
Sebelas tahun setelah jatuhnya komet Laila dan pembentukan pasukan keamanan Anti-Crisis.
Desember 2009.
“Diaz, sudah belum?” Bintu kecil memanggil dari teras depan rumahku. Dia bersama seorang gadis remaja tujuh belas tahun, Kak Nadia. Gadis yang tinggi semampai serta berpembawaan wajah yang manis. Dia kakak perempuan Bintu.
“Ya, ayo.” Aku yang berumur dua belas tahun melompat dari batas serambi rumah kemudian ketika mendarat, kubenarkan posisi topiku. “Kita mau jalan-jalan ke mana?” tanyaku polos memandang ke atas, menatap Kak Nadia.
“Kemana ya ... hmm ... rahasia.” Kak Nadia menempelkan telunjuk ke bibirnya lalu mengedipkan sebelah mata. **** seyum.
“Heee.” Wajahku yang polos terpapar penasaran menengadah. Kak Nadia hanya tersenyum melihatku kemudian menggandeng tanganku serta Bintu, “Mari, berangkat sekarang.” katanya, sembari bersama berjalan menuju perempatan besar. Dengan angkutan umum kami menuju tempat yang dirahasiakan olehnya.
“Diaz, kau sudah mengerjakan PR liburan belum?” tanya Bintu mata bulatnya menatapku, ketika angkot telah berjalan dengan lancar dan suasana di dalamnya membosankan.
“Sudah dong, aku dibantu tante mengerjakannya.” Aku seka hidungku dengan jempol membanggakan diri.
“Kalau Bintu sih belum. Main mulu sih ...” Goda Kak Nadia kepada adiknya tersenyum.
“Kak Nadia! Hmmh!” Bintu ngambek memalingkan pandangannya ke samping serta mengulumkan bibirnya ke dalam. Aku dan kak Nadia tertawa ringan.
Suara pinta yang lembut untuk berhenti diucapkan Kak Nadia pada sang sopir, ketika kudapati dia menoleh melalui jendela kaca di belakang kepalanya. Beberapa meter kemudian mobil angkot ini berhenti. Kami telah tiba pada tempat yang dimaksudnya.
Kak Nadia melangkah turun dengan anggun, menjaga dress putihnya yang sebatas lutut agar tidak berantakan. Setelahnya giliran Bintu serta diriku untuk memijak bumi dengan meloncat. Sekiranya dua puluh menit perjalanan kami tempuh hingga tiba di tempat ini, lekas Kak Nadia melangkah cepat beberapa meter kemudian berbalik kepada kami dan mengangkat kedua tangannya tinggi. Membentang dramatis pada papan sapa selamat datang, “Nah, kita sampai. Tada— Taman Hiburan Kota.”
“Heeee.” Ucapku dan Bintu bersamaan dengan mata berbinar-binar.
“Ayo masuk.” Ajak kak Nadia manja. Kedua tangannya yang lembut menggandeng kami.
***
Ini bukan pertamakalinya aku mengunjungi taman hiburan. Setidaknya tahun lalu di hari saat aku berulang tahun ke-11, aku dan tante merayakannya di taman hiburan bersama.
Tapi momen kali ini pertamakalinya aku ke tempat ini bersama mereka berdua. Walau sekiranya aku serta Bintu telah berteman baik semenjak di taman kanak-kanak dulu. Dan semenjak di taman-kanak-kanak pula aku mengenal kak Nadia yang biasa menjemput Bintu pulang. Gadis yang murah senyum serta ramah kepada semua orang. Entah apa hanya aku yang merasakan kehangatan ketika menyaksikannya tertawa ringan. Mungkin pada waktu itu dapat dikatakan aku memendam rasa kepadanya.
Kembali pada momen kami bertiga di taman hiburan, Kak Nadia menggiring kami masuk ke wahana rumah hantu. Aku dan Bintu merinding ngeri sampai memeluk erat pinggul Kak Nadia. Tinggiku dan Bintu hanya sebatas dadanya namun Kak Nadia yang diapit kami berdua malah tertawa.
Setelah itu kami menaiki wahana komedi putar. Aku membonceng di belakang Kak Nadia sedangkan Bintu naik sendirian di sebelah kami. Kecepatan putarannya sedang namun melenakan.
Bukannya munafik, tapi aku yang masih dikata bocah mengerti akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku memeluk punggung Kak Nadia dari belakang. Meluapkan rasa sayangku yang tak kesampaian padanya secara sepihak. Tapi sepertinya tak ada respon darinya. Tentu saja, pandangannya kepadaku saat itu adalah pandangan seorang kakak perempuan kepada teman baik adiknya.
Kami mencoba beberapa wahana. Setelah menaiki jet coaster, Bintu menderita mual dan bermuka pucat. Kak Nadia membelai-belai punggung Bintu sembari tersenyum geli. Ketika Bintu sudah agak baikan, berikutnya Kak Nadia mengajak kami untuk berfoto bersama badut menggunakan kamera ponselnya. Bintu tampak enggan dan takut terhadap penghibur berkostum tebal hidung merah itu. Akan tetapi melihat kesempatan untuk menjahilinya, aku menarik-narik Bintu untuk ikut bersamaku mendekati badut itu.
Bintu memberontak hampir menangis. Bukannya malah membuatku dan Kak Nadia merasa iba tapi malah membuat kami tertawa geli. Bintu akhirnya berhasil melarikan diri menuju ke wahana bianglala meninggalkan kami berdua. Kak Nadia dengan ceria memanggil adiknya untuk menunggu dan kami berdua menyusulnya. Aku dan Kak Nadia melangkah bersama.
“Eh, Dik Diaz.” Tegur kak Nadia yang berjalan beriringan bersamaku. Dengan intonasi khasnya yang dapat dirasakan kelembutan mengalir dalam tiap getar katanya.
“Ya?” jawabku mengangkat kepala. Memandang wajahnya yang tersilaukan jatuhan sinar mentari yang membias di belakang kepala.
“Kenapa sejak kita berdua bertemu, kamu sering memandangi kakak? Apa jangan-jangan ... Dik Diaz menyukaiku?” jelasnya seraya sedikit membungkuk menggoda mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku terkejut dan tergagap mencoba menjawabnya. Aku tersipu malu. Rasanya kedua telingaku memanas seperti akan copot dari tempatnya.
“Waah ... lucunya~ jadi benar, ya? Ahaha.” Kak Nadia tertawa senang melihat tingkahku. Namun karenanya, kuturunkan kuping topiku menutupi mata.
“Jadi, apa Dik Diaz mau menikahiku?” lanjutnya menggoda seraya berjongkok menghadapku. Mengintip wajahku. Yang membuatku semakin malu adalah ia mengecup keningku secara tiba-tiba. Bibir tipisnya yang lembab terbalut lipsgloss menyentuh lembut pipiku.
“Ah! Awa! A ... aku ...” wajahku semakin memerah berusaha menjawabnya tapi mataku malah terlihat akan menangis. Sesuatu bagai menyetrum jantungku. Dadaku berdebar kencang seperti sehabis berlari.
“Haha~ kakak cuma bercanda kok. Dik Diaz baru boleh menyampaikan hal itu saat sudah dewasa nanti, ya ...” Katanya diselingi senyum merekah seraya mengelus kepalaku gemas.
Kak Nadia kembali melingkari pergelangan tanganku dengan genggamannya yang halus. Kami berdua melangkah menjumpai Bintu, walau aku berjalan agak canggung mengalihkan pandangan ke samping. Bintu menatap mukaku heran sedang Kak Nadia tertawa kecil mengetahui diriku menjadi kikuk. Setelah lirik-lirikan dengan Bintu, kami memasuki wahana biang lala. Aku sempat enggan menaikinya karena takut dengan ukuran serta ketinggiannya. Pengalaman traumatik sewaktu di taman kanak-kanak masih membekas pada ingatanku. Waktu itu aku yang terlalu hiper aktif memanjat besi-besi berbentuk seperti bola dunia. Namun aku mendaki terlalu tinggi. Dengan bodohnya aku berdiri tegak di puncaknya hingga akhirnya kakiku tergelicir. Menjatuhkan diriku dari tempat yang lumayan tinggi bagi bocah sepertiku waktu itu. Tapi kak Nadia dan Bintu yang tidak menghiraukan ketakutan berlebihku memaksaku dengan menarik-narik kedua tanganku.
***
“Diaz, coba tengok.” Kak Nadia mencolek-colek bahuku sementara aku meringkuk di sudut bangku bilik bianglala sambil menutup mata dengan kedua tanganku. Namun setelah beberapa kali bujukan, akhirnya aku membuka tanganku dan perlahan memandang ke arah yang dilihat oleh Kak Nadia dan Bintu.
“Waaah ...” Decapku kagum, mataku terbuka penuh menyaksikan pemandangan taman hiburan ini dari posisi paling puncak bianglala. Kak Nadia dan Bintu tersenyum melihatku.
Kak Nadia kembali memandang menyentuhkan telapak tangannya ke jendela kaca bilik bianglala yang kami naiki. Ia tersenyum, mata coklatnya berkilau saat cahaya mentari menerpanya. Ditambah dress putih yang dikenakannya tampak cocok dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Membuat penampilannya benar-benar sempurna.
Aku terkagum oleh kecantikannya. Dalam lamunan kagumku, ia mengejutkanku dengan tolehannya menatapku disertai mimik heran. Dia tersenyum padaku, membuatku salah tingkah dan tersipu kemudian kupalingkan wajahku darinya. Kak Nadia tertawa kecil menutupi mulutnya dengan telapak tangannya mendapati reaksiku. Hal itu membuat Bintu bingung dan heran dengan bibirnya menjuntai melongo menyaksikan kakaknya tertawa geli.
***
Peluh keringat terasa bergulir di balik punggung. Membasahi baju kami pada tempat-tempat tertentu. Rasa letih pada kaki serta berat pada mata mulai hadir. Pada salah satu bangku panjang, kami bertiga berleha setelah berlalu dari wahana biang lala. Menurunkan keletihan dan didera dahaga.
“Tunggu di sini sebentar, ya. Jangan kemana-mana.” Perintah Kak Nadia kepada kami berdua. Dia menghampiri penjual eksrim itu. Melakukan antrian pendek.
Bintu mendendangkan sebuah rima dari lagu yang kuketahui popoler waktu itu. Bibirku yang mulai gatal, terikut mengikutinya menggumam nada. Tak berselang lama setelahnya Kak Nadia membawa tiga buah eskrim kon. Dua di tangan kanannya, satu di tangan kirinya.
Kami berdua duduk di bangku sembari mengayun-ayunkan kaki memerhatikannya berjalan ke arah kami. Hingga tiba-tiba sebuah angin berhembus ke arah sini.
“Kyaa!” Pekik Kak Nadia karena rok selututnya tersibak angin.
“Haa! Pink!” Seruku dan Bintu bersamaan turun dari bangku menunjuk kak Nadia. Ia menoleh, dan dengan segera melangkahkan kakinya cepat diliputi ekspresi yang kesal namun tak meninggalkan kesan manisnya.
Plok plok. Kak Nadia menepuk pelan kepala kami berdua dengan tangan kirinya yang masih membawa eskrim. “Huh, kalian ini masih kecil sudah mesum, ya.” Ujarnya kepada kami kemudian menyodorkan eskrim padaku dan Bintu.
“Apa kak? Museum?” sahutku lekas menjilati eskrimku seraya menengadah memandang Kak Nadia yang manis berambut hitam sepunggung itu.
“Ah, bukan apa-apa.” Balasnya tersenyum kemudian mulai **** sedikit eskrim di kanan tangannya lalu membetulkan rambut poni depannya yang berantakan terkena angin tadi.
Dalam kebersamaan, kami bertiga menikmati eskrim di bangku panjang taman. Sesekali Kak Nadia menyeka mulut dan pipi kami berdua yang belepotan eskrim dengan tisu yang dikeluarkannya dari tas dompet bermotif bunganya.
Perhatiannya memang wajar, namun aku menanggapinya terlalu berlebih. Rasa berdesir di dadaku kembali mengalir sedang efeknya kembali memerahkan kedua pipiku. Kak Nadia menoleh padaku lantas tersenyum simpul seperti mengerti apa yang aku rasakan.
Aduh ...
Sungguh, ini momen paling bahagia dan menyenangkan dalam hidupku. Aku tidak akan melupakannya. Ingatan ini akan selalu terpatri di dalam kalbu selama aku masih bernyawa. Kenangan indah ini ...
Indah ...?
Pada saat itu aku menyadarinya. Wujud nyata kebenaran dari realitas dunia bahwa kebahagian itu adalah omong kosong. Mungkin sebuah peribahasa yang berbunyi bahwa “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” adalah benar. Namun dalam kasusku ... yang terjadi adalah sebaliknya.
Mendadak ledakan terdengar sekitar belasan meter dari tempat kami bertiga duduk. Selang lima detik berikutnya orang-orang nampak menuju kemari berlarian menjauh dari arah sumber suara ledakan itu.
“Kalian berdua jangan panik. Sini, ayo kita lari dan cari tempat berlindung. Jangan lepaskan tangan kakak.” Tukas Kak Nadia menggandeng tangan kami berdua. Entah kenapa, aku dapat merasakan degup jantungnya yang membalap dari genggamannya pada tanganku.
Kami bertiga bergegas berlari dalam langkah-langkah terbatas menuju pintu gerbang keluar taman ini. Berdesak-desakan dengan para pengunjung lain. Aku menggenggam erat pergelangan tangan Kak Nadia agar kami tidak terpisah. Ketiga eskrim milik kami sebelumnya, kami campakkan ke tanah.
BUMB! Terjadi ledakan besar kembali puluhan meter di belakang kami. Semua orang menjadi histeris, berteriak dan saling mendorong. Mengabaikan teori bahwa manusia itu adalah makhluk sosial.
Jika menyangkut nyawa, sikap naif tolong menolong sekejap saja menjadi bualan. Mengorbankan orang lain sebagai pijakan dirinya agar selamat adalah sesuatu yang kusaksikan.
“Bintu! Bintu! Di mana kamu!?” Kak Nadia menggenggam tanganku erat. Bintu terpisah dari kami. Kak Nadia terus memanggil-manggil Bintu di tengah kerumunan orang-orang yang berlarian panik. Raut wajah Kak Nadia nampak gelisah, keringat dingin mengalir turun dari pelipisnya.
Ukh! Seseorang menyandungku dengan keras sampai aku setengah terjerembab. Untung Kak Nadia menggenggam tanganku dengan erat, mencegahku jatuh sepenuhnya.
Rombongan orang-orang kini terus mendesak ke depan. Kami berdua terdorong paksa. Kak Nadia berjongkok memelukku, mencegah orang-orang menyandungku tanpa sengaja yang dapat membuatku terinjak-injak. Tapi hal itu mengorbankan pungggungnya sebagai gantinya. Aku dapat mendengar Kak Nadia mendengus kesakitan.
“Bintu! Bintu!” Seruku sambil menunjuk arah belakang punggung Kak Nadia. Ia menoleh segera berdiri kemudian berlari sembari menggandengku. Menerjang kerumunan orang panik yang sudah semakin berkurang, menuju ke arah Bintu yang menangis mencari-cari kami berdua.
“Bintu! Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Berhenti menangis, kakak di sini. Ayo, kita segera keluar dari tempat ini.” Kak Nadia cepat menggandeng tangan kami berdua lekas berlari menuju ke arah jalan keluar usai memeluknya.
Untuk kesekian kalinya ledakan kembali terjadi di belakang kami. Kak Nadia menjerit terkejut. Sebuah bayangan benda besar melayang di atas kepala melewati kami bertiga.
Benda yang tak dinyana kehadirannya itu jatuh menimpa kerumunan orang beberapa meter di hadapan kami yang berdesal menuju pintu keluar. Benda besar yang ternyata adalah bagian dari piringan komidi putar.
Kak Nadia kembali menjerit, kali ini karena ngeri. Darah berceceran merembes di sekitar benda itu. Menciptakan kubangan darah yang meluber dari bawah runtuhan konstruksi komidi putar. Kabar yang lebih buruk, benda itu menutup jalan keluar kami satu-satunya.
Tembakan senjata api terdengar mendesing dari balik punggung kami. Sontak kami bertiga menoleh ke arahnya. Aku tidak dapat melihat dengan jelas karena kepulan debu dan asap menghalangi asalnya.
Kemudian, kerlip sepasang cahaya bulat merah menyala dari dalam kabut kelabu tertangkap oleh mata ini. Semakin mendekati kami. Sampai kami sadar bahwa sepasang cahaya merah itu adalah milik mata monster yang berlari kemari. Namun, sudah terlambat untuk lari. Ia melesat dari dalam tabir debu mendarat berdiri di belakang kami bertiga.
“BERHENTI MENEMBAK ATAU KUBUNUH ANAK-ANAK INI!” Ujar sang monster dengan suara berat menggeram yang menjadikan kami sebagai sanderanya. Kak Nadia memekik ketakutan menunduk memeluk diriku dan Bintu. Pasukan berseragam militer hitam hadir mengepung dan mengelilingi kami dengan membidikkan senjata mereka ke arah monster di belakang kami.
Melihat dirinya dibidik, dia mengeluarkan capit besar menyerupai sabit dari tangannya dan mendekatkannya ke leher Kak Nadia. Tubuh kekar monsternya setinggi dua meter seperti gabungan dari beberapa hewan. Kepalanya bagai kepala hiu martil, badannya seperti tempurung penyu dengan tato berpendar berbentuk seperti kupu-kupu berwarna biru. Sedangkan tangannya seperti capit kepiting dan kakinya seperti kaki kura-kura.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan cahaya merah oranye di langit. Lampu-lampu di taman mulai menyala dan bayangan tubuh besar sang monster membayangi seluruh tubuh kami.
“Target memasuki mode kontamin level lima. Dia menyandera tiga warga sipil. Prioritaskan keselamatan warga sipil.” Salah satu orang berseragam hitam itu menurunkan senjatanya dan maju beberapa langkah, “Lepaskan mereka dan kau tidak akan kami lukai.”
“HA HA HA! OMONG KOSONG! KALIAN TETAP AKAN MEMBURUKU DAN MENGHABISIKU! BAHKAN KALIAN TELAH LAMA MENGIKUTIKU SEMENJAK DI KETAPANG SAMPAI DI TEMPAT INI!!” Seru sang monster dengan air liur menetes dari deretan gigi hiunya.
Kami bertiga gemetar ketakutan. Tapi Kak Nadia dan Bintu lebih gemetar daripada diriku. Kak Nadia tak berani menoleh pada monster di belakang kami. Dia hanya memeluk kami erat sembari memejam kuat matanya.
Melihat penolakan si monster campuran, komandan pasukan hitam mengambil keputusan dengan mengacungkan senjatanya ke arah kami bertiga. “Tembak mereka semua. Laporkan kepada atasan bahwa korban sipil tidak dapat dihindari.” Pungkasnya dengan sigap mereka membidik kami.
“KYAAAA!” Kak Nadia menjerit takut.
“HUWAA—! HENTIKAN MONSTER JAHAT! LEPASKAN KAMI!” Seru Bintu histeris menangis. “LEPASKAN―! KAMI!!” Pada tengkuk leher bintu mendadak muncul tato aktivasi kontamin level 2, Growing. Batu-batu kerikil di sekitar kami bergetar. Sepertinya hanya aku yang menyadarinya. Batu-batu kerikil sebesar ibu jari orang dewasa serta batu seukuran kepalan tangan menghujani monster di belakang kami.
“APA YANG TERJADI!? KAU−?”
“Pak, ada aktivasi AA lain dari arah mereka.” Kata salah seorang prajurit berseragam hitam dengan membawa alat pembaca radiasi sebesar buku tulis.
“Hm? Jangan-jangan dari anak-anak itu.” Komandan pasukan hitam memandang tajam ke arah kami bertiga. “Pasukan! Tembak, tumbangkan mereka berempat!”
Peluru-peluru korosif mereka dilesatkan keras memburu. Namun, aku, Bintu dan kak Nadia tidak tertembak satu peluru pun. Aku berhasil membuat kubah plasma pelindung tepat pada waktunya, melindungi kami bertiga dari lesatan timah panas mereka walau ukurannya kecil.
Kubah ini hanya muat untuk kami bertiga. Dalam posisi berjongkok dan hanya tersisa sedikit ruang gerak. Sedangkan monster yang sedari tadi menyandera kami tertembak di seluruh badannya. Tetesan darah mengucur dari lubang-lubang tembakan peluru di tubuhnya, tumpah dan mengalir ke atas kubah plasma pelindungku.
Kak Nadia histeris memekik tatkala menyaksikan tubuh sang monster tumbang menubruk bagian atas kubah plasmaku kemudian melorot dan tergeletak di atas tanah. Membuat permukaan luar kubah plasmaku bersimbah darah. Mengakibatkan pasukan hitam tidak dapat melihat apa yang terjadi di dalam kubah plasmaku sedang kami pula tak dapat melihat mereka.
Cahaya matahari telah lenyap sepenuhnya. Kerik jangkrik mulai terdengar saling menyahut. Sedangkan kami dalam kondisi yang memprihatinkan ditengah desingan hujan peluru.
“Kak Nadia, tenang.” Ucapku mencolek-colek bahunya.
“Diaz? Kamu yang melindungi kita?” Kak Nadia menyeka air matanya. Bintu terperangah melihat diriku dan kubah buatanku. Kak Nadia memerhatikan situasi di sekeliling kami. Dinding kubah plasmaku mulai retak.
“Diaz, Bintu. Kita akan lari ke semak-semak di belakang kita begitu mereka berhenti menembak. Larilah sekencang mungkin. Mengerti?”
Aku dan Bintu mengangguk.
“Sekarang! Lari!” Seru Kak Nadia.
Prak. Kubah plasmaku kupecah seluruhnya. Kak Nadia menggenggam tanganku dan Bintu dengan erat kemudian berlari sekencang-kencangnya masuk ke dalam semak belukar setinggi perut.
“Tembak! Tembak!” Perintah komandan pasukan hitam setelah melihat siluet kami masuk ke dalam semak-semak.
Kami terus berlari entah kemana tujuan kami, yang jelas menjauh dari mereka, masuk ke dalam hutan buatan di taman hiburan ini dengan diterangi cahaya peluru-peluru panas yang melesat melewati kami.
Langkahku dan Bintu tersandung-sandung, berusaha mengimbangi langkah lari Kak Nadia. Kami berhenti setelah menemukan sebuah bangunan yang belum jadi. Mungkin suatu wahana yang baru dibangun. Kemudian lekas saja kami bertiga memasuki bangunan yang tanpa penerangan itu.
“Hah hah, kita― Kita sembunyi di sini.” Tukas Kak Nadia napasnya tersengal-sengal. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding bata setelah kami masuk cukup dalam.
Aku dan Bintu menatapnya tak mengerti dari jarak sepanjang pintu. Matanya menerawang keremangan tempat ini sementara bibirnya bergetar. Kemudian selang beberapa saat ia meringis, meminta kami berdua untuk mendekat padanya. “Bintu, Diaz, kemarilah. Ka― kalian berdua larilah dari tempat ini tanpa kakak,” lirihnya.
“Ke- kenapa kak?” balasku. Aku melangkah mendekatinya.
Kemudian aku menyadari sesuatu ...
“A- apa ini?” Telapak kakiku yang terbalut sepatusandal merasakan menginjak suatu cairan lengket.
Cahaya sang rembulan mulai masuk dari celah langit-langit bangunan, jatuh menyinari tubuh Kak Nadia. Membuatku segera mengetahui cairan apa itu. Kak Nadia bersimbah darah. Dia menekan perutnya yang terus mengucur, membasahi dress putihnya dengan warna ambang kematian.
“Kak, Kakak! Kakak!” Bintu menangis memeluk Kak Nadia yang berangsur pucat. Aku juga tak dapat membendung air mataku. Aku mendekat. Duduk di samping dirinya yang mulai lemas.
“Bintu, adikku. Tenanglah. Nanti kakak akan menyusulmu. Kamu larilah dari tempat ini bersama Diaz.” Suara kak Nadia terdengar lemah. Kak Nadia membelai kepalaku, “Diaz, bertahan hiduplah. Jaga Bintu. Bintu adikku, kau juga bertahan hiduplah untuk kakak.” Sebuah bulir airmata melorot dari pelupuk mata sayunya.
Bintu menggeleng-geleng keras, “Tidak mau! Aku tidak mau pergi tanpa kakak! Ayo kak, kita lari sama-sama!” Bintu menarik-narik tangan Kak Nadia.
Kak Nadia membelai kepala Bintu, “Tidak Bintu, nanti kakak akan menyusul.”
Brak! Dobrakan yang keras berasal dari muka bangunan.
“Periksa tempat ini! Temukan mereka bertiga!” Pasukan hitam Anti-Crisis telah tiba. Mereka memasuki tempat ini dan memeriksa tiap sudutnya mencari sosok kami bertiga.
“Cepat pergi dari sini! Bintu, Diaz! Nanti kakak akan menyusul kalian! Diaz! Cepat bawa Bintu lari bersamamu!” Pinta Kak Nadia pasrah. Aku segera menyeret tangan Bintu untuk ikut bersamaku. Bintu memberontak tapi tetap kupaksa. Salah satu tangannya mencoba meraih tubuh Kak Nadia, sedang tangan satunya kutarik untuk ikut bersamaku.
“Itu mereka! Di sana!” Pasukan hitam berlari menuju ke arah kami. “Berhenti!”
DOR!
Seorang tentara menembak ke arah Bintu dan diriku. Aku segera menarik paksa tangan Bintu membuatnya untuk mengikutiku berlari. Dengan merunduk-runduk kami berdua berlari serampangan di antara serbuan peluru.
“Larilah! Nanti kakak akan menyusul! Bertahan hiduplah!” Pekik Kak Nadia sayup terdengar dengan tenaga terakhirnya. Aku berlari sembari menengok ke arah Kak Nadia dengan berlinang air mata. Bibir Kak Nadia bergerak seperti mengucapkan sesuatu tapi suaranya tak terdengar.
Aku sudah tahu. Aku sudah tahu. Aku sudah tahu! Aku sudah tahu Kak Nadia tidak akan menyusul kami berdua. Bahkan aku sudah tahu sejak mendapatinya berlumuran darah
Aku berlari menggandeng Bintu, mengayuh kaki sambil menangis. Saat itu, saat itu aku berlari seraya sejenak menyaksikan Kak Nadia yang bersandar pada dinding bata yang disinari rembulan. Berlumuran darah tak bergerak, Kak Nadia tersenyum ke arah kami. Tersenyum damai dengan matanya terpejam yang dilinangi air mata.
Pasukan hitam Anti-Crisis masih mengejar kami. Mereka menembaki kami sembari berlari. Sepertinya mereka tak bermain-main dengan anak berumur dua belas tahun.
“Ukh.” Bintu tersandung jatuh terjerembab ke depan.
“Bintu!” Seruku kemudian berbalik ke belakang menghampirinya. Pasukan hitam yang mengejar kami semakin mendekat.
Satu peluru hampir mengenai Bintu. Bintu menjerit kaget. Dia mencoba mengendalikan batu-batu dan kerikil di sekitarnya dengan menggerak-gerakkan tangannya tapi itu percuma.
“Ke- kenapa? Kenapa aku tidak dapat mengendalikan batu-batu lagi?” Sepertinya Bintu tidak dapat mengeluarkan kemampuan spesialnya. Tato aktivasi kontamin level 2 di tengkuk lehernya telah menghilang.
“Ayo Bintu kita lari dari sini! Ayo bangun. Nanti Kak Nadia marah, lho!” Aku mencoba mengangkat tubuhnya, membantunya untuk berdiri. Air mataku telah mengering, meninggalkan bekas merah-merah.
“Pasukan siaga! Kepung mereka berdua!”
Celaka! Mereka telah dengan cepat mengepung kami berdua. Dengan sigap aku menunduk menubruk Bintu dan membuat kubah plasma pelindung.
“Pak?” seorang tentara hitam menoleh pada si komandan dengan tetap membidikkan senjata apinya ke arah kubah plasmaku. Komandan pasukan Anti-Crisis nampak sedang membaca situasi. Memmerhatikan dan mengambil beberapa kerikil kemudian melemparkannya pada kubah plasmaku.
“Pasukan, mundur lima meter. Pertahankan posisi, kepung dan tembaki tempurung itu dari segala arah. Tembak!”
Mereka mulai menembaki kami. Dinding plasma bagian luar mulai terkikis perlahan. Bintu menutupi telinganya sambil merunduk sedangkan aku berkonsentrasi membuat pembaharuan pada dinding kubah plasmaku secara terus menerus.
“Tahan tembakan.” Komandan pasukan Anti-Crisis melemparkan dua buah granat kepada kami.
“Waaa!” Aku dan Bintu berteriak bersamaan. Ledakannya menggetarkan kubah serta tanah sekitar tempat kami berdiam
“Tembak!” Lanjut komandan pasukan Anti-Crisis kemudian diikuti anak buahnya melanjutkan serangannya pada dinding kubah plasma ini.
Bintu pingsan tak sadarkan diri akibat dua ledakan granat barusan. Retakan besar mencuat dari pinggir bawah kubah plasmaku di tempat di mana terkena ledakan. Aku berkonsentrasi penuh sampai hawa dingin tiba-tiba menjalar dari kulit leher sebelah kananku. Kubah plasmaku kembali terperbaiki dengan sempurna.
“Hm?” Si komandan pasukan Anti-Crisis melihat keanehan itu dan menghentikan tembakannya. “Lemparkan semua granat yang kalian miliki ke tempurung biru itu!” Perintahnya.
Pasukan Anti-Crisis menarik kunci pengaman pada granat mereka masing-masing. Mereka segera merunduk setelah melemparkan benda segenggaman tangan itu ke arah kubah plasmaku.
Granat-granat meledak di sekeliling kubah plasmaku. Reaksi perbaikan diri kubah plasmaku tak berjalan dengan baik. Kubah plasmaku mulai retak dan beberapa bagiannya hancur berkeping-keping.
“Huaaa! Kak Nadia. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak bisa lagi. Aku tidak kuat lagi. Kak Nadia―” bulir bening menitik dari mataku.
Ledakan granat telah berhenti. Kubah plasmaku bisa dibilang telah lenyap karena hanya tersisa kepingan-kepingan berderet sebesar dua jari saja yang bertahan. Aku memeluk punggung Bintu yang pingsan. Menyembunyikan wajahku di punggungnya berharap ini akan segera berakhir dan hanya mimpi buruk belaka. Aku memejamkan mataku. Hanya mendengar suara mereka yang tanpa belas kasih menggempur kami.
“Apa yang terjadi? Siapa yang melemparkan granat asap?!” Kejut panik komandan Anti-Crisis. Kemudian terdengar salah seorang anak buahnya berteriak, diikuti dengan beberapa lainnya. “Kita mendapat serangan!” Lapor seorang yang lain.
“Apa?! Apa salah satu dari bocah itu?” sahut sang komandan.
Dalam hati aku bertanya apa yang terjadi, tapi tak cukup berani untuk mengangkat kepala. Aku kembali menyimak dalam ketakutan.
“Sial! Pasti salah satu dari bocah itu yang melakukannya.” Komandan kudengar memaki ke arah kami. Bunyi klik magasin senjata terdengar kemudian katanya, “Mati kalian!”
Peluru-peluru meletus dalam keheningan malam, menyasari sekitar kami, tapi tak kurasakan salah-satunya menyasar pada badan ini. Lalu kudengar suara sang komandan terheran.
“Ha? Siapa kau?”
Saat kudengar kalimatnya usai, firasatku bergetar bahwa ada seseorang yang tengah berdiri di dekatku. Bunyi yang ganjil merintih selayaknya dua sendok yang digesek dan sekejap menjauh dari tempatku meringkuk, dan kudengar sejauh sepelemparan batu bahwa seseorang terpental terhempas oleh sesuatu. Semak-semak pada arah yang sama bergemerisik terusik setelahnya.
Yang terjadi berikutnya begitu mendadak dan heboh tertangkap oleh telinga ini. Seruntai tembakan kembali meletus melesat ditujukan kemari, tapi tiba-tiba suara yang asing, orang yang berdiri di dekatku berkata, “Go in peace, if you all don’t want to lose your soul ... PAINFULLY in PIECES.” Ancamnya. Terdengar seperti pria dewasa yang mengenakan topeng logam.
Lekas derap langkah yang berbeda, kuterka tiga, mendekat dan mengelilingi kami. Bunyi asing itu terdengar lagi, lebih ramai dari sebelumnya. Lebih berisik dan membuat merinding. Berikutnya suara komandan pasukan hitam terdengar tercekat marah dan putus asa.
“Keparat! Kami tidak akan pergi dan kalah. Pasukan! Musnahkan mereka semua!” Perintahnya, berondongan senapan kembali menghujani kami. Namun, tak satupun melukaiku. Aku jadi merasa aneh dan aman. Di sekitarku terdengar bunyi pantulan nyaring. Laksana rintik ribuan bulir hujan membentur jalan. Tetapi mestinya itu bukanlah bunyi hujan, melainkan tembakan pasukan hitam yang tertangkis sesuatu.
Rasa penasaranku melejit dan akhirnya kuangkat wajahku.
“Waaa! Si- siapa kalian!?” racauku. Ketakutanku tentang mati tertembak berganti oleh kemisteriusan para sosok di hadapanku. Mereka membelakangiku dan Bintu. Mengitari kami berdua. Melindungi. Dalam busana jubah hitam mirip seragam tentara Jerman perang dunia ke II.
Kami ditembaki dari segala arah. Tapi empat sosok ini melakukan sesuatu dengan menjulurkan sebelah tangan mereka ke depan, dan di hadapan mereka terdapat perisai pipih magenta jernih mirip gelas hias yang melingkari kami tanpa putus. Menahan terjangan peluru seperti dinding kokoh yang dilempari kerikil.
DBUM!
“Akh!” Sebuah granat tepat meledak di dekat telingaku. Tapi tubuhku tidak terluka karena sosok berjubah dan bertopeng karbon hitam melindungiku dengan perisai magentanya yang lain.
“Ar―ou al―ight?” Dia menanyaiku. Tapi telingaku berdengung akibat dari ledakan sebelumnya.
“Apa?” tanyaku kepadanya. Aku tidak dapat melihat sosok itu dengan jelas karena kabut asap dan keremangan ini. Yang jelas orang ini tinggi dan mengenakan topeng karbon hitam militer, seperti topeng gas.
“Ki―a haru― membu―nya ―dur.” Ujar sosok lain bersuara wanita di samping Bintu yang pingsan. Aku tak dapat mendengarnya dengan jelas kecuali nada suaranya yang keibuan.
“Okay, sor—. We— meet you ―gain so—ay in the fu—e.” Tanggap sosok tinggi 183cm itu tak jelas karena telingaku masih berdenging. Ditambah dengan kacau balaunya ledakan di sekitar kami.
Secara mendadak dia menyemprotkan sesuatu dari saku jubahnya kepadaku. Aromanya kuat dan membuat pusing di sekitar kening. Kesadaranku berangsur menurun dan penglihatanku melemah sejenak setelah dia melakukan hal itu. Aku perlahan mengantuk. Sangat mengantuk, kemudian aku tertidur.
***
19 Mei 2015
Sektor Pengasingan Q-Floor UG.
Kira-kira empat hari telah berlalu semenjak aku berada di dalam sel pengasingan. Aku dikurung dalam ruangan tertutup 3x3 meter dengan dinding putihnya terbuat dari beton dan satu-satunya pintu masuk sekaligus keluar terbuat dari baja padat.
Ruangan ini tak berjendela seperti halnya penjara pada umumnya, hanya saja diisi oleh seorang manusia, yaitu diriku. Disamping bahkan aku tidak mendengar suara manusia lain yang berada di tempat pengasingan ini. Meski tanpa penyiksaan atau makian seperti dalam film-film yang pernah kusaksikan, tetap saja kesunyian ini menyakitkan.
Selama empat hari ini pula hanya terdengar suara langkah kaki seseorang yang mengunjungiku sekilas waktu. Aku tidak mengetahui siapa dia karena tidak ada celah untuk mengintip siapa gerangan sosok yang mengantarkan makanan dan memasukkannya ke dalam selku melalui lubang rendah seukuran kardus wadah sepatu pada pintu baja tersebut.
Langkah kaki, ah dia datang lagi. Hentakannya berhenti tepat di depan pintu sel kemudian nampan dengan makanan masuk dari lubang rendah pintu baja.
“Bagaimana keadaanmu?”
Hm? Aku kenal suara itu. Nada suara khas miliknya yang dapat mudah dikenali. Apalagi dengan aksen Jermannya yang masih kentara, dan pertama kalinya semenjak terakhir kali aku mendengar suara orang lain. Sementara sebelumnya ketika kuteriaki, kusapa, kutanyai, orang di seberang dunia bebas sana tak pernah menggubris.
“Apa kau pikir aku tidak bisa keluar dari kurungan ini, Abraham?” kukepalkan telapak tangan kananku dan membuat bola plasma sebesar bola kasti. Melayang-layang di atas telapakku yang membuka.
“Ha ha. Aku yakin kau dapat keluar dengan mudah menggunakan kemampuan bakatmu. Tapi buktinya kau tidak melakukannya. Kenapa?” tanya balik Abraham, nadanya penasaran.
“Yah, karena kupikir ini adalah tempat yang bagus untuk menenangkan diri dan bermalas-malasan.” Jawabku yang sedari tadi duduk di atas tempat tidur keras. Tentu saja bohong. Alasan sebenarnya karena aku tidak ingin masalah yang kuterima kian kusut dan rumit.
“Kau memang Diaz.” gelaknya.
Lalu kutanya, “Jadi, bagaimana dengan keadaan si bocah api?”
“Hm? Maksudmu Ryan? Yah, lebih baik kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri tiga hari lagi.” Katanya. Lekas kudengar langkahnya menjauh pergi.
“Tunggu. Apa kau yang mengantarkan makananku selama empat hari ini?” tanyaku cepat sebelum dia terlanjur menghilang dan aku tak ingin lebih lama lagi dihantui penasaran.
Abraham terdiam sejenak, dan katanya, “Bukan. Aiko-lah yang mengantarkan makananmu sebelumnya. Dan ... setelah kau keluar dari sini, kau resmi menjadi anggota unit tim Rescue.” lanjutnya kemudian berlalu.
Demi apapun setelah mendengarnya, dadaku menggembung segenap kegembiraan yang diliputi kebingungan. Senyap mengunci bibirku dan pandanganku tercenung. Aku hendak memastikan apa maksud perkataan barusan, tapi Abraham telah terlanjur jauh dan tak mungkin mendengarku. Pada akhirnya, kusimpan pertanyaan itu dan aku tersenyum rapat sembari kembali merebah di atas ranjang sel-ku.