti Daddy akan memaafkan Kita."


"Kamu tahu Kan Daddy itu posessif sekali pada Bunda. Abang ga tanggung jawab kalo Daddy sampai marah loh!" Nabil yang memasang wajah asam pada sang Adik malah membuat Nadhif tertawa.


"Makanya Bang, pacaran. Jadi tahu rasanya bucin. Ga akan marah Daddy! Percaya deh sama Aku!" Nadhif dengan keyakinan 100% rencananya akan berhasil.


"Jadi, besok Kita mulai jalankan rencana itu?" Caca memastikan.


"Pasti! Nah Abang jangan lupa bagian Abang ya harus gimana soal Daddy. Sisanya biar Aku yang urus."


"Bagaimana?" Nadhif mengangkat alisnya.


"Ok!" jawab Caca dan Nabil kompak.


Demi melancarkan rencana yang kemarin sudah disusun dengan matanh, Caca memulai langkah pertamanya mengikuti plan yang sudah mereka biat bersama.


Tugasnya mudah, Caca mengurus Bunda Khalisa sementara Nabil kebagian menangani Daddy Nick.


Sedangkan Nadhif, hanya ia sendiri yang tahu akan seperti apa eksekusi dari surprise yang mereka siapkan.


Caca saat ini meminta ditemani Bundanya untuk treatment dan Me time bersama.


Kesempatan kali ini, Bunda Khalisa pun berbincang dengan putri sulungnya mengenai banyak hal salah satunya tentang cowok.


"Kak, boleh Bunda tanya?" sambil menikmati massage bersama sang putri tentu saja menjadi moment tersendiri kedua Ibu dan Anak menghabiskan waktu bersama.


"Bunda kayak sama siapa aja. Mai tanya apa sih Bun?" Caca menoleh ke arah Bundanya.


"Kakak saat ini sedang dekat dengan siapa gitu?"


"Pasti Nadhif noh yang bawa gosip ke Bunda?"


Caca langsung menebak bajwa Adik bungsunya pasti membawa kabar macam-macam pada Bunda Khalisa.


Memang petasan banting satu itu ga bisa jaga rahasia.


"Ya bolehkan Bunda tahu anak gadis Bunda saat ini ada yang dekat atau tidak."


"Ya sejauh ini, semua sebatas teman saja Bun. Kakak ga pernah anggap lebih dari teman."


"Kak, kadang pertemanan laki-laki dan perempuan tidak ada yang murni 100%. Terkadang salah satunya ada yang baper. Kakak mungkin menganggap teman dan sekedar sahabat tapi tidak menutup kemungkinan pihak laki-lakinya berharap lebih."


Seperti halnya Cjris yang secara terang-terangan menyukai Caca bahkan pernah mengungkapkan rasa sukanya pada Caca.


Namun memanh sejauh ini Caca hanya menganggap Chris sahabat dan rekan sejawatnya saja.


"Bunda mengerti, saat ini Kakak sedang asik dengan pekerjaan Kakak dan kesibukan Kakak. Tapi Daddy dan Bunda juga berharap Kakak mulai memikirkan masa depan Kakak. Bagaimanapun sebagai orang tua Kami berharap suatu saat Kakak bisa bersanding dengan pria yang sholeh, seiman, dan bisa menyayangi Kakak dan menjadi keluarga Kita." papar Bunda Khalisa.


"Bunda dan Daddy juga tidak akan memaksakan Kakak kepada siapapun, Kakak sudah dewasa, Kakak tentu sudah memiliki pemikiran dan pertimbangan sendiri mengenai pasangan hidup Kakak kelak." lanjut Bunda Khalisa memberikan pandangannya sebagai orang tua.


Caca mendengarkan setiap penuturan Bundanya dengan seksama dan cermat.


Sebagai wanita dewasa, Caca pun terlintas mengenai siapa jodohnya kelak meski saat ini belum terbayang dengan siapa hatinya akan berlabuh.


Banyak teman pria namjn belum ada yang benar-benar membuat Caca bergetar.


Mungkin belum atau hatinya masih bebas dan belum peka akan rasa yang sebenarnya telah ada.


Entahlah.


Terkadang Caca merasakan apakah ia bisa menemukan pria seperti Daddynya yang begitu tulus mencintai tanpa menyakiti.


Bagi anak perempuan, Ayah adalah cinta pertamanya.


Ayah adalah yang pertama memeluk disaat Kita sedih dan senang.


Ayah yang pertama mengajarkan bagaimana melangkah dan menentukan arah.


Ayah jualah yang pertama mengajarkan pengorbanan tulus dan cinta tanpa pamrih.


"Bun, dulu apa yang membuat Bunda yakin menerima Daddy sebagai pendamping Daddy?"


Mendengar pertanyaan putrinya, Bunda Khalisa tersenyum simpul.


Kenangan membawanya pada puluhan tahun silam dimana pertemuan pertama Bunda Khalisa dengan Daddy Nick hingga keduanya menikah dan bersama hingga kini.


"Kamu mungkin masih ingat Ka, bagaimana dulu Daddy melamar Bunda." dengan wajah tersenyum mengingat kenangan tak terlupakan itu.


"Saat itu, Bunda melihat keseriusan Daddy. Kata-kata Daddy, bagaimana Daddy begitu menyayangi Oma dan sangat mencintai Kakak membuat Bunda yakin, bahwa Daddy adalah laki-laki yang bertanggung jawab."


Caca melihat bagaimana raut wajah Bunda Khalisa yang berbinar melalui sorot matanya manakala bercerita mengenai pengalamannya kala itu.


"Bun, apakah bertemu dengan orang yang sama setiap hari, tidak bosan dan apakah pernah Bunda merasa lelah?"


"Bunda dan Daddy juga manusia, tentu Kami pernah mengalami masa-masa sulit, apalagi diawal-awal pernikahan. Menyatukan 2 pemikiran dan menemukan titik tengah dalam segala persoalan yang Kami hadapi, bukan hal yang mudah. Tapi Kami berdua selalu berpegang bahwa menikah adalah ibadah seumur hidup, dalam mengarungi rumah tangga, ibarat di sebuah perahu dimana Daddy sebagai Nahkoda."


"Satu hal perlu diingat, saat menikah Kita berjanji tidak hanya kepada pasangan Kita, tetapi janji kepada sang penciptanya yang terutama."


"Dalam Al Quran Surat An Nisa Ayat 34, Allah berfirman bahwa :


"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."


"Dalam surat tersebut menjelaskan bahwa suami adalah pemimpin istri dan keluarganya. Mereka mengurus berbagai keperluan para istri, memberikan nafkah, dan memimpin mereka."


"Wanita-wanita yang salehah akan senantiasa taat kepada Allah, patuh kepada suami dan menjaga hak-hak suami mereka."


Caca meresapi nasehat Bunda Khalisa dan mencerna nilai-nilai yang disampaikan kepada dirinya.