
6 Juni 2015.
UG tengah bergejolak setelah dua hari berlalu dari misi penyelamatan Boston yang gagal total. Abraham, yang memimpin tim rescue gabungan bersama Fleiz menderita luka serius ketika menyelamatkan Siswo serta Rahul.
Dari cerita yang Raihan The Perfect Map paparkan, Abraham memasuki mode kontamin level 5 butterfly dengan merubah wujudnya menjadi Peregrine Falcon―hewan tercepat di dunia.
Ia melesat terbang lincah menghindari ledakan dan runtuhan puing menuju ke tempat Siswo serta Raihan berada―meninggalkan perintah kepada Mary untuk berteleport pindah dimensi bersama Raihan membawa serta seorang tahanan tentara Anti-Crisis tanpa dirinya.
Dari tambahan keterangan Siswo serta Rahul, Abraham sampai pada mereka dalam wujud burung lekas melahap mereka berdua bersama sebagai Mosasaurus. Melindungi mereka dari ledakan serta runtuhan puing dengan tubuh raksasanya. Sedangkan kini Abraham tengah terbaring dirawat dalam keadaan koma di sektor H.
Situasi buruk semakin menderuku diperparah dengan beredarnya kabar bahwa penyebab terjadinya tragedi itu adalah karena aku menolak untuk ikut misi bersama mereka setelah diminta secara pribadi oleh Abraham.
Entah bagaimana kabar sialan itu merebak dan meyakinkan tiap-tiap pasang telinga mereka yang mudah dipengaruhi. Yang jelas, sekarang keberadaanku diliputi oleh tatapan sinis dan dengki para Aila UG. Sepertinya, sesama anggota tim-ku pula.
“Level tiga, aku ingin bicara. Ikut aku sebentar.” Tegur Ryan, hadir di hadapanku yang tengah sendirian merenungi nasibku di ruang makan besar. Ia mengajak diriku untuk mengikutinya ke sisi halaman belakang UG. Aku mengiyakan tanpa berdebat.
Sesampainya di jalan setapak yang membelah taman mawar aku baru berkata, “Jadi, apa yang mau kau lakukan padaku di tempat ini, Ryan? Meninju mukaku?”
Ryan berbalik menerjang mengangkat kerahku namun tidak sampai membuat tubuhku terangkat. Sekarang sudah dua orang yang melakukan hal ini padaku.
“Level tiga! Aku tidak yakin apa kau benar menolak misi itu. Tapi yang aku tahu kau tidak akan melakukan hal sepengecut itu, kan? Apalagi dengan bakat anehmu itu?”
Aku tersenyum kecut menatap dalam matanya dan mendengus, “Terserah terlihat seperti apa aku ini di matamu, Ryan. Tapi mereka akan tetap menganggapku sebagai pengecut brengsek penyebab Abraham terluka parah.”
Ryan lekat menatapku dengan ancaman. Beberapa lama kemudian melepaskanku, bergerak merapat ke tepi pagar tanaman mawar setinggi pinggang di dekatnya dan mengerang kesal. “Kita berdua tidak bisa akur, ya? Aku juga tidak menyukaimu sejak pertengkaran pertama kita.”
“Ryan? Aku mencarimu di ruang makan besar tapi ternyata kamu di sini.” Ucap Lisa yang baru saja tiba menghampiri kami berdua. Berlari kecil lalu berhenti. Nampak sedikit heran ketika melihat kami berdua bersama.
Ryan menoleh bersama setengah badannya tanpa membalas sapa Lisa. Setelah beberapa jeda, baru dia melangkah menghampirinya, dan ditengah lajunya, sesaat Ryan berbisik ketika melewati diriku, “Meski aku membencimu, tapi aku percaya pada kekuatanmu.” Kemudian dia beranjak. Sementara kata-katanya yang tertinggal dalam benakku mengejutkanku. Ungkapan yang jarang keluar dari mulutnya. Akibatnya aku jadi tersenyum tipis.
“Ryan, semua ketua tim rescue serta para Aila elit berkumpul di ruang rapat sektor M.” Terang Lisa. Spontan aku menoleh menatap mereka berdua.
Ryan terhenyak ekspresinya tegang. “Antar aku ke sana.”
Aku yang mendengar perbincangan mereka membatin kesimpulan bahwa para ketua tim Rescue tengah merencanakan serangan balik lalu kuikuti Ryan dan Lisa.
***
“Aku menolak.” Ungkap Mary yang duduk ditengah-tengah dari meja rapat berbentuk U yang kanan kirinya disinggahi para ketua tim Rescue serta Aila elit anggota kelompok mereka masing-masing.
“Kenapa? Inilah saat yang tepat untuk memperingatkan mereka! Memangnya belum cukup korban para Aila yang harus direnggut oleh kebiadaban mereka!?” tegas Jim.
“Ya! Ini tidak bisa dibiarkan! Lihat apa yang telah mereka perbuat kepada Wakil Pimpinan Abraham! Tinggal menunggu waktu sampai mereka akan menyerang kita kembali atau para Aila cabang UG yang lain!” Seru seorang pria berkulit gelap.
“Jadi kalian ingin bertindak atas keputusan sendiri di saat Abraham masih terbaring tidak sadarkan diri!? Lancang sekali!” Sanggah Aiko keras. Percikan listrik memancar sekilas di dekat pelipisnya. Sejenak ruangan menjadi hening. Sampai Fleiz, Ketua Tim Nightingale menimpali.
“Aku pikir, sebaiknya kita jangan sembrono dalam mengambil keputusan. Resiko menyerbu sarang ular setelah terpatuk sama saja mengantar nyawa sendiri. Coba pertimbangkan, aku dapat informasi dari tahanan Anti-Crisis tentang salah satu markas besar mereka berada di tengah-tengah gurun pasir daratan timur. Kalau misalnya kita berencana menyerangnya, sekalian kirim serangan yang besar. Kerahkan seluruh Aila di semua cabang UG yang ada. Tapi tentu saja yang bakal terjadi setelah itu ada dua. Mereka yang hancur, atau kita. Dan mungkin, dunia serta masyarakat akan berpendapat lain tentang kita setelah penyerangan itu. Aku yakin kalian paham maksudku.”
Mendengar peringatan tak main-main itu, semuanya yang hadir saling berbisik dan berkomentar. Fleiz melanjutkan, “Lalu, kita tidak mengetahui seberapa banyak pasukan mereka dan senjata apa yang telah mereka kembangkan sampai saat ini. Lantas apa kita akan menyerbu mereka tanpa persiapan dengan mengorbankan lebih banyak lagi Aila yang akan berjatuhan karena ambisi dan hasrat dendam kita?” lalu ruangan tiba-tiba senyap dan tiap mata menatap Fleiz seolah tertampar akal sehatnya untuk mengerti situasi.
Jim memalingkan pandangannya ke bawah. Para ketua tim rescue menundukkan kepala. Sepertinya kata-kata pemuda itu tersampaikan.
“Saya punya rencana lain.” Ujar seorang pemuda yang lebih tua empat tahun dari Abraham kira-kira. Pemuda dengan bekas luka jahitan segaris pada pelipis hingga pipi kirinya. Dia laki-laki bercambang tipis berparas Spanyol yang sedari tadi menyimak pendapat Fleiz.
“Bisa tolong beritahu kami rencanamu, Ketua Andreas?” pinta Mary.
“Bagaimana kalau kita mengirimkan tim penyidik beranggotakan Aila elit terlatih dan berpengalaman untuk menyusup ke markas itu. Kita korek informasi sebanyak mungkin, temukan kelemahan mereka, kalau meungkinkan kita hancurkan fasilitas pengembang persenjataan mereka. Tidak perlu sampai menghabisi mereka seluruhnya. Paling tidak, operasional mereka akan lumpuh untuk sementara dan akan berpikir dua kali jika ingin menyerang UG.” Jelas Andreas.
“Aku setuju dengan Ketua Andreas. Korban di pihak kita dapat diminimkan. Bahkan semoga tidak ada karena yang bakal maju mereka yang kompeten dan kuat kemampuan bakatnya.” Ungkap Rahul. Begitu pula dengan Jim, dia mengangguk-angguk sembari tangan bersidekap. Sedangkan Fleiz memejamkan matanya, berpikir. Kemudian menggeleng meski tak terlalu kentara.
“Aku juga setuju dan aku ikut ke dalam tim penyelidik itu!” Seru Ryan mendadak menyelonong masuk dengan menendang pintu ganda itu secara keras. Semuanya sekejap menatap terkejut padanya.
Aku yang duduk jongkok di dekatnya terserang panik yang berputar-putar di kepalaku karena tingkahnya, mengingat semenit lalu ketika aku memintanya untuk mengintip mereka sedikit lebih lama lagi.
Karena terlanjur ketahuan dan tak mungkin mundur sembari minta maaf, aku bangkit berdiri, masuk melangkah dan berhenti sejajar dengannya lalu keras berujar, “Aku juga! Aku tidak ingin dia mengacaukan misi kalian.” Timpalku. Ryan melirikku tajam dan kelihatan akan memprotes, tapi terpotong oleh seruan Jim.
“Kau!?” Jim menggebrak meja, berdiri dengan dahinya berkerut marah. Menunjukku dengan kesumat. “Orang yang dibutuhkan di saat misi penting sebelumnya saat Ketua Abraham mengorbankan dirinya!? Tak tahu malu, ya? Aku tak sudi kalau kau ikut bersama kami. Bahkan, aku tak sudi kau ada di ruangan ini. Keluar! Kau tak berhak di sini, ini bukan urusanmu. Tahu dirilah dan enyah sana!”
Kubalas, tak kalah lantang dan ngotot. Sementara dadaku berdegup kencang dikeruhi rasa takut pula. “Yang tidak ingin aku ada untuk ikut dalam misi penyelidikan itu silakan berdiri dan hadapi aku sekarang di sini!” Tantangku. Suaraku menggema. Kemampuan bakatku kugunakan melindungi sepasang lenganku, kubentuk layaknya bilah perisai yang berbentuk menyerupai pisau besar nan pipih. Kuperbanyak dan saling tumpuk sehingga kelihatan mengancam supaya mereka menganggapku serius
Pada awalnya jujur saja aku tidak menyukai cara seperti ini yang mungkin dapat memperburuk namaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada dunia kenapa bakat kami bisa ada. Bagaimana harus bertindak atau bagaimana caranya memenuhi takdirku. Namun, aku tahu kapan harus menyerah untuk kemudian bangkit kembali. Dan inilah saat yang tepat untuk itu. Aku ambil kesempatan ini untuk membuktikan bahwa aku benar-benar berguna. Dengan bakatku ini.
Semuanya terdiam menyaksikan kenekatanku. Ryan malah memandangku sejenak dan tersenyum, lalu menghadap mereka dan bilang, “Siapa yang menentangku juga ayo sini maju.” ungkapnya santai seraya mengeluarkan pemantik api dari kantung jubahnya dan mengobarkan obor yang melayang sejengkal di tangannya yang lain sementara jilatan apinya membesar melampaui kepalanya.
Kemudian terdengar bahak yang menggelegar gembira, “Aku setuju mereka ikut ke dalam misi kita!” tanggap Ketua Andreas sambil bertepuk tangan.
“Apa!? Kenapa kamu yang memutuskan?!” Jim menyela, hampir-hampir akan melompati meja untuk menyerang ke sisi Ketua Andreas berada namun Ketua Fleiz memalangkan tangannya dan meminta Jim untuk duduk.
“Sudahlah, semakin banyak Aila berpotensi yang ikut maka semakin baik. Bukan kamu seorang juga yang menentukan siapa yang berhak ikut dan yang tidak dalam misi ini.” Tenang Ketua Fleiz. Dia menatap pada para anggota rapat, “Bagaimana dengan yang lain? Boleh kedua orang itu bergabung?”
Setelah saling berpandangan, beberapa ketua tim rescue yang hadir mengangguk-angguk setuju. Aiko hanya menggeleng pelan sambil mengelus dahinya sendiri.
Mary bangkit kemudian mengambil kesimpulan, “Baiklah kalau begitu, kita semua sepakat. Kita akan melakukan penyusupan ke markas besar Anti-Crisis di daratan timur dengan tim yang beranggotakan para Aila elit, yang dipilih dan berpengalaman.”
***
“Kayaknya kemampuan bakat mereka kuat-kuat.” Celetuk Ryan di sampingku menyaksikan ketua tim Rescue serta para Aila elit tengah berkumpul. Mereka mengenakan masing-masing jubah hitam khas tim rescue. Namun, tidak ada yang menarik kami untuk bergabung dalam diskusi. Hanya tatapan sekilas, dari jarak sepanjang tiang. Di sudut ruangan sana. Mungkin, karena mereka menganggap kami masih seorang amatir sehingga disepelekan.
Mary memberi komando untuk berbaris di depannya. Kami berdua bergabung bersama mereka dengan langkah yang biasa saja. Dia berkata, setelah kami semua siap. “Dalam tim gabungan ini, aku yang akan memimpin tim serta aku menunjuk Ketua Andreas sebagai wakilku. Apa ada yang keberatan?”
Belasan kepala mengangguk-angguk setuju atau mungkin tanda bahwa mereka tidak sabar ingin melakukan aksi pembalasan terselubung kepada markas besar Anti-Crisis.
“Baiklah, kita berangkat sekarang.” Mary mengkebut kemudian mengenakan jubah hitam panjangnya, berbalik memunggungi kami lalu menjulurkan kedua tangannya sejajar lurus ke depan. Menciptakan sebuah lubang dimensi seukuran gerbang di hadapannya. Melayang sepuluh senti ambang bawahnya dari muka lantai, berwarna gelap yang hidup mengombak aliran secara spriral ke pusat. Mary yang berambut pirang dan berkuncir ekor kuda sepunggung itu melangkah masuk. Tubuhnya lenyap bagai terlahap malam paling gulita.
Lalu, kami semua mengikutinya.
***
Di balik bukit pasir kuning, kami mengintai markas besar Anti-Crisis yang berada di luasan sebidang tanah rata di daratan timur entah tepatnya di mana, yang dikitari gundukan bebatuan besar-besar nan gersang, dari jarak seratus meter. Mary bersama para Aila elit kembali berdiskusi merencanakan penyusupan. Sedangkan diriku bersama Ryan yang cuma amatiran hanya lagi-lagi dibiarkan sendiri duduk bersila di atas pasir gurun mengamati mereka.
“Kenapa kita tidak langsung saja melakukan serangan kejutan.” Ungkapnya kepadaku.
“Tidak selamanya serangan kejutan akan berhasil. Yang kita susupi nanti itu markas besar lho. Sudah pasti ada beratus atau bahkan ribuan tentara Anti-Crisis beserta senjata mutakhir mereka di dalam sana.” Tanggapku, sesekali meremat memainkan segenggam pasir kering dan Ryan mendengus ke arah lain.
“Mereka sudah selesai.” Celetuk Ryan, lekas bangkit berdiri dan menebah jubahnya dari debu.
Ketua Andreas menghampiri kami berdua dan aku baru berdiri sesampainya dia di hadapan kami. “Kalian berdua ikut bersamaku.” Katanya. Kusadari postur tubuhnya tinggi dan berbobot ideal enak dipandang saat berhadapan dekat dari jarak ini. Jambang tipisnya yang kelihatan baru tumbuh setelah dicukur menambah tampilannya yang berwibawa.
Ketika kami bergabung dalam kawanan, Mary telah menciptakan tiga lubang dimensi. Dia memimpin enam orang yang paras mereka nampak asing bagiku kecuali pria berparas Negro yang gampang dihafal serta Aiko masuk ke salah satu portal bakatnya. Fleiz memimpin lima orang, beberapa anggotanya sering kulihat bersama dirinya, terutama orang yang menarik kerah seragamku untuk pertama kali. Sedangkan Bintu bersama dengan tim mereka. Aku agak canggung dengannya, tak bicara selama dua hari dan kami berdua terkesan menjauh satu sama lain setelah merebaknya gosip buruk tentangku. Sementara itu regu yang terakhir, ialah Ketua Andreas yang memimpin kami berdua.
***
Fleiz bersama dengan anggota tim gabungannya, pemuda berparas Arab, Syam’an; muncul berdiri di antara sekumpulan tentara Anti-Crisis yang tengah bercanda tawa berkumpul dalam lingkaran. Namun, tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. Semua berkat kemampuan Syam’an The StateFader, Aila elit dengan bakat jenis Psychic.
Di tempat lain, Mary memimpin timnya dalam senyap. Tubuh mereka masih berada dalam dimensi void kemampuan bakatnya. Melalui lubang dimensi sebesar layar laptop di langit-langit, mereka mengamati puluhan tentara Anti-Crisis yang bolak-balik merapikan persenjataan mereka ke dalam kotak-kotak kayu. Mary The DimentionEater, Aila elit dengan jenis bakat Creaton memegang peran penting sebagai teleporter paling handal dalam misi ini.
Dan dari semua bagian tugas, kami yang dipimpin oleh Ketua Andreas, pria muda yang sama sekali tidak kukenal baik pribadinya maupun kemampuannya, bersama-sama menunggu aba-aba dari Mary di dalam lorong saluran udara untuk melakukan penyerangan setelah mereka cukup mengumpulkan informasi. Situasi kami bertiga beberapa belas menit ini sudah cukup menyebalkan ditambah kelakuan si bocah api yang benar-benar menggangguku. Ia beberapa kali menguap bosan. Kebanyakan dibuat-buat.
“Sudah waktunya.” Tegur ketua Andreas, ia meletakkan telunjuknya di telinga kirinya. Mengangguk padaku. Rasa sebal dan suntuk pergi dari mataku.
Aku bersiap, jongkok waspada kemudian dengan kaki menjebol tutup ventilasi spontan turun ke sebuah lorong yang kami intai. Kuciptakan dinding kristal penuh dan rapat mengisi ruang di kedua sisi lorong menghalangi para tentara Anti-Crisis yang mencoba lewat dan meyerangku. Setelah kuyakin pertahananku sempurna, kuberi isyarat OK kepada Ketua Andreas dan Ryan yang masih menunggu di dalam lorong ventilasi udara di atasku.
Dengan semangat membara, Ryan meloncat mendarat turun di dekatku. Sepertinya, rasa kantuknya telah lenyap benar. Ketua Andreas tak lama menyusul turun dengan diiringi denging sirene bahaya yang menyala meraung di seluruh lobi yang panjang dan kaku tempat kami berada.
“Diaz, tetap lakukan seperti ini lebih lama lagi.” Perintah Ketua Andreas. Dia mendekat kemudian berhenti di hadapan dinding pelindungku. Menyaksikan para tentara Anti-Crisis yang berderap berkumpul di sisi luarnya yang terpisah dengan kami. Tiba-tiba terdengar perintah menembak diserukan dan peluru-peluru panas mereka dilesatkan ke arah kami dari kedua sisi lobi namun sia-sia terpantulkan oleh kokohnya ciptaan bakatku.
“Kemampuan bakatmu efektif sekali ya. Ha ha ha.” Celetuk Ketua Andreas. Terdengar senang sembari mengetuk-ketuk permukaan kebiruan dinding kristal itu. Lalu, ditengah deru senapan, Ketua Andreas mengontak seseorang melalui pemancar di pergelangan lengan jubahnya, “Mary, kami telah membuat pengalihan seperti rencana. Sekarang giliranmu.”
***
Di sebuah gudang penyimpanan senjata terbaru Anti-Crisis.
Mary mengangguk mengerti, mendengarkan informasi dari earplug di telinga kirinya. Berikutnya dia memberi isyarat kepada Aiko. Lantas Mary memperbesar lubang dimensinya, dan melalui portalnya Aiko bagai kilat masuk melesat jatuh.
Gledar!! Kilas kilat biru sekejap mata menyilaukan pandangan. Aiko berdiri berselimutkan serabut listrik yang liar menggeliat. Tatapannya tak bersahabat. Memandang marah para tentara Anti-Crisis yang terkejut oleh kehadirannya.
Para tentara hitam hendak menarik pelatuk senjata pulsar energi mereka, tapi harus menderita kekalahan sekejap oleh sentakan pukulan kuat dan lincah karate Aiko. Dia melesat dalam lima detik menghampiri mereka semua, memukul hancur senjata-senjata di tangan para aparat pemerintah dunia paling brutal dengan telapak tangan bersarung kilatnya. Menyisakan mereka yang terperangah mematung tak berdaya, yang segera lari terbelingkang darinya.
“Aiko, kamu memang luar biasa seperti biasanya.” Puji Mary riang, merangkul Aiko dari belakang.
“Biasa saja kok. Kamu juga membantuku,” sambut Aiko memutar tubuh membalas rangkulan Mary. Ketika mereka berdua saling berpelukan, rekan anggota tim mereka hanya berdiri menyaksikan dan merasa tak perlu melakukan apa-apa.
***
Di tempat yang berbeda. Lapangan terbuka markas besar Anti-Crisis.
“Fleiz, sudah saatnya.” Bisik Jim. Kehadiran tim mereka masih tidak diketahui oleh sepeleton tentara hitam Anti-Crisis di sekeliling mereka berkat kemampuan bakat Syam’an.
Perhatian para tentara yang tengah saling bercengkerama teralihkan ketika mendengar suara ledakan sambaran petir dari gudang penyimpanan senjata. Mereka menjadi ricuh dan terburu hendak berlari menuju ke sumber suara, ketika Fleiz dengan tegas mengangkat sebelah lengannya tinggi ke udara. Membuat para tentara Anti-Crisis di sekeliling mereka terangkat melayang tak beraturan setinggi sepuluh meter kemudian dia jatuhkan ke bumi.
Bintu dan Siswo bekerja sama menimpali gerakan selanjutnya dengan meninju kuat-kuat daratan di hadapannya. Gempa kecil mengguncang markas besar itu. Tanah patah dan terbelah, sejurus kemudian pilar-pilar batu menjulang setinggi dua meter menghunjam para tentara Anti-Crisis yang telah dijatuhkan Fleiz tadi.
***
Ryan menoleh heran padaku, “Kau merasakan gempa, tidak?”
Aku memiringkan kepalaku mengisyaratkan “entahlah”.
“Itu pasti kawan-kawan kita. Penyerangannya sudah dimulai.” Ketua Andreas berbalik menghadap kami berdua. “Nah, kalian berdua carilah tahanan Aila kalaupun ada di tempat ini kemudian selamatkan mereka. Kita berpisah di sini, biar aku saja yang menghadang tentara-tentara ini.”
“Apa? Kau ingin melawan mereka sendirian? Enak saja, aku juga mau menikmati pertarungan!” Ryan menyanggah dengan sok tanpa kenal sopan santun kepada orang yang lebih tua darinya itu. Kepada pemimpin tim sekaligus yang telah membuat kami disetujui ikut dalam misi ini.
Tapi Ketua Andreas yang kukira akan berkata keras malah berujar, “Tidak tidak, kemampuanmu dibutuhkan untuk melawan pasukan yang pasti menjaga para tahanan Aila. Pastilah juga mereka sangat banyak dengan persenjataan dan penjagaan ketat, kan? Itu tugas yang penting dan berat. Saya yakin kamu sanggup menangani mereka.” Bujuk ketua Andreas nadanya meyakinkan.
Ryan membisu sejenak lalu menatap Ketua Andreas, “Benar juga. Kau memang tahu kemampuanku yang kuat.” Katanya setuju. Aku tersenyum kecut. Si bocah api mudah sekali terbujuk.
“Baiklah Ketua Andreas, kami berdua pergi dulu.” Pamitku segera. Demi menuruti hasrat Ryan yang menggebu ingin segera beraksi. Dia mendahuluiku beranjak, dan aku pun berlari mengejarnya supaya jarak kami berdekatan menuju ke sebuah pintu masuk kembar dari baja ringan dengan tetap dalam perlindungan plasma dinding persegi tertutupku yang melaju di depan kami sesuai kendali tanganku yang menjulur lurus.
Sejenak aku menoleh pada ketua Andreas. Ia berdiri begitu saja dikepung puluhan tentara Anti-Crisis dengan masih tetap dalam perlindungan plasmaku. Aku masih dapat mengendalikan bentuknya dalam jarak maksimal tiga puluh meter. Melihatnya berniat menghadapi mereka semua membuatku semakin penasaran apa kemampuan bakat miliknya. Sayang sekali kami harus berpisah.
“Hei level tiga. Setelah di perempatan itu hilangkanlah pelindungmu. Biar kubakar mereka yang menghalangi jalan.” kata Ryan yang berlari di depanku. Menatap jauh ke depan menyaksikan rombongan tentara hitam yang datang menyongsong memenuhi lorong.
“Baiklah.” Aku menyetujuinya enteng. Itu lebih baik ketimbang aku menghantam mereka dengan dinding ini yang kurang efisien dalam melumpuhkan melalui benturan.
Sesampainya di perempatan lorong aku menghilangkan dinding pelindung kristal itu dan Ryan menambah laju larinya, mengambil pemantik api dari jubahnya kemudian melompat ke perempatan lorong bersama sambaran api yang cepat tercipta.
BWOOOSH! Kobaran api menyembur membanjiri empat cabang lorong hingga menjalar sejauh sepuluh meter. Dengan sigap kulindungi diriku dengan perisai kristal kubus tertutup. Kobaran rembetan api melewati menerpa pelindungku. Memenuhi tempat ini dengan hawa panas dan keretik merah membara.
Puluhan tentara Anti-Crisis tumbang dengan tubuh mereka mengeluarkan asap. Sewaktu gelombang api dan panasnya padam, Ryan di seberang sana melambaikan tangan padaku demi memintaku untuk lekas maju.
Kami melanjutkan penyusuran, disertai pertempuran melawan mereka para Anti-Crisis yang mencoba menghentikan kami. Aku dan si bocah api, secara mengejutkan dan kadang tak kupahami, mampu bekerjasama dengan kombinasi bakat kami berdua menumpas mereka. Tanpa ada aba-aba atau perundingan. Hanya naluri dan reflek serta tekad untuk terus maju dan sewaktu kami tiba di penghujung lorong, yang tanpa dekorasi dan persimpangan lagi, tanpa sengaja secara kebetulan kami menemukan ruangan tempat puluhan Aila terkurung di dalam sebuah sel berjeruji lapis tiga.
Keadaan mereka memprihatikan. Baju tipis kelabu nampak lusuh sebagai pakaian. Luka-luka dan lebam yang nampak telah lama ada terlihat jelas pada kaki, tangan, serta wajah. Aku yang tak tahan melihat mereka, segera memotong melintang tiga lapis jeruji bedebah itu dengan bakatku yang kubentuk dan sabetkan selayaknya pedang besar.
Potongan besi panjang berdentingan jatuh di hadapanku, menggelinding berserakan beberapanya tertahan oleh ujung sepatuku lalu Ryan berkata padaku, “Level tiga, kau selamatkan orang-orang ini. Bawa mereka bersamamu.”
Aku mendengar tanpa melihatnya. Sibuk menegur para Aila yang setiap matanya dilimpahi putus asa dan takut melihatku. Tapi setelah itu aku menoleh padanya, “Hah? Memangnya kau mau kemana? Ketua Andreas meminta kita berdua untuk mengutamakan menyelamatkan Aila tahanan yang ada, kan?”
“Iya, tapi lihat saja orang ini.”
Dengan kening mengerut emosi aku menggeser posisi demi dapat mengintip apa yang ada di balik diri Ryan dan pupil mataku membesar ketika mendapati sosok itu. Sesosok orang dewasa berseragam tertutup rapat dan ramping, dengan lapisan pelindung yang kelihatan kokoh dan mengkilat. Yang membentuk tubuhnya laksana cyborg; berdiri tegap menghadap kami jauh tepat di bibir pintu masuk. Wujudnya serba hitam bahkan kepalanya pun tak ada celah, tertutup oleh helm khusus. Sosok setinggi seratus delapan puluh senti itu mulai berjalan mendekat kemari.
“Cepat pergi dari sini. Sepertinya orang ini kuat. Level tiga, aku minta kamu untuk tidak ganggu pertarunganku dengannya.” Ryan menyalakan pemantiknya, memusatkan kobaran api di kedua telapak tangannya. Membara dan bersuara sekuat api peralatan las. Ryan tersenyum tegang. Satu bulir keringat mengalir turun dari pelipisnya.
Aku terdiam sejenak menatap punggungnya. Kali ini dia benar. Jika kami berdua lari, makhluk entah apa yang menghadang jalan keluar kami itu tetap harus dilawan. Jadi, yang terbaik dapat dipilih ialah, berikan satu umpan yang sulit ditaklukan demi menyelamatkan yang lainnya lolos melewati pintu itu. Maka aku menjawab, “Baiklah, jangan kalah ketika aku kembali menjemputmu.”
“Ha ha ha ha! Tidak usah kau jemput, aku yang akan menyusulmu.” Timpalnya percaya diri.
Kutepuk pundaknya, setelah mengajak para Aila tahanan untuk percaya dan mengikutiku kabur. Aku bersama para tahanan menjauh dari Ryan, melangkah jaga jarak dari musuh yang menghampiri, perlahan sambil waspada menuju pintu keluar seraya menatap mereka berdua. Menyusuri kembali lorong bak labirin yang sebelumnya telah kutandai dinding-dindingnya dengan sayatan khas dari bakatku. Sementara musuh misterius itu, tanpa kuduga, membiarkan kami.
***
“Tinggal kita berdua, sekarang aku dapat menyerangmu sepuasku. Tanpa ada yang mengganggu.” Tantang Ryan remeh. Sang musuh yang terpaut lima belas senti lebih tinggi telah berdiri amat dekat di hadapannya. Maka, dengan tanpa basa-basi, Ryan menonjokkan telapak tangan berapi lasnya ke kepala sang sosok hitam.
Namun, sosok tinggi hitam itu bergeming diam mematung. Helm khususnya nampaknya dapat menahan serangan Ryan. Tak berbekas lecet segores pun.
Ryan menarik tangannya. Terkesiap atas apa yang dia saksikan. Mundur lima meter seraya menatap lawannya. Asap tipis putih mengawang ke atas dari sisi kiri helm kokoh itu namun tak nampak adanya kerusakan. Kemudian, sang sosok hitam, menjejak langkah satu-satu mendekat pada pemuda yang nampak mulai gelisah.
Ketika jarak mereka terpaut tiga meteran, Ryan menghimpitkan kedua pergelangan tangannya, lalu menyemburkan kobaran api besar kepada sosok berseragam militer hitam bagai cyborg itu. Sang sosok hitam yang berada dalam kemelut api, tetap melangkah tanpa merasa sakit atau pun bersuara.
Prak! Kepala Ryan membentur keramik. Dia menjerit. Sosok hitam tanpa jeda menggenggam wajahnya, mengangkat si bocah Api hingga kaki pemuda itu menggantung beberapa senti dari lantai ruangan.
Ryan tak berdaya mencoba melepaskan cengkeraman sang sosok bengis pada wajahnya. Dia kalah kuat. Ryan mengorek-ngorek meraba saku jubahnya mencari pemantik apinya. Menggeram mengerang kesakitan dicampuri marah.
Menyaksikan lawannya begitu tak berkutik, sang sosok hitam membanting kembali tubuh Ryan. Dia akhirnya berkata, dengan suara yang serak dan berat, kini mencekik leher Ryan. “Bocah, kau terlalu lemah. Nyawamu terbuang di sini.”
Sosok hitam yang dari suaranya terdengar seorang pria itu melangkahi tubuh Ryan yang terbaring lunglai. Lemas kehabisan napas. Mencampakkannya tak berselera. Berjalan perlahan menuju ke pintu keluar arah para pelarian tahanan Aila pergi.
Namun, dengan gigihnya Ryan bangkit berdiri sempoyongan dan berkata, “Tunggu. Kita belum selesai. Aku masih hidup.” Belakang kepalanya basah mengucur darah turun ke lehernya. Ryan telah menemukan pemantik apinya kemudian membakar dirinya sendiri. Dengan tatapan nanar ia berbalik kepada pria cyborg hitam itu. “Hei, aku bilang kita belum selesai. Mau kemana?”
Pria berhelmet hitam itu berhenti, menoleh perlahan.
Dan tinju api Ryan menghantam helm sampingnya hingga berbunyi retak. Pria hitam terdorong sempoyongan ke belakang sembari terbungkuk-bungkuk bertahan untuk tetap beridiri. Sisi samping helmnya terbakar mendesis dan retak.
“Bagaimana? Ha ha.” Balas Ryan dengan napas tersengal oleh rasa tegang yang meliputi dadanya.
Sang musuh berpenampilan cyborg hitam itu mencongkel kaca helm miliknya yang retak menghalangi pandangan. Lekas kembali berdiri tegak. Sorot tajam matanya tersingkap separuh. Dari binar-binar pada lensa mata hitamnya, aura membunuh yang menggelora terasa. Kedua kakinya melangkah maju perlahan, lantas secara tiba-tiba berlari ke arah Ryan, dan si bocah api sama bereaksi lari menerjang sang cyborg hitam dengan dirinya yang terbakar berkelebat sembari meraung murka.
Tinju mereka masing-masing mengenai kepala satu sama lain. Saking kuatnya hingga mereka berdua terdorong jatuh. Laki-laki berseragam khusus itu bangkit kembali seperti bukan manusia, tak kenal lelah maupun mengaduh sakit. Dia kembali berjalan menghampiri Ryan yang masih terbaring dilanda pusing dan rasa nyeri.
Sang cyborg hitam tepat berdiri di hadapan Ryan yang dengan keras mencoba untuk bangkit. Lalu, lengan kanan sang musuh yang terbalut rapat pelindung berubah bentuk. Benda asing bergerak seperti cairan, merembes dari celah tipis lapisan pelindung tangannya, nampak liat hitam mengkilat seperti batu magma atau aspal. Setahap demi setahap meruncing mengkerucut menyerupai tombak para khsatria abad pertengahan serta mengeras dalam waktu singkat.
Pria hitam mengangkat tangan kanannya yang kini menjadi tombak kerucut itu, hendak menusuk tubuh Ryan, dan sedetik kemudian dia hujamkan tanpa ragu. Tetapi Ryan menghindarinya dengan menyemburkan api yang dahsyat dan tiba-tiba sehingga mementalkan sang pria cyborg menghantam langit-langit beton kemudian jatuh menubruk lantai. Ryan yang berhasil lolos, jatuh dengan lutut menghentak lantai dalam mode kontamin level tiga.
Ryan terbatuk beberapa kali, dia menyentuh kepalanya sendiri. Terlihat susah payah ia mencoba berdiri tegak. Jubah hitamnya koyak-moyak oleh api.
Sang musuh, yang tadinya telah tumbang dan dikira Ryan tak akan bangkit lagi sebab serangan dahsyat barusan, apalagi dengan api yang membakar segenap inci tubuh berpelindung itu, seperti sebelumnya, tanpa menjerit pedih atau mencaci, kembali bangkit dengan tombak unik miliknya sebagai tumpuannya berdiri. Lalu, ledak tawanya mengejutkan Ryan. “Menarik, benar-benar menarik.” Kata pria cyborg tangguh itu. Matanya menatap tajam memercikkan ancaman luar biasa.
“Keparat, kenapa kau tidak segera mati saja!” geram Ryan menyaksikan lawannya tak terluka. Dia hentakkan kedua tangannya ke lantai mengerahkan kemampuan andalannya dengan segenap tenaganya yang tersisa seraya menjerit.
Sebuah pilar api menyambar pijakan pria tentara khusus itu, membesar dan mebakar hebat menjulang hingga menembus meruntuhkan langit-langit. Sosok sang pria cyborg hitam terlahap dalam semburan api yang deras, tinggi, dan tak main-main sementara lantai-lantai keramik pecah bergantian tak tahan gelombang panasnya.
Namun, sang pria cyborg menerjang keluar dari pilar api itu dan mengacungkan tombak kerucut hitam miliknya tepat menusuk lengan si bocah api. Mendorong tubuh Ryan mengikuti tenaga lajunya yang menembus mengoyak daging.
***
Lapangan terbuka markas besar Anti-Crisis.
“Apa itu?” Ujar Bintu melihat api yang menjulang menerabas atap gedung utama markas besar Anti-Crisis. Cahayanya bak lilin dalam gelap, mencuri perhatian tiap pasang mata yang berada di lapangan besar.
“Anak itu ...” Ketua Fleiz melihatku yang tengah berlari menuju ke arahnya bersama dengan para tahanan Aila di belakangku.
Jim mencegatku. “Mana yang lain? Bukannya Ketua Andreas bersamamu dan satu orang lagi? Cowok keriting itu?”
“Ketua Andreas meminta kami berdua untuk menemukan tahanan Aila. Lalu satu orang yang bersamaku menjadi umpan bagi musuh yang nyaris menjadi lawan kami demi menyelamatkan para Aila yang kumaksud ini.”
“Kau meninggalkan temanmu begitu saja!?” sambung Rahul. Jim menyeringai melotot benci padaku.
“Kalian berdua sudahlah. Tak ada gunanya ribut dengan sesama di sini. Tindakannya sudah benar dengan menyelamatkan para Aila ini.” Ketua Fleiz menenangkan mereka berdua. Kemudian dia menyentuh pundak pemuda sipit itu, “Jim, teleport-lah para Aila ini ke UG kita. Kita tidak dapat mengirim mereka ke markas UG cabang eropa. Karena kita dalam misi ilegal.”
Jim mendecak lidah, memalingkan tatapan dariku. Lalu memerintah para Aila yang kuselamatkan untuk saling berantai bergandengan tangan.
“Cowok gendut yang di sana.” Ketua Fleiz memanggil Bintu. “Kau dampingi anak ini kembali ke dalam bangunan itu untuk menjemput teman setimnya. Kekuatan kami sudah cukup untuk melawan para tentara Anti-Crisis di sini.”
Bintu menghampiriku kemudian mengajakku untuk segera kembali masuk ke dalam gedung.
“Apa anggota tim yang kau maksud itu Ryan?” tanya Bintu sembari berlari di sampingku.
“Ya. Sepertinya hubungan kami mulai membaik.” Aku tersenyum geli.
Bintu menimpali senyumku. “Aku tidak percaya soal gosip tentangmu yang beredar itu. Aku minta maaf karena beberapa hari ini jaga jarak darimu karena anggota timku semuanya membencimu.”
“Yah, tidak apa-apa. Aku tahu situasinya kok. Kamu tidak ingin ada perselisihan dalam tim-mu karena membelaku. Aku juga tidak ingin itu terjadi.” Aku kembali tersenyum. Senyuman lega. Sedang Bintu juga ikut tersenyum. Senyuman syukur.
Dalam tergesa-gesaan kami memasuki gedung, menelusuri kembali lorong yang sebelumnya pernah kulalui. Namun tidak kutemukan sosok Ketua Andreas seperti sebelumnya ketika aku memimpin para tahanan Aila kabur. Yang terlihat hanyalah puluhan tentara Anti-Crisis yang telah tumbang dan terbujur.
Setelah melewati ruangan besar, aku menyipitkan mata ketika mendapati cahaya merah yang kian nampak besar dan mendekat ke arah kami. Lalu kukatakan, “Bintu, berhenti!”
Badai api yang melahap seisi lorong di depan sana menyongsong hendak melibas kami sehingga kuciptakan kubah mengurung diriku dan Bintu.
Gempur gelombang dan arus api menerpa kubah kami begitu deras dan bersamaan dengannya terdengar jeritan murka dari ujung lorong jauh di sana. Diramaikan pula oleh dinding serta lantai yang pecah melontar berlepasan. Sementara jeritan itu ... apa ini perbuatan Ryan?
Beberapa saat setelah badai api berhenti, menyisakan anakan api memangsa benda-benda yang mudah terbakar, ledakan terdengar berasal dari ujung lorong yang padam lampunya tiga puluh meter di depan. Sedang karena akibatnya, langit-langit lorong rentan untuk runtuh. Bau hangus tercium kuat, dan tiba-tiba bunyi logam patah terdengar lalu Bintu memberikan antisipasi dengan membangun kubus beton mengurung kami berdua kemudian debum atap yang ambruk keras menggebrak perlindungan kami.
Bintu menghentakkan sebelah tangannya ke samping. Kubus betonnya runtuh. Perlahan, pandangan kami berganti dari keremangan menjadi panorama reruntuhan bangunan yang hangus dan berkobar api sekeliling.
Aku memeriksa sekitar dan menemukan siluet dua sosok yang saling hadap berdiri di antara pepuingan atap bangunan. Dinding-dinding sekeliling mereka telah rubuh sebagian besar dan hitam hangus begitu pekat. Sementara salah satu sosok yang lebih pendek itu yang nampak sedikit membungkuk dan kepayahan mengambil napas ... dia, si bocah api?
Ryan berhadapan dengan sosok berseragam hitam setinggi pria dewasa yang berdiri kokoh walau api membakar dirinya. Perisai oval hitam mengkilat melekat di tangan kirinya sementara tombak kerucut hitam di tangan lainnya. Seragam militer serta rompi dada pelindungnya telah hancur. Namun, bagian tubuhnya yang ternampak bukanlah lapisan kulit atau tubuh manusia melainkan lapisan solid hitam menyerupai batuan metamorf.
“Diaz, apa rencanamu?” Ucap Bintu pelan.
“Ryan!” Tegurku padanya di depan sana. Tubuh atasnya seperempat berbalik menghadapku. Seragam kemeja putih UG-nya hanya tersisa seperempat bagian atas. Dadanya yang telanjang nampak cahaya biru berpendar tato aktifasi mode kontamin ... Level 4!?
Sosok hitam itu sekilas menoleh kepada kami berdua lantas segera melompat tinggi menghantam Ryan yang lengah dengan perisainya hingga mendorongnya jatuh terbaring. Berikutnya, pria hitam itu mengacungkan tombaknya tinggi hendak menusuk kepala si bocah api.
Aku berlari tinggi melompati pepuingan ke arahnya segera menembakkan bakatku yang kubentuk peluru meriam sebola basket nan padat berisi tepat menghantam helm sosok hitam itu hingga tubuh atasnya tersentak ke belakang. Kudengar hentak kaki Bintu menyusulku, berhenti empat meter di sampingku dan bergegas berpose kuda-kuda kemudian menghentakkan kaki kirinya lurus kepada musuh kami lekas tombak batu tumpul menjulang serong vertikal melemparkan pria hitam itu jauh dari posisi Ryan.
“Ryan, masih hidup kan?” kuhampiri dia dan membantunya untuk duduk.
Dia mendorongku tak suka, “Kenapa kau ke sini!? Sudah kubilang aku yang akan menyusul. Jangan mengganggu pertarunganku! Apa kau tak paham bahasa manusia?”
“Maksudmu apa!? Kau hampir mati tadi! Kalau tidak karena kami tolong. Jangan sok kuat begitu!” Bentakku menatapnya tajam. Ryan brusaha berdiri tanpa bantuanku, tak pedulikan aku, melangkah tertatih-tatih kemudian berlari menerjang dengan sayap apinya pria hitam yang telah siap menerima serangannya.
Ryan melompat tinggi sembari mengapitkan kedua lengannya di depan dadanya, meluncur tepat ke arahnya. Sosok hitam itu menerima serangannya dengan perisai hitam solidnya. Ledakan kobaran api terjadi ketika mereka saling hantam.
Dilanjutkannya tinju-tinju api meluncur bertubi-tubi layaknya komet walau dapat diantisipasi dengan mudah oleh pria hitam itu. Ketika kusaksikan kenekatan Ryan, telinga kananku berdenging. Ini ... suara transmitter dari Ketua Andreas.
“Apa yang terjadi di sana? Apa kalian berdua baik-baik saja? Cepat kembali ke lapangan! Para tentara Anti-Crisis mulai menyerang balik dengan senjata baru mereka! Kita akan mundur sebelum terlambat. Aku tahu kalian selamat dari gedung yang runtuh itu. Tinggalkan apapun yang sedang kalian lawan dan segeralah lari kemari bergabung bersama regu utama.”
“Kami tidak apa-apa. Ryan sedang bertempur dengan seorang tentara Anti-Crisis berseragam khusus. Lawan kami sangat kuat. Ryan tidak akan berhenti sampai lawannya tumbang.”
“Apa? aku akan segera ke tempat kalian. Tetaplah waspada.”
“Siap Ketua Andreas.” Tutupku dengan mengklik earplug di telinga kananku. Aku menghela napas pasrah. Apa boleh buat, aku harus menyeret paksa Ryan untuk kembali. Lagi-lagi.
Kulemparkan piringan kristal bakatku namun pria hitam misterius itu berhasil menghindar dengan berlindung pada perisai ovalnya.
“Level Tiga! Apa yang kau lakukan!? Jangan mengganggu!” Bentak Ryan. Dia berbalik meninjuku dengan kobaran kometnya.
Perisai kristalku retak. Aku terhenyak sebab tinjunya sekarang jauh lebih kuat dibanding terakhir kali aku melawannya. Maka aku meloncat mundur beberapa hentakan.
“Apa maksudmu dengan menyerangku? Bocah api bodoh!” Kubalas dia dengan meluncurkan selusin bola kristal padat sebesar bola sepak. Ryan menangkapnya dengan tinju-tinju serta tendangan apinya dan seranganku pecah seketika dihantamnya.
“Kalau kau mencampuri urusanku terus, kau juga akan kubantai, Level Tiga!” pekiknya seraya mengobarkan api pada seluruh tubuhnya. Dia menerjangku bak banteng gila.
“Aku sudah muak dengan mulut sombongmu itu!” Balasku sama keras, aku menerjangnya dengan memasuki mode kontamin. Kuciptakan perisai segitiga yang meruncing dari bilah-pilah panjang kristal bakatku yang kokoh dan bersisi tajam. “Rasakan kekuatan level tigaku ini!” jarak kami menyempit demikian cepat. Tinjunya mengarah ke kepalaku, sedang perisau berujung pedangku tepat mengarah ke dahinya. Lantas ketika aku tak terpikir lagi soal nyawaku atau nyawanya, kala jarak yang tersisa antara kami hanyalah sepelemparan batu, gerakan kami berdua terhenti tepat sebelum ujung pedang perisaiku mengenai dahi Ryan beberapa senti lagi.
Segalanya, di sekitar kami, dalam radius sepuluh meter, tiba-tiba berhenti bergerak seolah-olah membeku. Bahkan api milik Ryan yang hidup dan membara kini diam bagai dalam sebuah foto namun hawa panasnya tetap terasa. Napasku berat dan sesak. Jantungku terasa sangat lambat berdetak. Aku mencoba menggerakkan anggota badanku namun hanya kedua bola mataku yang merespon.
Kemudian sebuah suara pria berkata, “Aku berharap melihat anggota timku bekerjasama melawan musuh yang tangguh, tapi yang kudapati malah kalian yang berusaha saling bunuh.”
Suara itu milik Ketua Andreas. Dia melangkah santai mendekat kepada kami berdua yang masih diam dan kaku dalam posisi nyaris merenggut nyawa satu-sama lain. Lalu, dia menyerongkan tubuh kami berdua ke arah yang berlawanan kemudian menjentikkan jarinya.
Semua kembali bergerak dengan kecepatan awalnya termasuk kami berdua sekonyong-konyong jatuh tersungkur oleh tenaga kami sendiri.
Ketika kami merintih kesakitan dan lecet terlungkup di atas pasir terkena senjata makan tuan, deru mesin-mesin tank sayup-sayup kemudian terdengar. Gemuruh rodanya membisingkan malam. Belasan mobil baja itu lalu terlihat keluar dari katup baja hangar bawah tanah enam puluh meter di sisi kiri kami. Melaju keluar sambil mengacungkan meriamnya dari pintu besi yang membuka membelah gundukan bukit gurun.
Sialnya, meriam mereka mengarah pada kami bertiga.
Mortir-mortir peluru belasan meriam tank meluncur dengan kecepatan tinggi. Beberapanya meleset menghantam daratan sekeliling kami. Membuyarkan daratan pasir, merempalkan tanah keras. Sedang berikutnya Ketua Andreas menjentikkan jemari tangan kirinya.
Sang waktu kembali terhenti. Atau lebih tepatnya melambat dengan kecepatan siput. Belasan mortir berhenti melaju tepat sejarak empat meter nyaris menimpa kami. Melayang begitu saja dengan kecepatan gerak sangat lambat menuju kami. Sementara aku memerhatikan kejadian itu dari posisi terjerembabku, Ketua Andreas berjalan menghampiri kami bertiga yang juga terbekukan waktu.
Tamparannya mendarat di pipi-pipi kami. Diikuti rasa sakit panas yang menjalari kulit ari, tubuh kami terbebas dari belengku waktu yang melambat.
“Cepat kita kembali ke lapangan utama. Sebelum semuanya menjadi lebih kacau.” Tukas Ketua Andreas. Tidak tersenyum meski wajahnya tak nampak kesan marah.
***
Rudal-rudal puluhan heli tempur menyambar para tim gabungan Aila elit UG di lapangan utama. Benar apa yang diucapkan Ketua Andreas, situasi kacau balau.
Tembakan pulsar-pulsar energi penetral kemampuan bakat menghujani kami bagaikan koloni belut yang dilempari kerikil di dalam kolam yang sempit.
Sebuah gedung menara di timur lapangan meledak di tingkat limanya. Terhantam rudal serta desingan peluru senapan mesin heli yang menyerang regu Aila elit UG kami.
Lebih celakanya lagi, di tengah pertempuran ini, aku serta Ryan telah kehilangan kemampuan bakat untuk sementara waktu akibat memasuki mode kontamin belasan menit lalu. Bintu sekarang berperan sebagai pelindung kami. Membentengi kami dengan dinding penahan batunya.
Percikan listrik tertangkap oleh sudut mataku. Kutoleh kepala ke kanan, dan kusaksikan Aiko melesat di atas kepala kami menyambar bersama kilat beberapa heli tempur itu. Meledakkannya dengan bakat petirnya.
Kupaling pandangan ke arah lain dan kudapati dalam kegeraman dan kemelut kekacauan, seorang pemuda Aila berambut pirang memasuki mode kontamin level empat yang berpendar merah di keningnya.
Hembusan angin kencang mendadak menghembus mengitarinya. Debu pasir gurun menyerbak terkandung dalam angin ** beliung pria yang kuketahui bernama Edward itu.
Pria gegabah itu berputar menciptakan tornado debu pasir. Sangat besar dan kuat hingga melahap seluruh area lapangan pertempuran ini.
Semua heli tempur terseret ke dalam alirannya. Berputar-putar di luar poros tornado mengerikan itu. Saking kuatnya terjangan angin ribut itu hingga meringsekkan menara bangunan Anti-Crisis yang terserempet dalam mata angin ** beliungnya. Dinding-dindingnya hancur lalu pepuingannya terangkat terbang bersama material kaca dan bingkai jendela terlahap dalam putaran tornado Edward.
Semua anggota tim Aila elit panik mencari pegangan pada sesuatu yang kokoh. Demi menyelamatkan diri mereka sendiri dari terseret masuk ke dalam tornado serangan tak terbendung Edward yang memasuki mode kontamin level 4.
Sedangkan Jim beserta Mary menteleport satu-persatu anggota misi yang tujuannya tak tentu ini entah kemana. Mungkin kembali ke UG.
Aku dan Ryan terdiam terperangah menyaksikan dari perlindungan Bintu tornado yang menyeret benda-benda apapun di tempat ini ke dalam mata badainya.
Kupalingkan mata, mengamati sosok Edward di dalam pusaran itu. Tunggu, ada sosok lain di belakang dirinya. Sosok hitam dengan helm pelindung kepala yang rusak separuh. Memijakkan kaki berat dan susah payah mendekat. Astaga! Itu sosok yang dilawan Ryan sebelumnya!
“HEI! AWAS DI BELAKANGMU!!” pekikku kepada Edward. Ketua Andreas menoleh cepat padaku kemudian berpaling pada pemuda itu.
“EDWARD!!” Pekik Ketua Andreas kepada pemuda dalam tornado raksasa.
Tombak hitam menembus dada Edward. Sosok hitam itu menikamnya dari belakang tanpa ragu.
Tiap pasang mata yang masih tersisa di tempat ini terpana menyaksikan Edward dalam cengkraman kematian. Jantungku mendadak serasa tersambar petir. Terkejut, namun tak dapat menjerit.
Ketua Andreas menjerit murka. Suaranya memecah kekalutan kami.
Sosok hitam itu mencabut tikaman tombaknya. Perlahan menghilang bagai hologram sembari menatap ke arahku.
Tubuh Edward tumbang dengan lutut menghentak bumi. Sesaat masih tegak berlutut menekan lubang di dadanya. Darah deras mengucur merembesi seragamnya lalu dia benar-benar limbung tengkurap.
“JIM―!!” Lantang Ketua Andreas memanggil.
Jim berlari lekas berteleport ke dalam pusat tornado menyongsong tubuh Edward yang sekarat sedetik kemudian mereka berteleport entah ke mana.
Putaran tornado terasa melambat. Berangsur-angsur pusatnya melebar hingga hanya menjadi hembusan kencang sekali lantas lenyap menyisakan aliran angin yang menyingkir ke segala arah. Benda-benda yang telah ditelannya sebelumnya mulai berjatuhan. Tank-tank, puing-puing, peleton serdadu tentara Anti-Crisis serta heli-heli tempur bak hujan jatuh bebas tak keruan. Limbung ke tanah maupun menubruk gedung. Sedang satu heli tempur sangat dekat bergerak jatuh meluncur ke arah kami bertiga dengan baling-balingnya yang masih berputar kencang.
Ketua Andreas berlari menuju ke tempatku, Ryan, dan Bintu kemudian menjentikkan jari kedua tangannya dan segalanya berhenti. Benar-benar berhenti. Heli besar itu berhenti melaju jatuh tepat lima meter di belakang punggung Ketua Andreas.
Begitu pula dengan semuanya di markas besar ini. Semua benda berhenti bergerak bahkan angin pun berhenti berhembus terbekukan waktu oleh kemampuan bakat Ketua Andreas yang luar biasa.
Kudapati sosok Jim telah kembali muncul namun belum sempurna. Sebagian tubuhnya masih belum terteleport seutuhnya. Tubuhnya ikut terbekukan waktu jurus Ketua Andreas.
Ketua Andreas meliriknya. Jim menanggapinya dengan gerakan bola mata. Suatu kode yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Kemudian, diikuti suara jentikan, aliran waktu kembali terbuka. Semuanya kembali bergerak dengan laju yang sama sebelum terhentikan waktu. Heli tempur di belakang tubuh Ketua Andreas kembali melaju menuju dirinya serta kami bertiga. Capung besi itu terbang oleng, tak sanggup menyeimbangkan diri sementara baling-baling panjangnya mulai membabat tanah.
Jim berteleport muncul di dekat Bintu lalu menteleport dirinya serta Ryan. Sedang anggota misi darurat UG yang tertinggal cuma diriku serta Ketua Andreas.
Lalu secara mendadak, dasar perutku mual dan perasaan buruk mencengkeramku. Jika Jim nanti muncul kembali, waktunya tidak akan cukup untuk menteleport kami berdua yang jaraknya berjauhan sekitar tiga meter. Sedang dalam hitungan detik lagi heli itu akan sempurna menubruk kami berdua.
Mungkinkah aku yang akan...
Ketua Andreas mengayun kakinya lebar, melompat menerjang menuju diriku. Di belakangnya heli tempur besar itu telah berguling menyentuh tempat berdiri Ketua Andreas sebelumnya dengan ekor yang patah. Pada mesinnya timbul gejolak api yang mengerikan.
Aku berusaha menggapai dengan menjulurkan tangan sepanjang mungkin kepada Ketua Andreas yang dalam lompatan terjauhnya menjulurkan tangan kepadaku dan mataku terbuka penuh ketika Jim mendadak muncul di samping tubuh Ketua Andreas yang masih melayang jatuh ke arahku.
Kemudian, dia menyentuhnya ....