Aila Ability

Aila Ability
PHASE 25: Si Bocah Api



Deru memburu mesin-mesin turbo meraung menggetar udara. Terdengar mengiang berputar-putar dalam jaraknya. Seolah bersikap memposisikan diri demi mencapai tujuan tersiratnya. Apa yang telah kami perkirakan, mungkin yang si pemuda hijau sebelumnya telah katakan, bahwa kami tidak akan selamanya berlindung di dalam kubah kristalku akan benar-benar terjadi.


Udara bersiut dari langit rendah. Menjejakkan ekor putih tipis laksana kapas-kapas. Pada benda seukuran betis. Dengan kepalanya kerucut tumpul keperakan. Titis menghantam kubah perlindungan biru transparan ini. Meninggalkan kerak retakan menjalar. Menyebarkan api berikut suara yang menggelegar. Mengketuk keras degup jantung kami yang mencoba untuk tetap bersikap tegar.


“Cukup satu itu. Berikutnya kita tidak akan memiliki kesempatan. Diaz, keluarkan aku dari sini.” Ucap Sena si laki-laki berkacamata persegi hitam bergaya rambut semir hijau nyentrik. Menoleh padaku dengan sepenuhnya keyakinan dari kedua bola matanya tanpa berkedip.


“Ini untukmu.” Kataku seraya membuka celah seukuran tubuh manusia terkhusus untuknya.


Namun belum sempat dia melayang kaki, siulan angin mengejutkan telinga kami dari beberapa misil yang diterbangkan kemari. Sena yang gelagapan hendak bergegas dua meter melangkah keluar pastilah akan terlambat. Karena perhatian kami serta dirinya tercuri pada langit. Dengan enam peluru kendali menjatuh ke sini.


Sedang sebelum kami sempat berpasrah diri, seluruh benda mematikan itu meledak hebat. Satu meter tepat jaraknya sebelum menghantuk atap kubah kristal ini. Dan apa yang menjadikan kami terkesiap bukanlah ledakannya yang tiba-tiba. Melainkan kepada sosok yang muncul setelahnya.


Di situ, di balik awan ledak enam misil heli tempur. Belasan meter melayang di langit. Dia sang lelaki muda yang aku cari. Menatap kami dengan berkobarkan api pada dirinya.


Kemudian sepuluh pijaran api bak komet dari meteorit membakar langit. Terpencar dari diri si bocah api bertampang bengis itu. Bergerak seulet naga, meliuk cepat menyambar heli itu. Dan sekali lagi, kami dibuatnya terperangah.


Semua heli tempur jatuh tersambar ekornya oleh gelegap api berasap hitam legam. Menenangkan langit, membisingkan daratan dengan jatuh debumnya ledakan. Dan kami yang menyaksikan kejadiannya dari dalam kubah ini lekas mengepal tangan.


“Kawan-kawan, kalian bisa menyerahkan orang itu padaku. Pergilah ke pelataran monumen Washington sesuai arahan Ketua Andreas sebelumnya.” Kataku tetap memandang langit.


Beberapa saat mereka saling lirik. Kemudian pria dengan kemampuan bakat CoverBounce, Gerald menjawab, “Tidak ada ruginya jika kami di sini bersamamu melawannya, kan?”


Aku menolehnya. Seorang lain melanjut. Dia si pemuda hijau lumut, “Dia yang muncul di TV membakar Liberty itu, kan? maka dia juga harus dibereskan kami.”


Sebuah hembusan pasrah keluar dari rongga mulutku. “Tapi setelah kita berhasil mengalahkannya, aku cukup sampai di sini. Tidak bergabung bersama kalian menimbrungi perang menuju monumen Washington.”


Mereka semua melirikku penuh. Tentu saja karena seakan mengingkari balas budi mereka. Lekas pria bernama Ortis berkata, “Jika kau menyukai melapisi hamburger dengan kecap hitam tak masalah. Setiap orang memiliki seleranya masing-masing.”


Ya Tuhan ...


Gerald mendekat ke belakang leherku. Dia berkata pelan namun cukup kedengaran oleh kedua koleganya. “Aku punya rencana. Jika ini berhasil, maka kita tidak akan susah-susah mengalahkannya. Bahkan tidak akan ada yang terluka di antara kita maupun laki-laki yang membara di atas sana.”


“Apa itu?” kataku melirik.


“Kau lakukan pengalihan bertarung dengannya bersama Sena. Buat dia lengah atas kehadiran kami berdua. Lalu setelah kau berhasil membuatnya sibuk, aku akan memberikan tanda dengan ucapan ‘tutup’. Maka Ortis akan menggunakan kemampuan bakat Discommand. Dan sebagai langkah final, aku akan menjerat laki-laki itu dengan mengunci pergerakannya menggunakan kemampuanku.”


“Itu bisa dicoba!” Ujar pemuda hijau berjulukan bakat CenterAssault.


Dua kali anggukan aku lakukan. “Saat aku menghilangkan kubah kristalku, rencana kita dimulai.”


Dan mereka bertiga bersiap. Gerald bergerak ke sisi Ortis, si pria kurang nyambung. Sena mendekat kepadaku dengan kedua tangannya terdapat dua pasang pisau lempar. Kemudian aku melakukannya, menghilangkan pelindung kebiruan kami yang telah meretak langit-langitnya dengan menghancurkannya menjadi kepingan.


Bersama dengan kelakuanku, Ryan menjatuhkan diri di antara kami. Api pada tubuhnya menyebar melingkar laksana api kompor gas.


Gerald, si pria muda sepantaran anak kuliahan melindungi dirinya beserta Ortis, si laki-laki sebaya mahasiswa terlambat wisuda. Dengan menggulungkan lapisan lembaran tebal-lentur putih pucat itu memerangkap mereka menjadi bola.


Adapun diriku tak perlu terlalu khawatir, karena laki-laki seumuran, sebangsa serta setanah air di sampingku melakukan tugasnya. Salah satu pisau lempar dijatuhkannya santai ke samping. Menculik separuh ombak api ke sisi lain menyelamatkan kami.


Lekas setelah serangan dadakan barusan sirna, aku berkata menyapanya. “Ryan ...”


Pemuda keriting cumi itu menoleh separuh, “Jangan bilang kau ke mari untuk menghentikanku, level tiga.”


Setidaknya aku mengenalinya dari tampangnya yang bengal itu. Juga dari ucapannya yang tanpa hormat. Selain penampilannya yang dibaluti setelan jubah militer merah gelap sepanjang dua puluh senti di bawah lutut yang dikenakan terserah dirinya.


Perkataannya kujawab dengan picingan mata. Membayangkan bahwa apapun perkataan yang dimaksudkanku untuk menghentikannya tanpa bertarung pastilah tak berguna. Karena si bocah api adalah sang berandalan.


“Kalian berdua saling kenal?” serobot Sena menolehku kedua alisnya naik.


“Ya ... kami berada dalam tim yang sama sewaktu di UG cabang Indonesia. Tapi hubungan kami tak lebih dari ketua tim dengan anak buahnya yang suka memberontak.” Kataku tanpa balas menoleh.


Sontak aku mendelik memutar kepala. “Apa maksudmu?”


Dia menyabit senyum deretan gigi depannya. “Tentu saja ... maksudku membunuhnya.”


“Tunggu! Jangan!” Sebelah tanganku menghadangnya.


Senyumnya terjatuh datar dengan kedua tepian ujungnya menukik ke bawah. Tatapannya berubah drastis memandangku, “Kenapa?” katanya dengan suara yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Seperti orang yang tidak pernah merasa bahagia.


Dia menyambung, “Ini perang. Sudah sewajarnya kita membunuh lawan. Terlebih dia pasti berpikiran yang sama juga. Atau kau mengesampingkan kejahatan beratnya yang melebur Liberty berikut pulaunya dengan apinya karena dia kenalanmu?”


Lidahku kelu. Berusaha mendepak pernyataannya namun semuanya benar. Mau disangkal dengan apa lagi? moralitas? Terlalu naif ...


Sena bergegas melesat berlari menuju Ryan. Tak menggubrisku yang mematung mencerna perkataannya dalam diam. Serangkaian tinjuan api dilesatkan kepada Sena. Namun, sebilah pisau kecil yang dilemparkan ke samping mengalihkan semua kobaran itu.


Ryan mendelik tatkala sebilah pisau lainnya menyerempet pundak kirinya. Kelincahan orang dengan satu pisau lempar di tangan kirinya itu tak bisa dianggap remeh. Aku yakin bahwa tanpa kami pun dia akan mampu menumbangkan si bocah api yang terkejut dengan serangan cepat ninjanya.


Maka sebelum Sena dengan pisau di genggaman kiri itu menggorok leher Ryan, aku menyerangnya dengan sebuah bola kristal seukuran kepala. Membentur sisi kiri tubuhnya keras hingga mengempasnya terjatuh beberapa meter dari si bocah api yang nyaris akan jadi mayat karenanya.


Dan sepasang mata mereka mendelik padaku. Si bocah api yang tak tahu diri menatapku lebar dengan garis-garis wajahnya yang tegang. Si pemuda hijau itu terjerembab, memijati sisi kiri tubuhnya dengan air muka yang tak alang kepalang. Adapun si pria kurang nyambung dan pria latex terlihat kebingungan lima meter di belakang Ryan.


Tidak ada kata selain umpatan atas perangaiku yang tiba-tiba oleh Sena. Tanpa ambil pusing seolah diriku dirasuki jin, sebelah tanganku bergerak sendiri melakukan penciptaan kubah kristal mengurung dirinya yang masih terbelingkang di atas aspal itu.


Benar-benar bodoh. Aku ...


Ryan belingsatan menyadari nyawanya yang hampir lepas telah terselamatkan olehku. Dia membalas budiku dengan menyerang kedua pria delapan meter di balik punggungnya. Tumitnya berputar cepat, sejurus dengannya dia semburkan pilar api yang menjulang meranggasi kedua orang malang itu.


Lututku serasa lepas tempurungnya. Menyaksikan kebiadaban seorang Ryan. Tak habis pikir, sudah hilangkah kemanusiaan dalam hatinya?


“Apa yang kau perbuat jahanam!!?” lengkingku mengkoyak udara, menyakiti tenggorokanku.


Bau aus yang mirip roda mobil yang terbakar memenuhi atmosfer tempat ini. Selaput pelindung si pria latex meleleh melumeri aspal di sekitarnya. Sedangkan dirinya kini tak bergerak. Berdekatan tumbang bersama Ortis dengan tubuh-tubuh terlahap api. Mataku pedih tak terperi. Hampir tidak percaya. Ryan merenggut nyawa mereka berdua begitu sadis tanpa belas kasih.


Dan keduanya mati karena keputusanku.


Kedua bola mataku basah. Sesuatu yang panas bergejolak di dasar hatiku. Kepalan tangan kananku semakin erat. “Kenapa kau lakukan itu ...” kataku dengan nada yang benar-benar bertekanan. Tubuh atasku bergetar.


Dia menoleh. “Kau merasakannya? Kemarahan? Akhirnya kau mengerti ... rasa yang menjangkiti hati ketika seseorang yang kau pedulikan direnggut sadis di depan matamu. Namun apa yang kurasakan, jauh di atas awang-awang dari amarahmu.”


“Aku tanya, kenapa kau melakukannya ...” ulangku menaik nada semakin geram. Jika aku tak lekas mengkatupkan rahang maka bisa-bisa gigiku gemeretak.


“Kau tidak akan pernah mengerti diriku ...” katanya tak lebih sama menggeram bertekanan.


“Karena kau tak pernah bercerita! Tahukah apa yang telah kau perbuat, dasar bocah api keji! Berapa banyak nyawa yang mampus karenamu!? Apa hatimu telah kau jual kepada iblis!? Aku akan menghentikanmu di sini!” Napasku terpacu setelah menyalaknya tanpa henti.


Dia tertawa bergelak-gelak. Wajahnya menghadap langit kemudian dia membalas, “Memangnya kau siapa? Kekasihku? Kau cuma level tiga! Mata empat sok tau yang berlagak seperti pemimpin! Tukang ikut campur urusan orang! Cuih!” Kalimatnya diakhiri ludahan.


Telingaku panas. Kerutan pada jarak antara kedua mataku semakin menjadi. Aku tak pernah semarah ini. Kedua mataku menatapnya tak ayal lagi memandangnya sebagai musuh yang patut dihancurkan. Mengabaikan perhatianku akan pemuda UG bernama Sena beberapa meter di belakang Ryan yang terkurung kubah kristal. Yang menyaksikan kami saling menyalak.


Maka demi menyalurkan hati yang bergejolak samudra angkara murka ini, sebuah tato aktivasi level tiga, Death Freeze, menyerupai keping salju berpendar biru berpendar pada jenjang leher ini. Beserta dengannya, aku menerjang si bocah api.