
Pertarungan puncak antara dua tokoh organisasi AA paling berpengaruh tinggal menunggu ditabuh genderang perangnya.
Abraham bersama sepuluh Aila elit UG yang dipimpinnya kini berada di atas halaman tempat sebelumnya terdapat bangunan putih megah yang terkenal sampai ke pelosok dunia. Namun, yang mereka dapati kali ini bukanlah pemandangan White House yang indah. Melainkan sebuah kapal induk besar yang terparkir, atau lebih tepatnya menjadikan White House beserta pelatarannya bagai dendeng sapi sebagai alasnya berlabuh.
Dan apa yang akan mereka lawan, berdiri dengan gagah sepuluh meter dari mereka dalam teduh bayangan sang kapal induk yang lambung bawahnya ringsek.
Mereka saling tajam memandang, mengamati diri lawan satu sama lain. Sampai ketika para aparat keamanan negara serta kesatuan Anti-Crisis dan prajurit khusus mereka mengepung, barulah kedua kubu UG dan RR melemparkan pandangan.
Kendaraan-kendaratan militer kelas berat dikerahkan tak tanggung-tanggung mengepung area pelataran White House tempat kedua kubu organisasi AA saling berhadapan. Mesin-mesin terbang pemburu kedamaian mengitari mengawasi mereka dari langit.
Kemudian, komando peluncuran senjata maut dikumandangkan dan setelahnya rudal-rudal serta apapun yang dapat membinasakan manusia melesat ke arah mereka.
Namun sayang, umat manusia memilih lawan yang salah. Sebelum senjata perenggut nyawa menghempas para Aila, pria paling berpengaruh dalam kelompok revolusi RR menurunkan titahnya.
Dengan telepon genggam yang dikeluarkan dari saku jubah merahnya Jordan berucap, “Anna, waktunya main ...”
Itu yang dikatakannya. Tiga kata sederhana kepada seseorang yang entah berada di mana. Namun, kalimat ajaibnya memutar balik keadaan. Seluruh rudal, mortir, peluru atau apapun yang dilancarkan pada mereka oleh tentara manusia kini dikembalikan pada tempat awalnya diluncurkan. Melibas mereka para tentara malang dalam keterkejutan serta ketakutan dan kekacauan yang mencoba melarikan diri namun ajal lebih cepat menjemput dan kengerian masih saja berlanjut.
Entah kuasa apa yang dimiliki orang suruhan Jordan Nickel sang pemimpin RR. Namun karena kemampuannya, semua kendaraan militer berat yang menapak di atas tanah kini dihempaskan ke langit sementrara pesawat tempur yang mengarungi udara dijatuhkan ke bumi.
Atmosfer mencekam bercampur takjub dan ngeri mendera para Aila UG.
Usai semua itu, kendaraan militer darat yang terhempas ke langit kini dijatuhkan ke daratan di sekeliling mereka. Hujan puing menebari seluruh area Monumen Washington. Abraham beserta para Aila tim elitnya teruji keteguhan tekad mereka ketika menyaksikan kehancuran masif dan ledakan-ledakan yang meluluh lantak.
Inikah kiamat?
“Apa pria Arloji Perak yang mengirim dirimu? Abraham?” tegur Jordan merebut perhatian Abraham beserta para anak buahnya.
Dengan suara tersamar oleh topeng masker hitamnya Abraham membalas, “Tidak. Kedatanganku murni untuk menghentikanmu. Tanpa dorongan dari pihak manapun.”
Jordan yang memiliki bekas luka di dahi itu lantas menjawab, “Jika begitu ... langkahi dulu para panglimaku.” Tukasnya seraya beranjak dari reruntuhan White House, bersama sulur-sulur baja yang salah satu panglimanya ciptakan dengan menggaruk lambung kapal induk di dekat mereka. Naik meninggalkan Abraham ke atas geladak kapal induk bersama seorang anak buahnya yang berjubah tudung merah serba tertutup.
Empat orang yang dimaksud pemimpin RR sebagai “panglima”-nya kini berhadapan dengan Abraham beserta timnya. Sebelum masing-masing dari mereka melakukan serangan, Mary muncul di samping Abraham melalui lubang dimensi yang tiba-tiba mewujud dan katanya pelan, “Ab, biar aku saja yang memimpin di bawah sini. Kau pergilah susul Jordan.”
Abraham menoleh. Sejenak ditatapnya Mary sembari berpikir. Raut-raut kepercayaan diri nampak tersirat secara gamblang pada gadis yang telah bersamanya semenjak awal dia mengajaknya bergabung dengan UG. Abraham memejam lantas membuka matanya kembali, “Baiklah Mary. Aku serahkan mereka padamu.”
Sesingkap senyum simpul Mary hadirkan, “Iya, percayakan padaku.”
Lantas dengan sigap Abraham melesat sebagai burung elang hitam, terbang mendaki kapal induk.
“Tidak semudah itu!” Seru seorang panglima pria RR paling kurus dari kawannya. Sebuah batu dilemparkan ke arah Abraham yang tengah melayang naik namun Mary dengan bakat Dimentioneater-nya melahap serangan itu, lalu dimunculkan kembali bola dimensinya di dekat mereka.
Pria panglima RR paling kurus berteriak lantang, “Awas menyingkir!”
Belum genap mereka berempat melangkah pada ayunan kelima, batu segenggaman tangan yang telah dikembalikan Mary meledak melontarkan material-material penyusunnya. Tanpa pijaran api, tapi merebakkan debu kusam sebagai efek setelah letusannya.
Namun, mereka para empat panglima RR sudah cukup berpengalaman dalam bertarung. Serangan kejutan seperti tadi telah sigap mereka hadapi dengan baik.
“Sepertinya kali ini kamu tidak dapat melempar sesukamu lagi, Paul.” Ujar pemuda berambut gondrong berkemilau coklat silau oleh cahaya matahari. Dibantunya si pria kurus pelempar batu ledak untuk berdiri. Kemudian dia melemaskan jemarinya sendiri sembari tersenyum lebar, “Biar aku yang membereskan gadis pirang cantik itu.”
Bunyi sesuatu bagai kerikil terlempar terdengar. Dalam sekejap pemuda gondrong coklat berpindah tempat. Dia menangkap leher jenjang Mary dalam genggaman sebelah tangannya. Tubuh Mary terangkat dari tanah dan sang pemuda gondrong panglima RR yang mendecapkan lidahnya secara menjijikkan itu terkekeh menyaksikan Mary merintih atas cekikannya.
***
Di atas sebuah paparan luas buritan sebuah kapal induk, Abraham mendaratkan kakinya. Entah percaya diri atau memang dia telah memiliki rencana, Abraham menghadap sang pemimpin RR yang didampingi seorang misterius hanya seorang diri.
Tiupan angin berhembus tatkala Abraham mulai melangkah mendekat pada mereka berdua, menyibak ke samping jubah hitam khas tim Rescue UG.
Jordan berkata seraya melihat kedatangannya, “Kau meninggalkan bawahanmu bertarung dengan para panglimaku? Yakin?”
“Aku percaya pada mereka.” Abraham mantap berjalan mendekat.
Langkah Abraham terhenti ketika jarak mereka hanya sejauh enam meteran lagi. Matanya memejam sedang wajahnya menghadap langit kemudian setelah mengambil napas, ditatapnya Jordan dan melalui masker respirator hitamnya Abraham menjawab, “Mari kita hentikan semua ini, Jordan. Semua ini tidak akan ada gunanya. Kau hanya menebar kerusakan dan penderitaan dengan perangmu.”
Jordan membuang napas jengah, “Kau tidak berubah. Tetap naif dan munafik.”
“Kau pun sama saja! Tetap arogan dan tidak mau mendengarkan!”
“Cukup Abraham!” bentak Jordan, “jika itu maumu untuk menghentikanku di sini, baiklah. Tapi hadapi orang ini terlebih dahulu. Aku yakin kau pasti telah mengenalnya baik.”
Sosok misterius yang dimaksud Jordan mulai membuka tudungnya perlahan. Senyum seringainya nampak sarat arti sedang pada wajahnya terhiasi oleh kacamata persegi. Dan atas apa yang pupil-pupil mata Abraham kini saksikan, dia terhenyak sembari memasang raut muka yang sangat geram.
“Isaac!” Serunya dengan sorot mata murka.
Pemuda berkacamata setahun lebih muda dari Abraham itu tertawa cekikikan. Tampangnya yang identik dengan Abraham membuat siapapun pasti mengerti bahwa mereka terikat hubungan darah. Isaac, adik laki-laki Abraham dengan tubuhnya yang lebih ramping dari kakaknya dan berlesung pipi itu menyapa, “Hello kakak, bagaimana kabarmu?”
“Aku mencarimu selama ini! Dan apa yang kudapati dalam pencarianku adalah teror mengenai orang-orang yang kehidupannya dihancurkan olehmu! Dasar biadab!”
“Kakak, kakak ... Kenapa kau mengatakan hal keji seperti itu?” Isaac menjeda kalimatnya untuk menyematkan tawa cekikikannya. “Tidak rindukah kau terhadap adik tersayangmu ini, ooh kakak?” pungkasnya dalam intonasi naik-turun.
“Kau membunuh dan merubah ayah serta ibu menjadi monster!!” Gertak Abraham terlampau keras. Dalam gema amarahnya dia berlari menyongsong sang adik.
“Monster!? Aku cuma membuat mereka berdua menjadi seperti kita! Terlebih, kita semua ini adalah monster sejak awal!” seru Isaac tak kalah lantang. Balas menuju Abraham dengan larinya.
Abraham melayangkan tinjunya ke arah muka sang adik. Namun gerakan gegabahnya disambut Isaac dengan sabetan ekor besar menyerupai kadal yang dicambukkan pada punggung Abraham dari atas dan membuatnya terkapar tengkurap hingga saking kerasnya benturan, aspal landasan pesawat kapal induk tempat mereka berada retak merekah.
“Lihatlah sekarang, kakak! Impian dunia dimana para pengidap AA dan manusia hidup damai berdampingan hanyalah omong kosong belaka. Kami, Rebellion Round adalah jalan keluarnya! Kami akan menciptakan dunia dimana orang-orang seperti kita dapat hidup bebas secara merdeka menggunakan kemampuan unik kita!”
Abraham terdiam masih dalam tindihan ekor reptil raksasa di atas punggungnya. Wajahnya terbenam ke dalam retakan aspal. Beberapa kali kedua tangannya bergerak meraba, mengumpulkan kekuatan pada telapaknya, kemudian ditekankan kedua lengannya pada landasan geladak kapal induk. Perlahan Abraham bangkit berdiri di hadapan sang adik yang berjarak dua meter darinya. Jaringan otot nampak melintangi puncak dahi dan punggung tangannya.
“Impianku bukanlah omong kosong. Kalianlah penghalang mimpi itu untuk terwujud.” Kini Abraham telah setengah berdiri, kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Kepalanya cepat mendongak menatap adiknya, “Dan kau adikku yang bodoh! Aku akan menyadarkanmu di tempat ini dengan tamparan yang teramat keras! Walau harus remuk tubuhku aku akan menyeretmu ke hadapan pusara kedua orang tua kita!”
Ekspresi Isaac berubah drastis setelah menyaksikan keseluruhan wajah sang kakak. Masker respirator hitam yang sebelumnya Abraham kenakan telah hancur dan tertinggal di permukaan aspal yang rompal.
Dengan perkataan yang sedikit terbata Isaac berucap, “Ka- dirimu ... sudah rusak. Genetikmu telah tercemar!”
Kedua mata Abraham terbuka penuh. Dia baru menyadari bahwa kini keseluruhan wajahnya terekspos sembari melirik pada masker respirator hitamnya yang tergeletak pecah belah di dekat pijakannya.
Abraham yang telah terlanjur tidak peduli lagi dengan penampilannya yang telah kadung tersingkap kini berdiri tegap. Setengah wajahnya yang telah berubah dari batas pertengahan pipi ke bawah dagu nampak mengerikan. Deretan giginya yang menyerupai barisan pisau belati mirip pada dinosaurus pemakan daging. Terbuka tanpa penutup kulit. Memperlihatkan warna khas merah tua urat-urat otot rahang.
Isaac yang telah puas memandang wajah buruk rupa sang kakak dengan lancang menyabetkan ekor kadalnya. Namun kini serangannya ditahan dengan enteng oleh sebelah tangan Abraham yang telah mewujud dengan cepat menjadi lengan kekar berkulit badak.
Lekas ditariknya keras ekor kadal sang adik hingga putus mengucurkan darah. Dilemparkan ke samping bagiannya yang terputus ke atas aspal landasan, yang kemudian bergerak menggeliat menjijikan diiringi jeritan pedih Isaac.
Isaac melompat mundur dengan hentakan kedua kakinya yang telah bermutasi menyerupai kaki kanguru. “Sekarang kau benar-benar tidak menahan diri?” rintihnya. Darah yang mengucur dari ekornya yang terpotong telah terhenti.
Tanpa menjawab, Abraham segera menjelma sebagai badak bercula dua menderapkan larinya menuju sang adik yang tengah memulihkan diri. Namun, Isaac yang sedang dirundung perih pada luka buntungan ekor di bagian belakang tubuhnya tak merasa gentar.
“Jangan sombong! Kekuatan kita serupa!”
Tinjuan dari lengan Isaac yang membesar sebagai kaki gajah menghantam kepala badak Abraham. Tubuh Abraham dalam wujud badaknya terpelanting menimbuk aspal keras. Isaac kini memperbesar kedua lengannya menjadi berotot melebihi lengan para binaragawan terbesar yang pernah ada. Dibalutinya lagi dengan bakat mutasinya meruncing laksana gading.
“Mati! Mati! Mati! Aku membencimu hingga sampai ke tulangku! Kenapa selalu kau!? Kenapa!?” Gebukan demi gebukan Isaac layangkan dan tusukkan pada diri badak Abraham yang terbaring tak membalas.
“Kenapa!? Katakan! Kenapa kau yang selalu mendapatkan semuanya!? Kasih sayang mereka berdua! Pujian di sekolah! Serta perhatian darinya!?” Isaac mengumpatkan dendam kesumatnya diiringi hunjaman tinjuan super kerasnya kepada Abraham. Jordan yang menyaksikan pertarungan mereka berdua hanya memandang dingin dari jarak tiga puluh meter.
“Orang-orang tidak pernah melihatku! Selalu saja mereka lontarkan kata-kata terkutuk itu membandingkan diriku denganmu! Dan kau hanya tersenyum lebar seolah tanpa dosa. Menimpali dengan celoteh basimu sementara aku masih berada di dekatmu! Enyah sana dengan senyum hinamu, kakak sialan! HAAAARGH!!!” Pekik nyaring Isaac benar-benar meluapkan kemarahannya yang terpendam selama ini. Tinju pamungkasnya menghantam Abraham dengan seluruh tenaganya yang ada kemudian terdengar bunyi patahan yang keras dan tempat mereka berdua bergelut tiba-tiba runtuh. Bersama reruntuhan landasan, Isaac serta Abraham jatuh ke dalam gelap.