Aila Ability

Aila Ability
PHASE 21: Ancaman



Mary tak berkutik dalam cekik tangan pria gondrong salah satu panglima RR yang menangkap lehernya tiba-tiba dalam sekedipan mata. Dia mengangkat tubuh Mary tinggi dengan salah satu lengannya yang kuat itu, menatapnya sensual, mengecupkan bibirnya sesekali kepada angin lalu berkata, “Ayo meronta lebih kuat lagi, gadis pirang. Atau jika kau mengangguk setuju mau menjadi kekasihku, maka aku akan melepaskanmu ...”


“Mary!” Seru rekan-rekan UG-nya hendak membantu. Namun pria gondrong itu melemparkan tatapan mengancam pada mereka bersepuluh.


“Kalian mendekat satu langkah lagi, akan kupatahkan lehernya!”


Apa boleh buat. Mereka terpaksa berhenti pada langkah kedelapan. Harus merelakan menyaksikan Mary tersiksa sesak napas meronta-ronta tak berdaya berusaha mengenyahkan tangan terkutuk yang menyakiti kerongkongannya. Namun, jika mereka melanggar apa yang pria gondrong RR itu katakan, pastilah nanti leher Mary akan benar-benar patah. Mereka tahu betul, omongan si pria gondrong panglima kelompok AA paling anarkis bukanlah sekedar gertakan sambal. Karena RR adalah tempat bagi sekumpulan Aila kurang waras.


Si pria gondrong kembali menatap gadis pirang buruannya, “Bagaimana? Mau jadi kekasihku?”


Mary yang tak menggubris tawaran pria bejat di hadapannya, dia memejam mata sembari meringis. Namun, sedetik setelah matanya terbuka dan memancarkan ketegasan menatap pria gondrong itu sembari menyeringai kecil, laki-laki RR itu lenyap dan Mary terdorong ke belakang.


Terlampau cepat untuk ditangkap mata. Yang dapat ditangkap oleh salah satu indera hanya derikan batu kerikil yang terlempar. Mary kini kembali berpijak namun disertai bola-bola dimensinya yang melayang di sekitarnya. Di lain sisi, pria gondrong itu telah berpindah ke posisinya semula bersama tiga kawan panglima RR-nya dengan disahuti pertanyaan atas keadaan dirinya.


Darah menetes ke atas pepuingan yang dipijak si pria gondrong yang kini meringis menahan pedih pada pundak kanannya yang cuil sebesar bola tenis.


Dia merintih dalam keberangan yang teramat sangat, “Gadis pirang keparat ... kau sengaja menjebakku, ya?”


Mary tersenyum mengangkat salah satu tangannya rendah mengelus lehernya yang kulitnya memerah bekas tercengkeram jemari, “Dan karena hal itu, kini kami dapat mengetahui kemampuan bakatmu adalah teleportasi. Bahkan, jika kulihat dari reaksimu dan bunyi aneh kerikil ketika kau menghilang, jenis teleportasimu adalah pertukaran tempat dengan posisi benda mati dalam lingkup sekitarmu, kan?”


Pria gondrong itu menggeram menatap penuh dendam. Atas kecerobohannya, secara tidak langsung dia menguak kemampuannya kepada musuh. Dengan ini tiga kemampuan AA dari mereka berempat telah terkuak: Erwin yang berbakat mengendalikan logam menjadi untaian lembar sulur baja; Paul yang berbakat meledakkan apapun benda mati yang disentuhnya; dan Saron, pria gondrong yang berbakat teleportasi barter posisi dengan benda mati di sekitarnya.


“Ayo maju Paul, Saron. Setelah kejadian barusan kita tidak boleh memberi waktu lebih banyak lagi kepada mereka untuk bersiap menghadapi kita!” Gugah Erwin kepada si pria ledak serta si pria gondrong Barterport.


Meski kemampuan bakatnya-lah yang paling pertama terkuak, Erwin maju menantang sepuluh Aila elit UG. Mary berada paling depan dari kawanannya melesatkan bola-bola dimensinya kepada pemuda itu. Namun bukannya mengelak, Erwin malah memasukkan kedua tangannya ke dalam jubah merahnya.


Bola-bola hitam pekat Mary nyaris akan mengenainya, tetapi kesemua bulatan dimensi itu bertolak menyingkir dari lajur lari Erwin dan melahap ke arah yang seharusnya tidak Mary tujukan.


Mary yang belum mengerti atas apa yang terjadi kini terancam balik. Erwin dengan cekatan menjeratkan jaring terbentuk dari lempengan baja dari balik jubah merahnya. Melilit tubuh Mary teramat erat hingga dia terjatuh menimbuk tanah tak dapat menggerakan anggota tubuhnya.


Salah satu gadis dalam tim yang Mary pimpin menyusul menghadap Erwin. Gadis berkulit kuning langsat dan berpotongan rambut di atas bahu yang disemir kemerahan. Dia Xiaoai, gadis dari UG cabang Eropa yang lekas melemparkan jubah hitamnya kepada Erwin dan sekejap, jubahnya meluas bak setetes minyak jatuh di atas permukaan air. Memerangkap pria bermodel ramput samping yang dikerat tipis sementara rambut atasnya dijabrik.


“Cobalah yang lebih baik lagi, gadis UG amatir!” Cemoh Erwin, dia merobek jubah yang nampak seperti parasut terlungkup itu dengan bilah-bilah cakar pipih dari logam ciptaan bakatnya.


Namun Xiaoai menyambutnya dengan lemparan koin satu sen yang dengan cepat membesar seukuran roda mobil menghantam Erwin yang angkuh jatuh bergulingan di atas tanah.


“Bagaimana dengan yang barusan?” celetuk Xiaoai. Sedang dalam kesempatan ini Mary menciptakan bola dimensi kecil dari tiupan mulutnya. Diserempetkannya pada temali baja yang melilitnya. Dan dia Mary, gadis pirang paling tersohor di lembaga UG kembali bangkit bergabung memimpin kelompoknya.


Kelompok gabungan UG lawan panglima RR. Sepuluh lawan empat. Jelas tidak sebanding. Namun bukan masalah kuantitas semata dalam pertempuran yang menentukan siapa yang memegang kendali.


Satu-satunya wanita dari empat panglima RR itu menggelengkan kepala payah pada seorang rekannya. “Erwin, jangan bilang kalau kau tumbang sekali serang. Oleh wanita ...”


Pria jangkung 178cm berpotongan rambut yang gaul itu, berkedut sebelah kelopak matanya. “Maaf, Rossa. Cuma kaget saja.” Balasnya sembari bangkit mendekat pada wanita pirang berponi panjang menutupi sebelah matanya.


“Jadi ... lakukan seperti biasa. Bermain dengan bocah-bocah ini tidak akan memakan waktu yang lama.” Pungkas wanita bernama Rossa. Perawakan tubuhnya yang semampai bagai model melebihi tinggi Mary serta berparas maskulin menunjukkan kharismanya sebagai pemimpin.


“Siapa yang kamu panggil bocah? Tante rambut pirang ...” Celetuk salah satu pemuda dalam tim Mary.


Rossa menanggapinya dengan tersenyum. Bibir merahnya yang merekah nampak menggoda. Dia berucap dalam intonasi mengundang syahwat, “Tante? Tidak sopan, aku belum mencapai tiga puluh tahun. Karena kamu seperti tersinggung aku panggil bocah, coba kemarilah, serang aku dari arah mana saja sesukamu. Kakak ini tidak akan melawan. Buktikan kemampuanmu ...”


Mary menatapnya tajam, merasa tak enak pada gelagat wanita yang menganggap enteng mereka. Tapi mengingat akan kemampuan Rossa yang belum jelas, membuatnya berpikir beberapa kali untuk bergerak. “Charlie, jangan termakan perkataannya.” Katanya pada pemuda Kanada berambut lebat warna bata di belakangnya.


“Lalu kita selayaknya bagaimana? Menunggunya menyerang dahulu?”


Mereka bersepuluh saling menatap. Mary yang berada paling depan dari mereka terdiam memikirkan siasat demi mengatasi empat panglima RR di hadapan mereka dalam cara yang efektif. Namun tampaknya, mereka tertinggal satu langkah.


Saron bergerak cepat menteleport dirinya di tengah-tengah kelompok Mary. Namun dia segera menteleport dirinya kembali. Menukar posisi dirinya dari tengah-tengah kelompok Aila UG itu dengan sebongkah puing bangunan seukuran sepeda motor yang besi-besi konstruksinya mencuat. Yang telah disentuh oleh si pria ledak Paul sebelumnya.


“Oh sial! Cepat menyingkir!” Pekik Charlie.


Dalam kepanikan akan sesuatu yang mendadak muncul dan pasti akan meledak di tengah-tengah mereka, sikap bijak yang perlu diambil pastilah menjauh secepat yang mereka bisa.


Namun tidak dengan Mary, dalam pikirnya melarikan diri sekarang tidak akan bisa melindungi mereka dari dampak buruk yang akan terjadi. Lantas dilepaskannya kepada benda itu, sebuah bola pelahap dimensi berdiameter seukuran puing tersebut. Tapi karenanya, Mary mengacuhkan sesuatu yang sangat penting dan berbahaya. Wanita panglima RR yang melayangkan seringai kecil melihat tindakannya.


Pecahan materialnya terlempar ke berbagai arah. Seperti bom jarum, kepingan-kepingan berbahaya yang dapat dengan mudah menembus tubuh manusia menyebar disertai kabut debu bagai menebah kasur-lama dalam sekali pukulan keras. Menelan kesebelas Aila elit UG termasuk Mary dalam radiusnya.


Lantas Erwin sang panglima RR bertipe bakat elementor besi itu di tepian luar kabut melancarkan serangan tambahan. Kesepuluh jari tangannya direnggangkan lekas ditunjukkan pada kabut debu. Dari ujung jemarinya melesat bagai peluru temali tambang baja berdiameter setengah senti nan tajam ujungnya bagai pensil yang diraut. Kesepuluhnya menghujam lurus ke dalam kabut debu ledakan. Terus mengulur hingga berhenti lantas tertegang, tanda mengenai sesuatu.


“Sepertinya aku mendapatkan mereka.” Lapor Erwin tersenyum puas.


Wanita pirang maskulin bersetelan seragam militer merah sebagai atasan serta celana jeans hitam yang robek di bagian kedua lutut menyilangkan kedua tangannya, “Seperti apa kataku sebelumnya, cuma butuh waktu yang sebentar untuk meladeni mereka.” Kata Rossa pada Erwin sembari membalas senyum bangga.


***


Terik siang menyusup melalui celah robekan besar di langit-langit logam yanag padat dan berlapis-lapis serta luas. Sedikit serong jatuhannya menerangi ruangan besar mirip hangar dengan isinya kendaraan perang lapis baja. Terlihat di sekitar tempat itu ratusan mayat berseragam marinir terkapar saling tindih bagai ikan mati. Beberapa puluh dari mereka yang selamat nampak bergerak menjauh sembari merintih atas cidera pada bagian tubuh mereka yang gawat. Menjaga jarak dari dua sosok yang tiba-tiba jatuh dari atas mereka.


Sesosok tubuh dalam wujud badak yang berangsur-angsur berjalan dengan kedua kaki belakangnya berkata pada para marinir di sekitarnya yang masih bernyawa, “Cepat keluar dari tempat ini!” dan bagai kucing yang disentak oleh orang asing, mereka segera mematuhi Abraham. Saling bantu terhadap kawan mereka untuk enyah dari hangar luas tersebut. Keluar melalui patahan yang cukup besar pada lambung kapal induk mereka.


“Di saat seperti ini kau masih memikirkan manusia-manusia lemah ini?” serobot Isaac diikuti serangan sabetan ekor kadal Stegosaurus yang bercula ke samping tubuh Abraham tak tanggung-tanggung.


Abraham dalam wujud badaknya terlempar menghantam dinding-dalam lambung kapal hingga menimbulkan gema yang nyaring. Dengan masih tersangkut pada cekungan ringsek lempengan logam dia menjawab, “Justru karena mereka lemah, aku melindunginya!”


“Sangat naif!” Geram Isaac. Dengan hentakan kedua kaki mutan-nya dia melompat menerjang  tempat Abraham berada.


Abraham merubah lapisan kulit kedua kaki serta tangannya mengeras bagai cangkang kura-kura. Kemudian  dihentakkan kakinya beranjak melompat dari tempatnya tersangkut, menerjang Isaac yang tengah melaju ke arahnya melayang di udara.


Namun, gerakan cepat adiknya yang merubah kedua tangannya menjadi kaki elang mencengkeram kedua tangan keras Abraham. Membuatnya tak berkutik. Begitu pula Isaac melakukan hal yang sama pada kedua kakinya. Ia cengkeram erat sepasang kaki kakaknya dengan kaki elangnya. Dalam ketinggian sepuluh meter yang terus berkurang mereka saling berotasi pada poros tunggal hingga menyambut pelataran besi dengan Abraham di posisi bawah.


Punggung Abraham menghantam plat besi tebal, namun beruntungnya dia jelmakan tempurung seluas tubuh belakangnya sebelum jatuh. Dan setelah dia mendarat dengan keras, tubuhnya menciut dalam sekejap menjadi ular king cobra lantas cepat menancapkan taring berbisanya pada leher sang adik.


“Aaagkh!! Keparat!” Isaac melompat mundur menjauh dari sang kakak yang kini mewujud kembali menjadi manusia. Gigitan Abraham sebelumnya bukanlah gertakan semata. Efek dari racunnya mulai melemahkan tubuh Isaac. Membuatnya tersujud. Kedua lutut lemas. Kedua pundak gemetar.


“Diamlah di situ,” ungkap Abraham menatap sengit, lalu menengadah memandang lubang asal mereka berdua jatuh sesaat lalu, “sekarang tinggal Jordan ...”


Tapi agaknya Abraham terlalu cepat mengatakannya. Tawa cekikikan tersumbar dari mulut Isaac. “Apa kau benar-benar lupa, Kakak?” Luka gigitan Abraham pada lehernya telah tersembuhkan tak berbekas. Isaac perlahan bangkit dengan sedikit membungkuk dan lanjutnya, “Kemiripan dari kemampuan kita ... tapi meskipun begitu, perbedaan kekuatan kita jelas tak sebanding. Karena aku jauh lebih kuat darimu ....”


Seringai lebar terpampang pada wajah Isaac. Di lidahnya muncul tato aktifasi bakat level lima, Butterfly. Tanda menyerupai kupu-kupu yang berpendar merah darah. “Karena akulah sang Mutator. Mutant yang sebenarnya!”


Mendadak gemuruh bagai air mendidih terdengar dari tubuh Isaac. Dari punggungnya yang meletup-letup mengerikan, yang membesar bagai balon-balon kemudian pecah satu-satu. Dari situ pula, lahir bersama banjir darah bagai ketuban pecah makhluk-makhluk menyerupai kuda bertanduk banteng dan rusa. Sedang dari perutnya yang perlahan membuncit memualkan pandangan yang membusung seukuran perut gajah hingga terlampau besar kemudian meletus, bersama hujan cipratan darah terlahir anjing-anjing bertaring ular.


Tawa Isaac menggema di tempat itu. Tawa seorang yang tidak waras. Tawa yang berantakan ditingkahi penampakan tubuhnya yang bergelimang darah dan bergelambir kantung kulit, yang lekas menciut mengecil kembali semula wujud pria yang sempurna. Di sekitarnya belasan hewan chimera menggeram ganas seraya menggoyang tubuh dari kuyup darah. Pemandangan yang di luar akal sehat itu membuat Abraham mengepalkan kedua tinjunya.


“Lihat aku, Kakak.” Isaac menyeringai terkikik,  “lawanlah anak-anakku ini. Masukilah batas aktivasi AA-mu. Hadapilah aku!” Tantang Isaac mengerahkan seluruh chimeranya kepada Abraham.


“Tidak perlu memasuki mode kontamin hanya untuk meladeni orang sakit sepertimu!” Balas Abraham seraya merubah wujudnya.


Dia perbesar dirinya sebagai beruang grizly. Pada kedua tangannya digugurkan bulunya, digantinya dengan lapisan sisik keras hewan trenggiling. Kedua telapak tangannya dia ambil bentuk tangan tikus tanah dengan cakarnya yang diperbesar, dipertajam. Layaknya pisau pengiris ikan. Tidak berhenti sampai di situ, bagian tubuhnya yang masih terbalut bulu beruang dijelmakannya helaian tersebut menjadi duri-duri landak. Lalu, diri Abraham yang telah berdiri tegak dalam wujud barunya beranjak dari tempatnya dan menerjang para chimera yang berlari ke arahnya.


Dengan hanya satu cakaran sebelah tangan, satu kuda chimera ditumbangkannya. Kelima cakar lengkungnya membelah kepala hewan malang tersebut bagai jely yang disendok. Dengan gesit Abraham mendepak kuda-kuda jejadian itu dengan tenaganya yang buas sembari mengaum marah mendebarkan dada. Tubuh belasan chimera terjagal, terpelanting ke dua sisi ayunan tangan maut Abraham sang Vertemutant. Menciptakan banjir darah yang mewarnai langkah larinya menuju dalang dari hewan-hewan mutasi itu.


Belasan anjing chimera berusaha menghambatnya. Mereka menerkam tubuh beruang Abraham hingga hampir menutupi seluruh wujudnya. Menggigit menikamkan taring ular mereka amat dalam. Amat kuat. Namun, tentu mereka hanyalah lalat bagi dirinya. Abraham memberdirikan seluruh bulu duri tubuhnya, melesatkan seluruhnya. Menghabisi semua anjing chimera sekali serang.


Kemudian, dalam lumuran darah segar, Abraham berjalan sembari satu-satu tubuh anjing chimera jatuh lepas dari gigitan mereka pada tubuhnya. Ketika seluruhnya telah tumbang, Abraham menambah kecepatan langkahnya sampai akhirnya berlari menyongsong Isaac yang memandangnya gentar dan tak percaya, lantas tinju tangan bercakar tikus mondoknya dihantamkan pada diri sang adik.


Terhempas keras menghantam dinding plat logam, tubuh Isaac remuk. Terhimpit di antara dua ringsekan lempeng logam yang mencuat. Tubuh ringkih Isaac mengejang, reaksi destruktif pada serangan buas kakaknya baru terasa. Dia muntah darah namun kesadarannya masih tertinggal.


Abraham yang masih dalam wujud mutan beruang berbulu landak bercakar laksana pisau melangkah mendekat. “Diam di situ, sekarang biar aku bereskan Jordan.” ulangnya.


Isaac tak menjawab, tak memiliki kuasa. Bahkan untuk sekedar mengangkat satu jari pun tak sanggup. Hanya mampu menyaksikan sang kakak yang perlahan melangkah menjauh darinya menuju ke terpaan sinar matahari yang jatuh vertikal dari lubang di langit-langit sepuhan logam deck kapal induk. Kemudian dengan sedikit membungkuk, Abraham menghentakkan kedua kakinya kuat. Masih dalam wujud beruang mutan, melesat keluar dari lubang dengan mata memicing tajam. Menuju ke pertarungan terakhirnya.