Aila Ability

Aila Ability
PHASE 18: Lelaki Di Atas Batas



9 Agustus 2015.


 


 


Dua bulan lebih dua hari semenjak terakhir kali aku menggunakan bakatku serta dua bulan lebih sehari setelah aku bertemu dengan gadis Aila tanpa masa lalu, Alissa.


Aku memutuskan untuk menetap sementara di kecamatan ini. Nunukan, Kalimantan Utara. Sebuah wilayah pulau yang dikelilingi oleh laut dan terletak pada perbatasan dua negara. Tempat yang cukup terisolasi dari hiruk-pikuk metropolitan dan perhatian Pemerintah Dunia.


Aku telah bekerja sebagai helper di sebuah proyek konstruksi selama satu bulan dua puluh hari. Bekerja di bagian kasar mengangkuti material-material atau membersihkan peralatan di dalam bedeng temporer, membantu apa saja yang diminta kepadaku, mencoba melaksanakannya sebaik mungkin.


Sementara dia, gadis perenung yang memutuskan untuk hidup bersamaku, bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan tidak jauh dari lokasiku bekerja.


Memang ini bukan sebuah pekerjaan yang nyaman bagiku. Tapi demi bertahan hidup di kota ini, aku perlu mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, dan ini adalah hal kecil yang perlu aku korbankan. Untuk biaya membayar kos Alissa sebagai tempatnya tinggal sedangkan diriku tidak masalah bernaung berdesak bersama kuli sepekerjaan di dalam mess pekerja.


Ada kalanya di saat jam istirahat siang aku menemuinya. Datang ke tempat kerjanya untuk mengisi perut, memerhatikannya, memandang wajah lelahnya.


“Diaz ...” Tegurnya tersenyum ketika meletakkan seporsi menu yang telah kupesan sepuluh menit lalu.


Kubalas tersenyum ringan, “Terimakasih ...” dan setidaknya kecanggungan di antara kami berdua telah lenyap. Atau paling tidak seperti itu.


Sikapnya kepadaku sangat berbeda pada awal-awal minggu ketika kami berdua memutuskan untuk menetap di kota ini. Dulu dia seperti mesin yang hanya merespon jika diketuk. Disamping jawabannya yang terkesan hanya sekenanya saja. Tapi sikapnya yang paling manusiawi adalah ketika aku menyarankan dia untuk memiliki setidaknya tempat berteduh. Sebuah privasi untuk dirinya sendiri. Yang akhirnya berujung pada sebuah kamar kos yang sukarela aku bayar tagihannya.


Reaksi pertamanya menolak. Aku maklum. Tawaranku dapat dikatakan berlebihan untuk orang yang baru saja bertemu dan kenal beberapa hari namun berani menawari menghidupi, menyokongnya.


Tapi aku memaksa. Dengan sopan dan lembut perkataan tentu saja. Bukan karena aku arogan atau predator wanita, tapi karena aku merasa memang harus melakukannya. Walau tak berdasar dan tanpa alasan jelas. Yang pasti ketika dasar hatiku memintaku untuk melakukannya, maka aku lakukan. Dan atas sikapku itu, Alissa mulai melunak padaku. Walau terkadang dia terlihat tersenyum paksa. Cukup lama untuk membuatnya tidak memalingkan pandangan atau menatap ke bawah ketika berbicara denganku. Namun, setelah sebulan lewat, sikap enggannya terkikis. Paling tidak kami dapat berbicara normal dengan jarak yang wajar. Kemudian pada waktu yang kurasa tepat, aku memintanya untuk membuat sebuah janji.


Sekembalinya melayani tamu lain, dan menghidangkan menu pada orang itu, Alissa duduk semeja denganku. Saling hadap. Menghabiskan waktu istirahatnya menemaniku menikmati santap siangku. Hal yang kini menjadi rutinitas kami.


Aku teringat akan suatu pepatah Jawa. Bukan apa-apa. Tapi sebuah pepatah yang berbunyi Witing tresno jalaran saka kulino, yang maksudnya Rasa cinta hadir karena terbiasa bersama. Cukup sering aku dengar bunyinya semenjak aku kecil baik dari lagu campursari, dangdut atau omongan orang sementara aku bukan jenis orang yang langsung percaya pada sesuatu. Apalagi hal yang tidak berdasarkan penelitian ilmiah seperti “Konon katanya”. Tapi, kenyataannya, itu terjadi padaku.


Segumpal perasaan nyaman dan hangat kurasakan ketika Alissa berada di dekatku. Aku jatuh cinta lagi. Tapi ini perasaan yang berbeda dengan saat dulu aku tertarik pada Aiko. Perasaan ini, yang mendebarkan dan membuatku susah tidur mirip ketika aku menatap Kak Nadia secara langsung.


Dan, sepertinya, Alissa juga merasakan hal yang sama. Terlihat dari perubahan sikapnya padaku. Namun, nampaknya, kami berdua terlalu tertutup untuk berani mengutarakan perasaan satu sama lain.


Ngomong-ngomong ... aku jadi teringat dengan mereka. Apa yang terjadi ... apa yang Aiko, George, Jian serta Ryan dan yang lainnya lakukan sekarang?


Tak ada kabar besar tentang UG yang ditampilkan televisi. Yang ada hanya setayangan berita dua bulanan lalu, tepat ketika waktu pertama aku tiba di kota ini, tentang sebuah latihan militer gabungan antara TNI dan Anti-Crisis di belantara Kalimantan. Sementara dalam hati aku yakin itu konspirasi mereka menutupi penggempuran UG.


Kira-kira ... apa yang terjadi pada UG, dan pertarungan mengerikan melawan monster hitam itu sepeninggal pengasinganku oleh Jim?


Beragam pengandaian berkelebat memenuhi pikiranku hingga akhirnya Alissa menegur. Mengingatkanku akan jam makan siang yang lima belas menit lagi akan usai. Untuk itu, segera kuhabiskan santap siangku dan kembali ke tempat kerjaku.


***


Dua hari libur yang kudapat tidak akan kusia-siakan. Aku mengajak Alissa di hari liburnya untuk pergi melepas penat serta menghabiskan waktu bersama. Seminggu sebelumnya aku telah membeli sesuatu yang istimewa untuk dirinya dengan uang tabungan sisa gajiku dan akan kuberikan padanya hari ini di saat yang tepat.


Maka aku mengajaknya ke suatu tempat. Tempat yang harus ditempuh dengan menyeberang laut terlebih dahulu ke Dermaga Mantikas Kecamatan Sebatik Barat menggunakan perahu. Baru kemudian menaiki mobil menuju ke tempat akhir yaitu Pantai Batu Lamampu. Pantai berpasir putih dan memiliki pemandangan yang menakjubkan serta bersih. Namun, itu bukan pilihan pertama kenapa aku memilih tempat ini.


Ada satu alasan ...


Ketika kami telah merasa cukup menikmati pesisir pantai, kuajak Alissa untuk mendaki bukit kecil batu karang dengan sebuah pohon beringin yang tumbuh di atasnya. Agak kerepotan. Perlu pijakan yang mantap agar kami tak terpeleset oleh pasir atau permukaannya yang rapuh. Kemudian, sesampainya kami di atas, rindang payung rerangkai batang dan daun beringin yang lebat meneduhi kami sepenuhnya lalu kami memandang ke arah laut lepas.


“Diaz ... tempatnya bagus sekali, ya? Indah. Aku suka.” Ungkapnya senang. Senyum sumringahnya terkembang manis bersama riuh ombak yang sayup terdengar dan hembus angin yang menerpa kemari. Ini titik balik saat dinding pembatas antara aku dengannya telah luruh sempurna.


Aku mendekat di belakangnya, “Ya, Alissa ... dan kamu tahu tidak, kenapa aku mengajakmu kemari?”


Dia menoleh, menatapku sembari sedikit memiringkan kepala, “Hmm ... karena tempatnya indah?” katanya kemudian menggulung bibirnya ke dalam.


Aku tersenyum simpul. Kuraih tangannya perlahan, mengajaknya untuk mendekat pada pohon beringin di belakang kami.


Alissa kian heran kala menyaksikanku mengikatkan seutas pita merah pada salah satu ranting pohon beringin di dekatku sambil mengucapkan namanya. Lalu karena tak tahan aku berlama menatap wajah polosnya itu, kemudian kujelaskan maksudku.


“Kamu tahu Alissa? Aku mendengar dari warga setempat kalau ada mitos yang mengatakan bahwa dengan mengikatkan tali pada pohon ini, kemudian menyebutkan nama orang yang ingin dijadikan sebagai istri ... maka niscaya niat itu akan terwujud.”


Alissa masih terdiam. Tatapannya menerawang wajahku, seolah dia mencoba mencerna lebih lanjut perbuatan serta perkataan yang baru saja kulakukan. Kemudian, mendadak pipinya memerah. Kedua bibirnya terbuka.  Mencoba mengatakan sesuatu namun terdengar desus gagap.


Lalu kurasa inilah saat yang tepat. Hadiah yang ingin kuberikan kepadanya kukeluarkan dari saku celana. Aku mendekat perlahan, menghampirinya lalu mengalungkan hadiah yang kugenggam tulus ke leher jenjangnya.


Setelahnya kuambil dua langkah mundur. Alissa menatapku haru. Sesekali tangannya mengibas-kibas di dekat dagunya seperti kepedasan namun bulir air mata yang mengalir turun dari kedua sudut matanya membuatku tertegun.


Dia tersenyum tanpa menghapus airmatanya, “Terimakasih Diaz ... terimakasih. Aku ... bingung harus ngomong apa. Aku- aku sangat bahagia ....”


Kudekap erat tubuhnya dan dia menyambut pelukanku. Alissa berkata agak terisak di dekat telingaku, “Maaf ... aku ... aku menangis. Aku senang sekali ....”


Kujawab, setelah tertawa kecil menenangkan. “ Iya, sampai mengejutkanku begitu. Aku kira kamu kenapa tiba-tiba malah menangis.”


Cubitan kecil terasa di pinggang kiriku. Aku menunduk menatapnya. Rona wajahnya terlihat sebal dengan mengulum bibir atasnya ke dalam, dan bukannya membuatku simpatik malah membuatku terpesona.


“Kalau mau marah setidaknya hapus dululah air matamu.” Celotehku lepas.


Kedua alisnya terangkat. Alissa menatapku lekat kemudian tertawa kecil atas kekonyolan dirinya sendiri. Aku terikut tertawa dan akhirnya kami berdua saling menyubiti pinggang mesra.


“Alissa ...”


“Hmm?” jawabnya masih tetap memelukku, setelah kami kelelahan bergurau. Dia memulas wajahnya dari air matanya yang kering ke dada kemeja garisku.


“Aku rasa ... kita sudah bisa saling terbuka saat ini.” jawabku. Alissa kemudian memandang  wajahku sesaat lalu mengangguk melepas pelukannya.


Dia mundur dalam lompatan kecil dan berbalik menghadapku. “Jadi ... kita mulai lagi perkenalannya, ya?” ucapnya ringan. Gadis perenung yang sebelumnya selama dua bulan lebih bersamaku kini menjadi gadis yang lebih ceria dan bersinar.


Alissa melepas dua buah karet rambut merah bergelombang dari pergelangan tangan kirinya. Sejenak dia berbalik memunggungiku dan menguncir dua rambutnya yang hampir menyentuh pinggang itu. Kemudian dia kembali menghadapku. Senyum ramahnya terpulas oleh bibir tipisnya yang menyejukan. Kedua tangannya yang ramping disembunyikan di belakang dirinya. Alissa sedikit menggodaku dengan berputar meliuk, memamerkan penampilan gaya rambutnya yang baru. Mendesirkan batinku.


Ketika dia berhenti berputar dan kembangan gaun bawahnya telah jatuh sempurna menyentuh lututnya lagi, Alissa berkata padaku, “Namaku Alissa Karimata. Dan ... sebelumnya aku berasal dari Pontianak. Tapi, sekarang aku hidup berjuang bersama dengan orang aneh namun dia sebenarnya orang yang baik. Dan kamu? ...”


Sorot matanya yang teduh memandangku. Untuk sesaat waktu seperti terhenti bagiku, sebab aku terlampau kagum dengan sikapnya kini, sampai akhirnya Alissa memiringkan kepalanya dengan binar mata yang menanti jawaban itu begitu memengaruhiku sehingga membuatku tersadar dari lamunan kekagumanku.


Lalu aku membalasnya, “Aku Diaz Nusabiru. Asalku dari Semarang. Dan aku ... aku...” karena merasa aneh dan canggung, kalimatku menggantung terputus.


Tawa cekikikan Alissa terdengar sementara dia menutupi mulutnya dan menimpali, “Hi hi. Salam kenal Diaz Nusabiru ... hayo, lupa mau ngomong apa ya?” Katanya terbata karena bersamaan dengan tawanya.


“Ha ha ha. Iya, iya. Maaf ...” sambutnya menahan tawa.


“Alissa ...” nada suaraku rendah memanggilnya dan dia masih menahan tawa namun tetap menjawab panggilanku lalu kutambahkan, “kamu masih ingat permintaan pertamaku padamu sewaktu kita memutuskan tinggal di pulau itu?” lanjutku.


Dia, kekasihku, menghentikan tawanya. Alissa menegakkan badannya, mendekat padaku.  Memandang laut lepas. Salah satu jemarinya menyentuh kalung liontin pemberianku yang cantik mengitari lehernya. Dia berkata, setelah angin laut membelai kami, “Iya ... kamu bilang waktu itu untuk jangan pernah menggunakan kemampuan spesialku lagi.”


“Ya. Dan aku minta maaf karena selama ini tidak menjelaskan semuanya kenapa aku memintamu untuk melakukan hal itu. Tapi setelah kita kembali ke penginapan, nanti aku akan ceritakan semuanya padamu.”


Alissa menolehku kemudian tersenyum setelah mengangguk sekali, “Walaupun kamu tidak menceritakannya pun, aku tetap percaya padamu. Aku yakin maksudmu itu untuk kebaikanku, Diaz ....”


Begitu ungkapnya. Dia percaya padaku. Maka mulai saat ini kuteguhkan hatiku, bahwa Alissa adalah separuh jiwaku. Kugapai pinggangnya yang ramping, menariknya mendekat padaku. Kami menyaksikan sang surya yang mulai berpulang pada tempatnya, yang menjejakkan warna oranye megah di langit jauh di horizon laut sana, di bentang hamparan samudera yang memetang. Yang dengan perlahan menelannya tenggelam lamat-lamat.


***


Aku mengatakan semuanya. Semuanya tentang kebenaran bakat, UG, anggota tim Rescue yang dulu aku pimpin dan gadis yang pernah aku taksir ... Aiko, pada Alissa kemarin malam.


Separuh malam kami berdua habiskan sekedar untuk saling berbincang. Walau topik pembicaraan lebih didominasi olehku. Tapi dia sangat menikmatinya. Meskipun kadang dia terus menanyakan apakah aku masih menyukai Aiko, dan aku berbohong. Sebab sejujurnya, aku masih memiliki perasaan pada gadis listrik itu. Perasaan rindu yang ganjil.


Lalu kini, usai sarapan di restoran hotel, aku meminta ijin kepada Alissa untuk pergi ke kasir, dan saat aku bertanya berapa tagihan makan pagi kami, telah kuambil dompet dan bersiap mengeluarkan lembaran seratus ribu rupiah, aku mendengar jawaban mencurigakan.


“Meja nomor D5 telah dibayar lunas oleh bapak yang duduk di sana ....” jawab wanita penjaga kasir, menunjuk. Aku mendadak merasakan teror.


Kupejam mata sejenak, memendam prasangka buruk itu. Kumasukkan kembali dompetku kemudian menghampiri pria asing yang duduk di salah satu kursi dari meja reservasi yang kosong di tepi ruangan.


Rasa penasaran serta kegelisahan atas sesuatu yang tidak jelas pada dirinya membuat jantungku berdegup tegang. Ketika aku sampai di hadapannya, dengan berbagai macam spekulasi di kepalaku, kuputuskan duduk di dekatnya dan kukatakan, “Maaf, apa Anda tidak salah melakukan pembayaran pada meja nomor D5?”


“Tidak. Tentu saja tidak, Diaz Nusabiru. Kamu perlu latihan untuk tidak curiga berlebihan pada orang yang berbaik hati padamu.” Ucapnya tersenyum kecut, dan itu malah membuatku memicing bersama hawa merinding di belakang leherku.


“Apa Anda mengenal saya? Tapi saya merasa belum pernah bertemu dengan Anda,” balasku dengan nada serius. Dari gaya bicaranya, kupikir dia mengenalku dengan baik. Apa jangan-jangan dia orang suruhan UG?


Pria tiga puluhan tahun di hadapanku, yang berkantung mata kusam lelah terlihat kurang istirahat itu terdiam selama lima detik, menatapku sejenak, kemudian membuka suara, “Oh, maaf. Salahku. Di garis dunia yang ini kita baru pertama kali bertemu, ya ....”


Oke. Jawabannya barusan tidak memuaskanku tapi malah menambah semuanya menjadi rumit. Kemudian tanpa sungkan kutanyakan ujaran kasar yang efektif menguak tabir misteri ini. “Siapa Anda?” kataku menatapnya tajam.


Dia memalingkan pandangannya dariku. Merebahkan punggungnya sembari membuang napas lelah. Kedua matanya memejam sedang dua jarinya memijat pelan kantung matanya yang mencolok itu. Rambut pirangnya yang rapi tersisir ke belakang kepala memberi kesan model rambut 90-an ala pria gentlemen dalam film spionase Inggris Raya.


Jawabannya kudengar setelah dia mendesah kecewa, “Pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. Apa semua cabangnya selalu bermuara pada satu titik?” pungkasnya murung.


Aku mulai jengah. Aku paling tidak suka pada orang yang bertele-tele bicara melantur jadi aku tegaskan sebelum aku mulai berbicara lebih kasar lagi, “Maaf. Sebelumnya saya berterimakasih atas kebaikan Anda walau saya tidak mengenal Anda. Saya permisi kalau Anda tidak ada perlu lagi dengan saya ...”


“Tunggu. Apa kamu akan percaya jika saya ini datang dari masa depan?”


“Hah? Memangnya Anda Jhon Titor?” balasku dengan alis terangkat sebelah. Namun, aku malah semakin tertarik kemudian kembali duduk mencoba menyimak lebih lanjut cerita ngelantur apalagi yang akan terucap dari mulutnya.


Dia mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja birunya. Benda logam penunjuk waktu berbentuk bulat yang mengkilap tersinari lampu ruangan. Sebuah arloji perak yang terlihat antik.


Pandangannya tertuju pada pendulum jarum-jarum benda itu. Dahinya berkerut nampak memikirkan sesuatu. “Bagaimana jika aku bilang bahwa dirimu di masa depan akan menentukan nasib dunia ini?”


Ini dia. Kata-kata ajaib yang aku tunggu. Tapi entah kenapa aku seperti pernah mendengarnya dulu. “Jadi di masa depan aku ini akan jadi presiden atau raja iblis?”


Dia tertawa palsu dua kali. Dari sorot matanya yang menatapku kelam, dalam benak aku membatin bahwa dia seperti telah melalui banyak sekali kegagalan. Rasa sungkan dan tak enak menggenang di dasar hatiku, maka aku menjawabnya sekali lagi, dalam nada biasa, “Jika aku menentukan nasib dunia ini, maka aku akan memilih nasib yang baik.”


Lalu senyum kecutnya nampak lagi. Terkesan meremehkanku. Dia kemudian berkata, “Bagaimana bila saya bilang seperti ini ... kamu yang di masa depan menghancurkan dunia. Apa yang akan kamu lakukan di masa ini?”


“Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menghancurkan dunia. Kalau pun iya maka aku akan mengubahnya.” Jawabku setengah hati. Merasa pembicaraan ini tidak ada manfaatnya. Pengandaian ini apa penting?


Aku mulai merasa ingin lekas pergi ketika melihat senyum palsunya lagi, tapi dia menimpali, “Kalau begitu mana yang akan kau pilih. Masa depan AA dengan masa depan manusia yang hancur atau masa depan manusia dengan kehancuran masa depan AA?”


“Aku pilih masa depan AA serta manusia yang dapat saling mengerti dan berdampingan,” jawabku mantap. Spontan.


Dan tawanya terdengar tiga kali, sembari menggeleng-geleng, “Manusia itu memang makhluk yang egois,” lalu arloji peraknya dikembalikan ke saku celananya kemudian menatapku, kali ini lebih serius, “Kalau begitu ... aku minta padamu. Tolong hentikan Ryan.”


Nama yang sakral itu terdengar lagi oleh telingaku. Ryan? untuk tidak mengalami kesalahpahaman aku memastikannya, “Ryan? Ryan siapa yang Anda maksud? Dan memangnya kenapa aku harus menghentikannya?”


“Ryan. Penyandang AA dengan bakat Pyrokinetik. Pemuda berambut keriting pengendali api, temanmu. Dia menjadi ancaman besar di masa depan. Aku ingin kamu menghentikannya sebelum itu terjadi.”


Ternyata memang benar si bocah api. Aku membetulkan posisi kacamataku yang sedikit melorot kemudian bertanya lebih lanjut, “Memangnya apa yang dia lakukan sampai jadi ancaman serius seperti itu?”


Si pria Arloji Perak menoleh pada televisi yang terpasang pada dinding yang cukup luas dan strategis terlihat oleh seisi ruangan pada delapan meter di sisi kiri kami. “Sebentar lagi kamu akan tahu maksudku. Perhatikan baik-baik,” katanya padaku. Memintaku melihat ke arah yang sama dia pandang.


Kusaksikan televisi yang menyiarkan acara plesiran itu dan berikutnya apa yang dia maksud terjadi. Tayangan berganti siaran, tiba-tiba terputus dan menayangkan liputan darurat. Seorang pembawa acara wanita menjelaskan situasi di lapangan.


“—Kami menayangkan liputan langsung dari White House. Pemirsa di rumah pasti tidak akan percaya dengan apa yang sedang terjadi di sini―”


Sudut pandang kamera berubah. Dari figure seorang reporter kini naik menerawang ke langit puluhan meter di atas White House. Wujud belasan kapal perang dan tiga kapal induk melayang begitu saja mendekat laksana ikan di udara terpampang mengherankan kusaksikan di layar TV itu.


“—menurut informasi yang kami dapat ... Rebellion Rounds, sebuah kelompok pemberontak Aila di Eropa, datang kemari dalam aksi teror dan ancaman kepada Pemerintah Dunia serta presi-...”


Tepat sebelum reporter wanita itu menyelesaikan kalimatnya, sekerumunan orang berjubah militer merah darah muncul di sekitarnya. Mereka menarik mundur wanita itu dari mikropon beritanya lantas melakukan sabotase siaran.


Seorang pemuda dari mereka bertampang garang dan berambut hitam cepak tentara,  yang di dahinya terdapat bekas luka sayat mengambil alih momen bicara. “Aku Jordan Nickel. Pemimpin kelompok revolusi Rebellion Rounds. Atau yang kalian kenal sebagai gerakan kelompok pemberontak para Aila di Eropa. Kepada semua saudara-saudari pengidap AA ... saksikanlah hari bersejarah ini. Hari ketika penjajahan dan pembantaian manusia terhadap kaum kita berakhir! Hari kemerdekaan kita. Dengan ini aku nyatakan perang kepada Pemerintah Dunia serta pada para anjing suruhan mereka Anti-Crisis! Kami akan mengambil alih kota ini! Negara ini! Kemudian seluruh dunia dari tangan kalian para manusia keji! Hadapilah kami! Takutilah kami ....”


Sorak-sorai para anggota RR dalam siaran riuh bergelora. Sementara di dalam restoran ini, seluruh tamu resah menyaksikan siaran proklamasi perang.


“Bergabunglah dengan kami saudara-saudari AA! Bersama, mari kita rebut martabat dan kemerdekaan kita dari para manusia biadab!” Pungkas pria dengan bekas luka di dahi itu. Kemudian tampilan televisi beralih lokasi. Tempat yang semua orang pasti tahu. Simbol kemerdekaan rakyat Amerika, patung Liberty.


Sementara yang membuat rahangku rapat mengatup, sosok Ryan yang menjadi bintang utama pada layar kaca saat ini. Dia berkata dalam siaran amatir itu, “Mereka para manusia pendengki membentuk Anti-Crisis untuk menyangkal keberadaan kita. Dan tujuan mereka sebenarnya terkuak. Mereka memburu dan menghabisi kita untuk dijadikan sebagai barang percobaan laboratorium! Mengekstrak bakat unik kita untuk mereka jadikan senjata! Guna membasmi kita lebih kejam lagi. Selama belasan tahun kita hidup dalam ketakutan. Tapi tidak hari ini. Hari ini kita melawan balik!”


Ryan berteriak lantang amat ambisius. Api yang besar menyembur di bawah telapak kakinya, membawanya terbang meluncur mendaki patung Liberty lantas obor peperangan dikobarkan secara harfiah. Patung liberty kalut dibakarnya hebat.


Tampilan siaran kembali ke tempat awal berita. Pemuda bernama Jordan Nickel mengangkat tangan tinggi menunjuk langit. Dia pun berkata, melalui telepon di tangannya yang lain, “Anna, jatuhkan semuanya ...”


Lekas kapal-kapal besar berjatuhan dari langit selepasnya bicara. Mengerikan. Kami menyaksikan lambung kapal pecah menghantam bumi memekakkan gendang telinga. Pekik jerit warga sipil mengiringi jatuhnya kapal-kapal militer di darat. Daya hantam besar meluluh lantakkan bangunan dan apapun yang ditimpanya. Hingga kejadian puncaknya sebuah kapal induk pengangkut pesawat menimpa White House menjadi tak berbentuk. Lalu, saluran berita bagai permulaan kiamat bagi umat manusia itu mati dalam tampilan statis.