
Gema gesekan besi merambat sepanjang lorong ketika seseorang membuka pintu sel itu. Telah kunanti hari ini. Hari bebasnya aku. Setelah bunyi derit pengunci yang digeser reda, pintu berat itu membuka ke dalam dan orang itu berkata.
“Mata empat. Bangun, atau kau masih betah bermalam di tempat ini? Nih, pakai dan segera melapor ke Abraham.” Gadis listrik yang sebelumnya tidak terpikir olehku akan menyapa, kini menyerahkan jubah hitam dengan cuek setelah aku berdiri.
Perasaanku mengembang. Bagai bunga dahaga diterkam terik yang terguyur hujan dari langit. Aku segera menyambutnya dan mengenakan jubah hitam yang diberikannya padaku. “Terimakasih.” Ungkapku tersenyum lebar.
“Tidak perlu.” Aiko membalas dingin dan mengupas pembungkus permen lolipopnya. Rasanya seperti senyum tulusku yang nyata secermerlang kaca ditendangnya sengaja. Pecah berantakan. Sirna dalam sekejap.
Sikapnya seperti biasanya selalu dingin kepada semua orang kecuali pada Abraham ... dan juga Mary. Tapi sikapnya itulah yang kupikir membuatku tertarik padanya. Disamping ia terlihat lucu karenanya.
Eh? Lucu? Ha ha. Aku ini aneh apa, ya?
Karena tak dipedulikan aku melangkah mendahului Aiko. “Hei, terimakasih sudah mengunjungiku dan ... mengantarkan makanan ke selku.” Kataku sambil lalu, tapi reaksi yang terjadi padanya diluar perkiraanku.
Aiko tersedak lantas menolehku cepat, “Heee? Da- dari mana kau ta-“ kalimatnya putus, pandangan kami bertemu sejenak lalu dilanjutnya seraya mengibaskan tangan, “Tu-tunggu! I-itu perintah. Ya! Itu karena perintah Abraham! Aku tak sudi ke sini kalau bukan karena itu,” sanggahnya sementara pipinya bersemu dan dia menunjuk ke arah wajahku.
“Ya ya ya.” Jawabku singkat seraya melambaikan tangan ke samping kemudian berjalan di lorong beberapa meter meninggalkannya. Melewati beberapa sel kosong tanpa penghuni. Sedikit berharap kalau Aiko akan menyusulku supaya berjalan bersisian tapi tentu saja hal itu terlalu sempurna untuk terwujud.
Setelah puluhan langkah aku berhenti tepat di sebelah pintu logam bundar mirip pada sebuah brankas bank yang dengan jelas mencuri perhatianku atau tiap orang yang pasti akan merasakan hal yang sama ketika melihatnya. Spontan kudekatkan telingaku kepada permukaannya itu sekedar untuk memenuhi hasrat ingin tahuku.
“Hm?” yang kudengar hanya suara dengungan mesin seperti generator listrik dan ... apa itu? Seperti desahan orang bernapas menggunakan alat bantu?
“Mata empat! Apa yang kau lakukan? Jangan masuk ke situ!” Aiko berlari menghampiriku.
“Memangnya kenapa?” tanyaku curiga. Gelisah kentara di wajahnya.
“Po-pokoknya jangan!” Balas Aiko. Dia kembali menatapku namun dengan ekspresi sebal. Sepasang lengkung ujung alisnya saling mendekat lalu dia berkata padaku, “Cepat ke-sa-na!” bersama kalimatnya, Aiko mendorongku maju dengan kakinya di pantatku.
***
Keremangan yang mengungkung pandanganku selama beberapa hari usai sudah. Kedua mataku kembali mendapat apa yang telah menjadi haknya. Cahaya yang terang melimpahi pupilku. Sedikit sakit, rasanya kedua mataku seperti ditusuk. Namun tak beberapa lama mereka kembali bekerja semestinya.
Kuperiksa sekitarku. Beberapa sosok dua puluh empat meter jaraknya denganku terlihat berbaris di hadapan seorang yang sepertinya memimpin mereka. Aku jadi ingat sewaktu ikut pramuka dulu dan sebelum aku terpikir tentang hal yang lebih jauh lagi maka kuhampiri mereka.
“Hai, apakabar?” sapaku dari balik punggung mereka. Sosok yang jangkung dan atletis sudah jelas pasti dari posturnya adalah Abraham. Dia tengah memberikan instruksi kepada lima orang yang berbaris di hadapannya. Tubuhnya menghadapku. Kemudian dia menunjukku dengan kelima jarinya, “Nah, orang inilah yang akan menjadi pemimpin tim kalian menggantikanku.” Katanya tiba-tiba.
“Apa!? Dia!?” ucap suara lelaki yang aku harap tidak kujumpai dalam waktu dekat.
Aku tak kalah terkejut, “Hm? Ha? Apa yang- ” sejenak kuputus keherananku, menekuk kening berpikir cepat dan berdeham kemudian melanjutkan kalimatku, “Abraham, apa maksudmu? Jelaskan padaku.”
“Kamu yang akan menjadi pemimpin tim Rescue Peregrine ini menggantikanku.” Jelas Abraham kemudian tersenyum.
“Oh, ok.” Balasku singkat. Tanpa berpikir panjang atas konsekuensi yang akan menimpaku setelahnya. Karena sepertinya hal yang barusaja Abraham paparkan memancing temperamen pendek si bocah api. Aku pikir ini akan menyenangkan. Membuat orang lain kesal terutama orang yang tidak kusukai adalah kebiasaan sampingan burukku.
Si bocah api yang menatapku benci berkata dengan sebelah tangannya menjulur rendah ke arahku, “Tunggu dulu! Orang ini yang baru saja keluar dari pengasingan menjadi pemimpin kami!? Dia bahkan tidak masuk dalam daftar kandidat anggota unit Rescue! Apa maksudmu!? Masih lebih baik aku yang menggantikanmu.” Bantahnya keras terhadap keputusan Abraham.
Aiko menimpali, “Bocah pemarah, ini keputusan Abraham. Kau tidak berhak menggugatnya. Terlebih kau ini kalah duel dari mata empat ini. Itu sudah mencukupi syarat untuk menjadi anggota unit Rescue. Lagipula jika orang emosian sepertimu yang jadi pemimpin, aku yakin kau akan mengacaukan seluruh misi.” Ketus Aiko menatapnya sinis. Pemuda berambut gelombang lebat itu sontak membisu dengan tatapan dengki mengarah padaku.
“Oke, sepertinya semua sudah setuju. Kalau begitu, kalian bisa memulai misi pertama kalian sekarang.” Ujar Abraham terdengar tenang seolah tidak ada gesekan ambisi di hadapannya.
“Eh, kau serius? Apa ini hukuman lanjutan untukku?” Aku menyikut-nyikut lengan Abraham. Agak tak percaya.
“Tentu saja aku serius. Tenang, aku yakin kalian dapat menyelesaikannya dengan baik.” Katanya padaku tidak lupa senyum ramah khasnya tercipta.
“Apapun oke. Jadi, Ketua Abraham, ke mana dan apa misinya?” Tanggap seorang gadis setinggi Aiko dengan kacamata pilot di dahinya sembari mengacungkan tangan. Suaranya yang ringan atau lebih tepatnya cempreng, memberi sensasi gelitik pada gendang telingaku.
Gadis itu mengenakan jubah hitam unit Rescue yang agak kebesaran. Rambut hitamnya panjang bergelombang selengan, dan nampak sehat ketika ditimpa cahaya. Yang membuatku memerhatikannya lebih ialah dahinya yang lebar diekspos dan matanya bulat ceria cemerlang bagai kelereng. Kesan pertamaku padanya adalah gadis yang nampak ramah dan membawa kesegaran. Berbeda sekali dengan Aiko.
“Hai, boleh tahu namamu siapa dan umurmu?” ceplosku mendekat padanya.
Dia menyeka helai rambut sebatas kedua alisnya yang jatuh memburai pada kening lebarnya, yang membuat siapa saja selalu melihat pertama kesitu ketimbang mata atau parasnya. Ketika aku telah berdiri di hadapannya, dia mendongak menatapku, “Eh? Ah, aku Jian. Umurku ... hmm 14 tahun! Salam kenal!” Soraknya bersemangat mengangkat sebelah tangannya, menyapaku menyenangkan. Beberapa gerai gelombang rambutnya terlambung saat dia melakukan hal itu.
“Hoo, 14 tahun ya ...” Kataku menggantung sambil melirik ke arah Aiko dan mengelus dagu.
“Ha? Apa kau lihat-lihat!? Dasar tidak sopan! Umurku setahun lebih tua darimu tahu! Dan aku tidak pendek!” Aiko mendadak marah menyentak padaku.
“Heh? Tapi, kan aku tidak bilang soal tinggi badanmu?” kataku dan sebelah alisku berkedut.
Abraham menyodorkan secarik kertas kepada Jian si gadis periang itu, mengabaikan perseteruan kami. “Ini koordinatnya. Pertama kamu pergi ke koordinat ini. Temuilah kelompok kecil Aila bernama Upnimble kemudian bawa mereka ke koordinat satu ini.”
Sejenak Jian memerhatikan kertas yang telah berpindah di tangannya lalu berkata, “Yap. Aku mengerti.” hormat kekanakannya ditujukan kepada Abraham.
Jian menurunkan kacamata unik di kepalanya tepat bertengger di batang hidungnya yang pesek sewaktu dari arah lain sebuah suara menyahut, “Aah wait! Hold on, please wait me!” Seorang bocah laki-laki kecil berambut pirang berkulit putih lari tergopoh-gopoh kemari.
“Kau selalu terlambat, George ...” Ujar pemuda jangkung seumuranku yang mengenakan kacamata fullframe biru. Tatanan rambutnya hitam alur garis tengah. Ekspresinya nampak lelah. Pancaran matanya nampak tak berselera atau mungkin itu memang sudah bawaan aslinya.
“Maaf ...” Sahut anak kecil bernama George yang telat itu. Terdengar malu dan sangat bersalah.
Eh, tunggu dulu ... aku teringat sesuatu tentang sosok anak ini. Seperti pernah melihatnya belum lama ini. Mungkin cuma selewat pandang saja tapi hal ini menggangguku. Maka kutanya dia setibanya di hadapan kami, “Kau juga anggota tim ini?” karena barangkali aku pernah melihatnya wara-wiri di UG entah kapan.
Dia yang setinggi siku tanganku menjawab, “Ya, dan kau?” aksennya kental orang Amerika. Nadanya polos membalas tanya.
Aku mengerut kening dipenuhi tanda tanya pula. Bocah sekecil ini? Masuk unit Rescue?
Kulanjutkan, “Aku ketua barumu.” Kataku kemudian melirik mengharap penjelasan ke arah Abraham.
Abraham bereaksi cepat setelah menangkap maksud dari tatapanku, “Nah, kalau begitu anggota Tim Peregrine sudah lengkap. Jian, silakan berangkat sekarang.”
“Oke, Ketua Abraham.” Jian menghormat sekali lagi, kali ini dengan memejamkan sebelah matanya.
Abraham tersenyum namun kudapati kesan lain dari sudut mulutnya itu. Kugapaikan tanganku mencoba menyentuh pundak Abraham karena mendapati sesuatu yang janggal di benak ini. “Oi, tunggu dulu Abra-
“-ham ...” namun entah kekuatan atau nasib apa yang dimilikinya sehingga dapat terjauh dariku. Dia tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Bukan cuma dia saja, tetapi semua pandangan sekelilingku telah berganti dengan bangunan-bangunan kota beserta orang-orang asing yang tidak kukenal.
“Apa yang terjadi? Tidak ada tanda-tanda orang yang menggunakan bakat sebelumnya dan tiba-tiba aku berada di—Paris!?” kupandangi sekelilingku dengan kalut dan sosok menara besi tinggi yang terkenal di seluruh dunia itu kini berada di hadapanku. Jauh seratus meter.
“Bisa tidak kau jangan berlagak seperti orang idiot?”
“Suara itu ...” jawabku rendah seraya berpaling ke belakang. Getar nadanya kukenal.
Rupanya si gadis bising lawanku waktu duel berada dalam timku. Kupicing mata melihatnya. Kehadirannya tidak kusadari karena dia tidak berceloteh sebelumnya dan aku pula tidak terlalu peduli. Dalam dada ini masih ada secuil dendam padanya.
“Jangan begitu, Kak Lisa. Ketua Diaz, kan belum mengetahui bakat kita semua.” Ujar George si bocah kecil berambut pirang dengan polos. Tiap hentak akhir katanya menjadi ciri khas aksennya itu.
Aku meliriknya, menurunkan pandanganku. “Kau ... berapa umurmu?”
“Sebelas tahun.” Jawab George tersenyum simpul.
Bagaimana mungkin bocah sebelas tahun di masa ini bisa memiliki bakat? Pikirku. Sepulangnya dari sini akan kukejar Abraham demi penjelasan. Namun sekarang, daripada menambah pusing dengan hal itu dan tentang kenapa kami di sini, akhirnya kukembalikan ke topik misi kami. “Ah, yang lebih penting sebelum melaksanakan misi kita, apa ada di antara kalian yang mengerti bahasa Perancis?”
“Laki-laki jutek di sana itu bisa mengerti semua bahasa manusia.” Tunjuk gadis periang ke arah pemuda berambut hitam model garis belah tengah dan berkacamata fullframe biru.
Laki-laki itu mendengus pelan pada Jian, “Siapa yang kau panggil jutek?” lalu dia menatapku, “aku Leonardo. Panggil saja Leon. Oh, dan julukanku Litellator. Kuharap itu dapat menjelaskan semuanya.”
Kujawab, “Aku Diaz. Julukan bakatku Perfect Fortress.”
Lisa yang tergantung headphone merah di lehernya membungkuk tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangannya. “Hm? Pfft. Ahaha ahahaha. Maaf, aku terbawa suasana, Perfect Fortress. Ahahaha. Sungguhan?”
“Sepertinya kita harus berpindah tempat, orang-orang mulai memmerhatikan kita.” Ujar Ryan terikut menyeringai kecil menghinaku.
“Baiklah, kita cari tempat yang tidak terlalu ramai untuk membahas langkah kita selanjutnya.” Jelasku kepada mereka berlima.
“Bagaimana kalau di situ?” George menunjuk menara Eiffel itu, matanya lurus menatap ke arah wajahku dan tersenyum penuh harap.
“Hmm oke. Baiklah, mari kita berkumpul di sana.” Aku menunjuk taman di pelataran menara Eiffel dan mulut George terbuka seperti huruf O kecil mendengarnya.
Satu pelajaran untukmu, Nak. Tidak semua keingan kita dapat terpenuhi.
Tanpa aba-abaku dengan tanggap Jian menempatkan kacamata pilot di kepalanya turun kembali ke matanya.
Kulanjutkan kalimatku, “Jadi, mari kita segera berjalan ke taman i— ni?” nadaku berubah menjadi pertanyaan di akhir kalimat. Kami berenam telah berada di taman yang sebelumnya aku tunjuk dalam sekejap. Bahkan tidak terasa apapun bahwa kami telah berpindah. Kebingungan membuatku kembali berputar mengedar pandang begitu terheran.
“Aah, Ketua Diaz. Se- ... sebenarnya aku yang melakukannya, he he.” Si Gadis Periang mencolek-colek lengan jubah hitamku. Menghentikan gerakanku.
Ketika berhenti dengan segenap pikiran yang pusing kutatap dia, “Kau?”
“Ya, Ketua. Julukan bakatku Sateliport. Aku dapat menteleport semua benda yang berada di sekelilingku tanpa menyentuhnya lalu memindahkannya ke koordinat yang dituju. Dan kacamata ini tersambung ke e-map dan GPS. Jadi dapat memudahkanku, he he.” Si gadis periang menggaruk-garuk pelipisnya sambil tersenyum dengan memperlihatkan sederet gigi putihnya. Gigi taringnya yang gingsul kelihatan menonjol menambahnya manis.
Sembari mengelus kening padanya kuberitahu, “Aah, Jian ya? Begini Jian, lain kali bilang-bilang dulu sebelum menteleport.”
“Iya maaf, he he.” Ia menggeser kacamata pilotrnya kembali ke atas kepalanya.
“Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Ketua Forever Death Freeze?” Ucap Ryan dengan nada tak menyenangkan. George menoleh ke arahku. Seolah penasaran akan hubunganku dengan pemuda kurang ajar ini.
“Begitu ya? Kau kedengarannya sungguh disiplin untuk segera menuntaskan misi. Oke,” balasku, sedikit tercetuk bara marah dalam batin ini tapi kucoba redakan
Setelah menyesap napas lembut aku berkata pada mereka, “Leonardo, kau bersama Jian carilah informasi dari warga sekitar tentang kelompok Upnimble. Lisa, kau dan Ryan berjaga dan awasilah tempat ini dalam radius seratus meter. Kita berkumpul lagi di tempat ini dalam waktu setengah jam. Jika kalian mendapati penyerangan, segera laporkan dan jangan bertindak sendiri.”
Aku merasa cukup keren benar setelah mengatakannya. Perkataan macam ini kudapat setelah terinspirasi dari tokoh aparat keamanan dalam film-film laga Holywood yang ribut penuh tembakan dan ledakan. Memang menyenangkan bisa memerintah orang.
“Siap―” Jian melakukan hormat.
“Ck, sudah seperti bos saja.” Celoteh Ryan. Mereka berempat segera melakukan tugasnya.
George menarik-narik pinggang jubahku, “Bagaimana denganku?”
Aku hampir saja melupakannya karena dia tidak terlihat oleh jangkauan pandanganku tanpa melihat ke bawah.
“Kau bersamaku saja. Kita periksa menara itu.” Ajakku, dan sorotan matanya pun berbinar-binar.
***
“Sayang sekali kita tidak membawa mata uang euro.” kedua tanganku mengaduk-ngaduk isi kantong saku celana panjang hitamku yang kosong memprihatinkan.
“Woaa ... I still don’t believe that I could see Eifel tower from this close.” Ujar George tersenyum kagum. Kepalanya mendongak ke atas, memerhatikan menara besi ini dari bawah.
“Sudah dua puluh menit dan mereka belum mengontak kita. Eh, tunggu dulu ... sepertinya ada yang terlupakan. Waaaakh! Bagaimana caranya kita bisa saling berkomunikasi?” aku menepuk jidatku.
George menatapku heran, “Excuse me, Leader. I don’t know what do you mean.”
“Hm? Maksudmu ... eh, jangan-jangan kau tidak mengerti bahasa Indonesia?” Mataku terbelalak menanggapi perkataan bocah ini. “Tapi sebelumnya kau bisa bahasa Indonesia, kan?” Sekilas aku teringat sesuatu akan sosok pemuda berkacamata fullframe biru.
“Oh crap. Allright. I’ll explain it as far as I can beside my English is not pretty good.” Kuambil napas panjang kemudian melanjutkan perkataanku, “I forget something important, how could we communicate each other.”
“Oh, I see. Take a look on your right sleeve.” Balasnya.
She leave? Apa yang dimaksudnya? Ah, sial vocabulary-ku jelek.
George menangkap raut kebingungan pada wajahku. Dia menatapku dengan tatapan polosnya kemudian mendekatiku lalu menarik pergelangan lengan jubahku. Bocah pirang ini mengeluarkan sesuatu seperti penyumbat telinga earphone dari tekukan pergelangan lengan jubahku.
George mengangkat earphone nirkabel itu dan mendekatkannya ke telingaku walau tangannya tak sampai, “Plug in this onto your ear.”
Ah, pasti alat ini merupakan pemancar suara seperti dalam film-film agen rahasia, pikirku dan lekas kupungut benda bulat hitam seukuran kancing dari tangannya yang diangkat tinggi. George melakukan hal yang sama, mengambil benda yang sama pula dari pergelangan jubah hitamnya dan menempatkan benda kecil itu ke liang telinganya.
“Halo? Ada yang dengar, teman-teman? Kami mendapat masalah. Kami kehilangan kelompok Upnimble. Sepertinya mereka tidak ingin bekerjasama dengan kita. Tapi Ryan dan Lisa mengejar mereka.” Suara Jian mendadak keluar dari earphone di telingaku setelah beberapa detik terpasang; George menoleh padaku dengan ekspresi kawatir.
“George, how to respon them?”
“Just click it twice then talk toward the transmitter on your right sleeve or your collar.”
Aku segera melakukan panduan George, berbicara melalui tekukan pergelangan tangan jubah hitamku, “Jian, Lisa, kelompok kalian berdua mundur dan berkumpulah ke taman tempat perjanjian kita. Kita akan bergerak bersama.”
“Siap ketua!” balas Jian.
“George, follow me.” Aku berlari menuju taman pertemuan dengan George mengikuti di belakangku.
***
Di kejauhan dua sosok yang kukenal telah tiba di taman pertemuan yang kami maksud. Mereka berdiri menghadap dan menungguku serta George dan ketika jarak kami telah sepelemparan batu segera kutanyakan, “Di mana Ryan dan Lisa?” aku hanya mendapati Jian dan Leon. Mereka berdua menggeleng tak tahu menahu. Dengan segera kutekan dua kali earphone di telingaku dan mendekatkan lengan jubahku kepada mulutku, “Ryan, Lisa! Apa yang kalian lakukan? Sudah kubilang mundur, kan?”
Terdengar jawaban dari Ryan, yang nadanya merendahkanku, “Maksudmu memintaku untuk kembali dan melewatkan kesenangan di depan sana? Yang benar saja! Biar aku sendiri yang tangani mereka semua, Ketua Forever Death Freeze. Kau duduk-duduk saja menunggu hasilnya!”
Jian serta Leon menoleh kepadaku sedangkan George memandang kepada mereka berdua setelah mendengar balasan Ryan yang kami dengar semua.
Sialan, si bocah api benar-benar mengacaukan misi.
“Jian, antar kita berempat ke tempat mereka.” Perintahku.
“Baik, Ketua.”
***
Kami muncul di jalanan yang ramai dijubeli penduduk kota Paris. Kemacetan tumpah di sini bak adanya sebuah parade tapi dugaanku berkata lain setelah melihat asap mengepul dari kaki langit di kejauhan, menjulang dari jarak apitan dua bangunan beratap datar bertingkat tiga di depan sana. Kuminta Leon dan George bergegas, lalu karena kerumunan yang teramat sesak dan parah pada arah tujuan kami, diperparah kisruhnya kepanikan orang-orang atas kejadian entah apa di depan sana, kuminta Jian untuk menteleport kami di tempat.
Sekejapnya kami muncul berpindah tempat dan kakiku menginjak tanah, aku menjerit terkejut, “Woa!” bola api nyaris menyambarku jika saja aku kurang cepat reflek menangkiskan tangan, mencipta perisai plasma pelindung yang pipih dan kokoh melayang di hadapanku.
Jian dapat menghindari dengan mudah dua bola api yang menyambar ke arahnya dengan cara menteleport dirinya ke samping diriku. Lalu Leon, untung saja refleknya bagus. Dia melakukan gerakan kayang jatuh punggung dahulu yang agak kaku. Percikan dari bola api yang melayang lewat di atasnya hampir membakar rambut gondrong lemasnya.
Sedangkan George ... “Waa! George!? Kau tidak apa-apa?!” Tanyaku panik.
George menampik bola api yang melaju ke arahnya dengan kedua tangannya. Tangannya terbakar, tapi kemudian ia melemparkan api itu ke samping. Membakar tong sampah di dekatnya.
“I’m okay, Leader.” Jawabnya.
“Apa-apaan kamu itu, bikin kaget saja.”
Jadi kemampuan bakat George juga Pyrokinetik? Batinku ragu.
Berkat Jian, kami bertiga terteleport berada tepat di antara pertarungan Ryan dan Lisa dengan sekelompok remaja yang nampaknya adalah tujuan misi kami kemari. Sepasang bola api membara membakar kedua lengan Ryan sementara Lisa hanya berdiri di belakangnya mengawasi. Aku, Leon, Jian serta George membelakangi mereka berdua. Dari situasi yang ada, sepertinya Ryan-lah yang mengacau duluan.
“Apa kau tahu kalau kau membahayakan misi kita?” Balasku memicingkan mata tak suka.
“Tadi Jian sudah melapor kalau mereka tidak mau bekerjasama, kan? Maka lebih baik aku hajar saja mereka sampai pingsan kemudian kita bawa atau antar mereka ke tempat koordinat selanjutnya.” Jelasnya santai.
“Tindakanmu itu akan membuat para calon pendatang baru dan dunia berpikiran negatif terhadap kita, UG, serta semua Aila!” Bentakku.
“Who the hell are you guys? Why are you attack us ... are you, are you one of them. The Anti-Crisis?!” Pekik seorang gadis berambut coklat terurai sedada. Wajahnya kusam seperti belum mandi empat hari.
“Leon,” kataku pelan sedikit menoleh.
“Sedang kulakukan.” Leon mengerti komandoku, dia membenarkan posisi kacamatanya dengan sebelah tangan kemudian memejam lalu dengan cepat membuka kembali matanya.
Ketika Leon memberi isyarat anggukan, aku mulai menjelaskan pada mereka. “Kalian kelompok Upnimble? Dengar, kami bukanlah musuh kalian. Kami datang untuk membantu kalian dan mengantarkan kalian ke suatu tempat.” Kusela sesaat dan berbisik agak membungkuk kepada Jian di sampingku, “Psst. Tempat apa yang rencananya kita akan mengantar mereka?”
“UG cabang eropa.” Jawabnya dengan berbisik pula.
“Kami akan mengantar kalian ke UG cabang eropa. Kalian akan aman di sana.” Lanjutku.
Mereka saling berbisik, jumlahnya delapan orang. Terdiri dari lima orang pemuda dan sisanya perempuan. “Kami tidak percaya.” Ujar seorang pemuda kulit putih kurus dan wajahnya seperti orang terserang gizi buruk yang tubuhnya lebih tinggi dariku.
“Hei, apa kau pikir kami bagian dari Anti-Crisis? Mereka menghabisi dan memburu para Aila. Mana mungkin kami yang seorang Aila sama seperti kalian adalah bagian dari mereka?” Balasku sambil menyentuh tangkai kanan kacamataku.
“Tapi kami akan bergabung bersama RR,” sahut pemuda sedikit berisi berbaju sweater yang beberapa bagiannya telah hangus.
“RR? Apa itu?” Jian memasang tampang polos sedikit memiringkan kepala ke kanan.
Pemuda tadi menjawab, “RR. Red Rounds. Kelompok persaudaraan Aila Lingkar Merah. Kami akan bergabung bersama dengan mereka melawan Anti-Crisis dan Pemerintah Dunia.”
Lalu Ryan menimpali dari belakang kami, “Nah, lihat, kan? Mereka kriminal. Kita harus menindak mereka sebelum merusuh dan mencoreng imej para Aila.”
“Apa kau bilang!?” pemuda bersweater itu melemparkan bola baseball dengan kuat ke arah kami. Bola-bola itu tergandakan menjadi belasan buah, melaju dengan kecepatan yang sama.
Akan tetapi belum sempat bola-bola itu mengenai kami, perisai plasma pipih yang bentuknya tak karuan menghalaunya. Tapi, bukan diriku yang membuatnya.
Siapa yang— “Eh? George!?”
George menyilangkan kedua lengannya ke dadanya sambil merenggangkan jari-jarinya. Kini di hadapan kami terdapat perisai plasma pipih yang bentuk teksturnya tak karuan.
“George, bukannya kemampuanmu Pyrokinetik?”
“Sepertinya aku memang harus memanggangmu!” seru Ryan. Ia mengumpulkan api di tangannya, remat kepalan jemarinya disikapkan saling temu seperti gerakan servis bawah dalam voli kemudian dia lontarkan bola api itu ke depan selayaknya tembakan meriam.
Serangannya membentur perisai plasma pipih ovalku yang cukup besar berdiameter tiga meter yang segera kubuat dengan merentangkan sebelah tanganku ke belakang. Tepat menghadap si bocah api. Sedang apinya menjalar dan menyebar secara vertikal bahkan meluap melebihi tinggi dari perisai plasmaku.
Jian terpana menyaksikan jurusku, sedangkan Leon yang berada di belakang George hanya terkejut sebentar lekas emosinya meredup menjadi dirinya yang biasa. Tetapi sepertinya George-lah yang paling terkesan nampak dari binar matanya yang antusias menatapku.
“Sekarang bisakah kalian berhenti dan mendengarkanku?” ucapku tegas dengan tatapan tajam. Mereka akhirnya mengerti juga dengan bersikap hening kemudian sehingga kulanjutkan, “Nah, kalian―”
Entah sudah berapakali selalu ada saja hal yang merintangi. Aku tahu hidup itu tidaklah mudah tapi ....
Dengan tanpa peringatan beberapa benda seperti kaleng dilemparkan kepada kami. Semburan asap keluar dari granat-granat seukuran kaleng susu yang tergeletak di tengah-tengah kami. Dalam kejadian yang tidak terduga ini kudapati kelompok Upnimble serentak lari.
“Hei, tunggu!” Ryan mengejar mereka dan Lisa mengikutinya.
“Ryan!” aku terbatuk, “Ryan, Lisa! Jangan bergerak sendiri!” cegahku. Tapi percuma sosok mereka telah kadung hilang di balik asap. “Sial, siapa yang melemparkan granat asap ini?”
Siluet-siluet beberapa sosok hitam mendekat ke arah kami. Seperti bayang-bayang yang jatuh pada tirai yang sepoi ditiup angin.
“Ketua, mereka Anti-Crisis! Kita terkepung!” Jelas Leon.
“Ha!? Cepat sekali mereka melacak kita.” Aku menggeram kesal.
Di dalam kabut asap, Bayangan-bayangan bergerak dengan terkoordinasi melingkari kami dan kian merapat. Suara-suara mereka serak samar terdengar.
“En 1, ada pergerakan di dalam asap.”
“Mengerti, bentuk formasi C.”
“Dimengerti”
Semakin mendekatnya mereka menuju kami, semakin jelas bayang senapan mereka yang dibidikkan lurus dekat kepala.
“En 1, apa kau melihat target?”
“Negatif, tidak ada pergerakan.”
Mereka melanjutkan gerakan formasi kepungan O. Kami yang tak bisa lari, diperburuk oleh sempitnya pergerakan kami dan jarak pandang yang terbatas hanya bisa berdiri saling merapatkan punggung. Waktu berlalu cepat bersama gerakan sergap mereka yang nampak jelas formasinya saling menyentuh siku tangan dan akan menembak kami tanpa ragu lalu kubisikkan pada Jian sebuah permintaan sederhana.
“Jian, sekarang waktunya gunakan bakatmu ...”
Kudengar darinya di sisi kiriku jawaban yang berbisik mengiyakan, dan berikutnya kuyakin mereka para tentara biadab tak akan pernah menemukan kami.
***
“Kalian ada yang terluka?” periksaku. Mereka bertiga: George, Jian serta Leon menggeleng.
Kami berteleport muncul kembali di taman pertemuan semula. Lolos dari sergapan Anti-Crisis. Ini langkah yang cukup bijaksana ketimbang menghadapi mereka secara langsung. Terlebih lagi misi kami bukanlah untuk bertempur.
Aku mendesah pelan. “Baiklah, kita segera menyusul si boca- maksudku Ryan, dan Lisa. Aku yang akan menghentikan Ryan sebelum dia melukai warga sipil.” Mereka bertiga mendengarkanku dengan cermat. Kutambah, “Lalu kalian yang mengamankan kelompok Upnimble. Leon, tipe bakatmu Psychic, kan?”
“Ya.”
“Kau yang berbicara kepada kelompok Upnimble. Jelaskan pada mereka tujuan kita dan UG. Nah, berikutnya George, apa kau dapat membuat kubah plasma seperti ini?” Aku mempraktekkannya dengan membuat kubah plasma kecil di telapak tanganku.
George berkonsentrasi terhadap telapak tangan kirinya. Tangan kanannya melakukan gerakan seperti tangan peramal yang berputar-putar pada bola kristal dan terbentuklah kubah plasma kecil di telapak kirinya dengan tekstur yang tak keruan bersisi tajam.
“Oke, itu cukup. Kau dapat mengurung mereka dengan membuat kubah besar jika keadaan memburuk.”
Tak kusangka bocah itu dapat membuatnya. Bakatnya menarik. Mungkinkah bakatnya itu meniru bakat Aila lain?
Menyimpan pertanyaan itu, aku kembali memikirkan misi lalu kulanjut, “Jian, teleport aku ke tempat Ryan kemudian teleport diri kalian bertiga ke tempat Upnimble berada. Kamu sudah menyisipkan suatu alat pelacak pada mereka dengan bakat Sateliport-mu, sebelum mereka kabur dari kepulan granat asap, kan?” kataku, dan dia tersenyum rapat menggemaskan padaku.
George melambaikan kedua tangannya. Raut wajahnya nampak gelisah, “Tunggu Ketua, tapi aku ti—”
“Ketua Diaz bisa mengandalkanku.” Potong Jian, “Aku selalu siap.”
Karena saking tak tahan atas sikap bersemangatnya, tanganku menjulur mengusap kepalanya. “Terimakasih. Kamu memang top, Jian. Jadi, mari kita lakukan.”
***
Jian muncul bersamaku di dalam sebuah gang yang sempit muat seorang. Tubuh kami terdesak dan bukan mauku ketika kami tiba, kakiku terpeselet sehingga aku jatuh **** dirinya. Kening kami saling membentur dan sementara aku mengaduh sakit mengusap dahiku Jian berkata rendah, “Ke- Ketua, jangan lakukan di sini ...”
“Jangan lakukan apa maksudmu?!” cepat jawabku kelabakan. Kukatakan selanjutnya ketika aku bangkit, “Tolong, Jian ... lain kali pilih tempat yang agak luas dikit untuk muncul.”
Jian mengangkat dirinya perlahan untuk duduk, meraba punggung jubah hitamnya dan memandangku dengan redup mata yang bersalah, “Maaf, Ketua ...” nadanya terdengar mendayu kekanakan, “sewaktu pelatihan tim Rescue kami diminta untuk tidak muncul tiba-tiba di tempat umum dan tidak menarik perhatian.”
Kujulurkan tanganku membantunya berdiri, “Memang seharusnya. Tapi kelihatannya hal itu sudah terlambat.”
“Tugasku apalagi, Ketua?” Jian menghadapku setelah menebah dirinya dari debu.
“Kamu kembali ke taman pertemuan dan segera teleport bersama Leon, serta George untuk mengejar kelompok Upnimble. Aku akan menghentikan Ryan. Sekarang, posisi kita dengan Ryan bagaimana?”
“Sangat dekat, Ketua. Mereka akan segera mendekati lokasi kita.”
“Baik, kalau begitu aku akan menunggu di sini dan kamu segera lakukan perintahku.”
Tepat ketika Jian mengangguk berteleport, aku berniat keluar dari gang apitan dua bangunan tingkat satu lantas sekelebat wujud pemuda-pemudi lewat dengan cepat di ujung depan sana. Aku bergegas keluar berniat mengejar mereka tapi lekas tertabrak oleh seseorang.
“Apa-apaan ini!?” Seru dia yang menabrakku hingga terjungkir jatuh di terotoar pejalan kaki.
Kutatap dia yang rambutnya lebat keriting. “Yang apa-apaan itu kamu.” Dari balik dirinya kusaksikan para warga kota berlarian, yang lainnya bergerombol di seberang jalan dan melihat ke arah kami. Kepul asap hitam dan kobaran api tercecar tak keruan. Di dinding bangunan, di atas aspal, membakar pohon dan tiang lampu serta bangku panjang tepi jalan.
Dia membentak padaku, “Kau halangi aku lagi kali ini dan aku tak akan menahan diri untuk-“
Aku langsung mengurungnya dengan kubah plasmaku tanpa basa-basi. Melakukan gerakan memajukan tangan kiriku ke arahnya.
“Forever Death Freeze! Apa maksudmu!? Aku hampir mendapatkan mereka!” Jelas Ryan ngotot. “Kau mau duel lagi denganku? Biar kuladeni tapi keluarkan aku dari sini dulu! Kuhajar kau nanti setelah menangkap mereka dan menuntaskan misi.”
“Demi itu kau hampir melukai warga sipil serta menjadikan kita sebagai musuh negara ini?” Tangan kananku kukedepankan kemudian kuputar berbalik arah jarum jam beberapa kali bersama tanganku yang kiri. Kubuat lapisan kubah plasma yang mengurungnya menjadi padat dan bertambah berlapis-lapis. Sampai penampakan tubuh Ryan di dalamnya menjadi samar, menjadi siluet yang tak jelas.
Kedua tanganku lalu kuturunkan, “Jadi, apa kau masih ingin membangkangku, Lisa?” Ucapku dengan nada tinggi. Dia bersembunyi di kerumunan warga Paris di depanku menjaga jarak belasan meter. Lisa mengintip separuh badan terdiam tak menjawab. “Baguslah,” ketusku.
Kini saatnya menghubungi mereka. “Bagaimana dengan keadaan di sana?” ucapku kepada pin pemancar di pergelangan lengan kanan jubahku. Namun, hanya dengingan suara statis yang terdengar. Setelah tiga detik baru aku mendengar jawaban.
“Ket―a kau di—na?” Terdengar balasan patah-patah dari earphone di telinga kiriku.
“Siapa? Leon? Bagaimana situasi kalian? Suaramu putus-putus.”
“Se―entar biar ku—baiki.”
Bunyi gemerisik menyamarkan pendengaranku. Setelahnya siapapun di sana kembali bicara, “Bagaimana sekarang?”
“Aku mendengarmu dengan jelas, Leon. Bagaimana dengan kalian?”
“Kami baik-baik saja. Kelompok Upnimble sudah bersama dengan kita.”
“Kalau begitu kalian ada di mana?” lanjutku.
“Kau pasti akan sulit memercayainya.” Jelas Leon di ujung tempat entah di mana.
“Ada apa?”
“Kami berada di depan Big Ben.” Lanjut Leon.
“Haa?! Bagaimana bisa kalian sampai di Inggris? Apa itu ulah Jian?”
“Aaa! Bukan, bukan aku kok!” Suara jutek Leon berganti dengan suara cempreng nan nyaring milik si gadis periang.
Kalau bukan dia berarti ulah dari kelompok Upnimble, pikirku.
“Yah baiklah, cepat ke sini jemput kami lalu lanjut ke tempat tujuan terakhir.”
“Siaaaaaap!”
Ngiiiiiiing― Suara nyaring Jian sampai membuat telinga ini berdenging.
“Apa kau sudah siap ketua!?”
“Wuaaa! Ja-jangan mengagetkanku, Jian! Huft!” kutempatkan tanganku pada dadaku karena terkejut oleh Jian yang muncul tiba-tiba di belakangku.
“Ha ha a ha ha ah.” Leon yang berada tak jauh darinya tertawa kecil, sangat jarang melihatnya tertawa; tersenyum pun jarang sepanjang kami bertemu. Aku meliriknya, dan dia segera menghentikan tawanya kemudian membetulkan letak kacamatanya dengan satu jari. Kembali menjadi dirinya yang biasa yang jutek dan muram.
“Ketua, apa ini?” Jian menunjuk-nunjuk dan mengetuk-ketuk bola plasma besar yang mengurung diri Ryan dengan jarinya.
“Ah, jangan terlalu dipikirkan.” Tanggapku sambil kembali berdiri tegap. “Jian, teleport kita semua ke koordinat berikutnya.” Perintahku sembari berjalan mendekatinya.
“Baik, Ketuaku!” Jian menurunkan kacamata pilot itu ke depan matanya dengan kedua tangan dan kami semua terlesap ke dalam kecepatan teleport-nya.
***
“Kami sudah menunggu kalian.” Sekitar sepuluh orang menyambut kami di sebuah lapangan berumput semata kaki. Mereka dua gadis yang tatapannya dingin dan sisanya para pria yang mengenakan jubah hitam seperti yang kami kenakan.
“Kita berada di UG cabang Eropa.” Bisik George kepadaku sebelum aku sempat bertanya.
“Kelompok Upnimble silakan ikuti delapan laki-laki ini.” Ucap seorang gadis berponi samping. Delapan pria berjubah hitam suruhannya segera membimbing bocah-bocah Upnimble untuk mengikuti mereka. Dengan sikap was-was dan gugup mereka para bocah Upnimble melangkah menjauh. Ikut bersama mereka menuju ke sebuah bangunan yang wujudnya bagai piramid putih raksasa berpuncak tiga di kejauhan.
“Maaf, kau sampai di sini saja.” Salah seorang gadis lain tak berponi dengan rambut dikuncir ekor kuda mencegahku untuk mengikuti mereka lebih jauh dengan menghadangku. Tubuh depan kami berdua hampir berhimpitan.
“Apa itu RR? Rebellion Rounds kalau tidak salah. Kenapa mereka ingin bergabung ke situ daripada ke UG?” Tanyaku sedikit menurunkan pandangan karena tinggi lawan bicaraku hanya sebatas daguku.
“Kau bisa menanyakannya kepada Abraham,” jawabnya lugas, “dan sekarang kembalilah ke UG asal kalian.” Lanjutnya.
Sebaiknya aku urungkan niatku untuk bertanya lebih lanjut, daripada membuat keributan di tempat ini. Disamping sambutan mereka yang kurang ramah dan menyakitkan hati. Jadi aku berkata, “Ah baiklah, aku mengerti. Oke, kami akan kembali ke markas UG kami dan kembali bersantai. Semoga kalian dapat mengatasi mereka dengan baik.” Sahutku sarkastik sembari berbalik darinya. Melangkah menuju ke tempat timku sebelas meter di belakang sana.
“Tunggu!” Gadis yang berponi samping mencegahku.
“O, ada apa? Kalian berubah pikiran?” godaku, berbalik.
“Bukan itu, hanya saja tolong dengarkan pesanku. Mungkin kau cuma akan menganggap ini omong kosong. Aku juga tidak peduli tapi ini mengganggu pikiranku sejak pertama melihatmu. Jadi demi mengenyahkan beban pikiran yang tidak ingin kusimpan di kepalaku ini, apalagi aku tak sudi sosokmu mendekam di ingatanku, maka dengarkanlah. Kau akan melalui kehidupan yang sulit. Dirimu akan mengalami pertemuan yang merubahmu secara drastis kemudian berganti dengan kehilangan yang akan menggetarkan nasib semua yang berjalan di atas bumi. Kebahagiaan dan kemalangan saling tumpang tindih. Kau memikul beban yang sangat besar. Kau memiliki dua pilihan yang dapat menghentikan dua sisi koin takdir hitam dan putih yang berputar silih berganti. Apa yang kau pilih akan menentukan kelangsungan masa yang lebih baik atau keruntuhan yang masif. Hidupmu akan dipenuhi tragedi.”
Perkataannya membuatku kehilangan rasa humorku. Mencabut sirna cahaya di wajahku. Berganti dengan kegelapan muram. Dengan perasaan berat dan buruk aku melangkah meninggalkannya.
“Terimakasih atas pesannya.” Pungkasku setengah marah.
Apa maksud gadis itu? Apa dia peramal? Bukanlah menurutku. Dia seorang Aila, mungkin jenis bakat-nya Psychic. Tapi memprediksi masa depan? Sungguh konyol. Jika dia ingin mengerjai atau mempermainkan diriku setidaknya cobalah yang lebih baik. Tapi dilihat dari raut wajahnya ketika memberitahukan hal itu sepertinya tidak terlihat bahwa dia sedang bercanda.
“Ketuaaa!” Jian melambai tinggi-tinggi kepadaku di depan sana sambil melebarkan senyum yang memperlihatkan gigi taring gingsulnya. Yah, dia periang seperti biasanya. Leon, George, Jian, serta Lisa. Agak sungkan mengucap nama terakhir, tapi mereka berempat menantiku. Aku tersenyum kecut. Sebaiknya aku tidak perlu terlalu memikirkan hal itu. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah berjalan dengan tegap dan semangat menghadapi nasib yang akan aku lalui bersama dengan mereka ... keluarga baruku.
“Hei, tunggu! Jangan berteleport tanpaku―” Aku bergegas berlari menghampiri. Tawa kecil tercipta dari senyuman mereka. Oh, lebih tepatnya hanya pada Jian serta George.
Jian berlari lima langkah lantas melompat memelukku manja. “Kita berhasil,” katanya, “misi pertama kita sukses, Ketua!”
“Ya, tentu saja. Kita jadi tim yang hebat meski ada-ada saja masalah yang menimpa. Sekarang, waktunya kita pulang ke UG.” Kataku, dan kulepaskan pelukannya secara lembut lalu mengusap kepalanya.