Aila Ability

Aila Ability
PHASE 9: Cicada Drive



15 Mei 2015


Boston, Amerika Serikat.


 


 


Satu kelompok tim Rescue UG beranggotakan enam orang melakukan misi pengintaian di pelabuhan Boston. Atas perintah Abraham dan karena desakan cabang UG Amerika yang nasibnya di ujung tanduk, mereka menjalankan misi berbahaya.


“Fleiz, kau yakin di sini tempatnya?”


“Ya, menurut intel kita UG cabang Amerika, disinilah tempat aktivitas mencurigakan itu. Lihat, kapal besar yang berlabuh di sana.”


“Ada apa dengan kapal putih itu? Terlihat seperti kapal kargo biasa.” Kata seorang lain. Matanya memicing, berusaha memfokuskan penglihatannya dalam keremangan cahaya.


“Kapal itu hanya berlabuh tiap jam sebelas malam dan berlayar sebelum matahari terbit. Terlebih kapal itu selalu membongkar muatannya dengan penjagaan ketat orang-orang bersenjata lengkap di dermaga ini.” Jelas Fleiz yang mengintai dari samping salah satu peti kemas bersama lima orang anggota timnya.


Ditengah atmosfer keheningan, tanpa sepengetahuan mereka seorang berseragam keamanan menyorotkan cahaya senter, “Hei! Who are you? What are you doing here!?”


Rasa kejut tersisip pada benak enam muda-mudi tim Rescue Nightingale. Mereka menoleh menatap ke pemilik suara dengan mata yang penuh terbuka.


“Penjaga.” Celoteh Rahul pelan di samping Fleiz.


Satu-satunya wanita dalam tim itu, Santi, segera mengepalkan kedua tangannya kemudian menyilangkannya di depan dada.


“What? Where are they? They just disappear?” lontar penjaga celingukan menyorotkan penerangannya ke sembarang arah atas hilangnya enam sosok yang dipergokinya dari pandangan.


Bugh!


Dan penjaga yang  malang itu terjatuh pingsan dengan tertohok sedang senternya menggelinding di lantai dingin beton dermaga. Dilumpuhkan dengan sekali serang namun tidak mematikan.


“Satu pengganggu dilumpuhkan.” Rahul memungut kemudian mematikan lampu senter milik si penjaga yang tak sadarkan diri. Kelima rekan timnya lantas menampakkan wujud mereka kembali di samping peti kemas.


“Itu mereka. Mereka mulai bergerak.”


Selagi mereka mengintai, iring-iringan pasukan tentara hitam turun dari kapal putih bersama dengan belasan truk lapis baja masuk ke dalam sebuah bangunan lima puluhan meter dari dermaga.


“Kita akan masuk setelah rombongan terakhir mereka.” Jelas Fleiz. Mereka berenam menunggu rombongan terakhir keluar.


Selang beberapa waktu, mobil angkut terakhir yang mereka nanti telah usai masuk ke dalam sebuah bangunan gudang.


“Yak, sekarang.” Tanda Fleiz mengayunkan tangan. Lima rekannya sigap mengikuti dirinya. Berlari di belakangnya menyelinap dalam gelap mendekat ke sebuah bangunan dari rangka logam.


Namun rencana tidak selalu berlangsung mulus, atau tidak pernah sama sekali. Kini mereka berenam terhenti di hadapan pintu besi bangunan gudang yang tertutup rapat. Tidak ada cara lain untuk melewatinya kecuali dengan membuat kegaduhan merusaknya. Akan tetapi ... inilah waktu yang tepat untuk menggunakan kemampuan pria berparas oriental dalam tim mereka.


“Jim, giliranmu.” kata Fleiz.


“Oke.” Seorang pemuda berparas Korea merentangkan tangannya kemudian kelima rekannya yang lain saling berpegangan tangan kepadanya.


Sekejap mata mereka berenam telah berpindah ke dalam bangunan.


“Apa ini? Dimana mereka semua?” Celetuk gadis dengan tanda bulatan merah seukuran jempol tangan pada dahinya. Ia sang gadis dari India terheran karena tak mendapati apapun selain ruangan besar yang kosong melompong.


“Posisi siaga!” Seru Fleiz.


Dengan segenap adrenalin yang terpompa mendadak karena seruannya, mereka saling merapatkan punggung berposisi siap bertarung. Kalau-kalau ini adalah sebuah jebakan. Beberapa jeda mereka tetap berposisi waspada; melirik mata, menolehkan kepala. Namun tidak ada tanda-tanda adanya penyerangan dadakan.


“Clear.” Kode Rahul. Mereka berenam menurunkan kewaspadaan setelah memastikan semuanya aman lantas kembali bersikap tenang dalam situasi menyelidiki.


“Pasti ada pintu tersembunyi di sini.” Siswo mengecek lantai di bawah pijakannya dengan mengetuk-ngetuknya. Seperti dalam film-film detektif, ia memasang pendengarannya baik-baik dalam tiap ketukannya pada lantai gudang.


Raihan mengabaikan Siswo setelah lima detik mengamati tingkahnya. Dalam palingannya dia menoleh kepada Jim, “Apa kau bisa langsung membawa kami ke tempat mereka berada?”


“Seharusnya kau sudah tahu kalau aku tidak bisa berteleport ke tempat yang tidak diketahui keberadaannya.” Sanggah Jim membalas tolehan Raihan.


Di lain posisi, Siswo yang telah puas akan ketukannya kini tengah berjongkok mengepalkan tangan, bersiap untuk meninju pijakannya. Ia adalah satu-satunya moodboster dalam tim. Misi sesulit apapun yang mereka alami, pemuda Jawa gemuk bernama Siswo selalu memberikan solusi dengan cara yang tidak diduga. Namun tak ayal juga atas tindakannya ia dijuluki si ceroboh.


“Hei hei tunggu dulu! Siswo!” Cegah Jim seraya melangkahkan kaki dan memajukan tangannya hendak menghentikan tangan Siswo yang akan meninju ke bawah.


Terlambat. Tinju kuat Siswo meruntuhkan lantai bangunan itu diiringi bunyi rekahan menggema. Seperti gundukan pasir yang berlubang di tengahnya―lantai beton retak dan runtuh membawa enam remaja yang tanpa persiapan; jatuh dan bertapak di suatu dasar terowongan besar.


“Santi!” Tanggap Fleiz cepat.


“Aku mengerti!” Santi dengan segera menyembunyikan keberadaan wujud mereka berenam.


“Siswo, kau hampir membahayakan misi ini. Tidak, lebih parahnya, nyawa kita berenam!” Celetuk Jim sewot. Ia memang kawan obrolan dekat Siswo. Walau sebagian besar topik pembicaraan mereka berdua lebih cenderung membahas sikap Siswo yang gegabah.


“Jangan keras-keras, aku berada di sampingmu.” Balas Siswo tenang.


“Waa! Kau ini!” Kejut Jim.


“Kalian berdua diamlah, hidupkan pointrack kalian dan pakai kacamata nighview kalian.” Lerai Fleiz. Mereka tidak dapat melihat wujud satu sama lain. Namun dengan kacamata infrared, mereka dapat sedikit mengatasi masalah itu.


“Aduh, Siswo, kau menginjak kakiku, sialan!” Serobot Jim pelan dengan penekanan.


“Ah maaf, itu aku.” Sahut Santi.


Dalam penglihatan sensor malam, mereka berenam menyusuri terowongan remang. Melewati dinding melengkung yang diplester beton tebal dengan hiasan berderet lampu emergensi kuning. Sesuatu yang pasti dimiliki oleh fasilitas militer rahasia. Markas bawah tanah Anti-Crisis Amerika.


Cukup beruntung, terowongan bawah tanah yang lumayan panjang membuat diri mereka tersamarkan; disamping gema reruntuhan yang tadinya mereka kira akan mengundang perhatian para tentara hitam. Dan itu memang terjadi. Hentakan milik belasan pasang kaki menggaung merayapi permukaan terowongan mendekati mereka.


“Raihan, pindai keseluruhan tempat ini.” Perintah Fleiz. Raihan memejamkan matanya dan berdiam sejenak. Dia mulai memetakan tempat itu dan menyimpannya ke dalam memori otaknya. Raihan, The Perfect Map. Sang navigator handal dalam tim.


“Selesai. Ikuti aku.” Raihan berlari berusaha tanpa bersuara dengan Fleiz di sampingnya serta diikuti tiga kawan lainnya mengekor di belakang mereka berdua. Berlari tak terlihat melewati tentara-tentara Anti-Crisis yang berpapasan berlainan arah. Bahkan ketika para tentara beringas itu menyorotkan cahaya penerangannya kepada tubuh mereka yang transparan karena kemampuan bakat Santi.


Belasan meter lajur terowongan gelap telah terlewati. Dan mata mereka kini disuguhi benderang lampu spot yang terpasang pada tiap-tiap posisi strategis bangunan bergaya kubus.


“Aku mendapati kumpulan aktivitas mencurigakan di dalam sana. Di bangunan yang memiliki garis-garis biru neon tegas itu.” tanggap Raihan.


“Kalian, berpencarlah dua-dua. Kumpulkan informasi. Aku bersama dengan Raihan yang akan menyelidiki bangunan itu.” Fleiz merentangkan kedua tangannya, diikuti dengan berpencarnya Rahul dengan Santi. Sedangkan Jim dengan Siswo ke arah yang berlawanan dengan mereka berdua.


Dalam misi pengumpulan informasi, Fleiz serta Raihan memasuki bangunan yang nampak lengang penjagaannya itu. Dua menit menyusuri, Raihan berhenti setelah masuk beberapa meter di depan persimpangan tiga cabang lorong.


“Di sebelah sana. Terdapat suatu benda, mungkin sebuah mesin yang menghasilkan energi yang sangat besar. Kelihatannya mesin itu memiliki kumparan yang berputar sangat cepat dan memancarkan gelombang yang sangat kuat hingga mengacaukan pemindaianku terhadap tempat itu.” Ungkap Raihan. Dahinya berkerut berkonsentrasi mencoba menerka lebih jelas.


“Jadi kau tidak tahu seperti apa ruangan itu dan aktivitas apa di dalamnya?”


“Ya. Jadi, apa keputusanmu sekarang?”


“Kita selidiki.” Fleiz bergegas memimpin berlari memasuki lorong kedua bersama dengan Raihan.


Di tempat lain, Santi dan Rahul sepuluh meter berseberangan dengan sebuah bangunan putih yang menyerupai tempat penelitian dengan penjagaan ketat oleh tentara Anti-Crisis.


“Bagaimana cara kita masuk ke sana?” tanya Santi di samping pemuda yang cukup berisi namun tidak setambun Siswo. Mereka berdua mengintai dari balik kendaraan militer yang terparkir.


“Dengan pengalihan perhatian.” Rahul mengambil salah satu kotak dari susunan yang berisi amunisi senjata Anti-Crisis di belakang dirinyanya. Dia membentuknya lalu memampatkannya menjadi bola sekepalan tangan dengan mudahnya seperti mainan plastisin. Sedang benda yang disentuhnya menjadi ikut tidak terlihat karena kemampuan bakat Santi.


“Begitu mereka teralihkkan, kita segera lari dan menerobos masuk.” Tukasnya lantas ia lemparkan bola ditangannya dengan kuat-kuat.


Drang!


Rencana sederhananya berhasil, tentara penjaga pintu masuk bergegas menghampiri sumber suara. Membiarkan pintu masuk tanpa pengawasan.


“Sekarang!” Seru Rahul, mereka berdua bergegas masuk ke dalam bangunan.


Di posisi lain, Jim bersama Siswo mengendap-ngendap mengamati gerombolan tentara Anti-Crisis membongkar muatan truk yang turun dari kapal putih di dermaga  tadi.


“Mereka membongkar muatan.” Ujar Siswo.


“Ya, aku sudah tahu. Aku juga melihatnya.” Ketus Jim dengan nada judes.


“Benda apa itu?” lanjut Siswo dengan nada seperti menunjuk sesuatu.


“Yang mana?” Sahut Jim mlengos.


“Yang itu!” tanggap Siswo sebal dengan melemparkan kerikil ke arah benda seperti pakaian robotik seukuran manusia dewasa, menyebabkan perhatian tentara Anti-Crisis teralihkan ke arah mereka.


“Ka-kau gila ya!?” bentak Jim pelan berpenekanan dalam kerongkongan setelah dengan cepat berbalik merunduk bersembunyi.


“Tidak apa-apa, kan, toh mereka tidak dapat melihat kita. Nah, sekarang ayo foto benda-benda itu.” Balas Siswo enteng.


“Aku sudah tahu! Jangan menyuruhku!” Sentak Jim masih dalam desibel suara orang yang ditekan dalam telak kemudian dia melakukan dokumentasi.


Kembali pada posisi sang pemimpin tim, Fleiz serta Raihan telah masuk terlalu dalam. Memasuki ruang mesin raksasa yang nampak lengang tanpa penjagaan.


“Ukh Aaakh ...” Raihan mendadak merasakan sakit di kepalanya. Rintihannya tidak dapat dianggap remeh. Nampak dari nadanya yang terdengar seperti seorang pesakitan akut.


“Kau kenapa?” Fleiz menyentuh pundak Raihan. “Eh? Pundakmu ... astaga! Kita kembali terlihat!”


Mendadak dengan sigap satu peleton tentara Anti-Crisis segera mengepung melingkar, masuk ke dalam ruangan. Senjata api mereka bersiap menembak Fleiz serta Raihan.


“Wah wah wah, apa yang dilakukan pemuda-pemuda AA di tempat ini?” seorang komandan Anti-Crisis, Rou, pria kekar setengah baya berpelindung lengkap maju dan menatap dengan nafsu membunuh kepada mereka berdua.


Fleiz membantu Raihan berdiri dengan meminjamkan pundaknya. Sembari mengerang, dia lantas mengangkat tangannya ke udara, dan karenanya kumpulan tentara Anti-Crisis di belakang mereka berdua terlempar ke atas setinggi lima meter kemudian kembali jatuh.


“Hah? apa yang terjadi? kemampuanku tidak terarah. Jangan-jangan!?” Fleiz mendongak. Memandang mesin generator oval besar yang terpatri di langit-langit setinggi sepuluh meter yang merongrong sebising pesawat.


“Oh, kau sudah menyadarinya? Sayang sekali, itu berarti kau tidak dapat hidup dan jadi spesimen kami. Tembak!”


Fleiz dengan sigap menggendong Raihan di punggungnya lantas merentangkan kedua tangannya, sejurus kemudian dia ayunkan ke segala arah.


Kemampuannya melemparkan para tentara Anti-Crisis tak beraturan ke atas, samping, dan arah lainnya termasuk si komandan Rou. Memberinya kesempatan menggendong Raihan untuk kabur dari tempat itu.


Santi dan Rahul yang tengah berada di depan kurungan sel yang mengurung para anak-anak Aila segera bergegas menghancurkan teralis besinya. Penyamaran tembus pandang mereka belum tersingkap. Membuat anak-anak itu terlihat takut menyaksikan beberapa bagian teralis besi menghilang diikuti suara besi yang dilengkungkan.


“Kalian cepat keluar dari tempat ini!” ucap Santi.


“Si-siapa yang bicara?” Sahut salah satu anak dalam ekspresi takut.


“Tidak penting, segeralah keluar dari tempat ini! AKH!” secara tiba-tiba Santi tertembak suatu pulsar energi berpilin dari samping. Wujud Santi menjadi terlihat kembali begitu pula pada penyamaran Rahul, serta Jim dan Siswo yang berlainan tempat.


Rahul melemparkan teralis besi yang telah dibentuknya menjadi bulatan kepada tentara yang menembak Santi. Mengambil kesempatan sempit ini; anak-anak Aila berseragam spesimen lab yang kusam segera berlari dalam lorong menuju ke luar.


“Santi, kau bisa berdiri?” Rahul mematahkan seluruh tralis besi di sampingnya kemudian membentuknya dan menyatukannya menjadi pedang besar.


“Tidak, sakit sekali. Kakiku tidak bisa untuk berdiri.”


“Aku tidak akan meninggalkanmu. Bila kau tertangkap, maka aku akan bersamamu.”


“Jangan, pergilah. Kau harus sampaikan informasi dan menngantarkan anak-anak itu ke UG dengan selamat.” cegah Santi.


Dalam waktu yang berdekatan, belasan tentara Anti-Crisis datang dan menembak dari arah lorong di mana penembak pertama tadi menembak Santi.


Rahul dapat menghindari tembakan pulsar energi berpilin mereka. Ia segera melompat dan menempatkan tangannya di rangkaian plafon langit-langit dari logam itu kemudian menariknya turun. Meruntuhkan langit-langit tersebut sampai menimpa tentara-tentara hitam bersenjata canggih.


Sejurus kemudian Rahul mengambil salah satu lempengan runtuhan logam langit-langit lantas membentuknya menjadi tameng besar di tangan kirinya.


“Ayo Santi, bangun.” Rahul mengangkat tubuh Santi dengan tangan kanannya.


Tubuh Santi bertumpu pada perutnya di tangan kanan Rahul. Pemuda yang sebangsa dengan dirinya itu kemudian berlari sembari membawa tubuh Santi dengan tameng dikedepankan. Melindungi dirinya serta Santi dari tembakan-tembakan pulsar energi berpilin beruntun tentara Anti-Crisis.


“HYAAAAAH!” Rahul menghantam tentara-tentara di hadapannya dengan tameng di tangan kirinya. Ia berhasil menerobos. Menumbangkan mereka dengan tenaga ototnya.


Namun itulah titik baliknya. Beberapa tembakan pulsar energi berpilin dilepaskan musuh yang telah tumbang; mengenai punggung dirinya yang tanpa perlindungan.


“UKH UHUK!” Rahul terbatuk darah, larinya melambat.


“Sudahlah Rahul, tinggalkan aku!” Seru Santi menitikkan air mata. Namun Rahul masih tetap bersikeras berlari sampai bertemu kembali di ujung lorong jalan keluar dengan kumpulan anak-anak Aila yang baru saja mereka selamatkan.


Rahul menambah kecepatan larinya, “Merunduk!” seru Rahul ke arah kumpulan anak-anak itu. Ia lemparkan tamengnya kuat-kuat ke jalan keluar yang dihadang oleh tentara-tentara Anti-Crisis.


Tameng itu berputar-putar melayang melewati atas kepala anak-anak Aila kemudian menukik menghantam tentara-tentara Anti-Crisis.


BRAK! Tentara-tentara itu terhempas oleh tameng Rahul.


“Lari! Jangan berhenti. Kalian semua akan selamat setelah keluar dari lorong ini. Teman-temanku menunggu!” Teriak Rahul sementara punggungnya terus ditembaki senapan pulsar oleh tentara-tentara Anti-Crisis yang mengejarnya.


***


Di lapangan utama, Fleiz bertemu dengan Siswo dan Jim yang berlari menghampiri mereka, “Jim! Siswo! Kalian tidak apa-apa?! Dimana Rahul dan Santi?”


“Kami tidak bersama mereka.” Jelas Siswo.


“Hei, mereka, kan ...” Jim menunjuk rombongan anak-anak Aila berseragam lab lusuh yang berlari ke arah mereka hendak menuju ke terowongan semula dimana tim Rescue UG datang sebelumnya.


Siswo memapah Raihan dari bopongan Fleiz. Kemudian Fleiz menghampiri anak-anak itu, “Apa kalian melihat dua orang berjubah hitam seperti kami?”


“I- iya. Mereka yang menyelamatkan kami.”


“Di mana mereka?”


“Mereka di sana, masih di dalam bangunan lab.”


Fleiz hendak bergegas setelah mendengarnya namun Jim menghadangnya.


“Biar aku saja.” Tawar Jim kemudian ia melakukan teleport.


Jim telah berada di dalam gedung lab tetapi ia tidak menemukan Rahul dan Santi. Yang didapatinya hanyalah dinding-dinding dipenuhi warna hangus bekas tembakan. Lantas Jim mengambil keputusan untuk berlari masuk lebih dalam.


Tepat keputusannya, Jim menemukan Rahul yang diseret oleh belasan tentara Anti-Crisis. Ia lalu menteleport dirinya muncul di tengah-tengah mereka. Memukuli mereka dengan rangkaian jurus kombinasi teleportnya.


“Hei Rahul! Di mana Santi?” tanya Jim  seusai membereskan musuh yang gampang sekali dikalahkan.


Rahul yang terbaring lemah dengan seragamnya yang berbecak darah menjawab lirih, “Mereka membawanya.”


Jim segera menteleport dirinya masuk lebih dalam ke dalam gedung. Sekedipan mata, pemuda berparas Korea itu muncul di suatu ruangan besar.


“Cih, sial!” seru Jim mendapati Santi dikelilingi oleh puluhan tentara Anti-Crisis yang membidikkan senjata pulsarnya kepadanya.


Dengan geraman menahan giginya untuk tidak saling beradu serta tatapan tajam yang ia tujukan, Jim putuskan untuk kembali menteleport dirinya ke tempat Rahul.


“Apa kau sudah menyelamatkannya?” Tanya Rahul, tapi Jim tidak menjawab. Jim menyentuh Rahul kemudian menteleport diri mereka berdua ke tempat Fleiz dan yang lainnya berada.


“Fleiz! Kita harus segera pergi dari tempat ini!” ucap Jim.


“Di mana Santi?”


“Mereka mendapatkannya!” Tukas Jim sembari membopong Rahul di pundaknya.


“Apa!? Kita harus menyelamatkannya!”


“Tidak bisa! Tidak bisa sekarang!” Cegah Jim menolak keputusan Fleiz.


Mereka masih dalam pertarungan di tempat terbuka, berlima bersama dengan para anak Aila dalam kepungan pasukan Anti-Crisis.


“Apa maksudmu kita meninggalkannya di sini, hah!?” bentak Fleiz mengangkat kerah Jim.


“Situasi kita tidak memungkinkan! Mereka memiliki senjata baru! Terlebih pikirkan juga keselamatan anak-anak ini!” Balas Jim. Mereka berdua saling melotot.


“Sial!” Fleiz menurunkan tangannya dari kerah Jim. “Siswo! Mundur kemari!” Serunya kepada Siswo yang tengah bertarung meninju tangan kosong habis-habisan puluhan tentara Anti-Crisis. Tentara-tentara itu sampai terpental karena saking kuatnya tenaga Siswo.


“Baik!” Siswo meninju kuat-kuat mobil Jeep militer di sampingnya hingga terlempar dan menggilas beberapa tentara.


“Kalian semua! Saling berpegangan berantai! Jangan sampai terputus!” Perintah Fleiz kepada anak-anak Aila berseragam lab dengan sedikit emosi.


Fleiz menggenggam tangan Jim. Siswo yang tiba segera memanggul Rahul dan menyentuh Fleiz. Setelahnya, Jim menggandeng salah satu anak Aila yang menjadi kepala gandengan berantai teman-temannya dan sekejap mereka terteleport, lenyap dari tempat itu.


***


Sehari setelah misi penyusupan.


Boston, Markas Besar Anti-Crisis.


 


 


“Tak kusangka yang menyusup dan mengacaukan markas kita kemarin adalah sekelompok remaja. Seperti gadis ini.” Seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahun mendekati gadis yang terborgol tangan serta kakinya. Yang tak lain adalah Santi.


Ia dengan kasarnya mengangkat dagu si gadis―mendekatkannya kepada wajahnya, “Katakan padaku, di mana sarang tempat teman-temanmu berkumpul serta membawa para spesimenku?”


“Tak−kan kuberi−tahu, pada pria bia−dab sepertimu!” seru Santi terbata-bata, tubuhnya lemah banyak bekas lebam.


“Hm? HA HA HA HA HA HA HA!!” Pria berkaca mata frameless putih tertawa girang. “Sebenarnya cepat atau lambat kami akan segera menemukannya! Saat kami menemukannya, teman-temanmu akan kami jadikan seperti kain pel lusuh!  Akan kujadikan sebagai mainan percobaan lab kami atas nama ilmu pengetahuan! Ya! Kalian adalah tumbal untuk kemajuan ilmu pengetahuan!” Pria itu menjauh dan berlalu dari Santi, melepas kacamatanya kemudian menggantinya dengan kacamata berlensa hitam.


“Komandan Rou, silakan perlihatkan padaku kinerja dari senjata baru itu.” Pria berkacamata hitam kembali duduk di kursi kerjanya.


“Siap, dengan senang hati, ketua Yazkiel.” Tegas seorang laki-laki dalam balutan seragam militer lengkap dengan pelindung anti peluru. Ia pria kekar setengah baya menenteng senjata pulsar energi lalu membidikkannya kepada Santi.


“Buka pintunya. Lepaskan rantai pada gadis itu. Kita coba beri dia sedikit harapan ...” Perintah ketua Yazkiel kepada profesor di dekatnya. “Nah, gadis manis. Silakan coba lari dari tempat ini.” Ketua Yazkiel tersenyum licik.


“Kau akan menyesalinya pria brengsek!” Santi segera memaksakan dirinya memasuki fase kontamin level 4, Pupa.


Tato fase mode kontamin berpendar kuning di dahinya. Santi dengan cepat menghilangkan penampakan wujudnya beserta seluruh benda dan orang yang ada di ruangan itu; bahkan sampai membuat ruangan itu tembus pandang seutuhnya. Membuat pemandangankan lingkungan luar terlihat dari dalam ruangan. Sedang Santi yang berlari menuju pintu keluar hanya terdengar suara hentakan kakinya.


“PROFESOR GAB!!—” Seru ketua Yazkiel hanya terdengar suaranya saja. Panik bukan main.


NGUUUUIIIIIIIING———!!


Sebuah reaktor besar di ruangan itu diaktifkan. Menyebabkan transparansi semua benda di ruangan itu terganggu laksana gangguan pada saluran televisi oleh sinyal yang kuat begitu pula pada transparansi tubuh Santi.


“Di sana kau!” Komandan Rou menembakkan senjata pulsarnya.


“AAAKH——!” Santi tertembak di bagian samping tubuhnya. Jatuh terjerembab sebelum sempat menyentuh pintu keluar. Semua penampakan benda serta ruangan itu lekas kembali semula.


Tepuk tangan tunggal setelahnya menggema di dalam ruangan. “Reaktor serta senjatanya berfungsi dengan baik. Setelah penantian selama sepuluh tahun, inilah revolusi ilmu pengetahuan! Bentuk nyata dari kekuatan manusia! Tuan dari planet ini! Bukan monster seperti kalian, Aila!” Ketua Yazkiel beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil nampak riang menghampiri Profesor Gabriel.


“Profesor, berapa lama lagi sampai reaktor ini siap dibangun di tower itu?”


“Kira-kira sekitar enam bulan lagi.”


“Hmm ... apa kau bisa membuatnya sebesar ini?” ketua Yazkiel menunjukkan ponselnya.


“Itu tidak mustahil tapi kira-kira akan memakan waktu sekitar tiga bulan dalam pembuatan dan peluncuran massalnya.”


“Baiklah. Kita kerjakan! Kita tinggal mengajukan proposal pada dewan PBB untuk menyetujui pendanaannya.” Ketua Yazkiel menari-nari kecil berputar menghentak kaki dalam poros khayalannya.


“Apa Anda memiliki nama untuk versi mikro reaktor ini, Tuan Yazkiel?”


Ketua Yazkiel tersenyum bengis lalu mantap berdiri dalam satu ketukan tumit. “Aku sudah memikirkannya. Nama yang cocok untuk itu. Cicada Drive....”