
Kabut debu perlahan tertiup angin. Berangsur melarutkan tabir misteri dalam hembusannya. Menyingkap tokoh-tokoh yang menjadi sasaran sulur-sulur baja yang tertegang di dalamnya.
Tiga sosok Aila elit UG yang tersisa kokoh berdiri menghadapi empat panglima RR dalam perhelatan kiamat perang Aila Vs Umat Manusia. Delapan kawan mereka tumbang merintih di atas tanah. Meratapi luka-luka serpihan ledakan pada diri mereka. Namun paling tidak, sulur-sulur baja tidak menembus organ tubuh.
Dalam posisinya, pemuda berperisai belulang pipih menyerupai tulang belikat tegap melindungi Mary yang terbaring miring di belakang dirinya. Tiga sulur baja tertegang-menancap pada perisai belulang yang terbentuk dari manipulasi tulang lengan pemuda bernama Charlie itu.
Di dekat dirinya, satu meter di samping kirinya seorang gadis sipit berambut pendek dicat kemerahan menggantung di atas pundak melindungi dirinya sendiri dengan penghapus persegi yang diperbesar hingga hampir menyentuh dagunya. Empat sulur baja menancap pada benda dari latex tersebut. Tiga sulur sisanya bersarang pada pepuingan di kedua sisi mereka.
Erwin yang mendapati serangannya mandul, mendecak kesal. Dia putuskan temali baja yang berpangkal pada sepuluh ujung jemarinya. Kembali dia mundur menjaga jarak dari para Aila elit UG yang masih bertahan.
Mary memandang kawan-kawannya yang terluka. Darah merembesi seragam dan jubah hitam mereka. Perasan tak enak menyayat kalbu Mary. Karena hanya dirinyalah yang selamat dari lontaran serpihan ledakan puing di saat yang sangat terjepit dengan mencipta bola DimentionEater di hadapannya.
Ia segera menyambangai mereka sembari terpampang pada wajahnya raut kesedihan. Tertunduk lesu, berkali-kali dia melontarkan kata maaf atas ketidakbecusannya melindungi mereka. Namun balasan yang didapat bukanlah cercaan. Melainkan penggalan kalimat untuk jangan terlalu mengkhawatirkan mereka. “Lanjutkan, selesaikan, kalahkan mereka untuk kami,” begitu kata mereka.
Urat-urat di antara jarak kedua matanya berkerut. Menahan tekanan emosi pada paras cantiknya. Kemudian Mary mengangguk dua kali sembari berucap, “Akan aku lakukan. Aku akan bereskan mereka demi membalas kejahatan mereka atas kalian.”
Mary memejam mata, udara dihirup mengisi penuh paru-parunya lalu ditahannya. Setelah beberapa saat, dihembuskannya perlahan lantas membuka mata. Tatapan penuh kepercayaan dirinya kembali. Kedua tangannya direntangkan rendah kepada para rekannya yang parah terluka. Sejumlah lingkaran dimensi yang gelap dan pekat merambati permukaan tempat mereka berbaring. Perlahan tubuh mereka tenggelam, seumpama benda yang ditelan pasir hisap. Hingga setelah semuanya Mary teleport kembali ke markas UG cabang Eropa, dia kembali bangkit berdiri lantas melangkah mendekat pada dua rekannya yang tersisa. Charlie serta Xiaoai.
“Laki-laki ledak yang di sana serta laki-laki gondrong cabul, aku akan balas perbuatan kalian pada teman-temanku!” Tantang Mary. Perkataannya yang mengejutkan kedua belah pihak membuatnya menjadi perhatian pasang-pasang mata mereka.
“Apa kau serius, Mary? Melawan dua orang sekaligus?” sanggah Charlie sembari menolehnya.
Mary tak membalas, namun aura dari pancaran matanya sudah dapat memberikan jawaban. Charlie yang memandangnya tertegun, belum pernah dia lihat sebelumnya gadis pirang di sampingnya semantap ini. Kemudian dia melanjutkan, “Baiklah. Kalau begitu aku dan Xiaoai yang melawan wanita kelaki-lakian serta pria dengan kemampuan bakat temali bajanya.”
Xiaoai yang mendengar ucapannya mengangguk setuju. Kemudian Mary menghilang melalui lingkaran lubang dimensi di tempatnya berpijak dan sekejap muncul di sekitar dua pria panglima RR incarannya.
Dua kawan yang ditinggalkannya segera beranjak berlari mencegat masing-masing lawannya. Charlie dengan sepasang tameng belulangnya menghadap pria berbakat manipulasi logam menjadi sulur baja, sedangkan Xiaoai berhadapan dengan wanita maskulin yang bakatnya masih misteri.
Erwin memberikan lemparan senyum lebarnya pada Charlie. Melihat lawannya nampak kuat dengan perisai kokoh itu membuatnya bersemangat. Ditegurnya pemuda yang menunjukkan tatapan waspada pada dirinya itu, “Hei, kau boleh menyerang duluan ...”
Charlie merespon dengan mempertemukan kedua perisainya di depan dada. “Bila itu yang kau mau!” Tulang-tulang tumbuh pada tepian perisainya bagai tanduk dari tulang rusuk. Diterjangnya Erwin langsung dengan perisai lebar berduri tulangnya mendesak ke depan.
Di sudut yang lain, dua wanita beda benua saling menatap sembari berposisi siaga menunggu lawannya mulai bergerak. Wanita maskulin berjiwa pemimpin dengan aura kharismanya berdiri tegap seraya menyilangkan tangan di depan dada sintalnya, “Yang di sana sudah mulai. Kenapa kau tidak menyerang duluan juga?” kata Rossa enteng.
Xiaoai tersenyum kecil, tatapan tajamnya sedikit dikurangi pancarannya, “Kemampuan bakatmu itu sepertinya bukan jenis mutan atau pun creaton. Jika aku ingat-ingat dari serangan bola dimensi Mary yang meleset tanpa terlihat ada pengaruh variabel lain ... bisa dibilang kalau kemampuanmu bukanlah memanipulasi bentuk tubuh atau materi. Kemungkinan yang paling mendekati adalah ... bakat jenis psychic, dan sepertinya bukanlah tipe petarung. Apa aku benar?”
Rossa tertawa kecil. Poni panjang yang menutupi salah satu mata hingga dagunya disibaknya dan berkata, “Kudengar orang Asia itu cerdas. Sepertinya benar. Lalu setelah menebak begitu, kenapa tak segera serang aku saja karena jenis bakatku yang menurutmu bukan tipe petarung?”
“Aku akan memastikannya lebih lanjut. Apakah serangan dalam jarak dekat dapat kau pengaruhi juga.” Tukas Xiaoai. Dia mengeluarkan satu penggaris besi lima belas senti dari jubah hitamnya. Lantas dengan kemampuan bakatnya dipanjangkan serta ditambah ketebalannya.
Xiaoai menghunuskan penggaris besi satu meternya bagai pedang kepada Rossa. Namun dengan sedikit gerakan matanya, wanita panglima RR itu membuat hunusannya melenceng ke samping. Xiaoai tersentak terkejut namun mencoba kembali dengan melancarkan gerakan tusukan secara horizontal beberapa kali mengarah pada diri Rossa.
Percuma, pedang penggaris besinya meleset seolah bergerak sendiri menghindari tubuh Rossa. Sementara wanita panglima RR yang masih dalam posisinya berdiri itu terkekeh geli. “Bagaimana? Sudah puas main-mainnya dengan penggaris besarmu?” katanya sembari berlagak sopan menutupi tawanya dengan sebelah tangan.
Xiaoai mengatupkan giginya kesal. Ia mundur beberapa langkah darinya. Ketika keningnya menekuk beberapa saat, dia akhirnya menemukan jawabannya. “Kemampuanmu itu ... memanipulasi vektor gerak!?”
Lima kali tepukan tangan terdengar. Wanita pirang berahang tegas itu menjawab dalam intonasi yang seperti mendesah, “Pintar ... kamu mengetahuinya sebelum terluka. Lalu, serangan apalagi yang mau kau coba pada diriku?”
“Serangan dari jarak yang amat dekat pun dapat kau hindari. Kalau begitu ... mustahil untuk menyerangmu.” Sadar Xiaoai. Semangatnya luntur, nampak dari genggamannya pada pedang penggaris besinya yang melemah. Tapi tak ingin berputus asa terlalu cepat, dia menyentak memandang Rossa, “Namun bukankah artinya kau juga tidak dapat menyerang!?”
Tendangan keras dari kaki jenjang terbalut jelana jeans yang sobek di lutut bersarang pada ulu hati gadis UG yang tak siap. Rossa berganti tumpuan pada tumit kanannya melakukan manuver berputar. Kembali dia layangkan tendangan keras taekwondonya kepada Xiaoai. Sedang dalam gerak reflek gadis UG tersebut menangkisnya dengan ayunan pedang besi. Namun sekali lagi gerakannya meleset. Tendangan Rossa mendarat pada lengannya hingga membuat Xiaoai terpelanting jatuh.
Di sisi lain, Charlie yang mendengar jeritan sakit Xiaoai menoleh kepada sumber suara. Namun akibatnya, Erwin mencuri kesempatan dengan melilitkan sulur-sulur bajanya pada diri lawannya. Terlambat untuk melepaskan diri, Charlie kini terikat erat tubuh atasnya bagai dinamo yang terlilit kuat.
Di tempat lain, tidak terlalu jauh dari kedua sudut pertarungan sebelumnya. Tepatnya pada halaman White House, sekitar lima belas meter dari kapal induk tempat Abraham menghadapi pertarungannya sebelumnya. Mary dengan nekat menghadapi dua pria tangguh panglima RR seorang diri.
Pria gondrong berbakat Barterport-nya bekerjasama dengan pria ledak melakukan kombinasi serangan. Namun sejauh ini Mary dengan DimentionEater-nya masih sanggup mengantisipasi serangan mereka. Ketika serangan kejutan benda-benda apapun dimunculkan didekatnya, Mary segera bertolak tempat dengan cepat mencipta bola dimensinya menelan dirinya sendiri untuk kemudian muncul di posisi yang lain.
Dalam pertarungan yang rumit, Mary harus benar-benar berpikir cepat melancarkan serangan-serangannya. Disamping salah satu lawannya memiliki bakat kemampuan teleportasi yang dengan mudah menghindari bola-bola pelahap dimensinya―dengan menukar posisinya pada letak benda di sekitarnya yang aman.Walau dengan luka cuilan sebesar bola tenis pada salah satu bahunya, tetaplah Saron si pria gondrong berkemilau coklat seorang lawan yang tangguh.
Oleh karena itu ... Mary melirik tajam pada pria bernama Paul. Belasan bola pelahap dimensi diluncurkan kepadanya. Si pria ledak melepas sepatunya lantas dilemparkan ke arah Mary. Tak berarti apapun. Dengan mudah bola dimensi Mary melahapnya sebelum meledak.
Saat Paul benar-benar terpojok riwayatnya akan tamat dimangsa bola-bola hitam pekat, Saron mendadak muncul dengan serangan tinjunya menohok pipi Mary hingga dia terdorong terjerembab di atas tanah. Pada saat yang hampir berdekatan, bola-bola dimensi Mary meletup lenyap. Paul selamat.
Dalam gerak cepat Mary memicing tajam perhatiannya pada tanah yang hendak dipijak oleh Saron. Dalam gaya dorong tubuhnya yang tak terkendali pria itu bertapak pada bola dimensi yang tergelar pada pijakannya tiba-tiba. Salah satu kakinya terlahap hingga sebatas mata kaki sebelum kemudian dia menjerit pedih berteleport kembali.
“Apa kau mau berikutnya mulutmu yang kurenggut!?” Kecam Mary dengan tatapan dinginnya. Lalu pandangan beranjak ke satu orang yang dia harus bereskan. Langkah demi langkah Mary layangkan mendekat pada Paul yang nampak ngeri menyaksikannya menghampiri dirinya dengan bola-bola dimensi melayang-layang di sekitar dirinya yang marah.
Ketakutan merambati wajah sang pria ledak. Dia merangkak mundur sembari mengucapkan perintah dalam nada getir supaya Mary menjauh. Kedua kakinya nampak tak memiliki tenaga direnggut oleh ketakutan berlebihnya. Kondisinya kini bagai musang yang akan dimangsa ular buas yang sebelumnya dia lawan.
Pada jarak sekitar tujuh meter lagi Mary berucap, “Sekarang aku memberimu dua pilihan, menyerah atau kehilangan sebagian tubuhmu?”
Paul mengisak mohon ampun, bersimpuh layaknya pendosa yang bertobat. Dengan suaranya yang terserak basah dia menjawab, “Ba-baik, sepertinya akan aku akhiri di sini. Maaf kalau aktingku terlalu jelek. Seharusnya kau perhatikan di mana kau berpijak, perempuan!” seringai lebar disunggingkan Paul setelah seringai tawanya berakhir pada kalimatnya. Pada daun telinga kirinya tato aktifasi bakat level 4 pupa berpendar hitam.
Getaran kecil terasa pada permukaan tanah sekitar tempat Mary berada hingga dapat membuat kerikil seperti menari. Kemudian ledakan besar terjadi. Ledakan berdaya ledak setara puluhan dinamit mencecarkan berbagai serpihan material ke berbagai arah gaya. Energinya yang besar menciptakan lubang kawah berdiameter belasan disertai hempas angin ledak yang melempar menggulingkan diri Paul serta Saron.
***
Beberapa menit sebelumnya ...
Sepasang kaki beruang berduri landak menapak pada bidang datar aspal hitam landasan kapal induk. Dua belas meter dari posisinya berdiri, seorang pemuda dengan bekas luka sayat di dahi berdiri tegap memandang langit. Kejedaan sejenak menyelimuti mereka berdua. Menikmati sebentar melodi pertempuran yang samar-samar terdengar hingga mereka berdua kemudian saling tatap.
Abraham yang masih dalam wujud beruang mutan-nya mengawali, “Sekarang tinggal kau dan aku, Jordan ...”
Jordan menghela napas, dibenarkan kerah jubah merahnya dengan kedua tangan, “Tidak Abraham, hanya ada aku ...”
“Aku minta sekali lagi, Jordan. Tolong hentikan perang yang sia-sia ini.”
Jordan memicing, dagunya terangkat sedikit, “Sia-sia? Apa maksudmu?”
“Perangmu ini cuma akan membawa kebencian dan penderitaan kepada kedua belah pihak!”
Jordan termangu dingin. Sesaat dia menatap wajah beruang Abraham yang nampak beringas, lantas dia tertawa geli, “Ha ha ha ha ha! Lagi-lagi perkataan sok pembela keadilan seperti itu.” Dia menghirup napas sejenak, membuangnya lekas dan melanjutkan, “Abraham.... Apa kau lupa mengenai ramalan Arloji Perak? Apa kau lupa perkataannya kepada kita?”
“Pertanyaanmu tidak relevan ...” sanggah Abraham setelah memejam-buka mata.
“Tidak relevan!? Biar kusimpulkan perkataannya! ‘Tiga bulan dari sekarang, para manusia, yang kau bela mati-matian untuk berdamai itu akan meluncurkan senjata termutakhir mereka pada sebuah gedung menara tertinggi di kota ini. Dan saat itulah, genosida kepada seluruh pengidap AA diberlakukan. Kemampuan kita akan tidak berdaya atas senjata itu! Setelah operasi yang mereka sebut sebagai pembersihan terbilang efektif dan sukses di kota ini, mereka akan mendistribusikannya ke berbagai kota besar di dunia. Jika hal itu terjadi, bahkan AA dengan level King sekalipun tak kan sanggup melawannya! Lalu kiamat bagi kaum kita dimulai ...”
Abraham perlahan kembali mewujudkan tubuh manusianya. Tubuhnya berangsur mengecil, bulu duri kembali masuk ke dalam pori, cakar-cakar setajam pedangnya tersimpan kembali seiring dengan tangan tikus mondok berlapis sisik trenggilingnya kembali normal terlapis kulit manusia.
Kemudian ketika wujudnya sempurna, meski separuh wajahnya dari batang hidung hingga ke rahang yang buruk rupa tak terpulihkan, Abraham berkata, “Jordan, kenapa kau tidak lengkap dalam mengutipnya? Apa jangan-jangan kau itu yang lupa? Atau kau sengaja memotongnya pada bagian yang sesuai dengan paham-mu saja? Demi membenarkan segala tujuanmu!?” Abraham kembali melakukan transformasi pada tubuhnya. Kali ini keduapuluh jarinya bertumbuh kuku lengkung hitam sepanjang lima senti milik burung elang.
Abraham melanjut, “Biar kuingatkan dirimu, Jordan. Paragraf terakhir dari ramalan Arloji Perak ... Bahwa akan ada seorang yang mengetahui ramalannya mengobarkan perang kepada umat manusia dan pemerintahan dunia, sebelum mereka mewujudkan kiamat pertama. Namun, setelah dia berhasil menggulingkan pemerintahan manusia, perangnya tidak berhenti sampai di situ. Dia akan mulai mendeklarasikan perang pada sesamanya. Mengancam siapapun yang menentangnya dengan kebinasaan.
“Dan kita berdua sudah tahu pasti siapa orang yang dimaksudnya. Kejadian berikutnya, atas kecongkakan deklarasi perangnya ... King terundang untuk ikut campur. Dengan kekuatan maha dahsyat level tertinggi AA, dia bolak-balikkan daratan. Dan kiamat pun terjadi kepada kedua belah pihak. Manusia dan para pengidap AA binasa.”
Kerutan pada dahi Jordan semakin menjadi setelah mendengarnya. Dia mulai mengambil posisi kuda-kuda. “Lantas sekarang kau memilih mengorbankan kaum kita sebagai yang binasa pada kiamat pertama demi manusia?”
“Tidak, aku memilih untuk menghentikan peperangan antara kedua belah pihak. Melakukan mediasi kepada keduanya. Sehingga kiamat tidak akan terjadi.”
“Dasar bodoh! Hal seperti itu cuma ada di dongeng pihak yang kalah! Mengertilah Abraham! Yang terkuatlah yang akan bertahan hidup di puncak!” Berang Jordan pita suaranya bergetar ngotot. Sebelah tangannya diluruskan terhadap telapak tangannya yang lain, jemarinya membuka menghadap Abraham.
Abraham beranjak dari posisinya, berlari kencang menuju Jordan, dengan beringas menghunuskan kedua tangan bercakar elangnya ke masing-masing sisi dirinya. “Maaf saja kalau aku ini bebal tidak mengerti teori seleksi alammu!―”
Lancaran serangan langsung dengan dahsyat mengempas tubuh Abraham. Bersama dengan kekuatan besar itu, paparan aspal dalam lajur hempasannya terkelupas tercabik melurus bagai dikupas. Terbawa terbang mengikuti gaya besar yang mendepak diri Abraham.
Lima detik berlalu dalam gempuran misterius sang pimpinan RR. Setelah mereda, dengan tanggap ketika ada kesempatan saat tubuhnya terguling pada landasan kapal induk, Abraham segera mencengkeram kedua kaki serta tangannya yang bercakar elang pada aspal keras.
Beberapa detik setelahnya, gempuran kekuatan dahsyat tak kasat mata kembali menerjang Abraham. Paparan aspal kapal induk kembali tercabik terkelupas, terhempas secara horizontal pada lajur tempat diri Abraham berada.
Akan tetapi cengkeraman cakar lengkungnya yang cukup dalam pada permukaan padat landasan menyelamatkannya. Walau badai yang tak terlihat oleh mata menerpanya, tubuhnya yang terguncang-guncang layaknya bendera yang disergap angin ribut kokoh tak terempas. Entah apa kemampuan bakat milik Jordan yang sekilas terlihat hanya mengarahkan telapak tangannya kepada Abraham itu, namun pertanyaan sebenarnya adalah ... sampai kapan Abraham dapat bertahan?