
Telah cukup lama semenjak jarum penunjuk waktu terkatung di angka delapan. Namun, guru matematika kami belum juga terlihat akan masuk menyinggahi kursi pengajaran itu. Bisa dibilang inilah yang namanya jam kosong. Hal yang jarang terjadi di sekolah ini. Yah, bagaimanapun juga ini hal yang paling aku sukai, karena aku bisa bermalas-malasan dengan membaringkan kepalaku di atas meja. Menyambut kantuk yang datang.
Tapi ketika aku hampir saja memasuki alam mimpi, telah nyaman dengan suasana mata yang berat dan rileks, sebuah suara berkata, “Diaz, kamu update berita konspirasi tidak?” suaranya terdengar tanpa dosa. Keinginan tidurku menguap karenanya, sehingga perlahan mataku mengeredap terbuka dan kulirik dia.
Dia kawan semejaku, Reid. Pemuda berpotongan jabrik dua senti, yang rambutnya selalu kelihatan kemilau jika dihinggapi cahaya. Sewaktu kutatap dia dengan binaran yang kusisipi perasaan terganggu, sebelah alisnya menaik. Wajahnya tak berubah melihatku penasaran. Keheningan yang kuhadirkan malah memanggil kembali gerakan alisnya. Reid tak mengerti sinyal ekspresiku.
Akhirnya kataku, “Ada apa, Reid? Berita apa lagi yang kamu maksud. Jangan berita tentang busuknya politik atau teori Bumi Datar, Freemason, Illuminati dan sebangsanya. Aku bosan kamu seduhi itu terus.” jawabku setengah mengantuk dengan sesekali menguap dan menyentuh bingkai kacamataku.
“Kali ini beda.” Reid terdengar bersemangat, “ini berita tentang hilangnya orang-orang secara acak. Akhir-akhir ini sering terjadi. Bukan, tapi lima tahunan ini.” ekspresinya menjadi setengah serius. Sikap duduknya seperti lakon politisi yang alot berdebat tentang hal yang kurang penting. Aku memerhatikannya setengah niat.
“Berita kali ini dari seorang saksi yang menyaksikan kejadian aneh. Tempatnya di pelosok kampung di Jawa Barat. Jadi tidak banyak yang tahu. Tapi ini sedang ramai sekali dibahas di forum yang kuikuti. Intinya ini. Katas saksi itu di post-nya, dia menyaksikan sekelompok orang berseragam ala militer serba hitam tiba dengan jenis mobil yang belum pernah dia lihat sebelumnya, datang berombongan ke desanya. Seperti aparat penyergap teroris. Tapi aktivitasnya aneh.” sejenak Reid menatapku, seolah-olah memeriksa apakah aku mendengarkannya sehingga aku harus balas menatap matanya.
Lanjutnya, “Mereka menggerebek sebuah rumah dan membawa penghuni rumah tersebut bersama mereka. Tapi tahu tidak? Setelah post tersebut tersebar dan diangkat jadi berita di beberapa website kelas lampu hijau, beberapa hari setelahnya saksi mata yang membeberkan hal itu ke publik hilang entah kemana sampai sekarang. Tak ada kabar. Padahal dia anggota forum yang termasuk cukup aktif. Meski tak seaktif aku.” Reid menjelaskan dengan serius dan keheranan. Aku hanya terdiam mendengarnya. Dia memang menyukai hal-hal yang berbau misteri dan konspirasi. Aku rasa dia cocok jadi penulis atau jurnalis. Atau menjadi orang-orang yang terlalu banyak waktu luang dan gemar tebar berita hoax.
Sebelum dia memasang lipatan dahinya lebih banyak lagi aku menjedanya, “Sebaiknya kau tidak usah terlalu memikirkan itu ... pikirkanlah tentang remedial kimiamu dulu.” Tanggapku sembari bercanda menyikutnya. “Dahulukan yang lebih penting, Reid.”
“Aaakh ... jangan kau ingatkan lagi tentang itu!” Reid mengusap-usap kepalanya, “kepalaku jadi nyut-nyutan cuma dengar namanya.”
Aku tertawa ringan melihat tingkahnya. Tak tahan aku hanya menyaksikan potongan rambut jabriknya yang menggoda untuk dijamah, sebab sensasi tajam dan menusuk yang didapat ketika mengusapnya dengan telapak tanganku. Sementara Reid paling tidak suka kalau rambutnya disentuh.
Serangkaian kecil adu tangan dimulai antara kami berdua. Sebuah simbol pertemanan dari pertikaian palsu. Namun tak berlangsung lama, disaat yang hampir bersamaan derap langkah lari terdengar mendekat. Lari tunggal milik seseorang tergesa-gesa kini berhenti di depan pintu kelas. Mencuri perhatian kami. Menghentikan kelakuan kami.
Seorang pemuda sepantaran kami delapan belas tahun dengan model potongan rambut yang terkesan seperti mangkuk terbalik, berdiri di bawah ambang pintu kelas. Gebrakan tangannya pada daun pintu kayu itu melompatkan sejenak kesadaran kami hingga sekelas berbisik menggerutu.
“Bintu dan Diaz, harap segera ke ruang aula!” Kabar anak OSIS itu lantang dengan segenap napas memburu. Kontan saja diriku serta Reid saling berpandangan, heran karena namaku disebut.
Reid berbisik, nadanya jenaka, “Hayo, kamu pasti macam-macam kemarin saat pulang sekolah sampai dipanggil begitu.”
“Macam-macam jidatmu, Reid.” semburku, berbisik pula.
Aku bergegas bangkit menghampiri anak OSIS yang masih berdiri dengan ekspresi mencari-cari itu. Sebelum dia mengulang titahnya, Bintu sejenak kemudian bergabung dengan kami berdua setelah memperhatikanku dan si anak OSIS yang berdiri statis menatap isi kelas.
“Memangnya ada perlu apa kami dipanggil?” tanya Bintu heran ketika tiba. Dia menggaruk-garuk perut gembulnya yang terbungkus seragam kelihatan malas.
“Entahlah, tapi sepertinya sangat penting.” Jawab anak OSIS di sampingku dengan memasang ekspresi repot. Aku dan Bintu bersitatap sarat arti.
Kami memutuskan untuk segera pergi mengikuti dengan dipimpin oleh anak OSIS yang kurang ramah di depan kami. Melangkah dalam gerak cepat memijaki keramik sekolah kami tercinta yang nampak perlu dipel dan disapu. Tanpa ada yang bicara, kami bertiga berlalu seperti kelereng yang menggelinding dalam jalur pipa. Melewati lorong panjang kelas begitu saja sehingga ujungnya secara singkat kami lalui dan sebuah lapangan terhampar di depan kami. Si anak OSIS tak mengurangi kecepatannya sembari sok memerintah agar aku dan Bintu bergegas. Dalam sebuah kesempatan pupil-pupil mataku menangkap lima mobil hitam yang tampak asing terparkir di lapangan upacara. Persis beberapa meter dari pintu masuk ruang aula yang melintang di seberang lapangan sana.
Aku jadi kepikiran tentang ruang-ruang kelas yang telah kosong melompong kami lewati sebelumnya. Entah sejak kapan kesunyian tercipta di lingkungan sekolah ini. Aku tak menyadarinya. Kelas kami yang berada paling bawah, lebih tepatnya pada lantai basemen dengan diimpit oleh barisan kamar mandi, gudang serta taman belakang berdinding batu alam sebagai pembatas dengan dunia luar agaknya telah menjadikan kami seumpama katak dalam tempurung. Terisolasi. Tanpa berpikir yang aneh-aneh lagi, aku terus mengikuti langkah si anak OSIS hingga kami tiba di luar ruangan yang kami tuju.
“Kalian berdua cepatlah masuk.” Perintahnya dengan sok sesampainya kami berdiri di hadapan pintu ganda aula. Aku dan Bintu segera menurutinya. Meski dalam hati ini ingin rasanya mendebat anak ini, tapi memikirkan tujuan kenapa aku dan Bintu dipanggil, aku jadi menahan diri. Jangan menambah masalah, itu yang kupikir.
Sejenak setelah aku melangkah ke dalam, kesadaranku mendapati puluhan murid duduk jongkok dengan tangan terikat di hadapanku dan mendadak dari arah belakang dua orang pria menundukkan diriku serta Bintu lantas mengunci tangan kami dengan seutas pita kerat pvc putih ke belakang punggung. Dengan kasarnya aku digiring ditendang beserta Bintu untuk bergabung dengan puluhan murid yang kondisinya tak kalah sama dengan kami berdua sembari dibayangi oleh mulut senapan mengawasi di belakang kepala. Keterkejutanku atas apa yang baru saja menimpa kami berdua tertahan dalam dada sewaktu aku memandang sekeliling.
Belasan laki-laki, dengan usia sekitaran tiga puluhan serta empat puluhan―berseragam hitam ala tentara mengelilingi kami dengan menenteng senjata laras panjang—bersiaga berdiri menjalari sudut dinding ruangan. Sejenak aku teringat akan cerita Reid sewaktu di kelas mengenai orang-orang berseragam militer hitam. Sekonyong-konyong aku menyadari situasi kami yang gawat, ludahku terasa kasar membasahi kerongkongan.
“Diaz, siapa mereka?” bisik Bintu di sampingku. “Kurang ajar betul. Kenapa kita ditodong senapan?””
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku bukan dukun. Tapi mereka yang jelas bukan orang baik.” Jawabku yakin. Tentu saja. Mataku memicing, “Kita jangan melawan. Lihat dulu situasi.” kataku.
Salah seorang dari mereka melangkah maju, paling ujung menghadap kami semua tepat di depan panggung aula. “Apa kalian tahu alasan kenapa kami mengumpulkan kalian di sini?”
Suasana mendadak hening sampai salah seorang siswi dari kumpulan murid berdiri dan menjawab, “Lepaskan kami, brengsek! Apa mau kalian? Dasar barbar!”
Seringan ucapan, popor senapan mendarat di pelipis si gadis. Dia jatuh tersungkur mendapati serangan itu. Pekik sakit dan terkejutnya membuatku ngeri tak terukur.
Seorang berseragam hitam tentara yang menyerang si gadis, berdiri di dekatnya memandang hina dan berkata, “Apa mau kami? Kami akan membereskan kalian semua di sini! Dasar monster hina peranakan kotor!” cercanya tepat di depan muka si gadis lemah. Mimik muka laki-laki itu begitu merendahkan.
Gadis itu membalas menatap nanar. Darah melumuri pipinya, turun mengalir dari pelipis dan para pria berseragam militer hitam tertawa bergelak-gelak menggaung di dalam aula. Tak ada simpati dari gerik tingkah mereka dan salah seorang tentara berseru, “Bersiap!” sigap katanya sembari mengangkat salah satu hasta tegak sejajar kepala. Serentak mereka seluruhnya mengacungkan senjata.
“Semuanya! Apa kalian mau mati sia-sia di tempat ini!?” pekik siswi yang murka itu, terpuruk hina di hadapan si lelaki tentara. “Lawan bajingan-bajingan ini dan bebaskan hidup kita!” kalimatnya pedih mencerca, tapi kami hanya menoleh saling pandang. Mata diliputi keraguan.
Si tentara meraih kepala siswi itu dan menariknya kasar ke atas, menjambak rambutnya kuat hingga setengah badannya ikut terangkat. Ketika membungkuk mendekatkan wajahnya di hadapan si gadis, laki-laki itu berkata, “Hah! Rupanya ada jangkrik di sini.” tawa buruknya terdengar lebih tak berperasaan. Gadis itu merintih pedih, memejam mata sembari kedua tangannya berusaha mengenyahkan tangan kekar sang pria sadis, tapi jelas tak sanggup. Usahanya dijawab seringai senang si tentara digulai tatapan merendahkan.
Tak ragu, pria itu menepikan pistolnya ke dahi gadis itu, “Selamat tinggal jangkrik, kau tidak akan berkerik lagi ...” perlahan, jemari terlatihnya menekan pelatuk.
Kalau istilah pahlawan dalam kesempitan itu ada, maka itulah yang kini terjadi. Bukan aku yang menyalak berdiri meminta pria berkumis tipis itu untuk berhenti. Atau pun sebuah keajaiban bahwa pria itu mengurungkan niatnya. Melainkan, sebuah api membara mendadak menyambar kepalanya.
“Mati kau, Anjing!” Kutuk seorang siswa yang telapak tangannya terbakar. Ia berdiri seraya menunjuk sementara senyum kepuasan menyungging darinya. Beberapa meter di depannya, pria dengan balutan seragam hitam gagah itu histeris bergulingan di lantai.
“Diaz, merunduk!” Bintu menubrukku dengan tubuh gempalnya. Seakan menyadari kenyataan terburuk, dan memang benar terjadi. Peluru-peluru ramai melesat ganas menembaki kami. Sembarang arah mereka tembak-kan. Mengenai apa saja dari kami para murid yang mereka dapat sasari.
Huru-hara dalam waktu singkat pecah. Gerombolan murid memberontak menyerang balik, mendesak tentara hitam, sedang tidak banyak juga dari mereka yang tumbang tertembak. Aku termangu menyaksikan mereka dari balik tindihan tubuh tambun Bintu. Memandang mereka sayu.
Apa nyawa kami tidak ada harganya? Kami yang cuma bocah ABG ini, yang hidupnya masih antara main game, dan pacaran. Yang masih takut-takut cemas pada nilai raport yang terjun parah. Meski mereka sadar betul tentang itu tetap saja mereka bantai kami!
“Hei, Diaz. Oi!” Bintu berbisik dengan penekanan di dekat telingaku. Aku meliriknya pelan.
“Ini kesempatan kita kabur.” katanya. Dengan tangan yang telah bebas, Bintu membuka ikatanku.
“Kita akan mati tertembak,” sahutku pasrah kembali tertunduk.
“Bodoh. Lebih baik mati tertembak karena berusaha menyelamatkan diri, daripada mati sia-sia! Pada hitungan ketiga kau harus siap berlari sekencang-kencangnya.” lanjutnya kemudian memposisikan diri siap berlari.
Tangannya yang terasa berat mampir di kerah seragamku. Memperlakukanku seperti anak kucing yang dijimpit tengkuknya. Memintaku untuk berposisi siap berlari di sampingnya kemudian dia mengaba-aba, “Siap, satu ... dua ... tiga!”
Dalam hitungannya sebagai patokan, kami berdua berlari sekencang-kencangnya menerobos kerumunan. Posisiku tepat di belakang dirinya yang bertubuh subur itu. Dia menerobos membuka celah kerumunan murid sedang aku mengikuti buka lajurnya.
Bintu berseru dengan semangatnya mendobrak pintu aula yang terkunci. Demi nyawa-nyawa kami yang dapat lepas tersasar peluru kapan saja, kuayunkan keluar sepasang kakiku menuju halaman sekolah. Aku menoleh ke belakang sembari berlari, puluhan murid berhasil keluar dari dalam aula dengan seragam mereka bersimbah darah. Tertatih-tatih dengan luka-luka itu, mereka mengikuti arah kami berlari.
Dan seandainya saja aku lebih reaktif pada sekitarku maka tubuh depanku tak perlu bertandang pada suatu gempalan empuk. Aku terpental terduduk menabrak tubuh belakang Bintu. Kacamataku yang lari dari tempatnya kuposisikan kembali lekas berkata, “Bintu, kenapa berhenti?” kuelus pantatku yang habis mencium plesteran beton lapangan.
“Berlindung di belakangku. Sepertinya kita tidak akan lolos dengan mudah.” katanya.
Aku mengintip dari balik tubuh gemuknya. Mataku terbuka penuh, menyaksikan gerbang sekolah jalan keluar kami satu-satunya dikerubungi oleh pasukan berseragam hitam bersenjata lengkap. Disamping itu ... lingkungan sekolah telah benar-benar kosong, tidak terlihat satu batang hidung pun guru maupun murid yang berkeliaran selain siswa dan siswi dari dalam aula sebelumnya.
Belasan murid yang berhasil lolos dari aula maut berhenti di sekitaran kami dengan tatapan tidak percaya. Sementara itu, pasukan pemblokir jalan keluar mulai mengarahkan senjatanya dan siap melesatkan amunisi.
Sebuah suara anak laki-laki bersumbar, “Teman-teman, mari bertarung habis-habisan. Aku tahu kalian juga pengidap AA. Jadi jangan ragu untuk mengerahkan kemampuan kalian melawan bedebah-bedebah di sana.”
Ternyata Bocah Api tadi juga selamat, batinku. Seringai kecil tersungging di mulutnya lagi. Para murid―siswa-siswi yang tampilannya telah payah saling pandang kemudian mengangguk setelah mendengar motivasi sepihaknya.
Masing-masing dari mereka mengepal tangan mulai mengeluarkan kemampuan spesial masing-masing. Akan tetapi aku hanya diam memerhatikan. Aku sudah berjanji untuk tidak menggunakan kemampuan itu lagi. Jauh-jauh hari.
Dengan sigap Bintu menghentak kaki kanannya kepada bumi dan terbentuklah dinding tanah dua meteran dengan ketebalan dua puluh senti menjulang dari permukaan lapangan ini. Melindungi diriku serta dirinya layaknya benteng berdikari.
“Diaz, jika kau tidak ingin bertarung, maka berlindunglah di balik dinding ini.” Ujarnya tanpa melihatku, pandangannya tertuju ke depan. Ke arah satu-satunya jalan keluar kami.
“Oi gendut, kemampuanmu lumayan juga. Tapi jangan sampai kau menghalangiku.” cibir si bocah api, dia mengeluarkan pemantik api gas dari saku seragamnya. Aku cukup tertegun atas kepercayaan dirinya atau mentalnya yang sepertinya tidak merasakan takut akan terluka atau kematian.
“Ya, lihat saja.” jawab Bintu mantap.
Si bocah api memantik peranti merah di tangannya. Percikan bunga api ia kendalikan. Dia permainkan sebegitunya, menggulung apinya yang menjilat-jilat hingga tampak seolah hidup dan berdansa di tangan kirinya lalu dia memberikan aba-aba, “Siap ...”
Murid-murid mengambil ancang-ancang untuk menyerang kecuali diriku yang duduk jongkok berlindung di balik tembok tanah buatan Bintu. Berikutnya, dia si bocah api memekik bak komandan perang para gerilyawan, “SERANG!!!”
“WOOOOOO!!!” Sambung pekik para murid seraya berlari melemparkan serangan kemampuan mereka kepada pasukan militer hitam di depan sana.
“Tumbangkan mereka!” seorang yang sepertinya pimpinan blokade tentara hitam terhenyak. Menanggapi kami dengan seruannya yang tak kalah membara.
Dalam dua detik setelah komandonya, serbuan peluru haus darah menghujani kami. Aku mengintip teman-temanku yang tengah berjuang. Perhatianku tercuri kepada Bintu yang mengetuk bumi dengan salah satu kakinya lalu dilemparkannya bongkahan batu seukuran meja kelas kami kepada mereka.
DAGHH!! Bongkahan batu menghantam blokade tentara hingga menciptakan celah yang cukup besar. Pagar-pagar portable kuning-hitam terpental, para tentara hitam terempas menimpuk gerbang sekolah kami hingga roboh. Kini jalan kabur terbuka lebar membentang. Membuat hatiku bungah.
“Kerja bagus gendut!” si bocah api bersorak senang. “Sekarang giliranku. Rasakan ini, terpangganglah!” dia si pemuda berambut lebat keriting merentangkan tangan, mengendalikan kobaran api yang cukup besar. Membakar tanah serta sekeliling dirinya. Bertubi-tubi si bocah api melancarkan tinju apinya. Tanpa menahan diri diiringi dengan tawanya yang riang.
Mereka yang terbakar menjerit pilu. Meraung-raung meminta belas kasih serta pengampunan dari siksa apinya. Namun, kami hanya dapat menyaksikan mereka sekarat dengan lepuhan pada diri mereka.
“Rasakan itu! Kalian jadi barbeque. Aha ha ha!” timpal si bocah api begitu senang sembari berlari menerobos dan membakar para tentara hitam tanpa iba.
“Ayo Diaz, ini kesempatan kita!” Bintu berteriak di depan sana kepadaku. Aku yang sedari tadi berlindung segera bangkit dan berlari bergabung bersama mereka.
Si Bocah Api benar-benar tidak menahan diri, pikirku dengan terus berlari sesekali menoleh menyaksikan pasukan yang tewas mengenaskan.
Sesampainya di luar gerbang sekolah, kami terbagi menjadi dua kelompok. Aku, Bintu, dan sekitar sebelas murid lain ke kanan. Sedang si bocah api dan sekitar dua puluhan murid lainnya ke sisi sebaliknya. Dengan perasaan lega karena telah terbebas dari neraka, kami beranjak melarikan diri. Akan tetapi ... harapan kami lekas pupus dalam sesaat.
Jalan yang terbentang di hadapan kami telah dipenuhi peleton serdadu. Dengan dilengkapi senjata mesin berat yang pelurunya kuyakini mampu menembus plat baja, mereka berbaris gagah. Bersiap akan melakukan pertempuran habis-habisan. Kami terpaku berdiri menatap kenyataan di depan mata belasan meter dari mereka. Terkepung seperti tikus dalam rajutan kotak perangkap. Pancaran pada wajah-wajah kami lekas lesu tak bertenaga.
Sebuah dentuman ledakan tunggal mendadak terdengar. Kepulan asap hitam nampak membumbung ke angkasa seratus meter di belakang kami. Aku yakin pasti si bocah api dan murid-murid yang mengikutinya mengalami hal yang serupa dengan kami. Mereka mungkin sedang bertempur ....
Seorang gadis adik kelasku berkata pasrah, “Celaka, mereka pasti juga disergap. Tidak ada yang akan menyelamatkan kita.” bening matanya terlihat akan menangis.
Bintu mencoba menghiburnya, “Tenanglah, kita semua pasti akan selamat.”
Ya, dia memberinya harapan dengan perkataan yang ingin didengar oleh gadis itu. Optimis dalam kondisi apapun memanglah sifatnya. Pernah beberapa bulan lalu dia menghibur Reid yang gagal dalam ujian fisika. Nampak lesu putus asa namun Bintu kemudian memberinya serangkaian kata bahwa pelangi ada setelah badai mereda ... dan kenyataan setelahnya memang benar ada. Reid yang meminta diriku untuk membimbingnya meneguk kembali ulangan materi ujian fisika, sampai akhirnya berhasil menghantarnya melewati remedial. Benar-benar dahsyat ....
Tapi di luar sini, pada saat ini, akankah perkataan itu berdaya?
“Menyerahlah tanpa perlawanan dan kami tidak akan membunuh kalian!” Sesumbar suara elektrik merongrong dari pengeras suara salah seorang dari mereka, pasukan hitam yang berdiri berjajar dengan peralatan tempur lengkap. Berikutnya senjata mesin berat disiagakan, nampaknya mereka bersungguh-sungguh. Serentengan peluru yang tampak besarnya sejari mengintimidasi semangat hidupku.
Satu ... empat ... delapan ... sebelas … aku mencoba menghitung senjata berat yang mereka arahkan namun sepertinya hal itu hanya menambah persentase kematian kami dengan menghitungnya. Melihat kondisi yang gawat ini mendorongku untuk menoleh pada Bintu. Disaat itu aku merasakan binar-binar energi positifnya berkurang seperti terkuras. Dia tampak gelisah, raut mukanya menunjukkan bahwa kami tidak memiliki kesempatan lagi.
“Teman-teman, sebaiknya kita menyerah saja.” saran gadis adik kelasku yang tadi dihiburnya. Beberapa bulir bening menggantung di sudut-sudut matanya.
Aku menyanggah sinis, “Kau percaya mereka? Bukannya sejak awal mereka memang ingin membunuh kita? Apa kau lupa dengan kejadian sewaktu di aula dan di gerbang sekolah kita tadi, hah?”
“Diaz!” Bintu melirikku dengan tatapannya yang seolah berkata kepadaku agar tidak memperkeruh suasana.
“Maaf, aku hanya mencoba mengatakan hal secara realistis.” jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Keadaan menjadi sedikit canggung. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di kerongkonganku.
“Sebaiknya kau diam saja mata empat sialan! Aku lihat kau hanya bersembunyi saat kami sedang bersusah payah mengorbankan nyawa kami melawan mereka di gerbang sekolah tadi!” bentak siswa laki-laki yang seumuran denganku namun aku tidak mengenalnya, sepertinya kami beda kelas. Tapi bukan itu masalah utamanya.
“Ya! Aku juga melihatnya tidak melakukan apa-apa!”
“Jangan-jangan dia bukan pengidap AA!”
“Ya! Mungkin dia bagian dari mereka!” murid-murid lain ikut tersulut untuk mencelaku. Sedang yang kuberikan pada mereka hanyalah perhatian kosong.
“Bisakah kalian diam?! Kalian tidak mengetahui apa-apa tentang Diaz. Dia tingkatannya lebih tinggi dari kita semua di sini, tahu! Dia punya alasan untuk tidak menggunakan kemampuan AA-nya!” Bintu setengah marah menyanggah mereka dan semua yang mencelaku pun terdiam.
Kemudian seorang tentara di seberang sana menanggapi, “Kalian ribut sekali. Yah, sepertinya memang kalian tidak bisa diajak kerjasama, ya. Dasar monster-monster kecil. Pasukan ... musnahkan mereka!” dengan semangatnya di melayang titah eksekusi. Niatan mereka yang sebenarnya akhirnya terkuak juga.
Denging terdengar dari laras senapan mesin lantas detik berikutnya letupan-letupan mesiu menggebuk gendang-gendang telinga kami. Senjata-senjata itu memberondongkan pelurunya layaknya mesin tak bernaluri.
Dengan sigap aku berlari menuju posisi paling depan dari kami semua hingga melewati Bintu dan kukatakan, “Kalian semua, jangan berpencar terlalu jauh dariku!” kedua tanganku kuluruskan ke muka seperti posisi jarum pada jam satu dengan kurenggangkan jemariku.
Kenapa aku melakukannya? Setelah sekian tahun ini. Untuk apa? Demi siapa?
Keraguan membisik relung hatiku. Enam tahun lamanya aku memendam. Sebuah kekuatan yang bertanggung jawab atas semuanya. Ingatan waktu itu, sosoknya serta ... ah, pada akhirnya aku melanggar sumpah kepada diriku sendiri.
Kembali kepada kenyataan, peluru-peluru panas terpantul pada suatu permukaan padat jernih kebiruan, layaknya kaca mozaik bertekstur segi enam. Ketukan peluru pada permukaan kokoh itu ibarat puluhan kerikil dibenturkan pada ember plastik. Aku menoleh ke belakang. Kepada murid yang tertegun atas apa yang terjadi di hadapan mereka. Mulut mereka terbuka. Bagai menyaksikan mukjizat sang Moses membelah laut merah dulu kala. Kemampuan AA-ku, mencipta sebuah pelindung berbentuk kubah, melindungi kami dari hunjaman peluru.
“Ah i-iya, se-sepertinya tidak ada yang tertembak.” sahut murid laki-laki yang mencelaku sebelumnya tergagap. Pandangannya naik turun. Mungkin harga dirinya terbentur.
“Ma-maafkan aku tadi menuduhmu.” ungkap gadis lain sebayaku.
Seorang murid laki-laki yang lebih muda dariku mulai berlagak, setelah memastikan kami benar-benar terlindung dari renggutan maut. “Sekarang kita bisa menyerang mereka dari kubah pelindung ini,” dia menggesekkan tangannya hendak melakukan sesuatu.
“Jangan! Kau bisa mencelakai kita semua!” larangku menatap tajam.
“Eh? Kenapa?”
“Kubah medan plasma pelindungku ini tidak dapat ditembus dari luar maupun dari dalam. Intinya jika kau menembakkan kemampuan dari dalam kubah maka seranganmu akan terpantulkan seperti pantulan cahaya pada kaleidoskop ke seluruh bagian dalam kubah ini.”
“Jadi, sama saja kita terkurung di sini tanpa bisa melawan mereka? sampai kapan?” tanya seorang lain.
Bintu memotong, “Diaz, bagaimana dengan yang memiliki kemampuan AA jarak jauh. Aku bisa mengeluarkan kemampuan AA-ku yang jangkauan serangannya dapat kuatur. Jadi aku bisa mengeluarkan kemampuanku di luar kubah ini.”
“Ah, kalau itu bisa. Coba serang mereka yang mengendalikan senjata mesin berat itu.” dengan lirikan mata dan sedikit anggukan aku memintanya.
“Oke,” Bintu menamparkan kedua telapak tangannya kepada bumi dan DAGH! Satu penembak gugur terempas pilar batu tumpul yang menjulang dari pijakan penembak itu. Enam belas penembak senjata mesin berat tersisa dan puluhan lain penembak senjata laras panjang.
Seorang murid lain mendekat, “Hei, berapa lama kau bisa menahan kubah ini?”
“Aku tidak ingin mengecewakan kalian, tapi jujur saja aku belum pernah membuat kubah plasma pelindung sebesar ini sebelumnya.”
Yah, plasma pelindung―aku menamainya seperti itu, tanpa dasar dari penelitian ilmiah atau apa―yang berbentuk kubah lima meter diameternya serta transparan kebiruan ini adalah yang terbesar yang pernah kubuat. Otomatis kepadatan, kerapatan serta kekuatannya jauh berbeda dari biasanya.
“Lalu?” tanya seorang lain lagi memastikan setelah beberapa jeda aku melamun.
“Asalkan tidak ada benturan hebat pada kubah ini aku rasa akan baik-baik saja.” jawabku ragu.
Penembak senjata mesin berat kelima telah Bintu tumbangkan. Rupanya tekad mereka untuk membunuh kami kuat juga. Sudah sepuluh menit berlangsung dan mereka tetap kukuh menembaki kami tiada henti.
“Di antara kalian ... ada yang bisa membantuku mengalahkan mereka?” dengan tersengal-sengal menarik napas, Bintu mengharap kepada murid lainnya.
“Aku bisa, tapi kemampuanku lemah.” sahut seorang gadis sebayaku. Rambutnya yang seleher dikuncir samping dengan pita merah nampak tak asing oleh mataku.
“Apa kemampuanmu?”
“Aku bisa mengendalikan keinginan dan kesadaran mereka.” jawab gadis itu sambil mengepal tangan di dekat dada menatap Bintu.
Kubalas sambil masih menahan posisi pertahanan kubah kemampuanku, “Ah, AA tipe pemengaruh mental, ya. Bagus, itu dapat digunakan di luar kubah ini.”
“Baiklah, aku akan mencobanya,” ucap gadis itu semangat. Kedua tangannya diletakkan di samping kepalanya seperti gaya orang berpikir keras.
Aku kembali menatap medan pertempuran. Serbuan peluru senjata mesin berat bergantian melesatkan pijaran-pijaran panasnya ... dan mendadak di antara mereka, salah seorang penembak menunjukkan keanehan. Orang itu ambruk setelah sebelumnya matanya mengkeredap-keredap.
Seorang rekan tentara hitam itu mencoba membangunkannya. Namun tak berguna, dia juga terikut menyusul kawannya. Kudapati seorang tentara berhelm baret merah bergelagat mulai menyadari keanehan itu. Setelah mengamati, pria itu mundur ke belakang barisan diikuti sepuluh pria bertampang garang.
“Kerja bagus.” pujiku kepada gadis berkuncir samping meski hatiku was-was.
“Ya,” jawabnya senang dengan tetap melakukan tugasnya menumbangkan satu persatu penembak mesin berat melalui kemampuan AA tipe manipulasi pikiran miliknya. Tapi itu semua belumlah cukup. Sang pria berhelm baret merah pasukan hitam dan beberapa orang bawahannya kembali ke barisan depan dengan membawa kejutan di pundak kanan.
“Kita lihat seberapa lama kubah itu bisa bertahan!” ujarnya keras sembari berposisi setengah jongkok membidikkan RPG (Rocket Propelled Grenade) di pundaknya ke arah kami diikuti dengan bawahannya. Kecemasanku melejit.
Dalam sekali aba, roket-roket itu diluncurkan. Delapan meledak menabrak bergantian dinding kubah plasmaku. Getarannya yang heboh menjeritkan para siswi yang spontan berjongkok dengan menutupi kedua telinga mereka.
“Isi!” aba-aba sang pemimpin pasukan hitam memerintah anak buahnya mengisi ulang peluncur roket.
“Siap!” lapor mereka tak selang lama, RPG telah siap diluncurkan kemudian sang komandan melanjut. Serangan kedua mereka menuju kemari.
“Semuanya bersiap pada posisi bertarung, aku merasakan firasat paling buruk!” peringatku kepada teman-teman.
Serangan kedua menghantam dinding luar kubah plasmaku dengan begitu kerasnya dan benar saja ... setelahnya, bunyi retakan terdengar. Dinding kubah plasmaku merekah dan serpihan-serpihannya jatuh bagai lapisan cat dinding yang terkelupas.
Bintu mendekat, “Diaz, berapa lama lagi kubah ini dapat bertahan?”
Aku meliriknya cemas. Pikiranku mencoba menirunya merangkai kata berisi harapan namun pada akhirnya aku tak mampu, “Satu serangan lagi kubah ini benar-benar runtuh.” kataku jujur.
Kedua mata Bintu sontak terbuka penuh kemudian ia kembali mundur menghampiri murid-murid lainnya. Bintu berkata dalam nada yang kecewa kepada mereka, “Teman-teman, kubah ini akan hancur dalam sekali serang lagi. Jalan kita mungkin berpisah di sini. Jadi, bentuklah kelompok-kelompok kecil. Aku dan Diaz akan mencoba membuat jalan untuk kalian kabur.”
Seorang gadis AA tipe si pengendali pikiran menyahut, “Tapi ... bagaimana dengan kalian berdua?”
“Jangan khawatir, kami berdua cukup kuat.”
Aku tersenyum ringan mendengar samar-samar perkataan Bintu. Dia memanggilku, “Diaz, kau sudah mengerti rencanaku, kan?” tanya Bintu dua meter di belakangku.
“Ya.” jawabku.
“Oke, kalian semua bersiaplah.” aba-aba Bintu kepada yang lain.
Disaat bersamaan RPG terakhir meledak menabrak dinding kubah plasmaku. Serta-merta kubah plasmaku runtuh dan pecah berkeping-keping layaknya gelas kaca yang jatuh dan pecah berserakan.
“Sekarang!” pekik Bintu. Segera kutinjukan telapak tangan kananku ke depan. Ke arah kumpulan pasukan hitam yang menenteng launcer RPG di pundaknya.
Bola plasma padat seukuran bola kasti tercipta dari telapak tanganku, melaju dengan kecepatan sepeda motor ngebut yang semakin lama membesar menjadi seukuran televisi. Melaju melayang ke arah pasukan hitam dan mereka pun terempas beberapa meter ke belakang. Terhantam seranganku selayaknya pin bowling tertabrak bolanya.
Para murid menggunakan kesempatan ini untuk berusaha kabur. Bintu berada delapan meter di belakangku membantu mereka dari serangan pasukan hitam. Walau harapan kami sangat tipis. Meskipun mustahil bagi kami semua untuk bisa selamat dari sergapan ini tanpa berdarah, kami tetap mencoba untuk bertahan hidup.
Pasukan hitam menembak membabibuta. Pemandangan berdarah ini terulang lagi. Murid-murid bertumbangan tertembus peluru sergap mereka. Sumpah, aku ingin menolong mereka, tetapi keadaanku juga sama gawatnya. Pasukan hitam menembakiku dengan senjata mesin dari segenap penjuru. Aku benar-benar terkepung. Lengah sedikit saja maka kubah plasma satu meter jarinya-jarinya yang melindungiku ini akan tertembus.
Rintihan serta erangan sekarat murid-murid yang tertembak menyakiti batinku. Kedua mataku memejam. Aku tak tahan menyaksikan kondisi mereka. Akan tetapi aku juga tidak ingin membunuh. Aku tidak ingin ingatan tragedi enam tahun lalu itu kembali lagi. Dalam benakku bergemuruh bisikan yang saling bertentangan. Membunuh atau terbunuh ....
“Apa kau akan membiarkan kematianku sia-sia?” gema suara gadis dari masa lalu mendadak hadir di dalam pikiranku.
“Bertahan hiduplah ...”
Suara ini, bisikan yang menggema di dalam pikiranku ini ... suara milik gadis yang bersamaku sewaktu tragedi enam tahun lalu. Orang yang menjadi alasan bagiku atas terkurungnya kekuatan ini selama beberapa tahun. Maka dengan segenap kumpulan keyakinan, mataku terbuka penuh. Aku telah memutuskannya. Aku akan bertahan hidup!
Hawa dingin menjalar dari kulit leher sebelah kananku. Sensasi ini sama seperti enam tahun lalu. Jika dilihat maka terdapat motif atau tato berbentuk seperti kepingan salju biru muda pada jenjang leherku.
Aku setengah berdiri dengan tangan kananku masih memusatkan pertahanan kekuatan kubah plasma pelindungku. Tangan kiriku yang bebas kuarahkan ke salah satu penembak lima meter dari posisiku berdiam.
Lurus, kumajukan tangan kiriku kemudian kurenggangkan jemarinya. Aku memusatkan energi pembentukan plasma padat kepada salah satu penembak di depan sana. Partikel-partikel plasma berbentuk segi enam mulai terbentuk dan tersusun di sekeliling dirinya.
Dengan segera aku mengepalkan tangan. Sekejap mata terbentuklah kubah plasma mengurung penembak itu. Peluru yang ditembakkannya lekas terpantulkan di dalam tempurung transparan itu. Menembak pria itu sendiri dari segala arah. Menembus kepala, badan, serta bagian lain tubuhnya. Membuat dinding kubah plasma yang mengurung dirinya terciprat darah bagai cat merah gelap yang disiramkan kepada dinding.
Segera kulakukan hal yang sama kepada pasukan penembak lainnya. Sekiranya aku telah menumbangkan puluhan penembak. Pasukan hitam yang menembakiku mulai dapat dihitung dengan jari. Kemudian tanpa mempedulikan mereka, aku berlari menjauh. Mencoba kabur tanpa harus membunuh lebih banyak lagi. Tapi keinginanku nampaknya terlalu muluk.
Bisikan angin kibasan baling-baling helikopter mendekat. Lariku terhenti. Berhenti karena sesuatu di hadapanku. Sebuah helikopter Apache dengan sayapnya lengkap oleh rudal terbang rendah lima belas meter di muara jalan sana. Seperti adegan dalam film-film koboi, aku berhadapan dengan capung besi itu seolah menunggu siapa yang akan menyengat pertama.
Nampak sebuah siluet dari kaca kokpit bersudut tegas itu, sang pilot heli tempur yang menghadapku. Sejenak berikutnya senjata mesin di bawah moncong helikopter itu mulai berputar. Dengan sigap kujulurkan tangan kananku lurus kepadanya, menciptakan kubah plasma melindungiku.
Peluru serbu panas yang melesat tertuju padaku. Peluru-peluru lepuh itu terpantulkan ke atas, bawah, samping, menghantam dinding luar kubah plasmaku. Menembus dan melumerkan aspal yang terajami olehnya.
Agaknya, melihat serangannya tak mempan, tembakannya berhenti. Namun bukan menyerah pergi, teror selanjutnya malah menghampiriku. Sebuah misil meluncur dari sirip sayap heli itu, membuat mataku terbelalak. Aku beranjak dari tempatku berdiri. Berlari sekencang mungkin ke sisi kanan, mencoba menghindari misil yang meluncur tepat ke arahku. Namun sia-sia, misil itu berbelok dan mengikutiku. Sampai tinggal lima meter jarakku dengan misil tersebut kemudian aku berbalik menghadapnya.
Misil itu menabrak dinding luar kubah plasmaku, tepat di hadapanku setengah meter dekatnya. Aku terpental sekitar dua meter ke belakang tanpa terjatuh. Api ledakan menjalar membakar, mengepung dinding luar kubah plasma yang melindungiku sampai membuat udara di dalam kubah ini memanas. Membuatku gerah. Akan tetapi, tindakanku kelihatannya menarik perhatiannya untuk menyerang lebih. Misil berikutnya dilepaskan. Semuanya meluncur padaku.
Tujuh misil mengarungi udara. Aku tak beranjak berpikir itu akan percuma. Lebih baik aku berkonsentrasi memusatkan energi untuk memperkuat kepadatan kubah plasmaku dari serangan gilanya. Satu misil kembali menabrak dan meledak. Aku masih dapat bertahan. Dua misil berikutnya menghantam dengan dahsyat membuatku terpental jatuh sejauh empat meter, masih dengan perlindungan kubah plasma yang ikut bergerak bersamaku. Empat misil setelahnya menghantam ganas. Aku terpental jatuh kembali ke belakang. Menggelinding sepuluh meter.
Tengkurap aku terbaring di atas aspal. Pusing mendera kepala, pandanganku kabur, dan kacamataku entah terlempar ke mana. Samar-samar kutatap dinding kubah plasma yang mengiringiku retak. Beberapa bagiannya pecah dan berlubang, sedang sekeliling luar kubahku terbakar.
Senjata mesin di bawah moncong sang heli pemburu kedamaian mulai menembakiku diiringi dengan dengingan khasnya. Namun agaknya kubah plasmaku masih dapat menahan serangan walau perlahan mulai terkikis juga. Aku mencoba berdiri, agak sempoyongan.
Ukh, darah mengalir turun dari pelipisku memberati kelopak mata ini diiringi dengan rasa pusing hebat tiba-tiba. Aku tidak akan menahan diri lagi. Aku bisa mati di sini. Kujulurkan tangan kananku persis kepada heli yang terbang rendah tigapuluh meter dari tempatku berdiri. Kupusatkan energi pembentukan bola plasma kepadanya. Lantas dengan cepat kukepalkan tangan.
Peluru panas yang tadinya menembakiku kini terpantulkan di dalam bola plasma padat yang mengurungnya. Ratusan pijaran logam panas menembus kendaraan besi itu sebagaimana yang kulakukan pada pasukan penembak sebelumnya. Kemudian kendaraan perang udara itu meledak terbakar. Dengan tangan kananku kuturunkan, bola plasma yang mengurungnya lekas memudar menghilang dan pepuingan yang tak keruan jatuh di atas jalan besar.
Tadinya kupikir itu adalah serangan terakhirku. Namun, barangkali Tuhan punya skenario lain. Selang beberapa menit setelah aku menghabisi mesin terbang itu, kibasan angin rotor helikopter lain terdengar dua puluh lima meter di belakangku. Langsung saja aku berbalik menjulurkan kedua tangan serta memusatkan energiku yang tersisa untuk membentuk bola plasma mengurungnya, dan dengan sukses heli itu terkurung di dalam bola plasmaku tanpa memberinya kesempatan untuk menembak terlebih dulu.
Akan tetapi, belum melewati satu menit kubah plasmaku memudar dan menghilang. Aku sudah mencapai batasku. Hawa dingin pada kanan leherku telah menghilang. Tapi terjadi sesuatu yang tidak kuduga. Heli yang baru saja terbebas dari kurungannya terbang tak terkendali. Berputar-putar semakin rendah kemudian jatuh menabrak gedung dan meledak seketika. Melemparkan puing-puingnya ke udara, sedangkan baling-baling yang masih terpancang pada rotornya berputar terlepas dari tempatnya kemudian jatuh membabat tanah.
Mungkin ini hari keberuntunganku. Dalam keletihan, kuperhatikan sekitar. Seorang pun tentara pasukan hitam tak nampak. Hanya mereka yang telah tumbang tergeletak berserakan di jalan. Barangkali mereka yang selamat sudah menyerah. Lalu aku mulai kepikiran tentang keadaan teman-temanku akan tetapi tiada tanda-tanda mereka ada di sekitar sini sebab sekitarku lengang hanya terdapat sisa-sisa pertempuran. Di kesempatan lain sepasang bola mataku yang telah capek menemukan kacamataku yang pecah lensanya lantas kupungut.
Aku harap semuanya benar-benar telah usai. Kuharap, karena hal terburuk yang terjadi padaku menurutku bukanlah luka-luka ini. Melainkan penglihatanku yang terganggu akibat lensa kacamataku yang hanya menyisakan beberapa keping pada bingkainya. Kukuatkan diriku untuk berjalan, walau secara sempoyongan dengan menahan rasa sakit di kepala. Baru tujuh meter langkah kutempuh, gendang telingaku mendapat sambutan bunyi gilasan roda rantai belasan tank yang mendekat. Prasangka buruk segera menggerayangiku dengan hebat.
Dua peleton tentara hitam datang mengepung diiringi dengan belasan tank kelas menengah serta heli-heli perang berwarna gelap. Tanpa pikir panjang aku berjongkok bertumpu pada lutut dan mengangkat kedua tanganku ke udara pertanda aku menyerah. Derapan langkah sepatu-sepatu lars mereka mendekat. Sejumlah senjata api mengacung ke arahku. Meriam tank-tank perkasa mereka bermanuver membidikku, siap untuk menghancurkan seonggok manusia begitu pula dengan heli-heli mereka yang terbang mengawang rendah.
Kepalaku tunduk, aku mengkhayal dan menduga-duga apa yang akan terjadi terhadap diriku selanjutnya. Kemudian aku mengambil kesimpulan, bahwa inilah akhir ceritaku.
Ketika keheningan batinku yang lelah mencengkeram semangat hidupku, bunyi benda besar yang ambruk membuyarkan putus asaku. Aku tersentak mengangkat wajahku. Hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat, salah satu tank yang mengepungku terbalik **** tank lain.
“Apa yang terjadi?!” Pekik seorang tentara hitam penuh kebingungan memandang kendaraan perang yang terbalik. Sontak mereka menjadi ricuh atas apa yang terjadi. Namun, kejadian barusan hanyalah awal dari serangkaian kejutan yang pada menit berikutnya lebih dahsyat lagi. Salah satu heli meledak tertubruk tank yang muncul entah jatuh dari mana. Ini pemandangan gila! Tank-tank tiba-tiba menghilang dan muncul kembali menubruk heli-heli yang terbang rendah.
“Kita diserang!” pekik seorang tentara hitam, mimik mukanya dirayapi ketegangan. “Kau pasti penyebabnya, kan?!” Senjata apinya ditodongkan kepadaku sedangkan aku hanya membisu meresponnya.
Tidak, ini bukan kemampuanku. Pasti ini adalah ulah pengidap AA lain.
“Pasukan! Bersiaga atas serangan berikutnya!” seru pimpinan pasukan tentara hitam ngotot memberikan komando.
Seorang pria di depanku menempelkan mulut pistolnya pada dahiku lebih lekat lagi. “Kalian memang tidak boleh hidup,” katanya seraya perlahan menarik pelatuk. Aku hanya memandangnya datar. Kenyataanya aku sudah terima jika akan berakhir di sini. Setidaknya aku telah berjuang keras untuk bertahan hidup. Maka aku menguatkan batinku menghadap kematian di depanku.
Dalam detik menatap ajalku, ketika aku telah merasakan jilatan sang ajal yang dingin bertiup menyusup ke dalam dada ini, seekor puma hitam melompat entah dari mana menerkam lengan pria di hadapanku. Sepasang mataku dan mata kehijauan puma itu saling bertemu. Rahangnya yang menggigit tangan berbalut seragam berkain tebal hitam itu sekilas terlihat tersenyum.
Dalam gerakan cepat, tentara hitam yang hendak menyerangku terseret, tertarik oleh energi kinetik dari terkaman sang puma. Dengan keras tentara itu jatuh terpelanting jauh ke samping kiri sedang senjatanya terlempar. Seketika semua pasukan tertuju perhatiannya pada binatang asing itu. Mereka mengepungnya dan mulai menekan pelatuk senjata mereka. Sudut mataku menangkap sekelebat wujud hitam terbang melesat ke atas keluar dari lingkaran mereka dengan cepat. Dan pasukan hitam itu malah saling tembak. Peluru mereka bukannya bersarang pada tubuh sang puma malah menyasar pada kawan seberang mereka.
Ah, rupanya puma hitam sebelumnya telah berubah menjadi rajawali yang. melayang-layang di atas pasukan yang terkapar bersimbah darah. Di sisi lain, aku menyaksikan pasukan tentara hitam tersapu diterbangkan oleh angin yang sangat kencang. Sedang tak jauh bergeser posisi dari mereka, peleton tentara hitam kalang kabut menghindari tank yang berjatuhan.
Belum puas mataku menyaksikan, mendadak percikan listrik tercipta di hadapanku. Menjadi penonton sangatlah menghibur. Kecuali jika kita berada ditengah-tengah pertempuran. Namun sebagai pengalih perhatian, perempuan mengambil peranan penting. Bicara apa aku ini. Apa mataku mulai ngelantur? Sesosok gadis berperawakan remaja tujuh belas tahun dengan mengenakan jaket hoodie warna krem serta rok pendek hitamnya yang sepuluh senti di atas lutut kini berdiri membelakangiku.
Dengan sabetan cambuk petirnya, si gadis seratus enam puluh senti menepis pasukan yang mencoba menyerangku. Dia berlagak melindungiku. Serangannya begitu anggun namun dahsyat. Aku yang berada sangat dekat dengannya sampai harus menutup telinga.
“Cepat bereskan, Ketua!” Serunya pada burung gagah yang mengudara di atas kumpulan pasukan hitam. Suaranya terdengar manis. Saat itu juga dadaku berdesir. Apa mungkin karena percikan dari listriknya?
Sang burung menukik ke arah sekumpulan pasukan hitam yang tengah menembakinya dari bawah. Di udara, tubuhnya beranjak membesar. Kepalanya mewujud menyerupai kepala kadal begitu pula kedua kakinya. Sampai akhirnya keseluruhan wujudnya menjadi T-rex setinggi lima meter berpigmen hitam dengan belang merah di punggungnya berubah motifnya. Motif berbentuk seperti kupu-kupu berwarna merah dengan inti tato berpendar merah pula. Hewan perkasa itu menendang serta menghantam pasukan tentara hitam mirip seorang runner dalam tim rugby. Orang-orang keji dengan niatan membunuhku sebelumnya kini kocar-kacir menghadapi serangannya. Tak berdaya menghadapi raksasa prasejarah.
“Ke sini, Ketua!” Panggil gadis manis berkemampuan listrik berparas oriental itu. Rambut pendek sebahunya berkibar teraliri serabut listrik dinamis.
Sang T-rex menghampiri kami berdua bersama hentakan kakinya yang menghasilkan gempa kecil. Dia melibas pasukan hitam di sekeliling kami dengan sundulan kepala, sabetan ekor, serta tubrukan kakinya kemudian berhenti berdiri di dekatku.
“Beres Mary,” ucapnya dengan suara berat sambil bergetar leher berkulit tebal bergelamir itu dan membuatku ngeri.
Perhatianku tercuri oleh sebuah lubang hitam melayang di hadapanku. Muncul begitu saja seperti sudah berada di situ selama ini. Warna gelapnya yang bertabur aurora ungu seakan menarik jiwaku ke dalamnya. Permukaannya yang entah harus kusebut apa, yang tadinya tenang kini meletup-letup seperti gelembung yang mengumpul. Bola misterius itu membesar dalam waktu singkat kemudian menelanku.
Seketika, pandanganku menjadi gelap.