
“Lima tembakan, ya ...” Kuseka keringat di dahiku. Lelah mata dan pundakku berusaha fokus beberapa lama. Namun, setimpal dengan yang kudapat. Maka, setelah menghabiskan seluruh uang yang beruntungnya ada padaku, kusudahi menyambangi stand permainan menembak di hadapanku ini.
Oh, mereka bertiga telah kembali. George nampak senang terlihat dari tawa riangnya. Bocah pirang itu melambaikan tangan padaku.
“Master! The scenery was cool up here. I could saw everything on the top of it. You should come join us before.” Terangnya bersemangat.
Aku mengusap rambutnya, “Ho ho. It’s okay. I have some reason to do here.”
“Kak Aiko, ayo kita masuk ke situ.” Potong Hariz menunjuk ke atraksi rumah hantu. Gadis listrik itu mengiyakan. Mereka bertiga segera menuju ke tempat itu.
Tanpa pikir aku menggapai tangannya, “Aiko, tunggu ...” sungguh, aku bahkan terkejut dalam hati karena melakukannya.
“Hm? Ada apa mata empat? Kau tidak ikut lagi karena takut dengan rumah hantu?”
“Bukan,” aku menggeleng, “ini ...” kuserahkan sebuah kotak kecil dari saku celanaku. Aiko terdiam sebentar. Dia terlihat akan marah. Mungkin bukan. Mungkin lebih tepatnya tidak mengerti atas tindakanku.
Dia berkata, “I-itu kan ...”
Karena tak ingin dia mengomeliku maka kudahului menjawab, “Ya. Kulihat kamu sangat ingin mendapatkannya jadi aku ... ehm, maaf kalau aku memerhatikanmu tadi. Tapi kalau kamu tidak mau nanti kutukarkan saja dengan yang la-”
Aiko mengambilnya dari tanganku kemudian berbalik memunggungi, “Terimakasih.” Katanya cepat.
Terimakasih. Hanya itu yang diucapkannya dan Aiko segera berlari kecil menyusul George dan Hariz. Yah, paling tidak masih lebih baik daripada dia meneriakiku. Kemudian, karena penasaran atas sikapnya barusan yang menurutku agak aneh dan beda, kususul mereka sembari tersenyum simpul, “Eh tunggu, aku juga ikut!” maka kami berempat bersama menuju wahana berikutnya.
Sepasang pintu besar berornamen kombinasi aneh antara tulang manusia dan reranting pohon serta sulur berduri menjulang di depan kami. Seorang penjaga berkostum zombi menyambut kami dengan suara yang dibuat-buat seram dan serak. Aiko menyerahkan karcis kami padanya dan kami, secara perlahan, satu-persatu masuk. Hariz selalu merapat pada Aiko sedari awal menapaki tempat ini. Sedangkan George tenang-tenang saja berjalan dengan santai layaknya seorang turis di taman safari, mengamati manekin serta orang berkostum hantu yang tiba-tiba muncul menakut-nakuti dengan suara menjerit.
Ekspresi George nampak menahan tawa ketika hantu dengan kain putih yang membungkus utuh dirinya seperti permen muncul di sampingnya. Aku yang melihat reaksinya, berbisik pada angin. “Hei ... meski berbeda budaya hantu, setidaknya terlihat takut sedikit kek.” Dan kutepuk jidatku.
Tapi prasangka lain ketimbang rasa takut atau mencekam, atau kedongkolanku untuk memaklumi mimik muka George, semacam rasa paranoid dan was-was, yang mengusikku, kini lebih mencuri perhatianku. Aku merasakan kehadiran seorang lain yang mengikuti kami berempat. Mungkin bukan kebetulan dia masuk ke sini. Sebab kecurigaanku timbul semenjak aku berkutat di stand menembak sebelumnya.
“Kalian bertiga duluan, ya ... ada sesuatu yang harus kuperiksa.” Kataku tak tahan lagi untuk menghampiri kekhawatiranku.
“Ma-mata empat? Mau pergi kemana kamu? Hei, jangan meninggalkan gadis di dalam rumah hantu dong! Laki-laki macam apa kau?” Aiko berseru.
“Maaf!” Aku menyahutnya tak menoleh. Karena ini penting sekali. Aku tak mau kami dibuntuti oleh Anti-Crisis atau semacamnya. Mesti kupastikan kebenarannya. Siapa dia. Benar ancaman atau cuma imajinasi dari kecemasan berlebihanku saja. Akan kusergap dia!
***
Seorang gadis berambut hitam sepunggung, berjubah hitam dengan lingkaran kain merah di lengan jubahnya berjalan seorang diri dalam lorong gelap berdekorasi mirip dinding-dinding dalam gua. Dari gelagatnya nampak menggerutu sepanjang jalan.
“Kenapa mereka berdua ke sini tidak ajak-ajak aku? Apa karena ini termasuk misi rahasia? Ya, ya, pasti itu. Tapi kenapa cewek jahat itu tersipu malu waktu ketua kasih sesuatu? Hah! Apa jangan-jangan mereka berdua sedang ken- KYAAAA!”
Gadis itu terkejut menyaksikan lompatan penampakan sesosok laki-laki membawa dua kampak besar yang hendak diayunkan kepadanya―sosok yang menyelinap di antara pohon beringin palsu. Membaur di antara manekin hantu. Yang tak lain adalah diriku.
Kukatakan seraya ikut pula terkejut karena kehadirannya, “Gadis peria- maksudku Jian. Kok bisa di sini? Apa kamu yang selama ini mengawasiku?” kujatuhkan dua kampak besar imitasi yang kupinjam dari manekin penjagal di belakangku.
“Hah hah. Ketua Diaz ....” Jian terduduk, napasnya tersengal-sengal.
“Hampir saja kepalamu lepas tadi.” Kuserahkan tanganku untuk membantunya berdiri. Gadis periang tersenyum menatapku, bangkit dari duduk terjerembabnya dan lekas menyongsong memelukku.
“Lho? Eh?” Aku tidak mengerti perbuatan dan perubahan reaksinya. “Jian, sebaiknya kita segera keluar dari sini lalu menemui yang lain.”
“I-iya. Tapi aku takut ....” Jian terus memelukku. Meski berkata lirih begitu tapi nadanya malah terdengar manja.
“Oke, tidak apa-apa, Jian. Tidak ada hantu, jin, genderuwo, demit atau siluman buaya di sini yang bakal menyerangmu. Jadi jangan takut. Kalau kamu bisa tenang dengan memelukku boleh saja tapi kita harus tetap berjalan bersama sampai pintu keluar, ya?”
Kini aku yakin betul, kalau sikapnya bukan menunjukkan rasa takut melainkan malah bahagia.
***
“Wah wah wah ... jadi ini yang kau maksud? Meninggalkan seorang gadis di rumah hantu untuk keluar bersama gadis lain. Begitu ya ternyata. Oke, aku cukup tahu sifatmu,” cibir Aiko kemudian kunyahan permen lolipopnya terdengar keras dan digerus. “Eh, tunggu dulu, kenapa gadis itu ada di sini? Dan kenapa dia menempel begitu padamu?”
“Yah ... ceritanya sedikit ru-”
Jian menunjuk Aiko dengan tetap memeluk lekat samping tubuhku, “Kamu juga kenapa berduaan bersama ketua di taman hiburan? Kamu mau memanfaatkan Ketua Diaz, ya? Atau ingin melukai Ketua Diaz lagi? Week! cewek jahat. Jangan menipu Ketua Diaz, ya!”
“Haah!? Ap- apa maksudmu!? Yang bilang aku mau berduaan dengan mata empat ini itu kan kau sendiri!” Aiko balas menunjuk, pipinya sedikit merona.
“Tapi- hmpf-uugh....”
Terpaksa kubekap mulut Jian dengan tanganku, karena predikatnya telah menjadi gadis cerewet sekarang.
“Yak yak sudah. Kenapa kita tidak menikmati taman hiburan ini bersama?” tawarku.
“Memang itu kan tujuan utama kita kemari?” Aiko menata rambut sampingnya kemudian melangkah pergi sambil menggandeng Hariz.
Ketika Jian telah kurasakan tenang dan tak berontak untuk membalas Aiko, aku baru melepaskannya. Tetapi dia masih saja menempel padaku. George yang hanya melihat sedikit kericuhan antara kami segera menghampiriku lalu menarik tangan Jian untuk mengikutinya. Jian meronta-ronta dan berkata pada George untuk berhenti mengusilinya sementara tangan rampingnya yang lain menggapai-gapai tubuhku namun aku segera mundur beberapa langkah sehingga George memenangi menarik Jian menjauh dariku. Aku tertawa kecil menyaksikan Jian yang akhirnya mengalah. Memerhatikan tingkah mereka yang menjauh berjalan ke stand lain di taman hiburan ini dan untuk sejenak, aku merenung. Kembali tertarik oleh kenangan bersama dirinya ....
Kak Nadia, aku telah menjalani hidup seperti yang kau minta pada waktu itu. Sekarang aku telah mendapatkan teman-teman baru, keluarga baru, serta kehidupan yang baru. Bintu juga telah menjadi pemuda yang kuat dan tidak cengeng seperti dulu. Andai Kak Nadia melihatnya sekarang aku yakin dirimu akan terkagum.
Kak Nadia, sosokmu selalu hadir di mimpiku. Mimpi yang sama sewaktu aku meninggalkanmu di tempat itu. Kepingan ingatan mengenai dirimu selalu menghantuiku. Kepingan penyesalan karena tak dapat menyelamatkan dirimu ....
Aku mengambil napas pasrah. Mendongak lemah memandang biru angkasa yang luas dan bertebaran halus putih awan. Warna langit yang indah.
Kak Nadia ... apa dirimu berada di atas sana? Apa dirimu tengah menatapku seperti aku menatap langit ini? Kak Nadia, aku ingin melihat senyum indahmu sekali lagi ....
“Gawat ketua, kita harus segera kembali ke UG!” seru Jian mendadak berlari mendatangiku bersama Aiko, George, serta Hariz yang menyusul. Perenunganku buyar. Kulihat tatapan matanya yang jernih bagai kelereng menyisipkan keseriusannya yang membuat belakang leherku merinding.
Aiko menimpali, berkata bahwa ada keadaan darurat di UG dari kabar transmitter yang ada pada jubah Jian, dan dia membenarkan kabar itu. Lalu, dengan pikiran yang tak keruan, aku menghadap Jian dan menekan kedua pundaknya. Kubalas tatapannya dengan keresahan tinggi.
“Jian, teleport kita kembali ke UG.” perintahku.
***
Ketika kami tiba, kerumunan nampak merayapi lapangan tanah utama UG. Sorakan kemarahan serta kengerian meluapi atmosfer di tempat ini. Kami berdua: aku serta Jian, mendekat masuk kedalam gerombolan itu menelisik apa yang terjadi sedangkan Aiko serta George mengantarkan Hariz kembali ke Kebun Kaca.
Seorang pemuda bermata sipit seumuran Abraham menghajar habis-habisan seorang tentara Anti-Crisis diiringi caci maki dan sumpah serapah para Aila UG. Pemuda berparas oriental itu tampak berantakan, beberapa bagian jas tim rescue miliknya terdapat bekas terbakar.
“Sudah hentikan Jim! Bisa-bisa dia mati!” pemuda berambut pirang sedikit lebih tinggi dariku, yang kuketahui bernama Fleiz, menghadangnya dengan tubuh depannya. Kemudian, dengan ekspresi terpaksa dan kecewa hingga wajah putihnya kelihatan diluapi darah, Jim akhirnya menuruti perintahnya. Pemuda berperawakan mirip boyband Korea itu menyingkir ke tepi kerumunan. Ketika melewatiku, ia berhenti sejenak dan menatapku tajam.
“Kau? bukankah kau orang yang tadinya akan dimintai tolong Abraham? kemana saja kau!?” kerah seragamku diangkatnya.
Aku hanya menatapnya bersalah, mulutku tak dapat berucap alasan atau omong kosong lainnya. Situasinya tak kumengerti. Aku ingin cari aman dengan mendengar penjelasan dari makiannya padaku. Dengan kemarahan terpancar di matanya yang sipit, dalam benak aku sudah bersiap untuk menerima tinjuan tapi dia hanya berkata, “Cih, percuma saja.” Celetuknya kemudian melepaskan cengkramannya lantas melangkah pergi ke gedung utama UG. Meninggalkanku berdiri menyerap penyesalan dan kebingungan atas apa yang sebenarnya terjadi.
Jian menyentuh punggunggku, ketika sosok Jim telah seukuran jari di kejauhan. “Ketua Diaz, sebaiknya kita kembali ke gedung utama UG.” katanya pelan. Dengan hati-hati dan perlahan, Jian mengajakku untuk keluar dari kerumunan, pergi dari tempat yang sekarang telah menjadi lahan perhatian mata yang sinis tertuju padaku