Aila Ability

Aila Ability
PHASE 23: Taring Hijau



Desingan peluru ramai meraung di udara. Kepulan asap serta bebunyian ledakan saling menyahut, sedang sedari lima belas menit lalu aku tertahan di sini. Lima puluh meter dari halaman monumen Washington―dalam perlindungan kubus kristal padat bersama tiga orang laki-laki Aila elit UG.


Selain kemampuan bakatku, satu selubung melindungi kami pada lapisan terluar. Sebuah selaput mirip silicon atau permen karet―jika aku menjelaskannya secara mudah―melapisi kubus kristalkuku layaknya sarung tangan latex.


Terhenti di ruas jalanan terbuka, dengan hanya dua arah jalan keluar seperti kepala dan ekor ular tidak membuat kami berempat bersyukur. Gempuran tentara Anti-Crisis, RR, serta aparat pertahanan negara saling nimbrung―memblok jalan keluar atau pun mundur; mendesak kami tetap berdiam di tengah-tengah mereka―melakukan pertahanan diri dalam “tempurung”, setelah sebelumnya terbebas dari pertarungan dengan pria kekar berotot, salah satu anggota RR kuat yang nyeleneh, yang tengah dilawan oleh Ketua Andreas yang kami tinggalkan. Benar-benar sial ....


Aku menoleh pada salah satu Aila elit di dekatku. Laki-laki yang nampak dua tahun lebih tua dariku berpotongan rambut hitam yang atasnya rapi datar datar. “Apa kau punya ide lain untuk mengeluarkan kita dari situasi ini?” kataku.


Ia menjawab, “Aku ingin makan tachos buatan nenek Mexico.”


“Ha?” balasku meringis.


Seorang lain menimpali, “Abaikan perkataannya, nak. Semua pertanyaan yang dilayangkan kepadanya akan dijawab dengan sesuatu yang lain.” Ungkap pria kauskasia lima tahun lebih tua dariku. Dia yang memiliki kemampuan bakat selaput latex.


“Lalu, bagaimana kita mengatasi mereka?” tanyaku ulang padanya yang menurutku akan dijawab dengan normal.


“Mengenai itu, dia yang akan melakukannya.” Dia menoleh pada laki-laki pertama yang aku tanya pertama kali.


Aku pun mulai putus asa membatin, yang benar saja, ah sudahlah ...


Sebelah alisku terangkat dan kelopak mata di bawahnya berkedut.


“Ortis, tolong lakukan ...” sambung laki-laki berbakat jenis Creaton yang mencipta latex, berjulukan CoverBounce itu.


Walau kemampuan mencipta selaput menyerupai latex yang dibuatnya seperti keluar dari bagian tubuhnya; sekilas menyiratkan bahwa jenis bakatnya adalah mutan, tapi sebenarnya tidak. Meski kusebut lapisan lentur jurusnya itu sebagai “latex” tapi itu bukanlah terbuat dari bahan organik ataupun sintetis dari serat karet. Benda berwarna cat putih yang telah kusam itu menurutnya serupa dengan bakat jenis Creaton PerfectFortress-ku―materi yang tidak diketahui. Sementara dalam penciptaannya pun hampir bisa dibilang memang layaknya para Aila berjenis bakat Creaton. Dia tinggal gerakkan tangannya kepada arah yang dia inginkan lekas pikirannya memusatkan akan pembentukan bakatnya. Maka mewujudlah selaput pelindung dengan kelenturan yang luar biasa.


Pemuda bernama Ortis mengeluarkan sesuatu dari saku jubah hitam unit Rescue-nya. Benda logam krom seukuran telunjuk tangan orang dewasa. Didekatkan benda itu ke bibirnya, namun berhenti sejenak menoleh padaku.


“Tutup indera penangkap suaramu ...”


“Ha?” balasku dengan dahi berkerut.


“Tutup telingamu rapat-rapat, anak laki-laki berkacamata,” jelas pria muda lima tahun interfal umurnya serta setengah kepala lebih tinggi dariku―si CoverBounce. Lantas segera aku lakukan petunjuknya. Menekuk daun telingaku ke depan. Rapat kutekan.


Dia berkata lagi, “Bukan seperti itu. Tekan cuping telingamu menutup lubang kupingmu dengan ibu jari seperti ini.”


Aku mengangguk lekas mengikuti persis seperti apa yang dia tunjukkan. Menekan cuping sepasang telingaku dengan ibu jari secara rapat hingga desibel suara pertempuran di sekitar teredam baik.


Kulirik si pemuda kurang nyambung. Dia memastikan aku telah menutup telingaku―indera penangkap suara dengan baik katanya―kemudian berbalik menghadap muka. Dia lekas menghirup udara dalam-dalam dengan benda menyerupai peluit anjing itu didekatkan pada mulutnya.


“Tunggu! Tunggu! Tunggu!―” Cegah seorang pemuda sebayaku yang sedari tadi bersama kami dalam diam.


Dia bergerak mendekat padaku serta pada pria berjulukan CoverBounce. Sedangkan Ortis yang telah mengumpulkan banyak udara hendak bersiap meniup keras, terbatuk karena napasnya terhenti mendadak karena ujaran pemuda sebayaku.


“Kau tidak bisa melakukannya dalam ruang tertutup ini.” Jelasnya pada laki-laki berpotongan rambut atas yang datar, Ortis. Lalu dia menoleh padaku sembari menggoyang pundak kananku, “Hei, siapa namamu sebelumnya?”


Aku tidak segera menjawabnya, perhatianku terenggut pada warna rambut lebatnya yang hijau genjreng. Apa itu wig? Atau rambut asli? Meskipun begitu, kacamata berbingkai persegi tegas-hitam yang dikenakannya nampak cocok dengan gaya serta bentuk wajahnya. Selepas puas memandangnya heran aku mulai menjawab.


“Diaz,” kataku.


“Diaz, buka salah satu sisi kubus pelindungmu.” Telunjuknya diarahkan pada posisi Ortis menghadap. Dan lanjutnya seraya menoleh pada pria berjulukan bakat CoverBounce, “Kau juga Gerald, buka selaput lenturmu ...”


Aku menghilangkan satu sisi kubus kristal kebiruanku. Diikuti dengannya, selaput lentur melubang persis di mana pelindungku terbuka. Berikutnya si pemuda sepantaranku lekas meminta Ortis untuk melanjutkan apa yang telah dia tunda. Dan sekali lagi, kami yang tidak berkepentingan menutup rapat cuping-cuping telinga kami, menekannya ke dalam dengan ibu jari.


Ortis mengangguk kecil dua kali lalu menghadap muka. Sedang pada beberapa kesempatan, serangan peluru serta senjata pulsar energi berpilin yang masuk melalui celah perlindungan kami dilentingkan oleh pemuda seumuranku. Pemuda yang kebetulan juga satu bangsa denganku.


Dia yang berjongkok dengan salah satu kaki diluruskan ke samping, melakukan sesuatu pada tempat pijakan kakinya tersebut. Serangan peluru serta tembakan pulsar berpilin Anti-Crisis berubah lajurnya secara ajaib―melintir di udara menuju ke pijakannya. Tepat sebelum serangan itu mengenainya, dia tarik kembali kakinya itu, dan serangan peluru serta pulsar energi menyasar aspal bekas pijakannya.


Entah karena aku menutup liang telingaku terlalu rapat atau memang ada yang salah dengan pendengaranku. Aku tidak mendengar apapun dari peluitnya walau dengan jelas aku menyaksikannya meniup keras-keras. Dia, si laki-laki tidak nyambung menghembuskan sepenuhnya udara yang telah ditampung dalam paru-parunya.


Tepat setelah dia menurunkan peluitnya, pemuda sebangsaku berteriak lantang dengan masih menutupi kedua telinganya menggunakan kedua tangan, “Kalian semua! Para Anti-Crisis, tentara keamanan negara, serta pasukan RR! Seranglah kami dengan sekuat tenaga!”


Apa yang dia lakukan? Pikirku dengan sebelah alis terangkat. Bukannya memang sedari tadi mereka menyerang kita dengan sekuat tenaga?


Detik berikutnya aku menyadari, kemampuan dari laki-laki bernama Ortis serta mengapa dia meniup peluit yang tak menghasilkan suara. Paling tidak aku mengerti dari apa yang kulihat. Mereka, para Anti-Crisis beserta siapa saja yang beberapa waktu lalu menggempur kami kini bertingkah yang tak seharusnya dilakukan oleh orang waras.


Seperti apa yang disaksikan oleh kedua mataku yang rabun jauh ini. Mereka bertingkah konyol dari sebelumnya melancarkan serangan maut dengan kini malah melakukan push-up di tempat, saling jotos satu sama lain, berdansa dengan orang paling dekat dari mereka, jungkir balik, serta tindakan yang tak dapat kujelaskan secara keseluruhan. Namun, satu hal pasti yang dapat aku ungkapkan atas hal ini yaitu, “What the hell ...”


“Itulah kemampuan bakat Ortis: Discommand,” kata pemuda berambut hijau di sampingku. Walau aku tak meminta untuk dijelaskan.


“Tuan-tuan, jangan terlalu terpaku pada pertunjukan jenaka. Kita masih dalam keadaan perang,” tegur Gerald, pria berjulukan CoverBounce.


Dia membelakangi kami. Aku menoleh padanya dan ya, benar apa yang dikatakannya. Perang belumlah usai. Dua belas tentara Anti-Crisis berseragam khusus berdiri kokoh tak terpengaruh kemampuan bakat DisCommand Ortis. Empat di antara mereka menenteng senjata pulsar pengacau kemampuan bakat.


Si pemuda hijau berkacamata persegi hitam mennyikut-sikut lenganku. “Hei hei Diaz, cepat tumbangkan mereka yang terkena jurus Ortis.” Katanya diakhiri senyum.


Aku beranjak berdiri setengah merunduk. Kedua tangan kujulurkan ke depan membentuk sudut jarum jam 8:25. Dengan memusatkan pikiranku akan pembentukan kristal bakatku, secepatnya kulancarkan pada mereka bola mortir kristal padat seukuran bola sepak. Mendepak mereka yang bertingkah diluar kendali.


“Good job, bung!” Kata pemuda hijau mengacungkan jempol padaku.


“Sena! Di sebelah sini butuh bantuan ...” Gerald menyahut pada pemuda di sampingku. Dia yang membalik punggung dari kami berdua tengah kepayahan menangkal serangan-serangan tembakan pulsar energi para Anti-Crisis berseragam khusus. Dengan kemampuan bakat CoverBounce-nya, selaput tebal-lenturnya dijadikan sebagai layar tabir melindungi kami. Meski serangan pulsar energi berpilin terus menggerus pada bidang yang dijadikan sasaran, Gerald tak kalah gigih segera meregenerasi lapisan yang rusak.


Pemuda bergaya semir rambut hijau muda berbelang hitam―yang barusan kuketahui bernama Sena, berbalik menghampiri Gerald lantas memintanya untuk menghilangkan separuh tabir selaputnya. Kemudian dalam gerakan yang gesit, Sena melemparkan sebilah pisau ke samping dan berikutnya serangan pulsar energi berbelok mengikuti bilah pisau yang terlempar jauh ke samping kanan.


Ini adalah pertunjukan kemampuan si pemuda hijau. Aku yang telah selesai membereskan tugasku kini menyaksikannya terkesima. Dia, menghindari serangan para tentara hitam elit Anti-Crisis dengan mudahnya. Melalui kemampuan bakatnya yang terbilang mengandalkan ketangkasan, dia mengalihkan serangan senjata mereka pada benda yang dia sentuh atau injak. Lantas sebagai penutup, dia mendaratkan pisau-pisau lempar pada leher masing-masing tentara Anti-Crisis.


Dua belas tentara Anti-Crisis dalam balutan seragam khusus tumbang meregang nyawa tertancap bilah pisau yang bersarang dalam pada kerongkongan. Kemudian Sena kembali kepada kami sembari dua jempolnya mengacung sedada.


“Itu yang kau pelajari di Jepang?” celetuk Gerald, “pantas kalau Pimpinan Musashi menjadikanmu sebagai wakilnya.” Katanya sembari menyalami Sena. Sedang si pemuda hijau itu membalasnya dengan senyum merekah.


Ortis mendekat kemudian menyentuh salah satu pundak Sena, “Rest-in-peace ...” katanya dalam jeda tiap suku kata, dan aku tidak berminat bersusah payah untuk mengerti apa maksudnya.


Yah, aku tidak perlu mengerti apa maksudnya. Dan tidak ingin tahu. Karena perhatian kami direbut oleh deru-deru mesin pesawat tempur di atas kepala. Mengitari kami dengan ketinggian rendah di langit. Lalu sebagai tambahannya, kendaraan militer perang mendatangi kami. Kembali mengepung kami dalam dua baris blokade. Dengan tank kelas berat mengarahkan meriamnya kepada kami berempat.


“Apa kau memiliki ide untuk keluar dari situasi ini?” tanya Gerald kepadaku. Kami berempat saling merapat punggung.


“Kembali membuat cangkang dan menunggu mereka sampai kelelahan dan bosan?” balasku.


“Tidak ada pilihan selain tersenyum,” Ortis menambah.


Tuhan, tolong buat orang ini diam untuk sepuluh menit ...


Aku kembali melakukan perlindungan, kali ini dalam bentuk kubah tanpa Gerald menambahi lapisan terluar. Sekarang kami menyaksikan dengan jelas dentum-dentum meriam melesatkan mortirnya kepada kami. Meretakkan permukaan yang dikenainya dan sesegera mungkin aku perbaiki serta tambah kepadatan lapisannya.


Sena mengeluarkan dua bilah pisau hitam dari balik jubahnya, “Kita tidak bisa selamanya di sini. Sampai mereka luncurkan rudal-rudal dari jet tempur itu ... habislah kita. Biar aku yang mengalihkan perhatian mereka, buka sedikit kubahmu Diaz ...”


“Jangan sok pahlawan Sena, bahkan dengan kemampuan bakat CenterAssault-mu kau tidak akan dapat menghindar dari gempuran berbagai penjuru ini.” Cegah Gerald.


“Jika saja memang ada cara lain,” balas Sena berkata pelan, dan kami semua terdiam.