
Sensasi ini ... rasa seperti isi kepalaku sedang diaduk super cepat. Kapan aku pernah mengalaminya sebelumnya?
Ketika demam? Atau sewaktu keinginanku terlalu memaksa tubuhku yang telah mencapai batas untuk bergerak?
Bukan ... aku yakin bukan walau hampir senada. Sensasi ini lebih tepat seperti ketika suatu benda yang diam dengan kelembamannya dipindah ke posisi lain dalam sekejap tanpa memengaruhi satu joule-pun momennya.
Ya, sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh para teleporter.
Pemandangan semerbak debu kuning lenyap berganti dengan biru benderang langit tengah hari. Sesuatu yang cukup berat menimpa tubuhku serta membentur daguku sedangkan punggungku menyambut sesuatu yang datar namun padat.
Sebelum aku sempat mengatakan apa yang terjadi, Ketua Andreas bangkit dari menindih tubuh depanku. Dia lantas memegang pundakku. Dengan wajah cemasnya dia berkata, “Diaz, apa kau terluka?”
Tegurannya memanggil kesadaran analitikku. Menyadarkanku atas seorang lain yang memandangku dengan aura tidak bersahabat.
“Andreas,” panggilnya merebut perhatian pria yang belum bangkit benar dari menindihku.
Ketua Andreas menoleh untuk kemudian berdiri menghadapkan tubuhnya kepada lingkaran kerumunan tidak jauh dari tempat kami bertiga barusaja tiba dari perjalanan teleport.
Sedikit menjaga jarak dari orang “itu”, aku mengikuti Ketua Andreas menghampiri kerumunan. Ketua Andreas membelah dinding orang-orang dengan kedua tangannya, sementara aku di belakangnya dan sesampainya di pusat kerumunan, kami mendapati dua sosok lain di tengah-tengah ruang kosong dari lingkaran dinding manusia yang hanya menyaksikan sembari berdialog simpatik.
Mary menekankan kedua tangannya pada dada seorang pemuda yang terus mengucurkan darah.
“Bertahanlah, tim medis dan Dokter July akan segera tiba.”
Pemuda yang kedua matanya mulai redup itu membaringkan sebelah pelupuk tangannya di atas kedua punggung tangan gadis pirang yang mencoba memperpanjang takdirnya.
“Terimakasih ...” katanya tersenyum getir menatap layu Mary yang menitikkan air mata. Sambungnya gemetar, “Tidak ada orang yang dapat menyelamatkanku dari lubang di dada ini. Tapi seharusnya kau juga sudah mengatahuinya, Mary. Karena kamu putri dari seorang ilmuwan yang hebat.”
“Edward! Jangan berkata yang macam-macam. Kamu diam saja. Memang manusia biasa mustahil dapat melakukan itu. Tapi kita dapat membuat keajaiban!” Serobot kata Ketua Andreas. Dia berjongkok di samping pemuda yang sekarat di atas kubangan darahnya sendiri.
Edward mencengkeram lemah kerah jubah Ketua Andreas, “Buka matamu, Andreas! Terimalah kenyataan! Keajaiban telah meninggalkan kita semenjak kutukan yang kita namai bakat ini mengalir dalam darah! Sejak awal kutukan ini suatu saat pasti akan menghabisi diri kita sendiri. Cepat atau lambat...” suaranya menghilang di ujung kalimat. Cengkeramannya lepas. Tenaganya nampak terkuras habis untuk mengatakan kalimat terakhirnya. Satu batuk yang keras bercampur darah merenggut lebih lagi tenaganya.
Mary histeris meronta dengan tetap menekan lubang di dada pemuda berbakat elementor angin itu. Sedetik setelahnya Dokter July tiba bersama dengan tim medisnya. Ketua Andreas berdiri lantas mendekap mundur Mary untuk memberikan ruang Dokter July melakukan tugasnya.
Walau aku bukan dokter, dan tidak memiliki pengetahuan medis, tapi dari ekspresi Dokter July yang terkejut melihat lubang menganga sebesar bola tenis di dada Edward ... dapat dipastikan yang kami bisa lakukan cuma menyaksikannya meregang nyawa. Dan tak butuh waktu lama untuk menanti kebenarannya. Kemelut haru menyelimuti kami saat Dokter July memvonis Edward telah pergi dari dunia ini untuk selamanya. Beliau menutup tubuh dingin itu dengan kain seprai putih lantas mempersilakan tim medis menggotongnya ke atas tandu.
Jim yang berada di dekatku meremas rambutnya frustasi sedang dahinya berkerut hebat. Sebulir airmata menggantung di sudut matanya. Namun tak ada kata yang terucap dari bibirnya yang bergetar.
Perhatianku teralih pada Ketua Andreas. Dia mendekapkan wajah Mary ke dada bidangnya. Memberikan gadis itu tempat untuk menumpahkan tangisnya. Namun, duka kami tak berlangsung lama. Masalah yang lebih besar baru saja dimulai. Keharuan kami terusik oleh raungan nyaring sirene.
Jim tersentak, “Itu ... dari arah gedung utama!” dan para Aila elit yang ikut dalam misi bersama panik menatap sesama. Pasti itu bukan alarm peringatan duka maupun kebakaran apalagi simulasi bencana.
Seorang Aila elit berseru kemudian berlari menuju gedung utama UG, “Semuanya waspada! Itu alarm bahaya!”
Mary dengan sigap menghubungi unit kamuflase melalui transmitter di lengan jubah unit rescue-nya, tapi jawaban yang didapat terdengar buruk.
“Ancaman tidak jelas! Kami tidak dapat mengkonfirmasinya! Tetapi sesuatu yang tidak tampak secara visual tengah menerobos pertahanan ruang bawah tanah Q-Floor!”
Mary menatap tegang Ketua Andreas. Seperti mengisyaratkan kita dalam status celaka dua belas. Lantas mereka berdua bergegas menuju sumber kegaduhan di ruang bawah tanah tempat aku di asingkan dulu. Ketika aku, Bintu, serta Ryan hendak mengikuti, Ketua Andreas mencegat.
“Bakat kalian berdua masih dalam kondisi pasif, kan? Aku minta kalian berdua untuk membantu evakuasi para penghuni UG. Biar kami para senior yang akan mengurus masalah ini.” Perintah Ketua Andreas dalam nada cepat. Kemudian sosoknya berpisah dari kami bertiga bersama dengan Aiko menuju pintu masuk Q-Floor di bawah gedung utama UG.
Aku melirik waspada ke arah Ryan kalau-kalau dia bertindak nekat lagi dan Ryan bereaksi mengangkat sebelah alisnya, “Kali ini aku tidak akan membangkang kok. Tenang saja.”
Baguslah, pikirku. Dengan kondisi seperti itu memang lebih baik dia kalem saja. Walau luka luar dari pertarungannya sebelumnya telah membaik, kelihatan mengering namun tubuhnya pasti masih merasakan trauma.
Bintu menimpali, “Jadi, kita evakuasi gedung mana?”
“Gedung asrama wanita!” Ucapku cepat bersemangat. Sontak kedua alis mereka berdua menekuk naik.
“Kau ini ternyata orang yang seperti itu, ya?” Ryan menepuk jidatnya kemudian menggeleng pelan.
“Berisik. Daripada kau yang tidak dapat membaca perasaan orang yang paling dekat dengan dirimu.”
“Hm? Siapa memangnya?”
“Pikir saja sendiri.” Ketusku sembari mengesampingkan kedua tanganku.
Walau dengan sikap Ryan dan Bintu yang sepertinya enggan dengan perkataanku barusan, pada akhirnya mereka berdua mengikutiku berjalan menuju gedung asrama wanita.
Belum sempat aku melayangkan tanganku pada gagang pintu dari alumunium, pintu di hadapanku terbuka. Bukan karena sistem pintu masuk asrama wanita yang otomatis, namun karena “orang” yang aku maksud secara eksplisit kepada si bocah api yang membukanya.
“Ryan!? Astaga, kamu kenapa?” kejut Lisa khawatir berlebih menghampirinya. Ryan menanggapinya malas sementara gadis itu berceloteh atas penampilan si bocah api yang memang mengundang pertanyaan macam-macam dari pakaiannya yang rombeng bekas terbakar dan ternoda darah.
Bintu menjelaskan seperlunya kepada Lisa. Beberapa menit gadis yang kurang kusukai itu mengangguk lalu melirik sinis padaku yang sudah menyelonong masuk melewatinya dan tengah menaiki anak tangga ke lantai dua mengacuhkannya.
***
Q-Floor. Ruang bawah tanah UG.
“Cukup sampai di situ!” Bentakan keras dari gadis paling berpengaruh di UG ditujukan kepada sosok berseragam hitam.
Sosok tegap misterius itu berhenti melakukan pengrusakannya pada dinding logam bundar menyerupai brankas. Perlahan, pria dengan helm khusus yang telah pecah sebagian di bagian muka itu menoleh.
Dahi Andreas berkerut, matanya memicing tajam pada orang itu. Segera darah panas menjalar di bawah kulit wajahnya dan dia berseru, “Kau! Sosok yang menyerang Edward dari belakang!” lantas dia menerjang sosok cyborg hitam itu, “dasar pengecut keparat!!”
Pria hitam misterius menyambutnya dengan reaksi yang sama pula namun secara mendadak penampakan dirinya menghilang.
Andreas yang terkejut dengan cepat menjentikkan jari kedua tangannya. Dan sang waktu pun terhenti atau lebih persisnya melambat di lorong itu. Kali ini dirinya juga ikut terkena efek dari kemampuan bakat Timeholder-nya.
Sepasang mata Andreas menatap seksama pada suatu objek yang bergeming sepuluh senti dari keningnya. Sesuatu yang tak nampak namun jika diperhatikan dengan baik, objek itu berbentuk kerucut-pipih-runcing seperti ujung tombak yang berpangkal pada sesuatu. Sesuatu yang diyakininya sebagai wujud fisik pria cyborg hitam yang akan dia hajar saat ini.
Sementara waktu mengalir lambat, tubuh sang musuh transparannya berangsur tersingkap samar-samar. Laksana sinar hologram yang mengalir bagai ombak atau cahaya yang berkilat di atas tumpahan minyak dan dalam gerakan yang sangat lambat, Andreas bergerak ke samping menghindari benda kerucut transparan yang melaju pelan akan mengenai dahinya.
Sampai ketika kepalanya telah dia amankan dari serangan kejutan sang pria cyborg, tangan kanannya yang mengepal dilayangkan ke perut sang musuh. Kemudian, dua jari tangan kirinya dia jentikkan.
Aliran waktu kembali berjalan seperti semestinya. Begitu pula dengan tenaga hantam dari tinju Andreas. Sosok yang dia bogem kuat terdorong menabrak pintu baja bulat yang belum usai dijebolnya. Sejurus kemudian Aiko mengacungkan telunjuk pada diri sosok tak terlihat itu dengan berpacu pada suara tubrukannya sebagai penanda posisi.
Aliran listrik biru bertenaga ratusan ribu volt menyambar tubuh bedebah pembunuh kawan mereka. Gadis tomboy itu menatap tajam dan tak hentinya mengalirkan amarahnya melalui serangan listriknya. Meluapkan perasaannya hingga aliran listriknya membanjiri tempat itu. Kalau saja Andreas tidak menjauh dari sosok yang diserang Aiko, dirinya pasti terikut terkena imbasnya.
Mary yang merasakan kegusaran hebat dari Aiko segera memeluknya dari belakang, “Sudah Aiko, jangan berlebihan. Sudah selesai....” katanya memohon. Lirih. Sehingga Aiko yang begitu nampak seram ketika menyerang tersadar dari kegelapan amarahnya. Dia menghentikan menurunkan tangan menghentikan serangan. Mary yang masih merangkul dirinya dari belakang perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Aiko. Namun, gadis tomboy yang memiliki sisi feminim itu berbalik membalas pelukannya.
Di sisi lain, musuh yang mereka kira telah dilumpuhkan masih berdiri kokoh. Bangkit dari serangan listrik dahsyat. Transparansi dirinya terganggu seperti saluran TV rusak. Beberapa letupan listrik masih merambat di tubuhnya sampai akhirnya sosok hitamnya kembali terkuak.
“Gadis bodoh, kau merusak ekstraktor-ku. Kau akan menerima balasannya....” Jelas pria cyborg hitam mengancam.
Aiko terhenyak dan segera berbalik. Namun, bukan cuma dia seorang yang syok melihatnya. Semua para Aila elit yang berada di tempat itu menjadi gentar. Bukan hanya karena sosok sang musuh yang kokoh setelah tersambar jurus petir, tapi karena tubuh di balik lapisan seragam armor yang tadinya rapat dan kini rompal itu mewujud hitam legam terselimuti batuan beku.
Helm armor seperempat pecah yang tadinya mengekspos wajah manusianya kini yang terlihat di baliknya adalah wajah mutan menyerupai iblis. Wajah iblis yang hitam solid seolah-olah tak nampak ada daging di bawah lapisan kerasnya.
Sosok mengerikan itu menoleh, sebelah mata ungunya melirik pada Aiko. “... aku akan mengampunimu kecuali kau berikan kepadaku batu itu.” Sebelah tangannya menepuk berkerontang pintu baja tebal di belakangnya, “Aku dapat merasakannya ... dekat. Di balik pintu baja ini.”
“Kalian berdua mundur! Menjauh darinya! Dia sangat berbahaya!” Seru Andreas kepada Aiko serta Mary.
Kedua gadis itu segera menarik diri, jauh dari si monster hitam misterius.
Melihatnya, pria tentara khusus Anti-Crisis yang identitas serta tujuannya belum jelas itu berbalik menghadap para Aila elit. “Aku anggap, itu jawaban tidak....” tanggapnya berbicara dalam tempo lambat.
Jim angkat bicara, “Beberapa menit lalu kau berkata mengenai ekstraktor atau apalah. Dan kemampuan menghilangmu itu ... bagaimana kau melakukannya?”
“Ooh ... kau tertarik? Aku tidak mengerti cara kerja ekstraktor pada seragamku ini, tapi sebelumnya aku mendengar dari mereka bahwa kemampuan unik yang ditanam ke seragam ekstraktor adalah dari hasil ekstraksi kemampuan para penyandang AA.”
Para Aila elit terhenyak atas jawabannya kemudian Jim menyadari sesuatu, “Kemampuan transparan itu ... mirip dengan kemampuan bakat Santi. Di mana dia!? gadis AA dengan kemampuan kamuflase yang dulu kalian sandera di Boston!?”
“Aku tidak tahu siapa yang kau maksud. Tapi jika benar kemampuan AA yang ditanam pada ekstraktor-ku adalah milik orang yang kau maksud itu ... berarti dia sudah mati.”
“Hah!? apa!? apa maksudmu!?” bentak Jim lebih keras. Andreas balik membentaknya untuk tidak menanggapi lebih jauh perkataan musuh di hadapan mereka.
Pria bersosok iblis hitam itu terkekeh. “Asal kalian tahu, mereka merenggut kemampuan AA dari pemiliknya dengan cara ekstraksi. Yaitu dengan melemparkan tubuh tiap penyandang AA hidup-hidup ke dalam oven panas ratusan derajat fahrenheit. Lalu abu mayatnya mereka jadikan batu permata murni. Kembali seperti sumber induk penyebab kekuatan AA ini. HA HA HA HA!”
“BIADAB―!! Akan kulempar kau ke lautan!!” Pekik Jim seraya menerjang pria iblis hitam itu. Dia tohokkan telapak tangannya bermaksud menteleport dirinya bersama sang musuh di hadapannya.
Namun, telapak tangan Jim tertangkap digenggam pria iblis hitam itu dan mereka berdua tak terteleport. Semangat Jim hilang seketika berganti ketegangan yang memuncak.
“Oh, apa aku lupa memberitahumu tentang Cicada Drive?” ungkap sang sosok iblis hitam. Lantas diangkatnya tubuh Jim kemudian memelanting pria berparas oriental itu ke lantai dengan satu tangan.
Leher Jim dicengkeramnya. Membuatnya untuk tetap terbaring menunggu ajal. Lalu dia yang tanpa rasa kemanusiaan itu memujudkan tangan kanannya sebagai tombak kerucut hitam solid lantas dia angkat tinggi dan diluncurkannya cepat kepada kepala Jim.
Tetapi kepala Jim tak jadi tembus pecah dan jadi mayat. Tombak kerucut yang nyaris merenggut nyawanya mendadak kini menjadi setengah dari panjang ukurannya semula. Sebagiannya seperti terlahap lenyap. Bukan karena kehendak pria iblis itu. Bukan pula karena kemampuan Jim. Pria iblis hitam dengan tubuh berlapis batu obsidian solid itu menoleh kepada gadis pirang bersorotkan mata kebencian.
“Kelihatannya kemampuan bakatku berfungsi dengan baik.” Kata Mary tegas. Tato aktivasi level empat nampak berpendar hitam di belahan rendah dadanya yang sedikit tersingkap.
Sang musuh yang merasa terhina menggertakkan giginya. Dia teringat akan sosok pria berkacamata dengan celak mata menyerupai pandangan rubah serta senyum bengisnya ketika memberinya seragam khusus Cicada Drive yang masih dalam tahap pengembangan.
“Setelah pulang nanti pria tukang suruh itu akan kupukul.” Gerutunya pelan. Sang pria iblis hitam lantas meregenerasi kembali tombak kerucutnya seperti semula.
“Andreas!” Tanggap Mary cepat. Ketua Andreas sejurus kemudian menjentikkan jarinya dan sang waktu kembali melambat.
“Trik lemahmu tidak akan berhasil untuk yang kedua kali.” sambung sang pria iblis hitam yang dapat bergerak dengan leluasa walau waktu di sekelilingnya terhenti.
Andreas terhenyak, “Apa!? apa itu yang kau maksud dengan Cicada Drive!? penetral kemampuan AA!?”
Merasa jurusnya tiada guna lagi, Andreas membatalkannya. Sejurus kemudian Mary menciptakan satu lingkaran pelahap dimensi pada posisi dimana Jim berada. Menelan pemuda Korea itu, memunculkannya lagi dari lubang dimensi yang lain di dekat Andreas.
Mary mengangkat rendah salah satu tangannya ke samping. Dia ciptakan beberapa bola pelahap dimensi sebesar bola kasti melayang-layang di atas tangannya. “Biar aku kuak Cicada Drive-mu itu!”
Bola-bola dimensi melesat sembarang arah menuju sang pria iblis hitam sementara pria itu menerimanya dengan membentuk tameng hitam solid mengkilap di tangan kirinya. Namun, dengan mudahnya bola-bola dimensi Mary melahap melubanginya.
Jurusnya efektif melawan musuh keji di hadapannya. Gadis pirang itu lantas memperbanyak bola dimensinya menjadi puluhan. Melayang di sekitar dirinya langsung saja dia lesatkan semuanya kepada sang musuh.
Bola dimensi Mary mengenai seragam sang pria iblis kemudian meletus bagai gelembung sabun. Tak memberikan lahapan mautnya seperti ketika melahap tombak obsidian laki-laki itu sebelumnya. Sedang bola-bola dimensi lain yang mendarat pada objek selain seragam khususn pria iblis itu bekerja dengan semestinya.
“Jadi seperti itu. Seragam milikmu itu menetralisir bakat kami. Tapi bagian yang tidak terselimuti olehnya ... maka akan tetap menerima dampak serangan kami.” Gumam Mary.
“Gadis pintar ... tapi jangan pikir kalian dapat lolos dariku tanpa berdarah setelah mengetahuinya!”
“Aiko!” Seru Mary memberi isyarat. Dia ciptakan bola dimensi di dekat Aiko serta beberapa buah di sekitar musuh mereka.
Aiko mengepalkan kuat kedua tangannya. Menciptakan arus listrik biru benderang pada seluruh lengannya lantas menjentikkannya kepada salah satu bola dimensi Mary.
BZZZT!!
Sambaran listrik keluar dari bola-bola Mary di sekeliling sang pria iblis hitam. Menyambar dirinya dengan dahsyat. Kejutan kembali terjadi. Sambaran listrik Aiko berdampak kepada sang musuh.
Pria iblis hitam yang masih disambar listrik itu mengerang. Tubuhnya bergetar kesemutan namun tetap kokoh pada posisinya berdiri. Kedua telapak tangannya dikepalnya kuat. “Yazkiel! Benar-benar aku akan memukulmu nanti!” teriaknya kepada langit-langit rendah.
Pria iblis hitam berhelm yang pecah sebagian itu menghujamkan cepat tombak hitamnya kepada salah satu bola dimensi di dekat dirinya. Di mana listrik masih kuat menyambar tubuhnya.
“Kyaaargh―!” Jerit Aiko sakit.
Ujung tombak kerucut pria iblis hitam menusuk telapak tangan kanan Aiko yang keluar dari lubang bola dimensi di hadapan gadis itu.
Darah kental mengucur jatuh. Aiko merintih pedih duduk tersungkur. Di saat bersamaan, serangan listriknya terhenti.
Pria iblis hitam menarik kembali tombak mutan obsidiannya keluar dari bola dimensi di dekatnya. “Bukan cuma gadis itu yang akan berdarah!!” Bentaknya lantang seraya mengangkat sebelah kakinya tinggi. Hendak dipijakkannya kuat-kuat kembali ke bumi.
Mata Mary terbuka penuh. Dia merasakan gelora ancaman yang amat besar. Lekas dia hamparkan kemampuan bakat DimentionEater-nya pada lantai di mana kawan-kawan seperjuangannya berada.
Wujud karpet hitam beriak dan seolah-olah hidup menghampar pada tempat berpijak para Aila elit UG. Tubuh mereka tenggelam tertelan masuk ke dalam lubang dimensi Mary. Sedang dalam waktu yang sempit, sang pria iblis hitam menghentakkan kakinya keras kepada lantai hingga retak dan pecah belah.
Mendadak tombak-tombak duri hitam pipih menerjang terbit dari arah sang pria iblis. Menjalar menerus menuju para Aila elit bagai duri pada landak yang terbangun. Sehingga jeritan ngeri terdengar dari Mary yang tertusuk di beberapa bagian tubuhnya akan tetapi terhindar dari bagian vital. Namun, berkat tindakan cepatnya, rekan-rekannya selain Aiko berhasil terselamatkan.
Aiko yang kini hanya berdua dengan Mary menjerit histeris menyaksikan gadis pirang sahabatnya itu tumbang dengan cara keji. Amarah kini menguasainya penuh. Tato aktivasi level empat berpendar ungu menghiasi wajah gusarnya.
Dengan berseru hebat, Aiko melesat dalam kecepatan cahaya seolah sebagai kilat itu sendiri dan telah berada di hadapan sang pria iblis hitam, dan seketika dikumpulkannya kekuatan di tangan kirinya yang tidak terluka. Sekejap kemudian tinju kebenciannya didaratkan pada tubuh depan sang musuh, “ENYAH KAU BINATANG!!!”
GLEGARRR!!
Tinju petir nan dahsyat berkekuatan jutaan volt menghantam pria iblis itu sehingga tubuhnya terhempas naik, enyah ke atas bersama petir serta langit-langit lorong Q-Floor yang runtuh dan menghantam tembus bangunan utama sektor perawatan UG.