
Sayup-sayup telingaku menangkap suara. Seiring dengan berlalunya waktu kesadaranku mulai kembali. Pandanganku masih gelap ketika perlahan membuka mata, sedang tanganku meraba-raba mencoba menerka terdapat di suatu apa tubuhku ini. Agaknya diriku tengah terbaring di atas kasur. Terasa dari lapisan halus pintalan bahan sintetik yang kuremat-remat. Kucoba mengumpulkan tenaga namun tubuhku masih terasa lemah untuk digerakkan.
Saraf-saraf mataku mulai menangkap cahaya dari celah-celah penglihatanku yang belum terbuka sempurna. Kemudian aku melihat sekeliling. Perhatian pertamaku terusik pada tangan kiriku yang tertancap sebuah selang infus. Setelahnya aku menoleh ke kanan serta kiriku. Yang nampak adalah tirai putih bersih yang tidak terpasang sebagai tabir jendela namun sebagai partisi temporer. Pasti aku tengah berada di rumah sakit, pikirku.
Setelah dirasa energiku telah cukup terkumpul, berangsur aku mencoba bangkit dari pembaringan. Seketika pandanganku berkunang-kunang, sedikit pusing. Aku memeriksa kepalaku namun sentuhanku menjumpai permukaan berserat dengan pori-pori. Lingkaran kain perban melilit melintangi kepalaku.
Usai rasa pusing di kepalaku sirna setengahnya, perlahan kucoba turun dari kasur kaku ini dengan infus masih menancap di lengan kiri. Belum sempat tubuhku bangkit seutuhnya, alarm indikator di kepala kasur menyala dengan lampu merahnya. Tak lama setelahnya pintu di ujung ruangan terdengar terbuka, berikutnya dua langkah kaki yang berbeda masuk ke dalam sini dan mendekat ke tempatku. Seorang dokter dan perawat tiba dan menatapku bersyukur.
“Ternyata kamu sudah sadar. Perbolehkan saya untuk melakukan pemeriksaan.” kata dokter itu kepadaku dan aku hanya mengangguk karena belum mengerti atas apa yang terjadi dan kenapa diriku bisa tiba-tiba berada di rumah sakit.
Dengan peralatan medis yang ia bawa, dia memeriksa detak jantung, mata, serta reflekku. “Keadaanmu sudah membaik.” katanya, “luka-lukamu juga sudah mengering dan menutup. Kamu sudah dapat beraktifitas seperti biasanya.” jelas dokter itu kepadaku. Kemudian perawat yang datang bersamanya melepas infusku secara hati-hati lalu menutup bekas jarumnya dengan plester putih.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tiba-tiba di sini? Bagaimana dengan pertempuran yang aku alami dan teman-temanku?” berondongku kepada dokter itu dengan sejumlah pertanyaan.
“Tunggulah di sini sebentar, akan ada seseorang yang kemari untuk menjelaskan semuanya. Kami permisi dulu, semoga kamu lekas sembuh.” jawabnya biasa. Dia membereskan peralatannya kemudian melangkah pergi ke luar ruangan bersama dengan perawat yang tak melayangkan sepatah kata.
Sejenak aku terdiam berusaha mengingat kembali kejadian sebelumnya. Mengingat kejadian sebelum aku tak sadarkan diri. Di ruangan yang hanya ada aku seorang, kembali kubuka memori. Namun, ingatan terjauhku hanya sanggup menggapai di mana seekor puma hitam menyelamatkanku dan berikutnya kepala atasku berkedut nyeri.
“Hei, kau baik-baik saja?” suara lembut seorang laki-laki membuyarkan lamunanku. Aku tak menyadari kehadirannya. Seorang pemuda berdiri di hadapanku yang tengah duduk di atas kasur perawatan. Rambut pirang, potongan rambut pendek khas tentara, tinggi sekitar 188 cm. Postur dirinya yang tegap ideal membuatku mendongak, dan paras wajah seperti orang eropa itu ... mungkin orang Amerika atau Jerman, batinku mengeksplorasi ciri fisiknya.
“Ah, ya. Aku baik-baik saja.” jawabku. Pandangan kami saling bertemu. Agak salah tingkah gerik mataku kemudian, meski kami sesama lelaki.
“Ikutlah denganku berkeliling tempat ini dan akan kujelaskan semuanya. Tapi sebelum itu, bergantilah pakaian dahulu. Pakailah ini.” Dia menyodorkan kepadaku satu setel kemeja katun putih serta celana panjang hitam yang ia bawa dalam sebuah kemasan plastik bening. Rekah senyum yang sedari tadi disunggingkannya mulai membuatku grogi.
Aku yang masih tak mengerti segera menuruti panduannya. Dengan pandangan menunduk aku berganti sandang dari seragam pasien rumah sakit ke pakaian putih berlengan panjang yang diberikan pemuda ini. Dengan sedikit bantuannya, dia melepaskan sepotong kain hijau berkancing dua yang aku kenakan. Rasa letih telah sirna dari tubuhku namun rasa ngilu masih mendekam pada beberapa bagian. Cukup menyusahkanku untuk bergerak, membuat diriku sedikit meringis. Namun, pemuda kulit putih tampan ini memberiku beberapa bantuan.
Usai membantuku berganti pakaian dia menyodorkanku sebuah benda yang sangat penting. Teramat penting khususnya untuk orang bermata minus dua sepertiku. Dia memberiku sebuah kacamata baru. Dengan frame warna biru seperti milikku yang lama namun lebih keren. Berbingkai tipis dengan aksen modern-futuristik.
“Nah, sekarang ikuti aku.” ajaknya setelah aku mengenakan kacamata dan sedikit beradaptasi. Kami berdua melangkah ke luar ruangan dengan kepalaku masih terbalut perban. Cahaya iluminasi seketika menyergap ketika diriku baru menjejakkan kaki pada serambi teras hingga membuatku memejamkan mata sejenak.
Perlahan kelopak mataku terbuka, pandanganku menjadi jelas, dan aku segera sadar, bahwa aku bukan berada di rumah sakit. Rumah sakit tidak memiliki konstruksi dan taman seperti ini. Aku melangkah maju mendahuluinya. Mendekati railing pagar balkon tempat kami baru saja keluar dari ruangan sebelumnya. Kutundukkan kepalaku. Rupanya kami berada di lantai atas. Sekitar lima meter mungkin dari permukaan tanah.
“Sudah cukup mengaguminya?” tegur pemuda pirang di belakangku tersenyum ramah. Tertawa kecil juga.
“Hmm ya.” jawabku singkat seraya berbalik.
Dia mendekat, punggungnya menyandar pada railing balkon menghadapku, “Selamat datang di UG. Namaku Abraham Werden. Panggil saja Abraham,” kenalnya dengan merentang kedua tangan, memamerkan pemandangan alam di belakangnya.
Lalu aku menjawab, “Aku Diaz Nusabiru, panggil saja Diaz. Lalu kita ini di mana? Dan kau siapa? Lalu bagaimana dengan teman-temanku?”
Dia menjulurkan sebelah tangan selayaknya polisi memberhentikan pengendara, “Tenang, aku akan menjelaskan semuanya. Tentang kami dan pasukan yang menyerang kalian. Wajar kau bertanya seperti itu karena kau tidak sadarkan diri selama dua hari. Pertama, jangan khawatir, kita masih di Indonesia tepatnya di Borneo. Lalu, selanjutnya mari aku jelaskan sembari berkeliling.” Jelas Abraham kemudian dia mulai melangkah.
“Eh? Aku pingsan selama dua hari? Kita di Kalimantan? Yang benar saja, segalanya malah bertambah membingungkan.” tanggapku sedikit sebal kemudian mengikutinya.
Tertawa lagi dia, “Maka dari itu dengarkan dulu. Biar aku jelaskan semuanya.” katanya dengan nada jenaka.
Aku bergerak menjajarinya, dan akhirnya aku tahu perasaan mereka yang memiliki tinggi kurang. Berjalan beriringan dengan Abraham membuatku tersadar tentang rasanya berbicara dengan pupil mata bergerak ke atas menatap lawan bicara yang lebih tinggi. Aku yang hanya sebatas hidungnya terpukau dalam hati.
Kukatakan, “Kau ini tenang sekali, dan sepertinya aku pernah melihat motif garis belang merah di seragammu itu sebelumnya entah di mana.” ekspresiku datar mendongaknya, suaraku bernada sebal sembari melirik motif pada kemeja putihnya.
Lagi-lagi Abraham tertawa merekah senyum, “Aku T-Rex hitam yang menyelamatkanmu.”
Sekonyong-konyong aku terperangah mendengarnya, membuatku menghentikan langkah sejenak kemudian mengikutinya kembali. Tapi ketika aku hendak bertanya, dia mendahului berkata, “Yak, akan kujelaskan mulai dari organisasi kami. Organisasi kami bernama United Gift atau disingkat UG.”
“Gift?” aku memiringkan kepala menoleh. Keningku terlipat mengira-ngira maksudnya.
“Ya, gift. Kemampuan abnormal Anathema Ability disingkat AA yang kita miliki. Di sini kami menyebutnya sebagai mukjizat—gift atau bakat. Kemampuan yang menjadi anugrah bagi kita. Bukan sebuah kutukan ataupun penyakit seperti yang publik paparkan apalagi kemampuan terlaknat. Jadi mulai sekarang, gunakanlah kata gift atau bakat untuk menggantikan sebutan AA.” jelas Abraham kemudian melayang senyum.
Aku terheran dengan penjelasannya. Menyebutnya sebagai mukjizat bukan kutukan maupun penyakit terasa seperti kami adalah orang-orang yang terpilih dan beruntung. Yang dipilih Tuhan untuk dititipkan kemampuan ini. Untuk kali ini aku setuju dengannya.
Kami melanjutkan perbincangan. Abraham mengajakku ke sebuah ruangan besar beratapkan kaca berlatar biru langit, berbentuk seperti tempurung. Mirip atap gedung DPR di Senayan itu. Kemegahan rangka-rangka konstruksinya membuatku terlongong. Kokoh dan bersegi tegas. Dengan warna keabuan yang memantul sederhana ketika disampiri cahaya.
“Ini sector M3, tempat kau dirawat tadi sector H3 nomor 5,” terang Abraham. Sebelah tangannya diangkat rendah.
Penglihatanku berkelebatan ke sekeliling. Ruangan tempat kami berada ini cukup besar dengan penerangan cahaya matahari langsung dari langit-langit. Gedung yang hemat energi, pikirku. “Apa fungsi ruangan ini? Aku tidak melihat ada aktivitas di sini. Dan ... ada banyak kursi.”
“Ini ruangan tempat pertemuan. Yah, semacam tempat untuk rapat.” katanya, melihatku. Kira-kira jika kuhitung, tempat ini dapat menampung sekitar lima ratusan orang dari jumlahnya.
“Ab,” seorang gadis berambut pirang sepunggung memanggil Abraham. Berjalan mendekat dari belakang kami. “Ab, sedang apa kau di sini? Bukankah kau nanti ada rapat jam empat sore ini?” tanyanya pada Abraham seraya melirik pada papan jadwal yang didekapnya di lengan kiri.
“Ah, Mary. Ya, aku sedang mengantar orang ini berkeliling dan menjelaskan semuanya. Kenalkan Diaz, dia Mary.” ketika mereka berdua saling berhadapan dalam jarak dekat, tubuh gadis yang langsing dengan tinggi sekitaran 176 senti itu kontras sekali dengan tubuh Abraham yang berperawakan tegap berisi.
Gadis itu menyisipkan lirikan risih, ketika aku ketahuan olehnya memperhatikan tinggi dan parasnya yang cantik itu. Maka kujulurkan tanganku sebagai tanda niat baik, “Diaz Nusabiru. Panggil saja Diaz.” sesaat aku menikmati mata biru gadis ini. Terlihat cerah dan memantulkan cahaya ibarat kaca. Indah dan cemerlang.
“Mary Noble. Panggil saja Mary. Ah, kau si anak laki-laki yang melawan pasukan Anti-Crisis dan menghancurkan dua heli mereka, ya? Awal yang bagus.” Ungkapnya kemudian tersenyum simpul. Aku salah tingkah lagi. Kali ini wajarlah karena bertatap muka dengan gadis secantik dia. Dari rona mukanya yang bersih dari garis-garis usia dan tanpa maskara, aku menduga bahwa umur kami sepantaran.
“Baiklah, kami akan melanjutkan berkeliling. Sampai nanti rapat, Mary.” sela Abraham. Dia melirik pada jam tangannya dalam suatu kesempatan. Kentara kalau dia tidak ingin membuang waktu untuk kami berdua berbasa-basi.
“Ya, jangan lupa jam dua sore ini.” koreksi Mary kemudian dia berpaling dari pandangan kami.
Abraham menangkap kedua pundakku, mengarahkanku menghadap pada arah yang mesti kami lalui, lalu dia dan aku kembali melanjutkan berkeliling. Sedikit terburu-buru. Setelah mendorongku untuk berjalan, dia lekas berada di depan, dengan langkah-langkah kakinya yang lebar dan cukup melelahkan untuk ditiru.
Maka kupanggil dia dengan melempar topik guna memperlambatnya, “Abraham,” dan tanganku sampai di punggungnya sebab aku nyaris tersandung ketika berusaha menyusul jalannya.
“Ya?”
Kunormalkan sikap tubuhku baru menjawab, “Aku heran, kenapa bangunan sebesar ini tidak ditemukan oleh pasukan tentara hitam?” tanyaku sembari mengamati langit-langit. Caraku berhasil. Akhirnya kami melangkah dengan kecepatan orang Indonesia.
“Kau menanyakan pertanyaan yang bagus. Apa kau mencurigai kami, Diaz?”
“Hanya memastikan.” kedua bahuku bergedik.
Abraham melirik langit-langit, menggumam lalu berujar, “Kau orang yang hati-hati, Diaz. Pantas kau dapat memimpin mereka.”
Aku jadi ikut menggumam, di awal saja, “Hmm? Mereka? Jadi murid yang lain ada yang selamat dan mereka ada di sini?” jawab analisisku cepat.
Tawa kecilnya terdengar lagi, “Kau hebat bisa menebaknya,” lalu dia menyambung, “ya, kami sempat menyelamatkan mereka,” kemudian sepintas atmosfer wajahnya jadi muram, “tapi ... ada yang tak tertolong dan beberapanya menderita luka tembakan yang serius.”
“Bisa, tapi tidak sekarang. Aku harus menjelaskan sistim tempat ini kepadamu terlebih dahulu.” sanggah Abraham, dia melangkah mendahuluiku. Kedua tangannya mengunci di balik punggung
“Oke, jadi jelaskan dulu kenapa tempat ini tidak ditemukan oleh pasukan tentara hitam.” susulku kembali melayangkan empat jangkah lebar.
Lagi-lagi kembali hadir tawa kecilnya, “Kau tidak teralihkan, ya? Baiklah, tempat ini dilindungi oleh para Aila—orang-orang dengan bakat—bertipe kamuflase. Terlebih kami juga punya satelit jammer. Jadi mereka tidak dapat melacak kita.” jelasnya.
“Hmm, cukup masuk akal.” aku mengangkat alis dan membetulkan posisi kacamata bingkai tipisku dan dengan tanpa tedeng aling-aling aku melangkah mendahului Abraham, cepat seperti anak sebal pada gandengan ibunya, hendak keluar dari ruangan M3 ini. Sambil harap-harap aku mendapati rahasia yang dia sembunyikan, dengan inisiatif liarku, kecepatan langkah kutambah kemudian berbelok ke kiri di persimpangan pintu.
Namun memang salahku, kejadiannya cepat tanpa sempat kumelihat dan membuatku terpelanting terduduk di lantai sebab tubuh depanku menabrak sesuatu setinggi dadaku.
“Perhatikan langkahmu, bodoh!” kata suara tunggal feminim namun keras.
Aku menoleh pada sumber suara. Desiran aneh terasa mengisi dadaku. Hampir membuatku berpikir bahwa sebuah kebetulan di mana aku menabraknya adalah bagian dari takdir. Orang yang tertabrak jatuh olehku, yang rok pendeknya sedikit tersingkap itu adalah gadis yang menyelamatkanku sebelumnya. Ya, dia gadis Aila—aku pakai istilah Abraham bagi kami para pemilik bakat—dengan kemampuan listrik. Reflek saja kujulurkan tangan kananku bermaksud untuk membantunya berdiri sembari jantung ini berdegup membuncah menunggu sambutan genggamannya.
“Ck! Tidak perlu. Aku bisa berdiri sendiri, dasar amatir.” Balasnya menampik tanganku, bangkit lekas menebah-nebah rok krem-susu sepuluh senti di atas lututnya.
“Ha? Eh?” aku mengernyitkan dahiku mendapati reaksinya.
“Diaz, ada apa?” Abraham tak lama menghampiriku dengan ekspresi terheran. Melongok kepada arah lawanku bicara. “Oh, Aiko. Kau sedang apa?” tegurnya santai tak membaca suasana.
“Ya, ehm. Bukan apa-apa.” selarik geli malu dipersembahkan si gadis listrik kepada Abraham dengan imut ditingkahi menggaruk kepala.
“Eeh? Ha? Apa yang terjadi dengan sikap kasarmu barusan?” tanyaku aneh atas perubahan singkat sifatnya. Tentu saja dalam intonasi sebal.
“Auw! Hei!” Mendadak sengatan listrik mendarat di punggung tanganku yang tidak terlihat oleh Abraham. Aku bersungut-sungut menatap si gadis Jepang berpotongan rambut hampir menyentuh bahu.
Abraham menoleh ke arahku, “Kau kenapa?”
“Aku di−” terpaksa kuhentikan kata-kataku karena si gadis listrik di belakang Abraham mengepal tangan kirinya setengah ke udara. Mengancam dengan sedikit percikan listrik menjangkar di tinjunya. “Aku di ... dak apa-apa.” Lanjutku dengan sinkron kata yang payah.
“Hm? Begitukah? Ayo kita lanjut berkelilingnya kalau begitu.” Ungkap Abraham kemudian mulai melayang kaki. Seyum ramahnya ia sunggingkan, “Sampai nanti, Aiko ...”
“Ya, sampai nanti ...” Sahut si gadis listrik membalas tersenyum kepadanya.
“Ha?” aku kembali mengernyitkan dahi. Berdiri pada jarak antara mereka berdua. Ekspresiku bercampur kesal serta separuh putus cinta. Si gadis listrik lantas membalas melirikku dengan pandangan yang seolah mengatakan “cih” setelah Abraham melangkah sedikit jauh. Serta-merta aku merasakan kedut kesal pada pelupuk mata kiriku.
Aku kembali pada tujuan utamaku seusai menyalam acuh pada si gadis listrik. Mengikuti tur Abraham berkeliling fasilitas ini. Seperti kunjungan wisata sewaktu sekolah dasar dulu. Bedanya sekarang adalah Abraham sebagai pemandu tur yang penuh misteri. Beberapa waktu telah dihabiskan memusingkan diriku dengan liuk-liuk tata ruang fasilitas UG yang teramat asing bagi mataku. Aku yang tak mau tersesat berupaya tetap dalam jarak yang dekat dengan dirinya sembari melayangkan obrolan identifikasi mengenai siapa diriku, siapa mereka dan apa yang biasa mereka lakukan di tempat ini. Setibanya di lantai empat kami berdua lekas melalui lorong panjang berdinding putih dengan lampu berpendar hijau di tengahnya.
Melihatku yang hanya mendengarkan saja sepanjang sisa perjalanan ini, dia menyentuh pundakku sambil berkata, dengan intonasi yang agak beda dari sebelumnya, “Kita berada di lantai L4. Dengan nama lain, training base.” Jelasnya.
“Abraham.”
“Ya?”
“Gadis tomboy yang kutabrak tadi siapa?” tanyaku sembari menyamakan langkah, berjalan membarenginya. Walau pertanyaan ini jedanya terlalu lama dari kejadian sebelumnya. Tapi aku yakin dia mengerti siapa yang aku maksud. Terlebih mungkin ini bisa menjawab pertanyaan yang bisa jadi ada dalam benaknya atas perubahan sikapku yang cenderung menggumam pasif.
“Tomboy? Oh, namanya Aiko Takamori. Dia gadis yang ramah dan murah senyum, kok.” Jawab Abraham tersenyum lengkung menatapku.
Sepertinya Aiko hanya ramah kepadamu saja, batinku sembari memicingkan mata dengan tampang datar.
“Kenapa? Apa kau menyukainya?”
“Ha? Ah. Bukan, bukan begitu. Aku hanya ingin berterimakasih padanya.” Jawabku cepat sedikit gugup. Yang benar saja ...
“Begitu? Ngomong-ngomong, sekarang kita akan masuk ke dalam ruang pengawas.”
Aku mengikutinya dari belakang. Melewati dua lapis pintu baja yang terbuka otomatis. Nampak sedari tadi aku ini sudah seperti anaknya saja. Mengekornya ke sana kemari. Tapi tak apalah karena dia tampan. Eh? Maksudku asal tidak ke neraka saja.
Setelah menekuri ratusan meter jangkah kaki kini kami bertambat pada sebuah ruangan lima meter dari ruang latihan L4A di bawahnya. Kami dapat melihat dari dinding kaca setebal setengah senti para Aila berkemeja putih dengan motif dua garis hitam tipis vertikal di bagian depan badan yang tengah melatih kemampuan bakatnya.
Abraham duduk kemudian mengambil berkas di mejanya. “Diaz, silakan duduk. Aku akan menjelaskan sistim dari pelatihan UG.” Pintanya padaku. Tanpa menjawabnya aku bergerak mendekat, duduk di kursi empuk tanpa sandaran tangan berhadapan dengan dirinya. Dengan gambar peta lantai L4 di atas meja kaca sebagai pemisah antara kami berdua.
“Aku akan menjelaskan tentang bakat dan tanda fasenya dulu. Coba lihat ini.” Abraham menyodorkanku selembar kertas file bergambar simbol yang beberapanya ada yang telah kukenal. Karena tanda pada leher kananku ketika diriku merasa mengarungi batas, tercantum di dalamnya.
Telunjuk Abraham bergerak melabuh pada simbol pertama. Lalu ia mulai menjabarkan seluruhnya, “Fase pertama yang tak terdeteksi, Seed. Aktifasi bakat fase yang paling lemah. Belum dapat mengeluarkan kemampuan spesial sesuai keinginan. Fase kedua hingga keempat kami namai berututan sebagai: Worm, Growing serta Freeze Death. Pada tahap Freeze Death, para Aila dapat mengendalikan bakatnya dengan sangat baik dan kuat dalam skala area sedang. Pada level kontaminasi level tiga ini kemampuan yang dimiliki Aila akan menentukan apakah dapat meningkat ke level selanjutnya atau berhenti, terbatas di sini.
“Fase berikutnya hingga level kontaminasi 6 adalah: Pupa, Butterfly, serta Stagnate. Pada level Stagnate, Aila dapat memanipulasi perubahan wujud tubuhnya sesuai dengan jenis bakatnya, dan dapat mengeluarkan kemampuan dalam skala yang cukup besar. Pada level ini menentukan seorang Aila kemampuan bakatnya dapat lanjut ke level berikutnya atau tidak.
“Fase kedelapan, level kontaminasi 7; Agony. Aila dapat mengendalikan bakatnya dalam skala besar dan kemampuannya rawan tidak terkendali sehingga dapat menyebabkan sang penyandang gila dan kematian. Fase terakhir, level kontaminasi 8; King. Level paling akhir yang pernah dicapai. Aila pada tingkatan ini dapat mengendalikan kemampuan bakatnya dengan sempurna dan dalam skala yang teramat besar. Hanya dua orang yang diketahui telah mencapai level ini. Dan mereka tidak diketahui keberadaannya. Pastinya kau tahu tentang terungkapnya dua orang Aila terkuat ini dalam peristiwa pecah perang antara kelompok Mujahidin dan IDF di Yerusalem. Yang kini menyebabkan lenyapnya seluruh negeri itu menjadi kawah gersang ketika kedua King di antara pihak yang berlawanan saling adu kekuatan tertinggi demi memenangkan kelompoknya masing-masing.”
Aku berpikir sejenak setelah mendengar penjelasan Abraham. Rasa lemas dan putus asa memendungi pikiranku. Sebutan bakat, yang artinya di tempat ini sebagai anugerah, terdengar seperti pembawa petaka setelah aku mendengar kisah pertumpahan darah yang ada. Namun, aku memiliki seberkas keyakinan, bahwa kemampuan super ini juga memiliki sisi baik. Setidaknya misalnya, minimalnya, aku dapat menyelamatkan teman dan diriku sendiri dari maut waktu di sekolah itu.
Setelah merenung sejenak, aku mengangkat wajahku menatap matanya, “Lalu, saat aku mengeluarkan kemampuan level tigaku secara maksimal kenapa memiliki batas waktu?”
“Saat mengeluarkan kemampuan maksimal sebut saja mode kontamin, pada setiap level masing-masing memiliki batas waktu dan interfal pemulihan yang berbeda kecuali pada level King; kami tidak memiliki datanya.” Katanya.
“Jadi kalian juga melakukan penelitian di sini? Bisa aku melihat tempat penelitian kalian?” Tanyaku mencoba mendapatkan informasi lebih lanjut.
Abraham berdeham sekali, “Tidak perlu, kau telah berada di tempat penelitian kami. Tempat latihan ini juga memonitor skala kemampuan bakat kalian.”
“Kalau begitu dapatkah aku bertemu dengan pimpinanmu? Tidak mungkin kau yang level lima merupakan pemimpin tempat ini. Pasti ada yang lebih tinggi lagi.” Tanyaku menginvestigasi dengan mata tajamku memandangnya.
“Maaf Diaz, kau belum boleh bertemu pimpinan. Kau harus melalui prosedur yang rumit agar bisa bertemu dengannya. Apa kau belum memmercayai kami?”
“Hmm, baiklah aku percaya dengan kalian. Jadi, apa pemimpin kalian juga seorang Aila? Berapa levelnya?” balasku dengan suara menaik.
Tawa khasnya akhirnya terdengar, “Maaf Diaz, itu rahasia. Lebih baik kamu melatih kemampuan bakatmu dan buktikan kepada pimpinan bahwa kamu layak untuk bertemu dengannya.” Abraham tersenyum kemudian bangkit dari tempatnya duduk.
Aku membuang napas dari mulut. “Ooh, jadi begitu aturannya. Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Abraham melirik jam dinding sederhana pada dinding putih di ruang pengawas ini. Jarum pendek runcing itu bertandang pada angka satu. Dia kembali menatapku, “Saatnya makan siang. Mari kita ke lantai dasar ...” ajaknya kemudian berjalan menuju lift. Aku kembali mengekornya, dari ekspresinya nampak Abraham sedikit sebal gara-gara pertanyaanku.