
Apa yang kau lakukan selama dua bulan ini, hei Ryan. Yang benar saja bagaimana kau bisa berakhir bersama mereka?
Aku menggeram kesal. Sangat kesal. Jika saja Alissa tidak segera mendatangiku pasti aku sudah menggetak hancur meja kayu di hadapanku.
“Diaz, apa yang terjadi? Bagaimana ... apa yang ... apa yang-” ucap Alissa terlihat bingung. Matanya berkaca-kaca bagai membayangkan masa lalu suram yang kami kemukakan satu sama lain semalam. Kemudian aku memeluknya.
Dia tersedu membenamkan wajahnya di bahuku. Seperti mengetahui bahwa diriku akan meninggalkan dirinya untuk menghentikan kiamat yang akan terjadi pada umat manusia.
“Jadi, apa keputusanmu? Diaz Nusabiru ...”
Sungguh. Pria Arloji Perak berkata disaat yang tidak tepat. Aku berharap tidak pernah bertemu dengannya, berharap tak menggubrisnya. “Maaf, aku telah berjanji untuk tidak menggunakan kemampuan AA lagi. Bahkan aku tidak mau memiliki kemampuan ini.”
Dia nampak kecewa atas jawabanku, tapi nampak tidak ada niat baginya memaksaku untuk mengabulkan permintaannya. Katanya, menatapku hilang semangat, “Baiklah ... tapi akan ada yang memintamu untuk melakukannya selain diriku. Dan sebagai salam perpisahan keempat kita, aku akan memberitahumu ... bahwa dimanapun garis dunia yang aku kunjungi, pusatnya, selalu dirimu ....”
Pria Arloji Perak berpaling meninggalkan kami berdua setelah mengatakan hal itu. Keluar melalui pintu masuk restoran. Berjalan cepat dan tanpa menoleh. Meski perkataannya terbukti sesaat lalu, tentang nasib Ryan yang jadi pemberontak, aku tak tergugah untuk bertindak.
Sampai “mereka” yang Pria Arloji Perak sebut tiba mendatangiku. Pemuda-pemudi berjubah hitam berjubel tergesa masuk ke dalam tempat ini. Dua orang satpam yang mencoba menghadang tiba-tiba pingsan saat seorang gadis negro menepuk tangannya sekali di dekat mereka berdua. Lalu, seorang pemuda yang membuangku dari UG berjalan mendahului semuanya dan berdiri di hadapanku.
“Kau, ikutlah bersama kami. Kau diperlukan untuk menangani teman bekas regumu itu. Kau sudah nonton beritanya, kan?” katanya, menoleh ke arah TV di ujung ruangan.
“Tidak.” Jawabku, “aku tetap di sini.” Tatapku tajam pada Jim, dan para Aila berjubah hitam di belakangnya, yang kebanyakan tak kukenal saling berpandangan.
Jim membalas, “Kau masih dendam padaku, ya?”
“Tidak, bukan itu. Tadinya iya. Tapi sekarang malahan aku berterimakasih padamu. Karena dengan membuangku ... aku dapat bertemu dengan orang yang aku cintai.” Akhirnya aku mengatakannya. Walau bukan kata-kata mainstream seperti “I love you” atau semacamnya. Tapi aku menyampaikannya. Perasaanku kepada Alissa secara tidak langsung. Dan Alissa memeluk lengan kananku, lebih rapat lagi merapat kepadaku sembari menyembunyikan setengah tubuhnya di balik punggungku. Menatap takut orang-orang UG di hadapanku. Menyembunyikan wajahnya ketika Jim balas menatapnya.
“Lalu kenapa, Diaz?” tanya ketua Andreas. Penampilannya tidak berubah. Setidaknya untuk sifatnya yang pengertian itu dan getar suaranya yang ramah.
“Karena aku tidak akan menggunakan bakatku lagi. Setelah semua kejadian waktu itu. Semua kebenaran yang kalian sembunyikan dari kami.” Pungkasku.
“Kah- kau in-“
Ketua Andreas menahan Jim kemudian berkata, “Tapi dengan bakatmu kau dapat melindungi orang yang kau cintai ....”
“Melindungi? Dari apa? bakat level tigaku ini tidak berkutik seperti kaca murahan ketika dihadapkan dengan bakat lain yang tingkatannya setara atau lebih tinggi.”
“Percuma saja memaksanya.” Timpal seorang pemuda bermasker respirator hitam, “Kita terpaksa mengambil pilihan terberat. Hubungi cabang Eropa serta Amerika yang tersisa. Kita kerahkan semuanya. Semua Aila anggota unit kesatuan UG untuk maju perang mencegah RR bertindak lebih jauh lagi.” Katanya, suaranya terdengar berat dan agak samar. Rambut pirang dan lensa matanya yang kehijauan, serta postur tubuhnya yang jangkung mengingatkanku pada sosok Abraham. Mungkin itu dia. Tapi agak kurusan serta sorot matanya menyisipkan rasa kelam.
Mereka berbalik mengikuti Abraham, berlalu dari kami berdua mulai melewati pintu itu satu-satu kemudian aku menyadari sesuatu dari perkataannya yang barusan dikatakan lekas sekeram gelisah meremat dasar pikiranku lalu kucegah dia, “Hei! Tunggu Abraham. Apa maksudmu mengerahkan semuanya?”
Dia berhenti, telah dua meter dari ambang pintu keluar dan menoleh tanpa membalik badan, “Semuanya. Semua Aila berlevel tiga dan di atasnya. Tentu saja termasuk bekas anggota tim-mu yang tersisa.”
Mendadak aku teringat George, Jian dan senyuman mereka berdua sewaktu di taman hiburan bersamaku. Dadaku terasa panas, “Kau bahkan ingin mengirim bocah belia ke medan perang!? Demi memenuhi tujuanmu!? Begitu, Abraham!?”
Dia berbalik sepenuhnya, kembali melangkah ke hadapanku, “Ya! Apapun akan aku lakukan untuk menjaga kestabilan dunia ini! Walau itu artinya membunuh diriku sendiri atau pun mengirim bocah ke kubangan darah!”
“Dasar penipu keparat kau Abraham!!” Aku tak kuasa menahan marah. Alissa yang menahanku ikut terdorong ke depan. Yang berusaha mencegahku untuk tidak meninju pemuda pirang German itu.
“Terserah kau sebut aku apa, Diaz. Tapi aku akan tetap melakukannya!” Tegasnya. Abraham mendekat tepat menatapku dengan sepasang mata hijaunya yang kelam, “dan kau tak bisa berbuat apa-apa. Hanya dapat menyaksikan di sini, dirimu yang pengecut, menyaksikan teman-temanmu sekarat dari layar televisi.”
Orang yang aku segani dulu kini jatuh wibawanya di mataku. Mendengar perkataannya membuat gigiku gemeretak. Aku muak. Tapi kalimatnya menamparku telak. Bayangan George dan Jian muncul dalam ingatanku lagi. Sejenak aku menatap Alissa, lalu menatap ke depan lagi sembari memejam. Setelah mendesahkan napas pasrah kukatakan jawabanku.
“Baiklah. Aku akan ikut bersamamu menghentikan menghentikan Ryan.” Balasku dengan kening menekuk berat. Apa boleh buat.
“Akhirnya kau mengerti juga.” Celetuk Jim.
“Jangan salah paham!” Ketusku cepat. Aku memandang sejenak raut wajah kecewa Alissa. Lalu aku melanjutkan, “Aku melakukannya demi anggota tim-ku serta demi menyelamatkan para Aila tak berdosa yang ikut terseret ke prahara ini dari tujuan pribadimu. Serta untuk melindungi masa depan ketika aku dan gadis yang kucintai dapat hidup damai. Camkan itu Abraham! Dan aku hanya sebatas menghentikan Ryan. Aku akan ikut dengan syarat kau harus menarik George serta Jian, anggota timku dulu, dari perang ini.”
Abraham membisu. Sepasang mata kami menatap saling mengintimidasi. Tidak ada yang berbicara sampai ketua Andreas menegur, “Kalau begitu ... kita berangkat sekarang?” katanya, seraya bergerak ke samping Abraham. Aku tahu dia mencoba untuk meredam singgungan di antara kami berdua.
Pemuda yang kubenci di hadapanku bersedia memenuhi syaratku, mulai berpaling dariku dan memerintah Jim untuk bersiap berangkat namun aku memintanya untuk mengantarkan Alissa terlebih dulu kembali ke tempat kosannya di Nunukan.
“Diaz ...” Alissa mengucap cemas. Erat memeluk lengan kiriku.
“Kamu jangan takut, Alissa. Aku pasti kembali setelah urusan ini selesai. Maaf, aku melanggar janji pertama kita.” Kataku sembari memandang wajahnya. Aku mengusap pipinya lembut. Memberi isyarat padanya untuk merelakanku pergi sementara.
Binar matanya yang sayu menatapku memelas. Pandangannya tunduk sejenak kemudian kembali menatapku. Dia mengangguk pelan.
“Kembalilah dengan selamat. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku menunggumu ...” Ungkapnya kemudian tersenyum walau sebulir airmata menggantung di sudut mata. Kuacung rendah jari kelingkingku di hadapannya, saling mengaitkan dengan kelingkingnya. Kemudian, setelah pelepasan yang lemah, aku berjalan mengikuti tim Rescue UG. Setidaknya, langkah kakiku menjadi lebih ringan dengan persetujuannya.
Kami bersepuluh berangkat berjalan serentak keluar dari restoran setelah Jim menteleport Alissa dan meyakinkanku dia telah memenuhi permintaanku. Lalu, setelah Abraham memberi komando untuk saling berpegangan berantai, Jim berdiri di hadapan kami semua yang bermuram muka. Yang melangkah menuju perang eksistensi. Perang penentuan nasib antara kaum Aila dan umat manusia.
***
Washington DC.
Kami berkumpul, bergabung bersama anggota Aila elit dari empat cabang UG di dalam musium nasional Smithsonian. Merumuskan singkat rencana kami untuk menghentikan RR menguasai Amerika. Sedangkan di luar sana pertempuran antara mereka dengan aparat pertahanan negara terdengar gemanya berlangsung sengit.
Ketua Andreas memberikanku jubah hitam tim Rescue UG namun aku menolaknya dengan sopan. Sebab jika aku mengenakannya, aku hanya akan terlihat bodoh seumpama menjilat ludahku sendiri.
Kudapati sosok Mary dalam perundingan bersama petinggi Aila elit. Sosok Aiko, Bintu, maupun George serta Jian tidak kutemukan dari sekitar seratusan Aila di sini. Namun, aku terlalu malas dan sungkan untuk bertanya, disamping ini bukti bahwa Abraham menepati janjinya.
Seperti terpanggil oleh batinku, Abraham menghampiriku seusai dia berunding. “Diaz, kau bersama tim Ketua Andreas menghentikan anggota RR yang berperang melawan aparat militer negara ini, di sepanjang jalan di depan musium. Dan aku bersama dengan tim yang kupimpin akan menghentikan Jordan sang pemimpin RR di White House yang sudah hancur. Tiga tim yang lain akan membereskan serangan balik para tentara Anti-Crisis. Kau tidak perlu macam-macam, tetaplah bersama Ketua Andreas dan hentikan mantan anggotamu itu. Dia dan api keparatnya telah memberangus habis usaha perdamaian yang UG coba usung. Dengan melihat bakatmu mungkin dia akan tertarik menghampirimu dan saat itu tiba laksanakanlah tugasmu.”
Aku mengangguk dua kali tanpa memandang wajahnya. Ketua Andreas yang telah bersiap memintaku untuk beranjak bergabung bersama timnya. Abraham memasang tampang enggannya ketika kulewati, yang lekas berbalik mendekat pada anggota regu yang dia pimpin. Keramahannya serta senyum hangatnya yang entah kuingat dulu itu benar tulus atau palsu tidak pernah lagi terlihat semenjak topeng respirator hitam itu melekat di wajahnya.
Aku melanggar janjiku di sini. Dua bulan lebih aku membuangnya dan sekarang aku bergantung lagi kepadanya. Perisai kristal padatku menghalau serbuan peluru. Di sebelahku Ketua Andreas mengkordinasi selusin rekan timnya untuk menyebar, menepi dari jalanan terbuka. Sedangkan aku tinggal bersama dengan dirinya serta sepuluh Aila elit lain dalam perlindungan perisai satu sisiku.
“Ketua Andreas, aku ingin mengingatkanmu sesuatu. Aku bukan bagian dari kalian lagi. Jadi jangan terlalu berharap padaku untuk bertempur sepenuh hatiku.” Jelasku.
Ketua Andreas menoleh. Terdiam sesaat kemudian berkata, “Aku mengerti. Kamu memiliki alasan tersendiri untuk ikut bersama kami. Jadi ... kami tidak dapat memaksamu untuk membantu kami menumbangkan musuh,” dia melirik kemudian merunduk di dekat telingaku “tujuanmu ... hanya untuk menghentikan Ryan, kan?”
Aku membalas melirik dan dia tersenyum memahami. Lalu dilanjutnya dengan sedikit berbisik, “Bagaimana kalau begini ... kamu bantu kami mengamankan jalanan ini sampai menuju lingkungan taman monumen Washington. Setelah itu kamu dapat bebas untuk melakukan tujuanmu. Aku tak akan bilang pada Abraham tentang pembicaraan ini, bagaimana?”
Tidak ada penawaran yang lebih baik daripada ini, maka aku tersenyum tipis. Maka kupenuhi diriku dengan semangat bertarung lalu kulakukan gerakan yang membuat kami bertiga terlindung dalam kubus kristal.
“Kita mulai sekarang, Ketua Adreas.” Kataku.
Ketua Andreas menegapkan berdirinya, menjentikkan jari tangan kanannya keras. Seketika, waktu melambat dalam radius belasan meter. Disentuhnya kemudian pundak kami sehingga terbebas dari waktu yang membeku.
Kami bersepuluh melangkah dengan tenang melewati para anggota RR serta tentara pertahanan negara yang terjebak bekunya waktu. Kubus kristal pelindungku menyapu peluru-peluru maupun jurus serangan bakat yang bergerak lambat mengambang di udara. Kalau begini, dengan mudah kami bisa mengamankan jalan ini hingga menuju monumen Washington dan aku lekas terbebas dari jerat tugas membantu UG, tanpa halangan berarti, dan seandainya itu benar terjadi tapi sesuatu yang tak nampak oleh mata menahan laju kubus pelindung kami.
“Ada apa, Diaz?” tanya Ketua Andreas heran kenapa kami berhenti.
“ Ada sesuatu ... yang menahan pergerakan kubus kristalku.”
Ketua Andreas mendekat pada muka permukaan kubus pelindung kami. Memerhatikan keanehan pada teksturnya yang tadinya hexagonal kini beriak bergetar lalu tiba-tiba dia terhenyak dan menoleh gawat pada kami, “Waspada! Musuh di depan!”
Prang!!
Belum dua detik peringatnya, sisi depan kubus kristalku hancur pecah dihantam oleh sesuatu yang tak tampak. Kulindungi wajahku dari pecahannya dengan kedua tanganku sementara perutku tertinju oleh suatu benda tumpul tak terlihat. Begitu pula dengan delapan Aila elit lain yang bersamaku. Mereka mendapati serangan serupa. Dan inilah pertamakalinya kusaksikan Ketua Andreas terhantam wajahnya hingga terpaling ke samping oleh sosok transparan.
Ini kesalahan terbesar kami. Terlalu menganggap enteng medan tempur. Melawan sesuatu yang tak dapat ditangkap penglihatan sungguh berbeda ketimbang menghindari kereta yang hendak menabrakmu. Hanya dapat melakukan pertahanan diri tanpa dapat membalas, kami terdesak oleh serangan-serangan mereka. Aku sebut “mereka” meski tidak kutahu pasti jumlahnya. Jurus bakat Momentholder Ketua Andreas pun telah terpatahkan.
Aku yang kepayahan melindungi diriku dari serangan tak terlihat membatin kesumat, Sial ... seseorang lakukanlah sesuatu!
Dan mungkin Tuhan sedang berbaik hati padaku. Bantuan dari arah antah-berantah menimpa kami. Hentakan dari benda jatuh yang cukup besar menghempaskan kami dua meteran ke udara kemudian jatuh kembali. Setidaknya ... itu dapat menyelamatkan kami dari keroyokan tak berwujud yang terhenti.
Sambil merintih oleh rasa sakit pada tubuh depanku yang jatuh menyentak aspal aku mendongak pada sosok bertubuh kekar yang berdiri gagah di dekat kami. Ditengah-tengah retakan aspal yang nampak seumpama sehabis dihantam meteor.
Diakah yang datang menimpa kami?
“Jubah hitam dengan pita merah di lengan itu ... kalian dari UG ya?” ujar pria kekar berkacamata bundar hitam seperti kebanyakan yang dipakai oleh para jenderal dalam film Rambo. Pria kekar yang hanya mengenakan kaus singlet putih dan celana panjang berkain kasar berwarna merah gelap. Dia menatapku dari sudut matanya dan alis hitamnya yang tebal naik sebelah.
Aku yang terbaring tengkurap di dekat kakinya diam saja. Aku bukan bagian UG lagi. Sepertinya pria dengan celana panjang khas milik RR ini cukup kuat. Kalau bisa aku tak mau macam-macam dengannya. Maka aku hanya menatapnya lemas.
Pandangannya teralihkan dariku. Tercuri pada enam sosok transparan yang menyerang kami sebelumnya. Wujud mereka sekarang sedikit tersingkap nampak seperti riak dalam gelombang channel TV rusak.
Pria RR kekar bersinglet menggaruk-garuk kepalanya santai, “Jadi ... inikah senjata baru buatan pemerintah dunia?” telunjuk tengahnya turun melorotkan kacamatanya dan dia mengintip dari batas lensa hitamnya lalu berucap dalam nada yang datar, “mengecewakan sekali.”
Mereka yang diremehkannya, dua dari lima sosok transparan merubah wujud mereka menjadi mutan bertanduk banteng, masih nampak transparan meski terjadi gangguan gelombang pada tampilan mereka. Sementara tiga sosok berikutnya menderingkan sesuatu dari seragam kamuflase mereka sehingga suara bising menyerupai desingan jangkrik mengungkap wujud asli mereka dalam balutan seragam perang khusus.
“Apa ini? Apa maksudnya? Apa mereka Anti-Crisis? Kenapa mereka memiliki kemampuan AA? Dan kemampuan transparan itu mirip dengan milik monster hitam yang pernah kami lawan dulu!?” kataku heran dengan suaraku yang tinggi.
Pria RR bersinglet menolehku, “Hm? Kau belum tahu mengenai Cicada Drive, anak muda? Kemana saja selama ini?”
Aku menatapnya tak percaya tak mengerti. Hanya dua bulan yang kulewatkan tanpa informasi lanjutan mengenai AA serta Anti-Crisis dan inilah yang terjadi? Ada apa dengan dunia ini?
Selama aku merenung, lima tentara khusus Anti-Crisis itu berlari menerjang pria itu, tapi dengan acuhnya, laki-laki RR kekar itu merentangkan ke samping kedua tangannya sembari bibir berkecap remeh. Lalu dirundukkan tubuhnya rendah sembari menggarukkan sepuluh jarinya pada aspal jalan tempat kami semua berada dan kemampuannya yang misterius terungkap.
Laksana karpet, selajur ruas jalan tempat kaki kami berpijak mendadak tersentak tergulung-gulung bergelombang. Mendepak kami enyah bagai bungkus makanan pada permadani yang ditebah.
Ketua Andreas terlempar menghantam tiang lampu jalan. Delapan Aila elit UG tak jauh beda nasibnya terhempas menimbuk dinding-dinding bangunan kanan kiri jalan. Sementara diriku yang segera berlindung dalam bola kristal bakatku jatuh menimpa mobil yang terparkir di samping terotoar.
Aku bangkit menghilangkan pelindung dan kusaksikan pria bersinglet itu menghampiri enam prajurit super Anti-Crisis yang tergeletak berusaha berdiri. Dikulitinya jalanan beraspal hanya dengan menyeret sebelah kakinya, dia perlakukan keenam orang itu seperti telur gulung dengan membungkus mereka menggunakan lembaran aspal jalan.
Enam orang yang kami anggap menyusahkan kini tak berdaya ditumbangkan oleh pria kekar itu dengan mudahnya. Dan apa yang akan dia perbuat pada kami kini menjadi pertanyaan utama bagiku.
Dia mendekat pada salah satu Aila elit UG yang merangkak berusaha menjauh darinya. Sebelum dugaku atas apa yang akan dia lakukan pada pemuda itu terjadi, empat lempeng kristal tajam kulemparkan pada pria anggota RR itu. Namun, lempengan tajam nan padat itu mendadak menjadi lemas bagai kain pel basah setelah disentuhnya, atau lebih tepatnya diremasnya lantas digunakannya keping krsital yang kini selembek kain itu untuk mengelap keringat pada wajahnya.
“Yang benar saja ...” umpatku. “Kenapa lawanku punya bakat aneh lagi?” kataku kesal. Seranganku jelas tidak berguna bagi orang itu.
Namun berkat tindakannya barusan ... setidaknya aku telah mengerti cara kerja bakatnya itu. Kemampuannya cuma dapat digunakan pada benda mati yang disentuhnya. Bakat berjenis elementor sepertinya. Masalahnya sekarang bagaimana cara kami mengalahkannya.
Pria RR bersinglet itu mendekat pada deretan bangunan yang saling dempet dekat ruas jalan aku berada. Kedua telapak tangannya diletakkan secara sejajar vertikal pada dinding itu, lalu digesernya serentak dan cepat seperti gerakan menggeser gerbang yang berat dan bodohnya aku tidak mengerti ancaman besar yang sedang menimpaku, dinding bangunan yang diremat ditariknya ke samping pinggangnya rontok-lepas selajur mengikuti gerakannya. Aku yang terlambat sadar bahwa selajur dinding tirai itu akan menyabet diriku hanya dapat diam tertegun menyaksikan aksinya yang telah begitu dekat akan menampar tubuhku sementara aku tak mungkin menghindar atau berlindung dengan bakatku.
Lembaran dinding kokoh akan menamparku sedetik lagi dan aku hanya memasang ekspresi terkejut dan tepat ketika nyawaku serasa akan meninggalkan raga, serta pandanganku telah dibayangi oleh ajal, sebuah jentikan jari penyelamat kembali memperpanjang hidupku. Waktu melambat terbeku. Tida salah lagi bahwa dialah yang melakukannya.
Ketua Andreas bergerak dengan leluasa, bangkit dari yang sebelumnya tak bertenaga terbaring di atas aspal. Dia menatap pria kekar bersinglet putih yang terjebak dalam bakat Momentholder-nya kemudian berpaling menatapku. Tato aktivasi mode kontamin level empat pada leher depannya mencuri perhatianku.
Perlahan Ketua Andreas melangkah mendekat padaku sembari sesekali meringis menahan rasa sakit luka-luka lecet pada tubuhnya. Kemudian dia menyentuhku, “Peranmu cukup sampai di sini. Kau pergilah bersama dengan tiga Aila elit UG kelompok-ku. Masalah di sini biar aku yang urus dan menghabisi pria nyentrik ini bersama dengan sisa lima anggotaku.”
“Kau yakin, Ketua Andreas?”
Dia tersenyum setengah tertawa, “Kau masih menggunakan embel-embel ‘ketua’ padaku setelah semuanya,” lalu dia berbalik melangkah menuju tiga Aila elit UG yang terbaring dalam terbekunya waktu dan katanya lagi, “tentu saja aku yakin atas keputusanku, Diaz. Malah akan menjadi semakin mudah karena pria RR itu telah mengalahkan enam orang Anti-Crisis berseragam khusus.”
Ketua Andreas menyentuh mereka bertiga, membebaskan mereka dari bakat pembeku waktunya. Kemudian diperintahnya mereka bertiga untuk pergi bersamaku melanjutkan perjalanan menuju pelataran monumen Washington.
Kami menunggu dan berdiri menghadap Ketua Andreas tapi dia mengangguk kepada kami berempat dan berkata untuk segera pergi. Maka kami berempat balas mengangguk kemudian dalam lindungan kubus kristal bakatku, kami meninggalkan dirinya. Meninggalkan dirinya bersama dengan Aila kuat dari RR dengan kelima anggota timnya yang aku lihat telah hilang kesadarannya dan tak mungkin dapat membantu.
Dalam benak timbul ketergunanku, “Apa dia berniat melawannya seorang diri!?”
Ketika aku menoleh ke belakang, Ketua Andreas berbalik memunggungi kami selepas belasan meter jarak kami dengannya dan dia berjalan menyongsong pria RR yang terbekukan waktu itu dalam posisi masih menebahkan lembaran dinding. Kemudian, Ketua Andreas dengan sebelah tangannya yang diangkat tinggi ke udara bersiap menjentikkan jari.