
Hari itu, tepat 13 April tahun sembilan puluh delapan, malam yang bersejarah bagi umat manusia terjadi. Satu hari yang mengubah wajah dunia. Momen yang memutar balik kehidupan ratusan ribu orang serta awal dan sumber dari bencana luar biasa yang menjadi sebuah tonggak perubahan.
Pukul satu malam waktu Indonesia bagian barat, sebuah asteroid raksasa melintas di dekat orbit bumi. NASA yang mengamati benda langit memberitahukan pada dunia, bahwa umat manusia akan berakhir sebagaimana yang terjadi pada para dinosaurus ketika batu dari angkasa itu menyentuh daratan.
Maka dalam keadaan genting demikian, seluruh dewan keamanan PBB mengadakan rapat darurat. Setelah perdebatan dan perundingan yang begitu melelahkan dan tegang, di akhir sidang sebuah keputusan dikemukakan kepada publik. Semua negara yang memiliki hulu ledak nuklir, dengan mementingkan keselamatan dan kelanjutan hidup umat manusia, menggugurkan ego yang ada, akan meluncurkan seluruh misilnya ke langit secara serentak dengan sasaran sebongkah asteroid yang mengancam dan menghadirkan kiamat ke planet Bumi.
Beberapa jam kemudian, pertama kali dalam seumur hidup, pemandangan menakjubkan dan menggetarkan tercipta dari ratusan roket yang mengangkasa dari berbagai belahan dunia. Menuju satu-satunya musuh yang ada. Musuh yang tak lama pada titik terendahnya sebelum menyentuh lapisan atmosfir terluar di puncak langit kutub utara digempur habis-habisan oleh ledakan nan dahsyat. Umat manusia terpana dalam terangnya api yang menyebar mengombak di angkasa bagai matahari kedua. Namun dari balik kehancuran di cakrawala, turunlah bencana.
Meski dengan seluruh roket nuklir yang ada, ancaman tak seluruhnya termusnahkan. Pecahan asteroid yang tersisa menghujani bumi laksana langit runtuh.
Bongkahan sebesar meja melintas di atas langit malam Indonesia. Terguling jatuh di belantara hutan Kalimantan.Pecahan lain seukuran lemari jatuh di padang pasir Timur Tengah. Menebah bukit pasir. Menebar langit tempat itu seketika dengan debu mikroskopis. Meninggalkan kawah seluas desa kecil.
Rempalan sepadan perahu jatuh di Somalia. Mencuri tiap pandang para suku asli benua hitam. Sedangkan bongkahan sebesar mobil jatuh di gunung Fujiyama, Jepang. Melumerkan puncak pasak bumi itu. Menurunkan banjir bandang ke kaki gunung. Sementara dua bongkahan asteroid terakhir sepantaran kepala dan kepalan tangan jatuh secara terpisah di daratan Rusia dan Alaska, Amerika dan yang terbesar serta paling merusak dengan ukuran seluas lapangan sepak bola memusnahkan sebuah kota di Jerman.
***
Beberapa hari setelah pecahan asteroid jatuh di berbagai belahan bumi; seorang peneliti bernama Laila Chrome—wanita muda berkebangsaan Amerika keturunan Mesir—bersama dengan timnya melakukan penelitian terhadap bongkahan asteroid yang jatuh di daratan beku utara Amerika. Di dalam sebuah barak berbentuk kubah putih memanjang tertutup dari sebuah fasilitas penelitian darurat di padang salju Alaska yang remang.
Belasan orang, pria dan wanita berbalut pakaian khusus berkerumun mengitari sebuah objek di atas meja observasi. Atmosfir keseriusan kental terasa dari mereka. “Material penyusunnya tidak teridentifikasi!” Jelas seorang profesor pria setengah baya yang mengenakan baju anti-radiasi mirip penjelajah angkasa luar lengkap dengan helm serta sebuah alat scanner tangan.
“Apa maksudmu benda itu tidak berasal dari tata surya kita?” tanya seorang ilmuwan wanita berkacamata bingkai gantung yang tak lain adalah Dr. Laila. Dia perhatikan pria itu sementara garis-garis wajahnya menegang.
“Saya kurang yakin, tapi batu ini tidak terklarifikasi ke dalam tabel periodik kita. Di bumi ini tidak ada material yang memiliki susunan yang sama dengan benda ini. Aneh, ini aneh sekali. Material ini seolah tidak pernah ada selama ini.” ungkap profesor paruh baya itu heran tak percaya. Raut kebingunan nampak di wajahnya dari balik kaca helm-nya yang jernih. Bulir keringat bermunculan di dahinya yang keriput.
“Jadi ... aku akan percaya bahwa benda itu tidak berasal dari tatasurya kita dengan mengeceknya sendiri.”
“Apa yang kau lakukan?” rekan-rekan Dr. Layla panik tatkala menyaksikannya melepas seragam anti-radiasinya.
“Jangan khawatir. Ini bukan nuklir, hanya semacam batu dari luar tatasurya, kan? Bagaimanapun juga saya seorang geologis.” wanita berkacamata itu tersenyum.
Sekarang ia hanya mengenakan jas lab putih tanpa pakaian pelindung radiasi. Rekan-rekannya tak dapat mencegah dirinya. Mereka hanya memandanginya dengan tatapan yang seolah mengatakan “Dasar wanita yang keras kepala”. Namun, beberapa lain rekannya terikut untuk melepas pakaian anti-radiasi mereka. Berpikir benda itu tidak lebih daripada sebuah batu belaka.
Dalam kenekatan, Dr. Laila mengamati dari dekat seonggok batu misterius dengan kedua mata biru safirnya. Mengelilinginya dengan tatapan takjub dan penasaran terhadap tekstur permukaannya yang indah menyerupai rajutan jejak roda kendaraan.
Tangan penasarannya yang tanpa menggunakan pengaman apapun menyentuh batu asteroid hitam sebesar kepalan tangan itu. Diangkat dan diketuk-ketuknya dengan telunjuk, mengabaikan prosedur penelitian. Tanpa mengetahui bahwa resiko kedepannya jauh lebih gila daripada yang pernah orang kira dan itu adalah kesalahan terbesarnya.
“Akh!” Dr. Laila mendesis. Tekstur kasar batu hitam misterius mengores kulit ari telunjuknya. Sebulir darah menetes dari luka goresannya dan dalam keterkejutannya dia menjatuhkan benda paling berharga itu.
Profesor setengah baya di sampingnya tersentak maju dengan kedua tangan mencoba mencegah si batu petaka jatuh namun meleset. Lantai putih dari plat campuran logam menerima benda sekepalan tangan. Menyisipkan rasa sentakan ke dalam dada tiap peneliti yang menyaksikannya. Batu hitam dari asteroid yang nyaris melenyapkan umat manusia menggelinding di atas permukaan lantai yang dingin.
“Maafkan saya. Saya hanya terkejut.” Dr. Laila lekas memungutnya lalu meletakkannya kembali pada meja observasi.
Ia menghadap mereka, usai menarik napas menenangkan diri dari kesalahan kecilnya, “Tapi sekarang saya yakin bahwa-” kalimatnya terputus, “bahwa ...” sesuatu tengah terjadi dengan kepalanya. Rasa pusing yang amat hebat tiba-tiba menyerang. Dr. Laila meremat kepalanya, berdirinya mulai goyah. Reaksi dari kecerobohannya ditunai di sini. Radiasi AA dari batu asteroid hitam secara langsung mempengaruhi jaringan tubuhnya. Memicu serta memacu reaksi evolusi berantai dalam neuron otaknya.
“Hei, kau baik-baik saja?” rekannya yang tanpa mengenakan baju anti-radiasi memanggul sebelah tubuhnya, membantunya agar tetap berdiri.
“Akh, kepalaku. Aku merasa pusing ...” Dr. Laila menekuk kening sangat rekat. Menahan rasa gebukan hebat di kepalanya.
“Mari aku antar dirimu ke medis.” Rekan prianya menuntunnya berjalan. Manusia memang makhluk sosial. Tapi itu pula yang dapat mengancam nyawanya. Belum sempat mereka beranjak ke luar ruangan, reaksi mutasi memberontak pada diri Dr. Laila.
Dr. Laila tak kuasa mengendalikan dirinya. Jeritannya lepas menggema. Pada pipi kirinya muncul tato berbentuk sengat ekor kalajengking ungu dengan inti di tengahnya ungu berpendar pula. Dirinya yang kalut merasakan pusing di kepala menyentuh jas labnya dan dalam waktu singkat seragam itu terurai menjadi serat benang-benang panjang putih.
Terkejut atas apa yang mata mereka saksikan, rekan-rekan sepenelitiannya menjauh termasuk pada orang yang meminjamkan pundaknya dengan raut muka disirati rasa takut dan ngeri.
Dr. Laila yang panik atas apa yang terjadi pada dirinya mulai berjalan menghampiri koleganya yang dirundung ketakutan. Dia gapai tangan pria itu, meminta tolong atas apa yang menimpa dirinya. Akan tetapi hal yang mengerikan berlanjut. Kulit tangan lelaki tengah baya yang dia sentuh perlahan terurai, terbuka seperti luka dan meneteskan darah. Histeria kepedihan diserukannya seolah akan mati lantas mendorong keras tubuh Dr. Laila hingga terpental tersungkur ke belakang. Namun rupanya kejadian mengerikan tidak berhenti sampai di situ.
Dalam waktu beberapa detik lukanya melebar dan merobek lapisan epidermis hingga merperlihatkan pembuluh-pembuluh darah serta daging merah sepanjang tiga puluh senti. Kemudian dalam rentang waktu dekat, tangan itu putus pada bagian siku.
Dr. Laila hanya dapat memandang berlinang airmata menyaksikan atas apa yang terjadi di hadapannya. Si laki-laki tanpa kumis yang syok itu berteriak histeris memungut tangannya yang putus dengan pembuluh darahnya menjuntai ke bawah serta tulang lengan yang menonjol keluar. Dia hampiri kawannya yang lain. Memohon menyedihkan pada mereka untuk menolong jiwanya. Akan tetapi mereka semua menjauhinya dengan rasa jijik dan ngeri.
Ditengah kengerian yang menjadi, derap langkah pasang-pasang kaki tegas berirama mendekat dan berhenti di luar pintu lab darurat. Beberapa tentara penjaga masuk ke dalam ruangan penelitian. Mata mereka lekas disajikan penguraian yang terjadi pada tangan seorang peneliti yang semakin menjalar dan menggerogoti jaringan serta dagingnya hingga hampir memakan habis tangannya. Salah seorang tentara yang melihat hal tersebut dengan sigap mengambil parang di paha kirinya lekas mulai memotong pangkal lengan, tepat di dekat sendi putar sang ilmuwan.
Bunyi daging yang dipotong dan darah yang memancar dari pangkal lengan diiringi dengan jeritan kesakitan menggema di dalam ruangan. Parang sang tentara sukses memotong lengan dengan susah payah. Lantas potongan yang terjatuh mulai terurai habis sampai ketulang-tulangnya. Akan tetapi sang ilmuwan selamat, penguraian telah berhenti menjalar pada dirinya.
Sambil dibalut perban pada luka potongannya, dengan tatapan marah dan muka merah padam si ilmuwan yang buntung tangannya mentitah para tentara untuk menahan Dr. Laila. Serangkaian kontak memanggil personil tambahan dikumandangkan demi antisipasi kejadian terburuk saat mereka akan mencoba meringkusnya. Namun si ilmuwan wanita itu tak memberikan reaksi akan memberontak. Ia hanya terduduk menangisi atas yang terjadi pada dirinya.
Selang beberapa menit, personil keamanan tambahan berjubel tiba. Membawa diri Dr. Laila dengan pengawalan ekstrim. Kabar mengenai musibah ini terdengar oleh Pemerintahan Dunia dan Pentagon. Oleh pemerintah asteroid tersebut dijuluki Asteroid Laila dan pada tahun yang sama dibentuklah tentara Anti-Crisis. Tentara khusus dengan peran utamanya menanggulangi dan antisipasi bencana yang disebabkan oleh orang-orang berkekuatan super.
Setelahnya, kabar mengenai Dr. Laila tidak terdengar kembali hingga sekarang. Keberadaan serta kisah mengenai kejadian tersebut ditutup rapat oleh pemerintah dunia hingga membuatnya menjadi seperti sebuah mitos belaka meski bocoran mengenai informasi kejadian tersebut berhasil lolos sepuluh tahun kemudian oleh Wiki Leaks. Namun, perintah Pemerintah Dunia atas pemberlakuan operasi “pembersihan” ke seluruh dunia adalah nyata.