Aila Ability

Aila Ability
PHASE 24: Ambruk



Arus pertarungan tiga sekawan UG agaknya mulai berbalik. Pada posisi masing-masing, di halaman luas yang telah luluh lantak. Dipenuhi rongsokan logam serta perotolan puing. Empat sekawan panglima RR barusaja memberi kejutan genting.


Charlie sang mutan penumbuh tulang terlilit sulur baja amat erat. Xiaoai sang Elementor peningkat ukuran benda kepayahan menghadapi Rossa, sang wanita maskulin berbakat jenis Psychic penggelincir vektor. Sementara Mary, entah kini sosoknya menghilang tertelan kabut dari ledakan hebat Paul sang pria ledak. Pertarungan yang masih berlangsung pada dua Aila elit UG yang tersisa akan diselesaikan di sini.


“Bukannya kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri?” tegur Erwin menyeringai. Seumpama laba-laba hendak menikmati mangsanya yang tak berkutik.


Pemuda Kanada bergaya rambut pendek jabrik memaling dari area ledakan yang berkabut debu. Menjawab sang panglima RR berbakat menempa logam menjadi temali. “Jangan pikir kau sudah menang dengan melilitku seperti ini,” katanya.


Erwin sang panglima RR berpotongan rambut samping yang dikerak tertawa. “Memangnya kau mau apa? Mencair? Ha ha,” dia semakin mengencangkan lilitannya hingga terdengar bunyi tulang yang patah dari diri Charlie yang tak berkutik.


Laki-laki mutan UG itu mengerang pedih. Tubuhnya nampak tak berbentuk seperti seharusnya. Lilitan baja itu benar-benar akan meremuknya menjadi dua. Namun, masih terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. Karena dia, Charlie sang KaliumKnight, memasuki mode kontamin level empat, pupa. Tato aktifasi berbentuk seperti kepompong berpendar hijau melintang pada tengah-tengah wajahnya.


Lilitan sulur baja Erwin serta-merta terputus menjerit mendenging. Dari ikatannya terbebas, sosok yang mendesirkan rasa tertegun serta waspada tatkala mata menyaksikannya. Permukaan keras pada sekujur tubuhnya berkilau ketika cahaya memantul tergelincir pada warna putih gadingnya. Charlie terbungkus sempurna oleh lapisan tulang yang membentuk baju perang. Nampak gagah dengan runcing-runcing tajam pada lingkar kepalanya. Serta belulang menyerupai siung gajah yang menonjol keluar pada siku tangan serta lututnya.


“Kau benar-benar tidak ingin membuang waktu, ya?” ungkap sang panglima RR setinggi tiga senti lebih rendah darinya. Dia lekas melompat mundur beberapa kali. Mendekat pada kapal kecil yang bertengger miring dengan lambung patah di tempat kering penuh puing itu.


Erwin tersenyum lebar setelah menyentuh merapatkan punggung pada bodi kapal rusak di belakang dirinya. “Maka aku juga akan serius.” Jelasnya dengan sorotan mata meluap-luap bersemangat.


Selaras dengan apa yang terjadi seusai dia bicara, tato aktivasi level empat berpendar biru pada separuh kanan wajahnya. Kedua tangannya direntangkan menempel pada lambung kapal. Lantas digaruk-tarik tangannya itu ke depan dada. Sepuluh temali baja lekas melilit sekujur tubuhnya, merapat saling mengisi tanpa celah. Hal yang sama menyelimuti pula pada wajah serta kepala. Kini tampilannya tak ubahnya manusia dalam baju armor khas ksatria abad pertengahan.


“Lihat? Bukan kau saja yang bisa pamer.” Katanya seraya menepuk-nepuk dada berzirah itu hingga menggema.


Di posisi lain, gadis Tiongkok ayu berwajah oval merintih memijati pundak kirinya. Tendangan wanita panglima RR baru saja mendarat keras. Melepaskan pedang penggaris besi dari genggaman Xiaoai. Saling berjauhan sejarak lima meter, gadis UG yang meringis setengah merunduk merasakan nyeri pula pada kedua kaki, menatap dendam pada Rosa yang tersenyum puas.


“Aku beri pilihan, menyerah mati dalam damai ... atau mati dengan penuh lebam?” kata Rossa angkuh. Poni panjang pirang yang menutupi separuh wajahnya dia pilin-pilin dengan dua jari.


Xiaoai membalas seraya mencoba berdiri. “Bagaimana aku bisa memilih? Idiot ...”


Sebuah kerutan berdecik pada kening Rosa. “Apa katamu barusan?”


“Wanita tua idiot!” Ulangnya dengan melempar segenggam manik-manik kepada Rosa dari kantung jeansnya lantas dia menjentik jari.


“Aku tidak tua! Apapun yang kau lakukan tidak akan bisa mengenaiku!” Serunya mendelik lantas berlari dengan hentakan yang berenergi menuju Xiaoai.


Manik-manik pipih bundar beragam warna melayang di udara. Membesar sekedipan mata seukuran roda mobil. Namun, Rosa sang panglima RR tak bergeming menghentikan larinya ataupun menghindar.


“Temuilah akhir riwayatmu, gadis kunyit!” Katanya lantang terlihat dari aura mukanya yang sungguh-sungguh. Puluhan manik-manik raksasa yang melayang menyingkir begitu saja ketika hendak mengenai dirinya. Jatuh saling bertubrukan ke arah dua sisinya.


Xiaoai terkesiap, menyaksikan jurus andalannya gagal total dengan sangat mudahnya. Dia menyelipkan tangan ke dalam saku kemeja putihnya hendak mengambil serangan berikutnya namun terlambat. Tendangan kuat Rossa menohok punggung tangannya amat keras hingga menggebuk dada. Mencecerkan isi dua pak wadah paku payung ke atas tanah.


Kembali kepada dua pemuda bak dua ksatria dari dunia lain, mereka saling hadap mengambil ancang-ancang. Melayangkan kaki-kaki yang terlihat solid nan kokoh itu perlahan-lahan. Lantas dalam satu tolakan, mereka berlari saling tabrak.


Denting nyaring menyeruak. Tinju belulang menyerupai martil menghantam kepala helmet dari logam. Sedang sebuah tombak kerucut pendek setengah meter dari rajutan sulur besi menembus satu senti dada berperisai belulang pipih belikat.


“Aku dengar ... kalau kekuatan tulang manusia itu sekeras batu. Kalau benar begitu, bukankah sudah dapat ditentukan siapa yang akan hancur?” ungkap Erwin suaranya menggema dari dalam helmet bertepi tegas seperti kepala kura-kura hanya terlihat kilau sepasang matanya saja.


“Yeah, tapi aku bukan manusia biasa.” Tegas Charlie yang parasnya terselimuti lapisan keras menyerupai tengkorak lembu.


Sang mutan UG mundur sepuluh langkah. Pada luka tusukan Erwin barusan mengucurkan sejumlah darah. Mengalir turun selama beberapa saat lekas berhenti tertutupi lapisan keras putih kembali. Berikutnya, lima pasang cabang tulang bagai rusuk tumbuh mencuat dari kedua lengan bawahnya. Membentuk menyerupai tameng cula.


Tidak berhenti sampai di situ, Charlie yang tak mirip lagi dengan manusia, tubuhnya kini terbalut kembali dengan lapisan keras putih bersih. Menambah tinggi serta berisi tubuhnya kini.


Yang lebih sangar lagi, pada punggungnya mencuat ruas-ruas tulang belakang. Sedang pada kepalanya tiga buah cula bertumbuh ke depan menantang. Lalu dia berkata, “Yang membedakan tulangku dengan besi tempamu adalah ... aku original sedangkan kau cuma kaleng murahan.”


Erwin agaknya tersulut. Dia terikut menambah sangar wujud baju perangnya. Tubuh terlindung lilitan sulur logam itu membesar dengan postur sedikit bongkok. Melebihi tinggi Charlie, mungkin hingga sebatas tinggi ambang atas pintu. Dengan kedua punggung tangan bagai lempeng-lempeng mata kapak sedangkan kakinya bagai kaki-kaki badak. Punggungnya layaknya perisai pada tempurung kura-kura darat.


Kedua wujud yang terlihat kokoh tak tertembus saling hantam. Tinju lawan tinju. Kepala menyeruduk kepala. Tendangan dibalas tendangan. Tulang Vs Baja.


Erwin dengan baju perang solid hitam terpantuli bias cahaya itu terdorong beberapa langkah. Menerima hunjaman tanduk tulang pada kedua lengan. Beberapa bagian pada pelindung zirahnya terdapat penyokan.


Perisai belulang Charlie terdapat guratan retakan. Namun, secepatnya dia regenerasikan kembali sedia kala. Dibandingkan dengan Erwin, lengkungan pada baju baja menyerupai monster kura-kura badak itu tetap terabadi tak lagi sempurna.


Sejenak sang panglima RR terdiam. Menggeram dalam kekesalan. Matanya memicing dalam remang pelindung kepala baju armornya tak terima. “Kau yang akan dalam masalah,” ketusnya.


Kini baju zirah menyerupai monster bertempurung itu menerjang Charlie. Langkah-langkah kaku nan beratnya mendesing sepanjang jalan. Namun, sang mutan KaliumKnight bersiap menerimanya. Perisai keras putih susu dengan cula-cula sepanjang lengan pada tepiannya dihadapkan kepada sang musuh.


DRANG!!


Keras bukan main. Baju zirah maupun cula belulang. Namun, meski masing-masing kini berimpitan amat dekat, mereka berdua tak lantas melompat mundur. Erwin dengan segera menciptakan pintalan sulur baja pada kedua tangannya menjadi pisau sabit besar. Lekas dia sabetkan kepada tameng cula Charlie.


Sekali ayun, cabang-cabang gading putih susu itu terpotong rapi. Sang mutan belulang UG terkesiap, sedang Erwin terkekeh. Sejurus kemudian dua pisau sabit pada kedua tangan sang panglima RR ditebaskan kepada tubuh lawannya.


Dalam hingga menyentuh daging manusia. Pisau kemilau hitam dari baja menancap pada kedua pinggang Charlie. Menembus lapisan tulangnya. Memancarkan darah pada sela luka sayatnya. Pisau besar sepanjang tangan itu masih pada tempatnya. Perlahan terembesi pekat merah.


“Lihat, sudah kubilang. Pemenangnya telah ditentukan sejak awal.” Kata Erwin menyeringai dari balik helm pelindung mirip kepala kura-kura baja itu.


Meringis menahan pedih, Charlie yang dalam posisi gawat itu malah balik terkekeh dalam topeng tengkorak lembunya. “Yeah, pemenangnya adalah aku ...” katanya penuh kejayaan.


Apapun yang terjadi setelahnya berucap, itu benar-benar diluar perkiraan. Pada dirinya, sang Aila elit UG, belulangnya bak memiliki nyawa. Bergerak menembus kulit dan daging dari beberapa ruas tulang belakang, rusuk, tangan serta kaki. Meliuk-liuk selayaknya ular melilit sang mangsa. Yang tak lain adalah Erwin dalam armor baja.


“Apa yang kau perbuat!?” seru sang panglima RR panik tak dapat bergerak. Sulur belulang seukuran gading gajah memerangkapnya. Merangkulnya begitu erat bagaikan simpul mati.


Pasang-pasang tulang rusuk Charlie melilit tubuh zirah besar itu. Saling bertemu di balik punggung tempurung baja lantas mulai meremat mengencang. Hingga derit-derit baja yang meringsek terdengar merisihkan telinga.


“Stop! Hentikan! Kau ingin membunuhku!? Lepaskan keparat!” Pinta Erwin berulang kali.


“Setelah kalian menyerang kami tanpa ampun sebelumnya? Mimpi kau ... tentu kamu mati di sini.”


Charlie bersungguh-sungguh. Dia mengerang selaras dengan mulai reot-remuknya baju perang baja sang lawan. Jeritan pilu meraung menggema di dalam zirah yang telah pecah pelindung luarnya itu. Mencuat, sulur-sulur baja nan rapat yang membentuk armor kuat kini putus satu-persatu. Kemudian bunyi patahan logam keras terdengar berbarengan dengan teriakan manusia.


Keheningan setelahnya menjangkiti tempat duel adu kekerasan. Di situ berdiri, wujud sesosok mutan dengan belulang yang meliuk. Pada sebuah zirah yang ringsek diremat berdiri mematung.


Keduanya tak bergerak satu inci pun. Satu-satunya yang bergerak hanyalah tetesan darah. Dari diri yang setengah terbelah pada pinggang. Serta dari diri yang tergencet-tertusuk oleh sulur-sulur baja.


***


Entah sudah berapa kali usaha serangan sang gadis UG berpotongan rambut menggantung sebatas dagu asimetris lakukan. Namun, kesemuanya dapat ditepis tanpa usaha yang berarti oleh wanita dewasa yang kelakian. Hingga kini dirinya terguling-guling setelah mendapati tendangan langsung Rosa.


Dia, Rosa sang wanita maskulin RR tertawa di antara tebaran paku payung yang sia-sia di atas tanah. “Ya ampun, aku kira kau akan melakukan apa. Tapi seperti sebelumnya, yang kau lakukan cuma melempar perlengkapan pernak-pernik anak sekolahan, lalu memperbesar ukurannya berkali-kali lipat demi berharap akan dapat menimpukku. Ha ha, apa kau tidak punya cara lain? Melemparku dengan kamus saku barangkali? Ha ha ...”


Xiaoai tak menjawab. Dia yang tengkurap meratap-ratap pada tanah bertumpu pada sepasang siku serta lututnya mencoba berdiri namun tak sanggup. Akhirnya dia duduk dengan kedua kaki ditekuk ke belakang. Tatapan matanya layu, luka-luka lecet dan singgah warna memar merusak keindahan parasnya dan putik-putik bening nampak menggantung pada sudut-sudut matanya yang mulai sembab. “Maaf ... maafkan aku ...” katanya lirih.


Rosa terheran lekas menanggapi diselingi cekikikan. “Apa? Apa aku tidak salah dengar? Maaf? Ha ha. Astaga ... ha ha. Ya ampun, sebegitu pasrahnya-kah hingga kau memohon padaku? Ha ha.” Gelinya sembari sesekali menggeleng dan berkacak pinggang.


Xiaoai memejam, sejenak dia menunduk kemudian menatapnya lurus seraya berkata mantap, “Bukan. Maaf. Maafkan aku ... karena tidak ada cara lain selain ini untuk menghentikanmu.”


“Hm?” tawa Rosa terhenti.


Pada telinganya, daun telinga sebelah kiri Xiaoai yang menggantung indah tanpa anting, tato aktifasi level empat pupa berpendar hijau. Lantas ... kedua jarinya menjentik.


Dalam sekali momen. Amat cepat. Mustahil untuk dihindari oleh seekor lalat sekalipun. Paku-paku payung yang berserakan tak keruan arah di atas tanah membesar secara masif. Saling bergesekan, bertusukan kepada tanah, udara, berbagai arah mata angin maupun gaya, mendesirkan bulu roma karena suaranya. Paku-paku payung pada pelataran tak terduga, mewujud seukuran tiang-tiang pancang tinggi menjulang.


Bau anyir lekas tercium setelah segala logam-logam yang kini bercokol bak pepohonan jarum raksasa bergeming. Pada ujung-ujung tajamnya nampak selumur darah menjalar turun. Sedangkan sang wanita panglima RR ... tak diketahui rimbanya di antara sela-sela hunjaman paku payung laksana pasak bumi itu. Terlalu sadis untuk dijelaskan dengan kata-kata. Terlampau mengerikan untuk dipandang.


Beberapa meter darinya, Xiaoai tersungkur dalam duduknya terserempet perut kirinya oleh sebuah paku payung termaksimal wujudnya dengan ujung tombak runcingnya bermuara di belakang punggung. Dia, sang gadis Aila elit UG duduk setengah tersujud tak bergerak dengan perut kiri yang tercacah. Meninggalkan kesunyian terakhir pada pelataran monumen Washington yang terbanjiri anyir darah.