
“Jadi, itu yang terjadi pada misi yang kuberikan padamu?”
“Ya aku sudah bilang, kami diserang oleh sosok misterius. Dan sosok itu berkata bahwa dia anggota RR. Kau tahu tentang mereka kan, Abraham? Aku ingin tahu tentang mereka. Pastinya ini penting karena aku ketua sebuah tim Rescue. Aku harus tahu siapa kawan dan lawan. Ini demi keselamatan anggota timku. Jadi tolong, ceritakan tentang mereka yang sejelas-jelasnya.” Kubenarkan letak kacamataku dengan tiga jari. Abraham memandangku dengan tatapan dan ekspresi yang nampak menahan diri.
“Oke baiklah. Satu anggota tim-mu terluka, dan kalian gagal melaksanakan misi karena mendapat penyerangan dari sosok tak dikenal. Aku minta maaf soal itu. Salahku karena tidak memperhitungkan kemungkinan kalian bertemu anggota RR.” Simpul Abraham sembari menata tumpukan berkas dalam map di atas meja. Sejenak dia menunduk memandang ke arah yang lain. Ketika wajahnya kembali terangkat, Abraham bangkit dari tempat duduknya.
“RR, Orang misterius itu bilang dia anggota Rebellion Rounds. Abraham, aku bukan bermaksud sok ingin tahu, tapi sepertinya RR dan UG saling bersaing dan bermusuhan. Entah apa sebabnya, dan jujur saja aku punya pikiran kalau ini lebih dalam dan rumit dari yang terlihat.” Selaku.
“Pembicaraan kita sampai di sini.” Abraham berdiri membelakangiku, hanya setengah gelengan ketika dia berkata begitu kemudian berjalan menuju pintu keluar dan membuka pintu ruangannya itu.
“Kau memutus pembicaraan begitu saja? Hei, ayolah! Ada apa ini sebenarnya kau tidak mau cerita?” aku yang masih duduk di kursi tamunya mulai gusar sampai-sampai menampar kedua pahaku sendiri. Abraham membiarkanku dengan pendiaman. Aku merasa diremehkan, dan hanya bisa menggeleng kecewa karena tak dipedulikan. Karena jeda antara kami berdua yang menyebabkan ruangan kerja ini menjadi sunyi dan tak nyaman, aku melirik pada tumpukan file di dekatku.
Pemuda yang aku segani itu akhirnya menoleh kemudian berkata dengan menghela napas sebelumnya, bergeming di dekat pintu itu. “Diaz, hidup adalah pilihan. Apapun yang akan kau pilih, kau bertanggung jawab penuh atasnya. Mengenai apa dan siapa mereka, itu diluar urusanmu untuk mengetahuinya. Paling tidak untuk saat ini. Lain kali, aku janji tidak akan membahayakan dirimu dan anggota tim-mu. Kecuali sampai saatnya tiba dan kau serta rekan-rekanmu siap, aku akan ceritakan tentang RR dan hubungannya dengan UG. Jadi, maafkan aku tak dapat menjawab permohonanmu sekarang.”
Aku bangkit dari kursi dan menyibakkan jubahku seraya mulai melangkah, “Ahh, seperti ini lagi. Sudahlah. Terimakasih atas pengertian serta karena telah mendengarkan penjelasanku selama tiga puluh menit. Akan kutagih janjimu untuk cerita setelah waktu yang kau maksud tiba. Itu kalaupun benar-benar terjadi.” Kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan. Baru beberapa pijakanku menghentak lantai keramik di luar ambang pintu, Abraham perlahan mulai menutup pintu di belakangku sambil melihatku.
Aku berhenti sejenak, serong menghadap dan menatap Abraham yang cuma beberapa langkah di balik diriku. Dalam intonasi yang menuduh, kukatakan, sementara pintu itu telah separuh menutup. “Ah ya, Abraham. Aku ingin bertanya. Apa kau punya saudara kembar?”
Dan sungguh, aku tak mengira Abraham akan terhenyak mendengar kalimatku. Ekspresinya berubah total terkejut sementara pupil matanya membesar dan aku tak kalah sama melihatnya begitu. Dengan dada yang agak seperti tersengat sesuatu, kulanjutkan langkahku seraya memicingkan mata. Kemudian kudengar pintu di belakangku menutup sepenuhnya.
***
4 Juni 2015
Akhirnya, minggu yang tenang untukku tiba juga. Minggu tanpa misi dan pertarungan yang melelahkan. Yah, mungkin nanti aku harus berterimakasih pada si bocah api karena dirinya yang terluka, maka tim kami diliburkan dari misi sampai kondisinya pulih.
Maka saatnya menuju ke Kebun Kaca dan bersantai di tepi danaunya sembari bermain dengan Hariz. Oh, aku tidak melihat George pagi ini, tumben sekali. Biasanya dia membuat kegaduhan dengan mencari diriku sambil memanggil-manggil ...
“Master! Master!”
“Eh?” Suara yang tak asing itu lama-kelamaan semakin jelas mendekat bersama suara hentakan lari.
George yang mengenakan kemeja putih kasual UG menyusul, menghadangku, “Master!” napasnya ngos-ngosan, “where will you going to? and why you wear Rescue’s team black robe?”
“Aahh, it’s because ... because ... it’s for preparation! Yeah right, we must be standby and ready whenever and however situation we will get.” Alasanku kepadanya, karena sebenarnya aku cuma tidak ingin terlihat sedang menganggur. Lagipula aku terlihat lebih keren dengan mengenakan jubah hitam tim Rescue ini.
“Woaah ... that’s my master! Cool, I will always be near you so I could take any advice and lessons from you, Master!” Ucap George bersemangat sambil mengepalkan tangan.
Oh sial, cepatlah dewasa nak, batinku.
Jidatku kutepuk, “Alright-alright, now follow me walking to Mirror Garden.”
“What we will do? It must be the next hard practice, right Master?”
Kutekuk dan sandarkan santai kedua lenganku di belakang kepala, “Hmm no no no ... we will just having fun and chill out our body.”
“Ah, I see Master. You mean that it is important to relax and refresh our body after passed the long fight!”
Aku tersenyum, “Yeah! That is what I mean!” sementara dalam hati aku berkata, terserah kamu George, terserah kamu ....
Kami telah menempuh setengah perjalanan, dan dari kejauhan kudapati dua sosok orang tengah berdiri melakukan sesuatu di pesisir danau itu.
“Sepertinya sudah ada yang mendahului kita bersenang-senang.” Ungkapku kepada George. Lupa bahwa ia tak mengerti bahasa ibuku.
Salah satu sosok itu bertubuh pendek dan kurus, ia sosok anak kecil kira-kira lebih pendek sepuluh senti dari George mengayunkan kail pancing, sementara sesosok yang lain kira-kira setinggi gadis remaja yang baru lulus sekolah menengah pertama tengah me- emm ... bagaimana menjelaskannya, ya?
Sosok yang terakhir melecutkan listrik ibarat sebuah cambuk panjang ke permukaan air danau yang lumayan jauh dari tempat mereka berdiri dengan girangnya. Dia seorang gadis berjaket tudung dan mengenakan celana jeans pendek setengah paha nan sempit. Gadis itu tertawa riang menyaksikan ikan yang menggelepar-lepar terbawa ke pinggir danau tersetrum olehnya. Sepertinya, dia tidak menyadari kehadiran kami berdua.
Kusapa dia dari tiga meter jaraknya, “A- Aiko. Kamu sedang apa?” tegurku sedikit takut dan sungkan.
“Kya ha ha ha! Ha? Aaaaakh!?” Aiko menjerit setelah menoleh kepadaku. Kegembiraan di wajahnya seolah-olah terserap oleh tegang. “I-ini tidak seperti yang terlihat! To- tolong jangan beritahu siapapun, ya!?” Aiko menghentikan aktivitas mencambuknya dan pipinya merona malu. Telunjuknya menunjuk ke arah wajahku, “Yang lebih penting, kenapa kau kemari? Apa tim-mu sedang tidak ada misi hari ini juga?”
Dengan tenang kuangkat rendah dan remeh ke samping kedua tanganku, “Ya begitulah. Kami berdua kemari karena ingin bersantai.”
“Ha!? Bersantai saja sana di tempat lain, bodoh!” Aiko menyilangkan tangan.
Telapak tangan kiriku kuletakkan mengerucut di samping telingaku seraya mendekat padanya, “Haah!? Apa? Apa aku salah dengar? Kenapa kau melarangku? Memangnya ini tempat pribadimu hah!?”
“Jangan dekat-dekat bodoooh!” Seru Aiko setelah menamparku.
Aku mengelus-elus pipi terkejut mundur, “Aduduh, aku tidak pernah bertemu gadis SMP segalak dirimu sebelumnya.”
“Apa kau bilang!? Aku bukan gadis SMP! Aku tidak pendek dan aku lebih tua setahun darimu, tahu! Kamu memang bodoh sampai lupa hal itu!” Aiko kembali menunjuk wajahku. Tatapannya tajam mengancam.
Dahiku mengernyit, “Tapi aku kan tidak bilang kalau kau pendek ...”
Pipi Aiko semakin memerah sedang bibirnya bergerak-gerak jengkel, “Itu kau barusaja bilang, mata empat bodooh—!”
“UGYAGH! Ohok!”
Aiko telak menendang perutku. Kalau saja aku ini ibu-ibu hamil, pasti aku sudah mengalami keguguran hebat. George serta Hariz terdiam melihat kami berdua. Mereka saling bertukar pandang sementara aku membungkuk menderita kedut nyeri dan mulas di perut, dan Aiko malah menimpali aku yang kesakitan dengan omelan dalam bahasa yang tak kumengerti.
“Are they usually doing this kind of stuff?” kudengar tanya George pada Hariz yang berada di sampingnya hanya memiringkan kepala tak paham.
Kulihat George mendekat ke gadis kasar itu, “I am sorry miss. Please don’t be so rude to my master.” katanya menarik-narik lengan jaket Aiko.
Omelannya padaku berhenti. Ia melihat George dan nampak gelagat grogi di wajahnya, “Ah emm ... eto ne, I kan noto supiku eigo ... ano ... gomen, ehehe?” katanya terbata seraya menggaruk-garuk pelipisnya dan menyengir.
“Excuse me. I am sorry, what do you mean?” pandang George heran.
“She don’t understand English, George. May be she is stupid.” Terangku yang meringkuk di atas pasir memerhatikan mereka sambil mengusapi perutku yang panas.
Tapi Aiko mendadak marah dan menyepak pasir hingga menyambar mukaku dan masuk ke mulutku lalu katanya, “Ma ... ii. Boku wa ei-go ga wakaranai.” Dan dia mendecak lidah memaling pandang setelah melihatku kelabakan menyingkarkan pasir di lidahku.
“Dan kami bertiga tidak mengerti bahasa Jepang!” Balasku seraya mencoba bangkit dengan perasaan luar biasa dongkol dan tak dapat kutahan ekspresiku yang memandangnya dengan sekepalan kesumat.
“Semuanya di sini, asyik. Kakak, ayo kita main bersama.” Ungkap Hariz tersenyum lebar. Tak paham situasi.
“Kakak juga mau, tapi di sini sangat membosankan. Mau main apa pun juga tidak akan seru. Seandainya kita dapat ijin keluar sebentar ke taman hiburan kota dekat sini....” Aiko mengelus-elus kepala Hariz. George yang iri melihat Hariz kemudian menatap wajahku dengan mata memelas.
Dan aku melihatnya curiga. “Hm? O o, no no George. I will never do that to you.” Tanganku mengibas-ngibas tak mau lalu George menunduk kecewa. Tapi karena tertarik oleh keinginan Aiko, dan juga aku ingin keluar dari fasilitas UG yang super ketat ini kukatakan saja, “Sebenarnya kita bisa keluar dari tempat ini tanpa ketahuan.” Ungkapku menghadapnya.
Aiko tegas menoleh padaku, “Hah? Yang benar, mata empat!?”
“Yah, jalan keluarnya ada di dasar danau ini.” Tunjukku ke arah danau.
“Kau bercanda!” Serunya tak percaya. Keningnya menggurat pesimis dan tatapannya seolah-olah ingin melukaiku.
“Aku serius! Tapi jika kita ingin benar-benar pergi, sebaiknya kita minta ijin dulu ke pak Nawal supaya dia tidak membuat kericuhan karena mencari anaknya Hariz.”
“Hmm baiklah. Ayo Hariz kita minta ijin ayahmu dulu. Mata empat, awas ya kalau bohong! Tinjuku menantimu!” Ancam Aiko seraya mengangkat tinjunya ke dekat wajahku kemudian pergi menuju Kebun Kaca.
“Deal, kau dapat pegang ucapanku.”
Sikapnya itu ... sebenarnya dia gadis atau preman sih? Batinku.
“What are you two talking about, Master?” George mendekat ke hadapanku. Menengadah menatapku dengan binar mata polos kekanakan, setelah Aiko dan bocah cilik Hariz berlari kecil ke Kebun Kaca.
“Hm? We will go to amusement park, George. Even though I don’t know where, but she seems know the place somewhere out here.”
George bersemangat menjawab, “Woa!? For real? Cool! That’s what I wish from so long. Going together with master. But ... did Abraham permit us, Master?”
Kedua bahuku mengedik, “Of course not. We will sneak out like a Ninja for well.”
“Ooh! It’s so challenging! But ... where is the way we will get out from this place?”
“What!?”
***
“Uugh, tidak dapat dipercaya kita benar-benar berjalan di dasar danau.” Ungkap Aiko, sepasang matanya yang berkilat coklat gelap memerhatikan sekeliling. Cahaya matahari berkilauan di permukaan danau, menerus mencapai dasar yang kami pijaki. Menggelombang melayang laksana tirai-tirai raksasa. Kami berada di dalam kubah kristal bakatku menyusuri dasar danau yang sedikit berlumpur dan berbatu dengan tetap kering.
Dengan perlahan kami melangkah maju disertai kubah kristal yang melindungi kami dari timpa dan tekanan air danau. Pinggiran luar kubah bakatku menyapu lumpur di jalannya sehingga permukaan dasar danau yang terdapat di dalam kubah hanya tersisa lumpur setebal satu senti. Meski sepatu kami menjadi kotor dan kurang nyaman digunakan berjalan, tapi tak apa karena ini memang sudah resiko.
“Woah, cool! This is look alike we are inside the giant dome of glass in Seaworld!” Kedua telapak George menempel kagum pada tepi dinding kubah kristal bakatku. Wajahnya rapat ke permukaan licin bertekstrur hexagon itu, mengamati dunia bawah air danau yang airnya agak keruh ini. Yang kedalamannya dangkal sepuluhan meter.
“Learn this, George. My special gift could be transform into any shape and pretty usefull. The limitation is our imagination. So you too, must be creative.” Jelasku bangga dan dengan tetap meluruskan salah satu tanganku ke depan.
“Mata empat, darimana kau tahu jalan keluar tempat ini tanpa tidak diketahui oleh Unit Kamuflase?” Aiko mendekat ke sampingku.
“Yah, aku suka kelayapan keliling UG. Menjelajahi tempat-tempat yang jarang ditongkrongi pendatang baru atau yang lain. Jadi, suatu ketika aku tidak sengaja menemukan tempat ini. Waktu itu sih aku iseng menyelam ke dalam sini. Ha ha.”
Walau sebenarnya aku tahu dari seleberan denah dari tumpukan file di meja kerja Abraham yang kuambil tanpa sepengetahuannya saat itu ...
“Sepertinya kita telah sampai.” Ungkapku sembari menatap lubang yang menganga sempurna vertikal mirip gua di hadapan kami. Arus air bawah danau nampak terhisap ke situ.
“Woaa ... gede.” Celetuk Hariz.
Aiko bergerak ke depan, “Jadi, ini jalan keluarnya?”
“Ya.” Kedua alisku terangkat. Agak merasa takut dan kurang yakin.
Tapi ketika aku tengah berpikir langkah apa yang paling aman untuk kami memasukinya, Aiko yang berada di sampingku lekas melangkah mendahului kami paling depan sementara kepalan tangan kirinya memercikan listrik biru, “Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo cepat kita ke taman hiburan!”
“Hei hei tunggu!” Aku segera menyusulnya, kalau tidak bisa-bisa dia membentur batas kubah ini. Atau dia akan melakukan hal sembrono seperti misalnya meninju kubah kristalku lagi.
George serta Hariz menyusulku. Kami berempat melangkah cepat menyusuri gua bawah air yang gelap dan membuat merinding. Aiko nampak paling antusias dengan berada paling depan hendak ingin menjadi orang pertama yang menapaki jalan keluar.
Secercah cahaya selain dari kepalan semburat elektrik Aiko mulai terlihat dari ujung tempat yang kami tuju. Semakin kami mendekatinya, tinggi permukaan air berangsur surut hingga semata kaki. Lekas sewaktu genangan air benar-benar tipis, langkah Aiko kian terdengar nyaring dan bersemangat mendekat ke tepi kubahku, dan secara tiba-tiba kudengar dia melompat dan meninjukan kepalan tangannya yang berpercik petir itu ke depan.
PRANG! Nyaring pecah suara itu seolah-olah menghisap darah dari jantungku.
“Yaha! Aku yang pertama!” Serunya senang sambil keluar dari kubahku, melangkaui rekah besar pecahan yang dibuatnya.
“Apa dia benar-benar Aiko?” Kisuhku. Sifatnya benar-benar berubah 180 derajat. “Ayo George, Hariz, kita susul dia.” kuhancurkan kubah pelindung kami kemudian berlari dengan susah payah menapaki batuan terjal yang dialiri air celah-celahnya searah tujuan kami.
Aiko yang berada jauh di depan masih tetap berlari dan telah terpapar oleh terang cahaya luar dari mulut gua, “Cepat dong! kalian lambat sekal-”
“Hm? Kok jadi tenang?” heranku yang tertinggal cukup jauh. Kucari sosok Aiko di depan sana. Sedetik tadi dia masih ada sembari bercoloteh dan sekarang ... tunggu, ja- jangan-jangan? Kulangkahkan kakiku cepat melompati batu-batu terjal menyusul tempat Aiko terakhir kali terlihat kemudian meloncat pada batu paling tinggi dan-
“Aaaaaa!” Aku terjungkal jatuh dari lompatan terakhirku. Rupanya ujung tempat kami keluar tadi ialah gua sebuah tebing batu.
“Master—!” George berseru meneriakiku. “Did you see that?!” celetuk George kepada Hariz.
Aku menemukan sosok Aiko beberapa meter di bawahku diselimuti percikan listrik biru. Tunggu dulu, dia terlihat mendekat naik?
Aiko mendaki zigzag menuju diriku dengan menggesekkan petir di kakinya pada udara. Kecepatannya tak berkurang.
“Aiko! Awas!” seruku panik. Namun tak terhindarkan, kami berdua bertubrukan kemudian meluncur jatuh bebas. Di bawah kami membentang sebuah sungai besar yang tak kelihatan dasarnya. Kucipta bola kristal dari bakatku segera mengurung kami berdua. Jatuh terjebur besar lekas mengambang terombang-ambing sejenak.
Aiko mengelus jidatnya, “Aduduh, mata empat! Apa-apaan sih!?” ungkapnya marah, menindihku sembari mencekik kerahku.
“Oke oke oke ini salahku, tapi yang lebih penting jangan berdebat saat keadaan kita seperti ini!”
Tepat setelah aku berkata, sebuah benturan hebat menyentak bola pelindung kami sehingga kami kembali tenggelam, saling berguling serta menindih tanpa sengaja aku menekan dadanya kemudian kami lekas menyembul lagi ke permukaan dan hanyut perlahan oleh aliran sungai. Dengan prasangka dan gerundelan dalam hati kupandangi bola kristal keunguan yang dekat mengapung di hadapan kami sementara Aiko memaki dan menampari belakang kepalaku.
Sesampainya kami merapat ke hilir, kupastikan kami telah benar-benar terdampar tak akan terhanyut baru kupudarkan bola pelindungku dan setelah kami berdua memijak, Aiko masih saja kesal padaku. Kukatakan lagi maafku tapi dijawabnya dengan cibiran bahwa aku ini mesum dan cari-cari kesempatan dan bahwa dia membenciku.
Aku yang memang merasa bersalah hanya diam berdiri menerima kekesalannya dan menghela napas pasrah.
“Kak Aiko, di mana taman hiburannya?” tanya Hariz sembari menarik-cubit jaket si gadis listrik tukang omel.
Aiko mengusap lembut kepala Hariz yang berpotongan nyaris pelontos itu, “Iya, kita ke kota dulu ya, nanti langsung deh ke taman hiburan.” Dia menoleh padaku, “Mata empat, lepas jubah Rescue-mu.” Lanjutnya.
“Ha? Memangnya kenapa?” tolakku seraya mundur.
“Kau mau menarik perhatian di kota, hah!? Sini cepat lipat dan kumasukkan ke saku dalam hoodieku.” Perintahnya lekas menjulurkan tangan meminta.
“Oke oke” ucapku malas kemudian menyerahkan jubahku kepadanya.
“Yeah Master, now we wear the same clothes; we are a couple.” Sahut George dengan mengacungkan jempolnya kepadaku.
Kutatap dia tak berselera seraya membatin. Bagus, sekarang kami terlihat seperti kakak beradik beda ras.
***
Di keriuhan para pengunjung, Hariz menggenggam erat tangan Aiko, menariknya berlarian dari satu stand ke stand lainnya; mencoba permainan-permainan ketangkasan khas taman hiburan. Mereka kelihatan bahagia, senyum lepas Aiko dan Hariz menjadi pemandangan yang menyenangkan hati.
Namun, aku tak dapat terikut tersenyum. Hanya segurat saja sebagai penyamaran bahwa aku juga menikmati suasana saat mereka berdua sesekali melihatku dan menyapa pun aku menyapa balik. Sebab, seorang anak di sampingku, yang pembawaan sifatnya mirip denganku, seolah menjadi pengingat sosokku dulu sewaktu tragedi mengerikan enam tahun lalu.
“George, why don’t you join them?” kataku. Penasaran mengapa dia tak ikut mereka berdua.
George yang sedari tadi hanya bersamaku, memerhatikan mereka berdua dari jauh. Menemaniku berdiri. Menambang kesepian. Tak berniat tak bergairah ingin berbuat apa.
“How about you, Master?” jawabnya, menengadah menatapku dengan mata birunya yang sayu.
“Don’t mind me, I could enjoy myself by just seeing your happiness.” Aku tidak percaya mengucapkannya. Tapi nampaknya ucapanku barusan dapat membuatnya tersenyum. Meski kerak kesedihan tak hilang benar dari parasnya.
“Thank you, Master.” George menunduk, nadanya sedikit turun, “You are the best father I could have ...” Ungkapnya, mendadak berlari menghampiri mereka berdua yang sedang melakukan sesuatu di salah satu stand permainan ketangkasan. Meninggalkanku dengan serumpun rasa bingung dan terkejut yang ganjil tanpa sempat kutanyakan kalimatnya barusan.
George menyapa Aiko di sana. Gadis itu berbalik, melihat bocah bule itu kelihatan berusaha menjawab tapi nampak gagap. Namun, Hariz yang mendekat dapat mencairkan suasana dengan menyodorkan senapan mainan dari kayu kepada Aiko dan George.
Aku hanya memandang mereka. Memicu kenanganku yang ingin kulupakan dan kubur namun kembali sesaat aku teringat akan sosoknya. Sosok gadis ceria bergaun putih yang bercengkrama dengan dua bocah laki-laki usil tertawa bersama di hiruk pikuk taman hiburan.
Pandanganku yang mulai tersamar dikelebati oleh kilas balik menyesakkan dan memberati pelupuk mataku membuatku tersadar paksa sehingga kuputuskan sebaiknya untuk menghampiri mereka.
“Aaaah! Padahal tadi hampir kena! Aduuh, itu tembakan terakhirku ...” Keluh Aiko pasrah karena tembakannya meleset beberapa mili dari sebuah kotak kardus kecil seukuran ponsel yang berisi jepit rambut bentuk lebah madu yang keemasan.
“Permainan menembak, ya?” sapaku kepada Aiko. Dia hanya melirikku tanpa bersuara. Pandangannya kembali tertuju pada kotak kecil di rak sasaran tembak itu.
“Kak kak, ayo kak naik itu.” Hariz mencolek Aiko, menunjuk suatu roda putar besi raksasa dengan riasan lampu warna-warni di konstruksinya. Lantas ia menyambut dengan melihat ke arah yang ditunjuk Hariz.
“Veris wheel ya? Oke, mari kita naik bersama. Forou mi, George.” Ajaknya sembari tersenyum. Bahasa inggrisnya terdengar sedikit aneh.
“Master, come on join us.” George meraih tanganku hendak menarik diriku untuk ikut bersama mereka bertiga. Tubuh kecilnya sedikit terhentak karena tertahan sesuatu. Tertahan tubuhku yang tak mengikuti pergerakannya.
“No, I’ll be wait here.”
Aiko menimpali, “Hm? Ada apa? kau takut ketinggian, mata empat?”
“Bukan, yah, hanya saja aku ... tidak ... aku mau coba stand lain sekalian berkeliling mengawasi sekitar. Siapa tahu ada intel tentara Anti-Crisis di sini.” Mulutku terbuka tapi susah sekali bagaimana menjelaskannya. Aku tak menatapnya langsung. Meski untung aku dapat beralasan.
“Hah? Yasudah.” Aiko menggandeng kedua bocah itu menuju wahana veriz wheel. Tinggal aku sendiri di depan stand menembak. Pandanganku tertuju pada benda yang sangat diinginkan Aiko.
Jepit rambut? ternyata dia punya sisi feminim juga. Kurogoh saku kantong celanaku berharap menemukan beberapa lembar rupiah. Dan benar aku menemukannya―sepuluh ribu rupiah. Sisa uangku semenjak terakhir serangan di sekolah.
Kami para Aila UG tidak mendapatkan penghasilan uang karena terisolasi dan tidak bekerja secara jelas. Tidak ada sumber pendapatan. Seperti hidup dalam kandang dan hanya melalui hidup seperti aliran air disamping sandang dan pangan kami terpenuhi oleh sumber daya yang dimiliki empat markas besar UG. Kalau begitu ... lantas darimana gadis itu memperoleh uang?