
Andai Aiko tidak memintaku untuk mengikuti pelatihan ini, pasti aku sekarang tengah bersantai di tepi danau itu. Dokter July juga memberiku sarapan dengan makanan aneh lagi setelah pemeriksaan rutin tadi pagi. Membayangkan bagaimana makanan itu bercampur dan dicerna lambungku membuat pagiku tak berselera. Pagi 14 Mei 2015 yang sial. Cara jalanku seperti orang setengah sadar jadinya. Kurang memerhatikan arah depan sambil dibebani pula oleh mata yang masih belum segar benar sampai sebuah sentakan kecil dari belakang tubuhku membuatku terkejut dan terbelalak.
Kutolehkan kepala dan kutemukan seseorang yang menabrakku. “Minggir,” ucapnya, berlalu begitu saja usai menikam kesan tatapan tak suka dan gurat sudut bibir yang menghina. Dia pemuda seumuranku, berambut lebat keriting mirip tentakel cumi menyentuh telinga. Kuberi sebutan dia si Bocah Api. Anak yang berlagak pahlawan ketika di aula waktu itu. Aku membiarkannya lewat tanpa kusemati kesumat karena tidak ingin berurusan dengannya ataupun orang-orang yang seperti dirinya.
Ketika aku memandang kepergian anak kurang sopan itu, sebuah suara menyapa. “Kau datang juga rupanya.”
Tak salah lagi, suara dingin dan setengah hati itu adalah Aiko. Aku berbalik menghadapnya dan mendung di pikiranku mendadak sirna.
“Ya, ha ha. Aku datang cuma ingin bertemu denganmu.” Jawabku berbarengan dengan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Dia mendecik lidah. Sekilas nampak sederet gigi depannya yang putih dan kecil rapi sementara lirikannya ke arah yang lain, “Jangan bercanda. Cepat ikuti aku.” nada bicaranya datar seperti orang yang uring-uringan. Aku jadi sakit hati, tapi benar-benar tak bisa membencinya.
Aiko memanduku ke sebuah ruangan luas yang tertutup. Tidak ada jendela, hanya selajur keliling lampu di tepi plafon sebagai sumber cahaya. Hanya ada satu pintu masuk di tempat ini serta sebagai pintu keluar yang kami lalui tadi. Ah, ada satu kaca hitam besar di salah satu sisi dinding ruangan. Tepat terletak secara simetris di tengah panjang membentang. Tak tembus pandang.
“Nah, kita langsung mulai saja.” Aiko melempar ke sudut ruangan sebuah papan tipis yang di atasnya terdapat lembaran kertas terjepit kuat. Tak kuketahui kapan dia membawa benda itu, barangkali dia pungut setibanya di sini. Namun, yang membuatku penasaran adalah sikap dirinya yang kini siaga dan menguatkan kuda-kuda kakinya. Permen lolipop dalam mulutnya tak bergerak digigit stiknya. Kedua tangannya diam di samping badannya yang ramping dan semuanya mengepal.
Aku terperangah menghadapi perangainya. “Kenapa kamu berpose seperti mau bertarung begitu?” kataku.
Aiko menjentikkan kedua jari dan dia bilang, “Karena kita berdua memang akan bertarung.” lalu aliran listrik biru menyemburat memancar dari sekujur tubuhnya.
“Hei hei tunggu dulu! Aku tak paham, sumpah. Apa aku punya salah padamu? Maafkan aku! Bisa kita selesaikan ini dengan baik-baik? Ka- kamu gadis yang baik, kan?” aku mencoba bernegosiasi dengannya, dadaku berdegup gelisah, tapi aku yakin kalian dapat menebak apa yang terjadi berikutnya.
“BE−RI−SIK!” Aiko memasang tampang seram kemudian berlari menerjangku.
“Tunggu! Tunggu! Tunggu!” pintaku beberapa kali tetapi dia malah menyeringai girang dan berseru bahwa siap atau tidak dia tetap akan menyerangku. Oh mampuslah aku!
Apa boleh buat, lekas ku-kedepankan tangan kiriku dan merenggangkan jemari.
Tinjunya membentur dinding kubah plasma di hadapanku. Yang mengisolasiku dari serangan-serangan listriknya yang menjerang liar pada bagian yang terhantam. Dengan begini, Aiko tidak akan bisa menyentuhku.
“Oh, jadi ini bakatmu. Lumayan, tapi ... berapa lama kira-kira kau dapat bertahan, ya?” ujarnya mengejek dan menatapku remeh kemudian mundur beberapa langkah. Dia berbalik santai berjalan menghampiri papan datanya yang tergeletak di sudut ruangan. “Hmm, bakatmu jenis Creaton sepertinya.” Aiko menempelkan pulpen di dekat bibirnya yang mungil berwarna alami tanpa lipstik. Permen lolipop yang sedari tadi dikulumnya kini hanya tinggal stiknya saja dibuang ditiupnya kasar dan jatuh di dekat kakinya.
Aku yang penasaran dengan apa yang dikatakannya tak bisa menahan tanya, “Creaton? Apa itu? Apa ini termasuk bagian dari pelatihan? Aiko. Hei, jelaskan padaku.” kuketuk-ketuk dinding kubah plasmaku dari dalam berharap mendapat perhatian dan penjelasan darinya.
“Jangan berisik dan sok akrab!” Aiko meletakkan papan datanya kembali ke lantai dan mulai melangkah menghampiriku. “Berikutnya tes ketahanan dan penentuan level” arus listrik deras merumbai dari tubuhnya.
Kedua tangannya ditemukan di atas kepala membentuk simbol X dan listrik pada lengan kanan serta kirinya bersinggungan menghasilkan sambaran listrik yang menjilat-jilat tak keruan. Mengakibatkan lampu-lampu di ruangan ini menyala dengan sangat terang. Sekarang sambaran elektrik di tangannya membesar dan seolah menyatu menjadi cambuk biru yang hidup sehingga Aiko nampak bagai menggenggam petir.
“Eh, tunggu dulu. Kamu tidak bermaksud menyerangku dengan itu, kan, Aiko?” tanyaku khawatir.
Dia menjawab, “Menurutmu?” lekas tersenyum rapat menyisipkan rasa gawat ke dalam batinku. Tanpa ancang-ancang dia berlari sembari tangannya terayun turun. Aiko melompat tinggi dengan bantuan petir yang menyambar keras dari tolakan pijakan terakhirnya sesampainya tiga meter dari tepi terluar kubahku. “Rasakan ini, mata empat!” bersama seruan yang terdengar bagiku sebagai pelepas kemarahan, cambuk petirnya menunjam kubah plasmaku dahsyat.
Aliran listrik menyelimuti dinding luar kubah plasma padatku. Menjadikan permukaannya berselimutkan cahaya biru, dibarengi gemuruh ringkik sengatan listrik mengalir merambat. Sedang disaat yang hampir bersamaan suara benturan keras mengalihkanku. Kulindungi mataku dengan telapak tangan dari silau yang melahap. Ketika intensitas cahayanya menurun, aku mulai dapat mengintip dari sela-sela jari dan yang kusaksikan lekas mengejutkan penglihatanku.
Aiko menunjam bertubi-tubi dinding plasmaku dengan tinju petirnya. Dengan gesit serta bersemangatnya seraya menyeru gembira.
Aku terbata membujuk, “He- hentikan Aiko!” tapi dia tak menggubris barang sekata.
Jika gadis ini terus melakukan serangan gila itu, maka dinding kubah plasmaku tak akan bertahan lebih lama lagi. Lalu kucoba dengan perkataan yang lain karena kehabisan ide, “Se- seranganmu itu laki-laki banget!” ujarku mencoba menghentikannya. Kupikir dengan kalimatku barusan maka dia akan tersadar malu dan menghentikan tinjuan agresifnya.
Benar saja, retakan terjadi pada tempat yang diserangnya bertubi-tubi. Aiko menanggapiku, namun bukan hal yang positif. “Haaa!? Kamu itu yang terlalu lembek! Kalau baru begini saja kamu mengeluh, di luar sana kamu akan jadi sasaran empuk. Yak, serangan terakhir!” ekspresinya menjadi serius, dan kudapati binar matanya seolah begitu ambisius lalu lanjutnya, “hancurlah cangkang telur ini!” tinju rendahnya datang dari arah kanan dan-
PRANG! Dinding kubah plasmaku pecah berhamburan. Aku terhenyak mundur bersikap melindungi wajahku dari keping tajamnya yang terlontar. Dari secepatnya kejadian yang berlangsung, siluet Aiko melesat masuk bersama guntur yang mengekor. Dia mengangkat siku kanannya setinggi kepala dengan menekuk lengannya, amat dekat di depanku, bersikap seperti hendak mengkarate balok kayu, tangan kanannya mengayun cepat menuju tengkuk leherku.
Sial, dalam kebutaan sejenak dari benderang kilasan petir aku tak berdaya menghindar. Aku kalah cepat untuk memblok serangannya. Kemudian kurasakan hantaman pada tengkuk leherku dan terdengar oleh telinga ini begitu nyaringnya sambaran listrik.
“UGYAAAAA!” eranganku melejit ketika kurasakan setrum menjerat sekujur tubuhku dan akhirnya aku tumbang menggelepar seperti ikan tangkapan kemarin di atas lantai ruangan yang dingin.
“Yak, dengan begini selesai.” Aiko menepuk-nepuk tangannya seakan bebersih. Pada suatu kesempatan aku menyaksikannya menyungging senyum puas sembari melihatku.
Di dekatnya aku mendongak, dalam posisi ibarat udang terbelingkang di atas lantai, semeter dari sepatu olahraganya yang tanpa sopan santun dekat dengan wajahku. “Ap-pa-pa-pa. Mak-sud-sud. Mu? Gh gh gh.” kisuhku terbata terkejang-kejang.
***
Gadis listrik menyebalkan. Dia pasti sengaja menyerangku seperti itu. Kalau saja tidak ada kubah pelindung pasti tubuhku sudah hancur terkena tinjunya. Gadis galak yang mengerikan. Tapi manis ...
Tunggu, kenapa aku malah memujinya?
“Diaz, kau sudah baikan?”
“Bagaimana bisa aku baik-baik saja setelah tersengat seperti itu?” ketusku dengan ekspresi geram menanggapi Abraham. Tubuhku masih sedikit mengejang. Meski terlihat seperti kedinginan. “Lalu, pergi ke mana gadis itu?” lanjutku marah.
Kami berdua berada di ruang pengawas yang memonitor seluruh kegiatan pelatihan dasar para Aila pendatang baru. Termasuk menyaksikan ulang rekaman latihanku beberapa saat lalu. Dari tempat ini kami dapat mengetahui semua jenis bakat para Aila terpilih UG beserta levelnya.
“Aiko sedang memantau pendatang baru lainnya.” Jawab Abraham usai jeda yang cukup lama. Setelah membereskan tumpukan dokumen, dia bergerak mengambil secarik kertas cetak di samping tempat duduknya.
“Benar-benar gadis yang acuh. Setidaknya ucapkan permintaan maaf dulu atau apalah.” Gerutuku menyilangkan kaki. Kuperhatikan layar proyektor besar di ruangan ini. Di situ ditampilkan beberapa data para Aila pendatang baru dengan bakatnya.
Rudi_Bima_S//gift:sensitivity_sense//type:psychic//lv:2//codename:futurestepper.
Ryan_Sucipto//gift:flame_manipulation//type:elementor//lv:2//codename:phoenix.
“Diaz, ini data mengenai bakatmu.”
“Ah hm, ya.” Aku menyambut kertas yang disodorkan Abraham kepadaku. Mengalihkan perhatianku pada tampilan data di layar proyektor besar itu ke dokumen di tanganku kemudian kutatap dia, “Abraham, apa maksud dari type dan codename?”
“Hm?” kedua alis Abraham terangkat kemudian menatap layar proyektor besar itu. “Oh, biar kujelaskan.” katanya, sembari menyeret kursi bundar tanpa roda tiga meter darinya kemudian duduk dekat di sampingku.
“Bakat para Aila memiliki keunikan masing-masing. Nah, dari keunikan tersebut dikelompokkan menjadi empat jenis: Creaton, Elementor, Psychic, dan Mutant.”
“Creaton. Itu kata yang tertulis di dokumen milikku.”
“Jadi jenis bakatmu Creaton, ya. Itu tipe yang paling jarang.” Kepala Abraham mendekat ke sampingku. Telinga kami nyaris bersentuhan. Mata kehijauannya bergeming memerhatikan dokumen di tanganku.
Diaz_Nusabiru//gift:[unknow]//type:creaton//lv:3//codename:perfect_fortress.
Gift temporary explanation: freely made and manipulate [unknown matery] into solid shape.
Dia melirik padaku sekilas setelah membaca data itu. Posisi duduknya kembali tegak. Abraham terdiam sebentar. Dari raut mukanya nampak bahwa dia sedang berpikir. Sejenak kemudian dia kembali menoleh dengan dua jarinya mengelus dagu. “Yah, bakatmu jenis Creaton. Berarti cara latihanmu berbeda dari ketiga jenis yang lain. Aku akan menyerahkanmu kepada Aiko. Dia yang akan menjadi kordinator latihanmu.” Intonasi bicaranya sedikit merendah daripada saat sebelum dia melihat dataku.
“Hah!? Gadis itu yang akan menjadi pelatihku?” sebelah mataku terbuka penuh sedang satu lainnya memicing.
Lantas tiba-tiba sebuah suara membalas, “Memangnya kenapa, hah?” celetuk Aiko yang telah berdiri di depan pintu ruang pengawas tidak lupa dengan permen lolipop di mulutnya serta tatapan sinisnya padaku. Aku nyaris terlompat dari tempatku duduk.
***
“Haaah, hari ini aku sedang sial.” Keluhku pada Bintu. Dia yang sedang sibuk dengan makan siangnya di seberang meja tak menjawab.
“Oi, Bintu. Kau mendengarku?”
“Hm? Ya ya. Kau orang sial?” Bintu mengerut dahi.
“Bukan itu maksudku tapi, ah ya sudahlah.” karena tak mau memperpanjang keluhan, aku mulai menyendok santap siangku di ruang makan besar ini.
Beberapa waktu lalu aku berada di ruang pengawasan bersama Abraham. Namun ketika si gadis listrik mendadak muncul, atmosfirnya berubah menjadi berat. Tidak, mungkin cuma aku yang menganggapnya begitu. Lalu lekas saja kuputuskan untuk pergi ketimbang terlibat percakapan dalam intonasi tinggi dengan Aiko yang mungkin akan seperti debat kusir.
“Bagaimana dengan latihanmu?” sambungku pada Bintu.
“Ya, lumayanlah. Sekarang aku tinggal meningkatkan kemampuan bakatku. Walau sekarang aku masih level 2, pasti nanti levelmu akan kususul. Ha ha.”
“Ooo boleh juga. Mari kita berjuang.” Aku menyodorkan gelasku begitu pula dengan Bintu. Kami mempertemukan gelas dalam sebuah sulangan kemudian melanjutkan makan siang.
Sewaktu kami sibuk dengan hidangan masing-masing, seorang gadis berkata dari arah belakang diriku.
“Mata empat, gendut. Jangan lupa kalian datang ke lantai L3 setelah makan siang. Akan ada pelatihan lanjutan. Persiapkan diri kalian.” nadanya terdengar dingin dan cepat. Aku tidak perlu menengok untuk mengetahui bahwa Aiko yang bicara. Namun, karena entah apa aku terbujuk untuk melihat sosoknya sementara dia sudah berjalan pergi usai mengatakan hal itu kepada kami berdua.
Muncul dan mendadak pergi tanpa salam. Semacam jelangkung saja. Kehadiran singkatnya sedikit mengejutkan kami. Yeah, mungkin aku yang terkejut. Sebab sosoknya yang barusaja terlintas di pikiranku lekas muncul wujud nyatanya dalam waktu singkat. Seperti terpanggil secara ajaib saja. Atau malah dia dapat mendengar isi kepalaku?
“Gadis yang cuek.” Ungkap Bintu.
“Iya benar, kan!? Dia selalu bersikap seperti itu pada setiap orang yang ditemuinya, kan?” serobotku dengan rangkaian pernyataan membenarkan Bintu.
“Diaz, sepertinya kau membencinya, atau ... kau menyukainya?”
“Ha? Eh? Apa maksudmu? Bukanlah! Mana mungkin aku menyukai gadis sepertinya!” Bantahku seraya menyilangkan kedua tangan serta membuang muka ke samping.
Bintu memasang tampang tidak percaya atas sikapku. Beberapa detik dia memiringkan kepalanya menatap wajahku yang berpaling ke kanan dan berkata, “Kau tahu? Sikapmu itu mirip dengannya lho. Barangkali jodoh ...” lanjutnya berikut memonyongkan bibir.
***
Gedung L3 pukul 13:00
“Kalian berdua datang juga. Sekarang kalian bersiaplah menunggu giliran untuk duel bakat. Gendut, kau giliran pertama. Lawanmu anak laki-laki di sana. Kau, mata empat cerewet giliran kedua. Lawanmu gadis cerewet itu. Ha ha. Cocok, kan?” jelas Aiko kemudian tersenyum menyeringai dan tertawa kecil tanpa menutupi mulutnya.
Kelopak mata serta alis kiriku berkedut sebal melihat sikapnya pada kami. Baru saja aku dan Bintu tiba di tempat pelatihan dan tiba-tiba si gadis listrik ini memerintah kami layaknya bos. Aku mengkomat-kamitkan bibirku tanpa bersuara di belakang dirinya menandakan umpatanku yang tak kesampaian.
“Diam!” Teriak Aiko pada sekelompok Aila pendatang baru yang bergerombol di sudut ruangan sana, dan aku pun terlonjak ke belakang terkejut, tapi Bintu malah tertawa kecil melihat reaksiku yang konyol.
“Diam kau.” Tatapku sebal ke arah temanku yang gembul itu.
“Apa?” Aiko menimpali perkataanku dengan menolehkan tatapan sadis.
“Wa ah. Bu- bukan kau. Aku tidak bermaksud kepadamu.” Jawabku dengan kata-kata berantakan. Bisa gawat kalau aku disetrum lagi. Di lain sisi Bintu menahan tawanya melihat tingkahku.
Gendut sialan ...
Aiko berpaling memunggungiku setelah memberi tatapan mencurigai. Pada para Aila pendatang baru di hadapannya dia berkata, “Kalian semua, perhatikan! Ini adalah latihan lanjutan. Duel bakat! Kalian akan saling bertarung menggunakan kemampuan special kalian dan semua Aila pendatang baru yang hadir di sini dalam level 2 dan 3!
“Peraturannya, duel akan selesai jika lawan kalian telah menyerah atau dalam kondisi tidak dapat melanjutkan duel. Yang kedua, dilarang menggunakan bakat dalam fase kontamin. Kita tidak ingin saling bunuh sesama, kan? Nah, setelah semuanya beres, hasil dari latihan ini akan menentukan sampai mana tingkatan bakat kalian dapat berkembang. Apa kalian mengerti!?”
“Siap, mengerti!” Para Aila pendatang baru menjawab serentak kecuali diriku.
Aiko maju beberapa langkah diikuti para kordinator latihan, dalam satu baris lurus, mereka menaiki bagian yang setengah meter lebih tinggi pada sisi terluar dari arena duel yang diawasi masing-masing. Ketika semua telah siap, Aiko yang paling pendek di antara para kordinator itu akhirnya berseru.
“Duel yang pertama. Bintu Vs Edward!”
***
Ruangan tempat kami berada cukup luas untuk menampung seratus orang. Sekiranya di sini terdapat sepuluh petak lapangan duel berukuran 10 x 5 meter yang alasnya terbuat dari beton padat dan tebal dibiarkan tak bercat. Elevasi lapangan duel setinggi setengah meter dari lantai utama ruangan sementara tinggi langit-langit sekitar lima meter. Sinar lampu neon di satu sisi dinding, serta pada tepi langit-langit yang menjulur sepanjang ruangan menjadi penerang yang mengesankan tempat ini seperti sebuah banker anti nuklir.
Oh, lawan Bintu sudah memasuki arena duel ketika aku sibuk memerhatikan sekeitar. Tampaknya dia sedang melakukan pemanasan dengan gerakan menekuk-nekuk tangannya. Aku memajukan kepalaku dari belakang tubuhnya mengintip papan data yang dibawa Aiko, pipi kami hampir bersentuhan sejarak tiga jari.
“Wa!? kamu mau apa!?” Aiko menjauh menarik wajahnya berbalik cepat menghadapku sementara kedua pipinya kudapati merona.
“Ha? Aku Cuma ingin melihat papan data di tanganmu, kok. Memang kenapa?” tanggapku heran mengangkat alis.
“Bo- bodoh! Jangan lakukan itu lagi!” Aiko berbalik kembali menghadap arena duel Bintu dan Edward. Suaranya sedikit aneh. Tetap keras namun digelayuti malu.
Padahal aku tidak melakukan sesuatu yang salah tapi kenapa dia bersikap seperti itu? Seperti semua perbuatanku salah di matanya, gerutuku dalam hati.
Di atas arena, kedua sosok kentara sekali berbeda perawakan tubuhnya terlihat siap memulai duel.
“Are you ready, newbie?” kata pemuda seumuran Aiko berbadan tegap dengan tinggi menyamaiku yang tak lain bernama Edward.
“Anytime.” Jawab Bintu lalu memposisikan tubuhnya dengan sikap kaki kuda-kuda.
Edward menjulurkan rendah tangan kirinya dengan telapak terbuka. Hembusan angin mulai berkumpul berpusat pada dirinya. Kemudian pusaran angin kecil berputar-putar searah jarum jam menyerupai corong kerucut di atas telapak tangannya. Di seberang dirinya Bintu menyaksikan dengan seksama.
Pemuda bule itu mulai menyerang dengan pusaran anginnya ke arah Bintu. Dalam waktu yang nyaris bersamaan Bintu menghentakkan kakinya ke lantai arena duel dan terciptalah dinding dari batu beton. Pusaran angin terbang menghempas dan memantul pada dinding pertahanan Bintu. Serangan Edward tidak cukup berarti. Bintu tidak terluka satu gores pun.
Bintu memberikan sinyal OK dengan jempolnya sambil tersenyum rapat kepadaku dari atas arena. Aku membalasnya dengan sinyal OK dan senyuman pula. Tanpa menunggu lama, Bintu meninju dinding beton di hadapannya sehingga benda persegi itu lekas terlempar ke arah Edward.
Namun, dengan mudahnya pemuda bermata serius itu menghindari serangan Bintu. Dia melayang rendah di udara sedangkan dinding beton Bintu melaju di bawahnya. Edward bernavigasi memutar tubuhnya ketika mengawang sejenak di atas arena, membuat tubuhnya diselimuti pusaran angin, hingga menjadi sebuah tornado yang menghembus dalam posisi tidur dengan Edward di dalam pusatnya.
Tornado yang kelihatan mengancam dan tak tersentuh melayang di tengah arena menerjang Bintu. Dengan sigap Bintu menendangkan kakinya ke atas dan keluarlah dinding beton dari dalam lantai arena menjulang dua kali tinggi tubuhnya.
Edward dengan tornadonya mengikis tembok perlindungan itu. Kedua tangannya direntangkan. Badan atasnya memutar seperempat lingkaran, menyebar mengempaskan tornado ke seluruh ruangan menghancurkan dinding beton Bintu yang terdesak oleh jurusnya.
Angin kencang bertiup berputar di tempat ini, melemparkan material kerikil pecahan dinding beton Bintu. Para kordinator lapangan lain sontak tertuju pada arena duel mereka berdua. Aku melindungi mataku dengan lenganku dari debu yang beterbangan sembari menyaksikan semua itu.
“Pertarungan Bintu heboh sekali,” intipku dari celah kedua lenganku.
Duel berlanjut. Pilar-pilar dari beton muncul menjulang dari lantai arena. Tapi tidak satu pun serangan Bintu mengenai lawannya. Edward lihai menghindarinya. Dia melayang-layang di udara bersama pusaran angin kecil membungkus kedua kaki serta tangannya. Bahkan, dalam gerakan tertentu, Edward bagaikan berenang di udara.
“Are you tired already?” Ejek Edward yang hinggap berdiri di atas salah satu pilar beton sembari menyeringai penuh kemenangan.
“Come here and finish me. Kalau kamu benar-benar laki.” Bintu mencoba memprovokasi Edward. Ekspresi mukanya ketika berkata seperti itu memang dapat membuat siapa saja emosi.
“It seem you know that you will loose this fight. Allright, I will granted your wish!” Edward menjatuhkan diri dari atas puncak salah satu pilar beton. Menerjang langsung ke arah Bintu dengan angin tornadonya yang membesar beliung. Namun, Bintu tidak melakukan tindakan bertahan melainkan malah berlari menyongsongnya.
Edward memajukan tangan kirinya. Memutar-mutar pergelangan tangannya seperti mengaduk air dalam sebuah wadah. Menciptakan angin kencang yang mengempas tubuh Bintu terangkat dari lantai arena, melayang terbawa terbang ke belakang. Edward bersiap meninju Bintu dengan tangan kanannya terselimuti tornado yang dimampatkan serta bersuara ribut.
“Take this strike and get lost!” Seru Edward saat jarak di antara keduanya menjelang dua meteran.
Tapi Bintu membalas, “NOT-TODAY!” kedua lengannya di depan dada, dikepalkan kedua telapaknya kemudian dengan cepat Bintu tinjukan ke atas.
DRAAAGH! Pilar beton besar muncul dari lantai arena dua meter di bawah Bintu, menghantam tubuh bagian depan Edward dan terus menjulang sampai menyentuh langit-langit. Bersama bunyi tubrukan, tubuh Edward terhimpit dan tidak bisa bergerak terjebak di atas sana.
Bintu jatuh berdebam ke lantai arena. Pantatnya yang tebal seperti menjadi peredam baginya. Lalu suasana menjadi hening sesaat. Mata orang-orang di tempat ini tertuju pada pilar di arena duel Bintu, terperangah begitu pula dengan diriku. Berikutnya, usai merasa jeda yang ada menjadi canggung dan aneh, aku bertepuk tangan memecah keheningan. Kemudian, tanpa ada siapapun yang memerintah, para pendatang baru terikut memberikan penghormatan dan tempat ini jadi riuh oleh tepuk tangan.
Aiko menghampiri, melayangkan langkah santai dengan kedua tangan yang disimpan pada kantung jaket hoodie-nya naik menuju arena itu. Dia menyambut Bintu, berdiri di sampingnya kemudian mengangkat salah satu lengan Bintu ke udara, “Pemenangnya adalah Bintu, si Earthorn!” riuh sambutan kemenangan dan kekaguman mengiringi Bintu turun arena.
Sesampainya di bawah, Bintu menghampiriku dan mengangkat tangan kanannya. Kami saling salam tos di atas kepala.
“Kau juga harus menang.” Ucapnya kepadaku.
“Yup.” Balasku pendek kemudian melangkah menuju Aiko.
“Duel selanjutnya Diaz Vs Lisa!” serunya setelah mencabut stik lolipop putih dari kunyahan lembutnya, melemparkannya acuh ke lantai.
“Kita coba lihat kemampuan anehmu.” Bisik Aiko di dekat pundakku ketika aku melewatinya hendak menuju ke arena duel.
Bukan berarti jika aku kalah darimu, hal yang sama akan menimpaku dengan yang lain! Sematku dalam hati ketika meliriknya.
Aku telah berada di atas arena duel. Beberapa pilar beton masih kokoh berdiri. Permukaan arena beberapa bagiannya hancur dan berlubang gara-gara pertandingan sebelumnya, serta yang paling perlu diperhatikan, yaitu Edward yang masih terjebak dalam himpitan pilar beton dengan langit-langit ruangan.
“A ... apa tidak ada seorang pun yang mau mengeluarkannya dari situ?” aku menoleh pada Aiko sedangkan jempolku menunjuk ke arah Edward yang sepertinya telah kehilangan kesadarannya.
Aiko membalik badan menghadap ke arena duel, memandangku, kemudian menatap pilar yang menjulang beberapa meter di balik tubuhku. Lekas seberkas cahaya biru kilat tiba-tiba memancar terang seperti blits pada kamera dari arah punggungku. Membuatku merinding dan menelan ludah. Bunyi sambaran kilat serta ledakan terjadi setelahnya.
Bongkahan-bongkahan dari pilar beton runtuh bergelotak, mengeluarkan Edward jatuh terbebas. Asap putih mengepul tipis dari pepuingan itu yang beberapa bagiannya gosong akibat serangan petir Aiko. Pilar beton Bintu di arena duel telah runtuh sepenuhnya sekali serang. Pandangan para pendatang baru sontak segan dan hormat kepada Aiko.
Yah, kalian belum pernah terkena sengatannya secara langsung sih, kisuhku dalam hati.
“Sudah beres, kan?”
“Woa!” Aku terkejut kembali atas kehadiran Aiko yang tiba-tiba telah berada di sampingku dengan memanggul Edward di pundak kanannya.
“Kau kenapa, hah? Seperti melihat hantu. Cih,” Aiko turun dari arena duel menepikan Edward dan menyerahkannya kepada tim medis mengacuhkan diriku. Gerakannya benar-benar secepat kilat. Dia level berapa sebenarnya?
“Gendut, nanti kau harus membantu memperbaiki arena yang kau rusak.” Ketus Aiko dengan judesnya sembari dahinya menggurat kesal.
“I- iya.” Bintu menjawab kemudian kudapati dia menelan ludah. Dia yang berada di dekat Aiko nampak merinding menjauh dari gadis itu.
Tanpa menggubris Bintu dan aku, Aiko berseru, “Kita mulai duel selanjutnya. Diaz Vs Lisa!”
Aiko melihatku yang telah berada di arena sementara mimik mukanya dingin dan kurang ramah, “Nah, ayo coba kita lihat apa cangkang anehmu itu berguna atau tidak.”
Aku yang menghadapnya lekas balik badan dan mendengus, “Aku kalah darimu itu wajar. Memang siapa pula yang dapat menang melawan bakat petir gila-gilaan itu.” kataku menggerutu sendiri.
Sementara membatin tentang perlakuan Aiko padaku, lawanku di sisi lain arena menegur, “Lebih baik kamu menyerah saja, deh.” Ucapnya, gadis berambut hitam sepunggung, Lisa. Sebelah tangannya mengkacak pinggang sedang tangannya yang lain menyusup pada kantung celana jeansnya yang sobek di lutut.
“Ha? Apa kau bilang?” kelopak mata kiriku berkedut mendengar ejekannya. Dua kali ini aku diremehkan perempuan. Aku tidak terima. Walau dia perempuan, aku tak akan menahan diri. Lalu, kira-kira apa kemampuannya, ya? Apa kiranya jenis bakat miliknya. Selagi menebak lebih baik aku mengambil sikap bertahan.
Sebuah kubah pelindung kuciptakan dengan kepadatan dua kali lipat. Sisanya tinggal menunggu apa yang akan dilakukan gadis sok di sana. Gadis yang nampak sebayaku bernama Lisa itu mulai mengelilingiku dengan menjaga jarak sekitar satu meter dari lingkar luar kubahku. Dia mulai menempatkan kedua telapak tangannya di dekat mulutnya, seperti orang yang hendak berteriak.
Lalu ketika dia tepat berdiri di hadapanku, sepanjang kakiku dari tepi luar kubahku, Lisa mengambil napas dalam-dalam dan sejenak menahannya.
“AAA———!!!” dia menjerit tepat ke arahku. Suaranya menggema di dalam kubah yang melindungiku dari segala macam serangan fisik dari luar dan di luar sana, dalam penglihatanku yang terbatas, semua orang di tempat ini menutup telinganya dan merunduk.
Tiba-tiba aku merasa pandanganku bergetar kabur. Seluruh permukaan kubah plasmaku bergetar bagai gempa di atas jalur kereta yang dilajui. Getarannya semakin menjadi dan menghasilkan bunyi yang begitu nyaring di dalam sini kemudian pendengaranku mendengking-dengking.
NGIIIIIIIIIIING——
“Aakh!” Gelumat sakit dan pusing menggunturi kepala belakangku. Aku nyaris tak mampu mendengar suara apapun selain itu. Kucoba menutup kedua daun telingaku dengan harap agar suara denging itu hilang tapi tak berhasil hingga aku roboh jatuh tersujud dengan kedua tanganku masih menutupi kedua telingaku rapat. Dari hidungku mengalir satu lajur merah, jatuh menetes ke atas lantai arena duel. Aku mimisan parah.
Sama-samar kudengar suara Bintu dan menyaksikan siluetnya dari dalam kubah sedang berdebat dengan seorang gadis sepundaknya. Pandanganku seolah terseka oleh tabir embun dan tubuhku melemas. Bibirku tak dapat mengucap satu kata. Dinding kubah plasmaku menipis dan lapisan permukaannya mengelupas menjadi serpihan-serpihan kecil.
Gadis itu, aku teringat gadis yang jadi lawanku itu. Kuhadapkan wajahku ke depan. Ukh, suara bising ini sangat mengganggu kelima inderaku. Dia, gadis itu, masih berdiri di sana. Masih melancarkan serangan bakatnya. Dua langkah kaki yang berbeda terdengar menghampiriku selama aku menatapnya dan seraya terus menutup telinga aku mencoba bangkit. Namun, pandanganku silih berganti dengan kegelapan. Aku roboh tak sadarkan diri.