Aila Ability

Aila Ability
PHASE 5: Kebun Kaca



“Jauh benar ...” Keluhku dengan napas terengah-engah setelah berjalan sejauh seratus meter dari gedung pusat UG menuju kepada gedung beratap dan berdinding kaca. Sepanjang perjalanan di samping kiriku terhampar danau dengan dasarnya yang tidak terlihat. “Sebenarnya seberapa luas tempat ini?” Gerutuku seraya terus berjalan.


Sekiranya lima belas menit telah berlalu. Otot-otot kakiku mulai berkontraksi menegang. Ini memang salahku karena terlalu lemah jarang berolahraga. Sewaktu di sekolah tiap kali uji materi lari satu putaran lapangan bola pasti aku yang terbelakang. Bahkan Bintu yang bertubuh subur memiliki stamina yang berlebih dengan konsistensi larinya di atasku. Yah, walaupun demikian paling tidak aku sampai finish juga.


Aku berbaring di atas jalan beraspal di depan sebuah gedung kaca. Hidungku kembang-kempis, mataku menerawang putih langit serta mulutku terbuka menyaruk udara kasar, “Akhirnya sampai juga,” dengusku melepas rasa pegal bersamaan dengan udara yang kubuang melalui mulut.


Namun tak berlangsung lama seorang pria empat puluhan tahun mendatangiku. Memotong momen-momen santaiku yang cuma seumur tarikan napas.


“Nak, sedang apa di sini? sepertinya saya belum pernah melihatmu sebelumnya.” Tegurnya.


“Aaah ... saya sedang jalan-jalan.” Alasanku sembari menyeka keringat di keningku. Sebuah penyampaian kalimat dalih yang jadul. Aku mengangkat tubuh atasku dari pelataran aspal kemudian berdiri menghadapnya.


“Ooh. Kalau begitu mari masuk. Mau membantu juga boleh.” Ajaknya mempersilakan. Beliau mendorong masuk pintu kaca berbingkai alumunium itu.


“Ya, terimakasih.” Aku mengikutinya masuk setelah melayangkan senyum simpul basa-basi keramahan palsu. Meski dalam benak ini ada rasa kesal karena masih capek tapi malah disuruh membantu. Tapi yang kuhadapi setelahnya, menyirnakan prasangka buruk itu.


“Hee ... jadi gedung ini ternyata green house, ya?” ucapku polos menelisikkan pandangan ke seisi tempat ini. Aku memang jenis orang yang mudah tertegun jika berhadapan dengan sesuatu yang belum pernah dilihat mataku sebelumnya. Apalagi jika itu berbau dengan hal-hal yang keren menyiratkan keagungan.


“Ya, benar. Ini gedung Mirror Garden. Kebun Kaca. Tempat menyediakan bahan makanan terutama sayuran dan buah untuk para penghuni UG seperti dirimu.” Terang pria berjanggut hitam diselingi uban itu.


“Ah, namaku Diaz.” Aku mengulurkan tangan. Bersikap lebih sopan kepada seorang yang lebih tua. Salah satu caraku untuk beradaptasi dengan meminimalisir masalah karena gesekan atas kesan orang lain pada sikap asliku yang kurang ramah.


“Saya Nawal, petugas gedung ini.” Tanggapnya menyambut jabat tanganku.


“Apa bapak juga seorang Aila?”


“Bukan, saya hanya orang biasa.” Jawabnya kemudian mengangkat karung pupuk.


“Ah, biar kubantu.” Kugunakan bakatku. Memerangkap beberapa karung pupuk dalam bola plasma padatku kemudian mengangkatnya beberapa meter dari permukaan tanah.


“Terimakasih.” Ucap beliau.


“Mau taruh di mana?”


“Di sebelah sana. Di bagian kebun sayuran.” Sahut Pak Nawal.


“Baiklah.” Aku mengikutinya dari belakang. Ah, dengan ini aku menambah daftar kegunaan bakatku. Mengangkut barang-barang tanpa menyentuhnya apalagi sampai mengeluarkan tenaga otot: cek. Tapi tunggu dulu, entah sejak kapan aku mulai membuat daftar yang tidak pernah kumulai ini. Lupakan, lupakan. Ini bukan waktunya untuk bercanda dalam benakku sendiri.


Kembali berfokus pada realita, Mirror Garden ini cukup luas. Gedung setinggi kira-kira sepuluh meter ini terbuat dari kaca dinding maupun atapnya dan hanya beberapa bagian yaitu pilar kolom atau rangka bangunan yang terbuat dari beton. Sehingga memungkinkan sinar matahari masuk dengan leluasa.


Petak-petak kebunnya bertingkat dua. Bagian yang terbawah bersentuhan langsung dengan media tanah sedangkan tingkatnya terdiri dari rangka baja dan beton yang dibuat sedemikian rupa untuk menampung tanah sebagai media tanam serta terdapat pula yang dibuat seperti cekungan parit selebar tiga puluh senti dialiri air sebagai media tanam hidroponik.


Ah, ada juga sayuran yang digantung dengan pot berlubang memanjang. Akarnya dibiarkan menggantung di udara. Petugas kebun yang lain menyemprot akar tersebut dengan suatu campuran keruh. Mungkin pupuk cair. Benar-benar kebun yang keren, pikirku.


“Taruh di sini saja.”


“Ah, ya.” Kata-kata pak Nawal menghentikan eksplorasi mataku. Kemudian aku menaruh karung pupuk-pupuk itu pada tempatnya. Kutebah tanganku selayaknya sehabis bersih-bersih, walau sebenarnya aku tidak perlu melakukannya. Lalu sifat alamiahku yang lain kembali muncul lantas aku berkata, “Maaf, apa saya boleh bertanya sesuatu?”


“Ya, boleh. Tanya apa?” jawab pak Nawal dengan suara beratnya.


“Bagaimana bisa bapak berada di UG?” tanyaku sambil membetulkan letak kacamataku. Pak Nawal menghentikan aktifitasnya sejenak setelah mendengar pertanyaanku. Roman mukanya berubah menjadi mendung.


Apa aku berdosa, ya? Menanyakan suatu hal yang bersifat menusuk ulu hati?


Pak Nawal sejenak memalingkan pandang dariku. Ia menatap karung-karung pupuk yang kutaruh tadi seperti mengumpulkan ingatan dalam jeda lamunannya, kemudian ia bercerita.


“Saya dan keluarga yang tidak memiliki bakat ... dengan kata lain orang biasa ini, dulunya adalah orang-orang yang tidak mendapat perhatian pemerintah. Hidup kami sulit, ditambah dengan sukarnya mendapat pekerjaan di kota. Kemudian pada suatu malam sekitar dua tahun lalu ... ketika anak saya Hariz yang saat itu berumur lima tahun mengalami sakit demam yang tinggi, saya kebingungan untuk mencari pertolongan.


“Semua rumah sakit di kota dan puskesmas tidak menerima orang seperti kami sebagai pasiennya. Saya sudah putus asa pada malam itu. Di tengah malam dan hujan lebat saya membawa Hariz di pundak menyusuri hutan. Hendak mengakhiri hidup kami berdua.” Kata-kata pak Nawal sontak mengejutkanku. Aku memandang beliau dengan tatapan tidak percaya. Beliau berhenti sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya.


“Di kegelapan hutan saya baringkan tubuh anak saya di atas tanah lemba. Saya pungut sebuah tongkat kayu yang tajam ujungnya. Lalu  seraya menangis saya mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi hendak menusukkannya ke dada anak saya kemudian kepada diri saya sendiri.


“Tapi dengan tiba-tiba seekor serigala menerkam tongkat kayu saya dari belakang. Saya kaget setengah mati. Bukan karena gagal bunuh diri tapi karena di hadapan saya seekor serigala hitam besar menyeringai menunjukkan deretan giginya yang tajam. Kami pasti akan dimakan serigala ini, pikir saya waktu itu.


“‘Apa yang kau lakukan?’


“Saya semakin ketakutan, serigala itu bicara! Hewan buas itu mulai berubah wujudnya secara perlahan hingga dia berdiri dengan kedua kakinya dan berjalan menghampiri saya. Tubuhnya meninggi sementara bulu-bulunya hilang secara perlahan. Dan berdirilah sosok pemuda di hadapan kami berdua. Dia adalah Abraham.


“‘Apa yang kau lakukan di hutan ini?’ Tanya nak Abraham dengan sorot matanya yang curiga. Lalu saya menceritakan masalah saya kepadanya.


“Nak Abraham menjulurkan tangannya yang penuh rahmat kepada saya, ‘Ikutlah denganku. Jika pemerintah tidak mempedulikan dirimu dan keluargamu, ikutlah denganku. Kebetulan kami membutuhkan beberapa bantuan.’ Katanya.


“‘Iya, kami akan ikut. Terimakasih. Terimakasih...’ Kata saya lirih kemudian memeluknya dengan berlinang air mata. Setelahnya, kami; tepatnya saya, istri beserta anak saya Hariz dibawanya kemari.” Jelas pak Nawal. Beliau menyeka pelupuk matanya yang berlinang.


Setelah mendengar ceritanya, pandanganku terhadap Abraham sedikit berubah. Abraham orang yang baik. Paling tidak rasa curigaku terhadapnya sirna. Ketika aku masih dalam perenungan, seorang anak kecil berlari masuk ke tempat ini lekas memeluk pak Nawal, “Bapak, Pak, lihat. Aku dapat ikan.”


“Oo ... kamu sudah bisa memancing ikan, ya. Hebat,” puji Pak Nawal, tangannya mengelus-elus kepala anak kecil itu.


“Apa dia anak Bapak?” Aku mendekat kepada mereka berdua. Dengan melempar senyum ramah tamah yang sedikit kupaksa kepada anak itu untuk sekedar membuat kesan kalau aku ini bukan orang yang menakutkan pada anak kecil sepertinya.


“Ya. Hariz kenalkan, Kakak ini namanya Diaz.” Pak Nawal menunjukku.


“Halo Kak, namaku Haliz.” Ucap anak itu tersenyum padaku. Dia belum lancar benar dalam mengucapkan huruf-huruf sulit rupanya.


“Ayo mancing sama aku, Kak!” Ajaknya tiba-tiba dengan tawa ceria khas anak-anak ia pampangkan.


“Eh, o oke” sambutku, anak ini menarik-narik tanganku secara paksa untuk mengikutinya. Aku menoleh Pak Nawal. Beliau tersenyum melambaikan tangan tanda menyetujui. Lagipula tak ada alasan bagiku untuk menolak. Sebab aku tak mungkin, kan untuk berkata bahwa tengah kabur dan jalan-jalan demi melihat-lihat lebih rinci UG ini?


Sesampainya di tepi danau, Hariz, anak yang salah satu gigi depannya ompong membujukku untuk tanding siapa yang lebih cepat dan mendapat ikan yang banyak. Maka kuterima tantangannya dan menyingsingkan lengan kemeja putihku. “Oke, sekarang kita mulai memancing.” Sebenarnya bisa dibilang ini seragam kasual UG karena dipakai oleh penghuni UG dan Abraham juga memakainya di balik jubah hitamnya. Sekeping pikiran jenaka melintas di kepala ini, tentang tempat ini yang memiliki kemiripan seperti panti anak asuhan.


Tanpa menunggu lama kulemparkan mata kail pancing ke permukaan danau dengan semangat. Hariz juga melakukannya. Tinggal tunggu sebentar maka aku akan mendapatkan tangkapan, kataku dalam hati. Jika aku yang duluan mendapat tangkapan, aku bisa pamerkan kemampuanku pada anak ini tentang siapa yang termahir memancing di sini.


“Wow, hebat. Tunggu, aku juga akan dapat.” kataku setengah hati. Keberuntungan pemula, batinku. Aku jadi kian ambisius. Kupancang serius mataku pada gerakan atau bayangan apa pun di dekat kail pelampung pancingku.


“Lihat Kak, aku dapat lagi.”


“He?” demi apa aku menoleh cepat padanya. Bocah itu mulai melempar kail pancingnya lagi. Sedangkan diriku masih belum mendapat satu ikan pun. Hukum keberuntungan macam apa ini?


“Yey, aku dapat lagi. Ikannya ada kumisnya. Aha ha.” Bocah itu mendapatkan ikan ketiganya. Kali ini ikan lele. Hariz tersenyum senang. Aku mulai merasa jengah karena merasa kalah oleh anak kecil.


Oke, ini mulai menyebalkan ...


Bocah itu melemparkan kembali kail pancingnya.


“Hup, dapat lagi yee. Ha ha.” Sorak Haris tak berselang lama. Cuma beberapa detik kailnya menyentuh air danau, ikan segera menyambar umpannya. Aku tersedak merasa kalah telak.


“Bagaimana bisa kau mendapat ikan secepat itu!?” protesku dengan ritme cepat sambil menunjuk tangkapan si bocah bernama Hariz itu.


“Oke oke oke. Cukup sudah dengan kail pancing.” kucampakkan tongkat pancingku ke samping, kedua tanganku kumajukan ke depan dengan tangan kiri sedikit kutekuk dan lebih rendah dari yang kanan. Aku berkonsentrasi menciptakan bola-bola plasma di dalam danau. Ketika kurasa telah mendapatkan sesuatu, aku mulai beraksi.


“Yak!” kuangkat kedua tangan sebatas kepala dan keluarlah bola-bola plasma berjumlah lima buah berdiameter sebesar televisi dari dalam danau.


“Hueee kereeeen!” Mata Hariz berbinar-binar menyaksikan kejadian itu dengan kedua kepalan tangannya dirapatkan kedepan dada.


“He he he. Lihat, ini masih belum seberapa.” Bola-bola plasma aku tepikan ke pinggir danau. Dengan tanpa menunggu lama kubuka kepalan tanganku kemudian diikuti dengan memudarnya bola-bola plasma itu. Menjatuhkan isinya yang berupa air dan ikan-ikan yang terperangkap ke atas pasir granular bebatuan kerikil tepi danau.


“Dapat banyak, kak!” Hariz memunguti ikan-ikan yang menggelepar itu dan memasukkannya ke dalam ember.


Kutampilkan mimik muka senang dengan senyum licik, “Jadi ... aku yang menang, kan? Ho ho ho.”  Inilah namanya orang yang memiliki kekuatanlah yang berdiri di puncak.


“Iya, tapi kakak curang.” Ketusnya dengan memonyongkan bibirnya.


“Ho ho. Eh? Tapi ini juga bisa disebut dengan memancing, kan? Sudah, akuilah kekalahanmu.” Balasku memonyongkan bibir menirunya. Namun tampaknya bocah ini terlampau muda untuk mengerti permainan dialog logikaku.


“Kakak curang, kakak curang, kakak curang ...” Cibirnya berulang kali kemudian berlari menuju Kebun Kaca membawa ember berisi tangkapan ikan.


“Lho? Kok tangkapanku ikut dibawa?” Tanganku mencoba menggapainya dan mengejarnya namun urung karena bocah itu sudah terlanjur jauh. Lagipula ada mobil angkut yang datang dan berhenti tepat di antara jarakku dengan si bocah itu. Di tengah jalan tepat lima meter dari bibir pintu masuk Kebun Kaca.


Mesin mobil berhenti, setelahnya seorang pria keluar dari dalam kendaraan itu diikuti orang kedua.


“Apa yang kau lakukan di sini?” lontar si orang kedua dengan nada judes seperti memarahi. Dari nada bicaranya siapa saja penghuni UG pasti telah mengerti siapa gerangan pemilik suara macam itu.


Gadis yang kumaksud bertanya dalam nada ketus dengan permen lolipop di kulum dalam mulutnya. “Aku mencarimu kemana-mana tahu! Merepotkan!” Sambungnya.


“Aiko? Kamu khawatir padaku?” Jawabku sedikit melenceng dari konteksnya. Mataku berbinar-binar terharu. Pengharapan timbal balik rasa ini padanya mungkin tersampaikan.


“Eh? Salah, bodoh. Bukan berarti aku perhatian padamu, ya! Tapi karena kau tiba-tiba menghilang dan tidak hadir dalam penyuluhan di gedung L3! Lalu dari mana kau tahu namaku?” Ketusnya menatap terkejut kemudian melempar pandang ke samping. Hampir tidak percaya umpan tersiratku ditangkapnya.


“Yah, aku tahu namamu dari si T-rex itu.” Ucapku sebal mengangkat kedua bahuku. Mengingat kembali sikapnya yang hanya ramah jika berhadapan dengan Abraham, meranggaskan bunga-bunga perasaan dalam hatiku.


“Haah!? Beraninya kau menyebut Abraham seperti itu!” Aiko sekejap meninjuku dengan tinju listriknya.


“Wooaaa!” Aku bersikap melindungi wajahku dengan merapatkan kedua tanganku seperti seorang petinju.


DAR! Tinju listriknya membentur lapisan luar perisai pipih plasmaku.


“Fiuh, untung sempat.” Napasku menghela selamat.


Gelayut kekesalan nampak di wajahnya. Namun ia tidak melanjutkan. “Cih!” Cibirnya membalikkan badan melangkah kembali menuju mobil angkut. Aiko membuka pintu mobil hitam itu lekas masuk duduk di samping kursi kemudi. Aku terdiam menatapnya. Sikap cuek dan tomboy-nya itu entah kenapa membuatku semakin tertarik kepadanya.


“Apa yang kau tunggu? Ayo cepat naik. Kita kembali ke asrama UG.” Ujarnya dari dalam mobil angkut menatapku sinis.


“Ha? Oh, ok.”


Yang benar saja, jadi beberapa jeda ia duduk tadi adalah karena menungguku? Gerutu membatin, kemudian lekas saja aku berjalan menghampirinya.


“Apa yang kau lakukan, hah?!” Aiko memasang mata sinis lagi ditambah dengan mengerutkan dahinya ketika tanganku mencoba membuka pintu mobil. “Tempatmu di belakang!” Ketusnya sementara jempolnya menunjuk ke box terbuka mobil angkut di belakang.


“Haaah!? Dasar gadis listrik cebol galak yang sulit dimengerti.” Umpatku pelan memicing mata. “Apa semua gadis seperti ini, ya?”


“Apa katamu!?”


“Siap! Bukan apa-apa!” Kedua tanganku kuangkat rendah mengisyaratkan menyerah seperti tersangka yang dikepung polisi. Aiko kembali memasukkan kepalanya ke dalam mobil setelah melihat tingkahku.


Sang sopir kembali ke kursi kemudinya usai mengangkuti berkarung-karung persedian buah dan sayuran ke belakang box ini sembari kubantu menatanya. Ketika telah terangkut semua, aku baru naik ke belakang dan akhirnya mobil yang kutumpangi mulai beranjak dalam kecepatan sedang. Melewati pemandangan danau dengan matahari yang perlahan bergerak tenggelam. Memantulkan bayangan mega merah di permukaan airnya yang beriak.


Hari menjelang petang dengan alunan melodi alam yang mengena. Aku seorang diri berada di box terbuka mobil angkut bersama dengan persediaan sayur-sayuran dan buah-buahan yang dikemas dalam karung. Sedangkan si gadis listrik Aiko duduk di samping tempat duduk kemudi dengan permen lolipop masih di dalam mulutnya yang sesekali kucuri pandang mengamati sebingkas wajahnya lewat spion samping mobil.


Aiko mengetuk kaca jendela mobil di belakang kepalanya, hampir membuat jantungku lepas karena terkejut sebab aku tengah mencuri pandang sosoknya. “Kau baik-baik saja, kan? Jangan sampai masuk angin. Kau besok harus mengikuti pelatihan.” Katanya datar.


“Aku baik-baik saja. Oke, aku akan mengikuti pelatihan besok.” jawabku, suaraku agak terdengar seperti orang yang nyaris ketahuan mencuri.


Tapi jika dia tidak ingin diriku terkena masuk angin seharusnya dia membolehkanku masuk ke dalam mobil, kan? Ah, Gadis yang aneh. Aku menggeleng kecil.


Beberapa waktu berselang, aku telah sampai di kamarku di bagian gedung L asrama pria yang letaknya di bawah area pelatihan Aila. Atau lebih tepatnya di lantai satu dekat dengan ruang makan besar. Kamarku cukup luas sekiranya dapat ditempati dua orang karena di sini terdapat dua ranjang. Hanya saja aku tidak memiliki teman sekamar. Sementara Bintu berada di kamar lain di lantai dua. Namun, apa yang ada pada kamar ini cukup memuaskanku. Dengan fasilitas satu kamar mandi bergaya barat serta ranjang empuk dari busa. Selayaknya pelayanan eksklusif pada hotel ternama tapi tak berbintang.


Aku duduk merebah di atas kasur, kaki menjuntai ke lantai. Kuputuskan seusai makan malam nanti waktunya membersihkan diri kemudian tidur lalu bangun menyambut hari esok yang mungkin akan melelahkan. Semoga, kelanjutan nasibku di tempat ini akan lebih baik dan asyik.