
Kilas langit yang kulihat telah berubah. Tanah pijakan telah berganti. Sementara aku masih dalam laju lari serta dorongan tinjuku yang tak terkira, dan tanpa kesiapan kakiku memijak pada sesuatu yang licin.
Aku terpeleset jatuh terguling. Menggelinding di atas sesuatu yang lunak namun lembab serta berbau organik dalam jumlah yang cukup banyak. Enam belas kali terguling menuruni bidang miringnya hingga akhirnya tubuh belakangku menabrak batang pohon. Rasa sakit menjalar ke seluruh punggungku. Sedikit jeda setelah rasa pusing di kepalaku menghilang, kesadaranku kembali waras lalu kuamati sekitarku.
“Dimana ... aku?”
Pertanyaan yang wajar terlontar oleh orang yang hilang arah. Namun, saat ini itu bukanlah prioritas yang pertama kali kupikirkan.
Kacamataku. Oh, untunglah tidak patah walau beberapa goresan terabadikan di kedua lensanya. Tapi sebagai orang yang memiliki kekurangan dalam penglihatannya, kacamata seperti nyawa kedua bagiku. Lebih baik ada daripada buta seperti burung hantu di siang bolong.
Baiklah sekarang ... dimana aku?
Kugunakan baik-baik kelima inderaku. Menangkap informasi sedapatnya, semengerti analisaku. Kicau burung, langkah lari hewan kaki empat khas alam liar mulai sahut menyahut. Melantunkan simponi natural, menggelitik telingaku untuk tidak mengacuhkan mereka. Pepohonan tinggi nan rindang meneduhi lantai hutan yang terdiri dari tanah, pasir, batu dan bagian mati dari tumbuhan.
Tak salah lagi, aku terdampar di hutan belantara. Yah, tapi ini masih terhitung mujur. Maksudku, apa yang lebih buruk ketimbang kehilangan ingatan atas semua hal di UG kemudian terdampar di tempat asing? Cuma karena itu adalah prosedur resmi jika ingin keluar dari tempat itu?
Seketika, air dari langit turun mengguyur deras hutan ini. Membasahi tubuhku hingga kuyup.
“Yang benar saja ....” pandangku ke langit, cerah tapi bulir hujan jatuh menderas. Sesuatu yang janggal kurasakan ketika rintik airnya tertelan masuk ke mulutku, dan rasa asin air laut yang kudapat. Tapi, karena tak mau ambil pusing dengan bergeming kehujanan sambil berpikir, dengan menggunakan jubah hitam tim Rescue sebagai tudung, aku lari berteduh di bawah pohon yang rimbun dahan dan dedaunannya lebat menghambat jatuhan hujan.
Sambil berjongkok mendekapkan kedua lututku ke dada, aku terdiam, merenungi akan melakukan apa setelah hujan reda, sementara hawa dingin perlahan menyerap suhu tubuhku. Mungkin, aku akan tetap seperti ini sampai kekuatan bakatku kembali aktif.
“...”
Tidak. Tidak tidak. Setelah mengetahui semua kebenaran dari monster itu mana mungkin aku akan menggunakannya lagi.
Ha ha, sial. Aku telah terlalu bergantung kepada efek dari penyakit ini semenjak bertemu dengannya. Keparat. Abraham penipu, UG sialan, semuanya palsu.
Deru hujan menemani dalam kesendirianku. Sunyi dan sepi. Kicau burung dan gemeresak semak tak terdengar lagi. Hanya tetes hujan dan tekanan penyesalan yang datang bersama bau hutan serta tanah yang basah.
Beberapa menit berlalu. Kubangan tercipta pada lekuk tanah yang rendah. Bulir hujan jatuh ke atasnya kemudian semuanya bergerak mengalir perlahan menaiki sisi permukaan tanah yang miring.
“...”
Eh? Sepertinya ada yang salah?
Genangan-genangan air bergerak keluar dari ceruk tanah dan mengalir selayaknya sungai kecil melata menaiki bagian hutan yang lebih tinggi. Aku masih di bumi, kan? lantas seharusnya hukum fisika bekerja, kan?
Hukum yang menyatakan bahwa benda cair bergerak mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah sepertinya tidak berlaku atas fenomena di hadapanku ini.
Maka aku ikuti aliran-aliran air itu. Tanpa peduli apa yang akan kutemui nanti.
Aliran-aliran air itu kini bergerak mendatar. Saling menyatu sebagai aliran yang lebih besar dan menuju ke sesuatu. Atau lebih tepatnya menuju pada seseorang yang duduk layu di atas sebuah batu besar bersemak rendah di sekitarnya.
Di tengah hujan yang kini mulai berkurang debitnya, aku mengamatinya dari jarak belasan meter. Di balik sebatang pohon yang menyembunyikan separuh tubuhku. Dia belum menyadari keberadaanku. Dia gadis kurus berambut hitam hampir menyentuh pinggang yang basah kuyup, mengenakan dress putih bertali renda yang menghadap serong padaku, terdiam memandang langit.
“Kak Nadia?...” kataku pelan bergetar. Sebuah nama dari pendaman pengalaman batinku terpanggil tak terbendung.
Kenapa? Kenapa tiba-tiba sosoknya mengingatkan diriku padanya?
Tanpa sadar aku melangkah mendekat. Ranting yang kupijak mengejutkan dirinya. Mata kami berdua bertemu. Saling bertatap selama tiga detik.
“Hei, tunggu!” aku mengejarnya. Langkah lari kami membuyarkan aliran-aliran air yang terkumpul sebelumnya. Dia melompati semak-semak lalu tersandung beberapa kali dan nyaris jatuh sehingga jarak kami semakin dekat kemudian aku menggapai pundaknya.
Aku menjerit terkejut. Mendadak sekumpulan air menggulung di hadapanku selayaknya ombak besar menyeretku ke belakang.
“Tunggu! Aku tidak ingin menyakitimu! Tolong, aku tersesat!” ucapku dengan harap dia memberi belas kasihan namun sepertinya hal itu malah membuatku semakin dijauhinya.
Aku kembali mengejarnya menuruni sisi hutan yang miring dan jarang pepohonan, selepas terbebas dari gulungan ombak di darat yang buyar terserap oleh tanah, lalu suara kibasan puluhan helikopter mengejutkan kami berdua.
Kutambah laju lariku menyusulnya beberapa langkah lantas kugenggam pergelangan tangannya. Membuatnya mengikutiku untuk masuk kembali ke dalam hutan yang rimbun kemudian menubruk tubuhnya di balik semak yang lebat.
“Diam, jangan berisik. Jangan sampai mereka tahu posisi kita berdua!” jelasku pelan padanya yang berontak. Kubekap mulutnya dengan salah satu tanganku. Sementara tanganku yang lain menggenggam erat kedua pergelangan tangannya. Karena dia bersikeras melepaskan diri, aku tindih tubuh depannya dengan berat tubuhku sementara kedua kakiku menahan sepasang kakinya yang menyepak-nyepak.
Mungkin ini salahku karena terlihat seperti sedang melakukan tindakan asusila hingga membuatnya membungkus kepalaku dengan kumpulan air. Kugelengkan kepala, mengangguk keras dan gerakan yang lainnya demi mengenyahkan bola air yang memerangkap kepalaku sementara aku masih tetap membuat gadis di bawahku untuk tetap berbaring. Napasku sesak, serasa tenggelam. Tapi aku coba bertahan paling tidak sampai rombongan helikopter perang selesai melewati kami.
Oksigen terakhir kuhembuskan. Tubuhku yang lemas kehabisan udara terjatuh di samping dirinya tepat ketika deru baling-baling rombongan helikopter telah samar-samar terdengar menjauh. Namun, bola airnya masih menenggelamkan kepalaku. Aku sangat lelah. Terlalu banyak pertarungan dan kalau kuingat aku belum tidur selama dua hari. Aku ... ingin memejam mata sejenak ....
***
“Diaz ...”
“Bangun ... Diaz”
“...”
Sebuah bisikan yang lembut menggaung di dalam kepalaku. Apa seseorang memanggilku? Walau terdengar jelas ... namun suaranya timbul tenggelam.
“Diaz, hei ...”
Perlahan kubuka mata. Bayang-bayang telapak tangan mengayun-ayun di depan wajahku. Telapak tangan ukuran sedang. Tidak besar maupun kecil. Tidak gemuk maupun kurus. Namun, dengan melihatnya saja dapat membuatku mengerti bahwa itu milik seorang gadis.
Kemudian aku menoleh. Demi apapun yang kulihat bersama segenap kerinduan dan rasa tak percaya membanjiri tenggorakanku yang serak aku berkata, “Kak ... Kak Nadia?”
Kuseka mataku dan memejam lalu membukanya lagi namun sosok di sampingku jelas, dia gadis yang aku kagumi. Atau ... lebih tepatnya, yang aku cintai. Kakak perempuan Bintu.
“Iya? Kok kamu kayak bingung dan terkejut? Dik Diaz aneh deh, ha ha” jawabnya tertawa kecil sembari bersikap menutupi mulutnya. Sosoknya sama ketika terakhir kali kami berdua menghabiskan waktu di taman hiburan dulu. Walau sudah jelas pasti kejadian waktu itu tidak akan pernah sirna dari ingatanku.
“Tapi ... tapi. Bukannya Kak Nadia- ...” aku memotong perkataanku sendiri. Terdiam untuk beberapa saat. Kemudian memerhatikan kedua tanganku.
Apa ini nyata? Kemudian aku memandang lurus. Sebuah padang rumput kekuningan setinggi lutut adalah tempat kami kini berdua duduk.
Apa ini mimpi? Bila benar ini hanya khayalanku, tapi sensasi ini terlalu nyata. Sensasi ketika angin sepoi menghembus menerpa kami. Membelai kulit wajahku dengan sejuk.
Penjelasan yang paling masuk akal atas semua hal ini tidak lain adalah ... aku telah mati? Apa ini rupa alam baka?
Sebelum aku berpikir lebih negatif lagi Kak Nadia menyenderkan kepalanya ke pundak kiriku. Membuatku sedikit tersentak bertingkah canggung dengan rasa berdesir di dadaku.
“Kak ... Kak Nadia ...”
“Hm?” tanggapnya bergumam pelan. Dia melanjutkan, mengusap pahaku mesra. “Dik Diaz jahat, ya?”
Ucapannya barusan mebuyarkan desiran canggung di hatiku. Lantas aku meliriknya.
Sungguh aku terjungkal seraya mendorong tubuhnya keras menjauh dariku. Perasaan seperti ketika seolah aku menggenggam es batu namun dalam sekejap menjadi bara api.
“Kenapa? Kenapa Dik Diaz meninggalkan Kakak di tempat itu? Bukannya dengan kemampuan anehmu kamu dapat dengan mudah menghabisi tentara bedebah itu?”
Apa yang aku lihat ini? Bukan, siapa sosok di hadapanku ini? Apa dia benar-benar
Kak Nadia?
“Jawab!” Kak Nadia membentak maju menyerangku. Leherku dicekik. Kuat, sangat kuat hingga aku sekarat.
“Kenapa! Kenapa! Kenapa! Kenapa!?” terus berulang dia katakan dengan amarah kebencian yang tidak pernah aku bayangkan.
“Kenapa kamu membiarkan aku mati membusuk di tempat kotor itu!? Gunakan! Gunakan! Gunakan!” pekiknya, “gunakan kemampuan anehmu itu lebih keras lagi hingga kau mati menyusulku!!” cengkeramannya pada leherku menguat. Aku tak kuasa melepaskannya. Hanya mampu menatapnya kehabisan napas. Menatap paras serta rembesan pada perutnya yang mengalir jatuh membasahi pakaianku dan seketika segalanya di tempat ini bergelimang darah.
Ketakutanku memuncak. Kugenggam pergelangan tangannya, aku berusaha melawan balik. Mencoba bangkit dari tindihan serta cekikannya. “Kamu ... bukanlah ... Kak Nadia yang ku kenal!” seruku berhasil mendorongnya jatuh.
Lantas dengan lantang dan yakin aku membentaknya, “Kak Nadia tidak akan mengatakan hal menyedihkan seperti itu! Dia ... dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan diriku .. serta adiknya! Dia ... dia ...” air mata mengalir turun dari kedua mataku. Aku terisak namun kutegaskan kalimat pamungkasku. “Dia rela melakukan hal itu!” napasku tersengal berat mengisak, “dan ... dia meninggal dengan damai. Kak Nadia tersenyum. Tersenyum! Tanpa penyesalan ...”
Aku berdiri tegap dan menunjuknya, lalu dengan mata terbuka penuh aku membalasnya lagi, “Dan kamu bukanlah dia! Kamu iblis yang meniru wujudnya untuk merusak kenanganku pada sosoknya! Aku ... aku tahu itu! Karena, karena aku mencintainya!”
Peniru yang bersimpuh dua meter di hadapanku terperangah mendengarnya. Kedua mata kami saling menatap lekat. Lantas dia tersenyum, menyeringai demikian puas, “Nikmati perpanjangan waktumu ...” katanya.
Kemudian semuanya menjadi benderang. Sangat terang hingga menelan semuanya.
Aku terbatuk beberapa kali. Rasanya bermili liter tegukan tumpah keluar dari paru-paruku. Ketika aku dapat melihat jelas, siluet gadis yang tak kukenal segera merangkak menjauh. Menyembunyikan dirinya di balik pohon. Walau sebagian tubuhnya terlihat jelas.
Dia berucap gelisah dengan tatapannya yang menaruh curiga, “Kamu ... tidak apa-apa?”
Aku terbatuk dua kali. Muntah air asin setengah teguk. Lalu kupandangi dia dengan wajah yang lelah dan kepayahan. “Hm ... ya. Jadi kamu gadis yang hampir membunuhku serta juga jadi penyelamatku, ya?” ketusku sembari terduduk menyelonjorkan kaki. Mengirup udara.
Hujan telah berhenti. Namun tanah sekeliling kami masih basah. Aku tengadah menyaksikan rintik tetesan air dari dedaunan pohon yang tinggi kemudian menoleh kepadanya yang bersembunyi di balik pohon. Gadis itu tertunduk. Seperti menyesali sesuatu.
Lantas aku membuka percakapan, “Maaf soal yang tadi. Aku juga panik karena rombongan helikopter hitam itu. Aku yakin mereka milik Anti-Crisis. Kamu tahu, kan? Mereka tentara khusus yang memburu dan menghabisi para AA. Jadi ... disaat itu... aku menarik tanganmu tanpa pikir panjang dan menindihmu supaya diam. Sekali lagi ... maaf, ya?”
Dia tak menjawab. Malah mencuri-curi pandang ke arahku. Sampai beberapa saat akhirnya dia keluar dari tempat persembunyiannya yang tidak efektif itu kemudian menghampiriku.
Aku melanjutkan, “Lalu ... bagaimana caranya kamu mengeluarkan air dari paru-paruku? Seingatku cukup banyak yang yang kutelan. Apa kamu jangan-jangan menghisapnya lewat mulutku, ya?”
Seketika sedrum banyaknya deburan air menghantam wajahku. Aku tergagap mengambil napas, “Ugh, maaf! Maaf! Aku tidak sengaja bicara begitu” ucapku guna menenangkannya supaya tidak lari dariku. Namun, malah dia semakin menjadi melayangkan semburan-semburan airnya pada wajahku.
Kututup mulut serta hidungku dan memohon-mohon padanya untuk memaafkanku dan menghentikan serangannya. Sampai dua belas kali sedrum air dia selesai tamparkan pada wajahku baru serangannya berhenti.
Dengan pipi yang tertarik ke atas sedikit memerah, dia berdiri di hadapanku. “Kalau bicara yang tidak-tidak lagi, aku akan pergi!” jelasnya sambil bersidekap tangan depan dada.
Aku mengangguk beberapa kali dengan kedua telapak tangan kuayun seperti memohon ampun. Setelah dirasa dia tak akan menggebyurku lagi baru kutanya dia.
“Jadi ... kita dimana? Maksudku, di pulau apa dan di kota mana?” yah, pertanyaan mendasar. Tapi untunglah setidaknya aku masih di negara asalku.
Aku memandangnya. Namun, entah kenapa aku menangkap raut-raut kegelisahan di wajahnya. Dia beberapa kali menggaruk kepalanya dengan satu jari. Kemudian balik menatapku bingung. Bibirnya bergerak-gerak nampak enggan untuk bicara namun akhirnya dia menjawab, “Tidak tahu ...”
“Hm ... tidak tahu, ya? Aku baru dengar kalau ada nama wilayah seperti itu ... eh? Tidak tahu!?”
“Ya, ya ...! aku tidak tahu! Aku sebelumnya itu lari dari kejaran mereka. Tentara jahat itu. Sampai akhirnya aku sampai di hutan ini. Mungkin ... aku lari terlalu jauh.”
“Kamu itu bodoh, ya?” celetukku tanpa disadur terlebih dulu.
Dan serangan ketigabelasnya menyambar kepalaku. “Uhuk ohok hugh ohoghk. Maaf, maaf.” Aku terbatuk basah empat kali. Beberapa mili liter air memasuki kerongkongan serta hidungku.
“A ... aku tidak mau mendengarnya dari orang yang juga tidak tahu di tempat mana dia sedang berada!” tanggapnya menatapku sengit dan tersipu namun tetap menjaga harga dirinya dengan tetap bersidekap.
“Oke. Oke, terserah. Tapi ... minimal kamu tahu kita sedang di pulau apa, kan?”
Dia membisu lima detik. Beberapa kali mengalihkan pandangan kemudian menatapku kembali. “Kalimantan ...” Jawabnya menurunkan nada.
“Kalimantan, ya...”
Entah kenapa senyum kecil tersungging dengan sendirinya oleh bibirku. Mengingat akan sosok Jim, rasanya seperti dia masih memiliki belas kasih padaku. Maksudku, bisa saja dia melemparku ke gurun pasir atau padang es tak berpenghuni untuk membuatku mati perlahan. Tapi itu tidak dilakukannya.
Aku bangkit berdiri menebah celana panjangku yang basah tertempeli tanah dan daun mati. Kuperhatikan pepohonan sekitarku dan mulai melangkah menuju arah yang ditunjukkan lumut yang tumbuh di salah satu batang pohon yang kelihatan paling tua.
Gadis berbakat elemen air mengikutiku. “Eh, mau kemana? Tunggu,” katanya.
“Mencari peradaban.”
“Maksudmu perkampungan?” jawabnya namun aku diam saja. Aku fokus mencari jalan yang dapat dilalui manusia tanpa harus menguras banyak energi.
“A ... aku ikut!” lanjut gadis di belakangku kemudian berjalan di sampingku. Sedikit menjaga jarak semeter. Masih saja mencuri-curi pandang.
“Kenapa? Aku terlihat seperti orang jahat, ya?”
Dia tersentak lalu menurunkan pandangannya. Kemudian menoleh padaku, “Tidak, bukan begitu. Cuma ... aku pernah lihat jubah hitam itu entah di mana ...” jelasnya dengan nada lembut. Walau suaranya tidak selembut dan semenggugahKkak Nadia. Tapi perbedaan mendasar dari keduanya adalah ... dalam suara gadis ini, seperti digantungi kegelisahan dan rasa tidak percaya.
Lalu aku berpikir, bila gadis ini sampai bertanya begitu tentang jubah yang kukenakan, bisa saja hal ini jadi masalah untuk nanti. Yaitu jubah hitam paling tersohor di UG dan mungkin cukup familiar di kalangan Anti-Crisis dan mayoritas orang.
Kelenjar ludahku bereaksi. Mengingat kata UG membuat sebelah kelopak mataku berkedut. Membuatku teringat kembali akan semua kepalsuan besar yang tersimpan di dalamnya. Lalu, dengan gemuruh dalam hati dan mata yang sengit aku melepas jubah yang telah melekat pada kalbuku ini dan membuangnya begitu saja.
Dia berkata, “Eh? Kenapa? Kok malah dibu-”
“Ngomong-ngomong ... namamu siapa?” potongku.
Bibirnya yang ranum masih terbuka hendak melanjutkan kalimatnya, tapi sepertinya dia mengerti arti dari reaksiku.
“Namaku ... Alissa.”
“Alissa ... namamu bagus. Aku Diaz.”
Alissa tersenyum kecil, “Terimakasih ... Diaz ...” balasnya pelan dan itu adalah penutup perbincangan kami berdua. Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari kedua mulut kami. Bukan karena tidak ada bahan untuk diperbincangkan. Melainkan lebih seperti masing-masing dari kami menjaga perasaan untuk tidak saling mengorek informasi pribadi lebih jauh lagi.
Beberapa puluh menit berlalu dalam kesunyian. Selama itu pula kami tidak menjumpai satu manusia pun selain kami berdua yang terus berjalan. Sampai kawasan hutan rimba berganti menjadi tertata. Hingga pemandangan kembali berganti menjadi jalanan alam berbalut tanah liat dan batu keras. Kemudian, perjalanan kami berakhir ketika memasuki jalanan beraspal di sebuah kota dan sebuah papan tanda besar penanda wilayah kami temukan.
Pada papan itu terpatri plakat nama, “Nunukan. Kalimantan Utara.”