Aila Ability

Aila Ability
PHASE 25.5: Si Bocah Api (Bagian 2)



Aku menjual, Ryan membeli. Tanganku mengepal, tangannya menyamping. Kobaran api hebat bergejolak dari tubuh lima senti lebih pendek dariku itu. Meluap-luap dengan lidah-lidah api panas menghadap langit. Agaknya dia juga memasuki mode kontamin. Namun jelas satu tingkat di atasku. Dan aku tak takut. Tak gentar akan sosoknya yang seolah menjelma menjadi manusia obor tanpa hati.


Empat kali tinjuan komet dilepaskan kepadaku. Lariku terhenti, bersikap pertahanan diri dengan kaki kiri kusaruk ke belakang. Maka sebuah perisai kristal pipih biru melayang di hadapanku. Menangkal pijaran bola panas itu yang sekarang membakar pelindungku.


Tinju kananku menghantam perisai yang terselimuti api sisi luarnya. Memecahnya menjadi lima bagian besar. Sejurus berikutnya kelima kepingan itu kubentuk bola mortir. Lekas kuluncurkan semuanya dengan permukaan bolanya yang terbakar pada si bocah api.


Tangan kirinya diangkat tinggi. Menerbitkan semburan selebar bentangan kedua tangannya berpijar-pijar menyala merah pada tanah. Kelima mortir plasmaku pecah menguap menyasar api bagai tirainya.


Menyeringai puas, Ryan yang nampak merasa unggul dariku secepatnya membalas. Kedua pergelangan tangannya ditemukan lurus ke depan. Lantas dibukanya seperti kuntum bunga, dan sebuah semburan api dahsyat nun ganas menerjang kemari.


Laksana deburan dari selang air pemadam kebakaran bertekanan paling tinggi. Apinya menerpaku yang terlindungi kubah kristal berlapis-lapis. Semakin gerah saja di dalam sini. Hampir tak ada celah yang bersih untuk menyaksikan apa yang terjadi. Semuanya serba terselimut api. Bergelombang mendesir cepat dari muka ke belakang maupun ke seluruh sisi.


Sekejap terpaannya sirna. Tergantikan oleh serangan lain yang lebih buruk. Dia, Ryan dengan kedua pijaran yang membahana pada kedua kaki meluncur kemari.


Kubah plasmaku yang berlapis-lapis pecah. Ryan meringsek masuk, tak menunggu lama berusaha membinasakanku dengan tinju apinya. Aku yang terperanjat melotot menatapnya sangat dekat sekitaran dua meter lekas melakukan apa saja yang terlintas cepat dalam kepala.


Dinding persegi plasma setebal belasan senti menerima tinjunya. Apinya meledak menyebar. Kepada dirinya serta berbagai arah gaya negatif. Aku yang tak mau lebih dekat lagi dengannya segera mendepak dirinya dengan dinding plasmaku itu ke samping.


Ryan terempas menjebol bangunan pinggir jalan. Suara benda-benda yang hancur mengiringi dirinya yang terpelanting di dalam sana. Untuk kali ini aku dapat menghela napas lega. Meski tak lama karena terganggu sebuah tawa kekeh dari ruangan bangunan bergaya klasik yang terbakar.


“Kau selalu begitu. Sifatmu yang sok menahan diri dengan kemampuan bakat anehmu itu. Katanya kau ingin menghentikanku? Ha ha! Namun yang kau lakukan sedari tadi hanyalah mengelak.”


Degup jantungku melambat. Kemarahanku telah menurun. Relung mataku menyimak mencoba mendapati sosoknya dalam bangunan yang runtuh dinding lantai satunya. Namun yang kudapati hanyalah perabot yang terlalap api.


Apa katanya tadi? Selama ini aku menahan diri?


“Cuma kau yang berpikir begitu! Aku sungguh-sungguh, Ryan!” Lontarku kemudian menyaruk udara kalap ke dalam mulut.


Tawa yang sama kembali terdengar menggema. Namun lebih rendah desibelnya. Tersamarkan oleh bunyi-bunyi letupan terbakar barang-barang kayu atau sejenisnya.


“Sungguh-sungguh? Kalau begitu biar kujunjukkan apa itu kesungguhan yang sebenarnya!―” Sebuah suara gelegar mengikuti setelah seruan lengkingan panjang.


Gelagat merah menyala seakan menelan bangunan di hadapanku. Tidak, itu memang benar-benar tengah berlangsung. Kobaran api berputar kencang di dalam ruangan lantai satu. Terus membesar hingga meruntuhkan bangunan dua tingkat tersebut.


Tornado api menyala-nyala menyambar bangunan, aliran angin beserta benda-benda di jalanan ini berangsur terhisap ke dalam pusatnya. Terperanjat aku hendak berlari mundur, andaipun mata ini tak menyaksikan sosok yang berdiri menjerit di dalam sang jago merah yang membara tak terkendali.


“Hentikan Ryan! kau akan membunuh dirimu sendiri!” Ujarku kasihan. Aku menyaksikan tubuh si bocah api tak dapat lebih lama lagi menahan bakatnya. Kulit-kulitnya mulai melepuh, seragamnya tersulut. Sedang dia bersikeras berusaha mengendalikan tornado api besar itu.


“Aku sudah kehilangan semuanya! Manusia keparat itu merenggut adik-ku satu-satunya! Dia yang telah menggantikanku ditangkap tentara Anti-Crisis. Melalui sebuah penggerebekan ketika aku serta ayah-ibu tengah bepergian. Dia tidak pernah kembali, sedangkan kedua orang tuaku yang manusia biasa amat terpuruk atas kehilanganny. Meratap hingga tak segan hidup atau mati. Hingga akhirnya mereka berdua memutuskan bunuh diri! Menggantung leher dengan tali jemuran yang dikalungkan ke rangka plafon rumah! Tepat mengejang sekarat di depan mataku!” Ungkapnya seraya merentangkan tangan. Putaran tornado apinya semakin kencang.


“Kau tidak kehilangan semuanya! kau masih memiliki orang yang menyayangimu. Lisa!”


“Tidak, aku tidak memiliki siapa-siapa. Gadis itu telah kubunuh. Terlalu berisik dan mengganggu!”


Sekonyong-konyong jika otot mataku tak terpasang dengan baik maka kedua bola mataku akan keluar dari tempatnya. Aku bergidik hebat. “Apa yang kau katakan barusan!?”


“Aku membunuhnya!” ulangnya. “Jalanku penuh dendam. Dia hanya menghalangiku saja. Ketika bergabung dengan RR aku telah menemukan hidupku. Aku telah lama menunggu saat ini. Membalas para manusia keparat yang menjadikanku sebatang kara! Kau yang hidup dalam suka cita tak akan pernah mengerti penderitaanku!”


Kedua tangannya diayunkan kepadaku. Puncak tornado api yang berputar searah jarum jam meliuk merunduk. Menunjukkan mulut beliung raksasanya yang panas membara akan menelanku. Sedangkan diri Ryan tak sanggup aku melihatnya menderita terbakar apinya sendiri. Menggosong pada beberapa anggota tubuhnya. Setengah mati.


Pelupuk mataku terasa berat. Putik-putik bening menggantung mengikuti berkecamuknya perasaan ini. Sebegitu bencinyakah Ryan atas diriku? Aku memejam, merasakan lamat-lamat erangannya yang pedih karena dagingnya melepuh. Aku berkata lirih, “Sesungguhnya anggapanmu padaku itu salah. Kau juga tidak mengerti diriku, Ryan ...”


Mataku terbuka penuh. Mulut pusaran tornado api akan melahapku sepuluh meter lagi. Tatapanku kulempar pada sosok yang menjerit sepi di sana.  Yang berdiri dengan kaki kaku terpanggang pada reruntuhan bangunan yang telah jadi abu sepenuhnya.


Kadang aku bertanya-tanya. Kepada lubuk hatiku yang terdalam. Tentang mengapa Tuhan memberi kami kemampuan ini. Yang menjadikan kami menderita. Untuk apa? Melindungi? Jika iya, maka aku telah beberapa kali mengingkarinya. Jika iya, mengapa dunia sangat membenci kami? Jika iya, mengapa kami harus saling bertarung terhadap sesama kami sendiri?


Sungguh, aku tidak tahu jawabannya ...


Tidak akan pernah ....


Seperti sebuah ledakan kristal yang bertumbuh. Selayaknya tombak-tombak pertahanan diri sang landak yang menegak berdiri menghunjam kepada dunia yang jahat kepadanya. Ratusan duri kristal prisma bertepi runcing menjalar membelah kerucut api keputusasaan. Menyibak gelombang jeritan. Mengakhiri kepedihan. Menusuk tubuh yang rindu akan keadilan.


Aku mematung tercenung. Menghadap pada laki-laki yang hanya ingin membalas kebatilan dunia yang menjangkitinya. Aliran sungai nestapa kini mengalir membasahi parasku. Menangisi keputusanku sendiri. Mengakhiri si bocah api yang katanya akan meruntuhkan dunia.


Aku menguatkan diri untuk mendekat. Kepada diri yang berdiri bertumpu lemas pada tiga bilah tombak kristal prisma yang menembus tubuh depannya. Langkahku seolah terberati semakin berkurangnya jarak. Semakin menderas air mataku melihat menekuri dirinya yang naas.


Rintihanku merayapi telingaku ketika berdiri tepat di sampingnya yang tak berdaya. Kedua kakinya telah kaku kehitaman. Kedua tangannya telah melepuh kemerahan. Darahnya mengalir turun membasahi tepian tegas prisma kristal bening kebiruan.


Aku menjentik jari. Melenyapkan kemampuan. Tubuh yang terjatuh tanpa daya lekas kuterima. Wajah Ryan terbenam kepada dadaku. Aku memeluknya mencegahnya melorot jatuh. Perlahan setelahnya aku merendah membawa dirinya berbaring.


Si bocah api menatapku sendu di pangkuan pahaku. Bibirnya kering pecah-pecah. Parasnya bertebaran luka bakar. Rambut keriting tentakel cuminya bau hangus terbakar.


Bibirnya membuka. Dia mencoba berkata. Aku mengusap keningnya yang legam dengan ibu jari.


“Hei ... aku tidak percaya kau menangis ...” katanya pelan diberati rasa sakit tak terperikan. Namun, aku dapat mengerti bahasa air mukanya yang mencoba tersenyum. Maka aku tersenyum. Ditemani bulir-bulir bening yang menggantung pada tepian mataku.


“Kau benar-benar menghentikanku ...” lirihnya. Terkekeh nyeri.


Aku menggeleng. “Kau hampir mengalahkanku beberapa kali.” Kataku tercekat lara.


Ryan mencoba tertawa namun yang keluar sebuah batukan. “Kau tidak mengerti diriku ... namun aku juga tak mengerti dirimu. Kita selalu bertengkar soal sesuatu yang bodoh, ya?”


“Selalu ...” sambutku mengusap sudut mata kanannya yang berair.


Ryan berkata lagi, namun pupilnya tak menghadap wajahku. Seolah dia tak dapat lagi menggerakkan bola matanya. “Kau tahu? Aku memiliki mimpi aneh. Di dalam mimpiku itu kita berdua berteman baik. Sangat dekat seperti sahabat. Atau bahkan seperti saudara ...” dia terbatuk dengan semburat mulut yang tersenyum. “Apa hal itu mungkin, ya? Tapi cuplikan-cuplikan mimpi itu nampak nyata. Hampir membuatku kesal ...”


“Mungkin ... tapi Ryan, setelah selesai semuanya kita berdua akan kembali pulang. Mimpimu itu akan terwujud.” Ucapku tersenyum getir.


Ryan terkekeh pelan, napasnya berebutan tersengal jeda. “Hei, kau tahu apa yang lucu? Aku membohongimu. Aku tidak membunuh Lisa ... dia aman di UG cabang eropa.”


“Aku ... aku yakin ... bahwa kau tidak akan melakukannya. Masih ada kebaikan dalam dirimu.”


Dengus napas Ryan hampir tak kentara. Namun suaranya masih terdengar. Sayup. Tanpa menggetarkan bibirnya yang kaku. Rangkaian kata yang keluar dari kecapan lidahnya tak jelas. Seperti meracau. Yang aku dapat mengerti hanya namaku yang dipanggilnya.


Aku mendekatkan telinga ke dekat bibirya. Hampir menyentuh. Lemah nan digandrungi sekarat, dia meminta sesuatu padaku. Untuk menceritakannya dongeng pengantar tidur. Sebuah kisah yang peran utamanya adalah diriku.


Aku mengangguk. Lekas kudekatkan wajahku ke samping kepalanya. Membisikkan kepada telinganya yang dingin. Lalu aku mulai bercerita. Tentang masa laluku. Tentang bagaimana aku mengeluarkan kemampuanku pertama kali. Bagaimana aku kehilangan orang yang kusayangi enam tahun lalu. Serta detik-detik kedua orang tuaku yang terbunuh karena diriku setelah kejadian itu.


Hembusan napas yang susah payah dilakukannya tak terdengar lagi. Kepalaku kutarik mundur. Kembali terduduk pasrah memandang si bocah api. Dia tersenyum. Kedua bibirnya tak mengatup dengan baik. Sementara pada mata kanannya tertinggal bekas gelinangan air mata.


Aku sesenggukan. Kedua jariku menekuri keningnya turun kepada mata. Memejamkan kelopak matanya yang dingin sayu. Dengan selesainya kabar laluku kepadanya, meski aku tak tahu apakah dia mendengarkan hingga usai, Ryan si bocah api yang hanya ingin menjangkau keadilan menghembuskan napas terakhir di pangkuanku.