Aila Ability

Aila Ability
PHASE 11: Konfrontasi



Kini 3 Juni 2015, ketika kulihat kalender meja di dalam kamarku tadi pagi. Artinya, tujuh hari telah berlalu semenjak misi pertamaku. Dari situ kudapatkan hal-hal yang membuatku sungguh penasaran, misalnya, pada diri seorang bocah laki-laki sepantaran anak SD kelas 2 bernama George. Dia bocah pirang tujuh tahun dengan bakat yang unik. Kemampuannya dapat menyalin bakat para Aila di sekitarnya dalam radius tertentu. Maka ketika kutahu sebutan bakatnya itu adalah Copyscroll, aku tak terlalu heran.


Tetapi, yang membuatku terus kepikiran ialah bagaimana bisa anak seumuran dia memiliki bakat sedangkan kejadian itu terjadi di tahun 1998. Yang bila hal ini terus kupikirkan maka Jian juga sama seperti George, usia mereka tak masuk pantaran orang-orang yang terdampak efek dari radiasi jatuhnya pecahan Asteroid Laila.


Abraham hanya bungkam tak menjawab dan selalu mengalihkan topik saat aku mengkonfirmasikan hal ini. Kupikir, dia juga tak tahu apa sebabnya atau mungkin tak ingin membeberkannya. Jadi kutanyai langsung George dan kudapati jawabannya yang buruk. Dari cerita George; Jian, dia dan mereka, anak-anak yang terlantar seperti dirinya, diadopsi dari panti asuhan oleh para pria berjubah putih. Orang-orang itu berjanji bahwa mereka akan dibawa ke sebuah fasilitas dari suatu lembaga di bawah naungan PBB dan diayomi dengan baik. Namun, George dan anak-anak lainnya dari berbagai penjuru dunia malah menjadi spesimen lab dalam percobaan-percobaan mengerikan sehingga mereka mengidap kekuatan AA bagi yang dapat bertahan sementara ada pula yang tak pernah terlihat kembali.


Aku jadi simpatik. Merasa dekat dengannya. Ada semacam kesamaan denganku dari dirinya. Terutama sifatnya yang pemurung kala tiada seorang pun yang bersamanya. Aku tahu sebab suatu waktu kulihat George hanya menyendiri di ruang makan besar, di lapangan latihan, di taman bunga UG. Nampak lesu dan menunduk. Dia hanya terlihat hidup dan bergairah ketika bersama kami rekan setimnya. Maka, dengan sisa hari istirahat sebelum misi kedua kami dimulai, aku mengajaknya untuk mengakrabkan diri dan berlatih.


“More reflect! Focus your mind!” Kujebak puluhan liter air danau di dekatku dalam bola plasma kemudian melemparkannya melayang pada George.


“Waaaa! It’s so big! I can be killed! Please don’t. I can’t do this!” George berlari tunggang langgang di pesisir danau menghindari seranganku. Bola plasmaku mengejarnya.


“Come on George, fight it! Do tecnique which I had teach you before!”


“I try! I am trying!” George berbalik, berhenti dan menyilangkan kedua lengannya di dekat kepala. Susah payah nampak konsentrasi dan memejam mata menundukkan pandangan.


Kuperlambat laju bola plasma itu tanpa sepengetahuannya, dengan mengangkat sebelah tanganku sejajar kepala, demi memberi George kesempatan untuk meniru bakatku, lalu ketika terlihat kerlip serpih laksana kristal kaca terbentuk di depan dirinya, bola plasmaku kuhempas cepat.


Dragh! Pyash. Air danau yang terperangkap tumpah setelah bola plasmaku pecah membentur perisai plasma keunguan milik George yang permukaannya tak rata itu dan aku pun bersorak sembari meloncat sekali. “Good, George! That’s what I mean!”


“I did it! I dit it, Master!” George bersorak gembira di balik perisai kristal ungunya.


Kedua tangan kurentangkan, melanjutkan sesi latihan.  “Allright, now watch this.” dari bawah pijakanku perlahan terbentuk kepingan-kepingan kristal yang menyatu menyerupai mangkuk selebar roda truk.


Kutepuk tanganku di atas kepala dan bola plasma, atau kristal―sekarang aku lebih suka menyebutnya kristal sebab ketika selepas misi di Paris Leon bertanya padaku tentang bakatku, kujawab bentuk materinya “plasma”, dan dia mendengus nyaris tertawa lalu katanya, sambil menekan sangga hidung pada bingkai kacamatanya, “Plasma tidak ada yang seperti itu. Kamu salah kaprah, Ketua. Wujud bakat berjulukan Perfect Fortress-mu itu lebih mendekati fractal kristal ketimbang plasma yang kamu sebut.” Maka kini aku menyebutnya kristal―dan, jalinan fractal jernih laksana kristal itu segera memerangkap diriku. Ketika telah yakin permukaannya rapat dan tak mudah tembus serangan, kurebahkan tubuh bagian bawahku lalu duduk bersila layaknya petapa sedang melakukan gerakan yoga.


George yang di bawah sana berbinar-binar matanya melihatku dan berceletuk, “Woooaaaa! That’s so cool!! How you do it, Master?”


Aku melayang lima meter di atas tanah sambil duduk bersila di dalam bola kristal kebiruanku, mata kupejam dan dengan tenang kukatakan, “Focus George, focus.” Rasanya aku bagai master kungfu.


“I will try it now! Watch me, Master!” George bersemangat menempatkan jari-jarinya di pelipis. Berpikir keras, berusaha fokus.


“Don’t be so hurry, little boy. Even I need one weeks to practicing this tecnique.” Celotehku dengan mata tetap tertutup. Aku ingin dia menganggapku lebih hebat lagi.


Dari arah bawah dudukanku terdengar suara aneh sementara aku mencoba meditasi. Sejenak kuacuhkan tapi suara benturan itu mengetuk permukaan bawah bola kristalku sehingga aku tersentak lalu kubuka mata terganggu dan tiba-tiba aku terkejut terjungkal. Bola kristal yang mengurungkuku terpantul berputar terhantam sesuatu dari bawah dengan keras.


Kutoleh ke bawah, “Apa yang,” tapi tak ada sesuatu kemudian kupandang langit dan aku terbelalak mendongak. “What the-! George...!?”


“Masteeer! I did it! But-but I can’t stop flying—” George melayang semakin menjauh di atasku; di dalam bola kristalnya yang bentuknya tak simetris, kasar dan berfragmen mozaik.


“He is such a fast learner!” Gerutuku seraya mencoba menggapai George yang masih terbang melayang ke atas seperti balon gas yang lepas.


Bola kristalku meluncur naik cepat mengejarnya, kujaga kecepatannya sehingga nyaris berhimpitan dengan bola kristal George. Kubuka penutup atas dari kemampuan bakatku sehingga menciptakan celah berbentuk seperti mangkuk.


“Here George, open a bit your shield then grabs my hand!” kuketuk-ketuk permukaan bola kristal George yang tak rata itu.


George gelisah menjawab, “Ahm, mh. Ok, Master.”


Sudah kupersiapkan tanganku menjulur padanya, bersiap menggapai tangannya jika George sukses melakukan yang kupinta namun bola kristal ungu itu malah retak di semua sisi dan mendadak hancur runtuh pecah.


“Masteeer—!!” George spontan jatuh meluncur-terjun bebas.


“Aku bilang untuk menghilangkan sebagian, bukan seluruhnya, kan?” kusirnakan bola kristalku seketika selepas melompat darinya dan di udara kuluruskan posisiku layaknya peluru tepat menyusul George. Dari ketinggian yang menampakkan danau menyerupai kolam, kami meluncur deras.


“Hup! Dapat!” dengan tangan kananku segera kudekap George kemudian kuhadapkan ke bawah punggungku lekas kucipta bola kristal memerangkap kami berdua dengan tangan kiriku yang bebas sementara kami tengah meluncur di udara sebentar lagi nyaris tiada.


Cipratan buyaran air menyebar. Kami berdua tercebur di atas danau dengan terlindungkan bola kristal buatanku yang timbul-tenggelam sesaat kemudian mengapung terombang-ambik riak permukaan air yang terkejut tertimpa kami.


“Hah hah, untung sempat.” Aku menghela napas. “George, are you allright?”


“Master, I’m sorry. I’m sorry. I will never do it again.” George terisak-isak. Ia menyeka kedua matanya dengan lengan kemeja putihnya.


“What? No no no, don’t. It’s okay, George. You are smart. You are a fast learner. This is just a practice. Im glad I have student like you. Next time, we will make sure that you could do this tecnique even better.”


“Really?” George mengusap matanya.


“Sure, I am your master right?” hiburku, walau sebenarnya agak aneh kalau diriku dipanggil Master. Sejak sekembali dari misi di Paris itu anak ini menyematkan panggilan master padaku. Meski agak norak, tapi aku rasa itu cukup keren juga.


***


“Darimana saja kalian?”


Leon menanyai kami dengan mimik muka lelah menunggu setibanya kami di lapangan berumput UG.


“Eww, kacau sekali.” Lisa yang berada di samping Ryan melirikku dengan tatapan mual.


“Latihan.” Jawabku lugas padanya hanya sekilas menatap.


Jian berkata dengan semangat menghampiri menyambutku, “Ketua Diaz! Mari kita segera berangkat ke misi berikutnya!” senyumnya menyingkap gigi gingsulnya seperti biasanya.


Kusambung, “Baiklah, kita semua berkumpul di sini karena-”


“Sudah cepat kirim saja kita ke misi berikutnya.” Ryan memotong pembicaraanku. Nampaknya dia masih medendam padaku. Sebaiknya aku mencoba menahan diri terhadap sikapnya. Kuhela napas dan meliriknya sejenak sebelum melanjutkan.


“Yak, misi kita kali ini hampir sama seperti misi sebelumnya. Kita akan mencari dan menjemput kelompok kecil Aila di koordinat yang Abraham berikan padaku kemudian membimbing mereka bergabung ke dalam UG kita.”


Terlihat perubahan raut wajah Ryan langsung tak bernafsu seusai aku bicara. Namun aku menghiraukannya. Aku berpaling darinya untuk menatap gadis remaja yang auranya segar merapat ke diriku. “Jian...”


“Siap, Ketua. Kemana tujuan kita?” sorak Jian seraya memberi hormat.


Aku tersenyum rapat padanya, sembari memberikan secarik kertas berkoordinat. “Hamburg, Jerman.” Kataku.


Jian menepuk tangannya di depan dada seraya tersenyum amat manis. “Asyik. Kita jalan-jalan ke luar negeri lagi. Aku belum pernah ke Jerman!” katanya, lalu meminta kami untuk mendekat sejarak dua meter mengitarinya. Kacamata unik di kepalanya diturunkan dan jemarinya yang kecil dan ringan menekan tuts sentuh mini pada bingkai lensanya. Lalu dalam aba-abanya yang terdengar begitu polos dan menggemaskan, kami terlesap oleh bakat Sateliport-nya.


Kami muncul di jalanan kota Hamburg entah di mana letak pastinya, yang terpenting kami telah tiba berdasarkan koordinat yang Abraham berikan padaku serta aku percaya pada bakat Jian yang pasti tepat sasaran. Hanya saja ada satu masalah yang lupa kuperhitungkan....


Jian menyebarkan pandangannya ke sekeliling dengan menempatkan telapak tangan kirinya secara mendatar di dekat alisnya, “Sepi sekali, dimana orang-orang?”


“Wow, bagus sekali, Kapten. Kau memilih saat yang tepat. Tidak ada aktivitas manusia di sini.” Ryan menyindirku. Kedua tangannya dikesampingkan pendek merentang.


Leonardo menyingkap lengan jubahnya, memperlihatkan jam tangan hitam Swiss Army-nya. “Kita berangkat pukul sembilan pagi waktu Indonesia Bagian Barat. Perbedaan waktu dengan lokasi kita saat ini adalah delapan belas jam. Dengan kata lain ... saat ini jam tiga dini hari.”


“Apa yang akan kita lakukan sekarang? Menunggu hingga matahari terbit?” Timpal si gadis bising Lisa kemudian mengupas bungkus permen karet dari saku jeans-nya dan mengunyahnya cuek.


Aku mendengus pelan, “Tetap bersama. Kita susuri jalanan ini, barangkali kita menemukan petunjuk tentang kelompok Aila lokal sini.” Walau kemungkinannya aku yakin sangat kecil. Yah, pastilah mereka sedang tidur dengan nyenyak disuatu tempat entah di mana.


Beberapa lama kami berjalan menyusuri jalanan kota dalam keremangan, tak ada aktivitas yang begitu berhubungan dengan misi kami. Sesekali mobil warga sipil melewati kami dengan sorot lampunya. Sampai akhirnya telah habis kami susuri jalanan beraspal dan sekarang telah berganti dengan jalanan beranyamkan batabeton merah tua.


Kelihatannya kami telah memasuki daerah pertokoan, nampak dari ciri khas bangunannya yang beretalasekan kaca. Bersama diikuti anggota timku, kami melanjutkan langkah menelusuri jalanan dengan penerangan dari lampu-lampu tiang logam gelap bergaya klasik melengkung. Ketika suasana begitu hening terasa, hanya lolongan anjing di kejauhan yang terdengar dan udara dingin telah meremasi kaki ini, Ryan berseru kesal.


“Arrgh! Cukup! Kita buang-buang waktu! Terlebih lagi kenapa bukan tim Rescue UG cabang Eropa saja yang menangani misi ini. Misi tingkat rendah, membosankan! Ini salahmu!” erangnya sampai suaranya merambat menjauh di sekitar lingkungan. Semua anggota tim menoleh padanya.


“Aku? Asal kau tahu saja, bukan aku yang memberikan misi ini. Jika kau ingin protes sana datangi Abraham dan keluarkan semua unek-unekmu.”


“Cih. Kau bisa tolak atau minta ganti misi. Itu yang bakal kulakukan kalau jadi ketua tim ini.” Ryan mendecik membuang muka sementara aku membalas dengan gelengan tak habis pikir. George maju ke sisi kiriku berbisik memintaku untuk sabar, dan aku cuma menatapnya sembari membalasnya dengan gerakan alis.


“Gutten morgen.”


Sebuah suara secara tiba-tiba menyapa dan kami semua menoleh ke sumber suara. Asalnya dari dalam keremangan ruas jalan sempit di antara dua deretan blok bangunan pertokoan. Aku tidak dapat melihat wujudnya dengan jelas. Hanya tapak langkahnya yang mendekat menjadi penanda dialah orang yang menyapa. Disaat seperti ini langkah yang tepat adalah- “Leon.”


“Beres.” Tanggap Leonardo seraya membenarkan posisi kacamatanya yang turun.


“Sedang apa kalian anak-anak muda berkeliaran pada jam ini?” Sapa sosok misterius itu. Dia berhenti ketika hanya setengah badannya dari kaki hingga sepinggang yang nampak terkena sinar lampu jalan yang berwarna oranye hangat.


“Tunjukkan wujudmu.” Jawab Ryan.


Sosok itu terdiam sebentar, sekilas aku merasakannya tersenyum menyeringai meski begitu samar dalam bayang-bayang malam dapat kulihat dari jarak belasan meter ini. Atau mungkin cuma perasaanku saja.


“Oh oh. Anak-anak jaman sekarang kurang bertatakrama, ya?” sosok itu kembali pelan melangkah. Ketukan sepatunya menggema sepanjang jalan. Dia kembali berhenti sebelum wajahnya tersingkap, kali ini wujudnya terungkap hingga sebatas pundak. Walau begitu kami sudah cukup dapat menerka bahwa dia seorang pemuda dengan tinggi sekitar 190cm, mengenakan jaket tebal panjang khas orang barat berkerah merah. Kilau cahaya bulan sedikit membias di daerah pelipisnya, dan mengungkap setengah wajahnya dari dagu sebatas hidung sewaktu awan di horizon langit belakang dirinya sejenak bergerak namun kemudian memendung kembali―kilasan itu sebingkas benda panjang tipis bertengger di telinga; ah, dia berkacamata. Namun parasnya masih berada di dalam kegelapan.


Pemuda itu tersenyum, dengan nada misterius dia berkata, “Apa kalian sedang mencari sesuatu? Oh, istilah apa yang kalian pakai untuk itu ya? Hm ... para Aila?”


Kami sontak tertegun dan saling pandang. George menatapku resah kemudian aku mencoba menjawab orang misterius itu, “Apa yang kau tahu? Siapa dirimu?”


Bulan kembali menyembul tipis di kaki langit dan seringai lebar pemuda itu terlihat, “Sebelum aku jawab itu, terimalah hadiah pertemuan kita dariku.”


Jelas ini bukanlah sambutan yang ramah . Tak butuh waktu lama untuk menerka apa yang ia maksud sebagai hadiah pertemuan. Kepakan sayap serangga terdengar dari dirinya. Berisik mendengung berkerumun. Lalu seperti asap dari rumpun api yang disiram padam, ribuan makhluk serangga terbang menguar merebak dari jubahnya yang tersibak berkelebat.


“Awas! Dia sepertinya Aila dan punya niat buruk!” Kataku kepada timku kemudian aku bersiap menghadapi serangan.


Ryan terkejut, terhenyak mundur. “Apa-apaan!?”


“Kyaaa!” Jian dan Lisa menjerit seperti gadis muda ketika laba-laba atau kecoa merayapi tubuh mereka.


“Ugwaaah!” George kelabakan menepuki kepalanya. Ribuan belalang tiba-tiba menyerbu kami―datang dari remang jalan tempat pemuda misterius itu berada.


Kaca-kaca bohlam lampu jalan di sekitar kami pecah oleh tubrukan belalang-belalang. Seketika tempat ini menjadi gelap dan pupil-pupil mata kami hanya mengandalkan penglihatan dari terpa sinar lampu etalase toko yang redup menyala.


“Sial! Belalang macam apa yang keluar diwaktu ini serta dapat memecahkan kaca!?” gerutuku seraya berusaha menyingkirkan belalang-belalang yang mengerubungiku.


Tepuk, kibas, tangkap. Aku mendapati seekor belalang dalam genggamanku. “Akh!” telapak tanganku tergigit. Kudekatkan belalang dalam tangkupan tanganku ke dekat wajah untuk kuamati dan- “Uwaaa!” Aku melepaskannya, lebih tepatnya melemparnya. Terkejut karena wujud belalang ini gila. Kepalanya kumbang tanduk, mulutnya bercapit seperti milik semut karnivora, sedang tubuhnya sebesar dua jari orang dewasa serta ekornya memiliki sengat kalajengking. Menjijikkan. Mengerikan. Merinding punggungku.


“Ha ha! Ini saat yang kutunggu-tunggu! Lagi. Beri serangan yang lebih menantang dari ini!” Seru Ryan si bocah api malah kegirangan. Dia membakar hangus gerombolan belalang yang menyerbunya. Bagai maniak dalam film aksi,  dia menembakkan apinya ke belalang yang terbang berkerumun mengitari sekitar kami.


George berdampingan dengan Leonardo melawan belalang-belalang itu mundur ke  sisi lain agak jauh dari Ryan namun dekat enam meter denganku. Leonardo mengeluarkan tongkat yang dapat dipanjangkan sekaki dan beraliran listrik dari kolong sabuk di pinggang kirinya. Sedangkan George memberikan perlindungan pada Leonardo dengan tameng kristal pipih ungunya dari serangga yang berkelompok terbang ibarat satu kesatuan menghantamkan diri. Di kesempatan lain, George juga menggunakan kemampuan bakat Copyscroll-nya meniru bakat Pyrokinetik milik Ryan untuk membakar belalang yang menyerangnya.


Sedangkan Lisa ... sepertinya aku tidak perlu terlalu fokus padanya, si bocah api melindunginya. Ah, di mana si gadis peri-


“Ketuaaa―!” Jian menjerit entah dari mana muncul menubrukku dari samping. Kami berdua terjatuh, tubuhnya menimpaku.


“Ugh ... kenapa kamu?”


Jian meringkukkan kepalanya ke dadaku. Terdengar isakan kecil darinya. Aku terdiam, tertegun dengan perubahan sifatnya dari gadis yang selalu ceria menjadi gadis biasa seumurannya yang menangis takut akan suatu hal.


Aku mengusap kepalanya pelan. Kucoba untuk bangun, dan karenanya wajahnya bangkit dari dadaku kemudian Jian menatapku dengan matanya yang sembab.


“Tenang, akan segera kubereskan,” ungkapku menatap wajahnya yang takut dan basah di pelupuk mata.


“Uh um.” Sahut Jian kemudian mengusap airmatanya.


Aku bangkit berdiri dan berkata, “George.”


“Master?”


“Buatlah kubah kristal untuk dirimu serta Leon sekarang. Ingat, jangan ada celah.”


“Siap master.” George segera melakukan perintahku. Mengurung dirinya serta Leon dalam kubah plasmanya. Aku segera melakukan hal yang sama kepada Jian, diriku, serta si gadis bising Lisa. Lisa yang tiba-tiba terkurung oleh bakatku terkejut dan memaki namaku tapi tak kutanggapi.


“Kamu mau apa lagi!?” gertak Ryan ke arahku.


Kuserukan Ryan yang tak terlindungi bakatku dan George, “Ryan! Tunjukkan padaku kemampuanmu! Bakar serangga-serangga ini!”


“Hah!? Kok tiba-tiba? Jangan menyuruhku. Memang aku akan melakukannya!” Ryan memposisikan diri berkuda-kuda rendah dengan tangan kirinya yang terbakar api diluruskan ke arah pijakannya.


Volume api di sekitar serta di tangannya mulai membesar menjilat-jilat liar. Si bocah api tersenyum girang, “Ini yang kutunggu-tunggu! Jangan salahkan aku kalau gosong terpanggang, ya!” Ryan berputar bagai sedang melakukan gerakan melempar cakram.


Kobaran api dari tubuh Ryan mengombak berputar spiral, menyebar membeliung tornado. Api Ryan membakar semua belalang-belalang itu, termasuk mengenai kubah kristal yang melindungi kami.


Bangkai ribuan belalang gosong tumbang satu persatu. Udara menjadi ringan dan kaki kami merasakan kehangatan itu dari lantai bata tempat ini yang nampak mengepul asap tipis usai tersapu jurus bakat Ryan.


Pandanganku langsung kulemparkan pada sosok pemuda yang menyerang kami dari lorong gelap. Cahaya dari serangan api Ryan menerangi semua area ini dalam sekejap. Dengan ini sosok orang itu pasti tersingkap! Tunjukkan wujudmu hei orang as― Eh? Dia, Abrah-


Serangan Ryan telah padam dengan menyisakan kobaran-kobaran kecil di sela-sela jalan berbata. Wajah orang asing itu, bukankah dia Abraham? Bukan, pasti bukan dia. Postur tubuhnya lebih jangkung serta kurus daripadanya serta suaranya lebih ringan dari Abraham. Aku segera melirik kepada rekan-rekan setimku, sepertinya hanya aku yang menyadari sosoknya. Tapi yang pasti pemuda misterius itu mirip dengan Abraham. Terutama warna rambut kelabunya.


“Ha ha! Lihat, tidak ada yang tersisa!” Ryan tertawa puas dan bangga.


“Sepertinya aku telah salah menilai kalian.” Ujar sosok misterius dalam lorong gelap itu yang sedari tadi menonton perlawanan kami.


“Apa maumu!?” seruku. Tak tertahan lagi kebingungan ini.


“Mauku? Ah ha ha. Sebenarnya aku hanya sedang bosan saja. Karena akhir-akhir ini di RR tidak ada misi dari Jordan-ku sayang yang membuatku tertarik.”


“Tunggu, kau bilang RR!? Rebellion Rounds!?”


“Oh, kau tahu kami?” katanya.


“Apa sebenarnya tujuan kalian?”


“Kalian dari UG, ya?” Pemuda itu tersenyum licik. Deretan gigi putihnya nampak jelas walau di dalam keremangan.


Dia tahu mengenai kami? Batinku.


“Ladeni aku lebih lama lagi maka akan aku jawab pertanyaanmu.”


“Ketua Diaz, berhati-hatilah. Aku membaca informasi aneh dari gelombang otaknya.” Timpal Leonardo. Di sisi lain sang pemuda misterius dalam gelap itu cekikikan.


Sedang sebelum semuanya mempersiapkan diri, belasan pasang sorot mata merah muncul dari dalam kegelapan.


Ryan membesarkan api di tangan kanannya sebagai obor setelah menyalakan pemantik apinya terlebih dulu. Dari terang cahayanya tersingkaplah pemilik belasan pasang mata yang mengelilingi kami.


“Sial ....” Celetuk Ryan sembari mundur mendekat pada kubah kristal tempat diriku serta Jian berlindung.


Grrrr! Erangan-erangan ganas itu milik belasan anjing, atau mungkin monster, atau mungkin makhluk campuran, atau apalah namanya yang mengepung kami ini.


“Chimera?” Leonardo menyebut makhluk itu. Makhluk bertubuh anjing besar dengan mata dan taring ular, bertanduk domba serta berekor buaya. Chimera, mungkin nama yang cocok untuk itu.


Tiga Chimera mendekati Ryan yang tanpa perlindungan kubah kristal.


“Ryan tunggu, jangan asal bertindak.” Kataku di dekatnya. Merapat ke permukaan kubah perlindunganku.


“Memangnya saat ini aku bisa apa?” jawabnya tegang. Ryan membagi dua api obornya dan memusatkan masing-masing kobaran di kedua telapak tangannya. Meliuk-liuk jilatannya seolah-olah gelisah.


Saat itu juga kurasakan gelagat nekatnya lalu kukatakan, “Kamu mau apa? Ryan, hei! Bodoh!” Sialan, Ryan tak peduli perkataanku. Dia berlari menerjang ketiga Chimera itu.


Bersama seru semangat tempurnya, tinju api Ryan mendarat pada salah satu anjing Chimera.


Makhluk itu terbakar, melompat-lompat, berguling kemudian mendengking tersiksa. Tapi kelihatannya, tindakan Ryan hanya akan mencelakakan dirinya sendiri. Semua anjing Chimera yang mengelilingi kami perhatiannya teralihkan kepada dirinya. Mendesis menyalak murka.


“Apa?! Kalian mau kubakar juga, hah!?” gertaknya kepada para anjing Chimera yang melompat turun dari atap pertokoan, mengitari dirinya sambil menggeram dan berjalan runduk siap menerkam.


Satu Chimera mendesis lari menerjang Ryan dan-


Bugh! Moncong mulut Chimera itu tertinju keras terbakar, kepalanya melintir patah berkobar. Dua telah tumbang, dan tujuh belas lagi tersisa. Lekas bergantian mereka meloncat menerkam ke arah Ryan. Tetapi, dua, tiga Chimera sukses gugur terhantam tinjunya.


“Gyaaah!” Ryan menjerit, Chimera ke-enam berhasil menggigit lengannya. Tak memberi kesempatan untuknya bergerak, dan Chimera-chimera lain dengan beringas menyerang menubruk Ryan dari belakang. Si bocah api tertindih tumbang.


“Ryan!” Jerit Lisa dari dalam kubah kristal. Mendobrak permukaan kokohnya namun jelas tak akan pecah oleh tenaganya.


“Sial! Sialaan!” Aku keluar dari kubah perlindunganku, membuat lubang keluar sebesar seorang lalu menutupnya lagi, meninggalkan Jian untuk menyelamatkan pemuda sembrono itu. Berlari menuju dirinya yang tergeletak jadi bulan-bulanan anjing Chimera.


“GRAAAH!!” Ryan memekik terdengar kesakitan serta marah dari dasar timpaan keroyokan itu lalu tiba-tiba belasan Chimera yang menubruk dirinya terpental ke udara dengan tubuh mereka terbakar ledakan api ketika setengah jalan aku hampir sampai. Semuanya tergeletak hangus membara. Sosok Ryan bangkit keluar dari kobaran besar di sana. Dari sela-sela robekan bajunya; tepatnya di tengah dadanya, tato aktivasi level 3 yang berbentuk seperti kepingan salju berwarna biru muncul berpendar. Tato yang sama seperti milikku.


Ryan menghela napas, “Haah ... aku merasa gerah. Aku kepanasan.” Ia tersenyum ke arahku dengan mencengkeram lengannya yang terluka. Rasanya aku tak perlu menyelamatkannya kalau begini.


“Hem ha ha ha ha ha!! Luarbiasa! He ha ha ha ha!” Laki-laki misterius dalam lorong gelap tertawa gila menggema ditingkahi beberapa kali tepuk tangan.


Aku melangkah mendekat dan berhenti hanya sekitar tiga meter darinya, “Jadi sekarang jawab pertanyaanku sebelumnya. Siapa dirimu, apa kau anggota RR? Apa tujuan kalian? Kenapa kau menyerang kami?” kutatap parasnya yang kian kentara mirip dengan Abraham hanya saja lebih tirus dan nampak feminim dengan rambut kelabunya yang gondrong menyentuh leher.


“Aaah. Pertanyaanmu tidak sebanyak itu sebelumnya. Aku hanya akan menjawab bagian tujuan kami.”


“Jadi apa tujuan kalian?”


“Simple, meruntuhkan pemerintahan dunia. Itu visi Jordan sih. Kalau aku sendiri gabung cuma mau senang-senang saja.” Ucap pemuda itu dengan entengnya. Kilau cahaya membias di lensa kacamatanya. Pria itu menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, hanya menunjukkan sebelah matanya yang ber-iris hijau.


“Ketua, menjauh darinya! Aku mendeteksi komunikasi simultan dari gelombang otaknya, entah sepertinya dia bertelepati dengan ‘Sesuatu’!” Seru Leonardo jauh di belakang.


Pemuda asing di hadapanku tertawa keras dan berkata, “Jika kalian kemari mencari sekelompok ‘penggguna’, kalian sudah terlambat! Mereka telah bergabung dengan kami! Sebagai gantinya, aku beri kalian beberapa ‘oleh-oleh’!” jelasnya diakhiri tawa lagi. Lalu dia berbalik, berjalan cepat memasuki bagian jalan semakin dalam tertelan gelap.


Aku berusaha mengejarnya, “Tunggu!” tapi tubuhku tertabrak oleh sesuatu hingga terpental semeter ke belakang terjerembab. Ketika aku setengah beranjak duduk, sesuatu menyepak tubuhku hingga aku melayang terlempar menubruk kubah kristal tempatku semula.


“Ketua Diaz!” Jian menjerit tepat di belakangku. Kami hanya terpisahkan oleh satu lapisan pelindung dari bakatku. Dari cabang jalan sempit nan gelap di hadapanku keluar sosok kuda Chimera. Besar dan nampak mengancam.


“Ouw, akh.” Rasa nyeri pada samping tubuhku membuatku tertatih bangkit berdiri sembari bersandar pada dinding kubah kristal di belakangku. Untungnya, tak kudapati luka parah atau tulang retak. Hanya salah satu lubang hidungku mimisan.


Sementara makhluk yang menyerangku bergeming di depan sana. Kuda jadi-jadian, aku lebih suka menyebutnya begitu. Lihat saja, makhluk bertubuh kuda yang memiliki satu tanduk banteng di kiri kepalanya serta tanduk rusa liar di sisi satunya.


Tubuhnya setinggi dua meter kekar berotot, entah makhluk ini sering berlatih di gym atau apa. Kemudian yang lebih seram lagi makhluk ini bergigi serta berlidah ular; sesekali mendesis pula. Yang lebih buruk, dia tidak muncul sendirian. Lima belas kawan serupa dari makhluk itu muncul dari dalam lorong gelap di balik dirinya.


Ah, satu lagi hal yang membuatku patah semangat. Anjing-anjing Chimera muncul di atas atap-atap bangunan pertokoan di sekitar kami. Puluhan. Mungkin sekitar tiga puluh.


Aku belum pernah ke Jerman sebelumnya tapi apakah hewan-hewan domestik di sini seperti ini semua wujudnya? Lihat saja apa-apaan ini, keluarga Chimera menyergap kami. Apa kami terlihat seperti bekal makanan darmawisata? Jika iya, aku ingin tahu terlihat seperti makanan apakah diriku ini. Dan terakhir ... sepertinya makhluk-makhluk ini bukan herbivora.


“Leon, tolong katakan kepada makhluk-makhluk itu kita hanya turis dan datang dengan damai.” Kataku sambil menggeretak gigi.


“Aku hanya mengerti bahasa manusia!” Balas Leonardo dengan nada yang seperti berkata ‘memangnya aku ini Sulaiman’?


Lalu aku berpaling pandang, “Bocah api ... akh maksudku Ryan. Bisa tidak kalau kau lawan mereka semua?”


“Kau ragu pada kemampuanku? Heh, membereskan Chimera-chimera ini cuma hal kecil bagiku. Urusan sepele. Biar kuatasi semuanya sekaligus.” Jawabnya yakin, sesekali dia meringis menahan perih di luka-luka cakaran sekujur tubuhnya.


Kulirik lengannya yang menetes darah. Kalau saja kau tidak memiliki luka-luka itu, aku akan membiarkanmu melakukannya, renungku. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, sebab dia terlampau percaya diri. Jadi, apa boleh buat aku akan mendampinginya bertarung.


Dengan mengerahkan segenap tenagaku dan menahan nyeri di samping pinggang, aku bangkit menghampiri Ryan. Berdiri mendampinginya, saling membelakangi punggung siap siaga.


“Level tiga, kenapa malah ke sini? Sudah kubilang aku dapat membereskan mereka semua sendirian!”


“Ya ya ya bodo amat. Eh, kau juga level tiga, sialan. Lalu pikirmu aku akan membiarkanmu bersenang-senang sendirian?”


“Terserahlah. Asal kau tidak menggangguku saja.” Katanya.


Ryan telah memasuki mode kontamin selama kurang lebih lima menit. Berarti tinggal sepuluh menitan lagi sebelum dia mencapai limit dan tidak dapat menggunakan bakatnya sampai lima belas menit berikutnya. Itu jika stamina tubuhnya kusamakan dengan pengalaman yang kudapat. Mungkin beda jenis bakat dan orang, beda juga ketahanannya dalam mode kontamin. Tetapi sebaiknya aku memintanya untuk bereskan Chimera yang paling menyusahkan terlebih dahulu.


“Oi, kau bisa bereskan yang besar-besar itu, kan? Biar aku membereskan yang kecil-kecil di atas atap itu.” Ujarku sembari menunjuk Chimera-chimera yang berdiri berjejer di atas atap pertokoan. Saling mendesis dan menggonggong melongok kepada kami di bawah.


“Oke, pilihan tepat. Sesuai dengan kemampuan bakatmu.” Ryan tersenyum mengejek.


“Ha ha.” Aku tertawa datar tanpa ekspresi.


Kuda-kuda Chimera mulai berlarian ke arah kami berdua, mengabaikan rekan-rekan timku yang berada dalam perlindungan kubah kristal.


“Ryan!” seruku.


“Aku tahu! Jangan memerintahku! Horyaaa!!” Dia melancarkan serangan tinju-tinju api dari jauh. Kobaran api bagai komet mengenai kuda-kuda mengerikan itu. Tapi kecepatan lari mereka tak melambat walau tubuh mereka terbakar.


“Sial, sepertinya aku terlalu berharap banyak padamu,” kataku kecewa.


Satu kuda Chimera berlari sangat cepat dari sisi Ryan menghadap sambil merundukkan kepalanya hendak menghantamkan diri.


“Minggir!” Sergahku seraya menghadang Ryan hendak menggunakan bakatku.


“Kau yang minggir!” Ryan meninjukan satu tangannya ke tanah. “Pilar Neraka!” teriaknya lantang.


Areal yang akan dipijak kuda Chimera itu menyembur pilar api yang menjulang ke langit bagai sorotan kompor pijar yang membara―membakar hebat kuda itu. Kulit serta dagingnya terpanggang dan mengelupas. Satu kuda Chimera tumbang, sisa empat belas lagi. Sedang waktu limit si bocah api kuterka tinggal tersisa lima menit lagi; aku harap cukup untuk membereskan mereka semua.


Sepertinya sekarang giliranku beraksi. Belasan anjing Chimera melompat dari atap bangunan pertokoan. Cukup tinggi. Segera kurentangkan kedua tanganku lalu merenggangkan jemariku.


Aku berhasil memerangkap mereka semua dalam bola kristalku. Masing-masing terkurung sempurna di dalamnya sebelum kaki-kaki mereka sempat mendarat. Dalam keadaan mengawang tak berdaya membebaskan diri, mereka memberontak mencakar-cakar liar. Kemudian dengan santai kukatupkan jemariku.


Zrat! Bola plasma yang memerangkap mereka mengecil sebola tenis. Mengompres yang terperangkap di dalamnya laksana gilingan daging dan darah. Terdesak termampatkan volumenya.


Kini empat belas anjing Chimera tumbang, sisa enam belas lagi.


“Lu- luar biasa ....” Ungkap Leonardo menyaksikan pertarungan kami.


“Itulah Master-ku! Yeah!” George bersorak girang.


“Hajar mereka semua Ryan!” Sorak balik Lisa.


“Ketua ....” Jian terpesona, kedua tangannya didekapnya ke dadanya. “Ah! Ketua! Awas di belakangmu!!” serunya menunjuk.


“Ugh” Aku melirik ke belakang, satu kuda Chimera berlari siap menyeruduk sangat dekat posisinya di belakangku. Tapi bola api sebola sepak yang melayang cepat mendarat di leher kuda barusan dan tubuhnya terpelanting ke samping lekas terbakar sebelum sempat menghantamku.


“Kau berhutang satu padaku, Level Tiga. Lalu, seranganmu tadi lumayan.” Ryan tersenyum.


“Oh, terimakasih. Dan tolong berhenti memanggilku seperti itu.” Aku balas tersenyum kemudian memposisikan diriku menghimpitkan punggung dengan dirinya.


Tiga belas kuda Chimera mengamuk dan mengambil ancang-ancang. Mereka bergerak melingkari kami kemudian secara bersamaan berlari ke arah kami berdua.


“Majulah semua, aku tak takut!” Ryan meninjukan apinya ke atas kepala, mengendalikannya turun dan berputar melingkar mengikuti posisi kuda-kuda itu. Menerabas mereka semua namun kuda-kuda Chimera itu tetap kokoh berlari menuju kami meski api memangsa tubuh mereka.


Ryan memposisikan diri setengah berjongkok, “Oke, coba ini. Pilar Neraka!” kedua tinjunya dihunjam keras-keras ke tanah.


Desis dan deras semburan api terdengar mengerikan dan panasnya menerpa kami. ia menjulang bak muncul dari dalam neraka berkobar setinggi tiga meter melingkar mengelilingi kami.


Dengan mendesis kuda-kuda Chimera itu menerjang pilar api Ryan. Celaka. Beberapanya tumbang, tapi beberapa yang lain berhasil menerobos dengan melewati mayat kawannya. Satu yang lolos itu menyeruduk Ryan dari depan. Tubuhnya terpental melayang ke belakang menghantam etalase kaca toko hingga pecah dan masuk ke dalam ruangannya.


Aku yang kaget dan panik lekas mencipta perisai kristal kubus tertutup mengurungku. Dua kuda Chimera lain menghantam samping perisaiku sampai retak dibuatnya dan mereka terus menyeruduk. “Sial! Hei Ryan! Apa kau tidak apa-apa!?”


Sialan, aku mulai menjadi bulan-bulanan Chimera-chimera ini dari segala penjuru. Mereka dengan liar menghantam perisai kubus perlingdunganku. Benar-benar gawat, apa aku harus memasuki mode kontamin level 3 lagi?


GLEGARRR!!


Ah!? Gedung toko tempat Ryan berada meledak terbakar hebat. Bangkai perabot yang hangus membara sampai terlempar keluar ke atas jalan.


“UWOOOOOOOOOOOOOO!!!” Ryan dengan agresif meninju beruntun dari jarak lima meter dua kuda Chimera di hadapannya. Tinju-tinju apinya mengenai dan membakar tubuh mereka. Kedua kuda Chimera itu lantas berlari menuju Ryan. Namun Ryan tetap kukuh dalam posisi melancarkan serangan-serangannya.


Satu kuda Chimera akhirnya tumbang dan tersisa satu ekor lagi yang masih berlari dengan liar menujunya. Lalu Ryan menggunakan jurus andalannya. Pilar Neraka yang benderang menerangi tempat ini. Tetapi, meski terkena serangan barusan, kuda Chimera itu tetap melaju dengan tubuhnya yang terbakar hebat serta melepuh. Meski daging koyak mendesis dan tulang menyembul. Mata bulat merahnya mengancam nyawa Ryan dan ketika tapak larinya kian cepat, nyaris lima meter lagi akan mengempas tubuh Ryan, kuda Chimera itu tergelincir tumbang dan tak bangkit lagi.


Keberuntungan, kali ini berpihak padanya.


Ah! Celaka, tato aktivasi mode kontamin di dadanya telah lenyap. Yang artinya dalam waktu lima belas menit kedepan Ryan hanya akan menjadi orang biasa.


Ugh, benar-benar waktu yang buruk. Anjing-anjing Chimera yang sedari tadi hanya memantau di seberang sana, mulai bergerak dari tempatnya dan berlari menuju Ryan. Sementara aku tidak dapat bergerak dalam kepungan tujuh kuda Chimera yang terus menghantam perisai plasmaku.


Aku hanya menyaksikan anjing-anjing Chimera itu melompat tinggi, hendak menerkam Ryan  yang lemas seperti mangsa tak berdaya.


Namun, anjing-anjing Chimera itu tak mendapati tubuh Ryan dalam gigitan mereka―melainkan permukaan kasar mirip kaca mozaik transparan. Kubah kristal yang tak simetris lapisannya melindungi si bocah api.


“Kerja bagus George!!” Seruku.


“Ketua Diaz, mulai dari sini percayakan kepada kami.” Ucap Jian dari balik tubuhku.


“Uwaaa!!? Ka-kapan kau ada di sini?” aku terhenyak berbalik.


Jian memelukku dari depan dan-


DRAGH!! PRANG!! Perisai kubus kristalku pecah terhantam oleh tandukan kuda Chimera. Begitu kuatnya tenaga dorong mereka sampai mereka saling beradu tanduk satu sama lain. Tapi diriku tak berada di dalamnya. Aku telah terteleport bersama Jian di atap sebuah bangunan pertokoan yang rata.


“Ah ... ehm, gadis peria- ah maksudku Jian. Bisa tolong lepaskan pelukanmu sekarang?”


“Uh em ... ma-maaf ketua.” Pipi Jian memerah lalu ia tutupi dengan kedua tangannya.


Apa mungkin dia terkena demam?


Kuperhatikan anggota timku yang lain di bawah sana. Lisa si gadis bising mengeluarkan semacam benda kerucut sebesar kaleng susu. Dia dekatkan ke mulutnya. Lisa telah terbebas dari kubah kristalku. Karena mungkin perlindungannya itu ikut lenyap ketika Jian membawaku bersama bakat teleport-nya.


Dia pun menjerit sekuat-kuatnya, menggunakan bakatnya dan corong itu sebagai pengeras suara. “KYAAAAAAA——!” gelombang suara yang teramat bising, nampak bagai gempuran pusaran ombak yang nyaris tak tertangkap pandangan, mengarah pada kumpulan belasan anjing Chimera yang mengerubungi Ryan mendepak mereka terperanjat kemudian lari bersemburat.


George serta Leonardo segera berlari ke tempat Ryan. Mereka berdua masuk ke dalam kubah plasma tempat Ryan berada setelah George membuka celah pada permukaan padatnya itu dengan sapuan sebelah tangan. Leonardo segera mengeluarkan perban dan dua botol entah apa dari balik jubah hitamnya.


Aku jadi ingin tahu benda apalagi yang dia simpan di balik jubahnya. Sedangkan Lisa, ia segera dilindungi oleh George dengan mencipta kubah plasma keunguan. Di kesempatan lain, kuda serta anjing Chimera itu mulai menyergap mereka kembali.


Masalah kami belum beres, hewan-hewan Chimera masih berkeliaran. Dari pengamatanku di atas sini, cara yang mungkin untuk dilakukan adalah ... aku yang harus  membereskannya. Maka akhirnya kuputuskan untuk memasuki mode kontamin level 3 Death Freeze. Lalu tato aktivasi yang dingin mencengkeram menjalar di kulit leher sebelah kananku.


“Ketua Diaz?” Jian bertanya khawatir.


“Tenang, aku akan habisi hewan-hewan aneh itu dengan cepat.” Kataku seraya menoleh padanya. Jian tertegun. Mungkin karena dia melihat tato aktivasi level tiga yang berpendar di leher kananku.


Aku melangkah setahap demi setahap, berhenti pada batas atap pertokoan. Lalu kulanjut langkahku dengan tenang menyebrang melampaui tepi atap dari beton, menjejak kaki seolah-olah memijak udara menuju ke tengah-tengah bentang kosong antar blok bangunan yang saling hadap. Melayang setinggi lima meter dari permukaan tanah, berpijak pada lempeng kristal laksana ubin yang jernih kebiruan.


Tapak demi tapak ketinggian potensial-ku semakin bertambah. Kutempatkan lapisan-lapisan ubin kristalku bagai anak tangga; menaikinya. Sesampainya dua belasan meter dari atas tanah aku baru berhenti.


“Bukankah itu master?” tunjuk George yang di bawah sana.


“Apa yang dia lakukan di atas sana?” kata Leonardo di sebelahnya.


“George, kau mendengarku!?” panggilku padanya, menatapnya yang masih dalam perlindungan bakat Copyscroll meniru bakatku.


“Dengan jelas, Master!”


“Perkuat ketebalan lapisan kubah kristalmu! Yakinkan bahwa peluru mesinpun tak dapat menembusnya!”


“Siap, Master!”


“Hei, apa maksudnya?!” bentak Ryan meski keadaannya lemas berbaring dipapah Leonardo.


George tersenyum, “Percaya saja pada master.”


Lisa memerhatikan leherku, “Dia, orang itu ... memasuki mode kontamin.”


Kutarik napas dan kuhembus segera. Berkonsentrasi mempertemukan tanganku di depan wajahku, membentuk simbol segitiga piramid dari rapatan jemariku dan perlahan ribuan serpihan lembut nampak sebagai serbuk kaca tercipta berotasi di sekelilingku.


Ribuan serpihan kristal dalam pikiranku kubayangkan membesar, dan yang terjadi di kenyataan mengikuti keinginanku, membesar dan meruncing wujudnya sepanjang jari-jari manusia, setipis kertas kardus, selebar tak lebih lima senti. Kemudian, ketika kubuka mata lebar, mengamati sekitar bawahku di atas jalanan itu, dengan cepat kuturunkan tangan ke samping tubuhku.


“Tidurlah, dalam dera kuyub hujan derita ini,” bisikku.


Dan ribuan keping fraktal kristal nan tajam melaju turun laksana guyur hujan. Menancap tembus kepada benda apapun di lintasan jatuhnya. Menghunus tembus melubangi tubuh Chimera-chimera itu. Menancap di permukaan jalan, menerjang kubah kristal jernih keunguan di bawah sana namun tak sampai menembus lapisannya.


Darah mengalir meleleh tiada halangan dari lubang-lubang yang tercipta oleh rajaman bilah kristal bakatku di tubuh Chimera-chimera itu. Satu-persatu dari mereka lemas tumbang. Tak ada yang tersisa. Semua beres. Rekan-rekan setimku terdiam terhadap apa yang baru saja mereka saksikan. Tapi intinya, urusan kami di sini selesai sudah.


Aku berjongkok di ketinggian sepuluh meter, menghadap belakang ke sebuah atap bangunan pertokoan. “Jian, kita kembali ke UG, biar aku yang menjelaskan keadaannya kepada Abraham.”


“Si-siap, Ketua.” Jian tergagap. Gadis itu segera menempatkan kacamata berkordinatnya turun ke matanya.


Aku turun bersama undakan melayang lempeng kristalku, menghampiri George dan memintanya untuk memudarkan bakatnya karena kami akan pulang. Selepas perlindungannya sirna, kudapati Leonardo menatapku dengan tatapan yang lain.


Pandangan kami bertemu. “Bakat yang mengerikan ...” Ungkap Leonardo pelan.